IMG-LOGO
Shalat

Cara Tobat Orang yang Meninggalkan Shalat

Ahad 6 Januari 2019 8:15 WIB
Share:
Cara Tobat Orang yang Meninggalkan Shalat
(Foto: @pixabay)
Tobat adalah hal yang wajib dilakukan bagi setiap orang Mukmin yang telah melakukan maksiat kepada Allah SWT. Tobat dilakukan tak lain sebagai syarat utama agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

ياأيها الذين آمَنُواْ توبوا إِلَى الله تَوْبَةً نَّصُوحاً عسى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu," (Surat At-Tahrim ayat 8).

Tobat wajib dilakukan dengan sesegera mungkin setelah seseorang melakukan maksiat, apapun jenis maksiat yang dilakukannya, dosa kecil dan dosa besar. Sebab jika tidak segera tobat, maka seseorang menganggap remeh dosa dari maksiat yang telah dilakukannya. 

Salah satu bentuk maksiat yang wajib untuk segera ditobati adalah meninggalkan salah satu shalat wajib lima waktu. Dengan meninggalkan shalat wajib dari waktu yang telah ditentukan dengan tanpa adanya uzur berarti ia dianggap melakukan dosa besar sebab meninggalkan shalat termasuk dalam kategori dosa besar seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami:

تنبيهات منها : عد ما ذكر من أن كلا من ترك الصلاة وتقديمها على وقتها وتأخيرها عنه بلا عذر كبيرة

Artinya, “Hal-hal yang perlu di ingat, di antaranya bahwa segala hal yang telah dijelaskan menyimpulkan sungguh setiap orang yang meninggalkan shalat atau mendahulukan shalat dari waktunya atau mengakhirkan shalat dari waktunya tanpa adanya uzur termasuk dosa besar,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Az-Zawajir an Iqtirafil Kaba’ir, halaman 355).

Berdasarkan referensi tersebut dapat dipahami bahwa meninggalkan shalat bukan persoalan sepele, sebab termasuk kategori dosa besar yang menyebabkan seseorang mendapatkan predikat fasiq. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan shalat secara sengaja hendaknya sesegera mungkin untuk bertobat atas dosa yang telah ia lakukan.

Cara bertobat bagi orang yang meninggalkan shalat adalah dengan cara memenuhi beberapa syarat tobat secara umum, yaitu segera mengqadha shalat yang pernah ia tinggalkan. Hal ini merupakan implementasi dari syarat tobat yang berupa “Menyudahi melakukan maksiat saat itu juga”, sebab orang yang meninggalkan shalat berarti ia terus menerus melakukan maksiat karena tidak melaksanakan perintah berupa mengqadha’ shalat yang ia tinggalkan sesegera mungkin.

Syarat selanjutnya adalah dengan wujud penyesalan atas dosa yang pernah ia lakukan, dalam hal ini adalah meninggalkan shalat secara sengaja. Penyesalan ini diwujudkan dengan memperbanyak membaca istighfar dengan mengharap semoga dosanya diampuni oleh Allah SWT.

Syarat terakhir yaitu ia bertekad tidak akan mengulang kembali dosa yang pernah ia lakukan, dalam hal ini adalah meninggalkan shalat secara sengaja. Dengan demikian ia tidak terjerumus kembali dalam keteledorannya berupa tidak melaksanakan perintah Allah SWT.

Dengan melaksanakan ketiga syarat ini dan menjalankannya secara teguh, berarti ia telah melaksanakan tobat atas shalat yang pernah ia tinggalkan. Syarat-syarat di atas tercantum dalam Kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah:

اعلم أن كلّ من ارتكب معصيةً لزمه المبادرةُ إلى التوبة منها، والتوبةُ من حقوق اللّه تعالى يُشترط فيها ثلاثة أشياء : أن يُقلع عن المعصية في الحال، وأن يندمَ على فعلها، وأن يَعزِمَ ألاّ يعود إليها والتوبةُ من حقوق الآدميين يُشترط فيها هذه الثلاثة، ورابع : وهو ردّ الظلامة إلى صاحبها، أو طلب عفوه عنها والإِبراء منها

Artinya, “Ketahuilah bahwa sungguh setiap orang yang melakukan maksiat wajib baginya untuk bergegas untuk bertobat. Bertobat pada hal yang berkaitan dengan Hak Allah disyaratkan tiga hal. Pertama, Menyudahi melakukan maksiat saat itu juga. Kedua, Merasa menyesal pernah melakukan maksiat. Ketiga, Bertekad untuk tidak mengulang kembali maksiat yang pernah dilakukannya. 

