Syariah

Perbedaan Akad Salam dan Istishna' dalam Fiqih Muamalah

NU Online  ยท  Kamis, 7 November 2024 | 17:15 WIB

Perbedaan Akad Salam dan Istishna' dalam Fiqih Muamalah

Perbedaan akad salam dan istishna' (NU Online).

Dalam fiqih muamalah kita mengenal dua transaksi yang sekilas sama, namun ternyata sebenarnya jauh berbeda. Yakni transaksi akad salam dan istishnaโ€™. Keduanya dalam bahasa transaksi sering disebut โ€œpesananโ€.
ย 

Jika seseorang menelpon toko bangunan dan memesan beberapa bahan bangunan seperti besi, paku, semen dan seterusnya, dalam fiqih disebut transaksi salam. Berbeda jika seseorang menelpon tukang mebel dan memesan atau meminta agar dibuatkan lemari, tanpa perlu repot mengurusi bahan dan seterusnya, maka transaksi ini disebut istishnaโ€™. Sampai di sini, tampak jelas perbedaan keduanya.
ย 

Lebih detail kita kaji satu persatu kedua transaksi di atas.
ย 

Definisi dan Ketentuan Akad Salam

Salam atau salaf dalam istilah lain, adalah melakukan transaksi pada barang yang belum ready stock di hadapan pemesan/pembeli dengan menyebutkan spesifikasinya secara jelas dan detail. Dalam buku-buku fiqih klasik salam disebut maushufun fidย dzimmah. Dalam buku Fikih Online Shopping,ย Doni Ekasaputra, santripreneur peraih penghargaan Santri of The Year 2024, menulis gambaran transaksi salam sebagai berikut:
ย 

โ€œPembeli memesan produk yang hendak dibelinya kepada penjual dengan menyebutkan spesifikasinya secara rinci dan jelas. Tujuannya agar tidak terjadi mispersepsi yang berujung pada kerugian pada salah satu pihak.โ€ (Ekasaputra, 5).
ย 

Adapun syarat dan ketentuan akadย salam, seperti yang ditulis Ibnu Qasim Al-Ghazi (859 H-918 H) dalam Syarhu Fathilย Qarib Al-Mujib, sebagai berikut:

  1. Menyebutkan spesifikasiย barang dengan baik. Hal ini bertujuan agar barang yang dipesan menjadi jelas, sehingga tidak menimbulkan kesalahan dalam mengindentifikasi barang pesanan tersebut.
  2. Barang pesanan tidak boleh berupa barang campuran yang tak terukur komposisinya. Seperti memesan maโ€™jun (semacam bubur) yang bercampur harisah (semacam adonan) yang tak jelas ukuranย komposisinya. Beda lagi jika kadar keduanya terukur dengan jelas.
  3. Barang pesanan tidak mengalami perubahan lantaran bersentuhan dengan api, seperti dengan cara dimasak atau dipanggang. Karenanya, jika ingin membeli makanan yang cara pembuatannya demikian, maka menggunakan transaksi jual beli, tidak dengan akad salam.
  4. Barang pesanan harus berada dalam tanggung jawab si penerima pesanan (muslam ilaih) dalam mewujudkan pesanan tersebut. Berarti spesifikasi barangnya jelas, tapi belum ditentukan wujudnya. Karenanya, jika telah ditentukan atau ditunjuk barang yang akan dipesan, akad salam tidak sah.
  5. Barang pesanan juga tidak boleh ditentukan atau ditunjuk dari tumpukan barang yang telah jelas di depan mata si pemesan (muslim).
  6. Barang pesanan harus diserahkan sesuai pesanan dan pada waktu yang telah disepakati. Karenanya barang tidak boleh diganti dengan barang berbeda dari ketentuan, walaupun dengan merek yang sama.
  7. Waktu serah terima barang harus jelas dan disepakati sejak awal. Karenanya, tak sah jika penentuan waktunya dengan kalimat, โ€œsampai suamiku pulang dari negeri jiran, Malaysiaโ€.
  8. Tempat penyerahan barang harus jelas sejak awal. ย 
 

