IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Tujuh Anggota Badan: Kewajiban dan Cara Menjaganya

Rabu 12 Desember 2018 18:15 WIB
Share:
Tujuh Anggota Badan: Kewajiban dan Cara Menjaganya
Ilustrasi (AP)
Manusia dianugerahi oleh Allah ﷻ anggota tubuh yang lengkap. Masing-masing anggota tubuh memiliki fungsinya. Di sisi lain anggota tubuh memiliki kewajiban yang mesti ia laksanakan. Sebagaimana yang dituturkan Harits al-Muhasibi dalam kitabnya, Risalah al-Mustarsyidin:

واعلم أن حفظ الجوارح فريضة وترك الفضول فضيلة

“Ketahuilah olehmu bahwa menjaga anggota tubuh itu wajib dan meninggalkan sikap berlebih-lebihan adalah keutamaan.” (al-Harits al-Muhasibi, Risâlah al-Mustarsyidin, Maktabah al-Mathbu’ah al-Islamiyah, Aleppo, Suriah, hal. 112)

Imam al-Muhasibi menjabarkan perihal kewajiban di atas, dengan menyebutkan bahwa ada tujuh anggota yang mesti dijaga. Yaitu pendengaran, penglihatan, penciuman, lisan, kedua tangan, kedua kaki, dan hati. Bagian terakhir, atau hati, itulah mesin penggerak dari semuanya. 

Tindakan menjaga anggota tubuh, dapat diimplementasikan dengan cara menaati perintah Allah ﷻ dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, Imam al-Muhasibi mengupas apa saja yang perlu kita jaga dari anggota tubuh kita.

1. Kewajiban hati

Kewajiban hati setelah beriman kepada Allah ﷻ dan tobat adalah ikhlas mengamalkan perintah-Nya semata-mata karena Allah, berbaik sangka ketika tertimpa suatu kesulitan, percaya kepada Allah, takut akan azab Gusti Allah, dan mengharap keutamaan Gusti Allah.

Hati merupakan bagian terpenting dari jasad. Apabila hati baik maka baiklah seluruh jasad ini, begitupula sebaliknya. Sebagaimana tertera dalam hadits:

ألاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ   مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ  أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري ومسلم) ـ

“Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika buruk, maka buruklah seluruh tubuh; ketahuilah bahwa ia adalah hati. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Kewajiban lisan

Di antara kewajiban lisan, yaitu jujur dalam keadaan senang maupun marah, menghindar dari ucapan yang menyakiti orang lain, meninggalkan sikap berlebih-lebihan dalam menyampaikan suatu hal yang baik maupun yang buruk.

Dalam menjaga lisan, kita dituntut untuk jujur, karena jujur merupakan curahan hati yang sesunnguhnya. Artinya apa yang terbersit di hati, itulah yang diucapkan oleh lisan. Maka dari itu, dalam keadaan senang maupun sulit, kita dituntut untuk selalu jujur.

Jika kita berhasil menjaga lisan kita maka Rasulullah-lah yang akan menjamin kita di surga nanti. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lisan) dan yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin surga baginya.” (HR. Al-Bukhari)

3. Kewajiban mata

Di antara kewajiban mata, yaitu menjaga pandangan dari sesuatu yang haram, tidak bersikeras mencari untuk melihat sesuatu yang dihalangi. Dalam artian, ketika kita mengetahui bahwa sesuatu itu dilarang untuk dilihat, terkadang kita lebih penasaran ingin melihatnya. Maka hal itu mesti kita hindari.

Sahabat Hudzaifah radliyallahu ‘anh meriwayatkan hadits dari Nabi ﷺ:

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِن سِهَامِ إِبْلِيْسَ، مَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللهِ أَتاهُ إِيْمَانًا حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

“Pandangan itu adalah panah di antara panah iblis, siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah mendatangkan kepadanya keimanan, yang ia dapatkan manisnya dalam hatinya.” (HR ath-Thabrani dan al-Hakim)

4. Kewajiban telinga

Kewajiban telinga di antaranya seperti perkataan dan penglihatan. Segala sesuatu yang dilarang untuk dikatakan dan dilihat, begitu juga diramkan untuk didengar.

Imam al-Muhasibi berpendapat, bahwa tak ada anggota tubuh setelah lisan, yang lebih membahayakan dari telinga atau pendengaran, karena hasil pendengaran adalah sesuatu yang lebih cepat mencapai hati.