Sedangkan bertobat atas dosa yang berkaitan dengan hak orang lain disyaratkan tiga hal di atas dan satu hal lain yang menjadi syarat keempat yaitu mengembalikan kezaliman yang pernah dilakukannya  (pada orang lain) kepada pemiliknya atau meminta maaf atas kezaliman yang pernah dilakukannya dan meminta kebebasan tanggungan dari mengembalikan kezaliman yang pernah dilakukan olehnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawiyah, halaman 438).

Syarat-syarat yang dijelaskan dalam referensi tersebut tidak hanya terkhusus pada bentuk maksiat berupa meninggalkan shalat, tapi juga berlaku pada semua jenis maksiat secara umum. Dengan penambahan satu syarat lain, ketika maksiat yang dilakukan berkaitan dengan haqqul adami, seperti mencuri, merampas, membunuh, dan bentuk maksiat lain yang berkaitan dengan orang lain.

Semoga segala upaya tobat yang kita lakukan dapat diterima oleh Allah dan dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya. Amin. Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin
Tags:
Share:
Sabtu 5 Januari 2019 15:0 WIB
Saat Baru Ingat Niat Jamak Takhir setelah Masuk Shalat Kedua
Saat Baru Ingat Niat Jamak Takhir setelah Masuk Shalat Kedua
Saat bepergian, syariat memberikan dispensasi (rukhsah) bagi musafir dalam urusan shalat. Dalam jarak tempuh tertentu, agama memberikan rukhsah jamak dan qashar. Salah satu teori yang dikenal dalam rukhsah jamak adalah jamak takhir, yaitu mengumpulkan dua shalat di waktu shalat yang kedua. Semisal maghrib dilakukan di waktu Isya, zhuhur di waktu ashar.

Jamak takhir secara ketentuan lebih longgar dari jamak taqdim. Syarat yang harus terpenuhi dalam pelaksanaan jamak takhir ada dua. Pertama, niat jamak takhir di waktu shalat pertama. Kedua, masih dalam keadaan safar sampai sempurnanya shalat kedua.

Salah satu contoh niat jamak takhir sebagaimana diterangkan Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani adalah:

نويت تأخير الظهر إلى العصر لأجمع بينهما

“Aku niat mengakhirkan Zhuhur kepada Ashar untuk mengumpulkan keduanya.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah al-Saja, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hal. 189).

Dalam pelaksanaan niat jamak takhir, disyaratkan saat pelaksanaan niat takhir masih cukup untuk melaksanakan shalat pertama secara sempurna. Semisal niat saat jam 13.30 WIB, pada jam tersebut masih cukup melaksanakan shalat zhuhur. Tidak sah pelaksaaan jamak takhir bila secara sengaja niatnya di waktu shalat kedua atau di waktu shalat pertama namun tidak cukup untuk melaksanakan shalat pertama secara sempurna, semisal niat di penghujung waktu zhuhur saat waktu Ashar hanya berjarak 30 detik. Dalam titik ini, status shalat pertama qadha dan musafir berdosa dengan sebab kesengajaannya mengakhirkan shalat.

Persoalan muncul saat musafir lupa biat jamak takhir, ia baru ingat niat jamak takhir setelah masuk waktu shalat kedua. Apakah ia tetap diperbolehkan menjamak takhir?

