IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Solusi Rasulullah untuk Menyelesaikan Persoalan Kemiskinan

Sabtu 5 Januari 2019 17:0 WIB
Share:
Solusi Rasulullah untuk Menyelesaikan Persoalan Kemiskinan
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kemiskinan,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Daud, An-Nasa’i, Ahmad, dan Al-Hakim.

Kemiskinan menjadi sebuah persoalan yang selalu ada di setiap era. Tentu banyak faktor yang menyebabkannya. Mulai dari sikap malas bekerja hingga ‘tidak mampu’ bekerja karena suatu hal tertentu seperti tidak memiliki keahlian, tidak punya daya, dan lain sebagainya. Bahkan, ada juga ‘kekuatan’ yang membuatnya menjadi miskin atau dimiskinkan secara struktural.

Begitu pun pada zaman Rasulullah. Ada sahabat atau orang-orang yang juga mengalami persoalan kemiskinan. Lalu bagaimana Rasulullah menyelesaikan persoalan kemiskinan yang mendera umatnya itu?

Merujuk buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011), setidaknya ada enam solusi praktis dan aplikatif yang ditawarkan Rasulullah untuk memberantas kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan bersama. 

Pertama, memotivasi seseorang untuk bekerja sesuai dengan keahlian dan kemampuannya. Rasulullah selalu memotivasi para sahabatnya yang terjebak dalam kemiskinan untuk selalu bekerja. Apapun itu pekerjaannya. Rasulullah sangat menghargainya, asal tidak meminta-minta. Rasulullah sendiri juga melakukan hal yang sama. Beliau menggembala kambing dan mendagangkan harta Sayyidah Khadijah untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.   

Kedua, mendorong proyek-proyek ekonomi diantara kaum Muslim. Apabila seseorang tidak memiliki modal awal, maka Rasulullah menganjurkan orang tersebut untuk bekerja sama dengan orang lain. Misalnya, jika seseorang tidak punya lahan, maka ia bisa menggarap lahan orang lain dengan sistem muzara'ah atau bagi hasil. Langkah ini telah dibuktikan oleh kaum Anshar dan Muhajirin. Dimana kaum Muhajirin yang datang ke Madinah dan tidak memiliki apa-apa menggarap lahan-lahan milik kaum Anshar. 

Ketiga, mengharamkan riba. Rasulullah sangat tegas melarang umat Islam menerapkan praktik riba. Mengapa? Karena praktik riba dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, merugikan masyarakat kecil, membuat masyarakat miskin menjadi semakin miskin, dan membuat yang kaya semakin kaya. Sehingga jika praktik riba diterapkan, maka kesenjangan sosial akan semakin menganga. 

Keempat, mengelola keuangan dengan baik. Suatu ketika ada seorang Anshar yang datang meminta-minta kepada Rasulullah. Rasulullah tidak memarahinya. Beliau bertanya perihal apa yang dimilikinya. Seorang Anshar menjawab bahwa dirinya hanya memiliki sepotong kain kasar dan sebuah gelas untuk minum. Rasulullah meminta dua barang itu diserahkan kepadanya.
Kemudian Rasulullah melelang dua barang miliki seorang Anshar tersebut. barang hasil lelangan itu laku dua dirham. Rasulullah lantas menyerahkan uang dua dirham itu kepada seorang Anshar. 

“Belikan lah yang satu dirham, makanan, lalu berikan kepada keluargamu. Lalu belikan lah satu dirham yang lain sebuah kapak, lalu bawakan kepadaku,” perintah Rasulullah.

Selang beberapa saat, seorang Anshar itu menemui Rasulullah dengan membawa sebuah kapak. Rasulullah lalu mengikatkan sebatang kayu pada kapak tersebut. Beliau langsung memerintahkan seorang Anshar tersebut untuk mencari kayu bakar dengan kapaknya itu dan kemudian menjualnya. Beberapa hari kemudian, seorang Anshar itu menemui Rasulullah sambil membawa uang 10 dirham. 

