IMG-LOGO
Jenazah

Aturan Fiqih atas Janin yang Meninggal dalam Kandungan

Rabu 27 Februari 2019 8:30 WIB
Aturan Fiqih atas Janin yang Meninggal dalam Kandungan
Ilustrasi via interris.it)
Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, sebuah peristiwa berpisahnya ruh dengan jasad. Kedatangannya begitu mengejutkan serta tak memandang sosok dan usia. Kapan pun ajal mereka datang, tak ada yang bisa mengundurnya sedetik pun. Begitu pun tatkala ajal mereka belum saatnya, tak ada yang bisa memajukannya walau sesaat.           

Sebagaimana diketahui bersama, ada empat kewajiban utama orang hidup terhadap orang yang telah meninggal: memandikan, mengafani, menshalatkan, dan menguburkan. Pertanyaannya, bagaimana jika yang meninggal adalah janin, baik meninggalnya sebelum lahir, setelah lahir, atau sesaat setelah lahir? Apa saja kewajiban orang hidup terhadapnya? 
Lantas bagaimana pula jika yang meninggal dunia adalah ibu sang janin. Apakah janinnya boleh dikeluarkan? Apakah jenazah ibunya bisa langsung dikebumikan atau menunggu sang janin turut meninggal? Bolehkan ada tindakan yang mempercepat kematian sang janin?   

Sesungguhnya, masalah ini telah menjadi sorotan para ulama fiqih, khususnya para ulama Syafi‘iyyah. Salah satunya adalah Syekh Zainuddil al-Malaibari. Dalam kitabnya, Fath al-Mu‘in (Terbitan Dar Ihya al-Kutub al-‘Araiyyah, hal. 46), ia mengungkapkan:  

ووري أي ستر بخرقة سقط ودفن وجوبا كطفل كافر نطق بالشهادتين. ولا يجب غسلهما بل يجوز. وخرج بالسقط العلقة والمضغة فيدفنان ندبا من غير ستر ولو انفصل بعد أربعة أشهر غسل وكفن ودفن وجوبا. فإن اختلج أو استهل بعد انفصاله صلي عليه وجوبا. 

Artinya, “Dan harus dibungkus—maksudnya ditutup—dengan kain serta wajib dikubur mayat janin yang lahir keguguran. Sama halnya dengan mayat anak kecil kafir yang mengucap dua kalimat syahadat. Namun, mayat janin keguguran dan anak kecil kafir itu tidak wajib dimandikan, hanya saja boleh jika mau dimandikan. Dikecualikan dari janin yang keguguran adalah gumpalan darah atau gumpalan daging (calon janin) yang keguguran. Maka keduanya sunnah dikuburkan tanpa harus dibungkus. Namun, bila janin yang keguguran itu telah berusia empat bulan, maka ia wajib dimandikan, dikafani, dan dikebumikan. Berbeda halnya jika setelah keluar sang janin bergerak atau bersuara, maka ia wajib dishalatkan (selain dimandikan, dikafani, dan dikebumikan).”  

Dalam kitab yang sama, Fath al-Mu‘in (Terbitan Daru Ihya al-Kutu al-‘Araiyyah, hal. 46), Syekh Zainuddin al-Malaibari menjelaskan perihal wanita yang meninggal dalam keadaan mengandung.  

ولا تدفن امرأة ماتت في بطنها جنين حتى يتحقق موته أي الجنين ويجب شق جوفها والنبش له إن رجي حياته بقول القوابل لبلوغه ستة أشهر فأكثر فإن لم يرج حياته حرم الشق لكن يؤخر الدفن حتى يموت.

Artinya, “Tidaklah dikebumikan jenazah wanita yang di dalam perutnya masih ada janin, sampai janin itu benar-benar meninggal. Bahkan, wajib membedah perutnya dan menggali kuburannya (jika telah dikuburkan) tatkala sang janin dalam perutnya diharapkan bisa hidup menurut pendapat para dukun bayi/bidan ahli karena telah berusia enam bulan atau lebih. Namun, jika sang janin tidak diharapkan bisa hidup, maka haram membedahnya, sehingga tunggulah proses penguburannya sampai si janin benar-benar meninggal.”   

