IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Ketika Rasulullah Membela Seorang Yahudi

Rabu 13 Februari 2019 6:0 WIB
Share:
Ketika Rasulullah Membela Seorang Yahudi
Rasulullah adalah seorang yang bijak dan adil. Jika benar, maka akan dikatakan benar. Begitu pun sebaliknya. Jika salah, maka Rasulullah akan mengatakannya salah. Tidak peduli apakah yang melakukan kesalahan itu adalah dari umat Islam sendiri. Rasulullah meletakkan keadilan dan kebenaran di atas semua golongan. 

Biasanya, seseorang akan berlaku adil manakala situasi dan kondisinya menguntungkan diri, keluarga, sahabat ataupun kelompoknya. Akan tetapi, jika keadaannya merugikan diri atau kelompoknya maka niscaya ia akan berat –bahkan tidak- berlaku adil.  

Namun hal itu tidak berlaku bagi Rasulullah. Rasulullah adalah seorang yang berlaku adil kepada semuanya; kepada dirinya, keluarganya, sahabatnya, umat Islam sendiri, bahkan kepada non-Muslim sekalipun. Rasulullah menjadikan keadilan sebagai sebuah hukum dan sistem yang harus ditegakkan dalam setiap situasi dan kondisi apapun.

Alkisah, suatu ketika terjadi perselisihan antara seorang Muslim dan seorang Yahudi. Cerita bermula ketika seorang Yahudi sedang menawarkan barang dagangannya kepada seorang Muslim. Lalu seorang Muslim tersebut ‘membalas’ dengan sesuatu yang dibenci seorang Yahudi itu. Tidak terima dengan itu, seorang Yahudi mengucapkan sumpah serapah. Seorang Yahudi itu juga mengangungkan Nabi Musa as. di atas semua manusia.

Mendengar respons balik seperti itu, seorang Muslim tersebut tidak terima. Dia bergegas mendekati seorang Yahudi tersebut dan langsung menamparnya. Iya, dia tidak terima seorang Yahudi tersebut yang melebihkan Nabi Musa as. di atas semua manusia. Menurutnya, Nabi Muhammad saw. lah yang ‘lebih unggul’.

“Engkau mengatakan, Demi Dzat yang telah memilih Musa atas semua manusia, sedangkan ada Nabi Muhammad di antara kita?” kata seorang Muslim tersebut kepada seorang Yahudi itu.

Seorang Yahudi tersebut kemudian lapor kepada Rasulullah. Ia tidak terima ditampar oleh seorang Muslim seperti itu. Menariknya, merujuk buku buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011), Rasulullah malah membela seorang Yahudi tersebut. Ia ‘memarahi’ seorang Muslim itu dan bertanya kepadanya tentang alasan menampar seorang Yahudi itu. 

Rasulullah lantas bersabda agar tidak membanding-bandingkan dirinya dengan para nabi Allah sebelumnya. Rasulullah menjelaskan bahwa para nabi memiliki tugas yang sama, yaitu menyeru kepada umat manusia untuk mengesakan Allah (Tauhid). 

Rasulullah mengibaratkan dirinya dengan para nabi sebelumnya seperti seorang yang sedang membangun rumah. Para nabi sebelumnya membangun semua sisi dan bagian rumah, mulai dari tembok hingga atap. Memperindah dan membaguskan rumah tersebut. Namun ada satu bagian yang belum selesai digarap, yaitu satu tempat ubin di suatu sudut. Kata Rasulullah, dirinya lah ‘ubin’ itu. Beliau ditugaskan untuk menyempurnakan bangunan rumah tersebut. Dengan itu, Rasulullah ditahbiskan dirinya sebagai penutup para nabi. 

“Janganlah kalian melebihkanku di antara para nabi (yang lainnya),” tegas Rasulullah.

Rasulullah selalu mengajarkan kepada umatnya untuk selalu mengagungkan semua nabi. Tidak melebihkan satu dengan yang lainnya. Juga tidak merendahkan satu dengan yang lainnya. Kata Rasulullah dalam hadist riwayat Bukhari dan Muslim: Para nabi adalah saudara se-ayah dan ibu-ibu mereka berbeda-beda, sedangkan agama mereka adalah satu. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Rabu 13 Februari 2019 18:0 WIB
Awal Mula Sayyidina Umar bin Khattab Masuk Islam
Awal Mula Sayyidina Umar bin Khattab Masuk Islam
“Ya Allah, perkuat Islam dengan Abul Hakam bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khattab,” doa Rasulullah.

