IMG-LOGO
Syariah

Hukum Mengonsumsi Kepompong

Kamis 21 Maret 2019 11:30 WIB
Share:
Hukum Mengonsumsi Kepompong
Ilustrasi (via ficklr.com)
Kepompong merupakan hewan yang berasal dari ulat dan dapat bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Kepompong biasa kita temukan di dedaunan atau di batang pohon selama masa tunggunya untuk berubah menjadi kupu-kupu. 

Saking banyak ditemukannya hewan ini, sebagian masyarakat tidak menyia-nyiakan keberadaan kepompong, bahkan sampai menjadikannya sebagai lauk makanan, maka tersajilah ragam menu semisal oseng kepompong, kepompong goreng, dan berbagai jenis masakan lainnya yang dianggap bermanfaat. 

Menanggapi fenomena di atas, sebenarnya mengonsumsi kepompong apakah merupakan hal yang diperbolehkan atau justru diharamkan?

Kepompong dalam istilah Arab dikenal dengan nama Asari’. Hewan ini tergolong sebagai hewan kecil yang melata di bumi atau biasa disebut dengan hasyarat. Para ulama mengategorikan segala jenis hasyarat sebagai hewan yang haram untuk dikonsumsi sebab dianggap sebagai hewan yang menjijikkan (mustakhbats) menurut cara pandang orang Arab, termasuk kepompong ini. Status kepompong yang haram untuk dikonsumsi secara tegas dijelaskan dalam kitab Hayat al-Hayawan al-Kubra:

الأساريع : بفتح الهمزة ، لدود أحمر يكون في البقل ينسلخ فيصير فراشا - وقال قوم : الأساريع دود حمر الرؤوس ، بيض الأجساد ، تكون في الرمل يشبه بها أصابع النساء 
الحكم : يحرم أكلها لأنهامن الحشرات

“Al-Asari’(kepompong) merupakan nama bagi jenis ulat merah yang berada di tumbuh-tumbuhan yang berubah bentuk (bermetamorfosis) menjadi kupu-kupu. Sebagian kaum berpandangan bahwa al-asari’ merupakan ulat yang yang berkepala merah dan bertubuh putih ketika berada di pasir, hewan ini mirip dengan jari-jari wanita. Haram mengonsumsi hewan ini karena termasuk golongan hewan hasyarat” (Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz I, hal. 42)

Berdasarkan referensi tersebut maka dapat dipahami bahwa fenomena yang terjadi di masyarakat berupa memanfaatkan kepompong sebagai salah satu jenis makanan adalah hal yang tidak dapat dibenarkan secara syara’. 

Sedangkan memperjual-belikan makanan kepompong ini juga merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan oleh syara’ sebab termasuk i’anah alal maksiyat yang berarti ikut andil dalam perbuatan maksiat (dalam hal ini adalah mengonsumsi kepompong). Sebab dengan adanya penjualan kepompong maka akan menyebabkan orang lain ikut mengonsumsi kepompong, dan hal tersebut jelas tidak diperbolehkan.

Berbeda halnya ketika penjualan kepompong bukan untuk dikonsumsi orang, tapi dalam bentuk lain yang diperbolehkan oleh syara’, misalnya menjual kepompong sebagai pakan burung. Penjualan kepompong dengan tujuan tersebut dapat dibenarkan. Dalam disiplin fiqih, penjualan kepompong dalam contoh yang diperbolehkan tersebut bukan tergolong akad bai’ (jual-beli) tapi tergolong sebagai bentuk naqlul yad (perpindahan kepemilikan), sebab kepompong secara fiqih tidak layak untuk dijadikan sebagai komoditas jual beli (mal) tapi dikategorikan sebagai ikhtishas (kepemilikan) karena kepompong termasuk bagian dari hasyarat.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur 

Tags:
Share:
Senin 18 Maret 2019 19:0 WIB
Mengonsumsi Belalang, Halal atau Haram?
Mengonsumsi Belalang, Halal atau Haram?
Ilustrasi (via eattheplanet.org)
Belalang merupakan salah satu jenis serangga yang sering ditemukan di pepohonan dan berbagai tempat yang dikelilingi oleh tumbuh-tumbuhan. Jenis belalang bervariasi, ada yang memiliki tubuh yang cukup besar, ada yang berukuran kecil, dan ada pula yang berukuran sedang. Warnanya pun juga bermacam-macam mulai dari warna coklat, hijau, kuning, atau lainnya. Berbagai jenis belalang ini juga dijelaskan dalam kitab Hayat al-Hayawan al-Kubra secara ringkas:

والجراد أصناف مختلفة : فبعضه كبير الجثة ، وبعضه صغيرها ، وبعضه أحمر وبعضه أصفر وبعضه أبيض

“Belalang ada beberapa jenis, sebagian memiliki tubuh yang besar, sebagian yang lain memiliki tubuh yang kecil. Sebagian berwarna merah, sebagian berwarna kuning, sebagian berwarna putih.” (Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz I, hal. 268)

Sangking banyaknya hewan belalang ini, masyarakat mulai banyak yang menjadikan belalang sebagai salah satu komoditas makanan, baik untuk dikonsumsi secara pribadi ataupun diperjualbelikan. Misalnya belalang goreng, tumis belalang, dan berbagai macam masakan belalang lainnya.

Pertanyaannya, apakah jenis makanan dari belalang diatas halal untuk dikonsumsi?

Patut dipahami bahwa belalang merupakan salah satu hewan yang diberi kekhususan hukum oleh syariat tentang kehalalannya untuk dikonsumsi, meskipun telah menjadi bangkai. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam hadits:

أحلت لكم ميتتان ودمان، فأما الميتتان: الجراد والحوت، وأما الدمان: فالطحال والكبد

“Dihalalkan bagi kalian dua bangkai dan dua darah, dua bangkai yaitu bangkai belalang dan ikan, sedangkan dua darah yaitu limpa dan hati.” (HR. Baihaqi)

Bahkan dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah ﷺ dan Para Sahabat menjalani tujuh kali peperangan dengan berbekal mengonsumsi belalang. Hal ini seperti hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa:

غَزَوْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -ﷺ- سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الْجَرَادَ

“Kami Berperang bersama Rasulullah ﷺ dalam tujuh peperangan dengan mengonsumsi belalang.” (HR. Muslim)

Berdasarkan dalil yang begitu jelas diatas, maka tidak diragukan lagi bahwa belalang merupakan hewan yang halal untuk dikonsumsi, bahkan hukum kehalalan mengonsumsi belalang ini sudah menjadi konsensus ulama (ijma’). Seperti yang disinggung dalam kitab Hayat al-Hayawan al-Kubra:

أجمع المسلمون على إباحة أكله 

“Umat Muslim sepakat atas kehalalan mengonsumsi belalang.” (Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz I, hal. 272)

Belalang yang dihalalkan meliputi segala jenis belalang dengan ciri-ciri memiliki dua tangan di bagian dadanya, dua penyangga di bagian tengah dan dua kaki di bagian belakang. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

قوله ويحل أكل ميتة الجراد أي للحديث المار والجراد مشتق من الجرد وهو بري وبحري وبعضه أصفر وبعضه أبيض وبعضه أحمر وله يدان في صدره وقائمتان في وسطه ورجلان في مؤخره

“Halal mengonsumsi bangkai belalang berdasarkan hadits yang telah dijelaskan. Belalang adalah hewan darat dan laut, sebagian berwarna kuning, putih dan merah. Ia memiliki dua tangan pada dadanya, dua penegak bagian tubuh yang tengah dan memiliki dua kaki pada bagian belakang tubuhnya.” (Syekh Abu Bakar Muhammad Syatha’, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz II, hal. 353). Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur 

Ahad 17 Maret 2019 8:0 WIB
Ketentuan Pemberian Nama Anak selain Nama Arab
Ketentuan Pemberian Nama Anak selain Nama Arab
Nama-nama anak zaman sekarang kadang susah dihafal, disebut, bahkan ditulis. Namanya aneh-aneh, mulai nama Latin, Prancis, bahkan ada yang nama singkatan.

Orang-orang zaman dahulu juga sebenarnya sudah sering menggunakan nama-nama daerah. Walaupun beragama Islam, namun seorang Muslim tetap menggunakan nama-nama yang sesuai bahasa dan filosofi daerahnya masing-masing.

Lalu bagaimana hukumnya memberi nama dengan nama selain dari bahasa Arab?

Bagaimanapun juga memberi nama adalah kewajiban. Tanpa disyariatkan pun, setiap orang sudah memiliki inisiatif untuk memberi nama anaknya karena hampir tidak mungkin manusia hidup tanpa nama. Seseorang yang tak mau diketahui identitasnya pun masih memiliki nama walaupun hanya samaran.