“Ini lebih baik untukmu dari pada engkau datang meminta-minta,” kata Rasulullah.

Kelima, memfungsikan orang-orang kaya. Di dalam Islam, ada zakat, infak, sedekah, dan lainnya. Itu merupakan ibadah yang bersifat sosial. Dimana orang-orang kaya dan memiliki kecukupan harta memberikan sebagian hartanya untuk saudara mereka yang miskin dan membutuhkan. Meski demikian, tidak semua orang bisa mendapatkan sedekah. Hanya orang-orang tertentu saja yang betul-betul miskin dan tidak mampu mencari kerja. 

“Tidak halal sedekah bagi orang yang kaya, dan tidak juga bagi orang yang mampu untuk bekerja mencari rezeki,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Daud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i.

Keenam, memanfaatkan APBN (baitul mal) dengan sebaik-baiknya. Uang negara yang dihimpun dari pajak bisa menjadi solusi untuk mengentaskan masyarakat dan umat dari masalah kemiskinan. Hal ini lah yang dilakukan Rasulullah terhadap ahli shuffah. Orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin yang tidak memiliki rumah. Mereka tinggal di emperan Masjid Nabawi. Rasulullah memberdayakan mereka dengan menggunakan simpanan umum harta negara (APBN). (A Muchlishon Rochmat) 
Share:
Sabtu 5 Januari 2019 6:0 WIB
Obrolan Kaisar Romawi dengan Abu Sufyan tentang Rasulullah
Obrolan Kaisar Romawi dengan Abu Sufyan tentang Rasulullah
Pada saat itu, Rasululah mengirimkan surat kepada penguasa Romawi Timur, Kaisar Romawi Timur Flavius Heraclius Augustus. Adalah Dihyah bin Khalifah al-Kalbi yang ditugaskan untuk mengantarkan surat itu. Inti dari surat Rasulullah tersebut adalah mengajak Kaisar Heraclius agar masuk Islam.  

Setelah menerima Dihyah bin Khalifah al-Kalbi, Kaisar Heraclius menjadi ‘penasaran’ dengan sosok Rasulullah. Ia kemudian menggelar sebuah majelis yang dihadiri para pembesar Romawi. Kaisar Heraclius juga mengundang Abu Sufyan bin Harb dan kafilah Quraisy yang saat itu sedang berdagang di Syam.  

Merujuk buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011) dan Sirah Nawabiyah (Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, 2012), dengan didampingi penerjemah Kaisar Heraclius mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Sufyan.

“Siapakah diantara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku Nabi ini,? Tanya Heraclius. 

“Aku. Aku lah yang paling dekat nasabnya,” jawab Abu Sufyan. Iya, Rasulullah masih berkerabat dengan Abu Sufyan. Beliau adalah anak dari paman Abu Sufyan. Kakek ketiganya bertemu dengan kakek Rasulullah, Abdi Manaf. Namun sayang, pada saat ini Abu Sufyan belum masuk Islam. Bahkan ia menjadi penentang dakwah Rasulullah. Ia baru masuk Islam pada tahun ke-8 Hijjriyah dan menjadi pejuang Islam. 

Kaisar Heraclius meminta Abu Sufyan untuk mendekat. Sebelum mengajukan beberapa pertanyaan tentang Rasulullah, Kaisar Heraclius sudah mewanti-wanti. Ia memerintahkan kepada penerjemahnya untuk membohongi Abu Sufyan jika tamunya itu berbohong. Tidak lain, ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang valid tentang sosok Rasulullah.

“Jika dia (Abu Sufyan) berbohong, maka bohongi pula dia,” tegas sang Kaisar kepada penerjemahnya.

Pertama-tama, Kaisar Heraclius menanyakan tentang nasab Rasulullah. Abu Sufyan menjawab bahwa Rasulullah memiliki nasab yang baik dan terpandang. Menurut Kaisar Heraclius, nasab para rasul sebelumnya juga terpandang.  