Semula Umar bin Khattab menentang Islam bukan karena dia tidak mengerti dengan ajaran Nabi Muhammad saw. Atau pun karena fanatik dengan agama leluhurnya, menyembah berhala. Dia memiliki pemikiran kalau Nabi Muhammad saw. dengan ajaran barunya telah membuat masyarakat Quraisy secara khusus dan masyarakat Makkah secara umum terpecah belah dan berkonflik.  

Ia tidak menghendaki keadaan seperti itu. Dia ingin agar masyarakatnya tidak pecah, bersatu, tertib, dan stabil. Untuk mengembalikan keadaan masyarakat Quraish seperti sediakala, maka satu-satunya jalan adalah dengan menghentikan dakwah Nabi Muhammad saw. dan pengikutnya. Paradigma pemikiran seperti itu lah yang membuat Umar bin Khattab sangat keras menentang dan memusuhi Islam. Bahkan, beberapa kali Umar bin Khattab sampai berpikir untuk menghabisi Nabi Muhammad saw., orang yang dianggap telah memecah belah masyarakat Quraisy. 

Manusia hanya berencana, Allah lah yang mewujudkannya. Meski semula menentang Islam, tapi kelak Umar bin Khattab akan menjadi pembela Islam yang sangat gigih dan terdepan. Ada beberapa riwayat yang menjelaskan mengenai awal mula dan sebab Sayyidina Umar bin Khattab mendapatkan hidayah dan masuk Islam. 

Riwayat pertama, suatu ketika Sayyidina Umar bin Khattab pergi ke tempat Nabi Muhammad saw. untuk membunuhnya. Di tengah jalan dia papasan dengan Nu’aim bin Abdullah. Nu’aim menyarankan Sayyidina Umar agar membatalkan rencananya itu. Ia juga meminta Sayyidina Umar untuk mengurus saudarinya, Fatimah binti Khattab, dan iparnya, Sa’id bin Zaid bin Amr, yang sudah masuk Islam, sebelum menghadapi Nabi Muhammad saw. 

Sayyidina Umar langsung ke rumah Fatimah untuk membuat perhitungan karena adiknya telah masuk Islam. Ketika sampai di depan rumah, dia mendengar Khabbab bin al-Arat sedang membacakan Al-Qur’an Surat Thaha kepada Fatimah dan Sa’id bin Zaid bin Amr. Singkat cerita, Sayyidina Umar luluh hatinya dan terkesima dengan keindahan kata-kata Al-Qur’an yang dibacakan Khabbab. Seketika itu, dia meminta Khabbab untuk mengantarnya bertemu dengan Nabi Muhammad saw. dan menyatakan diri masuk Islam.

Riwayat kedua, pada saat itu Sayyidina Umar hendak mencari teman-temannya untuk diajak mimum khamr. Namun, dia tidak menemukan temannya itu. Akhirnya, dia memutuskan pergi ke Ka’bah untuk thawaf. Di sana, dia mendapati Nabi Muhammad saw. tengah mengerjakan shalat. Melihat hal itu, Sayyidina Umar penasaran dan ingin mendengar apa yang diucapkan Nabi Muhammad saw. Ia kemudian menyelinap ke dalam bilik Ka’bah, hingga jaraknya dengan Nabi Muhammad saw. hanya dibatasi kain Ka’bah.   

“Setelah saya dengar Al-Qur’an itu dibacanya, hati saya rasa tersentuh. Saya menangis; Islam sudah masuk ke dalam hati saya. Sementara saya masih tegak berdiri menunggu sampai Rasulullah selesai shalat,” kata Sayyidina Umar, dikutip dari buku Umar bin Khattab (Muhammad Husain Haekal, 2015).

Nabi Muhammad saw. pulang ke rumahnya setelah menyelesaikan shalatnya. Sementara Sayyidina Umar membuntuti di belakangnya. Ketika sudah dekat dengan rumahnya, Nabi Muhammad baru sadar kalau sedang diikuti Sayyidina Umar. Awalnya Nabi Muhammad saw. terperangah dan mengirakan Sayyidina Umar akan menyakitinya. Setelah ditanya maksud dan tujuannya, Sayyidina Umar langsung menyatakan diri beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad saw. 

“Kemudian ia (Nabi Muhammad saw.) mengusap dada saya dan mendoakan saya agar tetap tabah,” kenang Sayyidina Umar. 

