IMG-LOGO
Ubudiyah

Istighotsah: Definisi, Macam, dan Dalilnya

Senin 18 Maret 2019 8:0 WIB
Share:
Istighotsah: Definisi, Macam, dan Dalilnya
Istighotsah adalah pola (wazn) istif’aal (اِسْتِفْعَال) dari kata al-ghauts (الغَوْث) yang berarti pertolongan. Pola ini salah satu fungsinya adalah menunjukkan arti طَلَبٌ (permintaan atau permohonan). Seperti kata غُفْرَان yang berarti ampunan, ketika diikutkan pola istif’al (اِسْتِفْعَال) menjadi istighfar (اسْتِغْفَار), artinya menjadi: memohon ampunan. Jadi istighotsah berarti thalab al-ghauts (طَلَبُ الغَوْثِ): meminta pertolongan. 

Para ulama membedakan antara Istighotsah dengan Isti’anah meskipun secara kebahasaan makna Istighotsah dan Isti’anah kurang lebih sama. Karena isti’anah juga mengikuti pola Istif’aal (اِسْتِفْعَال) dari kata al-‘aun (العَوْن) yang berarti thalab al-‘aun (طَلَبُ الْعَوْنِ): meminta pertolongan. Istighotsah adalah:

طَلَبُ الغَوْثِ عِنْدَ الشِّدَّةِ وَالضِّيْقِ

“Meminta pertolongan ketika dalam keadaan sukar dan sulit.” 

Sedangkan Isti’anah maknanya lebih luas dan umum. 

Allah  berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ

Maknanya: “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” (QS al Baqarah: 45).

Macam-macam Istighotsah

Istighotsah ada dua macam:

Pertama, istighotsah kepada Allah

Dalam Surat al-Anfal ayat 9 disebutkan:

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

Yang artinya: “(Ingatlah wahai Muhammad), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”  (QS al-Anfal: 9).

Ayat ini menjelaskan peristiwa ketika Nabi Muhammad  memohon bantuan dari Allah. Saat itu beliau berada di tengah berkecamuknya perang badar di mana kekuatan musuh tiga kali lipat lebih besar dari pasukan Islam, kemudian Allah mengabulkan permohonan Nabi dengan memberi bantuan pasukan tambahan berupa seribu pasukan malaikat. Dalam Surat Al-Ahqaf ayat  17 juga disebutkan:

وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ 

Yang artinya: “Kedua orang tua memohon pertolongan kepada Allah” (QS al Ahqaf:17).

Yang dalam hal ini, memohon pertolongan Allah atas kedurhakaan sang anak dan keengganannya meyakini hari kebangkitan, dan tidak ada cara lain yang dapat ditempuh oleh keduanya untuk menyadarkan sang anak kecuali memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kedua, Istighotsah kepada selain Allah

Beristighotsah kepada selain Allah hukumnya boleh dengan melihat bahwa makhluk yang dimintai pertolongan adalah sebab. Jadi meskipun sesungguhnya pertolongan itu datangnya dari Allah, Allah-lah pemberi pertolongan yang sesungguhnya, namun tidak menafikan bahwa Allah menjadikan sebab-sebab yang telah dipersiapkan agar terwujud pertolongan tersebut. 

Dalil-dalil Istighotsah dengan Selain Allah

• Hadits al-Bukhari:

إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُوْ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ العَرَقُ نِصْفَ الأُذُنِ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوْا بِآدَمَ ثُمَّ بِمُوْسَى ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ  (رواه البخاريّ) ـ

“Matahari akan mendekat ke kepala manusia di hari kiamat, sehingga keringat sebagian orang keluar hingga mencapai separuh telinganya, ketika mereka  berada pada kondisi seperti itu mereka beristighotsah  (meminta pertolongan) kepada Nabi Adam, kemudian kepada Nabi Musa kemudian kepada Nabi Muhammad ” (HR al-Bukhari).

Faedah Hadits: Hadits ini adalah dalil dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah dengan keyakinan bahwa seorang nabi atau wali adalah sebab. Terbukti ketika manusia di mahsyar terkena terik panasnya sinar matahari mereka meminta tolong kepada para nabi. Kenapa mereka tidak berdoa kepada Allah saja dan tidak perlu mendatangi para nabi tersebut? Seandainya perbuatan ini adalah syirik niscaya mereka tidak melakukan hal itu, dan jelas tidak ada dalam ajaran Islam suatu perbuatan yang dianggap syirik di dunia, sedangkan di akhirat tidak terhitung syirik. Syirik adalah syirik di dunia dan di akhirat, dan yang bukan syirik di dunia, bukan syirik pula di akhirat!

