IMG-LOGO
Shalat

Posisi Shaf Anak Kecil dalam Shalat Berjamaah

Jumat 11 Januari 2019 15:0 WIB
Share:
Posisi Shaf Anak Kecil dalam Shalat Berjamaah
Ilustrasi (deshebideshe.com)
Dalam menggapai kesempurnaan, pelaksanaan shalat berjamaah harus sesuai dengan berbagai ketentuan yang telah ditetapkan oleh syara’. Sebab, jika terdapat salah satu hal yang dimakruhkan dalam shalat berjamaah, maka akan berpengaruh terhadap fadhilah (keutamaan) shalat berjamaah.

Salah satu ketentuan yang harus diperhatikan dalam shalat berjamaah adalah tentang pengaturan shaf anak kecil dalam shalat berjamaah. Sebab jika anjuran ini tidak diperhatikan maka akan berakibat pada hilangnya fadhilah shaf pada shalat jamaah, bahkan menurut sebagian pendapat fadhilah shalat berjamaah menjadi hilang.

Sebelum menjelaskan tentang posisi shaf anak kecil dalam shalat berjamaah, patut diketahui bahwa anjuran syara’ dalam hal penempatan para makmum secara umum dalam shalat berjamaah adalah dengan cara menempatkan makmum laki-laki yang dewasa (sudah baligh) pada barisan paling depan (shaf awal) lalu ketika shaf awal tidak cukup maka dilanjutkan pada shaf selanjutnya, lalu di belakang barisan laki-laki dewasa ditempati oleh anak kecil laki-laki yang belum baligh, lalu shaf selanjutnya ditempati oleh khuntsa (orang berkelamin ganda), lalu shaf selanjutnya ditempati oleh para wanita. Ketentuan seperti inilah yang dianjurkan oleh syara’ agar pelaksanaan shalat berjamaah menjadi sempurna. 

Berdasarkan ketentuan di atas, sebaiknya anak kecil tidak menempati shaf-shaf awal selama masih ada laki-laki dewasa yang akan menempatinya. Karena tempat shaf bagi mereka adalah di belakang laki-laki dewasa. Barulah ketika shaf awal tidak penuh, anak kecil boleh untuk menempati shaf-shaf awal yang sejajar dengan laki-laki yang dewasa dalam rangka menyempurnakan shaf. 

Ketentuan tidak bolehnya anak kecil menempati shaf paling depan dalam penjelasan di atas mengecualikan ketika anak kecil memang datang terlebih dahulu dibandingkan dengan orang-orang yang telah baligh, maka dalam hal ini anak kecil diperkenankan untuk menempati shaf depan, dan tidak perlu disingkirkan pada shaf di belakangnya, sebab mereka masih dianggap satu jenis dengan laki-laki yang telah baligh. ketentuan di atas tercantum dalam kitab Mauhibah dzi al-Fadhal:

ـ (ويقف) ندبا فيما إذا تعددت أصناف المأمومين (خلفه الرجال) صفا (ثم) بعد الرجال إن كمل صفهم (الصبيان) صفا ثانيا وان تميزوا عن البالغين بعلم ونحوه هذا (إن لم يسبقوا) أي الصبيان (إلى الصف الأول فان سبقوا) إليه (فهم أحق به) من الرجال فلا ينحون عنه لهم لأنهم من الجنس بخلاف الخناثى والنساء ثم بعد الصبيان وان لم يكمل صفهم الخناثى 

“Lelaki (dewasa) disunnahkan untuk berdiri di shaf belakang imam (shaf pertama) ketika banyak makmum yang ikut berjamaah. Lalu setelah shaf lelaki penuh maka selanjutnya shaf yang di isi oleh anak-anak kecil. Termasuk dari anak kecil ini adalah anak (yang belum baligh) yang dapat dibedakan dari lelaki yang telah baligh dengan cara diketahui atau yang lainnya. Ketentuan ini ketika mereka (anak kecil) tidak mendahului mendapatkan shaf awal. Jika mereka mendahului pada shaf awal (dari orang baligh) maka mereka lebih berhak untuk menempati shaf awal dari lelaki yang telah baligh. Maka mereka tidak boleh diusir dari shaf awal karena mereka masih satu jenis (laki-laki). Berbeda halnya bagi khuntsa (orang yang berkelamin ganda) atau perempuan.” 

