IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah

Kamis 20 Desember 2018 9:0 WIB
Share:
Warsy, Imam Qira’at yang Bersuara Indah
Ilustrasi (via Pinterest)
Ada ungkapan bahwa Al-Qur’an diturunkan di tanah Hijaz, ditulis di Turki dan dibaca dan dipelajari di Mesir. Sepertinya, ungkapan itu ada benarnya, sebab dari rahim Mesirlah lahir imam-imam qira’at, para ahli dalam bidang qira’at yang menjaga nilai-nilai transmisi periwatan Al-Qur’an, salah satunya adalah Imam Warsy.

Nama lengkapnya adalah Utsman bin ‘Abdullah bin ‘Amr bin Sulaiman bin Ibrahim, panggilannya Abu Sa’id. Leluhur beliau berasal dari daerah Qairuwan (kota yang terletak di Negara Tunisia), namun beliau lahir dan tumbuh besar di Mesir pada tahun 110 H di kota Qaft, wilayah Shoid (dataran tinggi: pegunungan).

Dalam dunia intelektual Muslim, Imam Utsman ini lebih dikenal dengan julukan Imam Warsy, yang merupakan panggilan dari gurunya, Imam Nafi’. Menurut riwayat, julukan Warsy disematkan kepada Imam kelahiran Mesir ini dikarenakan gerak langkah beliau yang lamban. Kata warsy (ورش) berasal dari kata warasyan (ورشان) yang berarti seekor burung yang mirip merpati putih. Kata warasyan ini kemudian disingkat menjadi “Warsy”. 

Sementara, sebagian riwayat lain menceritakan bahwa alasan utama disematkannya julukan Warsy kepada beliau ini karena kulit beliau yang berwarna putih. Sebab dalam bahasa Arab, kata Warsy berarti sesuatu yang dibuat dari susu. 

Julukan Warsy sangat melekat dalam diri Imam Utsman, sehingga beliau tidak dikenal kecuali dengan julukan tersebut. Beliaupun sangat menyukai julukan ini. Ketika seseorang bertanya perihal julukan tersebut, beliau menjawab: guruku yang menyematkan julukan itu.

Dari segi fisik, beliau memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi, mungil, gemuk, berambut pirang, memiliki bola mata yang berwarna hijau serta warna kulit yang putih. 

Perjalanan Intelektual

Pada tahun 155 H, Imam Warsy berangkat merantau ke Madinah. Keberangkatan ini bukan bertujuan untuk menunaikan ibadah haji atau berdagang, akan tetapi hanya untuk belajar qira’at kepada Imam Nafi’ yang berdomisili di sana. 

Dikisahkan bahwa Imam Warsy berangkat dari Mesir menuju Madinah untuk belajar kepada Imam Nafi’. Ketika beliau sudah sampai di Madinah, beliau langsung menuju ke masjid Imam Nafi’ untuk mengikuti pengajiannya. 

Dalam pengajiannya, Imam Nafi’ hanya mengajarkan 30 ayat saja kepada murid-muridnya, karena banyaknya murid yang hadir. Melihat keadaan yang demikian, maka beliau pindah ke belakang pengajian (halaqah) dan bertanya kepada seseorang tentang murid senior Imam Nafi’ yang bisa beliau temui. Maka diantarkanlah beliau untuk menemui salah seorang murid senior Imam Nafi’ yaitu Kabir al-Ja’farain (murid senior Imam Ja’far bin Qa’qa’ yang melanjutkan belajar kepada Imam Nafi’). 

Baca juga:
Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?
Ragam Bacaan Ta’awudz Menurut Qira’at Asyrah
Ketika bertemu dengan Kabir al-Ja’farain, beliau berkeluh kesah tentang kesulitan yang beliau alami dalam menimba ilmu kepada Imam Nafi’ dan meminta Kabir al-Ja’farain untuk bersedia menjadi perantara beliau untuk menemui Imam Nafi’. Kabir al-Ja’farain pun bersedia dengan senang hati mengantarkan beliau menemui Imam Nafi’. 

Saat bertemu Imam Nafi’, Kabir al-Ja’farain menyampaikan kepada gurunya tersebut bahwa ada seorang yang datang dari Mesir khusus untuk menimba ilmu qira’at kepada beliau tanpa ada tujuan yang lain. 

Imam Nafi’ pun menerima beliau sebagai murid dan meminta kepada Imam Warsy untuk bersedia tinggal di masjid selama belajar. Karena keinginan kuat untuk belajar qiraat, dengan lapang dada beliau menerima permintaan calon gurunya tersebut untuk tinggal di masjid. Sejak saat itulah beliau secara maksimal belajar kepada Imam Nafi’.  

Kepada Imam Nafi’ inilah beliau belajar Al-Qur’an dan qira’atnya, serta menghatamkannya berulang kali. Sebagian riwayat mengatakan bahwa beliau mengkhatamkan Al-Qur’an hingga empat kali dalam satu bulan. Dalam artian bahwa setiap minggu beliau dapat mengkhatamkan Al-Qur’an. Setelah dirasa cukup untuk berguru kepada Imam Nafi’, beliau memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan mengamalkan ilmu yang beliau miliki. Keaktifan dan kepiawaian beliau dalam menyampaikan ilmu, menjadikan beliau sebagai rais qurra’ (pemuka qari’) ternama pada masanya. Tidak ada orang yang dapat menggantikan posisi dan kedalaman ilmu yang beliau miliki dalam bidang linguistik Arab dan tajwid. Imam Warsy juga memiliki suara yang memukau serta bacaan yang indah, sehingga membuat setiap orang berdecak kagum dan tidak bisa berpaling ketika mendengarkan bacaannya.

Perlu diketahui bahwa sebelum beliau belajar dan meriwayatkan qira’at Imam Nafi’, Imam Warsy adalah seorang imam qari’ di negaranya, Mesir dan memiliki bacaan yang berbeda dengan guru beliau. Hanya saja, cuma bacaan Imam Nafi’ yang beliau ajarkan, sementara bacaan beliau sendiri tidak banyak yang meriwayatkan, sehingga tidak dikenal masyarakat dan khalayak umum.

Komentar Ulama

Imam al-Dzahabiy mengatakan: Dia (Warsy) adalah Imam yang tsiqah dalam melafalkan huruf-huruf Al-Qur’an dan menjadi hujjah bagi generasi setelahnya. Sedangkan dalam bidang hadis, imam al-Dzahabiy tidak memberi komentar apapun.

Imam Al-Hafidz Abu al-’Ala’ berkata: Imam Warsy adalah imam yang tsiqah dan hujjah dalam bidang qira’at.

Imam Azraq berkata: Imam Warsy setelah mahir dalam bidang linguistik Arab, beliau mulai merintis membuka sebuah lembaga yang dikenal dengan “maqra’ah Warsy”.

Murid-murid Imam Warsy

Imam Warsy memiliki murid yang tidak sedikit dalam meriwayatkan bacaannya, namun yang termasyhur adalah: Abu Ya’kub al-Azraq dan Muhammad bin Abdurrahim al-Asbahaniy.

Abu Ya’kub al-Azraq dikenal sebagai penerus yang menjaga tonggak estafet bacaan beliau yang dipelajari dari Imam Nafi’.Dalam disiplin ilmu Qira’at, al-Azraq ini dikenal sebagai thariq (jalur perawi). Bacaan (riwayat Imam Warsy) ini tidak dikenal kecuali hanya di beberapa negara, seperti Maroko, Al-Jazair, Mauritania, sebagian Negeria dan Sudan. 

Diceritakan bahwa Imam al-Azraq meminta kepada Imam Warsy untuk mengajarkan bacaan Imam Nafi’ secara komprehensif tanpa ada campuran dari periwayatan lain. Untuk mencapai keinginannya, al-Azraq senantiasa bersama Imam Warsy dan tinggal bersama beliau dalam kurun waktu yang cukup lama. Dalam kesempatan tersebut, al-Azraq berhasil menghatamkan bacaan dari qira’at Imam Nafi’ yang disetorkan kepada Imam Warsy sebanyak dua puluh kali, baik dengan bacaan pelan (tahqiq) yang dipelajari ketika berada di Masjid Abdullah, maupun bacaan cepat (hadr) yang dipelajari ketika berada di Iskandariah.

Di negeri seribu menara, Mesir, beliau mengembuskan napas terakhir pada tahun 197 H. Tepatnya pada masa pemerintahan al-Ma’mun di usia beliau yang mencapai 87 tahun. Semoga ilmu beliau selalu mengalir kepada kita semua. Amin.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo


Tulisan ini disadur dari karya Syekh al-Dzahabiy “Ma’rifat al-Qurra’ al-Kibar ala Tabaqat wa al-A’sar” (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, tt) dan “Siyar ‘A’lam al-Nubala’” (Kairo: Dar al-Hadits, 2006); serta karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah..” (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 2010).

Share:
Selasa 11 Desember 2018 20:25 WIB
Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
Nafi’ al-Madani, Imam Qira'at yang Berguru pada 70 Tabi'in
Ilustrasi ( aboutislam.net)
Pada masa Nabi, Madinah merupakan pusat peradaban dan ilmu pengetahuan. Karena ia merupakan madrasah pertama tentang pengajaran Al-Qur’an juga qira’atnya kepada para sahabat. Dari sanalah muncul para sahabat ahli Al-Qur’an dan qira’at semisal Utsman bin Affan, Ubay bin Ka’ab, dan Zaid bin Tsabit. 

Setelah Nabi wafat, pengajaran Al-Qur’an dan qira’atnya tetap berlangsung dan eksis dilaksanakan oleh para sahabat kepada para tabi’in. Dari para sahabat itulah para tabi’in memperoleh ilmu dan bacaan Al-Qur’an secara mutawatir dari Nabi. Sebagian dari tabi’in inilah ada yang memiliki perhatian yang sangat besar terhadap Al-Qur’an dan qira’atnya, hingga kemudian dikenal sebagai ahli qira’at, salah satunya adalah Imam Nafi’. Nama lengkapnya Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu‘aim al-Madani atau biasa dikenal dengan julukan Abu Ruwaim.

Pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan (salah satu khalifah dari Bani Umayyah), Imam Nafi’ yang dilahirkan sekitar tahun tujuh puluh hijriah adalah salah satu ahli qira’at dari tujuh imam qira’at mutawatirah dan termasuk ulama yang berjuluk Al-Allamah, saleh serta memiliki kredibilitas dan kapabelitas yang sangat tinggi. 

Imam Nafi’ ini sebenarnya berasal dari Negara Asbahan, namun beliau tumbuh besar dan menetap di Madinah hingga ajal menjemputnya. 

Dari segi fisik, beliau memiliki tipikal kulit hitam legam, namun memancarkan aura wajah yang menawan serta budi pekerti yang luhur penuh wibawa. 

Perjalanan Intelektual

Imam Nafi’ dalam pengakuannya—sebagaimana diceritakan oleh Abu Qurrat Musa bin Thariq—dikatakan bahwa beliau berguru kepada tujuh puluh tabi’in, di antaranya adalah Imam Abu Ja’far (imam qira’at kedelapan), Syaibah bin Nashah, Muslim bin Jundub, Yazid bin Ruman, Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhri, Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj. 

Dari sekian banyak gurunya inilah, Imam Nafi’ melakukan seleksi bacaan, yaitu mengambil bacaan yang sama di antara guru-gurunya, dan meninggalkan bacaan yang berbeda. Hasil dari penyeleksian inilah kemudian dijadikan kaidah tersendiri oleh Imam Nafi’, yang kemudian dikenal luas oleh para generasi berikutnya sebagai qira’at Imam Nafi’. 

Dalam perjalanan hidupnya, Imam Nafi’ merupakan salah satu dari sekian banyak ulama yang mencurahkan waktunya untuk berkhidmah kepada Al-Qur’an dan qira’atnya. Sebagai buktinya, beliau telah mengajarkan Al-Qur’an beserta qira’atnya dalam kurun waktu lebih dari tujuh puluh tahun dan menjadi rujukan utama dalam bidang qira’at di Madinah setelah kepulangan salah satu gurunya, Imam Ja’far bin al-Qa’qa’.

Dalam bidang hadits, beliau sangat sedikit sekali meriwayatkan hadits Nabi. Namun hal tersebut tidak mengurangi kredibilitas dan kapabilitas beliau sebagai ahli qira’at. Karena hal ini justru menunjukkan konsistensi beliau dalam mengabdikan hidup untuk menyelami lautan ilmu qira’at.

