Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 37

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 37
Syekh Jalaluddin dalam Tafsirul Jalalain mengatakan, pada Surat Al-Baqarah ayat 37 Allah menceritakan bahwa Adam menerima kata-kata tersebut melalui jalan ilham.
Syekh Jalaluddin dalam Tafsirul Jalalain mengatakan, pada Surat Al-Baqarah ayat 37 Allah menceritakan bahwa Adam menerima kata-kata tersebut melalui jalan ilham.

Berikut ini adalah teks, transliterasi, terjemahan, dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas Surat Al-Baqarah ayat 37:


فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ


Fa talaqqā Ādamu mir rabbihī kalimātin fa tāba 'alaīh, innahụ huwat tawwābur raḥīm.


Artinya, “Adam lalu menerima beberapa kata dari Tuhannya, maka Dia menerima tobatnya. Sungguh Dia maha penerima tobat, lagi maha penyayang,” (Surat Al-Baqarah ayat 37).


Ragam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 37

Syekh Jalaluddin dalam Tafsirul Jalalain mengatakan, pada Surat Al-Baqarah ayat 37 Allah menceritakan bahwa Adam menerima kata-kata tersebut melalui jalan ilham. Kata-kata yang diterima Nabi Adam AS adalah “’Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami,’ hingga akhir ayat (Surat Al-A’raf ayat 23).”


Adam AS lalu bermunajat dengan kalimat ini dan Allah menerima pertobatannya. Sungguh, Sungguh Dia maha penerima tobat, lagi maha penyayang hamba-hamba-Nya.


Imam Al-Baidhawi dalam tafsirnya, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, mengatakan, Adam AS menyambut, menerima, dan mengamalkan kata-kata pertobatan tersebut. Kata-kata yang diterima Nabi Adam AS adalah “’Rabbanā, zhalamnā anfusanā,’ hingga akhir ayat.” Ada juga ulama yang mengatakan, kalimat pertobatan Nabi Adam AS adalah “Subāhanakallāhumma wa bi hamdika, wa tabārakasmuka, wa ta‘āla jadduka lā ilāha illā anta, zhalamtu nafsī, faghfir lī, innahū lā yaghfiruz dzunūba illā anta.”


Imam Al-Baidhawi meriwayatkan percakapan Allah dan Nabi Adam AS dari sahabat Ibnu Abbas RA. “Tuhanku, bukankah Kaumenciptakanku dengan ‘tangan’-Mu?” “Benar.” “Tuhanku, bukankah Kautiupkan ke dalam nyawa ini dari roh-Mu?” “Benar.” “Tuhanku, bukankah rahmat-Mu mendahului murka-Mu?” “Benar.” “Tuhan, bukankah Kau menempatkanku di surga?” “Benar.” “Tuhanku, jika kubertobat dan berbuat kesalehan, apakah Kau mengembalikanku ke surga?” “Benar,” jawab Allah.


Adam AS, kata Imam Al-Baidhawi, kembali kepada Allah dengan membawa rahmat dan penerimaan tobat dari-Nya. Tobat bermakna pengakuan, penyesalan, dan tekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa. Surat Al-Baqarah ayat 37 cukup menyebut Adam AS karena Siti Hawa jelas mengikuti hukum Nabi Adam AS. Oleh karena itu, sebutan kata “perempuan atau an-nisa” pada kebanyakan ayat Al-Qur’an dan hadits dilesapkan.


Adapun Allah sebagai maha tobat adalah Zat yang sering “berpulang” kepada hamba-Nya dengan membawa ampunan. Kemahatobatan Allah dapat dimaknai sebagai Zat yang banyak menolong hamba-Nya memberikan jalan pertobatan.


Kata “tobat” asalnya berarti “kembali”. Jika kata ini dinisbahkan kepada manusia, maka artinya ia sebagai orang yang kembali (ke jalan yang benar) dari kemaksiatan. Tetapi jika sifat tobat dinisbahkan kepada Allah, maka artinya Allah kembali kepada pengampunan-Nya dari penyiksaan.


Adapun kata “ar-rahīm” adalah bentuk superlatif dari sifat kasing sayang Allah. Penggabungan sifat at-tawwāb dan ar-rahīm merupakan janji kebaikan disertai ampunan Allah bagi mereka bertobat.


Imam Al-Baghowi dalam tafsirnya, Ma‘alimut Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil, mengatakan, “talaqqā” atau “at-talaqqī” berarti menerima dengan kecerdasan dan pemahaman. Ada ulama mengartikan, “talaqqā” atau “at-talaqqī” berarti menerima dengan pembelajaran.


Imam Al-Baghowi mengatakan, ulama berbeda pendapat perihal kata pertobatan yang diterima Nabi Adam AS. Said bin Jubair, Mujahid, dan Al-Hasan mengatakan, kata yang diterima Nabi Adam AS adalah “’Rabbanā, zhalamnā anfusanā,’ hingga akhir ayat.”


