Membaca Ulang Pesan Nabi SAW tentang Pentingnya Menanam Pohon
NU Online ยท Selasa, 9 Desember 2025 | 17:00 WIB
Syifaul Qulub Amin
Kolumnis
Pembahasan mengenai upaya merawat lingkungan alam merupakan isu global yang turut menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Seiring terjadinya berbagai bencana alam di sejumlah daerah, topik ini kembali mengemuka dan semakin banyak dibicarakan. Salah satu hal yang sering disorot adalah pentingnya menanam pohon.
Diskusi semacam ini tentu sangat baik karena dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Melalui kesadaran itu, masyarakat diharapkan terdorong untuk mengambil langkah-langkah konkret dalam upaya mencegah banjir dan longsor, misalnya dengan menanam kembali pohon di kawasan atau hutan yang kini mengalami kerusakan.
Dalam ajaran Islam, kepedulian terhadap lingkungan juga mendapat perhatian besar. Nabi Muhammad SAW secara khusus menganjurkan umatnya untuk terus menanam pohon dan melakukan upaya perbaikan lingkungan. Anjuran ini bahkan digambarkan tidak memiliki batas waktu. Satu-satunya batas hanyalah datangnya hari kiamat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya nilai menanam pohon dalam pandangan Islam. Rasulullah SAW bersabda:
Baca Juga
Hadits Seputar Keutamaan Menanam Pohon
ุฅู ูุงู ุช ุงูุณุงุนุฉ ููู ูุฏ ุฃุญุฏูู ูุณููุฉ ูุฅู ุงุณุชุทุงุน ุฃู ูุง ูููู ุญุชู ุฃู ูุบุฑุณูุง ูููุบุฑุณูุง
Artinya: "Apabila hari kiamat telah dekat, dan di tangan salah satu kalian terdapat tunas (bibit), maka jika masih bisa dan ada kesempatan sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah." (HR Ahmad).
Imam Al-Munawi, mengutip perkataan Imam Al-Haitsami, yang menjelaskan bahwa maksud dari hari kiamat adalah tanda-tandanya, sebagaimana redaksi berikut:
ูุงู ุงูููุซู
ู: ููุนูู ุฃุฑุงุฏ ุจููุงู
ุงูุณุงุนุฉ ุฃู
ุงุฑุชูุง ูุฅูู ูุฏ ูุฑุฏ ุฅุฐุง ุณู
ุน ุฃุญุฏูู
ุจุงูุฏุฌุงู ููู ูุฏู ูุณููุฉ ูููุบุฑุณูุง ูุฅู ูููุงุณ ุนูุดุง ุจุนุฏ
Artinya: "Imam al-Haitsami berkata: Kemungkinan ย yang dikehendaki dengan hari kiamat (dalam hadits ini) adalah tanda-tandanya. Sebab, ada satu penjelasan berikut, 'ketika salah satu dari kalian mendengar kabar tentang Dajjal, dan tangan kalian masih ada bibit, tanamlah. Sebab, setelah itu, masih ada kehidupan manusia." (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faydhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, 1356 H], jilid III, hlm. 30).
Baca Juga
Perintah Menanam Pohon dalam Al-Qurโan
Lebih jauh, Imam Al-Munawi menjelaskan bahwa hadits tersebut mengajarkan kita untuk tidak berhenti menanam pohon, bahkan jika kabar munculnya Dajjal atau dekatnya hari kiamat telah terdengar. Kita tetap dianjurkan untuk menanam, karena setelah peristiwa besar itu pun kehidupan manusia masih berlanjut, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Selain itu, beliau juga menyampaikan alasan menarik yang patut kita renungkan:
ูุงูุญุงุตู ุฃูู ู
ุจุงูุบุฉ ูู ุงูุญุซ ุนูู ุบุฑุณ ุงูุฃุดุฌุงุฑ ูุญูุฑ ุงูุฃููุงุฑ ูุชุจูู ูุฐู ุงูุฏุงุฑ ุนุงู
ุฑุฉ ุฅูู ุขุฎุฑ ุฃู
ุฏูุง ุงูู
ุญุฏูุฏ ุงูู
ุนุฏูุฏ ุงูู
ุนููู
ุนูุฏ ุฎุงูููุง ููู
ุง ุบุฑุณ ูู ุบูุฑู ูุงูุชูุนุช ุจู ูุงุบุฑุณ ูู
ู ูุฌูุก ุจุนุฏู ูููุชูุน ูุฅู ูู
ูุจู ู
ู ุงูุฏููุง ุฅูุง ุตุจุงุจุฉ
Artinya: "Walhasil, sungguh hadits di atas sangat mendorong (kita) untuk menanam pohon-pohon dan menggali sumur supaya rumah ini (bumi) tetap makmur sampai batas yang ditentukan oleh Allah SWT sebagai penciptanya.ย
"Sebagaimana orang lain (sebelumnya) menanamnya sehingga bisa dimanfaatkan oleh kamu, maka hendaklah kamu juga menanamnya untuk generasi berikutnya supaya mereka juga bisa merasakan manfaatnya, walaupun di bumi hanya tersisa sebidang tanah." (Al-Munawi, III/30).