Dalam persoalan ini, ulama sepakat musafir tersebut tidak berdosa. Ia dimaafkan karena lupanya. Namun mengenai keabsahan jamak takhirnya, ulama berbeda pendapat. Menurut al-Imam al-Ghazali, jamak takhirnya sah. Alasan beliau adalah, karena dengan lupanya, musafir tergolong orang yang diterima uzurnya. 

Sementara menurut Syekh Khatib al-Syarbini dan Syekh Muhammad al-Ramli, jamak takhirnya batal. Menurut beliau berdua, status shalat pertama adalah qadha, sebab tidak adanya niat takhir di waktu shalat pertama. Berpijak dari pendapat ini, dalam pelaksanaan shalatnya, shalat pertama tetap dikerjakan di waktu shalat kedua, namun dengan niat qadha, bukan niat jamak takhir.

Menurut penegasan Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab al-I’ab, disamakan dengan hukumnya orang yang lupa niat jamak takhir, yaitu orang yang bodoh terkait ketentuan niat jamak takhir, sebab persoalan niat jamak takhir ini tergolong hal yang samar bagi orang awam, sehingga termasuk kebodohan yang dimaafkan.

Penjelasan di atas terangkum dalam referensi dari kitab Hasyiyah al-Syarwani berikut ini:

قول المتن ( فيعصي إلخ ) وقول الغزالي لو نسي النية حتى خرج الوقت لم يعص وكان جامعا لأنه معذور صحيح في عدم عصيانه غير مسلم في عدم بطلان الجمع لفقد النية نهاية ومغني وفي الكردي عن الإيعاب يتجه أن الجاهل كالساهي لأن هذا مما يخفى اه

“Tentang ucapan kitab matan “maka bermaksiat dan seterusnya”. Adapun pendapat al-Imam al-Ghazali, bila lupa niat jamak takhir hingga keluar waktu shalat pertama, maka tidak bermaksiat dan sah jamak takhirnya, karena diterima uzurnya. Statemen ini benar berkaitan dengan ketidakberdosaannya, namun tidak dapat diterima dalam hal ketidakbatalan jamaknya, sebab ketiadaan niat. Ini keterangan dari kitab Nihayah dan Mughni. Dalam kitabnya Syekh al-Kurdi mengutip dari kitab al-I’ab, menjadi pendapat yang kuat bahwa orang yang bodoh tentang niat hukumnya seperti orang yang lupa, sebab persoalan ini termasuk perkara yang samar bagi orang awam.” (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 400).

Demikian pula referensi dari kitab Hasyiyah al-Tajrid Linaf’il ‘Abid, komentar atas kitab Fath al-Wahhab berikut ini:

ولو نسي النية حتى خرج الوقت فلا عصيان ولا جمع خلافا لما نقل عن الأحياء ا هـ ح ل

“Bila lupa niat jamak takhir hingga keluar waktu shalat pertama, maka tidak berdosa dan tidak sah jamak takhirnya, berbeda menurut pendapat yang dikutip dari kitab al-Ihya’.” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, al-Tajrid Linaf’il ‘Abid, Hasyiyah ‘ala Fath al-Wahhab, juz 1, hal. 369).

Demikian penjelasan mengenai lupa niat jamak takhir di waktu shalat pertama, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)

Jumat 4 Januari 2019 18:0 WIB
Hukum Mengulang Shalat karena Merasa Tak Khusyuk
Hukum Mengulang Shalat karena Merasa Tak Khusyuk
Ilustrasi (NU Online)
Khusyuk adalah salah satu hal yang sangat dianjurkan oleh syariat orang-orang mukmin dalam melaksanakan shalat. Allah SWT berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ, الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang mukmin. Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” (QS. Al-Mu’minun, Ayat 1-2)

Khusyuk sendiri dapat dilakukan dengan cara tidak memikirkan segala hal dalam shalat kecuali pada hal yang berhubungan dengan rukun atau kesunnahan yang saat itu sedang dilakukannya, seperti bacaan dan gerakan shalat. Dengan memikirkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan shalat yang sedang dilakukan maka seseorang sudah dianggap tidak khusyuk dalam shalatnya. 