Kemudian Kaisar Heraclius bertanya perihal keberadaan seseorang sebelumnya yang berkata seperti yang dikatakan Rasulullah. Tidak ada orang yang berkata seperti Rasulullah sebelumnya, kata Abu Sufyan. Tanggapan Sang Kaisar, jika sebelumnya ada yang mengatakan perkataan sepertinya, maka ia (Rasulullah) hanya menjiplaknya.

“Apakah di antara bapak-bapaknya ada yang menjadi raja?” 

“Tidak ada,” jawab Abu Sufyan. Kata Sang Kaisar, Kalau seandainya ia keturunan seorang raja, maka ia hanya sedang menuntut kerajaan leluhurnya.

“Apakah pengikutnya berasal dari orang-orang terpandang atau orang-orang lemah?”

“Orang-orang yang lemah,” jawab Abu Sufyan. “Memang seperti itulah pengikut para rasul,” kata Sang Kaisar menanggapi. 

“Apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang?” 

“Bahkan bertambah terus,” kata Abu Sufyan. “Demikian juga dengan iman, sampai ia menjadi sempurna,” timpal Kaisar.

“Apakah ada orang yang keluar lagi dari agamanya setelah ia masuk agama tersebut karena marah kepadanya?”

“Tidak ada,” jawab Abu Sufyan singkat. Kata Kaisar, memang seperti itu lah karena iman sudah meresap ke dalam hati.

“Apakah kalian menuduhnya berbohong sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya?”

“Tidak,” jawab Abu Sufyan. Kata Kaisar Heraclius, Aku tahu tidak mungkin dia berdusta kepada manusia dan Allah.

“Apakah dia berkhianat?” cecar Kaisar Heraclius. 

“Selama kami bergaul, kami tidak pernah mendapatinya melakukan hal itu,” jawab Abu Sufyan. “Demikian juga para rasul, mereka tidak berkhianat,” respons Sang Kaisar.

Kaisar Heraclius lantas bertanya apakah kaumnya memeranginya. Kata Abu Sufyan, iya. Kaumnya memerangi dan memusuhinya. Tidak puas dengan itu, Kaisar Heraclius kemudian bertanya bagaimana cara Abu Sufyan dan kaumnya memeranginya.

“Peperangan antara kami dan dia silih berganti. Kadang kami yang menang, kadang dia yang menang,” jawab Abu Sufyan.
Lalu Kaisar Heraclius mengeluarkan pertanyaan pamungkasnya. “Apa yang dia perintahkan kepada kalian?”

“Dia berkata, ‘sembahlah Allah semata, jangan lah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tinggalkan apa yang dikatakan bapak-bapak kalian. Dia juga menyuruh kami untuk menunaikan shalat, membayar zakat, bersedekah, menjaga kehormatan diri, dan menjalin silaturahim,” jawab Abu Sufyan.

“Maka jika yang kau (Abu Sufyan) katakan itu benar, maka ia (Rasulullah) akan menguasai tempat kedua kakiku ini,” kata Sang Kaisar. 

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Kaisar Heraclius mengaku kalau Rasulullah akan keluar. Namun ia tidak menyangka kalau Rasulullah muncul dari bangsa Arab Makkah. 

“Seandainya aku tahu bahwa aku akan sampai kepada (masa)nya, pasti aku sangat ingin bertemu dengannya. Seandainya aku ada di hadapannya, pasti aku basuh kakinya,” kata penguasa Romawi Timur itu. (Muchlishon)
Rabu 2 Januari 2019 17:0 WIB
Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian II-Habis)
Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian II-Habis)
Kepergian Sayyidah Zainab membuat Abul Ash terpuruk. Abul Ash masih sangat menyayangi dan merindukan Sayyidah Zainab. Sembari terus mencari cara agar bisa bertemu dengan Sayyidah Zainab, Abul Ash tetap melakukan aktivitasnya, yaitu berdagang ke luar Makkah. Nasib buruk menimpa Abul Ash ketika kepergok pasukan umat Islam di tengah perjalanannya balik ke Makkah, usai berdagang di Syam. Semua barang dan hartanya diambil.