ـ (ثم بعدهم وان لم يكمل صفهم النساء) للخبر الصحيح ليلينى منكم أولوا الاحلام والنهى اى البالغون العاقلون ثم الذين يلونهم ثلاثا ومتى خولفا لترتيب المذكور كره وكذا كل مندوب يتعلق بالموقف فإنه يكره مخالفته وتفوت به فضيلة الجماعة كما قدمته فى كثير من ذلك

“Lalu yang menempati shaf dibelakang anak kecil laki-laki, meskipun shaf mereka tidak penuh, adalah khuntsa, lalu setelah khuntsa adalah orang perempuan, mekipun shafnya khuntsa tidak penuh. Hal ini berdasarkan hadis shahih “hendaknya mengiring-ngiringi barisan kalian (imam) orang-orang yang telah baligh, lalu setelah itu orang-orang yang mengiringi kalian” (kata-kata ini diucapkan tiga kali oleh Rasulullah). Ketika ketentuan tertibnya shaf di atas dilanggar maka hukumnya makruh. Begitu juga kemakruhan ini juga berlaku pada melanggar segala kesunnahan yang berhubungan dengan tempat berdiri. Kemakruhan ini dapat menghilangkan fadhilah jama’ah, seperti yang telah saya (Mushannif) jelaskan dalam berbagai keterangan yang berkaitan dengan hal ini.” (Syekh Mahfudz at-Turmusi, Mauhibah dzi al-Fadhal Hasyiyah at-Turmusi, Juz 3, Hal. 59-62)

Maksud dari “anak kecil” dalam pembahasan shaf tersebut bermakna umum, sehingga mencakup seluruh anak yang masih belum baligh, baik itu sudah tamyiz (bisa membedakan hal yang baik dan buruk bagi dirinya) ataupun belum tamyiz (belum bisa membedakan hal yang baik dan buruk bagi dirinya). 

Namun ketentuan penempatan shaf di atas berubah ketika keadaan anak kecil sangat agresif dan hanya dapat shalat dengan tenang ketika bersanding dengan orang tuanya atau orang lain yang ditakutinya. Yakni, sekiranya anak kecil itu shalat berada jauh dari pengawasan mereka maka ia akan berpotensi ramai sendiri atau mengganggu (tasywis) terhadap jamaah lain. Dalam keadaan demikian sebaiknya ia ditempatkan di samping orang tuanya atau orang yang ditakutinya. 

Pengecualian lain juga berlaku ketika keadaan anak kecil masih belum tamyiz dan butuh pendampingan, seperti anak yang masih berumur sekitar dua atau tiga tahun yang masih belum berani jauh dari jangkauan orang tuanya. Hal yang paling maslahat dalam hal ini adalah menyandingkan anak kecil tersebut dengan orang tua atau orang lain yang biasa menjadi tumpuannya, agar anak kecil tidak merasa khawatir ketika jauh dari orang tuanya. Lebih maslahat lagi ketika orang tua dari dua anak kecil dari kategori di atas agar mengalah untuk menempati posisi shaf di belakang laki-aki dewasa, dengan begitu ia dapat mengontrol anaknya sekaligus menjalankan anjuran penempatan shaf bagi anak kecil secara benar. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa posisi shaf yang benar bagi anak kecil adalah berada di belakang laki-laki dewasa, sekiranya laki-laki dewasa diprioritaskan agar menempati shaf yang berada di depan dan shaf-shaf yang mengiringinya. Baru setelah itu anak kecil ditempatkan pada shaf di belakangnya atau sejajar dengan shaf laki-laki dewasa ketika memang isi shaf tidak penuh. Ketentuan demikian dapat berubah ketika keadaan anak kecil akan ramai atau masih butuh pendampingan orang lain maka baiknya adalah bersanding dengan orang yang menjadi tumpuannya. 