Oleh mayoritas ulama anjuran khusyuk yang terdapat dalam dalil di atas dimasukkan dalam kategori hukum sunnah, bukan wajib. Sehingga ketika rukun-rukun dalam shalat sudah dilaksanakan dengan baik meski tanpa adanya kekhusyukan, maka shalatnya tetap dianggap sah dan tetap dapat menggugurkan kewajibannya.

Namun ada pula sebagian ulama yang berpandangan bahwa khusyuk dalam shalat merupakan salah satu syarat dalam keabsahan shalat, sehingga ketika seseorang kedapatan tidak khusyuk dalam shalatnya, maka shalat yang dilakukan dianggap tidak sah dan wajib untuk mengulang kembali shalatnya sampai bisa khusyuk. Pendapat ini salah satunya seperti yang diungkapkan oleh Imam al-Ghazali. 

Namun pendapat wajibnya khusyuk ini dipandang cukup berat untuk diamalkan karena khusyuk dalam shalat bukanlah hal yang mudah. Sehingga baiknya bagi kita untuk taqlid (mengikuti) pada ulama yang berpandangan bahwa khusyuk adalah hal yang sunnah, agar shalat kita tidak mudah distatuskan sebagai shalat yang tidak sah hanya karena ada bagian dalam shalat kita yang tidak dilakukan dengan khusyuk.

Gambaran tentang khusyuk salah satunya dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

وسن فيها خشوع بقلبه بأن لا يحضر فيه غير ما هو فيه وإن تعلق بالآخرة وبجوارحه بأن لا يعبث بأحدها. وذلك لثناء الله تعالى في كتابه العزيز على فاعليه بقوله: * (قد أفلح المؤمنون الذين هم في صلاتهم خاشعون) * ولانتفاء ثواب الصلاة بانتفائه، كما دلت عليه الاحاديث الصحيحة ولان لنا وجها اختاره جمع أنه شرط للصحة.

“Disunnahkan dalam shalat untuk khusyuk dengan hati. Dengan gambaran sesorang tidak menghadirkan dalam shalat selain sesuatu yang sedang dilakukannya, meskipun berhubungan dengan akhirat. Dan disunnahkan khusyuk dengan anggota tubuh. Dengan gambaran tidak bermain-main dengan salah satu bagian dari anggota tubuh. Kesunnahan ini dikarenakan pujian Allah SWT pada orang yang khusyuk dalam kitab-Nya, dengan firmannya “Sungguh beruntung orang-orang mukmin. Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya” dan dikarenakan sirnanya pahala shalat dengan tidak khusyuk, seperti halnya yang dijelaskan dalam beberapa hadis shahih. Dan juga dikarenakan adanya pandangan yang dipilih oleh golongan ulama bahwa sesungguhnya khusyuk ini adalah syarat sahnya shalat” (Syekh Zainuddin al-Maliabar, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 212)

Ketika berpijak pada pendapat mayoritas ulama bahwa khusyuk adalah kesunnahan shalat, maka ketika seseorang merasa bahwa shalatnya tidak khusyuk, tetap boleh baginya untuk mengulang kembali shalatnya, meskipun hal ini bukanlah sebuah kewajiban tapi hanya sebatas kesunnahan, seperti halnya sunnahnya mengulang kembali shalat fardhu secara umum. Sebab shalat yang dilakukan dengan tidak khusyuk tetap dihukumi sah sehingga tidak wajib untuk diulang kembali. Kekhusyukan adalah soal kualitas soal, bukan sah tidaknya shalat. 