Dalam Islam sendiri, tidak memiliki aturan baku bahwa nama harus berbahasa Arab. Walaupun demikian, Islam mengatur beberapa hal terkait pemberian nama, khususnya kepada anak.

Pertama, disunnahkan untuk memberi nama yang baik. Walaupun tidak berbahasa Arab, tetapi jika memiliki arti atau makna yang baik tentu masih mendapatkan pahala atas anjuran ini.

Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Abu Darda yang dikutip dan dijadikan landasan oleh Imam An-Nawawi sebagai anjuran. An-Nawawi memasukkan hadits di bawah ini dalam bab Istiḥbāb Tahsīnil Ism (anjuran memperindah nama atau memberi nama yang baik) dalam salah satu bab di Al-Adzkarun Nawawi.

عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " إنكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء آبائكم فأحسنوا أسماءكم ".

Artinya, “Dari Abu Darda Ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh kalian semua akan dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka dari itu, perbaguslah nama-nama kalian,’” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi, [Beirut: Dar Kutub: 2004], halaman 411).

Selain itu, Rasul juga menganjurkan agar tidak mengambil nama yang tidak disukai Rasul SAW (makruh) seperti nama Untung (Rabāḥ), Sukses (Najāḥ), Menang (Aflaḥ), Kaya (Yasār), Raja diraja (Malikul Amlak).

عن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " لا تسمين غلامك يسارا ، ولا رباحا ، ولا نجاحا ، ولا أفلح

Artinya, “Dari Samurah bin Jundab RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jangan kalian memberi nama anak kalian dengan nama Yasar, Rabah, Najah, dan Aflah,’” (Lihat Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi, Al-Adzkarun Nawawi, [Beirut, Dar Kutub: 2004], halaman 412).

Nama-nama tersebut bukan berarti tidak boleh digunakan. Orang yang menggunakannya bukan berarti berdosa. Hal ini merupakan sekadar anjuran untuk tidak menggunakan nama-nama tersebut.

Oleh karena itu, memberi nama anak dengan bahasa apa pun diperbolehkan asal bermakna baik dan usahakan tidak dengan lima nama di atas.

Walaupun begitu, Rasul menganjurkan agar memberi nama-nama yang disukai oleh Allah SWT, yaitu Abdullah, Abdurrahman, nama-nama para nabi, Haris dan Hammam. Hal ini diriwayatkan dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dari sahabat Abu Wahb Al-Jusyami.

عن أبي وهب الجشمي الصحابي رضي الله عنه قال : قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) : " تسموا بأسماء الأنبياء ، وأحب الأسماء إلى الله تعالى : عبد الله وعبد الرحمن ، وأصدقها : حارث وهمام ، وأقبحها : حرب ومرة

Artinya, “Dari Abi Wahb Al-Jusyami RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Berilah nama (kepada anak-anakmu) dengan nama-nama para nabi, dan nama-nama yang paling disukai oleh Allah SWT adalah Abdullah dan Abdurrahman. Sedangkan yang pertengahannya adalah Haris dan Hammam. Adapun nama yang paling jelek adalah Harb dan Murrah,’” (Lihat Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz IV, halaman 474).

Hadits ini juga bisa dipahami bahwa ada tingkatan nama, pertama tingkatan nama yang paling disukai oleh Allah, yaitu nama Abdurrahman dan Abdullah, bisa juga nama-nama baik yang lain.

Pertengahannya, nama-nama yang agak biasa saja, tidak terlalu baik dan tidak terlalu jelek, seperti Haris (penjaga) atau Hammam (orang yang punya cita-cita dan dilaksanakan), bisa juga nama-nama yang maknanya setara dengan nama-nama tersebut.

Adapun nama yang paling jelek adalah Harb (perang) dan Murrah (pahit) atau nama-nama lain yang bermakna jelek.

Jika ada nama kalian, walaupun berbahasa selain Arab, namun sesuai dengan salah satu kategori di atas, maka termasuk dalam kategorinya. Jika namanya baik, maka masuk kategori yang ahab (paling disukai), begitu pun sebaliknya. Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah)
Sabtu 16 Maret 2019 7:30 WIB
Kekerasan Seksual dalam Fiqih (7): Pencabulan oleh Non-Mahram dan Sanksinya
Kekerasan Seksual dalam Fiqih (7): Pencabulan oleh Non-Mahram dan Sanksinya
Ilustrasi (via ahram.org)
Dalam sebuah jurnal penelitian yang dipublikasikan oleh Lex Crimen Volume II Nomor 1, terbit pada bulan Januari-Maret tahun 2013 disebutkan bahwa latar belakang terjadinya perkosaan dan pencabulan adakalanya bukan disebabkan oleh dorongan seksual yang tidak bisa dikendalikan. Perkosaan kadangkala akibat adanya peluang yang diciptakan oleh korban sendiri dengan menyanggupi keinginan pelaku untuk jalan-jalan atau naik ke mobil. Di suatu tempat pada saat posisi korban tidak berdaya dan tidak ada orang lain yang bisa menolong, di situlah modus pencabulan dan pemerkosaan terjadi. 