Bagi para takmir masjid hendaknya memperhatikan dan mengamalkan ketentuan ini, agar shalat berjamaah para makmum yang shalat berjamaah di masjid benar-benar mendapat fadhilah shaf sekaligus fadhilah shalat berjamaah secara sempurna. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Tags:
Share:
Rabu 9 Januari 2019 19:0 WIB
Hindari Gunjingan, Bolehkah Bermakmum pada Imam yang Rusak Bacaannya?
Hindari Gunjingan, Bolehkah Bermakmum pada Imam yang Rusak Bacaannya?
Salah satu ketentuan yang dianjurkan dalam shalat berjamaah adalah imam shalat merupakan orang yang paling fasih bacaan Al-Qur’annya. Sehingga hal yang dijadikan pijakan dalam shalat jamaah bukanlah kealiman seseorang dalam bidang agama, bukan pula usianya tapi adalah kefasihan bacaannya. Anjuran ini seperti yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ:

لِيُؤَذِّنْ لَكُمْ خِيَارُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ قُرَّاؤُكُمْ


“Hendaknya yang melaksanakan azan adalah orang terpilih di antara kalian dan yang menjadi imam orang paling fasih bacaannya di antara kalian.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)

Namun ironisnya, banyak masjid atau mushala yang tersebar di pemukiman penduduk, kurang memperhatikan anjuran ini. Dalam menentukan figur yang menjadi imam shalat berjamaah, seringkali ditentukan dari orang yang dipandang paling tua atau pemangku masjid karena dianggap lebih istiqamah dan sesuai dengan tradisi yang berlaku di masjid tersebut.

Hal ini meskipun berseberangan dengan pemilihan imam shalat jamaah yang dianjurkan oleh syara’, tapi dalam hal keabsahan shalat para makmum tetap tidak berpengaruh, kecuali memang bacaan Al-Qur’an imam yang mengimami shalat jamaah bermasalah. Seperti tidak sesuai standar tajwid karena faktor lisan yang cedal dan sampai mengubah susunan huruf bahkan mengubah terhadap makna dari bacaan wajib dalam shalat. Maka dalam keadaan demikian, tidak boleh bagi orang yang bacaan Al-Qur’annya benar untuk bermakmum pada imam yang bacaannya dalam kategori tersebut. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra:

وَلَا يَجُوزُ لَهُ أَنْ يَقْتَدِيَ بِمَنْ لَا يُحْسِنُ الْقِرَاءَةَ وَالْمُرَادُ بِعَدَمِ إِحْسَانِ الْقِرَاءَةِ الَّذِي الْكَلَامُ فِيهِ أَنْ يَكُونَ يُبَدِّلُ حَرْفًا بِآخَرَ أَوْ يَلْحَنُ لَحْنًا يُغَيِّرُ الْمَعْنَى أَمَّا غَيْرُ ذَلِكَ فَلَا يَمْنَعُ الْوُجُوبَ.

“Tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk berjamaah dengan imam yang tidak baik bacaan Al-Qur’annya. Yang dimaksud dengan ‘Tidak baik bacaan Al-Qur’annya’ dalam pembahasan ini adalah sekiranya ia mengganti suatu huruf dengan huruf yang lain, atau ia membaca lahn (keliru) yang mengubah terhadap makna kata. Adapun selain ketentuan di atas, maka tetap tidak mencegah terhadap wajibnya (berjamaah shalat jum’at)” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, juz 1, hal. 152)

Ironisnya, keadaan masjid yang bacaan imamnya banyak yang keliru, sering ditemukan di banyak tempat. Bagi orang yang mengerti tentang ketentuan hukum ini, bermakmum pada imam tersebut adalah sebuah masalah tersendiri. 

Permasalahan muncul ketika orang yang mengerti tentang hukum ini tinggal di sekitar masjid yang diimami oleh orang yang bacaan Al-Qur’annya tidak benar. Ia merasa dilematis mengingat bermakmum pada imam yang bacaannya tidak benar adalah tidak diperbolehkan oleh syara’, sedangkan jika ia tidak pernah ikut shalat berjamaah di masjid tersebut, ia akan menjadi bahan gunjingan masyarakat sekitar karena dianggap sebagai orang yang tidak respek pada shalat jamaah di masjid. Dalam hal ini apakah yang harus ia lakukan? Apakah boleh baginya shalat di masjid dengan pertimbangan di atas, atau yang lebih utama baginya adalah shalat berjamaah di rumah dengan keluarganya?

