IMG-LOGO
Trending Now:
Shalawat/Wirid

Apakah Nabi Muhammad Ambil Manfaat dari Bacaan Shalawat Kita?

Selasa 11 Desember 2018 4:0 WIB
Share:
Apakah Nabi Muhammad Ambil Manfaat dari Bacaan Shalawat Kita?
Allah memerintahkan manusia untuk membaca shalawat untuk Nabi Muhammad SAW. Allah dan malaikat juga mengucapkan shalawat. Tetapi untuk apa manfaat shalawat yang bermakna rahmat bagi Allah dan doa bagi malaikat dan manusia untuk Nabi Muhammad SAW, padahal ia sudah tidak lagi memerlukannya karena sudah sempurna?

Syekh Ihsan M Dahlan Jampes Kediri menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah makhluk yang sempurna. Meskipun demikian, ia tetap menerima manfaat atas bacaan shalawat untuknya. Hanya saja, orang yang bershalawat tidak selayaknya bermaksud demikian terhadap Nabi Muhammad SAW.

واعلم أن النبي ينتفع بصلاتنا عليه لكن لا ينبغي للمصلي أن يقصد ذلك وإنما يقصد نفع نفسه كما يزداد نفعه بتكرر العمل بالأحكام الشرعية الواردة عنه وكذلك الشيخ إذا علم إنسانا حكما فصار يعمل به ويعلمه للناس فإنه يزداد نفعه بتكرر العمل به كما قاله القطب الدسوقي وغيره

Artinya, “Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad SAW menerima manfaat atas bacaan shalawat kita, tetapi orang yang bershalawat tidak boleh meniatkan shalawatnya untuk itu. Yang ia niatkan adalah manfaat yang berpulang untuk dirinya sendiri sebagaimana manfaat untuk dirinya bertambah dengan memperbanyak amal-ibadah yang sesuai dengan hukum syariat. Hal serupa adalah ketika seorang guru mengajarkan sebuah hokum kepada seseorang, lalu ia mengamalkan dan mengajarkannya, maka manfaat untuknya akan semakin bertambah dengan memperbanyak pengamalan ilmu tersebut sebagaimana dikatakan oleh Al-Quthub Ad-Dasuqi dan ulama lain,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 14).

Dengan maksud memberikan manfaat, bisa jadi kita menggunakan logika “perhitungan” terhadap Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, maksud demikian dalam membaca shalawat sebaiknya dihindari.

Orang yang bershalawat sebaiknya meniatkan shalawat sebagai ibadah seperti perintah Allah yang bernilai ibadah sebagamana Surat Al-Ahzab ayat 33 berikut ini:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيما

Artinya, “Sungguh Allah dan Malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bershalawat salamlah kepadanya,” (Surat Al-Ahzab ayat 33).

Sebagaimana diketahui bahwa shalawat dari Allah bermakna rahmat, shalawat dari malaikat atau manusia bermakna doa.

Syekh Ismail Al-Hamidi juga menegaskan soal manfaat shalawat bagi Nabi Muhammad SAW dan orang yang membaca shalawat sebagaimana dikutip oleh Syekh M Nawawi Banten berikut ini:

فالجواب أن المقصود بصلاتنا عليه طلب رحمة لم تكن فإنه ما من وقت إلا وهناك رحمة لم تحصل له فلا يزال يترقى في الكمالات إلى ما لا نهاية له فهو ينتفع بصلاتنا عليه على الصحيح لكن لا ينبغي أن يقصد المصلي ذلك بل يقصد التوسل إلى ربه في نيل مقصوده

Artinya, “Jawabannya, tujuan shalawat (doa) kita untuk Nabi Muhammad SAW adalah permohonan rahmat baru yang belum ada karena tiada satu waktu yang berlalu kecuali di situ terdapat rahmat Allah yang belum didapat oleh Rasulullah. Dengan shalawat, derajat Nabi Muhammad SAW selalu naik dalam kesempurnaan tak terhingga. Jadi, Rasulullah SAW jelas menerima manfaat atas shalawat kita kepadanya, menurut pendapat ulama yang shahih. Tetapi orang yang bershalawat tidak seharusnya bermaksud demikian, tetapi bermaksud tawasul kepada Allah (melalui shalawat) dalam mewujudkan harapannya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Dari penjelasan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa benar adanya bahwa Nabi Muhammad SAW adalah sosok sempurna yang kesempurnaannya terus meningkat. Ia tetap mendapat manfaat atas bacaan shalawat kita.

