IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Makanan Favorit Rasulullah

Rabu 26 Desember 2018 13:0 WIB
Share:
Makanan Favorit Rasulullah
Rasulullah adalah manusia sama seperti yang lainnya, tapi bukan manusia biasa. Maksudnya, beliau adalah seorang Nabi dan Rasul Allah yang menerima wahyu. Beliau terjaga (ma’shum) dari melakukan perbuatan-perbuatan dosa, sementara manusia biasa tidak. 

Sementara persamaannya dengan manusia pada umumnya, Rasulullah juga berumah tangga, beristirahat, makan, dan minum. Dalam hal hidangan misalnya, Rasulullah memiliki makanan favorit sebagaimana manusia lainnya. Lalu apa saja makanan yang digemari Rasulullah? 

Kalau merujuk pada beberapa hadits, ada beberapa makanan atau hidangan yang disukai, bahkan sangat digemarinya. Pertama, tharid atau masakan kaldu dengan isian utamanya kacang chickepa (himmis). Boleh dikata, tharid merupakan hidangan paling favorit Rasulullah Sampai-sampai, Rasulullah ‘mengumpamakan’ keunggulan tharid –dengan makanan lainnya- sama seperti Fatimah –dengan perempuan lainnya.

“Sama seperti tharid yang lebih sedap ketimbang semua masakan, begitu pula Fatimah yang lebih hebat dibandingkan semua perempuan,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Bukhari. Hal ini juga disebutkan dalam buku Medieval Cuisine of the Islamic World: A Concise History with 174 Recipes (Lilia Zaouali, 2007).

Kedua, daging bagian kaki dan paha kambing. Rasulullah juga sangat menggemari daging kambing, khususnya bagian lengan atau kaki depan dan pahanya. Menurut hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Qadhi Iyadh, Rasulullah menyukai daging bagian kaki dan paha karena bagian itu aromanya yang khas, rasanya yang manis, dan jauh dari tempat berbahaya. Meski demikian, tidak diketahui lebih rinci bagaimana daging tersebut dimasak. Apakah disemur, digulai, dibakar, direndang, atau yang lainnya. 

Ada sebuah ‘cerita menarik’ tentang daging kambing dan Rasulullah. Merujuk buku Para Penentang Muhammad saw. (Misran dan Armansyah, 2018), suatu ketika Rasulullah pernah mendapatkan hadiah daging kambing panggang dari Zainab binti al-Harits, seorang Yahudi Khaibar. Rasulullah menerimanya dengan gembira. Alasannya, Zainab menegaskan bahwa itu adalah hadiah, bukan sedekah. Di samping itu, daging kambing panggang adalah hidangan favorit Rasulullah sehingga beliau menerimanya dengan senang hati. Namun ternyata, daging kambing panggang tersebut beracun. Rasulullah baru menyadari kalau hidangan itu mengandung racun setelah melihat kaki domba. Beliau langsung memuntahkan domba panggang tersebut.  

Ketiga, talbinah. Talbinah adalah sejenis sup yang terdiri dari lemak, gandum, madu, dan sayur hijau. Merujuk buku Sehat Ala Nabi: 365 Tips Sehat Sesuai Ajaran Rasulullah (Mohammad Ali Toha Assegaf, 2015), talbinah baik untuk untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mengembalikan keseimbangan tubuh yang terganggu,dan memberikan kekuatan karena mengandung energi yang tinggi.

Keempat, roti gandum. Dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah mengajak Jabir bin Abdullah ke rumah salah satu istrinya. Ketika mereka berdua sampai, istri Rasulullah mengeluarkan roti gandum. Rasulullah dan Jabir memakan roti gandum tersebut bersama dengan cuka. 

“Ini adalah makanan terbaik penduduk dunia dan penduduk akhirat, kata Rasulullah ketika diberi hidangan roti gandum sebagaimana hadits riwayat Ibnu Majah.

Itulah beberapa hidangan yang disukai Rasulullah. tentu masih banyak jenis makanan lainnya yang digemari Rasulullah. Kalau dari segi buah-buahan, ada kurma, anggur, semangka, delima, buah ara atau tin, dan melon. Sementara untuk minuman, Rasulullah suka susu, madu, jahe, dan air zamzam.

Meski demikian, Rasulullah tidak pernah ‘memuaskan diri’ dengan makanan-makanan favoritnya itu. Beliau makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Makan sekedarnya saja. Tidak lantas memenuhi perut dengan makanan yang disukainya. Rasulullah mengingatkan kepada umatnya agar menjaga isi perutnya: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara atau nafas. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Rabu 26 Desember 2018 19:0 WIB
Kisah Rasulullah, Tsauban, dan Turunnya QS An-Nisa 69
Kisah Rasulullah, Tsauban, dan Turunnya QS An-Nisa 69
Dialah Tsauban. Salah satu budak atau pelayan Rasulullah. Tsauban merupakan seorang penduduk Yaman yang menjadi tawanan ketika terjadi perang di zaman Jahiliyah. Rasulullah membelinya dan kemudian membebaskan. Tsauban tidak mau kembali ke Yaman, ia memilih untuk tinggal dan melayani Rasulullah. Iya, Rasulullah memang memiliki banyak budak, tapi di kemudian hari semuanya dibebaskan.  

Sama seperti budak atau pelayan Rasulullah –mungkin lebih, Tsauban sangat mencintai dan menyayangi majikannya itu. Bahkan, Tsauban tidak mau jauh atau berpisah dari Rasulullah. Ia selalu mengusahakan diri agar bisa selalu mendampingi Rasulullah. Kapan pun dan dimanapun. Di rumah maupun di perjalanan.

Jika Rasulullah ada tugas di luar. Tsauban begitu gelisah. Ia resah karena tidak bisa menatap wajah Rasulullah. Maka ketika Rasulullah kembali ke rumah, Tsauban langsung menatap muka majikannya itu. Ia gembira manakala dekat dengan Rasulullah. Dan dia sedih ketika Rasulullah tidak ada di dekatnya.

Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), Rasulullah mendapati Tsauban bersedih. Padahal pada saat itu Tsauban tidak sakit dan sedang bersama dengan majikannya, sumber kebahagiaannya. Rasulullan lantas bertanya kepada Tsauban perihal mengapa dia bersedih. 

“Kalau teringat akhirat, aku takut tak dapat melihatmu lagi. Sebab, kau akan diangkat ke surga tertinggi bersama para nabi. Lalu, mana tempatku dibandingkan tempatmu? Mana peringkatku dibandingkan peringkatmu?” jawab Tsauban.  

“Dan, jika aku tidak masuk surga, niscaya aku tidak dapat melihatmu lagi selamanya,” tambahnya.  

Begitu lah cinta Tsauban kepada Rasulullah, sangat besar. Hingga ia sampai kepikiran tentang kebersamaannya dengan Rasulullah di akhirat kelak. Apakah dirinya bisa bersama Rasulullah atau tidak.

Rasulullah terharu dengan jawaban Tsauban tersebut. beliau juga menjadi kasihan dengan pelayannya itu. Namun tak lama setelah itu turun wahyu kepada Rasulullah, yaitu Al-Qur’an Surat (QS) Al-An’am ayat 69. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa siapapun yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan bersama-sama dengan orang yang dianugerahi Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada’ dan para orang shaleh. 

Ayat tersebut seolah menjawab kesedihan Tsauban yang takut tidak bisa bertemu dengan Rasulullah, orang yang sangat dicintainya, di akhirat kelak. (A Muchlishon Rochmat)
Senin 24 Desember 2018 19:0 WIB
Mukhairiq, Seorang Yahudi yang Mewariskan Semua Hartanya untuk Rasulullah
Mukhairiq, Seorang Yahudi yang Mewariskan Semua Hartanya untuk Rasulullah
Rasulullah berkawan baik dengan Mukhairiq dari Kabilah Qainuqa’, seorang pendeta Yahudi yang alim dan kaya raya. Dia memiliki banyak perkebunan kurma yang terbentang luas di Madinah. Meski berbeda agama, Mukhairiq tidak segan-segan membantu dan menolong Rasulullah. Baik dalam hal moril atau pun materiil.

Bahkan, ia membela umat Islam ketika orang-orang Yahudi menentang dan melanggar Piagam Madinah. Sebuah perjanjian bersama lintas iman, lintas suku, dan lintas kelompok di Madinah. Ia berada di barisan Rasulullah ketika terjadi terjadi peperangan antara kelompok umat Islam dengan kelompok Yahudi, maupun dengan kafir Quraisy Makkah.

“Karena orang-orang Yahudi telah melanggar Piagam Madinah,” kata Mukhairiq ketika ditanya mengapa ia berperang bersama Rasulullah, sebagaimana dikutip dari buku Membela Kebebasan Beragama Buku 1 (Budhy Munawar-Rachman, 2011).

Mukhairiq memandang Piagam Madinah harus dipegang erat, karena itu adalah perjanjian bersama. Salah satu isi dari piagam tersebut adalah semua warga Madinah harus bersatu, saling mendukung, dan saling melindungi ketika ada serangan dari luar. Namun sekelompok Yahudi malah bersekutu dengan kafir Quraisy untuk menyerang Rasulullah dan umat Islam. Inilah yang membuat Mukhairiq mendukung Rasulullah dan melawan saudara Yahudinya sendiri. Ia tahu, dalam hal ini Rasulullah dan umat Islam adalah kubu yang benar.

Mukhairiq juga menolong Rasulullah dan pasukan umat Islam ketika Perang Uhud. Ia memutuskan untuk ikut berperang bersama Rasulullah dan umat Islam melawan kafir Quraisy. Tidak hanya itu, Mukhairiq juga menyerukan dan mengajak Yahudi Madinah untuk berperang bersama Rasulullah melawan kafir Quraisy. Yahudi Madinah menolak karena pada saat itu Hari Sabat, salah satu hari raya umat Yahudi.

“Tidak ada perayaan Hari Sabat bagi kalian!” kata Mukhairiq, sebagaimana yang terekam dalam kitab Sirah Nabawiyyah (Ibn Hisyam al-Mu’afiri,1994). 

Sebelum berangkat ke medan Perang Tabuk, Mukhairiq membuat sebuah pengumuman penting. Sebuah pengumuman yang menegaskan bahwa dirinya sangat mendukung sahabatnya, Rasulullah. Ia mengumumkan bahwa hartanya agar diberikan kepada Rasulullah manakala ia meninggal dalam Perang Tabuk. 

Benar saja, Mukhairiq meninggal setelah terkena luka parah dalam Perang Uhud. Semua hartanya pun diterima Rasulullah. Nantinya, harta pemberian Mukhairiq ini digunakan Rasulullah untuk membiayai umat Islam di Madinah. Baik untuk biaya perang maupun biaya kehidupan sehari-hari.

Pada saat mengetahui Mukhairiq meninggal, Rasulullah mengeluarkan sebuah komentar yang cukup menarik. Kata Rasulullah, Mukhairiq adalah sebaik-baik orang Yahudi (Mukhairiq khairul yahud).

Demikian kisah Rasulullah dengan Mukhairiq, sahabatnya yang Yahudi. Perbedaan keyakinan dan latar belakang tidak membuat mereka saling bermusuhan. Mereka tetap menghormati satu sama lain dan menjalin persahabatan, meski Mukhairiq tidak memeluk Islam hingga akhir hayatnya. (A Muchlishon Rochmat)
Senin 24 Desember 2018 7:30 WIB
Abdul Quddus, Pemuda Yahudi Pelayan Rasulullah
Abdul Quddus, Pemuda Yahudi Pelayan Rasulullah
Salah satu pelayan atau budak Rasulullah adalah Abdul Quddus. Dia adalah seorang pemuda Yahudi yang membantu Rasulullah dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Abdul Quddus bertugas untuk menyisir rambut Rasulullah. 

Posisi Abdul Quddus itu –sebagai tukang sisir Rasulullah- pernah dimanfaatkan oleh sekelompok Yahudi yang tidak senang dengan Rasulullah. Mereka meminta Abdul Quddus rambut Rasulullah yang rontok. Abdul Quddus yang saat itu masih muda tidak menaruh curiga. Ia berikan saja rambut Rasulullah yang rontok kepada mereka. Tanpa ada kecurigaan sedikitpun bahwa itu akan dibuat untuk mencelakai majikannya. 

Betul saja, rambut Rasulullah tersebut ternyata dijadikan sebagai perantara untuk menyantetnya. Adalah Labid bin al-A’sham yang melakukan itu. Namun sayang, usahanya gagal. Santet yang dikirimkannya tidak mempan karena Rasulullah dijaga langsung oleh Allah.       

Abdul Quddus begitu baik dan perhatian kepada Rasulullah. Ia sehari-harinya selalu melayani Rasulullah dalam menjalankan aktivitasnya. Perbedaan agama dan suku tidak menjadikan Abdul Quddus benci terhadap Rasulullah. Abdul Quddus memberikan pelayanan kepada Rasulullah dengan tulus dan ikhlas.

Begitu pun sebaliknya. Rasulullah sangat perhatian kepada pembantunya, termasuk kepada Abdul Quddus. Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazhah, 2018), Rasulullah meluangkan waktunya untuk membesuk Abdul Quddus ketika pembantunya itu jatuh sakit. 

Rasulullah duduk tepat di atas kepala Abdul Quddus yang terbaring lemas. Rasulullah kasihan dengan melihat kondisi Abdul Quddus karena pada saat itu pembantunya itu tengah sekarat. Beliau kemudian menyeru agar Abdul Quddus memeluk Islam. Abdul Quddus tidak langsung meng-iya-kan. Ia meminta izin kepada bapaknya yang saat itu juga berada dalam satu ruangan. 

“Silakan kamu mengikuti ajaran Abul Qasim, (Muhammad) (ayah rela kamu masuk Islam),” jawab ayah pemuda Yahudi itu, sebagaimana dalam hadits riwayat Bukhari. Maka Abdul Quddus akhirnya masuk Islam.    

Rasulullah yang mengajak Abdul Quddus tanpa paksaan itu gembira setelah Abdul memeluk Islam. Rasulullah berdoa agar Abdul Quddus terbebas dari siksa api neraka.

Demikian lah Rasulullah bersikap kepada para pembantu atau budaknya. Beliau tidak membeda-bedakan pembantu atau budaknya berdasarkan agama atau sukunya. Tidak pula memaksa pembantunya untuk masuk Islam. Melainkan Rasulullah hanya menawarkan kepada pembantunya yang non-Muslim untuk memeluk Islam. Beliau memperlakukan semua pembantunya dengan baik dan setara. Karena bagi Rasulullah, budak atau pembantu seperti saudara sendiri. Maka dari itu, Rasulullah memberi makan dan pakaian untuk para pembantunya seperti yang dia makan dan ia pakai. Tidak beda. Begitu pun dengan Abdul Quddus, pelayannya yang seorang Yahudi.

Sebetulnya pelayan atau budak Rasulullah ada banyak, tidak hanya Abdul Quddus. Namun semua budak atau pelayan Rasulullah itu dimerdekakan di kemudian hari. (A Muchlishon Rochmat)