Dalam hal ini, tindakan yang paling maslahat baginya adalah tetap mengikuti shalat di masjid dengan imam yang bacaannya keliru, namun shalatnya ia niati shalat sendirian, bukan niat berjamaah pada imam yang bacaannya keliru tersebut. Hal ini terus ia lakukan sambil berkompromi dengan pihak takmir masjid agar mengupayakan figur yang menjadi imam masjid bisa diganti dengan orang lain yang bacaan Al-Qur’annya benar, sehingga shalat para makmum yang shalat di masjid menjadi sah secara syara’.

Praktik shalat sendirian tanpa niat berjamaah namun tetap menyesuaikan gerakan imam, atau yang biasa disebut iqtida’ shuratan adalah hal yang dipandang tetap mengabsahkan shalat ketika memang terdapat faktor seperti menghindari gunjingan atau cercaan masyarakat terhadap dirinya. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Bujairami ala al-Manhaj:

ـ (فلو تركها) أي هذه النية (أو شك) فيها (وتابع في فعل أو سلام بعد انتظار كثير) للمتابعة بطلت صلاته لأنه وقفها على صلاة غيره بلا رابط بينهما فلو تابعه اتفاقا أو بعد انتظار يسير أو انتظره كثيرا بلا متابعة لم يضر
 
“Jika seseorang meninggalkan niat jamaah atau ragu dalam niat jamaah dan ia tetap mengikuti imam dalam gerakannya atau dalam salam setelah menunggu jeda waktu yang lama dengan tujuan untuk mengikuti imam, maka shalatnya batal sebab ia menggantungkan shalatnya pada shalat orang lain tanpa adanya penyambung (rabith) di antara keduanya. Jika ia mengikuti imam karena faktor kebetulan gerakannya sama atau menunggu gerakan shalat imam dalam jeda waktu sebentar atau jeda yang lama tanpa ada tujuan mengikuti gerakan imam maka hal ini tidak membahayakan shalatnya (shalatnya tidak batal).”

)قوله: فلو تابعه اتفاقا) –إلى أن قال- ولم يذكر محترز قوله للمتابعة ومحترزه ما لو انتظره كثيرا لأجل غيرها كدفع لوم الناس عليه كأن كان لا يحب الاقتداء بالإمام لغرض ويخاف لو انفرد عنه حسا صولة الإمام أو لوم الناس عليه لاتهامه بالرغبة عن الجماعة فإذا انتظر الإمام كثيرا لدفع هذه الريبة فإنه لا يضر كما قرره شيخنا ح ف

“Mushannif (pengarang) tidak menampilkan pengecualian dari diksi “lil Mutaba’ah” (bertujuan mengikuti gerakan imam) sedangkan pengecualiannya adalah ketika seseorang menunggu gerakan imam dalam jeda yang lama dengan tujuan selain mengikuti gerakan imam seperti bertujuan mencegah cercaan orang lain padanya. Misalnya seperti halnya ketika ia tidak senang shalat dengan imam karena suatu hal dan ia khawatir jika ia shalat sendirian dari imam akan diserang oleh imam. Atau ketika ia shalat sendirian khawatir akan di cerca oleh orang lain karena akan dianggap ia tidak senang shalat berjamaah. Maka ketika ia menunggu imam dalam jeda yang lama (dan mengikuti gerakan-gerakan imam, padahal ia tidak niat berjamaah dengan imam) Karena bertujuan mencegah terjadinya kekhawatiran di atas maka shalatnya tidak bermasalah (tetap sah) seperti halnya ketentuan yang telah ditetapkan oleh guruku al-Hafni” (Syekh Sulaiman bin Muhammad al-Bujairami, Hasyiyah al-Bujairami ala al-Manhaj, juz 1, hal. 331)

