IMG-LOGO
Trending Now:
Shalat

Hukum Memakai Kaos Partai saat Shalat di Masjid

Rabu 13 Februari 2019 15:30 WIB
Hukum Memakai Kaos Partai saat Shalat di Masjid
Ilustrasi (via ctvnews.ca)
Pada tahun politik ini, masyarakat banyak membicarakan tentang pemilu. Masing-masing memiliki calon pemimpin yang mereka jagokan. Beberapa aksi dukungan tampak berdatangan baik melalui media sosial atau di dunia nyata. Saat berkampanye, tidak lepas dari beberapa atribut yang identik dengan partai politik atau calon yang didukung, seperti jaket, kaos, bendera partai, syal dan lain sebagainya. Terkadang, saat mereka beristirahat sejenak untuk menunaikan shalat di masjid, atribut tersebut masih dikenakan. Pertanyaannya adalah, bagaimana hukum memakai atribut kampanye, semisal kaos partai saat menunaikan shalat di masjid?

Dalam aturan fiqih, tidak ada aturan baku mengenai pakaian yang dikenakan saat shalat. Semua jenis pakaian apa pun, asalkan suci dan dapat menutupi aurat, maka boleh dan sah digunakan shalat, termasuk di antaranya kaos partai. Aurat laki-laki dalam shalat adalah anggota di antara pusar dan lutut. Sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Kebolehan memakai kaos partai saat shalat tersebut juga berlaku ketika shalat dilaksanakan di masjid.

Syekh Abu al-Husain Yahya bin Abi al-Khairn al-Umrani mengatakan:

ويجب ستر العورة بما لا يصف لون البشرة، وهو: صفة جلده: أنه أسود، أو أبيض، وذلك يحصل بالثوب، والجلد، وما أشبههما

“Wajib menutup aurat dengan penutup yang tidak dapat menampakan warna kulit, yaitu sifatnya kulit meliputi hitam atau putih. Menutupi aurat bisa hasil dengan pakaian, kulit dan yang menyerupai keduanya.” (Syekh Abu al-Husain Yahya bin Abi al-Khairn al-Umrani, al-Bayan fi Madzhab al-Imam al-Syafi’i, juz 2, hal. 120).

Berkaitan dengan keharusan memakai pakaian yang suci, Syekh Ibnu Qasim al-Ghuzzi menegaskan:

ويكون ستر العورة بلباس طاهر

“Dan menutup aurat wajib dengan pakaian yang suci.” (Syekh Ibnu Qasim al-Ghuzzi, Fath al-Qarib, hal. 30)

Bila melihat pertimbangan keutamaan, mengenakan kaos partai saat shalat hendaknya dihindari, karena dua hal.  Pertama, ada anjuran untuk mengenakan pakaian yang sopan dan layak menurut pandangan umum saat shalat. Dalam titik ini, memakai kaos partai saat shalat tergolong kurang etis dalam budaya daerah kita. Kedua, ada anjuran untuk menghindari pakaian yang bergambar. Dalam kenyataannya, kaos partai tidak bisa dilepaskan dari gambar. Dalam literatur mazhab Syafi’i, hukumnya makruh memakai pakaian yang terdapat gambarnya.

Berkaitan dengan anjuran memakai pakaian yang sopan secara adat, Syekh Abu Bakr bin Syatha menegaskan:

ـ (قوله ويسن أن يلبس أحسن ثيابه) أي ويحافظ على ما يتجمل به عادة ولو أكثر من اثنين لظاهر قوله تعالى {يا بني آدم خذوا زينتكم عند كل مسجد} ولقوله صلى الله عليه وسلم إذا صلى أحدكم فليلبس ثوبيه فإن الله أحق أن يزين له

“Ucapan Syekh Zainuddin, sunah memakai pakaian terbaiknya, dan juga menjaga pakaian yang indah/ sopan secara adat, meski lebih dari dua jenis pakaian. Hal ini berdasarkan makna lahir dari firman Allah, pakailah perhiasaaan kalian setiap kali shalat, dan berdasarkan sabda Nabi, bila salah satu dari kalian shalat, maka pakailah dua pakaiannya, sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditampakan keindahan kepadaNya.” (Syekh Abu Bakr bin Syatha, I’nah al-Thalibin, juz 1, hal. 114).

