IMG-LOGO
Hikmah
HAUL KE-9 GUS DUR

Pesan Terakhir Gus Dur

Ahad 30 Desember 2018 21:50 WIB
Share:
Pesan Terakhir Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid (Dok. istimewa)
Siang itu, di rumah sederhana penuh kehangatan dan keakraban, dua orang sahabat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) membincang segala seuatu dengan renyah penuh humor-humor segar.

Gus Dur yang ditemani istrinya Sinta Nuriyah duduk lesehan bahkan terkadang tiduran di rumah Gus Mus. Konon, seperti diriwayatkan oleh KH Husein Muhmmad Cirebon dalam Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus (2015), pertemuan kedua sahabat tersebut terjadi sekitar seminggu sebelum Gus Dur berpulang atau wafat.

Gus Dur memang kerap mampir di kediaman Gus Mus. Pertemuan terakhir dengan Gus Mus di Leteh, Rembang itu memang sedikit mengundang tanda tanya. Hal itu muncul mengingat Gus Dur masih dalam kondisi sakit. Bahkan, selama 10 hari, Gus Dur sulit makan.

Namun, di rumah Gus Mus, Gus Dur justru begitu semangat melahap makanan sederhana yang disediakan oleh Gus Mus dan keluarga. Hal ini membuat Sinta Nuriyah sedikit terkesiap karena selama hampir dua minggu Gus Dur sulit makan. 

Dalam momen berharga tersebut, Gus Mus mengungkapkan, seperti biasa Gus Dur datang ke rumahnya sekadar ingin bertemu, istirahat, dan lesehan di atas tikar sambil ngobrol ke sana kemari, kadang sambil tiduran.

Obrolan bareng Gus Mus hampir selesai. Walaupun Gus Dur mengatakan bahwa mampirnya dia hanya sebentar, tetapi tak terasa hampir dua jam berlalu dua sahabat itu bercengkerama. Sedang asyik-asyiknya ngobrol dan bercanda ria, tiba-tiba Gus Dur bilang, “Gus Mus, aku harus segera berangkat ke Tebuireng, aku dipanggil Si Mbah.”

Gus Mus paham betul apa yang dimaksud ‘Si Mbah’ oleh Gus Dur. Ia adalah Hadratussyekh Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur. Gus Dur kemudian bangkit dan mohon pamit kepada Gus Mus dan keluarganya untuk meneruskan perjalanan ke Jombang memenuhi panggilan kakeknya yang ‘dibisikkan’ kepadanya itu.

Jika Si Mbah sudah memanggil, Gus Dur akan segera datang, tanpa berbicara papun. Begitu pula jika ibunya memanggil. Di tengah perjalanan menuju Tebuireng, tetiba Gus Dur juga ingin menyambangi atau berziarah ke makam Mbah Wahab Chasbullah Tambakberas, guru pertama yang mengajari Gus Dur kebebasan berpikir.

Setelah itu, Gus Dur langsung menuju ke makam kakek, ayahnya dan anggota keluarga lainnya di Tebuireng. Gus Dur berjalan kaki menuju makam. Seperti biasa, Gus Dur membaca tahlil dan berdoa dengan khusyu beberapa saat. Konon diceritakan, Gus Dur tidak hanya sekadar berdoa, tetapi ia sedang berbicara dengan sang kakek.

Gus Dur menyimpan banyak pesan seperti mengapa harus berkunjung ke Gus Mus, tidak berkunjung ke sahabat yang lain?

Terkait pertanyaan ini, suatu hari KH Husein Muhammad Cirebon diajak makan oleh Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di rumah temannya di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Teman itu seorang produser film terkemuka di Indonesia.

Di tempat tersebut juga bergabung sejumlah tokoh seperti Djohan Efendi, mantan menteri sekretaris negara era Presiden Gus Dur dan Saparinah Sadli, guru besar Universitas Indonesia. 

Di tengah obrolan, Kiai Husein berkesempatan menanyakan tentang pertemuan terakhir Gus Dur dengan Gus Mus, seminggu sebelum kepulangannya.

Sinta Nuriyah menjawab, “Ya, seminggu sebelum Gus Dur pulang, kami mampir ke Gus Mus. Hubungan Gus Dur dan Gus Mus sangat dekat. Gus Dur seperti ingin pamit pulang. Di situ, Gus Dur pesan kepada Gus Mus, ‘Aku titip NU, aku titip NU’. Dan Gus Mus seperti kaget sekali mendengar ‘wasiat’ itu, tetapi tak bisa menolak, meski juga tak sanggup menjalankan amanat agung itu.” (Fathoni)
Share:
Kamis 27 Desember 2018 12:0 WIB
Rahasia Bacaan Gus Dur saat Ziarah Kubur
Rahasia Bacaan Gus Dur saat Ziarah Kubur
Gus Dur saat berziarah (Dok. Gusdurian)
Guru bangsa KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah sosok yang intens berziarah kubur. Bahkan setiap datang ke suatu tempat, yang pertama kali ia datangi adalah makam atau kuburan. Pernah suatu ketika ia melakukan kunjungan kenegaraan ke Australia dan langsung mencari makam orang pertama dalam lintas sejarah Suku Aborigin.