Telah diceritakan, bahwa Waki’ bin al-Jarrâh telah berkata: “Aku telah mendengar satu kalimat dari seorang ahli bid’ah sejak dua puluh tahun yang lalu, dan aku tidak bisa menghilangkan kalimat tersebut dari telingaku!”

Begitupula hal yang dilakukan Thawus, apabila datang kepadanya seorang ahli bid’ah, maka ia pun menutup telinganya, supaya tidak mendengar perkataannya.

5. Kewajiban indra penciuman

Adapun kewajiban indra penciuman, yaitu seperti pendengaran dan penglihatan. Jika boleh didengar dan dilihat, boleh juga dicium.

Telah diceritakan, bahwa suatu hari khalifah Umar bin Abdul Aziz diberi sebotol minyak misik. Kemudian ia menutup hidungnya, dan berkata, “Apakah ia bermanfaat, kecuali hanya wanginya saja.”

Dalam artian, minyak misik tersebut diambil dari Baitul Mal, dan bukan milik pribadi beliau, hingga sang Khalifah pun menahan diri dan bersifat wara’ dari hal tersebut.

6. Kewajiban menjaga kedua tangan dan kaki

Kewajiban tangan dan kaki di antaranya adalah dengan tidak mengarahkan keduanya kepada hal-hal yang dilarang dan tidak menyelewengkannya. 

Masrûq berkata, “Tidaklah seorang hamba melangkah melainkan telah dicatat baik ataupun buruk.”

Pernah suatu hari anak perempuan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik menulis surat kepada ‘Abdah binti Khalid bin Ma’dân. Dalam suratnya ia mengatakan, “Datangilah aku.”

Maka ‘Abdah pun membalas suratnya, “Amma ba’du, maka sesungguhnya ayahku, semoga Allah merahmatinya, tidak suka untuk berjalan di perjalanan yang tidak memiliki jaminan di hadapan Allah, dan juga ia membenci memakan makanan yang apabila ditanya di hari akhir kelak, ia tidak memiliki alasan untuk menjawabnya, maka aku pun tidak suka terhadap apa yang tidak disukai ayahku, wassalamu alaik.”

Demikianlah paparan Imam al-Muhasibi terkait kewajiban tujuh anggota tubuh kita, semoga dengan mengetahuinya kita dapat menjaga kewajiban yang Allah tetapkan kepada kita. Amin.


(Ustadz Amien Nurhakim)

Tags:
Share:
Rabu 12 Desember 2018 5:0 WIB
Ini 10 Sahabat Iblis dari Kalangan Umat Nabi Muhammad
Ini 10 Sahabat Iblis dari Kalangan Umat Nabi Muhammad
(Foto: @islami.co)
Iblis setelah dinyatakan sebagai makhluk yang tersesat oleh Allah berjanji akan menyesatkan keturunan Nabi Adam AS hingga hari kiamat. Iblis dari segala arah akan menjauhkan manusia dari jalan yang benar sebagaimana pernyataannya dalam Surat Al-A‘raf ayat 16-17.

لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Artinya, “Iblis menjawab, ‘Aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.’ Kemudian aku mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan, dan kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka itu bersyukur,’” (Surat Al-A‘raf ayat 16-17).

Syekh Ihsan M Dahlan Jampes mencatat dialog Iblis dan Nabi Muhammad SAW perihal umatnya yang menjadi sahabat Iblis. Pada dialog itu, Iblis menyebut sepuluh jenis orang dari umat Nabi Muhammad SAW yang disesatkan oleh Iblis.

“Siapa sahabat dekatmu dari kalangan umatku?” tanya Nabi Muhammad SAW.

“Sepuluh orang,” kata Iblis yang disusul dengan sebutan rinci sepuluh jenis sahabatnya.

Pertama, penguasa yang zalim.

Kedua, orang kaya yang sombong.

Ketiga, pengusaha yang curang.

Keempat, peminum khamar (pemabuk).

Kelima, pengumbar fitnah.

Keenam, pelaku zina.

Ketujuh, orang yang makan harta anak yatim.

Kedelapan, orang yang main-main dengan shalat.

Kesembilan, orang yang tidak membayar zakat.

Kesepuluh, orang yang panjang angan-angan.

