IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Ibnu Amir asy-Syami, Imam Qira’at Pemilik Sanad Tertinggi

Selasa 5 Februari 2019 12:30 WIB
Share:
Ibnu Amir asy-Syami, Imam Qira’at Pemilik Sanad Tertinggi
Ilustrasi (via aboutislam.net)
Ada tiga nama tempat yang hampir selalu disebut dalam sejarah lahirnya para intelektual Islam: Basrah, Kufah, dan Syam. Nama yang terakhir ini adalah sebuah tempat yang pernah disinggahi oleh Nabi Muhammad bersama Maisarah saat membawa barang dagangan Khadijah. Secara geografis, Syam merupakan sebuah kawasan yang meliputi empat negara, yaitu Suriah (yang merupakan pusat negeri Syam), Palestina, Lebanon, dan Yordania.

Pada masa dahulu, Syam merupakan pusat pemerintahan Umawiyyah, di sana terbangun sebuah masjid megah Umawi sebagai tanda kejayaan Islam. 

Negara Syam ini dikenal dengan sebutan tanah kebaikan atau keberkahan, sebab di sana terdapat sebuah masjid al-Aqsa, yang disebutkan dalam Al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat pertama, dan menjadi kiblat pertama umat Muslim. Maka wajar bila dari rahim tanah Syam yang berkah ini lahir intelektual Muslim yang berkualitas. 

Dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’at, intelektual Muslim yang dilahirkan dari tanah Syam ini adalah Abdullah bin Amir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Amir asy-Syami al-Yahshabi.

Biografi Imam Ibnu Amir asy-Syami

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin Amir bin Yazid bin Tamim bin Rabi’ah bin Amir al-Yahshabi. Dalam matan kitab “al-Syatibiyyah” karya Abi al-Qasim bin Firruh, Ibnu Amir dinisbatkan ke buyutnya atau kabilah di Yaman, yaitu al-Yahshabi bin Dahman. 

Beliau merupakan murni keturunan Arab, yang tidak tercampur nasabnya oleh keturunan ajami (selain Arab). Ada dua imam qira’at sab’ah yang murni keturunan Arab, yaitu Abu Amr bin al-Ala’ dan Ibnu Amir asy-Syami.

Imam asy-Syami ini merupakan salah satu imam qira’at sab’ah yang paling bagus dan tertinggi sanadnya, dan termasuk tabi’in senior. Di negara Syam, imam asy-Syami ini merupakan panutan dan Imam masyarakat Syam dalam bidang qira’at Al-Qur’an dan menjadi pemungkas masyikhah iqra’ setelah wafatnya Abi Darda’.

Baca juga:
Kenapa Bacaan Al-Qur’an Disandarkan kepada Imam Qira'at, Bukan Nabi?
Siapa yang Menyusun Urutan Surat-surat dalam Al-Qur’an?
Aktivitas non-formal beliau sehari-hari, selain mengisi pengajian dan mengajar Al-Qur’an, adalah menjadi imam tetap kaum Muslimin di Masjid Umawiyah pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, baik sebelum dan sesudah kekhalifahnnya dan beliau (Umar bin Abdul Aziz) bermakmum di belakangnya. ini menunjukkan keluhuran dan kemulyaan beliau diangkat menjadi seorang imam shalat di sebuah masjid resmi kenegaraan pada masa Umar bin Abdul Aziz. Maka wajar beliau mendapat mandat untuk merangkap jabatan sebagai qadi’ (hakim), imam dan maha guru Al-Qur’an di Damaskus. Damaskus saat itu menjadi pusat pemerintahan dan dikelilingi oleh para ulama dan para tabi’in. Mereka semua sepakat menerima qira’at imam asy-Syami ini, membaca dan mempelajarinya, sementara mereka semua adalah generasi awal dan unggul. Ini menunjukkan bahwa qira’at asy-Syami ini adalah mutawatir dan dapat dipertanggung-jawabkan kesahihannya.

Beliau lahir pada tahun 21 H, sebagian sejarah mengatakan beliau lahir pada tahun 28 H.

Imam Khalid bin Yazid al-Murri benceritakan bahwa beliau mendengar Ibnu Amir bercerita: “Nabi menggenggam saya saat saya berumur dua tahun, kemudian saya pindah ke Damaskus saat saya berumur sembilan tahun”. ini artinya bahwa Ibnu Amir sempat bertemu dengan Nabi SAW. namun beliau belum baligh, tidak mengimani kerasulan-Nya, sehingga beliau disebut sebagai tabi’in. 

Perjalanan Intelektualnya

Sebelum menjadi seorang imam dan hakim di Damaskus, imam Ibnu Amir asy-Syami ini pernah mengenyam pendidikan Al-Qur’an kepada ulama ternama di masanya, salah satunya adalah belajar kepada:

1. Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin al-Mughirah al-Makhzumi, al-Makhzumi belajar kepada Utsman bin Affan dari Nabi Muhammad Saw,.

2. Abi Darda’ Uwaimir bin Zaid bin Qais dari Nabi Muhammad SAW.

3. Sebagian ulama mengatakan bahwa Ibnu Amir belajar langsung kepada Utsman sendiri tanpa melalui perantara.

Jika dilihat dari transmisi sanad imam asy-Syami ini, maka imam ini termasuk generasi ketiga dari Nabi dari jalur al-Mughirah. Sedangkan jika dilihat dari jalur Abi Darda’ dan Utsman termasuk generasi kedua. Artinya, transmisi sanad ini yang tertinggi di antara imam qira’at sab’ah yang lain. Maka tak ayal, sebagian ulama qira’at menempatkan Imam asy-Syami ini pada urutan pertama di antara para imam qira’at yang lain karena ketinggian sanadnya, namun sebagian yang lain menempatkan Imam Nafi’ pada ururtan yang pertama karena kemulyaan tempatnya, yaitu Madinah. Di sanalah jasad manusia terbaik dan terluhur akhlaknya di kebumikan.

Komentar Ulama

Imam Yahya bin al-harits berkata: Ibnu Amir adalah ulama yang berpegang teguh dengan sunnah Nabi, ia tidak mau melihat kebid’ahan yang berlaku di sekelilingnya kecuali ia mengingkari dan mengubahnya.