Abul Ash menjadi pilu. Jika ia pulang ke Makkah tanpa membawa harta hasil dagangan, maka investornya akan marah kepadanya. Lalu ia datang ke Madinah dengan sembunyi-sembunyi untuk meminta perlindungan kepada Sayyidah Zainab. Putri tertua Rasulullah itu pun mengabulkan permintaan Abul Ash. 

Rasulullah kemudian mengingatkan bahwa Abul Ash sudah tidak halal lagi bagi Sayyidah Zainab. Meski demikian, Rasulullah mempersilahkan Sayyidah Zainab untuk tetap menghormati Abul Ash. Keduanya masih saling mencintai. Rasulullah tahu akan hal itu. Oleh karenanya, beliau selalu berdoa agar Abul Ash mendapatkan hidayah. 

Sahabat Rasulullah yang mengambil harta dan barang segera mengembalikan kepada Abul Ash. Mereka juga menjamin keselamatan Abul Ash hingga tiba di Makkah. Abul Ash langsung menuju ke Ka’bah ketika sampai di Makkah. Ia menyerahkan semua hasil dagangannya kepada para investornya. Hal itu membuat mereka gembira. Namun, sesaat setelahnya mereka terperangah karena Abul Ash mengucapkan dua kalimat syahadat. Merujuk buku  Bilik-bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazah, 2018), rupanya kejadian di Madinah itu menjadi ‘wasilah’ Abul Ash memperoleh hidayah.  

Riwayat lain menyebutkan bawah Abul Ash berada di Habasyah. Saat itu, dia semakin benci dengan kemajuan yang diperoleh umat Islam. Akhirnya, ia meninggalkan Makkah dan menuju Habasyah. Di sana ia bertemu dengan Amr bin Umayah ad-Dhamri yang tengah menyampaikan surat Rasulullah untuk penguasa Habasyah saat itu, Negus. 

Mengetahui hal itu, Abul Ash meminta Negus agar menyerahkan utusan Rasulullah itu untuk dibunuhnya. Negus marah dan menolak permintaan Abul Ash. 

“Apakah wajar aku menyerahkan utusan seorang Nabi yang datang kepadanya malaikat yang pernah datang kepada Musa dan Isa?” kata Negus, sebagaimana dikutip dari buku  Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018).

Baca juga: Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian I)

Jawaban Negus ini lah yang  membuat Abul Ash terbuka hatinya. Abul Ash kemudian pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam. Di tengah perjalanan, Abul Ash bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah yang juga ingin bertemu dengan Rasulullah. Di hadapan Rasulullah, mula-mula ketiganya menyesali semua perbuatan yang pernah dilakukannya, yaitu memusuhi Rasulullah dan umat Islam. Kemudian Abul Ash, Khalid bin Walid, dan Utsman bin Thalhah menyatakan diri masuk Islam. 

“Keislaman menutupi dosa yang dilakukan sebelumnya,” kata Rasulullah.

Keislaman Abul Ash itu tentu saja membuat Sayyidah Zainab gembira. Rasulullah sadar bahwa keduanya masih saling mencintai. Maka kemudian, Rasulullah menyerahkan kembali Sayyidah Zainab kepada Abul Ash. Merujuk kitab Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, ada dua pendapat terkait dengan rujuknya Abul Ash dengan Sayyidah Zainab.  Pertama, Rasulullah mengembalikannya pada nikah yang pertama. Artinya, tidak ada akad nikah lagi. Kedua, rujuknya Sayyidah Zainab dengan Abul Ash disertai dengan ‘akad nikah baru’.

Abul Ash dan Sayyidah Zainab memiliki dua anak, yaitu Sayyidina Ali yang meninggal saat masih kecil dan Sayyidah Umamah yang dinikahi Sayyidina Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Sayyidah Fathimah az-Zahra al-Batul. 