Karamah Imam Nafi’

Imam Nafi’ adalah seorang ahli Al-Qur’an yang dianugerahi Allah beberapa karamah. Di antaranya, beliau memiliki bau harum yang keluar dari lisannya. 

Diceritakan bahwa jika beliau berbicara, maka terciumlah aroma harum minyak misk yang keluar dari lisannya. Ketika ditanya oleh salah seorang muridnya, “Apakah Guru memakai minyak wangi jika hendak mengajar?” Beliau menjawab, “Aku tidak pernah mendekati minyak wangi apalagi menyentuhnya. Suatu saat aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan beliau membaca Al-Qur’an persis di depan lisanku. Sejak saat itulah keluar bau harum dari lisanku.”

Selain kelebihan tersebut, Imam Nafi’ juga memiliki kelebihan yang lain, yaitu wajah yang selalu berseri-seri dan budi pekerti yang luhur. Imam al-Musayyibi berkata, ketika ditanyakan kepada Imam Nafi’ tentang hal tersebut (wajahnya yang selalu berseri-seri), beliau menajawab: “Bagaimana aku tidak berseri-seri, sementara Rasul menyalamiku dalam mimpi dan kepada Beliau aku membaca Al-Qur’an.”

Komentar Ulama

Terdapat banyak komentar dari para ulama, baik yang semasa maupun yang hidup setelahnya, perihal pribadi dan bacaan Imam Nafi’. Namun, komentar-komentar yang ditujukan kepada beliau mengarah pada satu kesimpulan, yaitu pujian. Dalam istilah ilmu hadits disebut dengan ta’dil. Di antara komentar-komentar tersebut ialah:

Imam Ibnu Mujahid berkata: “Imam Nafi’ adalah orang yang eksis dalam bidang qira’at setelah periode tabi’in di Madinah. Ia sangat mahir dan teliti dalam bidang wajah-wajah qira’at dengan mengikuti jejak imam-imam terdahulu di Negaranya”.

Imam Sa’id bin Mansur berkata: Saya mendengar Malik bin Anas berkata: “Bacaan ahli Madinah adalah sunnah (yang dipilih). Kemudian ditanyakan kepada beliau: “Apakah yang dimaksud (bacaan ahli Madinah) adalah bacaan imam Nafi’? Beliaupun menjawab: ya.

Imam ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: saya bertanya kepada bapakku (Imam Ahmad) “bacaan siapakah yang bapak sukai? Beliau menjawab: “Bacaan ahli Madinah (Imam Nafi’). Selain itu, bacaan siapa yang bapak sukai? Beliau menjawab: Qira’at Imam ‘Asim.

Komentar tentang beliau tidak hanya datang dari orang lain, namun juga datang dari anak tiri beliau yang sekaligus menjadi perawinya yang terkenal, yaitu: imam Qalun. Beliau berkata: Imam Nafi’ termasuk dari orang-orang yang memliki akhlak yang baik dan sangat baik bacaanya, zuhud serta dermawan. Ia menjadi Imam di masjid Nabi selama enam puluh tahun.

Murid-murid Imam Nafi’

Kealiman dan keistiqamahan yang dimiliki Imam Nafi’, mengantarkan beliau menjadi seorang maha guru yang disenangi oleh para murid-muridnya. Hal ini tandai oleh banyaknya murid beliau dari berbagai Negara seperti Mesir, Sham, Madinah dan lainnya. Di antara murid beliau yang terkenal adalah: Imam Malik bin Anas, Imam Laits bin Sa’ad, Abi Amr bin al-Ala’, Isa bin Wardan, Sulaiman bin Muslim bin Jammaz dan kedua putra gurunya (Imam Ja’far), yaitu Ismail dan Ya’qub. 

Namun, di antara sekian banyak murid beliau, yang paling terkenal dan kemudian menjadi perawi Imam Nafi’adalah Imam Qolun dan Imam Warsy.

Setelah mengabdikan jiwa dan raganya berkhidmah untuk Al-Qur’an, Imam Nafi’ dipanggil untuk menghadap Tuhannya pada tahun 169 H di Madinah.

Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk meneladani beliau. Amin.

Wallahu A’lam bi Al-Shawab.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Tulisan ini disadur dari kitab "Siyar ‘A’lam al-Nubala’" karya Imam Al-Dzhabi, juz II, hal 336; dan kitab "Makrifat al-Qurra’ al-Kibar ‘Ala Al-Tabaqat wa al-A’shar" karya Imam Al-Dzhabi juz II, hal. 64.