Murid-muridnya

Kemulyaan dan keluasaan ilmu yang dimiliki oleh Imam asy-Syami ini menjadi magnet untuk penuntut ilmu dari belahan negara Islam saat itu, sehingga mereka datang berbondong-bondong untuk belajar kepadanya secara langsung. Salah satu murid-murid beliau adalah: (1) Yahya bin al-Harits al-Dzimari, ia sebagai pengganti dan menempati posisinya dalam soal kepakaran bacaan Al-Qur’an, (2) Abdurrahman bin Amir, Rabi’ah bin Yazid, saudara Imam Ibnu Amir sendiri, (3) Ja’far bin Rabi’ah, (4) Ismail bin Abdullah bin Abi al-Muhajir, (5) Said bin Abdul Aziz Khallad bin Yazid bin Shabih al-Murri, (6) Yazid bin Abi Malik. 

Setelah banyak berkontribusi dalam bidang kehakiman dan qira’at Al-Qur’an di Damaskus, pada umur sembilan puluh tujuh, Allah sebagai pemilik jiwa dan raga manusia, memanggilnya pada bulan Asyura’ tahun 128 H di kota Damaskus. Semoga Allah menempatkannya di surga-Nya yang paling tinggi dan kita mendapatkan barokah ilmunya. Amin.

Perawinya dalam Bidang Qira’at Al-Qur’an

Dalam ilmu qira’at, setiap imam qira’at memiliki dua perawi dan di antara kedua perawi tersebut memiliki perbedaan soal bacaan yang diterima dari imam qira’at. Perbedaan itu ada yang tajam dan ada yang relatif sedikit perbedaannya. Selain perbedaan bacaan yang diterima oleh perawi, jalur transmisi bacaannya pun ada yang yang langsung diterima dari imam qira’at tanpa perantara dan ada yang melalui jalur perantara murid-muridnya. 

Kedua perawi Imam Ibnu Amir ini nyaris tidak ada perbedaan yang mencolok soal bacaannya dan keduanya juga tidak menerima langsung dari imam qira’atnya, yakni melalui jalur perantara. Kedua perawi Imam asy-Syami tersebut adalah: Hisyam bin Ammar dan Ibnu Dzakwan.

1. Hisyam bin Ammar

Namanya adalah Hisyam bin Ammar bin Nashir bin Maisarah al-Sullami al-Dimasyqi, panggilannya adalah Abu al-Walid. 

Lahir pada tahun 153 H, masa pemerintahan khalifah al-Mansur. 

Beliau adalah seorang panutan dan imam masyarakat kota Damaskus. Selain sebagai imam dan panutan masyarakat kota Damaskus, beliau juga dikenal sebagai khatib, (orator: muballigh), muqri’, muhaddits, dan menjabat sebagai mufti, yang mendapatkan predikat tsiqah, (terpercaya) dhabt (cekatan: kuat hafalannya), adil dalam menjalannya amanah, fasih (penyampaiannya), sangat alim, dan luas ilmunya, baik dari sisi riwayah maupun dirayah-nya.

Imam Hisyam merupakan seorang imam yang mengabdikan diri hanya untuk mengajar Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Perjalanan Intelektualnya dan Transmisi Sanadnya

Perjalanan intelektual beliau dimulai belajar dari satu guru ke guru yang lain, layaknya seorang penuntut ilmu yang haus akan cahaya ilmu. Dalam catatan sejarah, ia belajar qira’at Al-Qur’an kepada beberapa guru, salah satunya adalah Syaikh Irak al-Murri, dan Ayyub bin Tamim dari Yahya al-Dzimari dari Abdullah bin Amir dari Abu Darda’ dan al-Mughirah hingga sampai kepada Nabi SAW. 

Sebagian riwayat mencatat bahwa beliau belajar sebagian huruf (qira’at) dari Imam Atabah bin Hammad, dan Abi Dihyah Ma’la bin Dihyah dari Nafi’, yang bersambung sanadnya sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam bidang hadits beliau meriwayatkan dari beberapa para imam besar pada masanya, salah satunya adalah Imam Malik bin Anas, Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid al-Zanji, Ismail bin Ayyasy, Sulaiman bin Musa al-Zuhri.

Imam Hisyam bercerita tentang pribadinya, sebagaimana disampaikan oleh Imam Muhammad bin al-Faidh al-Ghassani: Ayah saya menjual rumahnya dengan harga 20 dinar, untuk bekal haji saya. Ketika saya sampai di Madinah, saya mendatangi majlis imam Malik. Saya punya beberapa pertanyaan (untuk ditanyakan kepadanya). Kemudian saya mendekat kepadanya, sementara beliau sedang duduk di depan seperti layaknya seorang raja. Sementara murid-santirnya berdiri. Banyak orang bertanya kepadanya, dan dijawab oleh beliau. Kemudian saya bertanya kepadanya: Apa yang akan Anda katakan tentang hal ini?. Kemudian beliau hanya menjawab: kita mendapati seorang anak kecil, wahai murid, bawalah ia kemari. Kemudian murid-murid itu membawaku layaknya anak kecil, padahal saya adalah orang yang (mudrik) berpengetahuan. Kemudian beliau mencambuk saya layaknya seorang guru mencambuk muridnya dengan tujuh belas kali cambukan. Saya pun menangis. Beliau bertanya: “Kenapa kamu menangis, apakah ini menyakitkanmu?. saya pun menjawab: “Ayah saya menjual rumahnya dan menasehati saya untuk menemuimu, menyimak pengajianmu tapi kamu malah memukulku. Imam Malik berkata: “Tulislah”...kemudian Imam Malik meriwayatkan tujuh belas hadits kepada saya dan menjawab semua pertanyaan saya.

Cerita di atas, menunjukkan kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu hingga harus mengorbankan harta dan raganya.

Imam al-Ahwazi menceritakan bahwa ia mendengar dari imam Hisyam berkata: “Selama kurun waktu dua puluh tahun, saya tidak menyiapkan (teks) khutbah (dalam berceramah)”. Ini artinya bahwa imam Hisyam merupakan orang yang sangat fasih dalam bidang bahasa Arab. 