Dari petikan tentang janin keguguran dan wanita hamil yang meninggal di atas, dapat ditarik sejumlah kesimpulan: 

1. Janin yang keguguran dan masih berupa gumpalan darah dan gumpalan daging, sunnah dikuburkan, tidak wajib dibungkus, tidak wajib dimandikan, tidak wajib dishalatkan.     

2. Jika sang janin yang keguguran sebelumnya tidak terlihat hidup, tidak pula terlihat ada tanda-tanda kehidupan, tidak pula tampak rupa dan kesempurnaan fisiknya, maka ia tidak wajib dimandikan dan tidak wajib dishalatkan. Namun, sunnah dibungkus dengan kain dan wajib dikuburkan.

3. Jika sang janin yang keguguran tidak terlihat hidup, tidak pula terlihat tanda-tanda hidup, namun tampak rupa dan kesempurnan fisiknya, terlebih usianya di atas empat bulan, maka jenazahnya wajib dimandikan, dikafani, dan dikuburkan, namun tidak wajib dishalatkan. 

4. Jika janin yang keguguran sebelumnya terlihat hidup, tampak pula tanda-tanda kehidupannya, seperti menangis, bergerak, menjerit, menggigil, dan sebagainya, sesaat setelah dilahirkan, maka jenazahnya wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dikuburkan, layaknya orang dewasa, walaupun saat keguguran usianya masih di bawah empat bulan, sebagaimana yang diungkap oleh Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain (Terbitan Dar al-Fikr, Beirut, Cet. Pertama, hal. 156). 

5. Wajib hukumnya membedah perut jenazah wanita yang di dalamnya ada janin, dengan catatan sang sanin diharapkan bisa hidup berdasarkan hasil pemeriksaan dukun bayi, bidan, dokter, atau petugas medis lain, terlebih usia kehamilan telah mencapai enam bulan atau lebih.  

6. Jika janin yang ada dalam rahim sang ibu tidak diharapkan bisa hidup, maka haram membedahnya. Tunggulah sampai ia benar-benar meninggal, sementara penguburan jenazah ibunya ditangguhkan.

7. Walau sang janin tidak dikeluarkan dari perut ibunya karena tidak memungkinkan untuk hidup, tetapi kematiannya tidak boleh dipercepat, seperti perut ibunya dibebani benda tertentu dan sebagainya. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Tatam Wijaya, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” dan  Pembina Organisasi Kepemudaan “KEPRIS”, Desa Jayagiri, Kec. Sukanagara, Cianjur Selatan, Jawa Barat. 

Rabu 20 Februari 2019 8:30 WIB
Apakah Utang Orang Meninggal Wajib Ditanggung Keluarga?
Apakah Utang Orang Meninggal Wajib Ditanggung Keluarga?
Aset orang yang meninggal dunia tidak boleh dibagikan kepada ahli waris terlebih dahulu sebelum tanggungan finansial mayit terpenuhi. Tanggungan-tanggungan tersebut meliputi biaya pemulasaraan jenazah, termasuk pembayaran rumah sakit jika ada, wasiat serta urusan utang piutang. 

Allah subhânahâ wa ta’âlâ berfirman:

مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ

Artinya: “(Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (setelah dibayar) utangnya.” (QS An-Nisa’: 11) 

Di antara catatan penting pada ayat di atas adalah tentang masalah utang piutang. Utang mayit (orang yang wafat) secara finansial dibagi menjadi dua kategori. Pertama utang finansial yang berhubungan dengan Tuhan seperti tanggungan zakat, orang tua yang sudah tidak kuat lagi menjalankan ibadah puasa Ramadhan sehingga ia harus membayar fidyah, dan lain sebagainya. Begitu juga seumpama ada orang yang selama hidupnya tidak pernah membayar zakat sama sekali padahal ia masuk kategori orang mampu, sedangkan ia meninggal dalam keadaan masih belum membayar zakat-zakatnya.

Kedua, utang finansial yang berhubungan dengan sesama manusia seperti utang uang, pakaian, beras dan lain sebagainya. 

Ada tiga pandangan ulama tentang mana yang semestinya diprioritaskan jika ada orang meninggal dengan mempunyai dua jenis tanggungan di atas. Pertama, yang harus diselesaikan pertama kali adalah utang finansial kepada Allah ta’âlâ. Pendapat ini yang paling shahîh. Kedua, lebih penting mendahulukan utang sesama manusia. Ketiga, masing-masing mempunyai kedudukan yang sama. Masing-masing dari perbedaan tiga pandangan di atas dikupas panjang lebar di beberapa kitab fiqih (Lihat selengkapnya: an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Muhadzzab [Dârul Fikr], juz 6, halaman 232). 

Adapun bagi orang meninggal dalam keadaan mempunyai tanggungan utang, ahli waris tidak bisa begitu saja membelanjakan harta warisan tanpa mendapatkan izin dari semua orang yang diutangi oleh mayit sebelum utang-utang tersebut dibayar. Bagaimanapun juga, orang yang mempunyai piutang mempunyai hak kepemilikan aset tinggalan mayit. Jadi segala transaksi apa pun yang menggunakan harta mayit harus atas persetujuan orang-orang yang mempunyai piutang kepada mayit.

Jika ada orang meninggal dunia—baik meninggalnya dengan aset warisan cukup banyak maupun sedikit—kemudian ada salah satu keluarga mengumumkan bahwa semua utang-utang si mayit ia yang menanggung, maka pengambilalihan tanggungan seperti ini hukumnya sah. Namun, meskipun sah atas pergeseran tanggungan, utang mayit tetap dianggap belum lunas jika keluarga atau penanggung yang bersedia menanggung utang tersebut belum benar-benar membayarkan utang mayit tadi secara kontan. 

ـ (مسألة): مات شخص وعليه دين وخلف مالاً قدر الدين أو أكثر لا تبرأ ذمته حتى يؤدي عنه، فلو تحمل الولي أو غيره الدين لينتقل إلى ذمته ويبرىء الميت بصيغة الضمان لم تبرأ على المشهور، ولا دلالة في حديث عليّ رضي الله عنه على براءة ذمة الميت بالضمان، وإنما فيه دلالة على صحة الضمان،

Artinya: “Ada orang meninggal dunia. Ia mempunyai tanggungan utang. Namun ia juga meninggalkan aset yang berbanding lurus dengan jumlah utang atau bahkan lebih banyak. Utang mayit dianggap belum lunas selama belum benar-benar dibayar secara kontan. Adapun jika ada ahli waris atau siapa saja yang berkenan menanggung utang mayit dengan misi supaya tanggungan utang mayit kepada pribadi penanggung, hukumnya tetap tidak bisa secara otomatis lunas. Demikian menurut pendapat masyhur. Adapun pendapat yang berdasar atas perkataan Sayidina Ali radliyallahu 'anh yang menegaskan lunasnya tanggungan mayit bisa sebab ada yang menanggung tersebut hanya mengarah kepada hukum pergeseran tanggungan utang orang lain termasuk orang yang meninggal itu hukumnya sah (namun tidak menjadi lunas jika tidak dibayarkan secara tunai). (Ibnu Ziyad, Ghayatu Talhishil Murad, [Darul Fikr, Beirut, 1994), halaman 219. 

Bagaimana jika ada orang meninggal dunia sedangkan utang yang harus ia bayar melebihi dengan aset yang ia tinggalkan atau bahkan ia malah tidak punya tinggalan aset sama sekali? Apakah ahli warisnya mempunyai kewajiban untuk membayarnya?