Mujahid dan M bin Ka’ab Al-Qurazhi berpendapat, kalimat pertobatan Nabi Adam AS adalah “Lā ilāha illā anta. Subāhanakallāhumma wa bi hamdika, Rabbi ‘amiltu sū’an, wa zhalamtu nafsī, faghfir lī innaka antat tawwābur raḥīm. Lā ilāha illā anta. Subāhanakallāhumma wa bi hamdika, Rabbi ‘amiltu sū’an, wa zhalamtu nafsī, farhamnī, innaka anta arhamur rāhimīna."


Ubaid bin Umair berpendapat, kalimat pertobatan Nabi Adam AS adalah munajatnya, “Tuhanku, adakah Kau tahu bahwa dosa yang kulakukan berasal semata dari diriku atau sesuatu yang memang sudah Kautakdirkan jauh sebelum Kau menciptakanku?” “Bukan, tetapi sesuatu yang Kutakdirkan kepadamu sebelum Kumenciptakanmu.” “Tuhanku, sebagaimana Kaumenakdirkannya sebelum menciptakanku, ampunilah aku,” kata Nabi Adam AS.


Ada juga ulama yang berpendapat, ada tiga kalimat pertobatan Nabi Adam AS, yaitu malu, doa, dan tangis. Sahabat Ibnu Abbas RA bercerita, Nabi Adam AS dan Siti Hawa menangis selama 200 tahun atas luputnya kenikmatan surga. Keduanya tidak makan dan minum selama 40 hari. Nabi Adam AS tidak mendekati Siti Hawa selama 100 tahun.


Al-Mas’udi meriwayatkan dari Yunus bin Khabab dan Alqamah bin Martsad. Mereka mengatakan, sekiranya air mata penduduk bumi dikumpulkan, niscaya air mata penyesalan Nabi Daud AS lebih banyak. Tetapi seandainya air mata Nabi Daud AS dan semua penduduk bumi digabung, niscaya tetap masih akan lebih banyak air mata penyesalan Nabi Adam AS ketika dikeluarkan dari surga.


Syahar bin Hausyab, kata Imam Al-Baghowi, bercerita, sebuah riwayat sampai kepadaku bahwa ketika diturunkan ke bumi Nabi Adam AS berdiam selama 300 tahun tanpa mengangkat kepalanya karena malu kepada Allah SWT. 


Imam Ibnu Katsir dalam karya tafsirnya mengutip Mujahid, kalimat pertobatan Nabi Adam AS adalah “Allāhumma lā ilāha illā anta, subāhanaka wa bi hamdika. Rabbi innī zhalamtu nafsī, faghfir lī, innaka khairul ghāfirīn. Allāhumma lā ilāha illā anta, subāhanaka wa bi hamdika. Rabbi innī zhalamtu nafsī, farhamnī, innaka kharur rāhimīn. Allāhumma lā ilāha illā anta, subāhanaka wa bi hamdika. Rabbi innī zhalamtu nafsī, fa tub ‘alayya, innaka antat tawwābur rahīm.”


Adapun Allah maha penerima tobat mereka yang berotbat dan kembali kepada-Nya sebagaimana keterangan pada Surat At-Taubah ayat 104, Surat An-Nisa ayat 11, Surat Al-Furqan ayat 71, dan ayat lain memiliki kandungan makna sejenis bahwa Allah mengampuni dosa dan menerima tobat mereka yang bertobat. Ini merupakan bentuk kelembutan Allah terhadap makhluk-Nya dan kasih sayang-Nya  kepada hamba-Nya.


Imam Ibnu Katsir juga mengutip hadits Rasulullah SAW, “Ketika diturunkan ke bumi, Nabi Adam AS berthawaf sebanyak tujuh kali di Ka’bah dan melakukan shalat dua rakaat di belakang (yang sekarang) maqam Ibrahim. Ia berdoa, ‘Allāhumma innaka ta‘lamu sirrī wa ‘alāniyatī, faqbal ma’dziratī. Wa ta’lamu hājatī, fa a‘thinī su’lī. Wa ta’lamu mā ‘indī faghfir dzunūbī. As’aluka īmānan yubāsyiru qalbī, wa yaqīnan shādhiqan hattā a’lamu annahū lan yushībanī illā mā katabta lī.’


Allah kemudian menjawab Nabi Adam AS, ‘Kau telah berdoa kepada-Ku dengan kalimat doa istijabah bagimu dan bagi mereka yang berdoa kepada-Ku dengan kalimat tersebut; dan dengan kalimat yang mana Aku longgarkan kesulitan dan kebingungannya; Kuangkat kefaqiran dari hadapannya; dan Kulindungi dia dari balik setiap konglomerat perhiasan dunia. Ini adalah kalimat janji sekalipun ia tidak menambahkannya.’” (HR At-Thabarani). Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawan)


Terkait

Tafsir Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya