NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Membaca Ulang Pesan Nabi SAW tentang Pentingnya Menanam Pohon

NU Online·
Membaca Ulang Pesan Nabi SAW tentang Pentingnya Menanam Pohon
Ilustrasi menanam pohon. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Pembahasan mengenai upaya merawat lingkungan alam merupakan isu global yang turut menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Seiring terjadinya berbagai bencana alam di sejumlah daerah, topik ini kembali mengemuka dan semakin banyak dibicarakan. Salah satu hal yang sering disorot adalah pentingnya menanam pohon.

Diskusi semacam ini tentu sangat baik karena dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kesadaran itu, masyarakat diharapkan terdorong untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam upaya mencegah banjir dan longsor, misalnya dengan menanam kembali pohon di kawasan atau hutan yang kini mengalami kerusakan.

Dalam ajaran Islam, kepedulian terhadap lingkungan juga mendapat perhatian besar. Nabi Muhammad SAW secara khusus menganjurkan umatnya untuk terus menanam pohon dan melakukan upaya perbaikan lingkungan. Anjuran ini bahkan digambarkan tidak memiliki batas waktu. Satu-satunya batas hanyalah datangnya hari kiamat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya nilai menanam pohon dalam pandangan Islam. Rasulullah SAW bersabda:

إن قامت الساعة وفى يد أحدكم فسيلة فإن استطاع أن لا يقوم حتى أن يغرسها فليغرسها

Artinya: "Apabila hari kiamat telah dekat, dan di tangan salah satu kalian terdapat tunas (bibit), maka jika masih bisa dan ada kesempatan sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah." (HR Ahmad).

Imam Al-Munawi, mengutip perkataan Imam Al-Haitsami, yang menjelaskan bahwa maksud dari hari kiamat adalah tanda-tandanya, sebagaimana redaksi berikut:

قال الهيثمي: ولعله أراد بقيام الساعة أمارتها فإنه قد ورد إذا سمع أحدكم بالدجال وفي يده فسيلة فليغرسها فإن للناس عيشا بعد

Artinya: "Imam al-Haitsami berkata: Kemungkinan  yang dikehendaki dengan hari kiamat (dalam hadits ini) adalah tanda-tandanya. Sebab, ada satu penjelasan berikut, 'ketika salah satu dari kalian mendengar kabar tentang Dajjal, dan tangan kalian masih ada bibit, tanamlah. Sebab, setelah itu, masih ada kehidupan manusia." (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faydhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, 1356 H], jilid III, hlm. 30).

Lebih jauh, Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa hadits tersebut mengajarkan kita untuk tidak berhenti menanam pohon, bahkan jika kabar munculnya Dajjal atau dekatnya hari kiamat telah terdengar. Kita tetap dianjurkan untuk menanam, karena setelah peristiwa besar itu pun kehidupan manusia masih berlanjut, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Selain itu, beliau juga menyampaikan alasan menarik yang patut kita renungkan:

والحاصل أنه مبالغة في الحث على غرس الأشجار وحفر الأنهار لتبقى هذه الدار عامرة إلى آخر أمدها المحدود المعدود المعلوم عند خالقها فكما غرس لك غيرك فانتفعت به فاغرس لمن يجيء بعدك لينتفع وإن لم يبق من الدنيا إلا صبابة

Artinya: "Walhasil, sungguh hadits di atas sangat mendorong (kita) untuk menanam pohon-pohon dan menggali sumur supaya rumah ini (bumi) tetap makmur sampai batas yang ditentukan oleh Allah SWT sebagai penciptanya. 

"Sebagaimana orang lain (sebelumnya) menanamnya sehingga bisa dimanfaatkan oleh kamu, maka hendaklah kamu juga menanamnya untuk generasi berikutnya supaya mereka juga bisa merasakan manfaatnya, walaupun di bumi hanya tersisa sebidang tanah." (Al-Munawi, III/30).