Selasa 27 November 2018 18:0 WIB
Pola Penulisan Al-Qur’an, dari Nabi atau Ijtihad Sahabat?
Pola Penulisan Al-Qur’an, dari Nabi atau Ijtihad Sahabat?
Ilustrasi (emaze.com)
Pola penulisan mushaf dalam Al-Qur’an yang sekarang beredar adalah Rasm Utsmani. Kata “utsmanî” sendiri merujuk kepada nama khalifah ketiga, yaitu Utsman bin Affan, atas jasa dan kontribusinya dalam pembukuan dan pembakuan Al-Qur’an secara sempurna dan utuh. 

Pola penulisan mushaf ini, sebagaimana disinggung pada pembahasan yang lalu, tidak memiliki kaidah yang baku sesuai dengan penulisan bahasa Arab secara konvensional.

Baca:
Enam Pola Penulisan Al-Qur’an yang Berbeda dari Kaidah Arab Konvensional
Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Al-Qur'an?
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Sehubungan dengan itu, para ulama berbeda pendapat tentang pola penulisan Al-Qur’an ini, apakah pola penulisan ini sesuai petunjuk Nabi (tauqifî) atau hasil itijhad para sahabat? 

Dalam kitab Manahilul Irfân karya Syekh Abdul Adhim al-Zurqani dijelaskan bahwa perbedaan ini terbagi dalam tiga pendapat:

Pertama, pendapat mayoritas ulama, menurutnya pola penulisan Al-Qur’an dalam mushaf adalah bersifat tauqifî, yaitu sesuai petunjuk dan perintah Nabi. Hal ini didasarkan pada dua hal: (1) penulisan Al-Qur’an dilakukan oleh kuttab al-wahyi (para penulis Al-Qur’an) di masa Nabi ﷺ. Apa yang ditulis oleh mereka tentu telah mendapatkan persetujuan dari Nabi; (2) tulisan ini tetap ada dan terus berlanjut pada masa Abu Bakar, dan pada masa Utsman bin Affan hingga sampai masa para tabi’in (generasi yang menjumpai sahabat) dan tabi’it tabi’in (generasi yang menjumpai tabi’in). Dengan demikian, penulisan ini merupakan kesepakatan sahabat. Tidak mungkin para sahabat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan penetapan Nabi, baik menambah huruf maupun menguranginya tanpa petunjuk Nabi.

Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan, “Haram hukumnya menyalahi penulisan Rasm Utsmanî, baik dalam penulisan huruf, ya’, alif, dan wawu.”

Kedua, sebagian ulama, termasuk Imam al-Baqillanî dan Ibnu Khaldun, berpendapat bahwa penulisan Al-Qur’an dalam mushaf itu merupakan hasil ijtihad para sahabat Nabi. Tidak bersifat tauqifî. Hal ini didasarkan pada dua fakta: (1) tidak ditemukan nash (dalil) baik berupa ayat Al-Qur’an maupun sunnah, yang menunjukkan keharusan menulis Al-Qur’an sesuai Rasm Utsmanî; (2) seandainya pola penulisan mushaf itu bersifat tauqifî, sesuai petunjuk Nabi, kenapa menggunakan istilah “rasm ustmanî” bukan “rasm nabawî”?.

Imam al-Baqillanî menyatakan bahwa sunnah menuliskan Al-Qur’an dengan pola yang mudah, sebab Nabi memerintahkan para sahabat menulis Al-Qur’an namun beliau tidak menunjukkan pola tertentu dan tidak melarang menulis pola tertentu juga.

Oleh sebab itu, bentuk dan model penulisan itu tidak lain hanyalah suatu tanda atau simbol. Segala bentuk serta model penulisan Al-Qur’an yang menunjukkan arah bacaan yang benar, dapat dibenarkan. Sedangkan rasm utsmani yang menyalahi rasm imla’î  (menurut kaidah penulisan Arab konvensional) yang dikenal masyarakat, menyulitkan banyak orang dan dapat mengakibatkan kesulitan dan keserupaan bagi pembaca.