Berkaitan dengan kemakruhan memakai pakaian bergambar saat shalat, Syekh Taqiyuddin al-Hishni menegaskan:

ويكره أن يصلي في ثوب فيه صورة وتمثيل

“Makruh shalat mengenakan baju yang bergambar.” (Syekh Taqiyuddin al-Hishni, Kifayah al-Akhyar, juz 1, hal. 93).

Di sisi lain, memakai kaos partai, di mana pun tempatnya, masih disangsikan kehalalannya. Terdapat perdebatan panjang mengenai hukum menerima kaos partai dari tim sukses, apakah termasuk menerima risywah (suap) yang diharamkan atau bukan. Sebab ketiadaan nash sharih baik dari Al-Qur’an, hadits, atau statemen para ulama dalam kutub al-turats (literatur toritatif tradisional). 

Walhasil, memakai kaos partai saat shalat sebaiknya dihindari, terlebih jika dilakukan di masjid. Sebab kita diajarkan untuk menghadap Allah dengan pakaian yang indah, sopan dan bersih dari keharaman serta perkara syubhat. Dan agar masjid dibersihkan dari aroma politik. Bila saat menghadap presiden atau pemimpin, kita betul-betul menyiapkan penampilan sebaik mungkin, bagaimana mungkin saat menghadap Sang Maha-Pencipta kita memakai baju yang tidak sopan?

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)


Tags:
Share:
Rabu 13 Februari 2019 20:0 WIB
Kucing Lewat di Depan Orang Shalat, Apa yang Harus Dilakukan?
Kucing Lewat di Depan Orang Shalat, Apa yang Harus Dilakukan?
Ilustrasi (Anadolu Agency)
Seringkali seseorang mengalami berbagai macam problem yang terjadi saat tengah melakukan shalat, salah satunya ketika terdapat hewan yang melintas di depannya. Kucing merupakan salah satu hewan yang seringkali berlalu lalang di berbagai tempat, termasuk di sekitar orang yang sedang shalat. Dalam hal ini, ketika kucing melintasi orang yang sedang shalat, apakah shalatnya menjadi batal?

Imam An-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab menegaskan bahwa lewatnya manusia atau hewan di depan orang yang sedang shalat tidak sampai berakibat pada batalnya shalat tersebut. Bahkan pendapat ini merupakan pandangan mayoritas ulama kecuali menurut imam Hasan al-Basri. Berikut penjelasan beliau:

إذا صلى إلى سترة فمر بينه وبينها رجل أو امرأة أو صبي أو كافر أو كلب أسود أو حمار أو غيرها من الدواب لا تبطل صلاته عندنا قال الشيخ أبو حامد والأصحاب وبه قال عامة أهل العلم الا الحسن البصري

“Ketika seseorang melaksanakan shalat dengan menggunakan sutrah (pembatas) lalu ada seorang lelaki atau wanita, anak kecil, orang kafir, anjing hitam, keledai  atau hewan-hewan yang lain melewatinya maka hal tersebut tidak membatalkan shalatnya, menurut mazhab kami (mazhab Syafi’i). Syekh Abu Hamid dan para murid Imam Syafi’i berkata, ‘Pendapat ini juga dijadikan pijakan para ulama secara umum kecuali Imam Hasan al-Basri’.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 3, hal. 250)

Imam Hasan al-Basri berpandangan berbeda dengan mengatakan shalat seseorang akan menjadi batal ketika dilintasi oleh manusia ataupun hewan. Pendapat beliau ini salah satunya didasarkan pada hadits: 