Imam Ahmad bin Muhammad al-Ashbahani berkata: “Sejak wafatnya Ayyub bin Tamim, kepakaran dalam bidang qira’at berpindah pada dua orang, Hisyam dan Ibnu Dzakwan. Hisyam dikenal sebagai orator yang piawai dan fasih, dianugrahi umur yang panjang, sehat akal dan pandangannya, sehingga banyak penuntut ilmu belajar kepadanya. Sementara Ibnu Dzakwan dikenal sebagai perawi yang dhabit (cekatan) dan menjadi panutan masyarakat dan imam shalat masyarakat Damaskus.

Keistimewaan Imam Hisyam

Imam Hisyam termasuk hamba Allah yang dekat dengan-Nya dan cepat terkabul doanya. Imam Abu Ubaidillah al-Humaidi menceritakan bahwa Imam Hisyam berkata: Saya memohon kepada Allah tujuh permohonan, namun Allah hanya mengabulkan enam permohonan saya. Saya tidak tahu apakah permintaan saya yang ke tujuh dikabulkan atau tidak. Pertama, saya memohon kepada-Nya supaya membenarkan hadits Nabi Muhammad Saw,. Allah mengabulkannya. Kedua, saya memohon kepada-Nya agar saya bisa berangkat haji, Allah mengabulkannya. Ketiga, saya memohon kepada-Nya supaya saya berumur panjang hingga melewati seratus tahun, Allah mengabulkannya. Keempat, saya memohon kepada-Nya supaya dianugrahkan harta 100 dinar yang halal, Allah mengabulkannya. Kelima, saya memohon kepada-Nya agar saya memiliki murid yang banyak, atau mereka datang ke saya untuk menuntut ilmu kepada saya, Allah mengabulkannya. Keenam saya memohon kepada-Nya agar saya dapat berkhutbah di masjid Damaskus, Allah mengabulkannya. Sementara permohonan saya yang ke tujuh agar Allah mengampuni dosa-dosa saya dan kedua orang tua saya, namun saya tidak tahu apa yang akan diberikan oleh Allah atas permohonan saya.

Komentar Ulama

Imam al-Ashbahani berkata: Imam Hisyam dianugrahkan umur yang panjang, sehat akal dan pandangannya, sehingga banyak orang yang belajar kepadanya dalam bidang ilmu qira’at dan hadits.

Imam Yahya bin Ma’in berkata: Hisyam bin Ammar adalah orang yang pintar. 

Ibnu Ma’in juga berkata: Hisyam bin Ammar lebih saya sukai daripada Ibnu Abi Malik.

Karya-karya Imam Hisyam

Karya terbesar seorang ulama adalah generasi yang melanjutkan estafet keilmuannya. Dalam hal ini adalah para murid-muridnya yang menjadi jariyahnya kelak di akhirat. Karya ini dikenal dengan sebutan karya ideologis. Sementara karya yang berbentuk tulisan, penulis tidak menemukannya, hanya saja ada sebuah ungkapannya yang bagus dan fasih sebagai karyanya, yaitu: 

قولوا الحق، ينزلكم الحق منازل أهل الحق، يوم لايقضي إلا بالحق

"Katakan yang haq, kalian akan ditempatkan oleh Dzat yang Maha Haq bersama dengan para penghuni yang haq, di hari yang tidak ada pengadilan kecuali dengan haq."

Murid-murid Imam Hisyam

Sebagaimana telah disinggung di depan bahwa salah satu permohonan imam Hisyam adalah memiliki murid yang banyak, maka Allah mengabulkannya. Salah satu dari sekian murid beliau dalam bidang qira’at Al-Qur’an adalah: Abu Ubaid bin al-Qasim bin Sallam, Ahmad bin Yazid al-Hulwani, Musa bin Jumhur, al-Abbas bin al-Fadhl, Ahmad bin al-Nadhr, Harun bin Musa al-Akhfasy.

Sementara dalam bidang hadits, ulama muhaddisin yang meriwayatkan hadits-haditsnya adalah Imam al-Bukhari dalam kitab shahihnya, Imam Abu Daud, al-Nasa’I, Ibnu Majah dalam kitab “sunan” mereka, Ja’far al-Gharyani, Abu Zar'ah al-Dimasyqi. Sementara Imam al-Turmudzi meriwayatkan dari seseorang atau perawi yang meriwayatkan dari Hisyam.

Para kritikus hadits banyak memuji dan menta’dil-kan riwayat hadits-haditsnya, salah satunya adalah imam Yahya bin Ma’in yang memberi predikat kepadanya “tsiqah” dan al-Daruqatni memberi predikat kepadanya “Sadhuq kabir al-Mahal”.

Setelah mengorbankan harga dan raganya untuk mengabdi pada kitab Allah, pada tahun 245 H beliau dipanggil oleh pemiliknya. Semoga kita dapat meniru kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu dan keberkahannya mengalir kepada kita. Amin. 

2. Ibnu Dzakwan

Namanya adalah Abdullah bin Basyar (sebagian riwayat namanya: Basyir) bin Ibnu Dzakwan bin Amr. Panggilannya adalah Abu Muhammad, ada yang mengatakan Abu Amr al-Dimasyqi.

Ibnu Dzakwan merupakan seorang imam yang tsiqah dan terkenal, juga sebagai syaikh iqra’ di Syam dan menjadi imam masjid di Damaskus. Selain itu, ia juga merupakan pamungkas masyikhah iqra’ di Damaskus setelah wafatnya Imam Hisyam bin Ammar.

Beliau lahir pada bulan Asyura’ tahun 173 H. 