• Hadits riwayat al-Bayhaqi, Ibnu Abi Syaibah, dan lainnya:

عَنْ مَالِك الدَّار وَكانَ خَازِنَ عُمَرَ قال: أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِيْ زَمَانِ عُمَرَ فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ  فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوْا، فَأُتِيَ الرَّجُلُ فِيْ الْمَنَامِ فَقِيْلَ لَهُ: أَقْرِئْ عُمَرَ السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُ أَنَّهُمْ يُسْقَوْنَ، وَقُلْ لَهُ عَلَيْكَ الكَيْسَ الكَيْسَ، فَأَتَى الرَّجُلُ عُمَرَ فَأَخْبَرَهُ، فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ: يَا رَبِّ لاَ آلُوْ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ

Maknanya: “Paceklik datang di masa Umar, maka salah seorang sahabat yaitu Bilal ibn al Harits al Muzani mendatangi kuburan Nabi dan mengatakan: Wahai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu karena sungguh mereka betul-betul telah binasa, kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan Rasulullah berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya “bersungguh-sungguhlah dalam melayani umat.” Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, Saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu.”

Hadits ini dinilai sahih oleh al Bayhaqi, Ibnu Katsir, al Hafizh Ibnu Hajar dan lainnya.

Faedah Hadits: Hadits ini menunjukkan dibolehkannya beristighotsah dengan para nabi dan wali yang sudah meninggal dengan redaksi Nida’ (memanggil) yaitu (يَا رَسُوْلَ اللهِ). Ketika Bilal ibn al Harits al Muzani mengatakan: (اسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ), maknanya adalah: “Mohonkanlah hujan kepada Allah untuk ummat-mu,” bukan ciptakanlah hujan untuk ummatmu. Jadi dari sini diketahui bahwa boleh bertawassul dan beristighotsah dengan mengatakan: 

يَا رَسُوْلَ اللهِ، ضَاقَتْ حِيْلَتِيْ، أَدْرِكْنِيْ أَوْ أَغِثْنِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ

Karena maknanya adalah tolonglah aku dengan doamu kepada Allah, selamatkanlah aku dengan doamu kepada Allah. Rasulullah bukan pencipta manfa’at atau mara bahaya, beliau hanyalah sebab seseorang diberikan manfaat atau dijauhkan dari bahaya. Rasulullah saja telah menyebut hujan sebagai Mughits (penolong dan penyelamat) dalam hadits riwayat Abu Dawud dan lainnya dengan sanad yang sahih:

اللّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَآرٍّ عَاجِلاً غَيْرَ ءَاجِلٍ

Berarti sebagaimana Rasulullah menamakan hujan sebagai mughits karena hujan menyelamatkan dari kesusahan dengan izin Allah, demikian pula seorang nabi atau wali menyelamatkan dari kesusahan dan kesulitan dengan seizin Allah. Jadi boleh mengatakan perkataan (أَغِثْنِيْ يَا رَسُوْلَ اللهِ) dan semacamnya ketika bertawassul, karena keyakinan seorang muslim ketika mengatakannya adalah bahwa seorang nabi dan wali hanya sebab sedangkan pencipta manfaat dan yang menjauhkan mara bahaya secara hakiki adalah Allah, bukan nabi atau wali tersebut.

Umar yang mengetahui bahwa Bilal ibn al Harits al Muzani mendatangi kuburan Nabi, kemudian bertawassul, beristighotsah dengan mengatakan: (يَارَسُوْلَ اللهِ، اسْتَسْقِ لِأُمَّتِكَ)  yang mengandung nida’ (panggilan) dan perkataan (اسْتَسْقِ) tidak mengafirkan atau memusyrikkan sahabat Bilal ibn al Harits al Muzani, sebaliknya menyetujui perbuatannya dan tidak ada seorang sahabat pun yang mengingkarinya.

• Ath-Thabarani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah bersabda:

إِنَّ للهِ مَلاَئِكَةً فِيْ الأَرْضِ سِوَى الْحَفَظَةِ يَكْتُبُوْنَ مَا يَسْقُطُ مِنْ وَرَقِ الشَّجَرِ فَإِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ عَرْجَةٌ بِأَرْضٍ فَلاَةٍ فَلْيُنَادِ أَعِيْنُوْا عِبَادَ اللهِ (رواه الطّبَرَانِيّ وقال الحافظ الهيثميّ: رجاله ثقات ورواه أيضا البزّار وابن السُّنِّيِّ) ـ

Maknanya: “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat di bumi selain hafazhah yang menulis daun-daun yang berguguran, maka jika kalian ditimpa kesulitan di suatu padang maka hendaklah mengatakan: tolonglah aku, wahai para hamba Allah” (HR ath-Thabarani dan al Hafizh al Haytsami mengatakan: perawi-perawinya tepercaya, juga diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Ibnu as-Sunni) 

Hadits ini dinilai hasan oleh al Hafizh Ibnu Hajar dalam al Ama-li.

Faedah Hadits: Hadits ini menunjukkan dibolehkannya beristi’anah dan beristighotsah dengan selain Allah, yaitu para shalihin meskipun tidak di hadapan mereka dengan redaksi nida’ (memanggil). An-Nawawi setelah menyebutkan riwayat Ibnu as-Sunni dalam kitabnya al-Adzkar mengatakan: “Sebagian dari guru-guruku yang sangat alim pernah menceritakan bahwa pernah suatu ketika lepas hewan tunggangannya dan beliau mengetahui hadits ini lalu beliau mengucapkannya maka seketika hewan tunggangan tersebut berhenti berlari, Saya-pun suatu ketika bersama suatu jama’ah kemudian terlepas seekor binatang mereka dan mereka bersusah payah berusaha menangkapnya dan tidak berhasil kemudian saya mengatakannya dan seketika binatang tersebut berhenti tanpa sebab kecuali ucapan tersebut.” Ini menunjukkan bahwa mengucapkan tawassul dan istighotsah tersebut adalah amalan para ulama ahli hadits dan yang lainnya.

Hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari dalam kitabnya, al-Adab al-Mufrad dengan sanad yang sahih tanpa ‘illat dari Abdurrahman ibn Sa’d, beliau berkata: Suatu ketika kaki Ibnu Umar terkena semacam kelumpuhan (Khadar), maka salah seorang yang hadir mengatakan: Sebutkanlah orang yang paling Anda cintai!, lalu Ibnu Umar mengatakan: Yaa Muhammad. Seketika itu, kaki beliau sembuh. Atsar ini juga diriwayatkan oleh al Imam Ibrahim al Harbi dalam kitabnya Gharib al-Hadits.

Faedah Hadits: Hadits ini menunjukkan bahwa sahabat Abdullah ibnu Umar melakukan Istighotsah dengan nida’: “Yaa Muhammad (يَا مُحَمَّدُ).” Makna يَا مُحَمَّدُ  adalah  أَدْرِكْنِيْ بِدُعَائِكَ إِلَى اللهِ: “tolonglah aku dengan doamu kepada Allah.” Hal ini dilakukan setelah Rasulullah wafat. Ini menunjukkan bahwa boleh beristighotsah dan bertawassul dengan Rasulullah setelah beliau wafat, meskipun dengan menggunakan redaksi nida’, jadi nida’ al-mayyit (memanggil seorang nabi dan wali yang telah meninggal) bukan syirik.


Dikutip dari buku “Argumen Ahlussunnah wal Jama’ah, Jawaban Tuntas atas Tuduhan Bid’ah dan Sesat” karya Ustadz Abu Abdillah (pengasuh beberapa majelis ta’lim, tinggal di Jakarta) dan Ustadz Nur Rohmad (peneliti/pemateri Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, tinggal di Mojokerto).
Tags:
Share:
Senin 18 Maret 2019 21:30 WIB
Jawaban atas Tudingan Pihak Anti-Istighotsah
Jawaban atas Tudingan Pihak Anti-Istighotsah
Pertama: Orang-orang yang anti terhadap istighotsah sering menyebut-nyebut sebagai dalil mereka sebuah hadits yang disepakati sebagai hadits dla’if. Yaitu hadits bahwa Abu Bakr berkata: Mari kita mendatangi Rasulullah dan meminta pertolongan kepada beliau dari orang munafik ini, kemudian Rasulullah mengatakan:

إِنَّهُ لاَ يُسْتَغَاثُ بِيْ، إِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللهِ

“Sungguh tidak boleh beristighotsah denganku, istighotsah hanyalah boleh dengan Allah.”

Jawab: Hadits ini salah satu perawinya adalah Ibnu Lahi’ah dan ia adalah perawi yang lemah. Hadits ini juga bertentangan dengan hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari dalam Shahih-nya dari sahabat Abdullah ibnu Umar tentang peristiwa di padang Mahsyar. Bagaimana mereka berpegangan dengan hadits yang dla’if dan bertentangan dengan hadits yang shahih?. 

Baca juga:
Istighotsah: Definisi, Macam, dan Dalilnya
Bukti-bukti Istighotsah Amalan Para Ulama Salaf dan Khalaf
Jawaban Metodologis untuk Orang yang Gemar Menvonis Bid’ah
Kedua: Kalangan yang anti istighotsah, ketika mengharamkan isti’anah dan istighotsah dengan selain Allah juga menyebutkan hadits Nabi dari Ibnu Abbas:

(إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ  (رواه الترمذيّ

Hadits ini menunjukkan bahwa hanya boleh beristi’anah dan beristighotsah kepada Allah.

Jawab: Makna hadits ini bukanlah: Jangan meminta kepada selain Allah dan jangan meminta tolong kepada selain Allah. Melainkan makna hadits ini adalah bahwa yang paling layak diminta dan diharap pertolongannya adalah Allah . Hadits ini maknanya seperti hadits Nabi:

(لاَ تُصَاحِبْ إِلاَّ مُؤْمِنًا، وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلاَّ تَقِيٌّ (رواه ابن حبّان

Jadi sebagaimana hadits ini tidak menunjukkan haramnya bersahabat dengan non muslim dan haramnya memberi makan kecuali kepada orang yang bertakwa, melainkan maknanya bahwa yang paling layak dijadikan teman adalah orang mukmin dan yang paling layak dijamu adalah orang yang bertakwa. Hadits tersebut tidak berarti haram memberi makan kepada selain orang mukmin dan haram menjadikannya sebagai teman. Allah  memuji kaum muslimin di dalam al Qur'an dengan firman-Nya:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

Maknanya: “Dan mereka memberikan makanan karena Allah kepada orang miskin, anak yatim dan orang kafir yang ditawan” (QS al-Insan: 8).

