IMG-LOGO
Trending Now:
Thaharah

Apakah Air Ketuban itu Najis?

Rabu 30 Januari 2019 16:0 WIB
Share:
Apakah Air Ketuban itu Najis?
Ilustrasi (WordPress.com)
Orang yang melahirkan tidak akan lepas dari wujudnya air ketuban yang keluar dari rahim sebelum keluarnya janin. Air ketuban sendiri merupakan cairan yang terdapat dalam ruangan yang diliputi selaput janin. Salah satu fungsi dari air ketuban di antaranya sebagai pelindung yang akan menahan janin dari trauma akibat benturan, serta berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrien bagi janin untuk sementara. 

Menurut Wikipedia, saat persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim wanita yang hamil dapat membuka dan saat kantung ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus akan membersihkan jalan lahir janin.

Lalu bagaimanakah sebenarnya status dari air ketuban ini? Apakah air tersebut dihukumi suci atau najis?

Para ulama menghukumi air ketuban sebagai cairan yang najis, sehingga wajib untuk dibasuh sebelum melaksanakan shalat ketika air tersebut mengenai pakaian atau badan seseorang. Air ketuban disamakan dengan status air kencing lantaran bersumber dari bagian dalam tubuh. Setiap hal yang keluar dari kelamin yang bersumber dari dalam tubuh dihukumi najis, termasuk air ketuban ini. Berbeda halnya dengan cairan yang biasa keluar dari alat kelamin perempuan (keputihan) maka cairan tersebut dihukumi suci, karena sumber cairan ini bukan dari bagian tubuh yang dalam. Seperti yang dijelaskan oleh Syekh Zainuddin al-Maliabari dalam kitab Fath al-Mu’in:

ورطوبة فرج، أي قبل على الاصح. وهي ماء أبيض متردد بين المذي والعرق، يخرجمن باطن الفرج الذي لا يجب غسله، بخلاف ما يخرج مما يجب غسله فإنه طاهر قطعا، وما يخرج من وراء باطن الفرج فإنه نجس قطعا، ككل خارج من الباطن، وكالماء الخارج مع الولد أو قبله
ـ (قوله: وكالماء الخارج مع الولد) أي فإنه نجس

“Cairan yang terdapat dalam kelamin perempuan (jalan depan) dihukumi suci. cairan tersebut berwarna putih yang merupakan kombinasi antara air madzi dan air keringat. Cairan tersebut keluar dari dalam rahim yang tidak wajib dibasuh (ketika mandi besar). Berbeda halnya hukumnya dengan cairan yang keluar dari Rahim (kelamin) yang wajib dibasuh, maka cairan tersebut sangat dipastikan dihukumi suci. sedangkan cairan yang keuar dari belakang bagian dalam Rahim maka secara pasti dihukumi najis, seperti halnya setiap cairan yang keluar dari bagian dalam (tubuh) dan seperti cairan yang keluar bersamaan dengan janin atau cairan yang keluar sebelum keluarnya janin, maka sesungguhnya cairan ini dihukumi najis.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 104)

Hal lain yang patut diketahui, air ketuban bukan merupakan pertanda nifas yang membuat seorang wanita tidak wajib shalat, sebab ciri-ciri seseorang yang nifas adalah keluarnya darah dari rahim, sedangkan air ketuban bukan termasuk dari kategori tersebut. Sehingga, jika seorang wanita melahirkan namun sesuatu yang keluar dari rahimnya hanya berupa air ketuban, tanpa mengeluarkan darah, maka wanita tersebut tetap wajib untuk melaksanakan shalat, namun sebelumnya wajib baginya untuk menyucikan badan dan pakaiannya dari cipratan air ketuban yang mengenainya. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Share:
Ahad 27 Januari 2019 16:30 WIB
Cara Bersuci Orang yang Lumpuh
Cara Bersuci Orang yang Lumpuh
Ilustrasi (news.de)
Orang lumpuh seringkali memiliki problem teknis, terutama dalam melakukan aktivitas yang membutuhkan gerakan. Namun meski begitu, kewajiban melaksanakan ibadah yang diperintahkan oleh syara’ tidak lantas menjadi gugur baginya, sebab kewajiban syariat pada manusia digantungkan dalam dua sifat, yaitu baligh dan berakal.  Sehingga orang lumpuh yang masih memiliki ingatan akal yang baik, tetap wajib menjalankan ibadah-ibadah fardhu.