يَقْطَعُ الصَّلاَةَ الْمَرْأَةُ وَالْحِمَارُ وَالْكَلْبُ

“Wanita, keledai dan anjing dapat memutus shalat” (HR Muslim)

Para ulama yang berbeda pendapat dengan Hasan al-Bisri tidak memaknai hadits sahih tersebut secara tekstual. Sebab bagi mereka hal itu akan bertentangan dengan berbagai macam konsep dan ketentuan yang terdapat dalam bab shalat. Sehingga hadits di atas harus ditakwil, misalnya seperti takwil yang dijelaskan oleh Imam Syafi’i bahwa maksud dari “memutus shalat” dalam redaksi hadits tersebut adalah memutus kekhusyuan shalat, sehingga tidak sampai membatalkan  shalat. Penjelasan ini dijelaskan dalam referensi yang sama:

وأما الجواب عن الأحاديث الصحيحة التي احتجوا بها فمن وجهين أصحهما وأحسنهما ما أجاب به الشافعي والخطابي والمحققون من الفقهاء والمحدثين أن المراد بالقطع القطع عن الخشوع والذكر للشغل بها والالتفات إليها لا أنها تفسد الصلاة

“Dalam menjawab berbagai macam hadits shahih yang dijadikan dalil oleh para ulama atas batalnya shalat, maka dapat dijawab dari dua sudut pandang. Sedangkan jawaban yang paling sahih dan paling baik yaitu jawaban yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i, al-Khuthabi dan ulama muhaqqiqun dari para pakar fikih dan hadits bahwa yang dimaksud dengan memutus shalat adalah memutus kekhusyu’an shalat dan dzikir karena disibukkan dengan wanita, keledai dan anjing yang lewat dan menoleh kepadanya, bukan malah diartikan merusak terhadap shalat yang dilakukannya” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 3, Hal. 251)

Berdasarkan berbagai pertimbangan dalam referensi di atas, maka lewatnya kucing di depan orang yang shalat bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan sebab tidak sampai membatalkan shalat. 

Meski begitu, orang yang shalat tetap dianjurkan untuk mencegah kucing tersebut lewat di depannya, seperti halnya anjuran untuk mencegah orang agar tidak melintas di depan seseorang yang sedang shalat. Seperti dijelaskan dalam hadits:

إذا صلى أحدكم إلى شيء يستره من الناس فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه

“Ketika kalian shalat dengan menggunakan sutrah (pembatas), lalu ada seseorang yang hendak akan lewat di depan kalian, maka cegahlah” (HR Bukhari Muslim)

Mencegah kucing yang hendak lewat di depan seseorang yang sedang lewat harus dilakukan dengan gerakan yang sedikit, sekiranya tidak sampai tiga gerakan. Sebab jika sampai melakukan gerakan yang banyak, maka shalatnya akan batal. Hal ini seperti dijelaskan dalam kitab  Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

ومحله إذا لم يأت بأفعال كثيرة وإلا بطلت

“Mencegah orang yang lewat hanya ketika tidak sampai melakukan gerakan yang banyak, jika sampai melakukan gerakan yang banyak maka shalatnya batal.” (Syekh Abu Bakar Syatha’, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, Juz 1, Hal. 222) 

Berbeda halnya ketika dalam tubuh kucing terdapat benda najis, seperti di kakinya misalnya. Maka dalam keadaan demikian mencegah kucing tersebut agar tidak melewati tempat di depannya menjadi lebih dianjurkan. Sedangkan ketika kucing sudah terlanjur lewat, maka orang yang shalat harus beranjak pada tempat yang lain, agar tidak terkena najis yang terdapat pada tempat yang dilewati oleh kucing, agar shalatnya tidak menjadi batal. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)