Demikian pula hadits Ibnu Abbas hanya menunjukkan makna awlawiyyah (yang paling layak). Karena Rasulullah tidak mengatakan:

لاَ تَسْأَلْ غَيْرَ اللهِ وَلاَ تَسْتَعِنْ بِغَيْرِ اللهِ

Bukankah jauh berbeda antara perkataan:

لاَ تَسْأَلْ غَيْرَ اللهِ وَلاَ تَسْتَعِنْ بِغَيْرِ اللهِ 

Dan perkataan:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ 

Dan jika hadits Ibnu Abbas dimaknai secara mutlak bahwa tidak boleh meminta pertolongan kecuali kepada Allah, itu artinya menolak dalil-dalil yang sahih tentang isti’anah dan istighotsah kepada selain Allah yang telah disebutkan, juga menolak ayat-ayat dan hadits-hadits umum yang menisbatkan Ighatsah (memberi pertolongan) kepada hamba dan menganjurkan para hamba untuk saling tolong menolong antar sesama, di antaranya firman Allah:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

Maknanya: “Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” (QS al Maa-idah: 2).

Rasulullah  bersabda:

(وَأَنْ تُغِيْثُوْا الْمَلْهُوْفَ وَتَهْدُوْا الضّآلَّ  (رواه أبو داود 

“(Di antara hak-hak jalan) kalian menolong orang yang berada dalam kesulitan dan menunjukkan orang yang tersesat jalan”   (HR Abu Dawud)

Rasulullah  juga bersabda: 

وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Allah akan senantiasa menolong hamba selama hamba menolong sesamanya” (HR Muslim)

Dalam Fatawa Syamsuddin ar-Ramli disebutkan: “Ar-Ramli ditanya tentang perbuatan orang-orang awam, di kala mereka dalam kesulitan dan kesusahan, mereka mengatakan: Wahai Syekh Fulan, Wahai Rasulullah, dan perkataan-perkataan semacamnya yang merupakan istighotsah (meminta pertolongan) kepada para nabi, para Rasul, para wali, para ulama, dan orang-orang saleh, apakah hal itu boleh atau tidak? dan apakah para Rasul, para nabi, para wali, para ulama, dan orang-orang saleh, bisa melakukan ighatsah (memberi pertolongan) setelah mereka meninggal? Dan apa dalil yang menunjukkan hal itu?.”

Ar-Ramli menjawab: “Istighotsah dengan para nabi, para rasul, para wali, para ulama, dan orang-orang saleh adalah boleh. Dan para nabi, para Rasul, para wali, para ulama, dan orang-orang saleh mampu  melakukan ighatsah (memberi pertolongan) setelah mereka meninggal, karena mukjizat para nabi dan karamah para wali tidak terhenti/ terputus dengan meninggalnya mereka. Tentang para nabi, karena mereka hidup di kuburan mereka dan mereka melakukan shalat di kuburan mereka sebagaimana diriwayatkan dalam hadits-hadits. Jadi pertolongan (هghatsah) dari para nabi adalah mukjizat mereka. Sedangkan bagi para wali adalah karamah bagi mereka, karena Ahlul Haqq meyakini bahwa baik dengan kesengajaan dari mereka atau tanpa sengaja, mungkin saja terjadi dari para wali hal-hal yang menyalahi kebiasaan yang Allah munculkan karena sebab mereka.”   


Dikutip dari buku “Argumen Ahlussunnah wal Jama’ah, Jawaban Tuntas atas Tuduhan Bid’ah dan Sesat” karya Ustadz Abu Abdillah (pengasuh beberapa majelis ta’lim, tinggal di Jakarta) dan Ustadz Nur Rohmad (peneliti/pemateri Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, tinggal di Mojokerto)

Senin 18 Maret 2019 15:0 WIB
Bukti-bukti Istighotsah Amalan Para Ulama Salaf dan Khalaf
Bukti-bukti Istighotsah Amalan Para Ulama Salaf dan Khalaf
Ilustrasi: Istighotsah kubra PWNU Jatim di Sidoarjo, 2018
Orang yang membaca sejarah akan mengetahui bahwa ternyata para ulama salaf dan khalaf melakukan istighotsah kepada selain Allah, yakni meminta pertolongan kepada seorang nabi atau wali atau mendatangi makam mereka dengan keyakinan bahwa nabi dan wali hanya sebab, sedangkan pemberi pertolongan sesungguhnya adalah Allah. Ini sangat berbeda dengan yang dikesankan oleh sebagian orang bahwa para ulama salaf menganggap istighotsah, tawassul, tabarruk sebagai syirik dan kufur. 
Berikut ini sebagian fakta sejarah bahwa para ulama salaf dan khalaf melakukan istighotsah dengan selain Allah, tetapi tetap dengan keyakinan bahwa nabi dan wali hanya sebab, sedangkan pemberi pertolongan sesungguhnya adalah Allah.