Namun mengulang kembali shalat yang tidak khusyuk ini harus memenuhi beberapa syarat seperti halnya dalam mengulang shalat fardhu yang lain. Salah satu syarat tersebut adalah harus dilakukan dengan cara berjamaah, dilakukan saat waktu shalat masih berlangsung dan hanya dapat diulang satu kali saja. Sehingga mengulang shalat yang dipandang tidak khusyuk tidak boleh jika dilaksanakan sendirian atau di luar waktu shalat atau sampai mengulang shalat lebih dari satu kali.  Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khatib: 

قوله : (ويسن إعادة المكتوبة إلخ) حاصله أنه يشترط لصحة الإعادة الوقت ولو ركعة ، والجماعة من أولها إلى آخرها –إلى أن قال- وقال م ر : الجماعة في المعادة بمنزلة الطهارة لها ونية الفرضية ، وأن تكون الأولى صحيحة وإن لم تغنه عن القضاء ، وأن تكون مع من يرى جواز الإعادة أو ندبها ، فلو كان الإمام المعيد شافعيا والمأموم حنفي أو مالكي لا يرى جواز الإعادة لم تصح لأن المأموم يرى بطلان الصلاة فلا قدوة ، وأن تعاد مرة فقط .

“Disunnahkan mengulangi shalat fardhu. Kesimpulannya bahwa sesungguhnya disyaratkan dalam sahnya mengulangi shalat fardhu beberapa syarat. Pertama, dilakukan pada saat waktu shalat tersebut, meskipun hanya menemui satu rakaat. Kedua, dilakukan dengan cara berjamaah mulai awal shalat sampai akhir shalat. Imam Ramli berkata, 'Jamaah dalam shalat mu’adah (shalat yang diulang kembali) menempati posisi bersuci dan niat fardhu dalam shalat'. Ketiga, shalat yang pertama harus sah meskipun tidak mencukupi untuk qadha’. Keempat, dilaksanakan bersama orang yang berpandangan bolehnya mengulangi shalat atau sunnahnya mengulangi shalat. Jika imam yang mengulangi shalat bermazhab syafi’I, sedangkan makmumnya bermazhab Hanafi atau maliki yang tidak berpandangan bolehnya mengulang kembali shalat fardhu maka shalat yang dilakukan imam tersebut tidak sah, karena makmum berpandangan batalnya shalatnya (imam) maka tidak boleh untuk diikuti. Kelima, dilakukan hanya satu kali saja. (Syekh Sulaiman al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khatib, juz 5, hal. 78)

Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa mengulang kembali shalat karena merasa tidak khusyuk adalah hal yang disunnahkan menurut mayoritas ulama dan pelaksaannya harus memenuhi syarat-syarat yang telah dijelaskan di atas. Namun menurut ulama yang berpandangan bahwa khusyuk merupakan syarat sah shalat, maka mengulang kembali shalat karena merasa tidak khusyuk adalah suatu kewajiban. Kedua pendapat ini sama-sama dapat diikuti dan dijadikan pijakan, tinggal pendapat mana yang sesuai dengan kecenderungan dan keyakinan kita masing-masing.  Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Jumat 4 Januari 2019 11:0 WIB
Meninggalkan Shalat karena Pingsan, Tetap Wajib Qadha?
Meninggalkan Shalat karena Pingsan, Tetap Wajib Qadha?
Ilustrasi (via mabna.com)
Salah satu syarat wajibnya shalat bagi seseorang adalah status mukallaf, yakni telah beranjak baligh dan berakal. Sehingga shalat masih belum diwajibkan bagi orang yang belum baligh, seperti bagi anak kecil, dan shalat menjadi tidak wajib lagi bagi orang yang tidak memiliki akal, seperti bagi orang gila. Hal ini berdasarkan hadits:

رفع القلم عن ثلاثة عن النائم حتى يستيقظ وعن الصبي حتى يحتلم وعن المجنون حتى يعقل

“Diangkat pena (Tidak dikenakan kewajiban) pada tiga orang yaitu orang yang tidur sampai ia bangun, anak kecil sampai ia baligh dan orang gila sampai ia berakal” (HR. Baihaqi)

Sedangkan orang yang pingsan berada dalam posisi di tengah-tengah antara orang yang gila dan orang yang tidur. Hal ini seperti yang di ilustrasikan oleh Imam al-Ghazali:

 وَقَالَ الْغَزَالِيُّ الْجُنُونُ يُزِيلُهُ وَالإِغْمَاءُ يَغْمُرُهُ وَالنَّوْمُ يَسْتُرُهُ

“Imam al-Ghazali berkata: ‘Gila dapat menghilangkan akal, pingsan dapat menenggelamkan akal, dan tidur dapat menutup akal’.”