Makam-makam orang penting dan berjasa dari yang paling terkenal hingga yang tidak pernah dikenal masyarakat, pernah Gus Dur kunjungi. Bagi Gus Dur, interaksi orang yang masih hidup tidak hanya dengan orang-orang yang masih berada di atas bumi, tetapi juga manusia-manusia di bawah liang lahat yang telah dipanggil Sang Kuasa.

Berziarah ke makam orang-orang mulia bagi Gus Dur adalah sebuah keistimewaan spiritual. Di saat bertemu dan berkunjung dengan sebagian orang yang masih sarat dengan kepentingan duniawi, berkunjung ke makam bagi Gus Dur merupakan washilah untuk menemukan bongkahan solusi dari setiap persoalan, karena baginya orang yang sudah meninggal sudah tidak mempunyai kepentingan apapun.

Sekilas bisa dipahami bahwa ada interaksi metafisik antara Gus Dur dengan ahli kubur. Gus Dur memang disebut mampu berinteraksi langsung dengan sosok yang diziarahinya. Lalu, apa rahasia bacaan Gus Dur saat berziarah kubur?

Suatu ketika, KH Husein Muhammad Cirebon berkunjung ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya Jakarta. Ia bertemu dengan salah seorang sahabat karib Gus Dur, Imam Mudzakkir. Ia pernah mondok bersama Gus Dur ketika Lirap, Kebumen, Jawa Tengah dan di pesantren lain: Tebuireng, Tegalrejo, dan Krapyak.

Imam Mudzakkir yang juga sudah wafat pada 2017 lalu ini menceritakan kepada Kiai Husein bahwa apabila berkunjung atau berada di suatu daerah, Gus Dur selalu menyempatkan diri untuk berziarah ke kuburan para wali dan ulama setempat.

Diceritakan Imam bahwa Gus Dur duduk cukup lama di pusara yang ia ziarahi. Paling tidak selama satu jam hingga satu setengah jam. “Beliau membaca tahil lalu membaca sholawat tidak kurang dari 1.000 kali,” ungkap Imam Mudzakkir almarhum. (KH Husein Muhammad, Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus, 2015)

Dinyatakan oleh Imam, Gus Dur juga tidak pernah absen membaca shalawat setiap harinya. Setiap hari Gus Dur membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW sebanyak 1.000 kali. Bagi Gus Dur, shalawat merupakan jalan pembuka segala-galanya setiap seseorang melakukan kebaikan, termasuk ibadah.

Kebiasaannya berziarah kubur ke makam orang-orang mulia setempat merupakan upaya Gus Dur menjaga peradaban. Jasad seseorang boleh saja dikatakan telah tiada, tetapi pemikiran, teladan, dan jasa-jasanya penting untuk selalu diingat. Kearifan orang-orang penting di suatu daerah bisa saja hilang ketika masyarakat sekitar telah melupakan sosoknya sehingga ziarah sebagai pengingat mempunyai energi positif.

Ketika berkunjung ke Daerah Tuban, Jawa Timur, tentu saja Gus Dur tidak melewati untuk berziarah ke makam Mbah Bonang dan KH Abdullah Faqih Langitan. Namun, ada sebuah makam wali di daerah tersebut yang tidak banyak diketahui masyarakat, yakni makam Mbah Kerto.

Hal itu diceritakan oleh Muhammad AS Hikam dalam Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita (2013). Setelah Gus Dur mengunjungi makam Mbah Kerto, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya mengetahui salah seorang wali di Tuban tersebut. Sehingga kearifannya bisa digalih lebih mendalam sebagai teladan baik bagi generasi masa mendatang. (Fathoni)
Selasa 25 Desember 2018 13:50 WIB
Belajar Menertawakan Diri Sendiri ala Gus Dur
Belajar Menertawakan Diri Sendiri ala Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid (Dok. istimewa)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah tokoh yang paling diingat humor-humor cerdasnya, tentu saja selain jasanya yang luar biasa dan pemikirannya yang cemerlang. Membaca humor-humor Gus Dur tidak lain ialah bagaimana seseorang belajar menertawakan diri sendiri.