Jika memang shalat di masjid dengan cara di atas dianggap sudah dapat membuatnya terhindar dari gunjingan masyarakat setempat, maka untuk shalat-shalat selanjutnya boleh baginya untuk secara bergantian shalat berjamaah di rumah dan di waktu yang lain melaksanakan shalat dengan cara yang yang sama di masjid yang ada di sekitarnya. Sekiranya ia dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menghindari gunjingan dan cercaan masyarakat adalah hal yang patut untuk dihindari agar seseorang dapat berinteraksi dengan masyarakat secara baik, terlebih bagi tokoh masyarakat atau orang yang diproyeksikan nantinya akan menuntun masyarakat. Bahkan menghindari cercaan masyarakat ini merupakan hal yang dapat tetap mengabsahkan shalat iqtida’ shuratan (mengikuti imam hanya dalam gerakannya saja tanpa niat berjamaah dengannya). Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Ahad 6 Januari 2019 8:15 WIB
Cara Tobat Orang yang Meninggalkan Shalat
Cara Tobat Orang yang Meninggalkan Shalat
(Foto: @pixabay)
Tobat adalah hal yang wajib dilakukan bagi setiap orang Mukmin yang telah melakukan maksiat kepada Allah SWT. Tobat dilakukan tak lain sebagai syarat utama agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

ياأيها الذين آمَنُواْ توبوا إِلَى الله تَوْبَةً نَّصُوحاً عسى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu," (Surat At-Tahrim ayat 8).

Tobat wajib dilakukan dengan sesegera mungkin setelah seseorang melakukan maksiat, apapun jenis maksiat yang dilakukannya, dosa kecil dan dosa besar. Sebab jika tidak segera tobat, maka seseorang menganggap remeh dosa dari maksiat yang telah dilakukannya. 

Salah satu bentuk maksiat yang wajib untuk segera ditobati adalah meninggalkan salah satu shalat wajib lima waktu. Dengan meninggalkan shalat wajib dari waktu yang telah ditentukan dengan tanpa adanya uzur berarti ia dianggap melakukan dosa besar sebab meninggalkan shalat termasuk dalam kategori dosa besar seperti yang dijelaskan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami:

تنبيهات منها : عد ما ذكر من أن كلا من ترك الصلاة وتقديمها على وقتها وتأخيرها عنه بلا عذر كبيرة

Artinya, “Hal-hal yang perlu di ingat, di antaranya bahwa segala hal yang telah dijelaskan menyimpulkan sungguh setiap orang yang meninggalkan shalat atau mendahulukan shalat dari waktunya atau mengakhirkan shalat dari waktunya tanpa adanya uzur termasuk dosa besar,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Az-Zawajir an Iqtirafil Kaba’ir, halaman 355).

Berdasarkan referensi tersebut dapat dipahami bahwa meninggalkan shalat bukan persoalan sepele, sebab termasuk kategori dosa besar yang menyebabkan seseorang mendapatkan predikat fasiq. Oleh sebab itu, orang yang meninggalkan shalat secara sengaja hendaknya sesegera mungkin untuk bertobat atas dosa yang telah ia lakukan.

Cara bertobat bagi orang yang meninggalkan shalat adalah dengan cara memenuhi beberapa syarat tobat secara umum, yaitu segera mengqadha shalat yang pernah ia tinggalkan. Hal ini merupakan implementasi dari syarat tobat yang berupa “Menyudahi melakukan maksiat saat itu juga”, sebab orang yang meninggalkan shalat berarti ia terus menerus melakukan maksiat karena tidak melaksanakan perintah berupa mengqadha’ shalat yang ia tinggalkan sesegera mungkin.

Syarat selanjutnya adalah dengan wujud penyesalan atas dosa yang pernah ia lakukan, dalam hal ini adalah meninggalkan shalat secara sengaja. Penyesalan ini diwujudkan dengan memperbanyak membaca istighfar dengan mengharap semoga dosanya diampuni oleh Allah SWT.