Riwayat ketiga, Sayyidina Umar mulai bersimpati dengan Islam ketika umat Islam berhijrah ke Abissinia. Memang semula dia keras menentang dakwah Islam, namun ia menjadi iba setelah melihat kondisi umat Islam yang pergi dari kampung halaman dan meninggalkan orang-orang tercintanya, setelah mereka disiksa dan dianiaya.  

Ketika umat Islam hendak berangkat ke Abissinia, Sayyidina Umar berpapasan dengan Umi Abdullah binti Abi Hismah. Setelah bercakap basa-basi dengan Umi Abdullah, Sayyidina Umar mendoakan agar Allah selalu menyertai rombongan yang hendak berangkat ke Abissinia itu. 

“Kemudian dia pergi, dan saya lihat dia (Sayyidina Umar) sangat sedih karena kepergian kami ini,” cerita Umi Abdullah. (A Muchlishon Rochmat) 
Selasa 12 Februari 2019 6:0 WIB
Mengapa Rasulullah Berasal dari Arab?
Mengapa Rasulullah Berasal dari Arab?
Rasulullah adalah nabi dan utusan terakhir yang ditugaskan Allah untuk menyebarkan risalah langit kepada umat manusia. Beliau lahir di Makkah pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal, bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 580 M. Meski lahir dan besar di tanah Arab, namun ajaran dan risalah Rasulullah bukan hanya untuk bangsa Arab saja tetapi juga untuk seluruh umat manusia, bahkan bangsa jin. Demikian lah, ajaran yang dibawa Rasulullah melintasi zaman dan geografi, terus berkembang hingga kini.  

Lalu yang kerap kali menjadi pertanyaan adalah mengapa Rasulullah berasal dari bangsa Arab, Makkah tepatnya? Mengapa Rasulullah tidak lahir dari bangsa Romawi, Persia, atau pun India yang pada saat itu merupakan peradaban terbesar dan maju? 

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), seorang ulama besar Mesir Syekh Mutawalli as-Sya’rawi mengemukakan kalau bangsa Arab dulu memiliki semangat menjelajah atau hidup perpindah-pindah (nomaden) dan senang berperang. Dengan karakter seperti itu, mereka dinilai selalu siap untuk menyebarkan risalah kenabian ke seluruh penjuru. Meski jiwa dan darah yang menjadi taruhannya. Itulah kenapa Alah memilih rasul dari bangsa Aarab.

“Kalau Allah menghendaki sesuatu, Dia mempersiapkan sebab-sebab-Nya,” kata Syekh Mutawalli as-Sya’rawi.

Sementara menurut ulama masyhur asal India Abu Hasan an-Nadwi menjelaskan kalau Rasulullah dipilih Allah dari bangsa Arab karena 'alasan-alasan tertentu’. Menurut an-Nadwi, masyarakat Arab pada saat itu memiliki jiwa yang relatif bersih dan belum ternodai dengan ide-ide buruk yang tertancap sehingga susah dihapus. Di samping itu, tidak ada keangguhan dan kesombongan di hati masyarakat Arab. Hati mereka hanya tertutup oleh keluguan dan kebodohan. Kebodohan yang sederhana, bukan berganda sehingga mudah dihapus.

Masyarakat Arab pada waktu itu juga memiliki kemauan yang kuat, tegas, ‘hitam-putih. Dalam artian, mereka akan keukeuh memerangi Islam manakala kebenaran Islam tidak dipahaminya. Namun, jika kebenaran Islam sudah merasuk kedalam hati dan jiwanya maka mereka akan membelanya dengan sepenuh hati, raga, dan harta, bahkan nyawa.

Tidak hanya itu, dalam sejarahnya masyarakat Arab tidak pernah dijajah imperium asing. Mereka juga tidak rela diperbudak. Keadaan seperti itu menjadikan mereka bertumbuh menjadi masyarakat yang egaliter, merdeka, dan cinta alam. Plus masyarakat Arab memiliki watak yang tegas, berani, berterus terang, dan tidak suka menipu diri sendiri, apalagi orang lain. Watak dan karakter masyarakat Arab yang seperti itu lah yang membuat Allah memilih utusan-Nya dari bangsa Arab. 

