IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian II-Habis)

Kamis 7 Februari 2019 18:0 WIB
Share:
Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian II-Habis)
“Di banyak bagian dari kitab-kitab penganut ajaran Brahmaisme, Majusi, di samping Yahudi dan Nasrani, terdapat teks-teks yang menunjukkan bahwa nama Muhammad telah diperkenalkan di sana,” kata Abbas al-Aqqad dalam bukunya Mathla’ an-Nur. 

Menariknya, pemberitaan tentang nama dan kedatangan Rasulullah tidak hanya terdapat di kitab suci ‘agama samawi’. Informasi tentang nama Nabi Muhammad saw. juga ada dalam kitab-kitab penganut ajaran Majusi, Budha, dan Hindu, dan Brahma. 

Dalam kitab suci umat Hindu, Adharwhidma, misalnya. Nama Muhammad sudah diperkenalkan. Dalam salah satu ayatnya disebutkan, “Wahai manusia, dengarlah dan sadarlah, Muhammad akan diutus diantara manusia, keagungannya dipuji sampai di surga dan dia menjadikan surga itu tunduk kepadanya, dan dia adalah Muhamid.

Begitu pun dalam Bhawisyapurana, kitab Hindu lainnya. Dalam salah satu ayatnya disebutkan tentang kedatangan Nabi Muhammad saw.: “Pada saat itu, diutus lah seorang asing bersama para sahabatnya dengan nama Muhamid yang diberi gelar ‘tuan dunia’ dan raja, ia membersihkan dunia dengan lima pembersih. 

Muhamid dalam kitab umat Hindu tersebut diyakini sebagai Nabi Muhammad saw. Sedangkan yang dimaksud ‘lima pembersih dunia’ dalam ayat tersebut di atas adalah shalat lima waktu. Teks tersebut juga menyebutkan sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka digambarkan sebagai orang yang berkhitan, tidak memotong rambut sebelah, memakan hewan kecuali babi, tidak menggunakan tumbuhan darba untuk membersihkan dosa, dan mereka dinamakan musalli (muslimin). 

Sosok Nabi Muhammad saw. juga terdapat dalam kitab suci Weda dan sejumlah kitab suci umat Hindu yang berbeda-beda lainnya. Dari hasil penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti India, terdapat pribadi ‘Narasyans’ dalam kitab-kitab Hindu tersebut. Narasyans sendiri berasal dari kata nar (manusia) dan asyans (dipuji). Dengan demikian, Narasyans merupakan orang yang dipuji atau orang yang terpuji, sepadan dengan kata Muhammad.    

Baca juga: Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian-I)

Begitu pun mantra-mantra dalam kitab dalam kitab Weda dan kitab suci umat Hindu lainnya. Diantara bunyi mantranya: “Dengarlah manusia dengan penuh hormat, sesungguhnya Narasyans dipuji dan disanjung, sedangkan kita menjaga orang yang berhijrah –orang yang membawa bendera keamanan itu- antara enam puluh ribu sembilan puluh musuh.”

Raghib as-Sirjani dalam bukunya Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (2011) mengemukakan bahwa mantra dalam kitab suci umat Hindu itu menunjuk kepada Nabi Muhammad saw. Teks itu menyebut tentang Narasyans yang dipuji dan disanjung. Menurut Raghib, tidak ada manusia di dunia yang dipuji dan disanjung sebanyak Nabi Muhammad saw. 

Teks mantra itu juga menyebut tentang orang yang behijrah. Dan Nabi Muhammad saw. juga adalah orang yang berhijrah, dari Makkah ke Madinah. Bahkan, hijrah Nabi Muhammad saw. menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Terakhir, teks itu juga menyebutkan tentang jumlah musuh, yaitu enam puluh ribu sembilan puluh. Jumlah ini diyakini mendekati dengan jumlah musuh Rasulullah selama hidupnya.

Mantra lainnya berbunyi: “Kendaraannya adalah unta, istri-istrinya adalah 12 orang. Ia mendapatkan kedudukan yang tinggi dan dengan kecepatan kendaraannya ia dapat menyentuh langit lalu turun.”

Teks mantra ini membuat informasi tentang Nabi Muhammad saw. menjadi detil. Disebutkan juga tentang jenis kendaraannya, jumlah istrinya, dan kemuliannya. Bahkan, di dalam teks itu juga secara tersirat menginformasikan tentang perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. dari Makkah hingga ke Sidratil Muntaha. 