Selasa 12 Februari 2019 15:0 WIB
Jari-jari Kaki Tidak Semua Menempel saat Sujud, Cukupkah?
Jari-jari Kaki Tidak Semua Menempel saat Sujud, Cukupkah?
(Foto: @qzt.com)
Sujud merupakan salah satu rukun dalam shalat yang dianggap sebagai waktu yang paling tepat untuk memanjatkan doa. Sebab saat sujud seorang hamba berada pada keadaan terdekat dengan Allah sehingga doa yang dipanjatkan mudah diijabahi. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam salah satu hadits:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Artinya, “Saat-saat terdekat seorang hamba dengan Allah adalah saat ia sedang sujud, maka perbanyaklah kalian berdoa saat sujud,” (HR Thabrani).

Oleh sebab itu, seseorang harus memperhatikan secara mendalam pelaksanaan sujud dalam shalat agar sesuai dengan ketentuan yang dijelaskan oleh syara’. Cara sujud yang benar dijelaskan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ. وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ

Artinya, “Aku diperintahkan sujud di atas tujuh anggota tubuh, yaitu dahi dan ia berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidungnya, dua (telapak) tangan dan ujung-ujung dua kaki,” (HR Baihaqi).

Hadits di atas merupakan landasan dalil tata cara sujud yang dianjurkan oleh syara’. Namun ketika ditinjau secara hukum fiqih, para ulama berbeda pandangan tentang kewajiban meletakkan kedua tangan, kedua lutut dan kedua ujung kaki.

Menurut Imam Ar-Rafi’I, anggota tubuh yang wajib diletakkan saat sujud hanyalah dahi sehingga tidak wajib meletakkan kedua tangan, lutut dan ujung kaki. Sedangkan Imam An-Nawawi berpandangan sebaliknya, yaitu seseorang wajib meletakkan kedua tangan, lutut dan ujung kaki di samping kewajiban meletakkan dahi. Perbedaan pendapat ini dijelaskan dalam Kitab Kifayatul Akhyar:

وهل يجب وضع يديه وركبتيه وقدميه مع جبهته ؟ قولان : الأظهر عند الرافعي لا يجب والأظهر عند النووي الوجوب فعلى ما صححه النووي الاعتبار باطن الكف وظهر الأصابع

Artinya, “Apakah wajib meletakkan kedua tangan, lutut, telapak kaki besertaan dengan dahi ketika sujud? Dalam hal ini terdapat dua perbedaan pendapat. Pendapat yang paling jelas menurut Imam Ar-Rafi’i adalah tidak wajib. Sedangkan menurut Imam An-Nawawi adalah wajib. Jika berpijak pada pendapat imam An-Nawawi, maka wajib meletakkan bagian dalam telapak tangan dan bagian luar dari jari jemari tangan,” (Lihat Syekh Taqiyuddin Abu Bakr Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, juz I, halaman 134).

Melihat referensi di atas, ketika berpijak pada pandangan Imam An-Nawawi yang mewajibkan meletakkan ujung dari kedua kaki, apakah secara langsung juga mewajibkan meletakkan keseluruhan dari jari-jari kaki? Sehingga ketika terdapat jari kaki yang tidak menempel pada tempat shalat, maka sujudnya tidak dianggap sah?

Dalam hal ini para ulama memandang bahwa hal yang diwajibkan dalam meletakkan jari-jari kaki adalah hanya sebagian saja tidak sampai keseluruhan. Dengan demikian ketika terdapat satu atau dua jari-jari kaki yang tidak menempel pada saat shalat, maka sujudnya tetap dianggap benar.

Adapun bagian jari-jari kaki yang wajib ditempelkan saat sujud adalah bagian dalam jari-jari, bukan ujung jari-jari atau luar. Ketentuan tersebut dijelaskan dalam Kitab Fathul Mu’in: 

و) وضع بعض (ركبتيه و) بعض (بطن كفيه) من الراحة وبطون الاصابع (و) بعض بطن (أصابع قدميه) دون ما عدا ذلك، كالحرف وأطراف الاصابع وظهرهما.