Di tengah persoalan yang banyak mendera bangsa, tidak sedikit yang mengatakan kenapa Gus Dur justru banyak melucu? Bagi sebagian orang, berhumor terkesan tidak serius, tetapi bagi Gus Dur humornya adalah keseriusannya. Sehingga persoalan serius kerap selesai dengan sendirinya lewat humor.

Seperti ketika Gus Dur dihadapkan dengan persoalan gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mengibarkan bintang kejora. Banyak yang mengecam bendera OPM tersebut. Namun, Gus Dur mengatakan kepada para ajudannya bahwa bendera-bendera tak ubahnya umbul-umbul. “Anggap saja itu umbul-umbul,” kata Gus Dur.

Saat menjabat sebagai Presiden, banyak juga yang menolak keputusan Gus Dur karena mengizinkan kegiatan Kongres Papua yang identik dengan gerakan-gerakan makar. Bagi Gus Dur, keinginan masyarakat Papua harus ditampung. Hal ini yang tidak banyak mendapat perhatian dari pemerintah.

Justru kegiatan tersebut bisa menjadi sarana atau wadah bagi pemerintah RI untuk menampung aspirasi masyarakat Papua, juga sebagai sarana memberikan penjelasan terhadap program-program pemerintah. Bagi masyarakat Papua, kehadiran negara penting. Sebab itu, langkah Gus Dur untuk mewujudkan kerinduan masyarakat Papua akan kehadiran negara.

Kilas humor-humor Gus Dur tak lekang di makan zaman karena sarat konteks. Bahkan masyarakat bisa belajar banyak dari humor-humornya. Misal ketika di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa terjadi konflik. Konflik ini seakan tak menemui titik ujung sehingga tidak sedikit menguras elemen-elemen yang ada di dalamnya.

Diceritakan oleh KH Maman Imanulhaq dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur (2010), cucuk KH Hasyim Asy’ari terseut tetap memperlihatkan optimisme tinggi kepada para kadernya. Mereka menyadari bahwa setiap konflik menyimpan banyak pendewasaan terhadap diri seseorang.

Gus Dur memandang seluruh masalah dengan optimisme. Menurutnya, masalah itu dibagi menjadi tiga; ada yang bisa diselesaikan dengan cepat, ada yang bisa diselesaikan tetapi lambat, dan ada yang tidak bisa diselesaikan. Sebab itu, serahkan semuanya kepada Allah, tawakaltu ‘alallah. 

Gus Dur pun menegaskan bahwa yang benara ialah penyelesaian masalah bukan pemecahan masalah. Karena kalau pemecahan, maka satu masalah bisa ‘pecah’ jadi beberapa masalah. Karenanya, kata Gus Dur, partai ini banyak dikatakan orang sebagai PKB, yaitu Partai Konflik Berkepanjangan.

Seketika, orang-orang di sekelilingnya tertawa mendengar plesetan kepanjangan tersebut. Mereka memang sedih mendengarnya, tetapi campur bahagia karena salah satu keistimewaan Gus Dur ialah mampu menertawakan kekurangannya sendiri. Sudahkah Anda menertawakan diri sendiri hari ini? (Fathoni)
Senin 24 Desember 2018 11:0 WIB
Renovasi Fondasi Ka’bah dan Kebesaran Nabi Menjaga Perasaan Non-Muslim
Renovasi Fondasi Ka’bah dan Kebesaran Nabi Menjaga Perasaan Non-Muslim
Ilustrasi (via kissclipart.com)
Suatu hari, ketika sedang bersanding dengan Sayyidah Aisyah radliyallahu ‘anha, Nabi Muhammad ﷺ berujar:

“Tidakkah kamu tahu wahai Aisyah, dulu kaummu itu (kaum kafir Quraisy) ketika membangun Ka’bah, mereka mengurangi luas bangunannya dan menggeser fondasinya dari yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim?” 

Demikian Nabi Muhammad bertanya. Tentu saja Aisyah heran, mestinya bukan perkara susah bagi Nabi untuk melakukan sesuatu atas bangunan Ka’bah. Beliau Nabi, pemimpin masyarakat, serta disegani orang-orang Quraisy di Makkah, dan kala itu Islam sudah menyebar pesat, mengapa perlu pertimbangan soal renovasi Ka’bah itu?

“Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak menggesernya saja ke posisi semula?” Demikianlah Aisyah akhirnya bertanya balik.

Nabi menjawab, “Ya, seandainya tidak memerhatikan keadaan masyarakatmu yang masih dibayangi ajaran-ajarannya sebelum masuk Islam (hidtsaanu qawmik bil kufri), juga adanya kaum kafir Quraisy yang sudah lama di sana, tentu telah kugeser fondasi itu.”