• Ad-Darimi meriwayatkan dalam Sunan-nya dengan sanad yang Laa Ba'sa bihi dari Abu al Jawza’ ia mengatakan: “Suatu ketika penduduk Madinah terkena paceklik yang parah, hingga mereka mengadu kepada ‘Aisyah, maka ‘Aisyah mengatakan: Lihatlah dan datangi kuburan Nabi, lalu buatlah di atasnya celah atau lubang ke arah langit sehingga tidak ada bagian dari atap yang menghalangi antara kuburan dengan langit. Maka mereka melaksanakan petunjuk Ummul Mukminin ‘Aisyah tersebut dan akhirnya turun hujan deras hingga rerumputan tumbuh dan unta-unta kegemukan, hingga tahun tersebut dinamakan “Aam al Fatq”, yakni tahun pada saat binatang-binatang ternak waktu itu gemuk-gemuk dan melimpah gajih dan dagingnya.”

Faedah Atsar: Dalam hadits ini, Ummul Mukminin ‘Aisyah memerintahkan penduduk Madinah agar mendatangi kuburan Nabi dan membuka atapnya sebagai bentuk Mubalaghah dalam beristisyfa’ dan beristighotsah dengan beliau sebagaimana dikatakan oleh Syekh Ali al Qari dalam Syarh Misykaat al-Mashaabiih. Kisah ini terjadi setelah kisah Umar dan sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani di atas.

• Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah (7/90) bahwa di suatu malam di musim paceklik Umar melakukan pengecekan terhadap kondisi rakyat Madinah. Ketika itu beliau tidak menemukan seorang pun tertawa, dan orang-orang tidak ada yang berbincang-bincang di rumah mereka seperti biasa. Beliau tidak melihat pengemis yang meminta, kemudian beliau bertanya tentang sebabnya, dan dikatakan kepadanya: Wahai Amirul Mukminin, para pengemis meminta tetapi mereka tidak diberi sehingga mereka berhenti meminta-minta, orang-orang juga dalam keadaan sedih dan kekurangan sehingga mereka tidak berbincang-bincang seperti biasanya, mereka juga tidak tertawa. Lalu umar mengirimkan surat kepada Abu Musa di Bashrah: “Tolonglah Ummat Muhammad,” beliau juga menulis kepada ‘Amr bin al ‘Ash di Mesir: “Tolonglah Ummat Muhammad.” Maka masing-masing mengirim rombongan utusan yang membawa gandum dan makanan-makanan. Atsar ini seperti dikatakan oleh Ibnu Katsir sanadnya jayyid (kuat). 

Faedah Atsar: Dalam atsar ini, Umar bin al Khaththab beristighotsah dengan Abu Musa dan ‘Amr ibn al ‘Ash padahal keduanya tidak berada di hadapan Umar (Gha-ib). ini adalah bukti bahwa Umar meyakini beristighotsah dengan seorang yang tidak di hadapan orang yang beristighotsah hukumnya boleh, bukan kufur dan bukan syirik, bahkan tidak haram sama sekali.

• Ibnu Katsir juga menyebutkan riwayat Sayf dari Mubasysyir ibn al Fudlayl dari Jubayr bin Shakhr dan ‘Ashim bin Umar bin Khattab bahwa salah seorang dari kabilah Muzaynah di tahun paceklik di masa Umar diminta oleh keluarganya agar menyembelih seekor kambing untuk mereka, lalu ia menjawab: Kambing-kambing itu tidak ada dagingnya. Namun keluarganya tetap mendesaknya, akhirnya ia-pun menyembelih seekor kambing, dan ternyata tulang-tulangnya berwarna merah, lalu dia mengatakan: “Yaa Muhammadaah (tolonglah kami Wahai Muhammad).”

Faedah Atsar: Dalam atsar ini, orang tersebut beristighotsah dengan Nabi padahal beliau telah meninggal. Ini berarti beristighotsah dengan seorang Nabi atau wali yang sudah meninggal hukumnya boleh, karena tidak ada seorang pun yang mengingkari hal itu.

• Yel-yel umat Islam ketika perang Yamamah pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq adalah: “Waa Muhammadaah.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabari dalam Tarikh-nya dan Ibnu Katsir dalam Tarikh-nya).

Faedah Atsar: Dalam atsar ini bahwa para sahabat beristighotsah dengan Nabi padahal Nabi telah meninggal. Ini berarti bahwa mereka meyakini bahwa beristighotsah dengan seorang Nabi atau wali yang mayyit (sudah meninggal) hukumnya boleh, bukan kufur, bukan syirik bahkan bukan perkara haram.

• Imam asy-Syafi'i (w. 204 H) berkata:

إِنِّيْ لأَتَبَرَّكُ بِأَبِيْ حَنِيْفَةَ وَأَجِيْءُ إِلَى قَبْرِهِ فِيْ كُلِّ يَوْمٍ –يَعْنِيْ زَائِرًا، فَإِذَا عَرَضَتْ لِيْ حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَجِئْتُ إِلَى قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ تَعَالَى الْحَاجَةَ عِنْدَهُ ، فَمَا تَبْعُدُ عَنِّيْ حَتَّى تُقْضَى

“Sungguh aku bertabarruk (mengambil berkah) Abu Hanifah, aku mendatangi kuburannya tiap hari –dalam rangka berziarah-, dan jika muncul keperluan aku shalat dua raka'at lalu aku datang ke kuburannya dan aku memohon kepada Allah keperluan tersebut di makam Abu Hanifah, dan belum jauh aku meninggalkan kuburan kecuali hajat-ku tersebut telah dikabulkan oleh Allah.” (Diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, 1/122-125).