Ketiga, pendapat ini sepertinya ingin mengakomodasi dua pendapat di atas dengan melihat kebutuhan dan kondisi sosialnya. Di satu sisi memperbolehkan bahkan mengharuskan menulis Al-Qur’an dengan menggunakan pola imla’î, dalam rangka memudahkan masyarakat umum. Artinya, bagi mereka yang tidak mengerti, tidak boleh menulis Al-Qur’an dengan Rasm Utsmanî agar tidak jatuh pada keserupaan dan perubahan. 

Di sisi yang lain dianjurkan menulis dengan pola Rasm Utsmani untuk menjaga dan melestarikan sebagai warisan yang berharga bagi generasi selanjutnya. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Nawawi dan Imam al-Zarkasyi.

Sehubungan dengan ini, Imam al-Zurqanî berkata:

 وهذا الرأي يقوم على رعاية الاحتياط للقرآن من ناحيتين: ناحية كتابته في كل عصر بالرسم المعروف فيه إبعادا للناس عن اللبس والخلط في القرآن وناحية إبقاء رسمه الأول المأثور يقرؤه العارفون ومن لا يخشى عليهم الالتباس. ولا شك أن الاحتياط مطلب ديني جليل خصوصا في جانب حماية التنزيل

“Pendapat ini dimaksudkan untuk menjaga eksistensi Al-Qur’an dari dua aspek: pertama, yaitu penulisan Al-Qur’an dengan penulisan yang dikenal (masyarakat umum), agar terhindar dari keserupaan dan kekacauan dan kesalahan dalam membacanya. Kedua, upaya pelestarian rasm-nya yang orisinil, yang diperuntukkan bagi orang-orang yang mengerti (arif), yang tidak dikhawatirkan terjadi kekacauan dalam membacanya. Tidak diragukan lagi bahwa berhati-hati merupakan tuntutan agama yang agung, utamanya dalam hal menjaga Al-Qur’an”.

Oleh karena itu, dari tiga pendapat di atas, penulis menyimpulkan sebagai berikut: 

1. Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Muslim di seluruh dunia. Penulisan Al-Qur’an dengan pola Rasm Utsmani, jika tidak dikatakan sebagai petunjuk Nabi, ia merupakan suatu kesepakatan para sahabat. Kesepakatan sahabat memiliki kekuatan hukum yang mengikat, yang wajib diikuti oleh kaum Muslim. Termasuk pola penulisan Al-Qur’an.

2. Penulisan Al-Qur’an dengan pola Rasm Utsmani merupakan sunnah yang harus dikuti. Hal ini dinyatakan dalam kitab al-Minhaj fi fiqh al-Syafi’i, “Kalimat (الربوا) ditulis dengan wawu dan alif sebagaimana dalam Rasm Utsmani. Dalam Al-Qur’an tidak ditulis dengan ya’ dan alif, karena Rasm Utsmani adalah sunnah yang harus diikuti.”

3. Pola penulisan Al-Qur’an sesuai dengan Rasm Utsmani adalah sebuah keniscayaan, utamanya penyatuan pola penulisan Al-Qur’an bagi seluruh ummat Muslim dengan rasm utsmani, agar seragam sesuai dengan penulisan awal dan agar terhindar dari fitnah. Sehingga tidak ada ungkapan-ungkapan yang muncul, “Mushaf kami lebih bagus dari mushaf kalian, rasm kami lebih baik daripada rasm kalian!” 

4. Boleh menulis Al-Qur’an tanpa menggunakan Rasm Utsmani apabila digunakan untuk kepentingan pembelajaran bagi orang masyarakat awam, umumnya di kalangan sekolah-sekolah yang masih butuh pengetahuan tentang bahasa Arab.

5. Pola penulisan Al-Qur’an dengan rasm utsmani memiliki banyak keistimewaan, salah satunya adalah memiliki petunjuk pada makna yang tersembunyi, seperti dalam surat al-Dzarîat ayat 47, pada lafadz (بأييد).

والسماء بنيناها بأييد

Dalam lafadz tersebut ditambah huruf ya’ setelah huruf ya’, karena mempunyai petunjuk atas keagungan kekuatan Allah ﷻ, yang dapat menciptakan langit, kekuatan ini tidak sama dengan kekuatan makhluknya. Dalam kaidah dikatakan: ziyâdatul mabnâ tadullu ‘alâ ziyâdatil ma‘nâ (penambahan konsonan huruf menunjukkan atas penambahan makna).