Ulama sepakat bahwa istilah warisan utang tidak ada dalam fiqih. Apabila mayit memang meninggal dunia dengan tanggungan utang menggunung, di sisi lain ia tidak meninggalkan aset cukup, maka ahli waris tidak otomatis berkewajiban membayar utang-utang mayit.

Namun apabila terdapat ahli waris yang menghendaki untuk berbaik hati, melaksanakan kesunnahan, hukumnya sah-sah saja membayarkan utang keluarganya yang sudah meninggal dunia. Demikian disampaikan oleh Al-Qurthubi dalam kitabnya Al-Jâmi’ li Ahkâmil Quran yang mengutip dari kitab Al Mufhim 3/443:
 
وبالاجماع لو مات ميت وعليه دين لم يجب على وليه قضاؤه من ماله، فان تطوع بذلك تأدى الدين عنه. 

Artinya: “Sesuai konsensus ulama, jika ada orang meninggal, sedangkan ia mempunyai tanggungan utang, maka bagi walinya tidak wajib membayarkan utang dengan mengambil harta walinya. Namun apabila ia ingin berbuat sunnah melalui demikian, bisa melaksanakan dengan cara membayarkan utang yang telah ditanggung mayit tersebut. (Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâmil Quran, [Maktabah Ar-Risalah, Beirut, 2006 M], juz 5, halaman 230). 

Bagaimana seumpama keluarga memang tidak mampu lalu dimintakan zakat. Utang mayit diambilkan dari bagian ghârim daripada ashnaf zakat?. 

Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Nawawi dalam karyanya Al-Majmu’, beliau mengutip dari Syekh Husain Yahya Al-Yamani, bahwa zakat yang disalurkan untuk melunasi utang mayit atas nama gharim terdapat dua pendapat. 

Pertama, tidak boleh. Pendapat ini dilontarkan oleh As-Shaimariy, mazhab An-Nakha’iy, Abu Hanifah dan Ahmad. 

Kedua, boleh-boleh saja sesuai arah ayat “al-gharim” dengan tanpa menyebut spesifikasi orang hidup atau mati. 

ـ (فَرْعٌ) لَوْ مَاتَ رَجُلٌ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ وَلَا تِرْكَةَ لَهُ هَلْ يُقْضَى مِنْ سَهْمِ الْغَارِمِينَ فِيهِ وَجْهَانِ حَكَاهُمَا صَاحِبُ الْبَيَانِ (أَحَدُهُمَا) لَا يَجُوزُ وَهُوَ قَوْلُ الصَّيْمَرِيِّ وَمَذْهَبُ النَّخَعِيِّ وَأَبِي حَنِيفَةَ وَأَحْمَدَ (وَالثَّانِي) يَجُوزُ لِعُمُومِ الْآيَةِ وَلِأَنَّهُ يَصِحُّ التَّبَرُّعُ بِقَضَاءِ دَيْنِهِ كَالْحَيِّ وَلَمْ يُرَجِّحْ وَاحِدًا مِنْ الْوَجْهَيْنِ 

Artinya: “Jika ada orang meninggal, ia mempunyai tanggungan utang sedangkan ia tidak mempunyai aset yang ditinggalkan. Apakah utang boleh dibayarkan dari jatah “gharimin” (orang-orang utang)? Di sini terdapat dua wajah. Pertama, tidak boleh. Pendapat ini dilontarkan oleh As-Shaimariy, mazhab An-Nakha’iy, Abu Hanifah dan Ahmad. Kedua, boleh-boleh saja sesuai arah ayat “al-gharim” dengan tanpa menyebut spesifikasi orang hidup atau mati.” (An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, [Darul Fikr], juz 6, halaman 211) 