Hanya saja, orang lumpuh diberi keringanan (rukhshah) oleh syariat untuk menjalankan kewajiban sesuai dengan kemampuannya. Dalam hal ini syara’ memberi ketentuan dalam sebuah hadits:

فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Ketika Aku melarang kalian melakukan sesuatu, maka tinggalkanlah dan ketika Aku memerintahkan kalian melakukan sesuatu maka lakukanlah semampunya.” (HR Bukhari)

Misalnya ketika orang lumpuh tidak mampu berdiri maka ia boleh shalat dengan duduk atau berbaring sesuai dengan kemampuannya. Jika tidak mampu melaksanakan haji tapi biaya sudah mencukupi, maka ia boleh mewakilkan hajinya pada orang lain. Begitu juga dalam ibadah-ibadah yang lain, pelaksanaannya disesuaikan dengan kadar kesanggupannya dalam menjalankan ibadah yang wajib bagi dirinya. Lalu bagaimana dengan bersuci?

Dalam hal bersuci, orang yang lumpuh diperbolehkan untuk meminta pertolongan orang lain agar menyiramkan air pada anggota tubuh yang wajib dibasuh, baik itu pada saat wudhu ataupun mandi besar, dengan ketentuan penyiraman air oleh orang lain dilakukan sesuai urutan membasuh anggota wudhu. Dan juga niat bersuci tetap dilafalkan oleh orang lumpuh dalam hatinya, sebab dalam hal niat bersuci tidak dapat diwakilkan pada orang lain. 

Bahkan meminta pertolongan orang lain bisa menjadi wajib bagi orang lumpuh, ketika sudah tidak mampu untuk menggerakkan tubuhnya untuk menyiram air, misalnya seperti yang terjadi pada orang yang lumpuh total. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Safinah an-Naja:

ـ (فصل) الإستعانات أربع خصال : مباحة وخلاف الأولى ومكروهه وواجبة فالمباحة هي تقريب الماء ، وخلاف الأولى هي صب الماء على نحو المتوضئ ،والمكروهه هي لمن يغسل أعضاءه ، والواجبة هي للمريض عند العجز

“Pasal. Meminta pertolongan (dalam ibadah) terbagi menjadi empat hukum yaitu mubah, khilaf al-aula, makruh, dan wajib. Contoh meminta pertolongan yang mubah seperti meminta pertolongan orang lain agar mendekatkan air pada orang yang hendak bersuci, contoh yang khilaf al-aula yaitu seperti meminta orang lain untuk menuangkan air pada orang yang hendak wudhu, contoh yang makruh seperti meminta orang lain untuk menuangkan air pada anggota wudhunya, dan contoh yang wajib seperti meminta pertolongan orang lain bagi orang yang sakit ketika ia tidak mampu (bersuci sendiri).” (Salim bin Samir al-Hadrami, Safinah an-Naja, Hal. 9)

Berbeda halnya ketika anggota tubuh orang lumpuh akan berbahaya ketika terkena air, misalnya memperparah penyakit atau kondisi kesehatan. Dalam keadaan demikian kewajiban wudhu dan mandi besar baginya diganti dengan tayammum. Pelaksanaan tayammum baginya sama halnya seperti pelaksanaan tayammum secara umum yaitu mengusapkan debu pada wajah dan tangan, jika tidak mampu melaksanakan sendiri maka ia dapat meminta pertolongan orang lain, seperti halnya praktek bersuci yang dijelaskan di atas. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bersuci bagi orang yang lumpuh tetap wajib dalam rangka menghilangkan hadats. Sedangkan dalam praktiknya ia dapat meminta pertolongan orang lain, namun dalam hal niat tetap wajib dilakukan oleh dirinya sendiri. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Sabtu 26 Januari 2019 18:0 WIB
Cara Menyucikan Pakaian Najis lewat Mesin Cuci
Cara Menyucikan Pakaian Najis lewat Mesin Cuci
Ilustrasi (via newson6.com)
Ketentuan yang masyhur dalam mazhab Syafi’i tentang air yang terkena najis adalah: jika volume air sudah sampai dua qullah (216 liter atau kubus dengan panjang, lebar, dan tinggi masing-masing 60 cm) maka air tidak dihukumi najis kecuali warna air berubah (taghayyur); sedangkan jika volume air tidak sampai dua qullah maka seluruh air secara langsung menjadi najis ketika bersentuhan dengan benda yang najis.