Syarat terakhir yaitu ia bertekad tidak akan mengulang kembali dosa yang pernah ia lakukan, dalam hal ini adalah meninggalkan shalat secara sengaja. Dengan demikian ia tidak terjerumus kembali dalam keteledorannya berupa tidak melaksanakan perintah Allah SWT.

Dengan melaksanakan ketiga syarat ini dan menjalankannya secara teguh, berarti ia telah melaksanakan tobat atas shalat yang pernah ia tinggalkan. Syarat-syarat di atas tercantum dalam Kitab Al-Adzkar An-Nawawiyah:

اعلم أن كلّ من ارتكب معصيةً لزمه المبادرةُ إلى التوبة منها، والتوبةُ من حقوق اللّه تعالى يُشترط فيها ثلاثة أشياء : أن يُقلع عن المعصية في الحال، وأن يندمَ على فعلها، وأن يَعزِمَ ألاّ يعود إليها والتوبةُ من حقوق الآدميين يُشترط فيها هذه الثلاثة، ورابع : وهو ردّ الظلامة إلى صاحبها، أو طلب عفوه عنها والإِبراء منها

Artinya, “Ketahuilah bahwa sungguh setiap orang yang melakukan maksiat wajib baginya untuk bergegas untuk bertobat. Bertobat pada hal yang berkaitan dengan Hak Allah disyaratkan tiga hal. Pertama, Menyudahi melakukan maksiat saat itu juga. Kedua, Merasa menyesal pernah melakukan maksiat. Ketiga, Bertekad untuk tidak mengulang kembali maksiat yang pernah dilakukannya. 

Sedangkan bertobat atas dosa yang berkaitan dengan hak orang lain disyaratkan tiga hal di atas dan satu hal lain yang menjadi syarat keempat yaitu mengembalikan kezaliman yang pernah dilakukannya  (pada orang lain) kepada pemiliknya atau meminta maaf atas kezaliman yang pernah dilakukannya dan meminta kebebasan tanggungan dari mengembalikan kezaliman yang pernah dilakukan olehnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar An-Nawawiyah, halaman 438).

Syarat-syarat yang dijelaskan dalam referensi tersebut tidak hanya terkhusus pada bentuk maksiat berupa meninggalkan shalat, tapi juga berlaku pada semua jenis maksiat secara umum. Dengan penambahan satu syarat lain, ketika maksiat yang dilakukan berkaitan dengan haqqul adami, seperti mencuri, merampas, membunuh, dan bentuk maksiat lain yang berkaitan dengan orang lain.

Semoga segala upaya tobat yang kita lakukan dapat diterima oleh Allah dan dosa-dosa kita diampuni oleh-Nya. Amin. Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin
Sabtu 5 Januari 2019 15:0 WIB
Saat Baru Ingat Niat Jamak Takhir setelah Masuk Shalat Kedua
Saat Baru Ingat Niat Jamak Takhir setelah Masuk Shalat Kedua
Saat bepergian, syariat memberikan dispensasi (rukhsah) bagi musafir dalam urusan shalat. Dalam jarak tempuh tertentu, agama memberikan rukhsah jamak dan qashar. Salah satu teori yang dikenal dalam rukhsah jamak adalah jamak takhir, yaitu mengumpulkan dua shalat di waktu shalat yang kedua. Semisal maghrib dilakukan di waktu Isya, zhuhur di waktu ashar.

Jamak takhir secara ketentuan lebih longgar dari jamak taqdim. Syarat yang harus terpenuhi dalam pelaksanaan jamak takhir ada dua. Pertama, niat jamak takhir di waktu shalat pertama. Kedua, masih dalam keadaan safar sampai sempurnanya shalat kedua.

Salah satu contoh niat jamak takhir sebagaimana diterangkan Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani adalah:

نويت تأخير الظهر إلى العصر لأجمع بينهما

“Aku niat mengakhirkan Zhuhur kepada Ashar untuk mengumpulkan keduanya.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Kasyifah al-Saja, cetakan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hal. 189).