فهؤلاء أصحابي وإخواني

Artinya, “’Mereka itulah sahabat dan saudaraku (dari kalangan umatmu),’ kata Iblis kepada Nabi Muhammad SAW,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 280). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Selasa 11 Desember 2018 6:30 WIB
Ini 15 Musuh Iblis dari Kalangan Umat Nabi Muhammad
Ini 15 Musuh Iblis dari Kalangan Umat Nabi Muhammad
Peringatan atas bahaya godaan Iblis dan setan dapat ditemukan di banyak ayat Al-Qur’an. Peringatan atas segala jenis tipu daya Iblis dan setan dengan antara lain disebutkan di Surat Fathir ayat 5-6 berikut ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ. إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا

Artinya, “Hai manusia, sungguh janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah penipu ulung memperdayakan kamu tentang Allah. Sungguh setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh,” (Surat Fathir ayat 5-6).

Surat Fathir ayat 5-6 mengingatkan manusia untuk mengambil posisi dan sikap yang jelas terhadap Iblis dan setan. Sikap bermusuhan dengan Iblis dan setan tidak mudah karena tipu daya keduanya sering kali tampak halus.

Pada ayat lain, Allah mengaingatkan bahwa Iblis dan setan mendorong anak Adam secara nyata ke arah perbuatan jahat dan keji sebagaimana Surat Al-Baqarah ayat 168-169 berikut ini:

وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ * إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَآءِ وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Artinya, “Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan karena sungguh ia adalah musuh yang nyata bagimu. Sungguh setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan kepada Allah apa yang tidak kamu ketahui,” (Surat Al-Baqarah ayat 168-169).

Syekh Ihsan M Dahlan Jampes mencatat dialog Iblis dan Nabi Muhammad SAW perihal umatnya yang menjadi musuh Iblis. Pada dialog itu, Iblis menyebut lima belas macam orang dari umat Nabi Muhammad SAW yang menjadi musuhnya.

أمر الله تعالى إبليس أن يأتي صلى الله عليه وسلم ويجيبه عن كل ما يسأله

Artinya, “Suatu hari Allah memerintahkan Iblis untuk mendatangi Nabi Muhammad SAW dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan olehnya,” (Lihat Syekh Ihsan M Dahlan Jampes, Sirajut Thalibin ala Minhajil Abidin, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 280).

“Untuk apa kau datang?” kata Nabi Muhammad SAW.

“Allah memerintahkanku untuk mendatangi dan menjawab semua pertanyaan yang kaujaukan kepadaku,” jawab Iblis.

“Ok, wahai makhluk yang dikutuk oleh Allah, berapa musuhmu dari kalangan umaktu?” tanya Nabi Muhammad SAW.

“Lima belas,” kata Iblis segera menyebutkan rincian lima belas itu.

Pertama, Kamu (Nabi Muhammad SAW).

Kedua, pemimpin yang adil.

Ketiga, orang kaya yang rendah hati.

Keempat, pengusaha yang jujur.

Kelima, orang alim yang berusaha khusyuk.

Keenam, orang beriman yang ikhlas.

Ketujuh, orang beriman yang berhati penyayang.

Kedelapan, orang tobat yang istiqamah.

Kesembilan, orang yang berhati-hati (wara‘) dari barang haram.

Kesepuluh, orang beriman yang menjaga wudhu.

Kesebelas, orang beriman yang banyak sedekah.

Kedua belas, orang beriman yang baik budi dalam interaksi dengan orang lain.

Ketiga belas, orang beriman yang berguna bagi orang lain.

Keempat belas, penghafal Al-Qur’an yang selalu melafalkannya.

Kelima belas, mereka yang tahajud di saat orang lain ternyenyak.

Ayat Al-Quran dan riwayat ini mendorong kita untuk waspada terhadap godaan Iblis dan setan. Semoga Allah menjadikan kita menjadi salah satu dari 15 jenis umat Nabi Muhammad SAW yang menjadi musuh Iblis dan setan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 10 Desember 2018 18:0 WIB
Saat Abu Hanifah Tolak Tawaran Berteduh
Saat Abu Hanifah Tolak Tawaran Berteduh
Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsâbit (80-150 H) adalah salah satu imam mazhab empat yang hidup pada periode tabi’in. Ia mendapati sahabat Anas bin Malik dan beberapa sahabat peserta perang badar.

Kealimannya di bidang fiqih diakui khalayak. Para ulama sudah bersepakat. Karena kredibilitas dan kapabilitasnya, Abu Hanifah layak menyandang level mujtahid mutlak. Artinya, ia sudah boleh menggali hukum agama dari Al-Qur’an hadits dan sebagainya secara mandiri tanpa bergantung pada pendapat orang lain.

Abu Hanifah selain masyhur sebagai punggawa kajian fiqih ternyata dia pelaku fiqih murni yang seolah hanya membicarakan sisi hitam-putih, namun ia juga memadukannya dengan ilmu-ilmu yang lain. Di antara ramuan fiqihnya, Abu Hanifah memadukan fiqihnya yang hebat dengan tashawufnya yang matang.

Dalam dunia tasawuf, dikenal sebuah kutipan, “Barang siapa mendalami aspek fiqih saja seraya meninggalkan amaliyah tashawwuf, ia sangat berpotensi terjerumus pada tindakan fâsiq. Barang siapa hanya bertashawwuf saja namun tidak dibarengi dengan fiqih yang tepat, ia bisa menjadi zindiq (imannya hanya berpura-pura saja). Dan barang siapa yang bisa menggabungkan keduanya, berarti ia sudah pada derajat tahqiq (beragama dengan sesungguhnya).” Demikian perkataan Imam Malik yang sangat terkenal itu dikutip dalam Kitab Al-Futûhât Al-Ilâhiyyah halaman 64.

Menelisik sisi kehati-hatian Abu Hanifah salah satunya adalah sebuah cerita dari Imam As-Sya’rani yang bersumber dari Syaqîq Al-Balkhi sebagai berikut.

Satu ketika, Imam Hanifah itu tidak berkenan duduk atau berteduh di terasnya orang yang sedang mempunyai utang kepada Abu Hanifah. Sebab apa? Alasan Abu Hanifah tidak mau berteduh adalah:

اِنَّ عِنْدَهُ لِيْ قَرْضًا وَكُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبًا. وَجُلُوْسِيْ فِيْ ظِلِّ جِدَارِهِ اِنْتِفَاعٌ بِهِ

Artinya, “Sesunggunya dia mempunyai hutang kepadaku. Padahal aturannya, setiap hutang-piutang yang menarik sebuah keuntungan di salah satu pihak, itu termasuk riba. Nah, dudukku berteduh di bawah naungan orang tersebut berarti saya mengambil sisi manfaat darinya,” (Lihat Muhammad bin Salim Bâ Bashîl, Is’adur Rafîq, [Al-Haramain], juz I, halaman 143).

Demikianlah kelembutan dan kejernihan hati Abu Hanifah. Jadi, pijakan hukumnya begitu mendalam. Kalau kita cermati pada aturan dasar hukum fiqih, jika ada orang berhutang, tidak boleh ada bunganya (atau manfaat sejenis), namun larangannya selama aturan bunga disepakati dalam majelis transaksi.

Misalkan Ahmad berhutang kepada Abdullah sebanyak Rp. 100.000,-. Selama transaksi berlangsung mereka berdua tidak ada kesepakatan nanti saat mengembalikan uangnya harus lebih dari jumlah nominal hutang.

Tapi apabila dalam transaksi tanpa ada kesepakatan riba, namu besok lusa ternyata Abdullah ketemu dengan Ahmad dan kemudian ia menyusuli aturan “Besok kalau mengembalikan ditambah Rp. 20.000,- ya!.” Sekali lagi, secara aturan standar fiqih, demikian tidak ada masalah. Karena sudah tidak dalam satu transaksi pertama tadi.

Di sinilah letak tashawwuf dijalankan. Imam Abu Hanifah saat transaksi tidak melakukan riba. Namun lebih dari itu, bahkan sampai sudah pisah pun, ia tidak berkenan mengambil keuntungan padahal hanya sekedar berteduh di emperan orang yang mempunyai hutang kepadnya. Inilah contoh sikap wira’i Abu Hanifah yang patut kita contoh.

Dengan demikian, dapat kita ambil kesimpulan, berusaha merawat hati itu sangat penting. Kalau ada orang hatinya bersih, pribadinya akan timbul kehati-hatian dari makan harta haram, tidak sombong, suka mencela orang lain dan sebagainya. Tidak heran, jika dalam Kitab Lathâiful Ma’ârif karya Ibnu Abi Rajab Al-Hanbali disebutkan: 

الإشتغال بتطهير القلوب أفضل من الإستكثار من الصوم والصلاة مع غش القلوب

Artinya, “Sibuk membersihkan hati itu lebih utama daripada memperbanyak puasa, shalat, namun dengan hati yang tercemar.” Wallâhu a’lam. (Ahmad Mundzir)