Menurut Ad-Darimi, kebolehan mengambil jatah zakat untuk melunasi utang mayit tersebut apabila memang tidak ada ahli waris yang membayarkannya. Sedangkan menurut Syekh Yusuf bin Ahmad Ibnu Kajjin tetap tidak diperbolehkan ambil harta zakat, hingga untuk membeli kain kafan pun harus dibebankan kepada ahli waris meskipun mereka orang yang miskin. Wallahu a’lam


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang  

Selasa 19 Februari 2019 21:15 WIB
Kuburan, Rumah Idaman dan Penjara yang Menyiksa?
Kuburan, Rumah Idaman dan Penjara yang Menyiksa?
Ilustrasi (via saudigazette.com.sa)
Imam Al-Qurthubi di dalam tafsirnya Al-Jâmi’ li Ahkâmil Qur’ân menuliskan sebuah penjelasan tentang kematian:

قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْمَوْتُ لَيْسَ بِعَدَمٍ مَحْضٍ وَلَا فَنَاءٍ صِرْفٍ، وَإِنَّمَا هُوَ انْقِطَاعُ تَعَلُّقِ الرُّوحِ بِالْبَدَنِ وَمُفَارَقَتُهُ، وَحَيْلُولَةٌ بَيْنَهُمَا، وَتَبَدُّلُ حَالٍ وَانْتِقَالٌ مِنْ دَارٍ إِلَى دَارٍ

Artinya: “Para ulama berkata, kematian bukanlah ketiadaan belaka dan bukan pula kerusakan semata. Kematian hanyalah terputus dan terpisahnya hubungan ruh dengan badan, perubahan kondisi di antara keduanya, pergantian keadaan, dan perpindahan dari satu kampung ke kampung yang lain.” (Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jȃmi’ li Ahkȃmil Qur’ȃn, [Kairo: Darul Hadis, 2010], Juz IX, Hal. 428)

Apa yang disampaikan oleh Al-Qurthubi di atas setidaknya memberikan pemahaman kepada kita bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Kematian seseorang tidak berarti perjalanan kehidupannya telah selesai sama sekali dan kemudian tidak akan ada lagi fase berikutnya. Kematian sesungguhnya adalah akhir satu fase dari beberapa fase kehidupan manusia yang pasti akan dilaluinya. Kematian mengantarkan seorang manusia menjalani kehidupan pada sebuah fase berikutnya yang tidak sama dengan fase kehidupan sebelumnya.

Yang cukup menarik dari apa yang dijelaskan Al-Qurthubi dan akan dibahas pada tulisan ini adalah kalimat intiqâlun min dârin ilâ dârin, bahwa kematian merupakan perpindahan dari satu kampung ke kampung yang lain.

Dapat digambarkan perihal orang yang berpindah tempat dari satu kampung ke kampung yang lain, di kampung barunya ia dapat beraktivitas sebagaimana ia beraktivitas di kampung lamanya. Ia dapat mengunjungi tetangga rumahnya sesama penduduk kampung, pun ia masih bisa mengunjungi keluarga yang ditinggalkannya di kampung lama, hingga ia mengetahui bagaimana kabar mereka.

Demikian pula dengan orang yang meninggal dunia. Di alam kuburnya—alam barzakh—ia bukan makhluk mati yang sama sekali tak mampu beraktivitas. Di sana ia hidup dan beraktivitas dalam sebuah kehidupan yang tentunya tak sama dengan kehidupan dunia. 

Mereka yang telah memasuki alam barzakh dapat saling mengunjungi satu sama lain, berbincang berbagai hal tentang apa-apa yang dulu pernah mereka alami saat bersama hidup di alam dunia. Pun mereka juga mengetahui apa-apa yang sedang terjadi pada keluarga mereka, para tetangga, dan sanak keluarga yang masih hidup di dunia. Hanya saja mereka yang masih hidup di dunia tak mengetahui apa yang terjadi di alam kubur sana.