Namun menurut pendapat lain—seperti dalam mazhab Maliki misalnya—air tidak dihukumi najis kecuali dengan berubahnya warna air, baik volume air sampai dua qullah ataupun kurang dari dua qullah

Sedangkan cara menyucikan benda yang terkena najis (mutanajjis) dengan air yang kurang dari dua qullah adalah dengan cara menghilangkan wujud najis yang ada dalam benda tersebut terlebih dahulu, lalu mengalirkan air (warid) pada benda yang terkena najis yang telah dihilangkan najisnya. Mengalirkan air pada benda yang terkena najis merupakan syarat agar suatu benda dapat menjadi suci, sebab jika air tidak dialirkan, tapi benda yang terkena najis ditaruh pada air yang kurang dari dua qullah, maka air tersebut justru akan ikut menjadi najis. 

Pendapat demikian merupakan pendapat mayoritas ulama Syaf’iyyah. Kewajiban mengalirkan air itu dikarenakan mengalirkan air adalah cara yang paling kuat dalam menyucikan benda yang terkena najis. 

Namun dalam hal ini, Imam al-Ghazali berbeda pandangan. Beliau berpendapat bahwa mengalirkan air bukanlah syarat dalam menyucikan benda yang terkena najis. Sebab, menurut beliau, tidak ada bedanya antara mengalirkan air pada benda yang terkena najis (warid) dan menaruh benda tersebut pada air (maurud). Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Suraij.

Ketika  ketentuan-ketentuan di atas kita terapkan dalam konteks menyucikan pakaian yang terkena najis dalam mesin cuci, maka cara yang paling baik dan disepakati oleh para ulama adalah dengan cara menghilangkan wujud najis (‘ain an-najasah) terlebih dahulu sebelum memasukkan pakaian ke dalam mesin. Menghilangkan najis ini bisa dengan cara menggosok-gosok pakaian agar wujud najis hilang, atau langsung dengan cara menyiram pakaian (baik itu secara manual, atau langsung dengan cara dimasukkan pada mesin cuci) ketika memang diyakini najis yang melekat akan hilang dengan siraman air tersebut. Sehingga ketika wujud najis telah hilang, maka status pakaian menjadi najis hukmiyyah (najis secara hukum, meski wujud tak terlihat) yang dapat suci cukup dengan disiram air. 

Berbeda halnya pada pakaian yang tidak terdapat bekas najis, atau tidak tampak warna, bau dan ciri khas lain dari najis, maka tidak perlu dilakukan hal di atas, sebab pakaian tersebut sudah dapat suci cukup dengan disiram.

Baca juga:
Tiga Macam Najis dan Cara Menyucikannya
Cara Mudah Menyucikan Najis di Kasur tanpa Mesti Mencucinya
Lalu ketika wujud najis sudah hilang dalam pakaian, maka pakaian sudah dapat dimasukkan dalam mesin cuci untuk disiram. Dalam hal ini, mesin cuci terdapat dua jenis. Pertama, mesin cuci otomatis, yaitu mesin cuci yang mengalirkan air dari atas dan air tersebut langsung dialirkan keluar, setelah itu dialirkan kembali air baru dan dialirkan keluar, demikian secara terus-menerus sesuai kehendak pemakai mesin cuci. Maka dalam jenis mesin cuci demikian, ulama sepakat bahwa pakaian yang dicuci dengan mesin cuci jenis ini dapat dihukumi suci. 

Sedangkan jenis kedua, yaitu mesin cuci biasa (‘adi). Mesin cuci jenis ini adalah yang umum terlaku dan digunakan masyarakat. Yaitu mesin cuci yang mengalirkan air ke dalam tempat penampungan pakaian, namun air tidak langsung dikeluarkan, tapi dibiarkan ke dalam tempat penampungan pakaian, yang di dalamnya bercampur pakaian suci dan najis. Setelah jeda waktu cukup lama, air tersebut dikeluarkan dan diganti dengan air baru yang juga mengalami proses yang sama dengan cara kerja air yang awal. 

Maka dalam mesin cuci jenis kedua ini, pakaian yang terkena najis tidak dapat dihukumi suci menurut pandangan mayoritas ulama, bahkan pakaian yang suci ikut menjadi najis, jika memang masih terdapat wujud najis pada salah satu pakaian yang ada dalam mesin cuci tersebut. 

Sedangkan bila mengikuti pandangan dari Al-Ghazali, Ibnu Suraij, serta pendapat mazhab Maliki di atas, maka air yang dicuci dengan mesin cuci jenis kedua (apalagi jenis pertama) dapat dihukumi suci. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Syarah al-Yaqut an-Nafis:

والغسالات نوعان: نوع يسمونه أوتوماتيكي يرد إليها الماء ثم ينصرف فيرد ماء جديد ثم يتكرر إيراد الماء عدة مرات فهذا لاخلاف فيه في طهارة الملابس. والنوع الثاني من الغسالات عادي وتلك يوضع الماء فيها وهو دون القلتين وتغسل به الملابس الطاهرة والنجسة ثم يصرفونه فيبقى شيء منه في الغسالة والثياب مبللة منه فيصبّون عليه ماء آخر فوق الباقي المتنجس ثم يكتفون بالغسلتين 

“Mesin cuci terbagi menjadi dua. Pertama, mesin cuci yang otomatis, yaitu air dialirkan pada mesin cuci lalu di alirkan keluar dari mesin cuci, setelah itu dialirkan kembali air baru dan dialirkan keluar, begitu juga seterusnya. Maka dalam mesin cuci jenis demikian tidak ada perbedaan pendapat antar ulama dalam sucinya pakaian yang di cuci pada mesin cuci jenis ini.

Kedua, mesin cuci biasa, yaitu air yang kurang dari dua qullah ditaruh di dalam mesin cuci, yang nantinya air tersebut digunakan untuk membasuh pakaian yang suci dan najis, lalu air tersebut dialirkan keluar, meski masih terdapat sebagian air yang menetap pada mesin cuci, sedangkan pakaian yang terdapat dalam cucian berada dalam keadaan basah, kemudian dialirkan air lain di atas sisa air yang terkena najis (di pakaian) tadi dan basuhan air dalam mesin cuci ini dicukupkan dengan dua kali basuhan oleh sebagian ulama.”

فهؤلاء يحملهم قول الذين لايشترطون ورودالماء مع القول في مذهب مالك. وهناك قول آخر نقله ابن حجر في التحفة يحملهم وإن قرر على أن الماء القليل ينجس بمجرد وقوع النجاسة فيه لكن نقل القول الآخر وهو أنه لاينجس إلا بالتغير وهو مذهب مالك وعندنا أنه ينجس بملاقته النجاسة والقول الذي يقول لاينجس الماء إلا بالتغير

“Para ulama ini mengarahkan kasus demikian pada pendapat para ulama yang tidak mensyaratkan mengalirnya air pada pakaian serta berpijak pada pendapat mazhab imam malik. Sebab dalam permasalahan membasuh benda yang terkena najis ini terdapat pendapat lain yang dinukil oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj, meskipun Imam Ibnu Hajar menetapkan bahwa air yang sedikit (kurang dari dua qullah) akan menjadi najis dengan hanya jatuhnya najis pada air tersebut, tetapi ia menukil pendapat lain yaitu Air tidak menjadi najis kecuali dengan berubahnya (warna) air.” (Muhammad bin Ahmad Asy-Syatiri, Syarah al-Yaqut an-Nafis, Hal. 98-99)