Kebersamaan Abul Ash dan Sayyidah Zainab untuk yang kedua kalinya tidak berlangsung lama. Sayyidah Zainab wafat pada tahun ke-8 Hijriyah. Hal ini membuat Abul Ash mengalami kesedihan yang mendalam. Hingga tidak lama setelah Sayyidah Zainab wafat, Abul Ash menyusulnya istrinya ke haribaan Allah. (A Muchlishon Rochmat)
Rabu 2 Januari 2019 13:30 WIB
Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian I)
Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian I)
Dialah Amr bin Al-Ash bin Rabi’ atau biasa dikenal Abul Ash bin Rabi’. Suami dari putri tertua Rasulullah, Sayyidah Zainab. Abul Ash merupakan seorang bangsawan Quraish. Ia memiliki nasab dan status sosial yang baik dan terhormat. Sebetulnya, Abu Ash masih kerabat dengan Rasulullah. Dia adalah anak dari Halah binti Khuwailid, saudara perempuan dari istri Rasulullah, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid.

Abul Ash juga seorang dengan tampang yang rupawan dan harta yang bergelimangan. Dia ahli dalam dunia perdagangan. Ia berdagang ke luar Makkah pada musim dingin dan musim panas. Kafilahnya mencapai 200 orang dan 100 ekor unta. Semua dagangan yang dibawanya selalu habis terjual dan banyak laba yang didapatkannya. 

Abul Ash dan Sayyidah Zainab menikah sebelum Rasulullah diangkat menjadi seorang nabi dan rasul. Keduanya saling mencintai. Setelah Rasulullah menerima risalah kenabian, Sayyidah Zainab menyatakan diri untuk memeluk Islam. Sementara Abul Ash tidak. Merujuk buku Bilik-bilik Cinta Muhammad: Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazah, 2018), Abul Ash masih setia dengan agama lamanya, menyembah pagan. 

Meski demikian, kehidupan keduanya masih berjalan baik-baik saja karena pada saat itu belum ada larangan Muslim menikah dengan non-Muslim. Sayyidah Zainab selalu berdoa agar suaminya itu mendapatkan hidayah dari Allah untuk masuk Islam. Hidayah yang diiinginkan Sayyidah Zainab itu tak kunjung datang, butuh proses dan waktu yang panjang.

Sayyidah Zainab masih tinggal di Makkah ketika Rasulullah dan umat Islam hijrah ke Madinah. Dia masih menjaga dan merawat suaminya dengan penuh cinta. Begitu pun dengan Abul Ash. Bahkan, Abul Ash juga tidak pernah mengusik dan mengganggu keislaman istrinya. Dia baik-baik saja dengan hal itu.

Saat Perang Badar meletus, Abul Ash berada di barisan kafir Quraisy Makkah. Keadaan ini membuat Sayyidah Zainab dilema. Di satu sisi, ia mengkhawatirkan ayahandanya, Rasulullah. Di sisi lain, ia cemas apabila terjadi suatu hal yang buruk terhadap suaminya, Abul Ash.  

Singkat cerita, pasukan kafir Quraisy kalah dan Abul Ash menjadi salah satu tawanan perang umat Islam. Sebagaimana kebijakan yang diterapkan kepada para tawanan lainnya, Abu Ash akan dibebaskan manakala kerabatnya di Makkah memberikan uang tebusan. 

Kabar itu sampai di telinga Sayyidah Zainab. Seketika itu juga, Sayyidah Zainab mengutus saudara Abul Ash untuk berangkat ke Madinah –dengan membawa harta tebusan- untuk menjemput suaminya itu. Setelah sampai di Madinah, utusan Sayyidah Zainab itu langsung menemui Rasulullah dan menyerahkan harta tebusan dari Sayyidah Zainab.

Rasulullah langsung menitikan air mata ketika melihat harta tebusan itu. Bagaimana tidak, harta tebusan yang diberikan Sayyidah Zainab untuk membebaskan Abul Ash itu adalah kalung yang dulu dipakai  Sayyidah Khadijah. Kalung itu kemudian dihadiahkan Sayyidah Khadijah ketika Sayyidah Zainab menikah dengan Abul Ash. 