Artinya, “Wajib meletakkan sebagian dari lutut, telapak tangan yang meliputi telapak tangan bagian dalam dan jari-jari tangan bagian dalam dan wajib pula meletakkan sebagian jari-jari bagian dalam dari dua telapak kaki, bukan yang lain seperti jari-jari bagian samping, ujung dan bagian luar,” (Lihat Syekh Ahmad Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in, juz I, halaman 192). Wallahu a’lam.


(Ustadz Ali Zainal Abidin)
Kamis 31 Januari 2019 23:0 WIB
Shalat Tahajud Berjamaah, Bolehkah?
Shalat Tahajud Berjamaah, Bolehkah?
Ilustrasi (via Pinterest)
Shalat tahajud didefinisikan oleh para ulama sebagai shalat yang dilakukan setelah melaksanakan shalat isya’ dan dilaksanakan setelah tidur. Terlaksananya dua hal ini (dilaksanakan setelah tidur dan setelah melaksanakan shalat isya’) merupakan syarat yang harus terpenuhi, agar shalat yang dilakukan di malam hari dapat dihitung sebagai ibadah shalat tahajud. Dengan demikian, akan tergolong dalam anjuran yang dijelaskan dalam Al-Qur’an:

وَمِنْ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَك عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’, Ayat: 79)

Definisi shalat tahajud yang dijelaskan di atas sesuai dengan penjelasan Syekh Sulaiman al-Jamal dalam kitabnya, Hasyiyah al-Jamal ala al-Manhaj:

ـ (فَرْعٌ) يَدْخُلُ وَقْتُ التَّهَجُّدِ بِدُخُولِ وَقْتِ الْعِشَاءِ وَفِعْلِهَا خِلَافًا لِمَا يُوهِمُهُ كَلَامُ شَيْخِ الْإِسْلَامِ فِي بَعْضِ كُتُبِهِ وَيُشْتَرَطُ أَيْضًا أَنْ يَكُونَ بَعْدَ نَوْمٍ فَهُوَ كَالْوِتْرِ فِي تَوَقُّفِهِ عَلَى فِعْلِ الْعِشَاءِ وَلَوْ جَمْعَ تَقْدِيمٍ مَعَ الْمَغْرِبِ وَيَزِيدُ عَلَيْهِ بِاشْتِرَاطِ كَوْنِهِ بَعْدَ نَوْمٍ ا هـ

“Cabang permasalahan. Waktu tahajud dimulai dengan masuknya waktu Isya’ dan telah melaksanakan shalat isya’. Berbeda halnya pendapat yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari dalam sebagian kitabnya. Disyaratkan pula dilaksanakan setelah tidur. Shalat tahajud ini sama seperti shalat witir dalam hal digantungkan dengan pelaksanaan shalat isya’, meskipun dilaksanakan dengan cara jamak takdim bersamaan dengan shalat maghrib, hanya saja pada shalat tahajjud ditambahkan syarat berupa harus dilaksanakan setelah tidur.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-jamal, juz 4, hal. 265)

Shalat tahajud bisa berupa berbagai macam shalat sunnah yang dapat dilaksanakan di malam hari, termasuk di antaranya shalat sunnah mutlak. Misalnya seperti yang dijelaskan dalam kitab Nihayah az-Zain:

والنفل المطلق بالليل أفضل منه بالنهار. ومن النفل المطلق قيام الليل، وإذا كان بعد نوم ولو في وقت المغرب وبعد فعل العشاء تقديماً يسمى تهجداً

“Melaksanakan shalat sunnah mutlak pada malam hari lebih utama dibandingkan dengan melaksanakannya pada siang hari. Sebagian dari shalat sunnah mutlak yaitu qiyamul lail (beribadah shalat di malam hari). Ketika shalat ini dilaksanakan setelah tidur, meskipun pada waktu maghrib setelah melaksanakan shalat isya’ dengan cara jamak takdim, maka shalat tersebut disebut shalat tahajud.” (Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, Juz 1, Hal. 179)