Berkaitan dengan hadits ini, Al-Munawi juga mengutip beberapa kisah menarik tentang pentingnya menanam pohon, di antara adalah:

Pertama, suatu ketika salah satu Nabiyullah bertanya kepada Tuhannya tentang alasan raja-raja Persia (dalam konteks sekarang pemerintah) yang selalu menanam pohon dan menggali sumur, memakmurkan bumi dengan pohon besar. Padahal, saat itu mereka (pemerintah) dikenal dengan sewenang-wenang pada masyarakat. Apa jawaban-Nya? Dia menjawab: 

عمروا بلادي فعاش فيها عبادي

Artinya: "Mereka (raja-raja Persia) memakmurkan negeri-Ku. Maka, hamba-hamba-Ku bisa hidup di dalamnya." (Al-Munawi, III/30).

Kedua, sahabat Mu'awiyah juga pernah ditanya mengapa beliau pada akhir hayat masih menghidupkan bumi dan menanam pohon. Apa jawaban beliau? Berikut redaksi jawabannya:

فقال: ما غرسته طمعا في إدراكه بل حملني عليه قول الأسدي: ليس الفتى بفتى لا يستضاء به. . . ولا يكون له في الأرض آثار ومن أمثالهم أمارة إدبار الأمارة كثرة الوباء وقلة العمارة 

Artinya: "Maka beliau (sahabat Mu'awiyah) menjawab: Saya menanamnya tidak karena berharap memetik hasilnya (sendiri), tapi yang mendorong saya adalah pesan Imam Al-Asadi berikut: 'Pemuda tidak berhak dikatakan pemuda sejatinya jika ia tidak memberi sebuah pencerahan dan tidak meninggalkan warisan-warisan (positif). Mereka (yang sedemikian) adalah tanda-tanda kemunduran pemerintah, yakni pemerintahan yang menyisakan banyak wabah dan minim kemakmuran (bumi)." (Al-Munawi, III/30).

Ketiga, ada seorang Kisra (salah satu gelar raja Persia) berjumpa dengan kakek tua yang sedang menanam pohon zaitun. Kisra itu pun berkata kepada si kakek:

وقال له: يا هذا أنت شيخ هرم والزيتون لا يثمر إلا بعد ثلاثين سنة فلم تغرسه

Artinya: “Hai, Kakek! Apa yang kau lakukan ini. Engkau kan sudah sangat tua, pohon zaitun ini tidak akan berbuah kecuali setelah 30 tahun. Maka, tidak usah engkau menanamnya.” 

Si kakek menimpalinya dengan tenang, lalu ia berkata: 

فقال: أيها الملك زرع لنا من قبلنا فأكلنا فنحن نزرع لمن بعدنا فيأكل

Artinya: “Kakek itu menjawab: Wahai raja! Generasi sebelum kita telah menanamnya lalu kita yang memakannya. Maka, kita sekarang (harus) menanamnya untuk dimakan generasi setelah kita.”

Mendengar jawaban si kakek, sang Kisra pun berkata kepadanya:

فقال له كسرى: زه وكانت عادة ملوك الفرس إذا قال الملك منهم هذه اللفظة أعطى ألف دينار فأعطاها الرجل

Artinya: “Kisra berkata kepada si kakek: ‘zah’. Adatnya raja-raja Persia, ketika lafal ini (zah) diucapkan artinya perintah untuk memberikan 1000 dinar. Maka seorang laki-laki (pendamping Kisra) memberikan 1000 dinar kepada kakek itu.” (Al-Munawi, III/30).

Walhasil, Islam mendorong umatnya untuk terus menanam, bahkan dalam situasi yang tampak genting, sebagai simbol harapan dan komitmen menjaga kehidupan. Menanam pohon menjadi wujud syukur atas nikmat bumi, bentuk penghormatan kepada generasi terdahulu, serta investasi berharga bagi generasi masa depan. Wallahu a'lam.

Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pegiat Literasi Keislaman.

Artikel Terkait

Membaca Ulang Pesan Nabi SAW tentang Pentingnya Menanam Pohon | NU Online