Bukan kah di dalam Al-Qur’an Allah telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia telah mengutus seorang pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan bagi setiap umat. Sebagaimana dalam QS Fathir ayat 24:”Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tiada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Kamis 7 Februari 2019 6:0 WIB
Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian-I)
Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian-I)
Nabi Muhammad saw. tidak membawa ajaran baru. Ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. adalah sebagai penyempurna dari ajaran-ajaran tauhid yang pernah didakwahkan para nabi dan rasul terdahulu. Jadi, sebetulnya ajaran nabi terdahulu dengan ajaran dengan yang dibawa Nabi Muhammad saw. saling terkait dan tersambung. 

Sebagai nabi dan utusan Allah yang terakhir, pemberitaan tentang Nabi Muhammad saw. sebetulnya sudah ada dalam kitab-kitab suci terdahulu. Informasi nama, karakteristik, sikap, ajaran, kebenaran, dan tanda kenabian Nabi Muhammad saw. Itu semua disebutkan di dalam kitab suci terdahulu.

Dalam kitab Injil Yohanes XIV:15-16 misalnya, di situ Nabi Isa as. berkata “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahku. Aku akan minta kepada Bapa dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain supaya ia menyertai kamu selama-lamanya.” Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), teks tersebut merupakan kabar gembira tentang kehadiran Nabi Muhammad saw. 

Dalam bahasa Yunani dan Suryani, kata ‘Penolong’ dalam ayat tersebut adalah Parakletos. Kata ini sebetulnya memiliki makna ‘yang terpuji’. Dalam bahasa Arab, makna kata Parakletos serupa dengan kata Muhammad atau Ahmad, yaitu orang yang terpuji.

Kabar kehadiran Nabi Muhammad saw. oleh Nabi Isa as. juga disebutkan Allah dalam QS. As-Shaff ayat 6. Dalam ayat tersebut disebutkan: Dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku (Nabi Isa as.), yang namanya Ahmad (Muhammad). 

Pemberitaan Nabi Muhammad saw. juga ada dalam kitab Taurat. Dalam kitab Taurat Pertama Pasal ke-9 disebutkan: “Sesungguhnya Hajar ketika berpisah dengan Sarah dan diajak bicara oleh malaikat. Malaikat berkata: ‘Wahai Hajar, dari mana engkau datang? dan kemana engkau ingin pergi? Maka ketika Hajar menerangkan keadaannya, malaikat itu berkata:Kembalilah karena aku akan memperbanyak keturunanmu dan tumbuhan mu sampai tidak terhitung. Dan engkau akan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Ismail. Karena Allah telah mendengar kerendahan dan ketundukan mu. Dan anakmu menjadi manusia paling kuat. Kuasanya berada di atas kuasa semuanya, dan tempat tinggalnya berada di batas-batas semua saudaranya.”

Dalam kitab Hidayatul Hayara, seperti dikutip dari buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan kalau pasal dalam Taurat tersebut tentang kehadiran Nabi Muhammad saw. Sebelum Nabi Muhammad saw. diutus, kuasa keturunan Nabi Ismail as. belum berada di atas kuasa keturunan Nabi Ishaq as. Namun ketika Nabi Muhammad saw. diutus Allah dengan membawa risalah-Nya, maka kuasa keturunan Nabi Ismail as. berada di atas kuasa keturunan Nabi Ishaq as. dan semuanya.

Dalam Taurat, kabar tentang Nabi Muhammad saw. juga terdapat dalam Kitab Yeyasa bab ke-42. Bunyi teksnya: “Agar manusia dan kota-kotanya meninggi suaranya, rumah-rumah yang ditinggali oleh Qaidir, agar penduduk Sali’ berdendang dari puncak-puncak gunung untuk memanggil, memberikan kemuliaan kepada Tuhan, dan mengabarkan dengan tasbihnya di pulau-pulau.”

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan kalau teks tersebut merupakan kabar gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad saw. Rumah-rumah yang ditinggali oleh Qaidir bin Ismail menunjuk kepada negeri Arab. Sebagaimana diketahui, Qaidir bin Ismail adalah moyang Nabi Muhammad saw. Tidak hanya itu, teks itu juga menyebutkan tempat hijrah Rasulullah, Madinah. ‘Agar penduduk Sali berdendang’. Sali’ atau Sal merupakan nama sebuah gunung di pintu Madinah yang namanya masih sampai sekarang. (A Muchlishon Rochmat)
Selasa 5 Februari 2019 18:0 WIB
4 Cara Kaum Musyrik Menghadang Dakwah Rasulullah
4 Cara Kaum Musyrik Menghadang Dakwah Rasulullah
Semenjak Rasulullah ‘mendeklarasikan diri’ sebagai seorang nabi dan Rasul Allah, banyak pihak yang tidak suka. Terutama kaum musyrik Makkah. Mereka lantas menolak dan menghadang segala macam dakwah Rasulullah. Alasan mereka melakukan hal itu pun bervariasi; mulai dari motif ekonomi, kekuasaan, kedudukan sosial, hingga keyakinan bahwa Islam salah dan agama mereka sebelumnya paganisme benar.