Namun, kita sebaiknya tidak meniatkan lafal shalawat dengan maksud kesempurnaan Nabi Muhammad SAW, tetapi meniatkannya sebagai ibadah, doa, tawasul atas hajat kita, atau puncaknya (adab) adalah rasa syukur kita atas kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai asal penciptaan alam semesta. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Share:
Ahad 9 Desember 2018 16:30 WIB
Renungan Menyentuh dari Qasidah Burdah
Renungan Menyentuh dari Qasidah Burdah
Qasidah Burdah sudah tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Maulaya shalli wa sallim dâiman abada seakan-akan menjadi shalawat yang nyaris tak ditinggalkan di setiap pembacaan maulid Baginda Besar Muhammad ﷺ. Qasidah ini dikarang oleh Imam al-Busiri (610 H), yang wafat pada tahun 695 Hijriah. 

Imam al-Bushiri merupakan seorang penyair andal pada masanya. Beliau juga adalah seorang kaligrafer yang memiliki tulisan yang indah. Gurunya yang terkenal adalah Abdul ‘Abbas al-Mursi.

Baca juga:
Jubah Warisan Rasulullah
Saat Gus Dur Menikmati Syair Qasidah Burdah Al-Bushiri
Ini Keterangan Syair Ya Rabbi bil Mushtafa Balligh Maqashidana
Qasidah Burdah terdiri dari 160 bait. Setiap baitnya mengandung nilai sastra yang tinggi, lembut, dan menyentuh pembacanya yang mengerti sastra Arab. Imam al-Bushiri mengisahkan kehidupan Nabi di dalam Qasidahnya. Lebih menariknya, sebelum menceritakan sirah Nabi, terdapat renungan indah yang dapat menyentak jiwa para pembacanya. Tepatnya di dalam pasal kedua, mengenai bahayanya hawa nafsu.

فَإِنّ أَمّارَتِ بِالسّـوءِ مَا اتّعَظَتْ        ۞     مِنْ جَهْلِهَا بِنَذِيرِ الشّيْبِ وَالَهَرَمِ

Sungguh nafsu amarahku tak dapat menerima nasihat, karena ketidaktahuannya.
Akan peringatan berupa uban di kepala, dan ketidakberdayaan tubuh akibat umur senja.

Dalam bait ini, al-Bushiri menegaskan bahwa hampir saja semua manusia tidak sadar akan hawa nafsu yang mengelabuinya sepanjang hidup. Bahkan di usia senja, tak dapat dijamin hidayah akan datang kecuali melalui ‘inayah Allah ﷻ kepadanya. Padahal tanda-tanda maut bakal menjemput sudah ada, yaitu uban yang tumbuh pada rambutnya.

مَنْ لِي بِرَدِّ جِمَاحٍ مِنْ غَوَايَتِهَا    ۞     كَمَا يُرَدُّ جِمَاحُ الَخَيْلِ بِاللُّجُمِ

Siapakah gerangan yang sanggup mengendalikan nafsuku dari kesesatan
Sebagaimana kuda liar yang terkendalikan dengan tali kekangan

Teringat dengan kisah pasca-Rasulullah ﷺ pulang dari perang Badar, beliau ﷺ berujar, “Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar.” Lalu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu, wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, "Jihad (memerangi) hawa nafsu.”

Artinya, betapa besarnya kekuatan hawa nafsu, hingga Rasulullah pun menggambarkannya sedemikian rupa.

فَلاَ تَرُمْ بِالْمَعَاصِيْ كَسْرَ شَهْوَتِهَا      ۞     إِنّ الطَّعَامَ يُقَوِّيْ شَهْوَةَ النَّهِمِ

Jangan kau berharap, dapat mematahkan nafsu dengan maksiat.
Karena makanan justru bisa perkuat bagi si rakus makanan lezat.