Abu Hasan an-Nadwi juga menyinggung kenapa Rasulullah tidak berasal dari bangsa Romawi, Persia, atau pun India yang notabennya peradaban besar pada saat itu. Kata an-Nadwi, masyarakat India pada saat itu adalah masyarakat yang sombong dengan pengetahuan, peradaban, filsafat, dan budayanya. Hal itu membuat jiwa dan pikiran mereka menjadi kompleks sehingga susah dihapus dan dimasuki dengan ‘ajaran baru’. Begitu pun dengan masyarakat Romawi dan Persia. Jiwa mereka sudah ‘ternodai’ dengan ‘ide-ide buruk’ yang susah dihapus. Wallahu a’lam. (A Muchlishon Rochmat) 
Ahad 10 Februari 2019 15:30 WIB
Kisah Rasulullah, Seorang Budak, dan Uang Delapan Dirham
Kisah Rasulullah, Seorang Budak, dan Uang Delapan Dirham

Rasulullah adalah seorang yang mandiri. Semuanya pekerjaan dilakukan sendiri. Menjahit baju yang robek, memperbaiki sandal yang rusak, dan mengerjakan segala pekerjaan yang layaknya seorang suami lakukan di dalam rumah. Bahkan, Rasulullah tidak segan-segan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar. Terkait hal ini, ada kisah menarik.

Alkisah, suatu ketika Rasulullah pergi ke pasar dengan membawa uang delapan dirham. Ia bermaksud untuk membeli beberapa bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Ketika berada di tengah pasar, Rasulullah melihat ada seorang budak perempuan yang sedang menangis tersedu-sedu. Rasulullah langsung menghampiri orang tersebut dan bertanya apa yang terjadi hingga menyebabkannya menangis seperti itu.

Setelah bercakap-cakap dengan budak perempuan tersebut, Rasulullah baru tahu kalau dia menangis karena uang majikannya hilang. Sehingga ia tidak bisa membeli belanjaan. Jumlah uang miliki budak perempuan yang hilang tersebut delapan dirham. Mendengar keluh kesah budak perempuan tersebut, tanpa pikir panjang Rasulullah langsung memberikan uangnya yang delapan dirham itu untuk budak tersebut. Tidak mengapa dirinya tidak jadi membeli barang belanjaan, asal budak perempuan itu berhenti menangis, bisa berbelanja, dan tidak dimarahi majikannya. Demikian pikir Rasulullah kira-kira.

Namun dugaan Rasulullah ‘meleset.’ Ternyata budak perempuan tersebut tetap menangis meski uangnya yang hilang sudah kembali, diganti Rasulullah tepatnya. Rasulullah lantas bertanya kembali kepada budak tersebut perihal apa yang sebetulnya terjadi kepadanya.

“Apa gerangan yang terjadi kepadamu? Bukan kah uang majikanmu yang hilang telah kembali?” tanya Rasulullah, merujuk buku Samudra Keteladanan Rasulullah (Nurul H Maarif, 2017).

Budak perempuan menjawab bahwa kehilangan uang membuat dirinya jadi terlambat berbelanja, pulang ke rumah, dan memasaknya. Dia takut kalau majikannya marah karena keterlambatannya itu. Rupanya, hal itulah yang membuatnya terus menangis.

Rasulullah tidak pernah setengah-setengah ketika membantu seseorang. Rasulullah akhirnya mengantarkan budak perempuan tersebut ke rumah majikannya setelah membeli beberapa kebutuhannya. Jika majikannya marah, maka Rasulullah yang akan pasang badan untuk budak perempuan tersebut. Begitu pun jika majikannya hendak mencambuknya, maka Rasulullah akan bersedia menjadi orang yang menggantikannya. Begitu lah tawaran Rasulullah yang akhirnya membuat budak tersebut tidak menangis lagi.

Apa yang dilakukan Rasulullah kepada budak perempuan tersebut ternyata membuat sang majikan luluh hatinya. Sang majikan tidak jadi marah atau pun mencambuk budaknya yang terlambat, malah dia memerdekakan budaknya itu karena kagum dengan sikap Rasulullah. Tidak hanya itu, sang majikan juga akhirnya masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah.  

Kata Rasulullah, itu lah delapan dirham yang sangat berkah karena bisa mengganti uang yang hilang, memerdekakan budak, dan membuat sang majikan memeluk Islam. Demikian lah cara Rasulullah membantu seseorang, tidak setengah-setengah. Di samping itu, Rasulullah juga mengorbankan kepentingannya demi kepentingan orang lain. Beliau memberikan uang delapan dirhamnya –yang semula untuk membeli kebutuhannya- kepada seorang budak perempuan yang kehilangan uang. (A Muchlishon Rochmat)