Perjalanan intelektual dan Transmisi Sanadnya

Perjalanan intelektual imam Ibnu Dzakwan ini dimulai belajar satu guru ke guru yang lain. Ada banyak guru dan tempat yang sempat ia singgahi namun dari sekian gurunya yang paling dikenal adalah: (1) Ayyub bin Tamim dari Yahya al-Dzimari dari Ibnu Amir. Kepada imam Ayyub ini beliau belajar qira’at Al-Qur’an secara langsung. (2) Ali al-Kisa’I, seorang imam qira’at ketujuh. Kepada Imam Ali ini, Ibnu Dzakwan belajar qira’at saat beliau berkunjung ke negara Syam. Imam Ibnu Dzakwan berkata: saya menetap bersama al-Kisa’I selama tujuh bulan dan saya membaca Al-Qur’an kepadanya berulangkali. (3) Ishaq bin al-Musayyibi dari Imam Nafi’. Kepada ishaq ini, Ibnu Dzakwan belajar sebagian “huruf” qira’at.

Komentar Ulama

Imam Abu Zar'ah al-Dimasyqi berkata: Menurut saya tidak ada di Iraq, Syam, Hijaz, Mesir dan Kharrasan pada masa Ibnu Dzakwan yang paling mahir soal qira’at dibanding dia.

Karya-karya Ibnu Dzakwan

Karya yang berbentuk tulisan adalah sebagai berikut: (1) Aqsam Al-Qur’an wa Jawabuha, (2) Ma Yajibu ‘Ala Qari’ Al-Qur’an Inda harakati Lisanihi.

Murid-muridnya

Imam Ibnu Dzakwan adalah seorang imam yang sangat terkenal pada masanya, beliau memiliki predikat tsiqah dan sebagai masyikhah iqra’ di Damaskus. Maka tak ayal jika banyak para penuntut ilmu yang datang dari berbagai belahan dunia Islam, salah satunya adalah anaknya sendiri, yaitu Ahmad bin Abdullah bin Dzakwan, Ahmad bin Anas, Ishaq bin Daud, Abu Zar’ah Abdurrahman bin Amr al-Dimasyq, Abdullah bin Isa al-Ashbahani, Muhammad bin Ismail al-Turmudzi, Muhammad bin Musa al-Shuri dan Harun bin Musa al-Akhfasy.

Setelah mengerahkan jiwa dan raga untuk mengabdi kepada kitab Allah dan menorehkan karya yang gemilang, beliau wafat pada tahun 243 H di kota Qita. Semoga kita mendapatkan barokah dan meniru perjalanan hidupnya. Amin.

 
Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo 

(Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa Ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi [Kairo: Maktabah al-Qahirah], 2010, hal, 23-25; dan "Mu'jam Huffadz Al-Qur'an Abra al-Tarikh" karya Salim Muhaisin, Jilid I [Bairut: Dar al-Jayl], 1992)

Share:
Rabu 30 Januari 2019 22:15 WIB
Abu Amr al-Bashri, Imam Qiraat dengan Guru Terbanyak
Abu Amr al-Bashri, Imam Qiraat dengan Guru Terbanyak
Ilustrasi
Basrah merupakan kota terbesar kedua di Irak. Pada zaman dahulu, selain sebagai pusat ilmu, Basrah merupakan pusat perkantoran dan politik pemerintahan Islam. Secara geografis, Basrah terletak di selatan Irak. Ia dikenal dan dikenang oleh sejarah karena banyak melahirkan intelektual dan ilmuwan, salah satunya adalah Abu al-Aswad al-Du’ali, Muhammad bin Sirin, al-Mubarrad, Khalil bin Ahmad, Sibawaih, Hammad bin Salamah, Al-Mawardi, al-Farazdaq, Abu Musa al-Asy’ari dan Hasan al-Bashri.

Dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan qira’at, Basrah melahirkan seorang ilmuwan yang zuhud, yaitu Imam Abu Amr al-Bashri. Ia merupakan salah satu imam qira’at sab’ah yang lahir di Makkah tahun 70 H. Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau lahir pada tahun 68 H.

Namanya Zabban bin al-Ala’ bin Ammar bin al-Uryan bin Abdullah bin al-Husain bin al-Harits bin Jalhamah. Ia dikenal dengan sebutan al-Imam as-Sayyid Abu Amr al-Tamimi al-Mazini al-Bashri. Nasabnya bersambung kepada Adnan, buyut Nabi Muhammad ﷺ.

Perjalanan Intelektualnya 

Sejak kecil hingga remaja, beliau hidup di Makkah,. Di sana beliau belajar kepada banyak guru. Selain belajar di Makkah, beliau juga belajar kepada masyayikh di Madinah. 

Setelah beranjak remaja, saat ada kejadian para hujjaj di Makkah, beliau melakukan perjalanan (migrasi) ke Basrah, kemudian menetap di sana hingga menjadi imam dan panutan masyarakat Basrah.

Imam al-Bashri merupakan imam qira’at yang memiliki paling banyak guru. Tidak ada satu pun imam qira’at sab’ah yang lebih banyak gurunya dibandingkan Abu Amr.

Selain belajar di Makkah dan Madinah, ia juga belajar kepada banyak guru Kufah dan Basrah. Selama dalam perjalanan intelektualnya, ia tercatat pernah mendengar langsung (hadis) dari sahabat Anas bin Malik dan para sahabat yang lain. Oleh karena itu, maka wajar beliau dianggap sebagai imam qira’at yang banyak memiliki guru. Ada empat negara yang menjadi tempat persinggahan beliau dalam perjalanan intelektualnya, yaitu Makkah, Madinah, Kufah dan Basrah. 

Dalam bidang hadis, para kritikus hadis memberi predikat kepadanya sebagai tsiqah (terpercaya) dan shaduq (sangat jujur).

Guru dan Silsilah Sanadnya

Dalam ilmu Al-Qur’an dan qira’at, transmisi periwayatan merupakan salah satu unsur yang paling penting. Tanpa transmisi periwayatan yang jelas dan mutawatir, maka periwayatan tersebut dianggap syadz. Oleh karena itu, dalam transmisi periwayatan Imam al-Bashri memiliki kemutawatiran yang sangat jelas dan dapat dipertangung-jawabkan. Berikut adalah transmisi periwayatan Imam al-Bashri.