وَالنّفْسُ كَالطّفِلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى ۞     حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Nafsu bagaikan bayi, bila kau biarkan akan tetap suka menyusu.
Namun bila kau sapih, maka bayi akan berhenti sendiri

Sebagian orang menganggap, dengan mengikuti hawa nafsunya, rasa itu akan menghilang karena habis dilampiaskan. Namun ternyata tidak begitu, hawa nafsu akan menjadi-jadi ketika dituruti, bak orang yang rakus jika diberi makanan maka ia malah bertambah kerakusannya. 

Imam al-Bushiri menyerupakan nafsu dengan seorang anak bayi. Apabila seorang anak bayi tidak disapih, maka sampai besar ia akan hobby menyusu pada ibunya, dan tentunya itu amat membahayakan.

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ       ۞     إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ

Maka palingkanlah nafsumu, takutlah jangan sampai ia menguasai-nya
Sesungguhnya nafsu, jikalau berkuasa maka akan membunuhmu dan membuatmu tercela

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَآئِمَةٌ       ۞     وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ

Dan gembalakanlah nafsu, karena dalam amal nafsu bagaikan hewan ternak.
Jika nafsu merasa nyaman dalam kebaikan, maka tetap jaga dan jangan kau lengah

Dalam dua bait diatas, Imam al-Bushiri menghimbau kita untuk mengolah hawa nafsu supaya menjadi teratur dan tidak liar. Kemudian beliau mengingatkan kita bahwa tidak semua sesuatu yang kita anggap indah, hakikatnya juga indah. Bisa jadi ia adalah racun yang terkandung di dalam makanan yang lezat, sebagaimana dalam syairnya:

كَمْ حَسّنَتْ لَذّةً لِلْمَـــــــرْءِ قَاتِلَةً         ۞     مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنّ السَّمَّ فِي الدَّسَمِ

Betapa banyak kelezatan, justru membawa kematian bagi seseorang
Karena tanpa diketahui, adanya racun tersimpan dalam makanan

Kemudian, setelah merenungi nafsu yang menjangkiti kita. Kita dianjurkan pula untuk meminta ampunan pada Allah SWT dari perkataan kita yang tidak disertai dengan ucapan. Tentunya ini menjadi cerminan bagi kita, bahwa selama ini amal perbuatan kita tidak sebaik dari perkataan yang terlontar dari lisan kita maupun unggahan kita di media sosial.

أَسْتَغْفِرُ الَّلهَ مِنْ قَوْلٍ بِلاَعَمَــلٍ        ۞     لَقَدْ نَسَبْتُ بِهِ نَسْلً لِذِي عُقُمِ

Aku mohon ampun kepada Allah dari ucapan tanpa disertai  amal # Aku telah menasabkan diriku dengan perkataan itu, bagaikan seorang yang mandul mengharap keturunan

Semoga kita dianugerahi kesempatan untuk bertafakur dan muhasabah akan kesalahan dan dosa yang ada dalam diri kita, sehingga kita pun luput dari banyak menghukumi kesalahan orang lain. Wallahu a'lam(Amien Nurhakim)

Senin 26 November 2018 11:45 WIB
Anjuran Menutup Majelis dengan Bershalawat
Anjuran Menutup Majelis dengan Bershalawat
Sekumpulan orang berkumul di sebuah rumah. Mereka baru saja bersama-sama melakukan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dan beberapa kalimat thayibah. Setelah itu mereka menyantap hidangan yang disiapkan tuan rumah. Usai santap bersama pembaca acara menyampaikan beberapa kalimat sebelum akhirnya menyatakan selesainya acara pada malam itu, lalu memungkasinya dengan salam.

Namun demikian meski acara telah resmi ditutup namun mereka yang hadir tak kunjung bangun dan meninggalkan majelis. Beberapa di antaranya malah saling pandang, seperti ada yang ganjil bagi mereka. Hingga ketika salah seorang di antara mereka menyuarakan dengan lantang kalimat shallû ‘alan Nabiy Muhammad semuanya menjawab dengan lantang pula kalimat Allâhumma shalli wa sallim wa bârik ‘alaih, lalu serempak bangun dan meninggalkan majelis untuk pulang ke rumah masing-masing.