Definisi dan Ketentuan Akadย Istishnaโ€™

Istishnaโ€™ diambil dari kata istashnaโ€™a,ย yastashnaโ€™u,ย istishnaโ€™an,ย yang bermakna meminta untuk dibuatkan sesuatu. Akadย istishnaโ€™ memang sekilas mirip dengan akadย salam. Semuanya bermuara pada makna pemesanan barang.
ย 

Praktik istishna', seseorang meminta agar dibuatkan suatu barang, semacam kerajinan tangan, misalnya, kepada orang yang memiliki kemampuan membuatnya, yang dibuat dengan cara tertentu, sedang bahan-bahannya bersumber dari si pengrajin/as-shaniโ€™. Pengertian ini disampaikan oleh Musthafa Al-Khin, Musthafa Al-Bugha dan Ali As-Syarbaji. (Al-Fiqhul Manhaji,ย [Damaskus,ย Darul Qalam:ย 1992], juz VI, halaman 59).
ย 

Kedua transaksi di atas adalah transaksi yang nyaris sama. Sampai-sampai penulis Al-Fiqhul Manhaji mengatakan bahwa jika seseorang bertransaksi istishnaโ€™, namun semua syarat-syarat transaksi salam terpenuhi, maka transaksinya sah sebagai transaksi salam.
ย 

ูˆู†ุณุชุทูŠุน ุฃู† ู†ู‚ูˆู„: ุฅุฐุง ุงู†ุทุจู‚ุช ุนู„ูŠู‡ ุดุฑูˆุท ุนู‚ุฏ ุงู„ุณู„ู… ุงู„ุชูŠ ู…ุฑู‘ ุฐูƒุฑู‡ุง ู…ู† ุถุจุทู‡ ุจุงู„ูˆุตู ูˆุถุจุท ู…ุง ูŠุฏุฎู„ ููŠู‡ ู…ู† ู…ูˆุงุฏ ูˆู…ู† ุชุญุฏูŠุฏ ุงู„ุฃุฌู„ ู„ุชุณู„ูŠู…ู‡ ูˆุชุณู„ูŠู… ุซู…ู†ู‡ ููŠ ู…ุฌู„ุณ ุงู„ุนู‚ุฏุŒ ุฅู„ู‰ ุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ ู…ู† ุดุฑูˆุท ุงุณุชุทุนู†ุง ุฃู† ู†ุญูƒู… ุจุตุญุชู‡ ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ุนู‚ุฏ ุณู„ู… ูˆุฅู† ุฌุฑู‰ ุจู„ูุธ ุงู„ุจูŠุน ู„ุฃู† ุงู„ุนุจุฑุฉ ููŠ ุงู„ุนู‚ูˆุฏ ู„ู„ู…ู‚ุงุตุฏ ูˆุงู„ู…ุนุงู†ูŠ ู„ุง ู„ู„ุฃู„ูุงุธ ูˆุงู„ู…ุจุงู†ูŠ
ย 

Artinya, โ€œDapat kita katakan bahwa, jika semua syarat dalam transaksi salam terpenuhi, seperti menyebutkan spesifikasinya secara rinci, spesifikasi bahan-bahan pembuatannya, menentukan waktu serah terima dan melakukan pembayaran di majelis akad, dan syarat-syarat lainnya, maka akadnya sah sebagai akad salam. Walaupun redaksi akadnya menggunakan jual beli. Karena yang diperhitungkan dalam akad adalah substansinya, bukan redaksi dan formatnya.โ€ย (Musthafaย Al-Khinย dkk., VI/59).
ย 

Berbeda jika dalam transaksi tersebut tidak terpenuhi syarat-syarat salam. Justru saat itulah ia masuk dalam kategori istishnaโ€™. Dalam Al-Fiqhul Manhaji disebutkan:
ย 