Dalam bidang Al-Qur’an dan qira’at beliau belajar kepada: (1) al-Hasan bin Abi al-hasan al-Bashri, (2) Abi Ja’far, (3) Humaid bin Qays al-A’raj al-Makki, (4) Abi al-Aliyah, (5) Yazid bin Ruman, (6) Syaibah bin Nashshah, (7) Ashim bin Abi al-Najud, (8) Abdullah bin Katsir, (8) Abdullah bin Ishaq al-Hadrami, (9) Atha’ bin Abi Rabah, (10) Ikrimah bin Khalid al-Makhzumi, (11) Ikrimah pembantu Ibnu Abbas, (12) Mujahid bin Jabar, (13) Muhammad bin Muhaishin, (14) Nashr bin Ashim, (15) Yahya bin Yakmur, (16) Said bin Jubair.

Berikut adalah silsilah sanad Imam al-Bashri bersambung kepada Nabi Muhammad ﷺ,.

1. Al-Hasan bin Abi al-Hasan belajar kepada dua orang guru: (1) Haththan bin Abdullah bin al-Raqasyi, beliau belajar kepada Abu Musa al-’Asy’ari, beliau belajar kepada Nabi Muhammad ﷺ. (2) Abi al-Aliyah al-Riyahiy belajar kapada Umar bin al-Khattab, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, dan Ibnu Abbas. Mereka berempat belajar kepada Nabi Muhammad ﷺ,.

2. Humaid belajar kepada Mujahid bin Jabar, beliau belajar kepada Abdullah bin al-Saib dan Sayyidina Abdullah bin Abbas. Abdullah bin al-Saib belajar kepada Umar bin Khattab dan Ubay bin Ka’ab, kedua-duanya belajar kepada Nabi Muhammad ﷺ. Sedangkan Abdullah bin Abbas belajar kepada Ubay dan Zaid bin Tsabit, dan kedua-duanya belajar kepada Nabi Muhammad ﷺ.

3. Yazid dan Syaibah bin Nashshah, kedua-duanya belajar kepada Abdullah bin Ayyasy dan beliau belajar kapada Ubay bin Ka’ab, dari Nabi Muhammad ﷺ.

4. Ibnu Katsir belajar kepada tiga guru, yaitu sebagai berikut: (1) Abdullah bin al-Saib belajar kepada sahabat Ubay bin Ka’ab dan Sayyidina Umar bin Khattab, keduanya menerima bacaan dari Nabi Muhammad ﷺ, (2) Mujahid bin Jabar belajar kepada Abdullah bin al-Saib dan Sayyidina Abdullah bin Abbas. (3) Darbas belajar kepada sayyidina Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Abbas belajar kepada Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Keduanya belajar langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ.

5. Ashim bin Abi al-Najud belajar kepada tiga guru, yaitu (1) Abu Abdurrahman al-Sullami. (2) Zir bin Hubaisy dan, (3) Sa’ad bin Ilyas al-Syaibani. Abu Abdurrahman al-Sullami belajar kepada Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit, mereka menerima dari Nabi Muhammad ﷺ. Sedangkan Zir dan Sa’ad bin Ilyas belajar kepada Abdullah bin Mas’ud dari Nabi Muhammad ﷺ.

6. Abdullah bin Ishaq membaca kepada dua orang, yaitu: Yahya bin Yakmur dan Nashr bin Ashim dan kedu-duanya membaca kepada Abu al-Aswad al-Duali, beliau dari Utsman bin Affan, dari Nabi Muhammad ﷺ.

7. Atha’ membaca Al-Qur’an kepada Abu Hurairah, beliau membaca kepada Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit, kedua-duanya dari Nabi Muhammad ﷺ.

8. Ikrimah bin Khalid belajar kepada murid-muridnya Ibnu Abbas dan Ibnu Abbas membaca kepada Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit. Keduanya belajar langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ.

9. Ikrimah pembantu Ibnu Abbas membaca kepada Ibnu Abbas, sanadnya telah disebutkan di atas.

10. Ibnu Muhaisin belajar kapada Darbas dan Mujahid, sanadnya telah disebutkan di atas.

Komentar Ulama

Abu Amr, dengan kemulyaan (ilmu) yang dimilikinya, tidak ada yang meragukan kedudukan dan kealimannya. Beliau adalah orang yang mahir dalam bidang bahasa arab dan segala hal yang berkaitan dengannya.

Imam Farazdaq dan kalangan penyair yang lain memujinya dengan menyatakan: “Dia adalah orang yang paling mengerti tentang Al-Qur’an dan gramatikal bahasa Arab, sejarah Arab dan syair-syairnya. Ia merupakan orang yang jujur, tsiqah, amanah, Zahid dan agamis.

Imam al-Ashmu’I bercerita bahwa imam Abu Amr berkata kepadanya: “Andai saja saya tidak belajar dan membaca sebagaimana dia (guru qira’atnya) membaca, niscara saya akan membaca begini dan begini dari beberapa huruf (qira’at)”. Artinya, andai saja tidak belajar kepada seorang guru dalam membaca Al-Qur’an dan qira’at, niscaya beliau mampu membaca Al-Qur’an sesuai dengan kehendaknya.

Imam al-Ashmu’I juga bercerita bahwa Abu Amr berkata: “Saya tidak menemui seorang sebelumku yang lebih mengerti daripada saya (tentang bahasa Arab)”.

Imam al-Asmu’I menimpali: “saya pun tidak menemukan seorang setelahnya yang lebih alim darinya”.

Yunus bin Habib al-Nahwi berkata: “Andai saja ada orang yang pantas untuk diambil ucapannya dalam hal apapun, niscaya ucapan Abu Amr yang paling pantas untuk diambil (ucapannya)”.

Ibnu Katsir berkata dalam karyanya “al-Bidayah wa al-Hinayah”: “Abu Amr adalah orang yang paling alim di zamannya dalam bidang qira’at, Nahwu dan fiqh, dan dia termasuk ulama yang mengamalkan ilmunya (ulama’ al-amilin). Jika sudah masuk bulan ramadhan, beliau tidak menggubah atau menulis sebuah syair hingga ramadhan selesai, karena beliau hanya sibuk membaca Al-Qur’an”.