Faedah Atsar: Siapa yang berani mengatakan bahwa Imam Syafi’i adalah ahli bid'ah atau termasuk para penyembah kuburan (‘Abadah al Qubur)? Adakah orang yang berakal berani mengatakan asy-Syafi'i meyakini bahwa meminta ke kuburan lebih menjadikan doa terkabul dari pada berdoa langsung kepada Allah tanpa ke kuburan? 

• Al Bayhaqi meriwayatkan dalam Syu'ab al Iman (6/128) bahwa Imam Ahmad ibnu Hanbal mengatakan: “Aku menunaikan ibadah haji lima kali, dua kali naik hewan tunggangan dan tiga kali berjalan kaki, atau tiga kali berkendaraan dan dua kali berjalan kaki. Dalam salah satu perjalanan tersebut aku tersesat jalan, ketika itu aku berjalan kaki, lalu aku mengatakan: “Wahai para hamba Allah, tunjukkanlah aku kepada jalan yang benar,” Ahmad mengatakan: “Aku terus mengatakan seperti itu hingga aku menemukan jalan yang benar.”

Faedah Atsar: Adakah orang yang berakal berani mengatakan bahwa perbuatan Ahmad ibn Hanbal ini adalah salah satu bentuk kemusyrikan  karena ia telah meminta pertolongan kepada selain Allah?

• Imam  Ibrahim al Harbi  berkata :

قَبْرُ مَعْرُوْفٍ الْكَرْخِيِّ التِّرْيَاقُ الْمُجَرَّبُ

“Kuburan Ma’ruf al Karkhi adalah obat yang mujarab (yakni jika orang berdo’a di sana, bertawassul, beristighotsah atau bertabararuk, hajatnya akan dikabulkan oleh Allah).” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, 1/122-125).

• Abu Abdillah ibn al Mahamili berkata:

أَعْرِفُ قَبْرَ مَعْرُوْفٍ الْكَرْخِيِّ مُنْذُ سَبْعِيْنَ سَنَةً مَا قَصَدَهُ مَهْمُوْمٌ إِلاَّ فَرَّجَ اللهُ هَمَّهُ

“Aku mengetahui kuburan Ma'ruf al Karkhi semenjak 70 tahun tidaklah dituju oleh orang yang dilanda kesedihan kecuali Allah mengangkat kesedihannya.” (Diriwayatkan oleh al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, 1/122-125).

• Abu ‘Ali al Khallal, salah seorang ulama besar madzhab Hanbali mengatakan:

مَا هَمَّنِيْ أَمْرٌ فَقَصَدْتُ قَبْرَ مُوْسَى بْنَ جَعْفَرٍ فَتَوَسَّلْتُ بِهِ إِلاَّ سَهَّلَ اللهُ تَعَالَى لِيْ مَا أُحِبُّ

“Tidaklah aku berada dalam suatu kesulitan, kemudian aku menyengaja pergi ke kuburan Musa bin Ja’far (Musa al Kaazhim) dan aku bertawassul dengannya kecuali Allah mudahkan bagiku apa yang aku sukai”  (Dituturkan oleh al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad, 1/120).

Faedah Atsar: Dalam tiga atsar yang disebutkan terakhir, juga atsar Imam Syafi’i, disebutkan dengan jelas bahwa para ulama salaf menyengaja pergi ke kuburan (Qashdu al Qubur) orang-orang saleh seperti Abu Hanifah, Ma’ruf al Karkhi, Musa al Kazhim, dengan maksud agar memperoleh keberkahan dari Allah. Yaitu berupa dikabulkannya doa oleh Allah dan mereka sama sekali tidak menganggap hal itu sebagai kufur, syirik atau perkara haram. Sebaliknya mereka menganggapnya sebagai perkara yang boleh dan termasuk salah satu di antara sebab-sebab dikabulkannya doa oleh Allah. Apakah orang yang anti istighotsah akan mengatakan para ulama salaf tersebut melakukan dan mengajarkan salah satu bentuk kesyirikan yang dulunya diberantas oleh Rasulullah di masa Jahiliyyah?