Sehingga dalam perincian hukum pada beberapa permasalahan fiqih, orang yang pingsan cenderung berada dalam penempatan hukum yang berbeda-beda. Adakalanya sama dengan orang yang tidur dan juga adakalanya sama dengan orang yang gila. Misalnya, dalam permasalahan kewajiban mengqadha shalat, orang yang pingsan memiliki hukum yang sama dengan orang yang gila dalam hal tidak wajibnya mengqadha shalat ketika memang masa pingsan atau masa gila berlangsung lama, mulai awal masuknya waktu sampai habisnya waktu shalat. 

Ketentuan di atas seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Asybah wa an-Nadha’ir:

وَاعْلَمْ أَنَّ الثَّلاثَةَ قَدْ يَشْتَرِكُونَ فِي أَحْكَامٍ وَقَدْ يَنْفَرِدُ النَّائِمُ عَنْ الْمَجْنُونِ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ تَارَةً يَلْحَقُ بِالنَّائِمِ وَتَارَةً يَلْحَقُ بِالْمَجْنُونِ وَبَيَانُ ذَلِكَ بِفُرُوعٍ الأَوَّلُ الْحَدَثُ يَشْتَرِكُ فِيهِ الثَّلاثَةُ الثَّانِي اسْتِحْبَابُ الْغُسْلِ عِنْدَ الإِفَاقَةِ لِلْمَجْنُونِ وَمِثْلُهُ الْمُغْمَى عَلَيْهِ الثَّالِثُ قَضَاءُ الصَّلاةِ إذَا اسْتَغْرَقَ ذَلِكَ الْوَقْتَ يَجِبُ عَلَى النَّائِمِ دُونَ الْمَجْنُونِ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ كَالْمَجْنُونِ اه

“Ketahuilah bahwa tiga hal ini (gila, pingsan, tidur) terkadang sama dalam beberapa hukum, dan terkadang orang yang tidur memiliki hukum tersendiri yang berbeda dari orang yang gila dan pingsan. Orang yang pingsan terkadang di satu ssisi sama dengan orang yang tidur dan di sisi yang lain sama dengan orang gila. Penjelasan hal tersebut terdapat dalam beberapa cabang-cabang fiqih. Pertama, hilangnya hadats kecil berlaku bagi tiga orang tersebut (tidur, pingsan, dan gila). Kedua, sunnahnya melaksanakan mandi bagi orang yang baru sadar dari sifat gila dan pingsan (tidak berlaku bagi orang yang baru bangun tidur). Ketiga, mengqadha shalat ketika waktu dihabiskan dengan tidur adalah hal yang wajib, berbeda halnya bagi orang yang menghabiskan waktu shalat (tidak menemui waktu shalat) karena gila, sedangkan orang yang pingsan dalam permasalahan ini sama dengan orang yang gila (dalam hal tidak wajib qadha). (Syekh Jalaluddin As-Suyuthi, al-Asybah wa an-Nadhair, hal. 213) 

Berbeda halnya ketika orang yang pingsan masih sempat menemui waktu shalat, dalam keadaan demikian ia tetap wajib melaksanakan shalat yang tertunda karena faktor pingsan. Namun kewajiban ini dibatasi dengan ketentuan ketika memang waktu tersadar yang dialami oleh orang yang pingsan ini masih mencukupi untuk melakukan shalatsecara sempurna. 

