IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Hukum Memancing Ikan di Kolam Pemancingan

Jumat 21 Desember 2018 19:0 WIB
Share:
Hukum Memancing Ikan di Kolam Pemancingan
(Foto: @harianmerdekabisnis)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, banyak tetangga dan teman saya pergi mengail ikan di kolam pemancingan. Mereka datang lalu membayar sejumlah uang kepada pengelola pemancingan. Setelah membayar, sejumlah kilogram ikan dilepas ke dalam kolam. Mereka lalu mencari tempat duduk di sudut kolam untuk memancingnya. Mohon penjelasan perihal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Syafi‘i/Sawangan-Depok)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Sebagian masyarakat mengisi waktunya untuk memancing ikan di kolam pemancingan atau di laut karena hobi, sekadar pengisi waktu akhir pekan, atau sebab lain.

Aktivitas mengail atau memancing ikan pada dasarnya boleh saja. Tetapi aktivitas mengail ikan di kolam pemancingan bergantung pada akad pemancing dan pengelola pemancingan. Pasalnya, transaksi pemancing dan pengelola pemancingan di lapangan terdiri atas sejumlah bentuk akad.

Salah satu bentuk akad yang dilarang adalah sewa kolam pemancingan untuk diambil ikannya. Hal ini pernah dibahas dalam Forum Muktamar Ke-9 NU di Banyuwangi pada 8 Muharram 1353 H/ 23 April 1934 M.

Pertanyaan yang mengemuka saat itu adalah, “Kalau menyewa tambak (balong) untuk mengambil ikannya dengan memancing atau menjaring, si penyewa kadang-kadang mendapat ikan banyak dan kadang-kadang tidak mendapat. Apakah menyewanya itu sah atau tidak?”

Forum muktamar saat itu menjawab, “Tidak sah menyewanya. Uang sewanya pun tidak halal karena barang itu tidak boleh menjadi hak milik dengan akad sewa.”

وَخَرَجَ بِغَيْرِ مُتَضَمِّنٍ لِاسْتِيْفَاءِ عَيْنٍ مَا تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاؤُهَا أَيِ اسْتِئْجَارُ مَنْفَعَةٍ تَضَمَّنَ اسْتِيْفَاءَ عَيْنٍ كَاسْتِئْجَارِ الشَّاةِ لِلَبَنِهَا وَبِرْكَةٍ لِسَمَكِهَا وَشُمْعَةٍ لِوُقُوْدِهَا وَبُسْتَانٍ لِثَمْرَتِهِ فَكُلُّ ذَلِكَ لاَ يَصِحُّ. وَهَذَا مِمَّا تَعُمُّ بِهِ الْبَلْوَى وَيَقَعُ كَثِيْرًا. 

Artinya, “Dan dengan kalimat, ‘Tanpa berkonsekuensi mengambil barang’ tidak termasuk pemakaian manfaat barang sewaan yang berkonsekuensi mengambil barangnya, seperti menyewa kambing untuk diperah susunya, kolam untuk diambil ikannya, lilin untuk dinyalakan dan kebun untuk dipetik buahnya. Semua itu tidak sah. Hal seperti ini termasuk fitnah yang sudah mewabah dan banyak terjadi,” (Lihat Bakri Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, [Singapura, Sulaiman Mar’i: tanpa catatan tahun], jilid III, halaman 114).

Umumnya praktik yang terjadi di lapangan adalah pembayaran ikan sekian kilogram oleh pemancing kepada pengelola kolam pemancingan. Ikan tersebut kemudian dilepas dikolam untuk dipancing di mana pemancing yang membeli ikan tersebut tidak sendirian karena ada pemancing lain di kolam tersebut.

Dengan praktik demikian, para pemancing itu tidak menentu dalam mendapatkan hasil tersebut. Bisa jadi mereka mendapatkan sedikit, mungkin juga mendapatkan ikan lebih banyak dari yang mereka beli di samping ketidakjelasan ikan milik siapa yang mereka dapatkan. Praktik seperti ini mengandung gharar (sejenis transaksi produk gelap sifat, rupa, jumlahnya). (Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz I, halaman 198 dan 202).