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo

Kamis 22 November 2018 23:15 WIB
Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Al-Qur'an?
Siapa yang Memberi Nama-nama Surat dalam Al-Qur'an?
Ilustrasi (via Twitter.com)
Secara etimologi, surat ini berasal dari kata (السور) atau (السؤر) yang berarti sisa minuman dalam suatu bejana. Dengan pengertian seperti ini, maka surat Al-Qur’an berarti sebagian kecil dari Al-Qur’an.

Sedangkan secara termenologi, surat adalah sebuah jumlah ayat-ayat Al-Qur’an yang terdiri atas awal dan akhir surat. Sedikitnya dalam satu surat adalah tiga ayat. Senada dengan definisi di atas, Imam Zarkasyi berkata: 

قرأن يشتمل على آي ذوات فاتحة وخاتمة وأقلها ثلاث أيات

Artinya: “Al-Qur’an yang mencakup atas beberapa ayat teridiri atas awal surat dan akhir surat paling sedikit tiga ayat, sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Kautsar.”

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ (2) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ (3) ـ

Untuk banyaknya jumlah surat dalam Al-Qur’an, jumhur ulama menyatakan ada 14 surat. Pendapat ini sesuai dengan jumlah surat yang ada dalam mushaf saat ini. Ada pendapat lain menyatakan bahwa surat-surta dalam Al-Qur’an adalah 13 surat, karena surat al-Anfal dan al-Taubah dianggap satu.
Di samping itu, para ulama mengelompokkan surat-surat Al-Qur’an ke dalam empat kelompok:

Pertama, ath-thiwâl (الطوال) atau surat-surat Al-Qur’an yang panjang. Yang masuk ke dalam kelompok ini ada tujuh surat, yang dikenal dengan sebutan ath-thiwâl as-sab‘ (السبع الطوال). Ketujuh surat-surai yang panjang itu adalah sebagai berikut: (1) al-Baqarah, (2) Ali Imran, (3) al-Nisa, (4) al-Maidah, (5) al-An’am, (6) al-A’raf, (7) Yunus. Pendapat ini diutarakan oleh Said bin Jubair bin Hisyam.

Sebagian pendapat yang lain menyatakan bahwa surat yang ke tujuh itu bukan surat Yunus tapi surat al-Anfal-al-Taubah karena kedua surat tersebut tidak dipisah oleh kalimat basmalah.

Kedua, al-mi’ûn (المئون) yaitu surat-surat Al-Qur’an yang terdiri atas seratus ayat atau lebih. Surat yang termasuk 100 ayat ini dimulai dari akhir surat (السبع الطوال) sampai akhir Surat al-Sajadah.

Ketiga, al-matsanî (المثاني) yaitu surat-surat Al-Qur’an yang jumlah ayatnya kurang dari 100 ayat. Surat-surat yang tergolong al-matsanî ini adalah dari awal Surat al-Ahzab sampai awal sUrat Qaf.

Keempat, al-mufashshal (المفصل) yaitu surat-surat Al-Qur’an yang pendek-pendek, yang terdapat di bagian akhir-akhir Al-Qur’an. Surat ini dikelompokkan dalam tiga kelompok:

Pertama, al-mufashshaal thiwâl (طوال المفصل), yang tergolong kelompok ini adalah surat al-Hujarat sampai al-Buruj. 

Kedua, al-mufashshaal ausâth (أوساط المفصل), yang tergolong kelompok ini adalah al-Thariq sampai al-Bayyinah, 

Ketiga, al-mufashshaal qishâr (قصار المفصل), yang tergolong kelompok ini adalah Surat al-Zalzalah sampai akhir Al-Qur’an.

Penamaan Surat Al-Qur’an

Ulama berbeda pendapat tentang penamaan Al-Qur’an, apakah ia termasuk tauqifî, yakni sesuai petunjuk dari Nabi atas penamaan itu, atau taufiqî, yaitu hasil ijtihad sahabat?