Beberapa kasus memiliki modus operandi yang sama, yakni seringkali korban percaya kepada pelaku. Saat ditawarkan minuman beralkohol, korban lalu percaya dan menerimanya, tanpa ada kecurigaan sedikitpun kepada pelaku yang sudah mempunyai niat untuk melakukan perkosaan/pencabulan. Ini yang akan menjadi fokus kajian fiqih kita pada kasus pencabulan kali ini.

Berdasarkan publikasi Buletin Psikologi, Tahun XI, No. 2 Desember 2003, diinformasikan bahwa tindakan pencabulan kadangkala dilakukan oleh pelaku dengan jalan menyentuh organ vital dengan tangan, atau rabaan, menggelitik, remasan, mendekap, mencium atau dengan modus lain berupa memasukkan suatu alat ke kelamin korban. Catatan kasus yang terjadi di rumah sakit Surabaya oleh salah seorang perawat beberapa waktu lalu hanya merupakan salah satu contoh saja. Namun untuk kasus pencabulan dengan alat ini, yang kadangkala sulit dideteksi. Untuk kasus rabaan, ciuman, sentuhan, remasan, dan lain-lain sudah kita bahas pada tulisan terdahulu. Kali ini fokus utama kita adalah pada kajian fiqih untuk kasus pencabulan yang melibatkan hilangnya keperawanan.

Perlu digarisbawahi bahwa kasus ini kadang tidak hanya terjadi pada perempuan saja, akan tetapi juga kadang menimpa kaum laki-laki. Saudara pernah mendengar istilah laki-laki amrad? Laki-laki amrad adalah laki-laki yang memiliki wajah cantik, namun ia laki-laki dan berjiwa laki-laki. Dalam beberapa teks fiqih disebutkan bahwa laki-laki amrad dilarang bepergian tanpa disertai mahram

Kajian terdahulu menyebut bahwa perempuan yang menjadi korban dengan modus operandi pencabulan ini disebut sebagai mustakrahah (yang dipaksa). Untuk korban, telah disepakati oleh ulama sebagai yang tidak berlaku pidana atau hukuman baginya. Bagaimana dengan pelakunya? 

Untuk pelaku pencabulan semacam ini, had bagi pelaku harus tetap menilik pada syarat pelaku yaitu: 

1. Sebagai orang yang telah baligh, 
2. Berakal, 
3. Merdeka yang dalam istilah kontemporer sering dimaknai sebagai memiliki kebebasan berbuat
4. Ia tahu bahwa zina adalah diharamkan. 

Bentuk hukuman yang ditawarkan syariat terhadap kejahatan pencabulan yang menghilangkan keperawanan ini, ada beberapa segi, sesuai dengan hierarki pidana sanksi pelukaan (had jarîmah). Dalam kasus pencabulan yang melibatkan hilangnya keperawanan, berlaku jarimah ta’zir (sanksi yang mengandung unsur pidana penjeraan). Dalam literatur fiqih terdapat dua had yang bisa diberikan, yaitu: 

1. Ganti rugi/denda sebab penghilangan keperawanan (arsyun bikarah) yang ditetapkan oleh hakim (diyat hukumah)
2. Apabila sampai terjadi penghilangan fungsi anggota tubuh dan kelamin (menghilangkan fungsi kenikmatan jima’) maka berlaku pidana qishash. Beberapa kalangan ada yang menyebutnya sebagai hukum pengebirian dengan qiyas kepada penghilangan fungsi mata, tangan, gigi, dan sejenisnya. 

Karena dalam kasus pencabulan ini tidak ada unsur persenggamaan di dalamnya, maka pidana pengasingan (taghrib) dan dera cambuk (untuk pelaku yang belum menikah) dan rajam (untuk pelaku yang sudah menikah) tidak bisa diterapkan. Karena, bagaimanapun juga, syarat pelaku bisa disebut zina adalah selain ia sudah berusia mukallaf, ada syarat lain juga harus terjadi pertemuan dua khitan. 