Ya, pemandangan seperti itu jamak dijumpai di masyarakat muslim di Indonesia. Bahwa dalam sebuah perkumpulan acara kenduri atau selamatan mereka yang hadir baru akan bubar ketika dikomando untuk membaca shalawat. Tanpa dishalawati mereka belum mau membubarkan diri atau kalaupun bubar seperti ada yang kurang yang mengganjal di dalam hati. Itulah sebabnya ada yang berkelakar mengatakan bahwa shalawat yang dibaca untuk menutup sebuah majelis disebut dengan “shalawat bubar” atau “shalawat ngusir”. Hehe…

Apa yang dilakukan oleh masyarakat dan telah menjadi adat kebiasaan ini bukan tanpa sebab dan dasar. Tentunya mereka yang awam melakukan itu mengikuti apa yang diajarkan oleh para ulama atau tokoh masyarakat yang ada. Dan tentunya pula para tokoh masyarakat itu mengajarkan demikian dengan berdasar pada ilmu yang mereka pelajaran dari para gurunya terus berantai hingga Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Imam Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-Shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam mengutip beberapa hadits yang berkenaan dengan hal ini. Di antaranya hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi:

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Artinya: “Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis di mana merea tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi di dalam majelis itu kecuali majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka. Bila Allah mau maka akan menyiksa mereka, dan bila Allah mau maka akan mengampuni mereka.” (Sirajudin Al-Husaini, As-Shalâtun ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam, [Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990], hal. 106)

Juga sebuah hadits dari Abu Hurairah:

أيُّما قَوْمٍ جَلَسُوا فأَطالُوا الجُلوسَ ثمَّ تَفَرَّقُوا قَبْلَ أنْ يَذْكرُوا الله تَعَالَى أوْ يُصَلُّوا على نَبِيِّهِ كانَتْ عَلَيْهِمْ تِرَةً مِنَ الله إنْ شاءَ عَذَّبَهُمْ وَإنْ شاءَ غَفَرَ لَهُمْ

Artinya: “Suatu kaum yang duduk-duduk dan melamakan duduknya kemudian mereka berpisah sebelum berdzikir kepada Allah atau bershalawat kepada Nabi-Nya maka duduknya mereka itu akan menjadi kerugian bagi mereka dari Allah. Bila Allah mau maka akan menyiksa mereka dan bila Allah mau maka akan mengampuni mereka.” (Abdur Rauf Al-Munawi, Faidlul Qadîr, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2012], Jil. III, hal. 194)

Dari kedua hadits di atas dapat diambil pelajaran bahwa ketika sekumpulan orang berkumpul dalam sebuah majelis namun mereka tidak berdzikir kepada Allah dan tidak bershalawat kepada Baginda Rasulullah maka majelis itu akan menjadi kerugian dan penyesalan bagi setiap orang yang ada di dalamnya. Mereka merugi dan menyesal karena telah meninggalkan dzikir dan shalawat di dalam majelis sehingga tidak mendapatkan pahalanya. Kelak di hari kiamat Allah bisa saja menyiksa mereka karena perbuatan dosa yang mereka lakukan selama berada di majelis seperti menggunjing dan lainnya. Atau Allah juga bisa saja mengampuni mereka sebagai anugerah dan rahmat dari-Nya.

Sirajudin Al-Husaini menyatakan bahwa disunahkan bagi setiap orang yang ikut duduk di majelis itu untuk berdzikir kepada Allah dengan kalimat tahmid, tasbih, takbir, istighfar dan lainnya, juga untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa Sallam. Kesunahan berdzikir dan bershalawat ini menguat manakala mereka hendak bangun bubar dari majelis.

Kiranya inilah dasar mengapa dalam berbagai acara yang digelar oleh masyarakat muslim Indonesia—terlebih oleh kalangan Nahdliyin—selalu dibacakan shalawat terlebih dahulu sebelum para hadirin bangun membubarkan diri. Ini juga yang menjadi dasar dalam berbagai kegiatan Nahdliyin di dalam susunan acaranya selalu diadakan secara khusus acara pembacaan shalawat setelah dibacakannya ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Wallâhu a’lam.