ูˆุฅุฐุง ู„ู… ุชู†ุทุจู‚ ุดุฑูˆุท ุงู„ุณู„ู… ุนู„ู‰ ุงู„ุนู‚ุฏ ูˆู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุบุงู„ุจ ููŠ ุชุนุงู…ู„ ุงู„ู†ุงุณ ุฅุฐ ุฃู†ู†ุง ู„ุง ู†ุฌุฏ ู…ูŽู† ูŠุฏูุน ุงู„ุซู…ู† ูƒู„ู‡ ุนู†ุฏ ุงู„ุชุนุงู‚ุฏ ูˆู„ุง ูŠุนุฑู ุฃุญุฏ ุนู†ุฏู‡ ุฃูŠุถุงู‹ ู…ุง ูŠุฏุฎู„ ููŠ ุงู„ุจู†ุงุก ู…ู† ู…ูˆุงุฏ ุงู„ุตู†ุน ูƒุงู† ุฐู„ูƒ ุนู‚ุฏ ุงุณุชุตู†ุงุน ูˆุงุนุชุจุฑ ุงู„ุนู‚ุฏ ุตุญูŠุญุงู‹ ุทุงู„ู…ุง ุฃู† ุงู„ู†ุงุณ ูŠุชุนุงู…ู„ูˆู† ุจู‡ุฐุง ุดุฑูŠุทุฉ ุฃู† ุชูˆุถู‘ุญ ู…ูˆุงุตูุงุช ุงู„ุจู†ุงุก ุนู†ุฏ ุงู„ุชุนุงู‚ุฏ ุจุญูŠุซ ู„ุง ุชุจู‚ู‰ ุฌู‡ุงู„ุฉ ุชุคุฏูŠ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุฒุงุน ุฃู† ู„ุง ูŠูƒูˆู† ููŠ ุฐู„ูƒ ุดูŠุก ู…ู† ุงู„ุดุฑูˆุท ุงู„ุจุงุทู„ุฉ ูˆุงู„ูุงุณุฏุฉ ุงู„ุชูŠ ู„ุง ุชูˆุงูู‚ ุดุฑุน ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆู‚ุฏ ุชุนูˆุฏ ุนู„ู‰ ุงู„ุนู‚ุฏ ุจุงู„ุจุทู„ุงู†
ย 

Artinya, โ€œNamun, jika tak terpenuhi syarat-syarat salam di dalamnya-dan inilah yang umumnya terjadi di tengah masyarakat-mengingat, kami sendiri belum pernah menemukan seseorang yang meminta agar dibuatkan suatu barang dan telah melunasi semua pembayaran saat bertransaksi, di samping ia tak mengerti apapun soal bahan pembuatan barang tersebut. (Jika hal ini terjadi), barulah transaksinya sah sebagai istishnaโ€™.
ย 

Selama kedua belah pihak telah menyebutkan spesifikasi bangunan (dalam kasus proyek bangunan) saat bertransaksi. Demi agar tidak menimbulkan perselisihan. Tentu saja dalam transaksi tersebut tak ditemukan syarat-syarat yang bertentangan dengan spirit syariat Islam. Jika demikian, transaksinya terancam batal.โ€ ([Musthafaย Al-Khin, dkk. VI/59).
ย 

Melihat detail penjelasan, akad istishnaโ€™ lebih praktis dibanding salam. Selain itu, istishnaโ€™ lebih berorientasi pada memesan pembuatan barang dari awal, dari sebelumnya yang belum ada menjadi ada. Sedangkan salam lebih umum. Baik barang yang belum jadi maupun sudah jadi, bisa masuk dalam akad salam.ย Wallahuย a'lam.
ย 


Ustadzย Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumni Maโ€™had Aly Situbondo, tinggal di Lombok Tengah, NTB.