Abu Ubaidah berkata: “buku-buku Abu Amr sangat banyak dirumahnya hingga menumpuk sampai loteng rumahnya, namun seluruh buku-buku tersebut dibakar hanya karena ingin fokus beribadah dan menjalani riyadhah menghatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari sekali.

Imam al-Akhfasy berkata: “imam Hasan al-Bashri melewati halaqahnya Abu Amr yang penuh sesak dengan manusia, mereka menyimak penuh perhatian apa yang disampaikan oleh Abu Amr. Kemudian ia bertanya: “Siapakah dia?. Mereka menjawab: “Abu Amr al-Bashri”. kemudian Imam Hasan al-Bashri tersentak kaget sambil mengucapkan kalimat tahlil, kemudian berkata: “hampir saja ulama menjadi tuhan”.

Kemudian Hasan berkata: “Setiap kemulyaan yang tidak dihimpun oleh ilmu, maka kepada kehinaan ia kembali”.

Imam Sufyan bin Uyainah berkata: “Saya bermimpi bertemu dengan Nabi, kemudian saya bertanya kepada Beliau: “Ya Rasulallah, benar-banar terjadi perbedaan di tengah-tengah masyarakat dalam hal membaca Al-Qur’an, maka dengan qira’ahnya siapa panjenangan menganjurkan saya membacanya?. Nabi menjawab: “Bacalah qira’at Imam Abu Amr bin al-Ala’”. 

Imam Abu Amr al-Asadi berkata: “Saat saya takziyah atas wafatnya Imam Abu Amr, saya menghampiri putra-putranya untuk mengucapkan bela sungkawa. Saat saya duduk dengan mereka, kemudian Yunus bin Hubaib menyambut kami dengan ungkapan: “saya ucapkan bela sungkawa kepada kalian, dan kepada kami semua, karena merasa kehilangan orang yang tidak ada bandinganya (kealimannya) di akhir zaman ini. Demi Allah, andaikan ilmu dan kezuhudan Imam al-Bashri ini dibagikan kepada seratus orang, niscaya mereka akan menjadi ulama dan zahid semuanya. Demi Allah, andai Nabi melihatnya, Beliau pasti senang”.

Murid-muridnya

Ada banyak santri yang belajar kepadanya, baik dalam bentuk setoran maupun hanya menyimak, yang tidak terhitung jumlahnya. Salah satunya adalah: Abu Zaid bin Aus, Sallam bin Sulaiman al-Thawil, Sahal bin Yusuf, Syuja’ bin Abu Nashr al-Balkhi, Al-Abbas bin al-Fasl, Abdullah bin Mubarak, Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi, Sibawaih dan Yunus bin Habib, keduanya merupakan maha guru Nahwu.

Secara spesifik Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi, Sibawaih dan Yunus bin Habib, Khalil bin Ahmad belajar Nahwu kepadanya.

Adapun yang belajar ilmu adab (syair dan yang terkait) kepadanya sangat banyak sekali, salah satunya adalah Abu Ubaidah bin Muammar bin al-Mutsanna, al-Ashmu’I dan Muadz bin Muslim al-Nahwi.

Sebagian sejarawan mencatat, bahwa ketika ditanyakan kapan sebaikanya seorang belajar?. beliau menjawab: “Sebaikanya ia belajar selama masih hidup”.

Dalam cincinya tertulis: “Sesungguhnya seorang tujuan terbesarnya adalah dunia, maka ia berpegang teguh pada tali kebohongan”.

Setelah mengabdi dan berkhidmat kepada Al-Qur’an dan qira’atnya, beliau wafat di Kufah pada tahun 154 H menurut kebanyakan ahli sejarah, umurnya mendekati 90 tahun. 

Perawi Imam Abu Amr al-Bashri

Sebagaimana telah dipaparkan pada edisi sebelumnya, (profil Imam Ibnu Katsir) bahwa dalam transmisi periwayatan qira’at Al-Qur’an ada dua model: (1) perawi tanpa perantara, (2) perawi melalui perantara. 

Dalam riwayat bacaan Imam Abu Amr, kedua perawinya meriwayatkan bacaan Imam Abu Amr al-Bashri melalui jalur perantara. Perawi tersebut adalah, imam Hafs al-Duri, dan imam al-Susi.

1. Imam al-Duri

Nama lengkapnya adalah Hafs bin Umar bin Abdul Aziz bin Shuhban bin Adi bin Shuhban al-Duri al-Azdi al-Baghdadi. Panggilannya adalah Abu Umar. Beliau lebih dikenal dengan sebutan al-Duri, dinisbatkan kepada desa “al-Dur”, sebuah tempat di sebelah timur Baghdad.

Beliau merupakan ulama yang ahli dalam ilmu qira’at (al-Muqri’) dan ahli gramatikal bahasa arab. Meskipun demikian, beliau salah satu hamba Allah yang diberikan kesempurnaan ilmu namun kekurangan soal fisik, yaitu mata yang tidak bisa melihat secara sempurna; buta.

Selain sebagai perawi dari bacaan imam Abu Amr al-Bashri, beliau sekaligus menjadi perawi dari Imam Ali al-Kisa’I; Imam Qira’at ke tujuh.

Lahir pada tahun 150 H di desa “al-Dur” pada masa pemerintahan al-Mansur, khalifah Ummayyah.

Pada masanya, beliau dikenal sebagai imam qurra’ (guru para qari’), sekaligus guru masyarakat umum, khususnya di daerah Iraq. Dengan kealimannya, ia mendapatkan predikat dari para ulama sebagai orang yang tsiqah, tsabat dan dhabit. Beliau merupakan orang yang pertama menyusun qira’at dan mendokumentasikannya.

Imam al-Duri ini merupakan salah satu imam yang memiliki kesungguhan dan ketelatenan soal ilmu. Terbukti, ia banyak belajar kepada guru pada masanya, salah satunya adalah: Imam Nafi’, Ismail bin Jakfar, Ya’kub bin Jakfar, Sulaim dari Imam Hamzah, Muhmmad bin Sa’dan dari Imam Hamzah dan Imam Ali al-Kisa’I. Maka tak heran, bila imam al-Ahwazi berkomentar: “ beliau pergi jauh untuk meraih ilmu qira’at, dan mempelajari semua bacaan, baik yang mutawatir, shahih, maupun yang syadz. Dengan demikian, banyak santri yang ingin belajar kepadanya dari berbagai penjuru karena keluhuran sanadnya dan keluasan ilmunya”.

Di antara santri-santrinya adalah: Ahmad bin Harb syaikh al-Mutthawwa’I, Abu Ja’far Ahmad bin Farah, Ahmad bin Yazid al-Hulwani dan Muhammad bin Hamdun al-Qathi’I. 

Dalam meriwayatkan qira’at Abu Amr, beliau meriwayatkan melalui Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi dari Abu Amr al-Bashri. Artinya, antara perawi dan imam qira’at hanya melalui satu jalur.

Dalam bidang hadis, hadis-hadis imam al-Duri dapat ditemuakan dalam kitab Sunan Ibnu Majah. Imam Abu Hatim men-takdil-nya dengan sebutan “Shoduq”, sangat jujur.

Karya-karya Imam al-Duri

Selain piawai dalam bacaan Al-Qur’an dan qira’atnya dalam bentuk oral, beliau juga piawai dalam bentuk tulisan, yang kemudian menjadi sebuah karya yang abadi dan terus dipelajari oleh generasi setelahnya. Diantara karya-karyanya adalah: “ma ittafaqat al-fadzuhu wa ma’anihi min Al-Qur’an, Ahkam Al-Qur’an wa al-Sunan, Fadlail Al-Qur’an, dan Ajza’I Al-Qur’an”.

Imam Abu Daud berkata: “saya melihat Imam Ahmad bin Hambal menulis tentang Al-Duri, ia merupakan imam yang panjang umurnya (lama) dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, banyak orang yang mengambil manfaat atas keluasan ilmunya dari seluruh penjuru, sehingga ia wafat pada bulan syawal tahun 246 H pada masa pemerintahan al-Mutawakkil”.

2. Imam al-Susi

Nama lengkapnya adalah shaleh bin Ziyad bin Abdullah bin Ismail bin Ibrahim bin al-Jarud al-Susi. Kata “al-Susi” dinisbatkan pada sebuah kota di Ahwaz. Beliau merupakan imam muqri’ yang memiliki kekuatan hafalan yang sempurna (dhabit), penyampaian yang tajam (muharrir), dan terpercaya (tsiqah).

Beliau dilahirkan pada tahun 170 H.

Dalam meriwayatkan qira’at Imam Abu Amr, beliau meriwayatkan malalui jalur Yahya bin al-Mubarak al-Yazidi, satu perguruan dengan Imam al-Duri. Namun Imam al-Susi termasuk santri senior.

Meskipun satu perguruan, antara Imam al-Susi dan Imam al-Duri memiliki banyak perbedaan soal ushul qira’atnya. Imam al-Susi lebih dikenal dengan bacaan “idgham kabirnya”, yang hampir tidak ada dalam riwayat Imam al-Duri, dari jalur Syatibiyah. 

Dalam bidang qira’at yang belajar kepada Imam al-Susi adalah anaknya sendiri, Muhammad, Muhammad bin Jarir al-Nahwi, Abu al-harits Muhammad bin Ahmad al-Tharsusi, Muhammad bin Syuaib al-Nasa’I, Muhammad bin Ismail al-Quraisy dan Musa bin Jumhur.

Dalam bidang hadis, para kritikus hadis memberi predikat “Shaduq” kepadanya, seperti yang disampaikan oleh Imam Hatim. Ada banyak yang meriwayatkan hadis dari beliau, salah satunya adalah Abu Bakar bin Abu Ashim, Abu Arubah al-Harrani dan al-Hafidz Muhammad bin Said.

Setelah mengabdi dan berkhidmah untuk Al-Qur’an, beliau dipanggil oleh sang pemilik semesta pada tahun 261 H.


Ustadz Moh. Fathurrozi, Pecinta Ilmu Qira’at, Kaprodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo


Tulisan disadur dari kitab “Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa ruwwatuhum” karya Syekh Abdul Fattah al-Qadhi, Kairo: Maktabah al-Qahirah, 2010, hal, 19-22

Selasa 22 Januari 2019 18:0 WIB
Tips Imam al-Ghazali tentang Membaca Al-Qur’an hingga Menangis
Tips Imam al-Ghazali tentang Membaca Al-Qur’an hingga Menangis
Ilustrasi (thenational.ae)
Abdullah bin Mas’ud adalah salah satu qari’ kepercayaan Rasulullah ﷺ. Ketika Nabi memanggilnya, itu artinya ada hal penting, salah satunya: Rasul ﷺ akan mengajarkan ayat Al-Qur’an, wahyu yang baru saja turun.

Namun, hari itu tidak seperti biasanya. Rasul ﷺ memanggilnya bukan untuk mengajarkan salah satu ayat. Rasul ﷺ malah memerintahkannya untuk membacakan sebuah ayat.

Abdullah bin Masud agak bingung. Tidak seperti biasanya Rasul ﷺ seperti itu. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Wahai Rasul ﷺ, apakah aku layak untuk membacakanmu sebuah ayat dari Al-Qur’an? Bukankah engkau yang lebih layak? Kepada engkaulah Al-Qur’an itu diturunkan,” protes Ibnu Mas’ud.

“Bacalah saja, aku ingin mendengarnya dari orang lain,” jawab Rasul.

Tak ingin membantah, Ibnu Mas’ud pun mulai membaca Al-Qur’an. Ia membaca Surat an-Nisa hingga sampai pada suatu ayat, “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.”

Rasul memotong bacaan Ibn Masud, “Berhenti!” Ibn Masud melihat mata Rasul ﷺ telah menitikkan air mata. Kisah ini bisa ditemui dalam kitab Sahih Bukhari riwayat Ibn Masud.