Namun patut dipahami bahwa ketentuan yang dijelaskan tentang menyucikan pakaian yang terkena najis dalam mesin cuci, seperti yang dijelaskan di muka, adalah ketika pakaian yang dimasukkan dalam mesin cuci belum dicampuri dengan detergen. Sedangkan ketika pakaian sudah dicampuri dengan detergen sebelum dialiri air dalam mesin cuci, maka air yang bercampur dengan detergen ini tidak dapat menyucikan pakaian yang terkena najis secara mutlak, sebab air ini tergolong air yang mukhalith (bercampur dengan sesuatu lain) yang tidak dapat menyucikan benda yang terkena najis, sebab hanya air murni (ma’ al-muthlaq) yang dapat menyucikan sesuatu yang terkena najis. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menyucikan pakaian yang terkena najis dalam mesin cuci biasa (‘adi) adalah hal yang dapat dilakukan menurut para ulama yang berpandangan bahwa air yang kurang dari dua qullah dapat menyucikan benda yang najis tanpa perlu dialiri air dari atas (warid). Namun dengan batasan selama pakaian dalam mesin cuci tidak terlebih dahulu dicampur dengan detergen. Barulah setelah pakaian dialiri air maka tempat penampungan pakaian dalam mesin cuci diganti air yang baru dan diberi detergen. 

Meski cara yang umum dilakukan masyarakat dapat dibenarkan dengan cara di atas, namun alangkah baiknya dalam rangka mengambil jalan kehati-hatian dalam mengamalkan syariat, seseorang hendaknya membasuh secara manual terlebih dahulu pada pakaian yang terkena najis dengan air murni, lalu setelah itu pakaian yang telah dibasuh dicuci dalam mesin cuci, sebab cara demikianlah yang dibenarkan oleh mayoritas ulama. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Kamis 24 Januari 2019 12:0 WIB
Apakah Kotoran Telinga termasuk Najis?
Apakah Kotoran Telinga termasuk Najis?
(Foto: @cnbc.com)
Telinga merupakan salah satu anggota tubuh manusia yang sekaligus menjadi panca indra dalam hal pendengaran, oleh karenanya penting untuk dijaga dan dibersihkan agar pendengaran seseorang tetap dapat berfungsi normal.

Dalam hal ini, syariat Islam menganjurkan pada manusia agar membasuh telinga pada saat wudhu, hikmah di balik anjuran membasuh telinga pada saat wudhu ini tak lain merupakan bentuk perhatian syarak pada kebersihan telinga seseorang sehingga dapat berfungsi secara normal. Dalam hal ini, dalam Ta’liqus Sunanis Shagir lil Baihaqi dijelaskan:

وغسل الأذنين لإزالة المادة الشمعية وما يتراكم عليها من غبار قد يؤدّي إلى ضعف السمع أو التهاب الأذن الذي إذا انتشر إلى الأذن الداخلية التي بها مركز توازن وضع الجسم اضطرب توازن الجسم

Artinya, “Membasuh kedua telinga (pada saat wudhu) bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan zat-zat yang terhimpun di dalamnya berupa debu yang terkadang dapat mengakibatkan lemahnya pendengaran atau telinga akan terkena infeksi, jika hal demikian menyebar pada telinga bagian dalam yang merupakan pusat keseimbangan tubuh, maka akan membuat keseimbangan tubuh menjadi tidak teratur,” (Lihat Dr Abdul Mu’thi Amin Qal’aji, Ta’liqus Sunanis Shagir lil Baihaqi, juz I, halaman 25).

Lalu bagaimana sebenarnya status kotoran yang biasa hinggap dalam telinga seseorang? Apakah dihukumi najis sehingga wajib untuk dibasuh, atau dihukumi suci?

Kotoran yang terdapat di dalam telinga dihukumi suci layaknya cairan-cairan lain yang keluar dari lubang-lubang tubuh (manafidz) selain kubul dan dubur, seperti air liur dan ingus. Ketentuan ini seperti yang tersirat dalam Kitab Hasyiyatul Baijuri:

وكل مائع خرج من السبيلين نجس قوله ( خرج من السبيلين) أي من أحد السبيلين القبل والدبر. –إلى أن قال- وخرج بقوله من السبيلين الخارج من بقية المنافذ فهو طاهر الّا القيء الخارج من الفم بعد وصوله الى المعدة وإن لم يتغيّر

Artinya, “Segala benda cair yang keluar dari dua jalan adalah najis. Maksud dari cairan yang keluar dari dua jalan adalah keluar dari salah satu dua jalan yang berupa qubul dan dubur. Dikecualikan dengan perkataan ‘dari dua jalan’ yaitu perkara yang keluar dari lubang-lubang tubuh yang lain (telinga, hidung, mulut) maka dihukumi suci kecuali muntahan yang keluar dari mulut setelah awalnya muntahan tersebut telah sampai pada perut, meskipun warna muntahan tidak berubah,’ (Lihat Syekh Ibrahim Al-Baijuri, Hasyiyatul Baijuri, juz I, halaman 100).