• Al Hafizh Abdurrahman ibn  al Jawzi menyebutkan sebuah kisah dalam kitabnya Al Wafa bi Ahwal al Mushthafa –kisah ini juga dituturkan oleh al Hafizh adl-Dliya’ al Maqdisi, juga oleh al Hafizh as-Sakhawi dalam al Qaul al Badi’- bahwa Abu Bakr al Minqari berkata: “Adalah aku, ath-Thabarani dan Abu asy-Syaikh berada di Madinah. Kami dalam suatu keadaan dan kemudian rasa lapar melilit perut kami, pada hari itu kami tidak makan. Ketika tiba waktu Isya’, aku mendatangi makam Rasulullah dan mengadu: “Yaa Rasulallah, al Juu’ al Juu’ (Wahai Rasulullah! lapar...lapar),” lalu aku kembali. Abu as-Syaikh berkata kepadaku: “Duduklah, (mungkin) akan ada rizqi atau (kalau tidak, kita akan) mati.” Abu Bakr melanjutkan kisahnya: “Kemudian aku dan Abu asy-Syaikh beranjak tidur sedangkan ath-Thabarani duduk melihat sesuatu. Tiba-tiba datanglah seorang ‘Alawi (sebutan bagi orang yang memiliki garis keturunan dengan Ali dan Fatimah) lalu ia mengetuk pintu dan ternyata ia ditemani oleh dua orang pembantu yang masing-masing membawa panci besar yang di dalamnya  ada banyak makanan. Maka kami duduk lalu makan. Kami mengira sisa makanan akan diambil oleh pembantu itu, tapi ternyata ia meninggalkan kami dan membiarkan sisa makanan itu ada pada kami. Setelah kami selesai makan, ‘Alawi  itu berkata: “Wahai kaum, apakah kalian mengadu kepada Rasulullah?, sesungguhnya aku tadi mimpi melihat beliau dan beliau menyuruhku untuk membawakan sesuatu kepada kalian.” 

Faedah: Dalam kisah ini, secara jelas dinyatakan bahwa menurut mereka, mendatangi makam Rasulullah untuk meminta pertolongan (Istighotsah) adalah boleh dan baik. Siapapun mengetahui bahwa mereka bertiga (terutama, ath-Thabarani, seorang ahli hadits kenamaan) adalah ulama–ulama besar Islam. Kisah ini dinukil oleh para ulama termasuk ulama madzhab Hanbali dan lainnya. Mereka ini di mata ummat Islam adalah Muwahhidun (Ahli Tauhid), bahkan merupakan tokoh-tokoh besar di kalangan para Ahli Tauhid, sedangkan di mata para anti tawassul mereka dianggap sebagai ahli bid’ah dan syirik. Padahal kalau mau ditelusuri, peristiwa-peristiwa semacam ini sangatlah banyak. 

• Al Imam Taqiyyuddin al Hushni menyebutkan dalam kitabnya, Daf’u Syubah Man Tasyabbaha wa Tamarrada (hal. 89): “Ibnu ‘Asaa-kir menuturkan dalam kitab Tarikh-nya bahwa Abu al-Qasim ibn Tsabit al-Baghdadi melihat seorang laki-laki di Madinah mengumandangkan adzan Subuh di kuburan Rasulullah, dan ia mengucapkan: 

الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Kemudian datanglah salah seorang Khadim Masjid Nabawi dan memukul pipinya ketika mendengar adzan tersebut. Maka laki-laki tersebut menangis dan beristighotsah dengan Nabi dan mengatakan:

يَا رَسُوْلَ اللهِ فِيْ حَضْرَتِكَ يُفْعَلُ بِيْ هَذَا الفِعْلُ

“Wahai Rasulullah, di dekat Anda aku diperlakukan seperti ini, maka kemudian khadim Masjid tersebut terkena lumpuh seketika itu juga, kemudian dibawa ke rumahnya dan tiga hari setelahnya meninggal.”

Atsar-atsar dan peristiwa-peristiwa istighotsah dan tawassul yang telah disebutkan yang dilakukan oleh para sahabat, para ulama salaf, para ulama fiqh dan hadits ini semua menunjukkan bahwa telah menjadi tradisi di kalangan para ulama Salaf dan Khalaf ketika mereka menghadapi kesulitan atau ada keperluan mereka mendatangi kuburan orang-orang saleh untuk berdoa, beristighotsah dan bertawassul di sana dan mengambil berkahnya dan setelahnya permohonan mereka dikabulkan oleh Allah. Mereka tidak pernah menganggap istighotsah dengan selain Allah tersebut sebagai perbuatan kufur atau syirik, karena mereka tahu betul bahwa keyakinan seorang muslim ketika beristighotsah dengan seorang nabi dan wali keyakinannya adalah bahwa nabi atau wali tersebut hanya sebab, sedangkan pemberi pertolongan yang sesungguhnya adalah Allah. Ketika beristighotsah dengan para nabi dan wali, mereka tidak membedakan antara nabi dan wali yang masih hidup atau telah meninggal, antara istighotsah di hadapan mereka atau tidak di hadapan mereka, karena keyakinan mereka pemberi pertolongan yang sesungguhnya adalah Allah semata, baik ketika nabi dan wali masih hidup atau sudah meninggal.