Selain shalat sunnah mutlak, shalat witir juga termasuk dalam kategori shalat tahajud ketika memang dilaksanakan setelah tidur. Hal ini dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ ala syarh al-Muhadzzab:

ـ (فرع) الصحيح المنصوص في الأم والمختصر أن الوتر يسمى تهجدا

“Menurut pendapat shahih yang termaktub dalam kitab al-Um dan kitab al-Mukhtashar bahwa sesungguhnya shalat witir juga disebut shalat tahajud.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab, juz 4, hal. 48)

Selain shalat witir dan shalat sunnah mutlak, shalat tahajud juga mencakup berbagai macam shalat sunnah yang dilaksanakan setelah tidur dan setelah shalat isya’ serta dapat dilaksanakan di malam hari, seperti shalat tasbih dan shalat hajat. Sehingga shalat-shalat sunnah ini, selain disebut dengan penamaan secara khusus seperti witir, hajat, muthlak, dan tasbih, juga dari aspek lain disebut dengan shalat tahajud memandang waktu pelaksanaannya yang dilakukan setelah tidur dan shalat isya’.

Shalat-shalat yang termasuk dalam kategori shalat tahajud ini memiliki kesamaan yaitu tidak dianjurkan untuk dilakukan dengan cara berjamaah, dalam arti lebih dianjurkan untuk dilaksanakan dengan cara sendirian (munfarid). Namun jika shalat-shalat tersebut dilaksanakan dengan cara berjamaah maka tetap dihukumi sah. Ketentuan ini seperti yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala syarh al-Muhadzzab:

قال أصحابنا تطوع الصلاة ضربان (ضرب) تسن فيه الجماعة وهو العيد والكسوف والاستسقاء وكذا التراويح على الأصح (وضرب) لا تسن له الجماعة لكن لو فعل جماعة صح وهو ما سوى ذلك

“Shalat Sunnah dibagi menjadi dua bagian. Pertama, Shalat yang disunnahkan berjamaah yaitu shalat sunnah ‘ied, shalat gerhana, dan shalat istisqa’, begitu juga shalat tarawih menurut qaul ashah. Kedua, shalat yang tidak disunnahkan berjamaah, tapi jika dilaksanakan dengan cara jamaah, maka shalat tersebut tetap sah. Yaitu shalat selain dari bagian pertama di atas.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzzab, juz 4, hal. 5)

Lebih jauh lagi, meski shalat tahajud ketika dilakukan secara berjama’ah dihukumi sah, namun dari segi pelaksanaannya secara berjamaah tidak dihitung sebagai pahala. Sehingga seseorang yang melaksanakan shalat tahajud dengan berjamaah hanya mendapatkan pahala dari aspek melaksanakan shalat tahajud saja, tanpa mendapatkan pahala lain dari aspek jamaahnya. 

Namun jika melaksanakan jamaah pada shalat tahajud terdapat tujuan yang mengandung maslahat, misalnya mengajari orang lain agar terbiasa melaksanakan shalat tahajud, hal ini seperti yang biasa dilaksanakan di berbagai pondok pesantren di Indonesia. Maka dari aspek wujudnya tujuan yang baik tersebut, pelaksanaan tahajud secara berjamaah diganjar dengan pahala.