Alam kubur atau alam barzakh tak ubahnya seperti sebuah ruangan berkaca riben. Orang yang ada di dalamnya mampu melihat orang yang di luar, namun orang yang di luar tak bisa melihat yang ada di dalam.

Namun demikian, kehidupan di alam barzakh yang seperti itu hanya dinikmati oleh mereka yang semasa hidup di dunianya melakukan ketaatan kepada Allah dan berperilaku baik terhadap sesama makhluk-Nya. Sedangkan mereka yang saat di dunia berperilaku menyimpang dari ajaran Islam, tidak menaati Allah dan Rasul-Nya, serta tidak memperlakukan sesama sebagaimana mestinya, maka alam kubur baginya laksana penjara. Ia tak bisa meninggalkan tempatnya, melakukan aktivitas secara bebas, saling mengunjungi dan berbicara dengan lainnya, juga tak tahu bagaimana kabar keluarga yang ditinggalkannya.

Hal ini dapat dipahami dari penuturan Imam Ibnu Qayim Al-Jauzi di dalam kitabnya Ar-Rûh:

أَن الْأَرْوَاح قِسْمَانِ أَرْوَاح معذبة وأرواح منعمة فالمعذبة فِي شغل بِمَا هى فِيهِ من الْعَذَاب عَن التزاور والتلاقي والأرواح المنعمة الْمُرْسلَة غير المحبوسة تتلاقي وتتزاور وتتذاكر مَا كَانَ مِنْهَا فِي الدُّنْيَا وَمَا يكون من أهل الدُّنْيَا

Artinya: “Sesungguhnya arwah ada dua macam; arwah yang disiksa dan arwah yang diberi nikmat. Arwah yang disiksa sibuk menjalani siksaan yang menjadikan mereka tidak bisa saling berkunjung dan berjumpa dengan lainnya. Sedangkan arwah yang diberi nikmat bebas tidak tertahan, mereka dapat saling bertemu, mengunjungi dan mengingat apa-apa yang dulu terjadi di dunia dan apa-apa yang sedang terjadi pada penduduk dunia.” (Ibnu Qayim Al-Jauzi, Ar-Rȗh, [Beirut: Darul Fikr, 2005], hal. 27)

Dari sini maka alam kubur bagi penghuninya bisa merupakan rumah yang aman dan nyaman bagi yang menjalani ketaatan kepada Allah, dan sebaliknya alam kubur juga bisa menjadi penjara bagi siapa saja yang menyimpang dari aturan-aturan-Nya.

Maka apa pun amalan yang dilakukan oleh seorang manusia pada saat hidup di dunia sesungguhnya ia sedang membangun kuburnya sebagai rumah atau sebagai penjara. Bila ketaatan yang ia lakukan maka kelak ketika meninggal dunia ia hanya berpindah dari rumah dunia ke rumah barzakh yang bisa jadi jauh lebih menyenangkan baginya. Namun bila sebaliknya maka bisa jadi ketika ia mati ia berpindah dari rumah dunia yang nyaman baginya ke dalam penjara yang begitu menyiksa. Wallȃhu a’lam


Ustadz Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal.


Rabu 16 Januari 2019 13:30 WIB
Jenazah Masih Boleh Dishalati di Kuburannya setelah Berapa Lama?
Jenazah Masih Boleh Dishalati di Kuburannya setelah Berapa Lama?
Ilustrasi (via muftinews.com)
Menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i, shalat jenazah di kuburan diperbolehkan bagi orang yang terkena tuntutan kewajiban saat kematian mayat. Oleh sebab itu, tidak sah menshalati jenazah para sahabat atau para wali yang wafat sejak beberapa abad yang silam, misalkan kuburan Wali Songo. Sebab saat beliau-beliau wafat, kita belum lahir, lebih-lebih terkena tuntutan kewajiban menshalati.

Berbeda dengan jenazah yang saat kewafatannya kita sudah terkena tuntutan kewajiban, misalkan saudara atau kiai yang baru saja wafat beberapa waktu silam, maka hukumnya sah, asalkan tergolong orang yang berkewajiban menshalati saat kematian jenazah. 