Begitulah Rasul ﷺ saat dibacakan Al-Qur’an, ia menangis, tanda kalau ia menghayati bacaannya. Itulah mengapa, menangis menjadi salah satu kesunhahan saat membaca Al-Qur’an, tanda bahwa sang qari tersebut menghayati bacaannya hingga menangis, walaupun hal ini tidak bisa menjadi parameter penuh.

Baca juga:
Ayat Al-Qur'an yang Membuat Rasulullah Menangis
Hukum Menangis dan Pura-pura Menangis saat Membaca Al-Qur'an

Rasulullah ﷺ sendiri pernah bersabda:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا

Artinya, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan kesedihan, jika kalian membacanya, maka menangislah, dan jika tidak bisa menangis, maka pura-puralah untuk menangis.” (Ibn Majjah, Sunan Ibn Majjah, [Beirut: Dar al-Fikr, t.t], h. 424).

Pura-pura menangis yang dimaksud dalam hal ini adalah berusaha atau memaksa agar mampu menangis. Imam al-Ghazali memberikan beberapa tips agar kita mampu membaca Al-Qur’an dengan menghayatinya, hingga kita mampu menangis.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas, pertama yang harus dilakukan oleh seorang qari adalah menghadirkan rasa sedih saat membaca Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an diturunkan dengan kesedihan.

وقال الإمام: وإنما طريق تكلف البكاء أن يخضر قلبه الحزن 

Artinya, “Imam al-Ghazali berkata: Sesungguhnya cara untuk memaksa diri agar bisa menangis (saat membaca Al-Qur’an) adalah dengan menghadirkan rasa sedih dalam hati.” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 165)

Tentunya, rasa sedih tidak mungkin bisa serta merta hadir. Lalu bagaimana caranya agar rasa sedih itu bisa hadir?

Imam al-Ghazali melanjutkan:

ووجه إحضار الحزن أن يتأمل ما فيه من التهديد والوعيد والمواثيق والعهود، ثم يتأمل تقصيره في أوامره وزواجره فيحزن لا محالة ويبكي

Artinya, “Cara menghadirkan rasa sedih adalah dengan merenungkan ancaman dan janji-janji Allah ﷻ. Kemudian merenungkan kelalaian kita dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah ﷻ tentu kesedihan akan tak dapat terelakkan, kemudian menangis.” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, (Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004), j. 1, h. 165)

Jika hal-hal di atas, mulai mengingat ancaman, siksaan, dosa, dan lain sebagainya, tidak mampu membuat kita menangis, maka, menurut al-Ghazali, hal itu merupakan musibah terbesar dalam hidup. Wallahu A’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)


Senin 21 Januari 2019 22:30 WIB
Apakah Baca Al-Qur’an dengan Irama Lagu itu Lebih Baik?
Apakah Baca Al-Qur’an dengan Irama Lagu itu Lebih Baik?
Ilustrasi (via aplus.com)
Suara yang bagus adalah sebuah bakat yang tidak dimiliki semua orang, apalagi jika suara indah itu digunakan untuk melantunkan bacaan Al-Qur’an. Tentu, siapa pun yang mendengarnya akan merasa berbeda jika dibandingkan dengan lantunan dari suara orang yang biasa-biasa saja.

Persoalannya, bagaimana dengan nasib orang-orang yang memiliki suara yang biasa-biasa saja? Apakah berbeda pahalanya? Mana yang lebih baik, baca Al-Qur’an dengan nada dan irama lagu disertai suara yang indah, dengan baca Al-Qur’an yang biasa saja, tanpa nada atau suara yang indah?

Melantunkan bacaan Al-Qur’an dengan suara dan indah memang suatu kelebihan tersendiri. Rasulullah SAW menganjurkan bacaan Al-Qur’an dengan suara yang indah. Hal ini disebutkan dalam salah satu hadis riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya.

عن البراء رضي الله عنه ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : زينوا القرآن بأصواتكم ، فإن الصوت الحسن يزيد القرآن حسنا.

Artinya, “Dari al-Barrā’ RA, berkata: Rasulullah SAW bersabda: Hiasilah Al-Qur’an dnegan suaramu, karena sesungguhnya suara yang bagus akan menjadikan bacaan Al-Qur’an bertambah bagus pula.” (al-Hakim, al-Mustadrak, [Beirut: Darul Maʽrifah, t.t], j. 1, h. 575)

Hal ini diperkuat dengan pernyataan Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar an-Nawawi-nya.

ويستحب تحسين الصوت بالقراءة وتزيينها

Artinya, “Disunnahkan memperindah suara bacaan Al-Qur’an dengan menghiasinya (dengan nada atau irama).” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 166)

Namun, kesunahan memperindah bacaan itu bukan berarti tanpa batasan. Para ulama menetapkan koridor tertentu dalam memperindah bacaan Al-Qur’an, yaitu selama tidak melampaui batas. Yang dimaksud melampaui batas dalam hal ini adalah menggunakan lagu atau irama yang justru tanpa sadar dapat merubah bacaan Al-Qur’an, baik merubah bacaan hurufnya, harakatnya, dan lain sebagainya.

ما لم يخرج عن حد القراءة بالتمطيط ، فإن أفرط حتى زاد حرفا أو أخفى حرفا ، هو حرام. وأما القراءة بالألحان، فهي على ما ذكرناه إن أفرط، فحرام، وإلا فلا

Artinya, “Selama tidak melampaui batas, jika melampaui batas sehingga menambah huruf secara jelas atau huruf yang sama, maka haram. Adapun membaca dengan nada atau irama maka hukumnya sebagaimana yang kami jelaskan di atas: jika melampaui batas, haram hukumnya. Jika tidak, maka boleh.” (Muhyiddin Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawi, [Beirut: Dar al-Kutb al-Islamiyah, 2004], j. 1, h. 166)

Dari beberapa referensi di atas, bisa disimpulkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan irama, jika tidak mengubah bacaan Al-Qur’an (menambah huruf secara jelas atau samar), maka lebih utama karena dapat memperindah Al-Qur’an juga. Namun jika menggunakan irama atau lagu justru malah mengubah dan merusak huruf dan makna Al-Qur’an maka lebih baik tidak menggunakan irama atau lagu. Wallahu A’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)