Adapun praktik lain yang terjadi di lapangan adalah pemancing mendatangi kolam pemancingan, lalu mengail ikan. Setelah selesai, hasil pancingannya ditimbang untuk mengetahui bobotnya dan kemudian dibayarkan sesuai dengan jumlah kilogram ikan tersebut. Praktik seperti ini dibolehkan karena tidak lain adalah praktik jual-beli.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Share:
Sabtu 15 Desember 2018 17:35 WIB
Hukum Membaca Diam-diam Chatting Hp dan Akun Suami-Istri
Hukum Membaca Diam-diam Chatting Hp dan Akun Suami-Istri
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, akun media sosial membuat seseorang berjejaring dengan banyak pihak termasuk lawan jenis dan mereka yang sudah berkeluarga. Seseorang dapat melakukan chatting (percakapan) dengan siapa pun. Sebagian orang merasa khawatir terhadap suami atau istrinya. Pertanyaan saya kemudian, apakah seseorang berhak memeriksa chatting pasangannya tanpa izin? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Suparni/Kalibata).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Upaya memeriksa diam-diam telepon genggam orang lain bisa diartikan sebagai tindakan untuk mencari tahu rahasia pribadi orang lain. Tindakan ini pada dasarnya merupakan praktik tercela yang dilarang sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Hujurat ayat 12.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan sangka (kecurigaan) karena sebagian dari sangka itu dosa. Jangan memata-matai orang lain…,” (Surat Al-Hujurat ayat 12).

Pada hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk menjauhi tindakan tercela, yaitu saling mengintai, mendengki, membenci, dan saling memutuskan ikatan persahabatan.

التَّحَسُّسُ هُوَ الاِسْتِمَاعُ إِلَى حَدِيثِ الْغَيْرِ، وَهُوَ مَنْهِيٌّ عَنْهُ لِقَوْل رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

Artinya, “Tahasus (mencari tahu dengan pancaindra) salah satunya mendengarkan percakapan orang lain. Tahasus dilarang dalam agama berdasarkan hadits Rasulullah SAW, ‘Jangan kalian memata-matai, jangan menyalahgunakan pancaindra (untuk mencari tahu orang), jangan saling mendengki, jangan saling membenci, jangan memutuskan tali ikatan. Jadilah hamba Allah yang bersaudara,’ (HR Muslim),” (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz V, halaman 292).

Praktik pengintaian, “nguping”, dan tindakan yang digambarkan oleh orang sekarang ini dengan istilah “kepo” sejatinya dilarang oleh agama Islam kecuali ada kepentingan tertentu, yaitu kepentingan perang, pengadilan, dan kepentingan lainnya.

Oleh karena itu, ulama menyatakan tiga hukum pengintaian (tajasus) dan “nguping”, yaitu, haram sebagaimana keterangan Al-Qur’an dan hadits, wajib dalam situasi perang, dan mubah demi kepentingan pengadilan, (Lihat Wizaratul Awqaf was Syu`unul Islamiyyah, Al-Mausu’atul Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah, [Kuwait, Darus Safwah: 1997 M/1417 H], cetakan pertama, juz X, halaman 162).

Lalu bagaimana dengan pengintaian seorang suami atau istri dengan cara membaca secara mencuri chatting atau percakapan hp milik pasangannya?

Pertanyaan ini tidak mudah dijawab dengan haram, wajib, atau mubah seperti keterangan di atas. Pertanyaan ini menurut kami adalah persoalan pelik. Tetapi kami akan menjawab secara umum bahwa perkawinan seharusnya dibangun di atas dasar keterbukaan, kepercayaan, dan penghormatan sehingga tidak ada kecurigaan yang berujung pengintaian.

التراضي أساس في عقد الزواج

Artinya, “Sikap saling ridha merupakan asas dalam ikatan perkawinan,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, (Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun), juz X, halaman 548).

Dengan prinsip ridha, keterbukaan, kepercayaan, dan penghormatan, suami maupun istri seyogianya tidak perlu melakukan pengintaian atau kepo dengan memeriksa hape pasangan masing-masing. Keduanya seyogianya saling menghormati privasi pasangannya.