Berdasarkan referensi tersebut, maka tidak masalah jika kotoran telinga ini hinggap di bagian dasar telinga atau tersangkut dalam cotton buds ketika dibersihkan, meski hal yang baik adalah segera membersihkannya karena kotoran telinga dianggap sebagai sesuatu yang menjijikkan (mustaqdzar) meski tidak sampai dihukumi najis.

Namun kesucian kotoran telinga ini ketika memang kotoran tidak berupa nanah atau darah yang berasal dari dalam telinga atau luar telinga. Sedangkan ketika kotoran telinga bercampur dengan nanah (qayh), atau cairan yang keluar dari telinga berupa nanah (baca: kopok) yang terkadang berbau menyengat, maka kotoran telinga dengan jenis demikian dihukumi najis, baik itu sedikit atau banyak.

Sedangkan ketika kotoran yang keluar dari telinga berupa darah, karena terkena penyakit atau luka yang terdapat dalam telinga misalnya, maka kotoran telinga dengan jenis demikian dihukumi najis yang di-ma’fu ketika hanya sedikit sehingga tidak berpengaruh terhadap keabsahan shalat. Berbeda halnya ketika kotoran telinga yang berupa darah ini banyak, maka kotoran tersebut dihukumi najis dan wajib dibersihkan ketika hendak melakukan shalat.

Hal yang menjadi pijakan dalam menentukan banyak sedikitnya darah yang keluar dari telinga adalah pandangan umum manusia (‘urf). Jika umumnya manusia menilai bahwa kotoran darah yang keluar dari telinga dianggap banyak, maka dihukumi najis, namun jika masih diangap sedikit maka dihukumi najis yang di-ma’fu. Ketentuan demikian seperti yang dijelaskan dalam Kitab Tarsyihul Mustafidin:

ويعفى عن دم نحو برغوث -الى أن قال- وعن قليل نحو دم غيره اى غير مغلظ بخلاف كثيره ومنه كما قال الأذرعى دم انفصل من بدنه ثم أصابه وعن قليل نحو دم حيض ورعاف كما فى المجموع ويقاس بهما دم سائر المنافد الا الخارج من معدن النجاسة كمحل الغائط, والمرجع فى القلة والكثرة العرف وما شك فى كثرته له حكم القليل. اهـ

Artinya, “Dan dihukumi najis yang di-ma’fu yaitu darah nyamuk, dan darah lain ketika sedikit dan bukan najis yang mughallazhah. Berbeda ketika darah tersebut banyak. Sebagian dari najis yang di-ma’fu ketika sedikit yaitu darah yang terpisah dari tubuh lalu mengenai bagian tubuh. Dan di-ma’fu pula sedikitnya darah haid, darah mimisan seperti yang dijelaskan dalam Kitab Al-Majmu’.

Disamakan dengan darah haid dan mimisan yaitu darah yang keluar dari lubang-lubang tubuh yang lain  kecuali darah yang keluar dari (kotoran) perut yang najis, seperti pada tempat buang air besar. Hal yang dijadikan pijakan dalam menentukan sedikit banyaknya darah adalah pandangan umum manusia (‘urf), sedangkan sesuatu yang masih diragukan apakah suatu darah dianggap banyak, maka darah tersebut dihukumi sedikit,” (Lihat Sayyid Alwi bin Ahmad As-Segaf, Tarsyihul Mustafidin, halaman 43).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kotoran telinga secara umum dihukumi suci kecuali ketika kotoran yang keluar berupa nanah dan darah. Jika kotoran yang keluar berupa nanah maka dihukumi najis secara mutlak. Sedangkan ketika kotoran yang keluar berupa darah maka dihukumi najis yang di-ma’fu ketika sedikit dan dihukumi najis ketika kotoran darah yang keluar dalam jumlah yang banyak. Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)