Yang menjadi pertanyaan, berapakah batas maksimal umur jenazah yang boleh dishalati di kuburannya? Setahun, dua tahun atau berapa lama?

Syekh Khathib al-Syarbini menegaskan, dalam masalah ini ada lima pendapat. Pendapat pertama, tidak ada batas berapa umur jenazah yang boleh dishalati di kuburnya. Berpijak dari pendapat ini, sah menshalati jenazah para sahabat dan ulama setelahnya sampai hari ini. Pendapat ini tidak mensyaratkan orang yang menshalati harus tergolong ahlul fardli (orang yang berkewajiban) menshalati saat hari kematian jenazah.

Pendapat kedua, dibatasi sampai tiga hari. Pendapat ini juga sesuai dengan mazhab Imam Abu Hanifah. Dengan demikian, bila umur jenazah sudah melampaui tiga hari, tidak sah untuk dishalati di kuburannya.

Pendapat ketiga, maksimal berusia satu bulan. Pendapat ini sesuai dengan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal.

Pendapat keempat, selama masih tersisa anggota tubuh mayat. Bila anggota tubuh mayat telah hancur, maka tidak boleh dishalati. Bila ragu-ragu masih tersisa atau telah sirna, maka dihukumi masih tersisa.

Pendapat kelima, dikhususkan untuk orang yang berkewajiban menshalati saat kematian mayat. Berpijak dari pendapat ini, tidak ada batasan berapa lama usia jenazah yang boleh dishalati di kuburnya, asalkan dilakukan oleh orang yang terkena tuntutan kewajiban menshalati saat kewafatan jenazah. Pendapat kelima ini adalah yang kuat dalam mazhab Syafi’i, disahihkan oleh al-Imam al-Rafi’i dalam kitab al-Syarh al-Shagir.

Uraian di atas sebagaimana dijelaskan dalam referensi berikut ini:

وإلى متى يصلى عليه فيه أوجه أحدها أبدا فعلى هذا تجوز الصلاة على قبور الصحابة فمن بعدهم إلى اليوم قال في المجموع وقد اتفق الأصحاب على تضعيف هذا الوجه  

“Sampai kapan boleh menshalati mayat di kuburnya? Terdapat beberap pendapat. Pendapat pertama, selamanya. Berpijak dari ini, boleh menshalati kuburnya para sahabat dan ulama setelahnya hingga sekarang. Al-Imam Al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ berkata, para ashab sepakat melemahkan pendapat ini.”

ثانيها إلى ثلاثة أيام دون ما بعدها وبه قال أبو حنيفة  ثالثها إلى شهر وبه قال أحمد  رابعها ما بقي منه شيء في القبر فإن انمحقت أجزاؤه لم يصل عليه وإن شك في الانمحاق فالأصل البقاء  

“Pendapat kedua, sampai tiga hari, bukan durasi setelahnya. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Pendapat ketiga, selama masih tersisa anggota tubuh mayat di dalam kubur. Bila telah hancur anggota-anggotanya, maka tidak boleh dishalati. Bila ragu-ragu, maka hukum asal dihukumi masih tersisa.”

خامسها يختص بمن كان من أهل الصلاة عليه يوم موته وصححه في الشرح الصغير فيدخل المميز على هذا دون غير المميز

“Pendapat kelima, terkhusus untuk orang yang tergolong berkewajiban menshalati mayat saat hari kematiannya. Pendapat ini disahihkan oleh Imam al-Rafi’i dalam Syarh al-Shaghir, maka memasukkan anak kecil yang sudah tamyiz, bukan anak yang belum mencapai tamyiz.” (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal. 346).

Demikian penjelasan mengenai batas maksimal umur jenazah yang diperbolehkan dishalati di kuburnya. Semoga bermanfaat.


(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)