Karena alasan-alasan tersebut di atas, kaum musyrik Makkah melancarkan berbagai macam upaya untuk membendung dan menghentikan dakwah Rasulullah. Pertama, menghina, mengolok-olok, dan menjuluki Rasulullah sebagai orang gila. Langkah ini ditempuh untuk melunturkan kehormatan Rasulullah sehingga masyarakat Makkah tidak hormat atau bersimpati lagi kepada Rasulullah. 

Penolakan terhadap dakwah Islam sudah terjadi ketika Rasulullah menyampaikan khutbah yang pertama kali di hadapan masyarakat Makkah. Pada saat itu, Abu Lahab, salah seorang paman Rasulullah, bahkan menilai apa yang disampaikan  Rasulullah  itu sebagai sebuah aib. Oleh karenanya Rasulullah harus dihentikan.

“Ayo cegah dia sebelum orang lain yang turun tangan mencegahnya,” teriak Abu Lahab dalam kitab Al-Kamil karya Ibnu Al-Atsir, sebagaimana dikutip dari buku Khotbah-khotbah Terakhir Rasulullah saw. (Ali Abdullah, 2015). 

Kedua, menjelekkan dan membangkitkan keragu-raguan terhadap ajaran Islam. Tidak hanya menyerang personal Rasulullah, kaum musyrik juga menyebarkan hoaks kepada masyarakat Arab terhadap ajaran Islam yang didakwahkan Rasulullah. Mereka membuat propaganda-propaganda bahwa Al-Qur’an hanyalah kebohongan yang dibuat Rasulullah. Mereka melakukan itu tanpa memberikan kesempatan kepada masyarakat Arab untuk menelaah sendiri ajaran yang dibawa Rasulullah. 

Salah satu elit Makkah yang termakan propaganda itu adalah Sayyidina Umar bin Khattab. Sebelumnya Sayyidina Umar adalah salah seorang yang keras menentang dakwah Rasulullah. Namun hatinya luluh ketika dirinya tidak sengaja mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang dilantunkan oleh adik perempuannya. Akhirnya ia menjadi salah satu pembela Islam yang paling berani.

Ketiga, menyodorkan beberapa penawaran atau menyuap Rasulullah. Strategi ini pernah dilakukan Utbah bin Rabi’ah, salah satu elit musyrik Makkah. Pada saat itu, Utbah bin Rabi’ah mendatangi Rasulullah yang saat itu tengah berada di dalam kawasan Ka’bah. Setelah basa-basi, Utbah bin Rabi’ah langsung menyampaikan beberapa penawaran kepada Rasulullah; mulai harta kekayaan, kemuliaan, kerajaan, dan obat yang paling mujarab. Kata Utbah bin Rabi’ah, Rasulullah akan mendapatkan itu semua jika ia mau berhenti mendakwahkan Islam.

Rasulullah tidak mengiyakan atau menolaknya. Namun setelah itu Rasulullah meminta Utbah untuk mendengarkan perkataannya. Rasulullah lantas membacakan QS. Fushshilat. Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), ketika sampai ayat ke-38 Utbah meminta Rasulullah untuk menghentikan bacaannya, lalu kemudian Rasulullah sujud kepada Allah.

Keempat, membunuh Rasulullah. Setelah kaum musyrik mengetahui Rasullullah akan melaksanakan hijrah, mereka menggelar sebuah pertemuan di Darun Nadwah, sebuah parlemen Quraish. Dalam buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, 2012), pertemuan yang dilangsungkan pada hari Kamis, 26 Safar tahun ke-14 kenabian itu dihadiri para wakil seluruh kabilah Quraish. Mulai dari Abu Jahal dari kabilah Bani Makhzum hingga Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumah.

Dalam pertemuan itu, berbagai macam usulan muncul untuk menghentikan dakwah Rasulullah seperti mengusir Rasulullah, memasukannya ke dalam kerangka besi hingga tewas, dan membunuhnya. Akhirnya pendapat terakhir yang disepakati, untuk menghentikan dakwah Islam maka Rasulullah harus dihabisi. Agar Bani Manaf tidak bisa menuntut balas, mereka menunjuk seorang yang gagah perkasa dan berdarah bangsawan dari setiap kabilah untuk membunuh Rasulullah. Rencana yang mereka susun dengan sangat matang itu gagal karena Rasulullah diselamatkan oleh Allah.