(Yazid Muttaqin)

Senin 19 November 2018 20:30 WIB
20 Waktu yang Disunahkan Membaca Shalawat (Bagian II)
20 Waktu yang Disunahkan Membaca Shalawat (Bagian II)
Ilustrasi (via Pinterest)
Berikut adalah kelanjutan dari artikel bagian sebelumnya tentang 20 (dua puluh) waktu yang disunahkan untuk membaca shalawat sebagaimana disampaikan oleh Sirajudin Al-Husaini di dalam kitabnya As-shalâtu ‘alan Nabiyyi Shallallâhu ‘alaihi wa Sallam (Damaskus: Maktabah Darul Falah, 1990).
Kesebelas, sunah membaca shalawat bagi orang yang baru saja bangun dari tidur malamnya.

Imam Nasai dalam kitab As-Sunan Al-Kubra meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud:

يَضْحَكُ اللهُ إِلَى رَجُلَيْنِ: ....وَرَجُلٍ قَامَ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ لَا يَعْلَمُ بِهِ أَحَدٌ، فَتَوَضَّأَ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ حَمِدَ اللهَ وَمَجَّدَهُ، وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاسْتَفْتَحَ الْقُرْآنَ، فَذَلِكَ الَّذِي يَضْحَكُ اللهُ إِلَيْهِ يَقُولُ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي قَائِمًا لَا يَرَاهُ أَحَدٌ غَيْرِي

Artinya: “Allah 'tertawa' terhadap 2 orang; .... dan orang yang bangun di tengah malam di mana tak ada seorang pun yang mengetahuinya, lalu ia berwudlu dan menyempurnakannya, kemudian memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan memulai membuka Al-Qur’an. Yang demikian itu Allah 'tertawa' kepadanya. Ia berfirman, “Lihatlah hamba-Ku sedang berdiri shalat, tak ada seorang pun yang melihatnya selain Aku.”

Kedua belas, membaca shalawat kepada Nabi disunahkan ketika telinga berdengung.

Abu Rofi’ meriwayatkan sabda Rasulullah:

إِذا طَنَّتْ أُذُنُ أحدِكُمْ فَلْيَذْكُرْنِي ولْيُصَلِّ عَلَيَّ ولْيَقُلْ ذَكَرَ الله مَنْ ذَكَرَنِي بِخَيْرٍ

Artinya: “Apabila telinga salah seorang di antara kalian berdengung maka ingatlah aku dan bershalawatlah kepadaku serta ucapkan dzakarallâhu man dzakaranî bi khair (semoga Allah mengingat orang yang mengingatku dengan kebaikan).”

Al-Munawi di dalam kitab Faidlul Qadîr menjelaskan bahwa yang dimaksud “ingatlah aku” pada hadits tersebut adalah mengucapkan kalimat Muhammad Rasulullâh.

Ketiga belas, sunah membaca shalawat ketika lupa akan suatu perkataan.

Ibnu Sunni dengan sanad dari Usman bin Abi Harb Al-Bahili meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يُحَدِّثَ بِحَدِيثٍ فَنَسِيَهُ، فَلْيُصَلِّ عَلَيَّ؛ فَإِنَّ صَلَاتَهُ عَلَيَّ خَلَفًا مِنْ حَدِيثِهِ، وَعَسَى أَنْ يَذْكُرَهُ

Artinya: “Barang siapa yang hendak mengatakan suatu perkataan kemudian ia lupa akan perkataan itu maka bershalawatlah kepadaku, karena shalawatnya kepadaku itu sebagai pengganti ucapannya, semoga ia bisa mengingatnya.”

Keempat belas, membaca shalawat juga disunahkan stelah selesai melakukan shalat.

Sebuah hikayat menceritakan, satu hari Muhammad bin Umar bersama Abu Bakr bin Mujahid. Kemudian datang Syekh As-Syibli. Melihat kedatangan As-Syibli ini Abu Bakr bin Mujahid segera bangkit menyambutnya. Ia peluk As-Syibli dan mencium di tengah kedua matanya.

Melihat hal ini Muhammad bin Umar bertanya kepada Abu Bakr, “Tuan, engkau lakukan ini kepada As-Syibli, sedangkan engkau dan orang-orang menggambarkan ia sebagai orang yang gila?”