Meski demikian, dalam realitasnya prinsip-prinsip itu sulit dipraktikkan oleh masing-masing pasangan suami-istri. Prinsip-prinsip itu semakin sulit dipraktikkan dalam situasi yang pasangannya kedapatan pernah melakukan sejenis pengkhiatan atas ikatan perkawinan atau ada indikasi-indikasi ke arah itu.

Kami menyarankan suami-istri untuk menghormati privasi pasangannya, dan menjaga kepercayaan yang diberikan oleh pasangan masing-masing agar tercipta suasana kehidupan rumah tangga penuh ketenteraman, tanpa hantu kecurigaan.

Demikian jawaban kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 14 Desember 2018 20:45 WIB
Hukum Minum Darah Ular untuk Pengobatan
Hukum Minum Darah Ular untuk Pengobatan
(Foto: @pinterest)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sejak dulu tersiar kabar bahwa darah ular berkhasiat untuk pelbagai macam penyakit berat. Oleh karena itu, darah ular kemudian diperjualbelikan di masyarakat. Bagaimana kita menyikapi masalah ini? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Deni/Surabaya).

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Al-Qur’an menyebutkan darah sebagai salah satu benda yang dilarang untuk dikonsumsi. Hal ini tercantum dalam Surat Al-Maidah ayat 3.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحْمُ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِ

Artinya, “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah…,” (Surat Al-Maidah ayat 3).

Selain termasuk kategori haram, darah juga termasuk benda najis yang mengharuskan kita untuk menyucikan anggota tubuh biasanya untuk kepentingan shalat atau benda-benda yang diperlukan darinya.

Lalu bagaimana dengan berobat dengan menggunakan darah ular?

Benda najis tentu juga haram dapat digunakan untuk kepentingan darurat pengobatan. Hal ini dimungkinkan karena manusia adalah makhluk mulia sehingga penyakit yang dideritanya harus dihilangkan sekali pun dengan benda najis sebagaimana riwayat perihal masyarakat Uraniyin di masa Rasulullah SAW.

أما حديث العرنيين وأمره عليه السلام لهم بشرب أبوال الإبل، فكان للتداوي، والتداوي بالنجس جائز عند فقد الطاهر الذي يقوم مقامه

Artinya, “Adapun hadits tentang masyarakat Uraniyin dan perintah Nabi Muhammad SAW terhadap mereka untuk meminum air kencing unta berkaitan dengan kepentingan pengobatan. Pengobatan dengan menggunakan benda najis diperbolehkan ketika tidak ada benda suci yang dapat menggantikannya,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, Beirut, Darul Fikr, cetakan kedua, 1985 M/1405, juz I, halaman 161).

Dari sini, kita dapat menarik simpulan bahwa pengobatan dengan darah ular bersifat jalan terakhir sebagai darurat karena tidak ada lagi obat alternatif selain darah ular tersebut. Darah ular dapat dijadikan obat bila terbukti dan teruji secara klinis mutakhir sebagai obat atas penyakit tersebut. Artinya, pertimbangan ilmu pengetahuan medis perlu menjadi pertimbangan utama dalam hal ini, bukan karena konon atau katanya.

Kalau hanya katanya, kami menyarankan agar sebaiknya menghindari darah ular sebagai obat karena keharamannya sudah jelas, sementara manfaatnya masih bersifat spekulasi. Dalam hal ini, kami sepenuhnya menaruh kepercayaan kepada dunia medis.

Demikian jawaban kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Jumat 14 Desember 2018 12:0 WIB
Hukum Shalat dengan Sarung atau Celana Sedikit Bolong
Hukum Shalat dengan Sarung atau Celana Sedikit Bolong
(Foto: @ctvnews.ca)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi Bahtsul Masail NU Online, sebelumnya saya ingin menerangkan bahwa lubang pada pakaian kadang tidak bisa dihindari karena beberapa sebab. Sementara pakaian berlubang ini dipakai di dalam shalat. Pertanyaannya, bagaimana keabsahan shalat dengan pakaian sedikit lubang pada bagian aurat? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Yahya Fadhilah/Bogor)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Pakaian tidak selamanya mulus seperti baru. Ada kalanya pakaian cacat berlubang karena terkena percikan api rokok atau koyak biasanya pada bagian lutut atau bagian–maaf–pantat karena aus.