Jumhur ulama menyatakan bahwa seluruh nama-nama surat adalah tauqifî, artinya sesuai atas petunjuk dan perintah Nabi ﷺ. Pendapat ini dikuatkan dengan beberapa dalil hadits:

من قرأ هاتين الأيتين من أخر سورة البقرة في ليلة كفتاه 

Artinya: Barangsiapa yang membaca dua ayat dari akhir surat al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan dicukupkan.

من قرأ الزهراوين: البقرة وآل عمران فإنهما تأتيان يوم القيامة كأنهما غمامتان تحاجان عن أصحابهما 

Artinya: “Bacalah al-Zahrawain, yakni surat al-Baqarah dan Ali Imran, kelak keduanya akan datang menaungi pembacanya.”

من قرأ عشر أيات من أول الكهف عصم من الدجال 

Artinya: “Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat di awal Surat al-Kahfi, maka akan terjaga dari (godaan) dajjal.”

Hadits-hadits di atas mengindikasikan bahwa Nabi yang memberi nama-nama surat dalam Al-Qur’an.

Sementara itu, sebagian ulama menyatakan bahwa penamaan surat ini dilakukan atas dasar ijtihad para sahabat dan tabi’in. Hal ini didasarkan pada penamaan yang disematkan Imam Sufyan bin Uyainah terhadap surat al-Fatihah. Imam Sufyan memberi nama surat al-Fatihah dengan nama surat al-Wafîah (sempurna), sebab dalam surat al-Fatihah mencakup seluruh makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Imam al-Tsa’labî memberi alasan lain tentang penamaan di atas, yaitu bahwa Surat al-Fatihah ini tidak menerima tanshif (setengah-setengah). Sebab setiap surat Al-Qur’an apabila dibaca dalam shalat, boleh dibaca separuh di rakaat pertama, kemudian dilanjutkan separuhnya di rakaat kedua, berbeda dengan al-Fatihah, ia tidak bisa dibaca kecuali harus dibaca secara utuh dan lengkap.

Dalam hal ini, baik Imam Sufyan maupun al-Tsa’labî memberi nama pada surat al-Fatihah sesuai makna yang terkandung dalam surat al-Fatihah, tanpa berdasarkan pada petunjuk Nabi. 

Perlu diketahui bahwa ada sejumlah surat yang tidak hanya memiliki satu nama saja, termasuk di antaranya adalah Surat al-Fatihah. Surat ini memiliki banyak nama, ada yang sesuai petunjuk Nabi (tauqifî), ada yang sesuai ijtihad sahabat atau tabi’in (taufiqî).

Nama-nama Surat al-Fatihah, yang sesuai dengan petunjuk Nabi adalah sebagai berikut:

1. Ummul Qur’an
2. Fatihah al-Kitab
3. Al-Sab’u al-Matsanî.

Ketiga nama-nama di atas sesuai dengan sabda Nabi: 

عن  أبي هريرة، عن النبي أنه قال: هي أم القرأن، وهي الفاتحة، وهي السبع المثاني 

Artinya: “Surat al-Fatihah itu adalah ummul Qur’an, al-Fatihah, dan al-Sab’u al-Matsanî.”

Adapun nama-nama atas ijtihad sahabat atau tabi’in beserta alasan penamaannya adalah sebagai berikut:

1. Al-Wafîah, karena mencakup seluruh makna yang terkandung dalam Al-Qur’an

2. Al-Kafîah, karena bacaan al-Fatihah mencukupi dalam shalat, sedangkan yang surat yang tidak bisa menggantikan al-Fatihah,

3. Al-Munajah, karena seorang hamba bermunajat kepada Tuhannya dengan ucapan: (إياك نعبد وإياك نستعين) 

4. Al-Du’a, karena mencakup unsur doa, (اهدنا الصراط المستقيم),

5. Al-Tafwîd, karena mengandung unsur kepasrahan dan ketulusan beribadah kepada-Nya dengan ucapan: (إياك نعبد وإياك نستعين).

Dengan demikian, penamaan surat-surat dalam Al-Qur’an secara umum adalah tauqifî, sesuai petunjuk Nabi. Namun sebagian nama-nama itu ada yang ijtihad sahabat atau para tabi’in karena melihat pada kandungan makna yang terdapat surat itu. Wallahu a’lam.


Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo


Penjelasan ini merupakan ringkasan dari kitab "Tarikh al-Qur'an al-Karim" karya Dr Muhammad Salim Muhaisin (hal. 76-108)