Abu Bakr menjawab bahwa ia lakukan ini meniru apa yang dilakukan oleh Rasulullah kepada As-Syibli. Ia menceritakan bahwa ia telah bermimpi Rasulullah bangun menyambut kedatangan As-Syibli lalu memeluk dan mencium di tengah kedua matanya. Dalam mimpinya itu Abu Bakr bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul, engkau lakukan ini kepada As-Syibli?”

Rasulullah menjawab, “Orang ini setelah shalat selalu membaca ayat laqad jâakum rasûlun min anfusikum..... kemudian meneruskannya dengan bershalawat kepadaku.”

Kelima belas, disunahkan membaca shalawat kepada Nabi ketika khatam membaca Al-Qur’an.

Ketika khatam membaca Al-Qur’an dianjurkan untuk bershalawat kepada Nabi mengingat saat itu adalah saatnya berdoa di mana doa setelah khatam Al-Qur’an akan dikabulkan.

Keenam belas, disunahkan membaca shalawat ketika sedang mengalami kegundahan, keresahan, dan hal-hal yang berat.

Suatu waktu Ubay bin Ka’b menyampaikan beberapa kalimat kepada Rasulullah. Di antaranya ia menyampaikan:

أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ

Artinya: “Aku jadikan seluruh doaku sebagai shalawat kepadamu, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Kalau begitu akan dicukupi keresahanmu dan akan diampuni dosamu.” (HR. Imam Turmudzi)

Ketujuh belas, sunah membaca shalawat ketika berdoa tentang suatu hajat.

من كان له الى الله عز وجل حاجة أو الى احد من بني أدم فليتوضأ وليحسن وضوءه وليصل ركعتين ثم ليثن على الله عز وجل وليصل على النبي صلى الله عليه وسلم ثم ليقل لا اله الا الله الحليم الكريم لا اله الا الله سبحان الله رب العرش العظيم والحمد لله رب العالمين أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك والغنيمة من كل بر والسلامة من كل ذنب لا تدع لي ذنبا الا غفرته ولا هما الا فرجته ولا حاجة هي لك رضا الا قضيتها يا أرحم الراحمين

Artinya: “Barang siapa yang memiliki hajat kepada Allah atau kepada seseorang maka berwudlulah dan baguskanlah wudlunya serta lakukanlah shalat dua rakaat. Kemudian pujilah Allah dan bershalawatlah kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam, lalu ucapkanlah: lâ ilâha illallâh al-halîmul karîm, lâ ilâha illallâh subhânallâhi rabbil ‘arsyil ‘adhîm, walhamdu lillâhi rabbil ‘âlamîn, as-aluka mûjibâti rahmatika, wa ‘azâima maghfiratika, wal ghanîmata min kulli birin, was salâmata min kulli dzanbin, lâ tada’ lî dzanban illâ ghafartahu, wa lâ hamman illâ farrajtahu, wa lâ hâjatan hiya laka ridlan illâ qadlaitahâ, yâ arhamar râhimîn.

Kedelapan belas, disuahkan membaca shalawat ketika seorang laki-laki meminang seorang perempuan untuk dinikahi.

Imam Nawawi di dalam kitab Al-Adzkâr menuturkan, disunahkan orang yang meminang mengawalinya dengan mengucapkan hamdalah dan memuji kepada Allah serta bershalawat kepada Rasulullah Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengucapkan asyhadu allâ ilâha illallâhu wahdahû lâ syarîkalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhû wa rasûluhû...

Kesembilan belas, disunahkan memberpanyak membaca shalawat kepada Nabi pada hari dan malam Jum’at. 

Ada banyak hadits dari banyak sahabat di mana Rasulullah menganjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat pada hari dan malam Jum’at. Beliau juga menjelaskan bahwa pada hari Jumat shalawat dilaporkan kepada beliau secara khusus dan hari Jum’at memiliki kondisi khusus pula.

Kedua puluh, disunahkan memperbanyak membaca shalawat ketika sedang melaksanakan ibadah haji dan umrah.

Orang yang sedang melaksanakn ibadah haji dan umrah dianjurkan untuk memperbanyak membaca shalawat nabi di berbagai kegiatan manasik haji, baik setelah membaca talbiyah, ketika thawaf, sa’i, wukuf dan lain sebagainya. Wallâhu a’lam.

(Yazid Muttaqin)