Rintangan, tekanan, persekusi, iming-iming, dan ancaman pembunuhan tersebut tidak menyurutkan semangat Rasulullah untuk mendakwahkan Islam. Beliau terus mendakwahkan Islam sampai titik darahnya yang terakhir. (A Muchlishon Rochmat)
Ahad 3 Februari 2019 15:30 WIB
Sepenggal Kisah Kedermawanan Rasulullah
Sepenggal Kisah Kedermawanan Rasulullah
Rasulullah adalah orang suka memberi. Tidak menimbun harta kekayaan untuk diri atau keluarga sendiri. Rasulullah tidak segan-segan memberikan hartanya kepada sahabat yang membutuhkan, meski dirinya pada saat itu juga dalam keadaan butuh. Kedermawanan Rasulullah tidak diragukan lagi. Sehingga Anas bin Malik, salah satu pelayan Rasulullah, menilai kalau Rasulullah adalah orang paling dermawan (ajwadun nas).

Banyak cerita tentang kisah kedermawanan Rasulullah. Diantaranya adalah kisah yang diriwayatkan Tirmidzi. Dikisahkan bahwa pada saat itu Rasulullah yang sedang bersama Sayyidina Umar bin Khattab didatangi seorang lelaki. Seorang lelaki itu sengaja menemui Rasulullah untuk meminta sesuatu. Tanpa pikir panjang, Rasulullah langsung memberinya.

Keesokan harinya, lelaki itu mendatangi Rasulullah lagi untuk meminta-minta. Tanpa banyak tanya, Rasulullah lagi-lagi memberinya sesuatu. Pada hari ketiga, seorang lelaki tersebut menemui Rasulullah. Ia meminta-minta kepada Rasulullah. Namun sayang, pada hari ketiga itu Rasulullah tengah tidak memiliki sesuatu apapun untuk diberikan kepada lelaki itu. 

“Aku tidak mempunyai apa-apa sekarang. Tapi ambillah apa yang engkau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku akan membayarnya,”kata Rasulullah kepada lelaki itu, dikutip dari buku Samudra Keteladanan Rasulullah (Nurul H Maarif, 2017). 

Rupanya Rasulullah masih bisa memberi kepada lelaki itu, meski dirinya pada saat itu tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. Caranya, lelaki itu diminta untuk berutang kepada orang lain. Utang itu lalu diatasnamakan kepada Rasulullah. Jika Rasulullah sudah punya uang, maka ia akan membayar utang lelaki itu.  

Apa yang dilakukan Rasulullah itu ternyata ‘dikritik’ Sayyidina Umar bin Khattab. Sayyidina Umar berpendapat, Rasulullah tidak perlu memaksakan diri untuk memberi kalau memang sedang tidak memiliki sesuatu untuk diberikan. 

‘Kritikan’ Sayyidina Umar bin Khattab itu langsung direspons seorang sahabat Anshar yang baru datang. Sahabat Anshar itu menyarankan agar Rasulullah terus berinfak dan tidak mempedulikan perkataan Sayyidina Umar bin Khattab.

“Jangan takut dan jangan khawatir dengan kemiskinan,” kata sahabat Anshar itu.

“Ucapan itu lah yang diperintahkan Allah kepadaku,” kata Rasulullah kepada Sayyidina Umar.

Sikap dermawan sudah sangat melekat pada diri Rasulullah. Bahkan pada saat-saat akhir hidupnya, Rasulullah berpesan kepada Sayyidah Aisyah agar menyedekahkan hartanya yang tersisa. Rasulullah tidak ingin ketika wafat masih menyimpan harta.

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadits-hadits Shahih (M Quraish Shihab, 2018), ketika Rasulullah sakit menjelang wafatnya beliau memerintah istrinya, Sayyidah Aisyah, untuk mengirimkan beberapa uang dinar kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib agar disedekahkan. Setelah menyampaikan pesan itu Rasulullah pingsan, Sayyidah Aisyah lantas dibuat sibuk akan hal itu.

Ketika Rasulullah sadar kembali, beliau menanyakan kepada Sayyidah Aisyah apakah uang dinarnya itu sudah diberikan kepada Sayyidina Ali untuk diinfakkan. Rasulullah lantas tidak sadarkan diri lagi, Sayyidah Aisyah sibuk dibuatnya sehingga tidak sempat menunaikan amanat Rasulullah itu.

Untuk yang ketiga kalinya, Rasulullah mengingatkan agar uang dinarnya yang disimpan Sayyidah Aisyah diberikan kepada Sayyidina Ali agar disedekahkan. Lag-lagi Rasulullah pingsan lagi. Akan tetapi beberapa saat setelah kejadian itu, Sayyidah Aisyah menunaikan amanat Rasulullah itu. Beberapa uang dinar Rasulullah itu akhirnya diberikan kepada Sayyidina Ali dan disedekahkan kepada para sahabat yang membutuhkan. (A Muchlishon Rochmat)