Atsar-atsar dan perkataan para ulama salaf dan khalaf ini membantah perkataan sebagian kalangan bahwa tidak pernah ada riwayat dari seorang-pun dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama salaf bahwa ia mendatangi kuburan Nabi atau selainnya dan bertawasul dengannya kepada Allah. Oleh karenanya an-Nawawi mengatakan dalam al-Adzkar dan Ibnu ‘Allan dalam Syarah-nya ketika berbicara tentang ziarah ke makam Nabi:

ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى مَوْقِفِهِ الأَوَّلِ قُبَالَةَ وَجْهِ رَسُوْلِ اللهِ  فَيَـتَوَسَّلُ بِهِ فِيْ حَقِّ نَفْسِهِ وَيَتَشَفَّعُ بِهِ إِلَى رَبِّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى لأنَّ التَّوَسُّلَ بِهِ سِيْرَةُ السَّلَفِ الصَّالِحِ الأَنْبِيَاءِ وَالأَوْلِيَاءِ وَغَيْرِهِمْ

“Kemudian peziarah kembali ke tempatnya berdiri semula di hadapan wajah Nabi dan bertawassul serta berisytisyfa’ dengannya kepada Allah untuk kepentingan dirinya, karena bertawassul dengannya adalah tradisi orang-orang yang telah mendahului kita (as-Salaf ash-Shalih), yaitu para nabi, wali dan lainnya.”


Dikutip dari buku “Argumen Ahlussunnah wal Jama’ah, Jawaban Tuntas atas Tuduhan Bid’ah dan Sesat” karya Ustadz Abu Abdillah (pengasuh beberapa majelis ta’lim, tinggal di Jakarta) dan Ustadz Nur Rohmad (peneliti/pemateri Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, tinggal di Mojokerto).

Senin 4 Maret 2019 17:0 WIB
Keistimewaan Orang Mukmin yang Sakit
Keistimewaan Orang Mukmin yang Sakit
Ilustrasi (via lovlist.org)
Tidak selamanya orang diberi kesehatan oleh Allah subhânahu wa ta’ala. Orang paling taat atau bahkan Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam pun pernah merasakan sakit. Setiap orang, entah berkelakuan baik ataupun buruk, akan menyandang sehat dan sakit. Tentu saja sakitnya orang yang beriman tidak sama dengan orang yang tidak beriman kepada Allah subhânahu wa ta’ala.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah al-Bâhiliy, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: 

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ أَوْحَى اللَّهُ إِلَى مَلَكِهِ أَنِ اكْتُبْ لِعَبْدِي أَجْرَ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِي الصِّحَّةِ وَالرَّخَاءِ إِذْ شَغَلْتُهُ، فَيَكْتُبُ لَهُ

Artinya: “Jika ada hamba beriman yang sakit, Allah memberikan wahyu kepada malaikat-Nya ‘tulislah untuk hambaku pahala sebagaimana pahala atas amal yang ia kerjakan saat sehat sejahtera ketika aku membuat dia sibuk.’ Lalu malaikat kemudian mencatatnya.” (At-Targhîb fî Fadlâilil A’mâl: 397). 

Di hadits lain dikisahkan, ketika ada orang mukmin sakit, sebelum ia menderita atas sakit yang datang menimpa, Allah sudah menyuruh empat malaikat terlebih dahulu mendatangi hamba yang akan sakit tersebut. 

Allah menugaskan satu malaikat untuk menyedot kekuatan tubuh seseorang sehingga ia berubah menjadi lemah. Malaikat kedua diperintah untuk menyedot perasaan lezat di mulut seseorang sehingga ia tiba-tiba menjadi tidak enak saat makan apa pun. 

Malaikat ketiga ditugaskan untuk mengambil cahaya wajah seseorang tersebut. Maka orang yang dicabut nur wajahnya, mukanya menjadi pucat pasi. Dan yang keempat, Allah mengutus malaikat yang satunya untuk mengambil dosa-dosa orang yang sakit sehingga ia tidak lagi memiliki dosa. 

Pada saat Allah menghendaki seorang hamba yang sakit tersebut untuk kembali sehat, Allah menyuruh ketiga malaikat mengembalikan hal-hal yang sebelumnya ia ambil. Hanya saja, Allah tidak mengutus malaikat yang mengambil dosa untuk mengembalikannya. 

Malaikat pengambil dosa kemudian bersujud seraya melapor kepada Allah. “Ya Allah, Engkau telah mengutus empat malaikat. Engkau suruh mereka untuk mengembalikan atas apa yang sebelumnya mereka ambil. Namun mengapa Engkau tidak menyuruh hamba-Mu ini untuk turut serta mengembalikan?”

Allah subhanahu wa taala kemudian menjawab, “Atas kemurahan dan kemuliaan-Ku, Aku tidak mau mengembalikan dosa kepada ia setelah Aku membikin ia kepayahan.”

“Terus apa yang harus kami lakukan, Ya Allah?” tanya malaikat.

Allah lalu memerintahkan “Pergilah kamu dan buanglah dosa-dosa dia ke lautan.” 

Malaikat pun menjalankan perintah Allah. Dan kesalahan-kesalahan itu berubah wujud menjadi aligator.

Andai saja orang tersebut meninggal dunia saat itu, ia akan keluar dari dunia tanpa dosa sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

حمى يوم كفارة سنة

Artinya: “Sakit sehari sama dengan melebur dosa setahun.” (HR Al Qadla’i, dalam Ihya’ Ulumuddin, juz 4, halaman 288). Wallahu a’lam


Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang