Tips Meredakan Amarah yang Bergejolak Menurut Al-Ghazali
Tips Meredakan Amarah yang Bergejolak Menurut Al-Ghazali
Kumpulan artikel kategori Tasawuf/Akhlak
Tips Meredakan Amarah yang Bergejolak Menurut Al-Ghazali
Titik hitam yang Allah tulis dalam hati ketika melakukan dosa bagai pakaian putih yang terkena kotoran hitam.
Datangnya tahun baru menjadi ajang untuk menumbuhkan semangat baru. Hal itu dilakukan agar satu tahun ke depan tidak menjadi tahun yang memiliki nilai dan sejarah yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
Di tengah penantian itu, ia mendengar suara gaib yang menyapanya. “Wahai fulan, kepada siapa kau berhijrah, kepada Umar atau Allah?”
Selain menjadikan seseorang sebagai hamba Allah yang mulia, kebersihan hati juga turut berperan dalam menjaga kedamaian sosial di tengah masyarakat, bahkan kedamaian alam semesta dan penghuninya.
Jika dalam tahun mendatang seseorang tidak menggunakannya dengan hal-hal positif, seperti ibadah dan kebajikan lainnya, maka tahun itu sendiri akan menggunakan seseorang untuk memperlakukannya terhadap hal-hal yang negatif.
Sebagian orang tidak mempercayai dunia sufisme termasuk di dalam soal keberadaan para wali, Nabi Khidhir, pembukaan rahasia Allah swt. Mereka kadang bukan orang awam juga. Mereka kadang terdiri dari ulama-ulama yang memiliki perhatian pada ilmu lahiriyah seperti fiqih.
Uraian tentang zikir ini banyak dijelaskan di dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an termasuk mengenai keterangan ahli zikir.
Abu Hurairah ra menceritakan tips yang dilakukan Rasulullah saw ketika dilanda kemarahan. Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi mengubah posisinya dari berdiri menjadi duduk dan dari menjadi berbaring.
Meskipun diakui adanya perbedaan, tidak bisa dipungkiri adanya titik-titik temu yang menghubungkan budaya Islam secara universal. Salah satu titik temu itu berupa komitmen masing-masing pribadinya.
Imam Al-Ghazali menghimpun pandangan sejumlah sahabat nabi dan komentar ulama perihal kemarahan. Kami kutip sejumlah komentar tersebut dari karyanya Ihya Ulumiddin.
Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dari sahabat Zaid bin Aslam yang menceritakan dialog Nabi Musa dan Allah swt.