Kisah di atas diriwayatkan dalam Shahih al Bukhari dan Shahih Muslim dalam pembahasan perihal renovasi Ka’bah. Islam datang membawa banyak tatanan baru untuk masyarakat. Namun nilai yang sudah ada tentu bukan perkara mudah, termasuk juga merombak infrastruktur yang telah melekat dengan identitas suatu kaum.

Melalui kisah percakapan Nabi dan Aisyah di atas, bisa saja Rasulullah ﷺ menggunakan pengaruh dan kekuasaan beliau untuk memugar Ka’bah sebagaimana asal mulanya dibangun Nabi Ibrahim. Meskipun memahami pentingnya pengubahan itu, beliau tidak serta merta melakukannya. Konon Ka’bah pada masa Nabi itu dikurangi luasnya oleh masyarakat Quraisy sebelum datangnya Islam, karena kurangnya perhatian soal itu dan masih kuatnya budaya pagan.

Bagaimanapun, Nabi Muhammad adalah sosok welas asih. Imam an Nawawi menerangkan mengapa Rasulullah memilih untuk menahan ego beliau atas kebenaran sejarah, dengan mendahulukan kepentingan masyarakat secara luas.

وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ دَلِيلٌ لِقَوَاعِدَ مِنَ الْأَحْكَامِ مِنْهَا إِذَا تَعَارَضَتِ الْمَصَالِحُ أَوْ تَعَارَضَتْ مَصْلَحَةٌ وَمَفْسَدَةٌ وَتَعَذَّرَ الْجَمْعُ بَيْنَ فِعْلِ الْمَصْلَحَةِ وَتَرْكِ الْمَفْسَدَةِ بُدِئَ بِالْأَهَمِّ

Artinya: “Dalam hadits ini ada dalil kaidah hukum, di antaranya adalah ketika terdapat dua kebaikan yang bertentangan, atau ada pertentangan antara maslahat dan dampak buruk – namun susah untuk melakukan kebaikan dan menghindari keburukan secara bersamaan, maka hal yang lebih penting mesti didahulukan.

(Imam an Nawawi. Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Al Hajjaj. Beirut: Dar Ihya at Turats al ‘Arabi, juz 9 hal 90)

Rasulullah tahu bahwa mengembalikan fondasi bangunan Ka’bah sebagaimana didirikan Nabi Ibrahim adalah suatu kebaikan. Namun, ia akan mendatangkan masalah yang lebih besar, yaitu masyarakat Makkah yang baru saja masuk Islam akan merasa bahwa mengusik bangunan Kabah, yang sudah ada sejak dulu, adalah masalah besar. Nabi memahami persoalan ini.

Selain itu, dikhawatirkan akibat perombakan Ka’bah tadi, kelak masyarakat kafir Quraisy Makkah yang merasa terusik akan mengganggu kewajiban syariat kaum muslimin, seperti shalat, zakat dan haji. Bangunan Ka’bah yang sudah mereka rawat sejak lama di Makkah tentu memiliki makna tersendiri bagi mereka, dan itu tidak bisa ditawar.

Imam al Qasthalani menyebutkan dalam Irsyadus Sari li Syarh Shahih al Bukhari (Cet. Mesir, Mathba’ah Kubro Al Amiriyah, Juz 3 hal 146) bahwa kisah di atas menunjukkan agar seorang muslim mampu menimbang dampak buruk dari dua atau lebih permasalahan yang menimpanya, lantas dapat memprioritaskan pencegahan akan keburukan yang lebih besar. 

Dalam kasus kisah membangun Ka’bah di atas, Rasul menilai membangun Ka’bah bisa ditunda lebih dulu. Beliau lebih mengutamakan keimanan dan keamanan kalangan umat muslim baru, serta merawat kohesi sosial dengan kaum kafir Quraisy yang sudah memugar dan merawat Ka’bah sebelumnya. Dua alasan tersebut, demi kaum muallaf dan non-muslim, membuat Nabi memilih menahan diri dari perombakan Ka’bah, lantas mendahulukan kerukunan dan menghargai simbol masyarakat yang sudah ada sebelumnya.

Barangkali kisah ini relevan dengan kondisi masyarakat kita. Bukan semata karena memiliki kuasa, atau merasa memiliki argumen yang lebih benar, lantas mengabaikan kerukunan dan kedamaian yang ada. Bahkan termasuk dengan kalangan kaum non-Muslim. Kerukunan, tenggang rasa, dan kemanusiaan lebih penting dari mutlak-mutlakan membela kebenaran secara arogan. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)