Namun tujuan baik yang terdapat di balik pelaksanaan shalat tahajud secara berjamaah dalam permasalahan di atas dibatasi sekiranya tidak sampai memunculkan mudarat, seperti akan menimbulkan persepsi pada orang lain bahwa shalat tahajud secara berjamaah merupakan hal yang dianjurkan oleh syara’. Maka ketika memunculkan mudarat tersebut, melaksanakan shalat tahajud secara berjamaah menjadi haram bahkan wajib untuk dicegah. Ketentuan demikian seperti yang dijelaskan dalam Bughyah al-Mustarsyidin:

ـ (مسألة : ب ك) : تباح الجماعة في نحو الوتر والتسبيح فلا كراهة في ذلك ولا ثواب ، نعم إن قصد تعليم المصلين وتحريضهم كان له ثواب ، وأي ثواب بالنية الحسنة ، فكما يباح الجهر في موضع الإسرار الذي هو مكروه للتعليم فأولى ما أصله الإباحة ، وكما يثاب في المباحات إذا قصد بها القربة كالتقوّي بالأكل على الطاعة ، هذا إذا لم يقترن بذلك محذور ، كنحو إيذاء أو اعتقاد العامة مشروعية الجماعة وإلا فلا ثواب بل يحرم ويمنع منها

“Diperbolehkan berjamaah pada shalat-shalat yang serupa dengan shalat sunnah witir dan tasbih, maka hal tersebut tidak dimakruhkan dan tidak mendapatkan pahala (atas jamaahnya), memang jika pelaksanaan jamaah tersebut ditujukan untuk mengajari orang-orang yang shalat dan memotivasi mereka, maka mendapatkan pahala dan setiap pahala digantungkan pada niat yang baik. Seperti halnya diperbolehkan mengeraskan suara pada shalat yang dianjurkan untuk dibaca pelan-pelan yang asalnya makruh, lalu diperbolehkan karena bertujuan mengajari (orang lain), apalagi shalat yang asalnya diperbolehkan (untuk dilaksanakan berjamaah). 

Dan juga seperti diganjarnya melakukan perbuatan yang mubah ketika ditujukan untuk ibadah, seperti niat bertujuan menguatkan diri untuk taat pada Allah saat makan. Ketentuan demikian ketika tidak berbarengan dengan hal yang dikhawatirkan seperti menyakiti orang lain atau orang awam meyakini bahwa berjamaah pada shalat sunnah di atas adalah hal yang memang disyariatkan. Jika terdapat hal-hal tersebut maka jamaah tersebut tidak mendapatkan pahala bahkan haram dan dicegah untuk melakukan hal ini.” (Abdurrahman bin Muhammad bin Husein Ba’lawi, Bughyah al-Mustarsyidin, Hal. 136)

Menyimak referensi di atas, sebaiknya bagi seseorang yang akan melaksanakan shalat tahajud secara berjamaah (dengan alasan kemaslahatan), agar memberi tahu terhadap para jamaahnya tentang hukum yang sebenarnya bahwa shalat tahajud asalnya dianjurkan untuk dilaksanakan secara sendirian, sedangkan dirinya mengajak orang lain untuk berjamaah karena bertujuan agar membiasakan untuk melaksanakan shalat tahajud. Dengan begitu, para jamaah tidak salah paham dalam memahami anjuran yang terdapat pada shalat tahajud.

Ketentuan yang sama juga berlaku pada shalat-shalat lain yang tidak dianjurkan berjamaah, seperti shalat dhuha, shalat rawatib, dan shalat sunnah lainnya. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa shalat tahajud berjamaah merupakan hal yang boleh dilakukan tanpa adanya kemakruhan. Meskipun tidak diganjar atas nama pelaksanaan jamaahnya, tapi dipandang baik karena faktor wujudnya tujuan lain yang dipandang maslahat. Namun hal tersebut dibatasi selama tidak terdapat mudarat yang muncul dalam pelaksanaan shalat tahajud secara berjamaah ini, seperti meyakini bahwa jamaah pada shalat tahajud merupakan hal yang dianjurkan. Jika muncul mudarat demikian, maka melaksanakan shalat tahajud dengan berjamaah menjadi haram dan wajib dicegah. Wallahu a’lam.

(Ustadz Ali Zainal Abidin)