Baca juga:Kisah Rasulullah dengan Abul Ash, Menantunya yang Non-Muslim (Bagian II-Habis)

Setelah melihat kalung itu, Rasulullah teringat dengan kenangan-kenangannya bersama istri tercinta, Sayyidah Khadijah. Keadaan ini membuat Rasulullah sulit; tetap menerima harta tebusan atau mengembalikannya. Rasulullah sendiri condong untuk mengembalikan Abul Ash dan tebusan itu kepada Sayyidah Zainab. Akan tetapi, Rasulullah tidak semena-mena memutuskan hal itu. Ia kemudian bermusyawarah dengan para sahabatnya apakah menerima atau menolak harta tebusan untuk Abul Ash itu. 

Para sahabat yang mengerti keadaan Rasulullah berpendapat bahwa Abul Ash dibebaskan tanpa uang tebusan. Namun ada syarat, yaitu mengizinkan Sayyidah Zainab untuk hijrah ke Madinah. Abul Ash menyanggupi hal itu dengan berat hati karena dia masih sangat mencintai istrinya itu. 

Kejadian usai Perang Badar itu rupanya belum membuat Abul Ash mendapatkan hidayah. Setelah Abul Ash hidup beberapa hari di Makkah –usai ia dibebaskan Rasulullah- bersama Sayyidah Zainab, turun wahyu bahwa Muslim dilarang menikah dengan orang musyrik. Rasulullah pun meminta Abul Ash untuk menceraikan anaknya. 

Abul Ash juga menunaikan janjinya, yaitu membiarkan –bahkan mengantarkan- Sayyidah Zainab untuk berhijrah ke Madinah. Setelah persiapan keberangkatan selesai, Sayyidah Zainab yang ditemani adik iparnya, Kinanah bin Rabi’, berangkat ke Madinah dengan menaiki unta yang sudah dilengkapi dengan ‘haudaj’. Semacam kubah yang dirancang sedemikian rupa untuk melindungi dari sengatan matahari dan hawa panas. 

Namun sayang, ketika sampai di daerah yang bernama Dzy Thuwa mereka dicegat dan diganggu oleh seorang kafir Quraisy, Habbar bin al-Azwad bin al-Muthalib. Sebagaimana diceritakan buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Habbar menakut-nakuti Sayyidah Zainab dengan mengacung-ngacungkan panahnya. Kinanah bin Rabi’ yang ditugaskan untuk menemani dan menjaga Sayyidah menghunuskan anak panahnya. Siap untuk menyerang Habbar. 

Kejadian itu membuat Sayyidah Zainab terjatuh dari untanya sehingga membuatnya keguguran. Pada saat itu, Sayyidah Zainah tengah mengandung anak Abul Ash.  

Namun tiba-tiba Abu Sufyan datang. Ia berusaha untuk menengahi agar tidak terjadi pertumpahan darah. Abu Sufyan juga mengusulkan agar Sayyidah Zainah dan Kinanah putar balik ke Makkah dan pergi lagi ke Madinah pada malam hari agar tidak diketahui orang. Kinanah dan Sayyidah Zainab setuju dengan usul Abu Sufyan itu. Mereka mengadakan perjalanan ke Madinah lagi pada malam hari.

Sementara itu, Rasulullah mengutus seseorang dari Anshar dan Zaid bin Haritsah, untuk menjemput Sayyidah Zainab. Dalam buku Sirah Nabawiyah (Syekh Shafiyyurrahman al-Mubarakfuri, 2012), sebagaimana perintah Rasulullah mereka menunggu Sayyidah Zainab di perkampungan Ya’juj. Selang beberapa waktu, Sayyidah Zainab sampai di perkampungan Ya’juj dan utusan Rasulullah itu langsung membawanya ke Madinah. (A Muchlishon Rochmat)

Bersambung....