Dalam pelaksanaan niat jamak takhir, disyaratkan saat pelaksanaan niat takhir masih cukup untuk melaksanakan shalat pertama secara sempurna. Semisal niat saat jam 13.30 WIB, pada jam tersebut masih cukup melaksanakan shalat zhuhur. Tidak sah pelaksaaan jamak takhir bila secara sengaja niatnya di waktu shalat kedua atau di waktu shalat pertama namun tidak cukup untuk melaksanakan shalat pertama secara sempurna, semisal niat di penghujung waktu zhuhur saat waktu Ashar hanya berjarak 30 detik. Dalam titik ini, status shalat pertama qadha dan musafir berdosa dengan sebab kesengajaannya mengakhirkan shalat.

Persoalan muncul saat musafir lupa biat jamak takhir, ia baru ingat niat jamak takhir setelah masuk waktu shalat kedua. Apakah ia tetap diperbolehkan menjamak takhir?

Dalam persoalan ini, ulama sepakat musafir tersebut tidak berdosa. Ia dimaafkan karena lupanya. Namun mengenai keabsahan jamak takhirnya, ulama berbeda pendapat. Menurut al-Imam al-Ghazali, jamak takhirnya sah. Alasan beliau adalah, karena dengan lupanya, musafir tergolong orang yang diterima uzurnya. 

Sementara menurut Syekh Khatib al-Syarbini dan Syekh Muhammad al-Ramli, jamak takhirnya batal. Menurut beliau berdua, status shalat pertama adalah qadha, sebab tidak adanya niat takhir di waktu shalat pertama. Berpijak dari pendapat ini, dalam pelaksanaan shalatnya, shalat pertama tetap dikerjakan di waktu shalat kedua, namun dengan niat qadha, bukan niat jamak takhir.

Menurut penegasan Syekh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab al-I’ab, disamakan dengan hukumnya orang yang lupa niat jamak takhir, yaitu orang yang bodoh terkait ketentuan niat jamak takhir, sebab persoalan niat jamak takhir ini tergolong hal yang samar bagi orang awam, sehingga termasuk kebodohan yang dimaafkan.

Penjelasan di atas terangkum dalam referensi dari kitab Hasyiyah al-Syarwani berikut ini:

قول المتن ( فيعصي إلخ ) وقول الغزالي لو نسي النية حتى خرج الوقت لم يعص وكان جامعا لأنه معذور صحيح في عدم عصيانه غير مسلم في عدم بطلان الجمع لفقد النية نهاية ومغني وفي الكردي عن الإيعاب يتجه أن الجاهل كالساهي لأن هذا مما يخفى اه

“Tentang ucapan kitab matan “maka bermaksiat dan seterusnya”. Adapun pendapat al-Imam al-Ghazali, bila lupa niat jamak takhir hingga keluar waktu shalat pertama, maka tidak bermaksiat dan sah jamak takhirnya, karena diterima uzurnya. Statemen ini benar berkaitan dengan ketidakberdosaannya, namun tidak dapat diterima dalam hal ketidakbatalan jamaknya, sebab ketiadaan niat. Ini keterangan dari kitab Nihayah dan Mughni. Dalam kitabnya Syekh al-Kurdi mengutip dari kitab al-I’ab, menjadi pendapat yang kuat bahwa orang yang bodoh tentang niat hukumnya seperti orang yang lupa, sebab persoalan ini termasuk perkara yang samar bagi orang awam.” (Syekh Abdul Hamid al-Syarwani, Hasyiyah al-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 400).

Demikian pula referensi dari kitab Hasyiyah al-Tajrid Linaf’il ‘Abid, komentar atas kitab Fath al-Wahhab berikut ini:

ولو نسي النية حتى خرج الوقت فلا عصيان ولا جمع خلافا لما نقل عن الأحياء ا هـ ح ل

“Bila lupa niat jamak takhir hingga keluar waktu shalat pertama, maka tidak berdosa dan tidak sah jamak takhirnya, berbeda menurut pendapat yang dikutip dari kitab al-Ihya’.” (Syekh Sulaiman al-Bujairimi, al-Tajrid Linaf’il ‘Abid, Hasyiyah ‘ala Fath al-Wahhab, juz 1, hal. 369).

Demikian penjelasan mengenai lupa niat jamak takhir di waktu shalat pertama, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)