Berkaitan dengan hadits ini, Al-Munawi juga mengutip beberapa kisah menarik tentang pentingnya menanam pohon, di antara adalah:
Pertama, suatu ketika salah satu Nabiyullah bertanya kepada Tuhannya tentang alasan raja-raja Persia (dalam konteks sekarang pemerintah) yang selalu menanam pohon dan menggali sumur, memakmurkan bumi dengan pohon besar. Padahal, saat itu mereka (pemerintah) dikenal dengan sewenang-wenang pada masyarakat. Apa jawaban-Nya? Dia menjawab:ย
ุนู
ุฑูุง ุจูุงุฏู ูุนุงุด ูููุง ุนุจุงุฏู
Artinya: "Mereka (raja-raja Persia) memakmurkan negeri-Ku. Maka, hamba-hamba-Ku bisa hidup di dalamnya." (Al-Munawi, III/30).
Kedua, sahabat Mu'awiyah juga pernah ditanya mengapa beliau pada akhir hayat masih menghidupkan bumi dan menanam pohon. Apa jawaban beliau? Berikut redaksi jawabannya:
ููุงู: ู
ุง ุบุฑุณุชู ุทู
ุนุง ูู ุฅุฏุฑุงูู ุจู ุญู
ููู ุนููู ููู ุงูุฃุณุฏู: ููุณ ุงููุชู ุจูุชู ูุง ูุณุชุถุงุก ุจู. . . ููุง ูููู ูู ูู ุงูุฃุฑุถ ุขุซุงุฑ ูู
ู ุฃู
ุซุงููู
ุฃู
ุงุฑุฉ ุฅุฏุจุงุฑ ุงูุฃู
ุงุฑุฉ ูุซุฑุฉ ุงููุจุงุก ูููุฉ ุงูุนู
ุงุฑุฉย
Artinya: "Maka beliau (sahabat Mu'awiyah) menjawab: Saya menanamnya tidak karena berharap memetik hasilnya (sendiri), tapi yang mendorong saya adalah pesan Imam Al-Asadi berikut: 'Pemuda tidak berhak dikatakan pemuda sejatinya jika ia tidak memberi sebuah pencerahan dan tidak meninggalkan warisan-warisan (positif). Mereka (yang sedemikian) adalah tanda-tanda kemunduran pemerintah, yakni pemerintahan yang menyisakan banyak wabah dan minim kemakmuran (bumi)." (Al-Munawi, III/30).
Ketiga, ada seorang Kisra (salah satu gelar raja Persia) berjumpa dengan kakek tua yang sedang menanam pohon zaitun. Kisra itu pun berkata kepada si kakek:
ููุงู ูู: ูุง ูุฐุง ุฃูุช ุดูุฎ ูุฑู
ูุงูุฒูุชูู ูุง ูุซู
ุฑ ุฅูุง ุจุนุฏ ุซูุงุซูู ุณูุฉ ููู
ุชุบุฑุณู
Artinya: โHai, Kakek! Apa yang kau lakukan ini. Engkau kan sudah sangat tua, pohon zaitun ini tidak akan berbuah kecuali setelah 30 tahun. Maka, tidak usah engkau menanamnya.โย
Si kakek menimpalinya dengan tenang, lalu ia berkata:ย
ููุงู: ุฃููุง ุงูู
ูู ุฒุฑุน ููุง ู
ู ูุจููุง ูุฃูููุง ููุญู ูุฒุฑุน ูู
ู ุจุนุฏูุง ููุฃูู
Artinya: โKakek itu menjawab: Wahai raja! Generasi sebelum kita telah menanamnya lalu kita yang memakannya. Maka, kita sekarang (harus) menanamnya untuk dimakan generasi setelah kita.โ
Mendengar jawaban si kakek, sang Kisra pun berkata kepadanya:
ููุงู ูู ูุณุฑู: ุฒู ููุงูุช ุนุงุฏุฉ ู
ููู ุงููุฑุณ ุฅุฐุง ูุงู ุงูู
ูู ู
ููู
ูุฐู ุงูููุธุฉ ุฃุนุทู ุฃูู ุฏููุงุฑ ูุฃุนุทุงูุง ุงูุฑุฌู
Artinya: โKisra berkata kepada si kakek: โzahโ. Adatnya raja-raja Persia, ketika lafal ini (zah) diucapkan artinya perintah untuk memberikan 1000 dinar. Maka seorang laki-laki (pendamping Kisra) memberikan 1000 dinar kepada kakek itu.โ (Al-Munawi, III/30).
Walhasil, Islam mendorong umatnya untuk terus menanam, bahkan dalam situasi yang tampak genting, sebagai simbol harapan dan komitmen menjaga kehidupan. Menanam pohon menjadi wujud syukur atas nikmat bumi, bentuk penghormatan kepada generasi terdahulu, serta investasi berharga bagi generasi masa depan. Wallahu a'lam.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pegiat Literasi Keislaman.
ย
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim
2
PBNU Siapkan Peluncuran Sa'adatuna, Ekosistem Digital Penghubung Warga NU hingga Akar Rumput
3
Innalillahi, Putra Bungsu KH Wahab Chasbullah Wafat
4
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah Mengendalikan Amarah
5
Meski Diancam AS, Anwar Ibrahim Tetap Larang Warga Israel Masuk Malaysia
6
PCINU Hongkong dan Taiwan Desak Muktamar Ke-35 NU Bahas Regulasi Kelembagaan Cabang Istimewa
Terkini
Lihat Semua