Lalu bagaimana dengan pakaian sedikit berlubang yang digunakan untuk shalat?

Pakaian berkaitan erat dengan pembahasan penutupan aurat yang menjadi syarat sah shalat. Penutupan aurat menentukan keabsahan shalat itu sendiri. Penutupan aurat adalah syarat sah shalat karena ia merupakan ibadah mulia yang menghadapkan manusia dan Penciptanya.

Ulama Mazhab Syafi‘i menyebutkan ketentuan perihal penutup aurat. Begi mereka, penutup aurat adalah benda yang menghalangi warna kulit orang yang shalat, sekali pun berupa lumpur atau air keruh yang melekat di tubuh. Tentu saja benda penutup aurat itu harus suci.

Ulama Mazhab Maliki memberikan catatan bahwa jika warna kulit aurat tubuh orang yang shalat itu masih tampak, maka kondisi itu sama saja dengan kondisi tanpa penutup aurat. Tetapi bila hanya menggambarkan warna kulit aurat, maka hal ini terbilang makruh.

وقال الشافعية: شرط الساتر: ما يمنع لون البشرة، ولو ماء كدراً أو طيناً، لاخيمة ضيقة وظلمة، ويجب عندهم أن يكون الساتر طاهراً، وقال المالكية: إن ظهر ما تحته فهو كالعدم، وإن وصف فهو مكروه

Artinya, “Ulama Mazhab Syafi‘i mengatakan bahwa syarat penutup aurat adalah benda yang mencegah penampakan warna kulit sekali pun ia hanya air keruh atau tanah, bukan kemah yang sempit dan kegelapan. Penutup aurat itu, menurut mereka, harus suci. Sementara ulama Mazhab Maliki, kalau tetap muncul warna kulit di balik penutup itu maka ia sama saja dengan tanpa penutup. Tetapi jika hanya menggambarkan warna kulit, maka itu makruh,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 579).

Adapun ulama Mazhab Hanbali sepakat bahwa penutupan aurat merupakan syarat sah shalat. Tetapi penampakan sedikit aurat tidak membatalkan shalat dengan dasar praktik serupa oleh sahabat Amr bin Salamah riwayat Abu Dawud. Sementara ukuran terbuka sedikit atau banyak berpulang pada kelaziman di masyarakat.

وإن انكشف من العورة يسير، لم تبطل صلاته، لما رواه أبو داود عن عمرو ابن سلمة الذي كانت تنكشف عنه بردته لقصرها إذا سجد. وإن انكشف من العورة شيء كثير، تبطل صلاته. والمرجع في التفرقة بين اليسير والكثير إلى العرف والعادة.

Artinya, “Jika aurat seseorang sedikit terbuka, maka shalatnya tidak batal sebagaimana riwayat Abu Dawud dari Amr bin Salamah yang terbuka selendangnya karena terlalu pendek saat sujud. Tetapi jika auratnya besar telihat, maka shalatnya batal. Ketentuan kecil dan besar berpulang pada adat dan kelaziman di masyarakat,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 592).

Dari sini kita dapat menarik simpulan bahwa shalat dengan sarung, pakaian, atau celana sedikit berlubang pada bagian aurat tidak berpengaruh pada keabsahan shalat. Hal yang sama juga berlaku untuk shalat dengan pakaian sedikit koyak kecil pada bagian lutut yang masih tertutup oleh benang-benang pakaian yang tersisa. Apalagi kalau pakaian sedikit bolong pada bukan bagian aurat.

Kami menyarankan masyarakat menggunakan pakaian yang tidak berlubang meski hanya lubang kecil dalam ibadah shalat. Saran atas pakaian yang menutup rapat ini dimaksudkan agar menghilangkan kebimbangan seseorang atas keabsahan shalatnya karena auratnya tertutup rapat.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)