Sedangkan ketika masa tersadar yang dialami oleh seseorang sebelum ia pingsan tidak cukup untuk dibuat melakukan shalat secara sempurna, seperti hanya tersadar dalam waktu  satu menit setelah masuknya waktu shalat, dan jelas-jelas waktu satu menit tidaklah cukup untuk digunakan pelaksanaan waktu shalat sampai selesai, maka dalam keadaan demikian ia tetap tidak diwajibkan untuk mengqadha shalatnya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Sullam at-Taufiq dan syarahnya, kitab Is’ad ar-Rafiq:

ــ )فَإِنْ طَرَأَ مَانِعٌ كَحَيْضٍ( أَوْجُنُوْنٍ أَوْإِغْمَاءٍ وَكَانَ طُرُوُّهُ )بَعْدَ مَا مَضَى مِنْ أَوَّلِ وَقْتِهَا مَا يَسَعُهَا) أَيْ يَسَعُ أَرْكَانَهَا فَقَطْ بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ يُمْكِنُهُ تَقْدِيْمُ الطُّهْرِ عَلَى الْوَقْتِ كَسَلِيمٍ غَيْرَ مُتَيَمِّمٍ وَبَعْدَ أَنْ يَمْضِيَ مِنْهُ مَا يَسَعُهَا (وَطُهْرَهَا) بِالنِّسْبَةِ لِمَنْ لاَيُمْكِنُهُ تَقْدِيْمُهُ (لِنَحْوِ سَلِسٍ لَزِمَهُ( بَعْدَ زَوَالِ الْمَانِعِ (قَضَاؤُهَا) أَيْ قَضَاءُ صَلاَةِ ذَلِكَ الْوَقْتِ ِلإِدْرَاكِهِ مِنْ وَقْتِهَا مَا يُمْكِنُهُ فِعْلُهَا فِيْهِ فَلاَ يَسْقُطُ بِمَا طَرَأَ 

“Jika perkara yang mencegah melakukan shalat ini datang, seperti haid, gila, pingsan, dan hal tersebut terjadi setelah masa yang cukup untuk melakukan shalat bagi orang yang dapat mendahulukan bersuci dari masuknya waktu, seperti orang yang selamat (dari hadats yang terus-menerus) yang tidak bersuci dengan tayammum. Atau udzur tadi datang setelah lewatnya waktu yang cukup untuk bersuci dan melakukan shalat bagi orang yang tidak dapat mendahulukan bersuci dari masuknya waktu, seperti karena faktor terkena tsalis (buang air terus-menerus) maka wajib baginya untuk mengqadha shalat pada waktu itu sebab ia menemui waktu (wajibnya) shalat pada masa yang mungkin untuk melakukan shalat, maka kewajiban shalat tidak menjadi gugur sebab udzur yang baru datang” (Syekh Muhammad bin Salim, Is’ad ar-Rafiq, juz 1, hal. 72)

Baca juga:
Baru Dapat Satu Rakaat, Tiba-tiba Masuk Waktu Shalat Lain, Bagaimana?
Cara Mengqadha Shalat yang Terlewat
Perincian hukum di atas berlaku bagi seseorang yang mendapati waktu shalat sebelum mengalami pingsan. Saat orang yang pingsan itu siuman maka ia menjadi wajib melaksanakan shalat yang ditinggalkan pada saat itu juga dan wajib pula baginya untuk mengqadha shalat sebelumnya ketika memang shalat tersebut dapat dijamak. Misalnya seseorang yang tersadar dari pingsannya pada saat waktu ashar, maka selain ia wajib melaksanakan shalat ashar, ia juga wajib melaksanakan shalat dzuhur, sebab kedua shalat ini dapat dijamak. 

Berbeda halnya ketika seseorang tersadar pada waktu subuh atau maghrib, maka ia hanya wajib melaksanakan shalat itu saja, tanpa wajib mengqadha shalat sebelumnya (isya' atau ashar)—karena  kedua shalat ini tidak dapat dijamak dengan shalat sebelumnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa orang yang pingsan tidak wajib mengqadha shalatnya ketika masa pingsan yang dialaminya sampai menghabiskan waktu shalat, seperti pingsan sebelum masuknya waktu shalat dan tersadar ketika waktu shalat telah habis. Sedangkan ketika ia menemui waktu shalat sebelum pingsan, maka wajib baginya untuk  mengqadha shalat tersebut ketika telah tersadar. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)