Jika demikian lantas apa kedudukan alat yang dipergunakan untuk memaksakan penghilangan keperawanan bagi gadis tersebut dalam syariat, dan apa bentuk sanksi yang bisa diterapkan kepada pelaku? 

Sudah pasti bahwa alat ini sifatnya adalah sama dengan kedudukan alat bukti melakukan pelukaan. Itulah sebabnya, kategori kekerasan seksual pencabulan yang melibatkan perusakan keperawanan ini masuk unsur jarîmah. Salah satu dasar yang bisa dipergunakan dalam hal ini adalah sebagai berikut:

ـ (فرع : في إزالة بكارة أجنبية بأصبع) مثلا (لا بذكر حكومة) ؛ لأنها جراحة (ويقتص بالبكارة من بكر مثلها) ـ

Artinya: “Permasalahan cabang: Menjelaskan tentang berlakunya diyat hukumah pada kasus penghilangan keperawanan perempuan ajnaby dengan jari dan bukan dengan dzakar, karena penghilangan dengan jalan ini adalah masuk delik pelukaan (jirâhah). Besarnya diyat hukumah keperawanan dikalkulasi menurut perempuan yang semisal.” (Abu Yahya Zakariya al-Anshary, Asna al-Mathâlib Syarh Raudli al-Thalib, Kairo: Mauqi’u al-Islâmy, tt.: 19/92)

Di dalam kelanjutan ibarat ini, Syeikh Zakaria juga menegaskan bahwa:

ـ ( فإن أفضاها) غير الزوج مع إزالة بكارتها (دخل أرش البكارة في الدية) ؛ لأنهما وجبا للإتلاف فيدخل الأقل في الأكثر بخلاف المهر لاختلاف الجهة فإن المهر للتمتع والأرش لإزالة الجلدة

Artinya: “(Wajibnya tebusan ini diberikan) jika yang membedah dara keperawanan adalah bukan suami, maka masuk hukum tebusan keperawanan (arsyu al-bikarah) dalam rupa diyat. Baik suami atau bukan suami, keduanya sama-sama wajib mengeluarkan tebusan itu disebabkan karena perusakan yang dilakukannya, sehingga masuk unsur minimal dan maksimalnya, hanya berbeda sebutan. Jika suami maka wajib mahar disebabkan jalur penyaluran seksualnya, namun bila bukan suami, maka masuk unsur wajib sebab perobekan selaput dara.” (Abu Yahya Zakariya al-Anshary, Asna al-Mathâlib Syarh Raudli al-Thalib, Kairo: Mauqi’u al-Islâmy, tt.: 19/92)

Sampai di sini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwasanya, jika kasus pencabulan terjadi hingga menyebabkan kerusakan organ vital fungsi seksual kaum hawa, maka menurut Syeikh Abu Yahya Zakaria al-Anshary, pelaku dikenakan diyat hukumah. Diyat hukumah adalah suatu harta yang wajib dikeluarkan karena kasus pidana dan diberikan kepada korban (untuk diyat ringan) dan keluarganya (untuk diyat berat, seperti pembunuhan). Besaran diyat ini ditentukan oleh hakim, dan secara teknis dikalkulasi menurut harga budak. Misalnya, harga budak yang masih perawan dan dengan kualitas kecantikan yang mirip dengan korban adalah seharga 100 juta, namun akibat hilangnya keperawanannya ia menjadi berharga 80 juta, maka besaran diyat yang harus ditanggung oleh pelaku pencabulan tersebut adalah sebesar 20 juta, yang menjadi harga selisih antara keduanya. Dewasa ini, karena budak sudah tidak ada lagi, maka besaran tersebut sepenuhnya diserahkan oleh hakim menurut pertimbangan sisi keadilan. 

Tentu, apa yang menjadi ketentuan di sini tidak berlaku, apabila pihak korban ridha dalam melakukan hal tersebut, meskipun wujudnya dalam kasus perzinaan. Ridhanya pihak korban mendudukkan ia sebagai salah satu pelaku.

فكأنها رضيت بإزالتها

Artinya: “Seolah-olah sang perempuan ridla dengan kehilangan selaput daranya.” (Abu Yahya Zakariya al-Anshary, Asna al-Mathâlib Syarh Raudli al-Thalib, Kairo: Mauqi’u al-Islâmy, tt.: 19/92)

Diyat hukûmah, juga berlaku untuk kasus wathi syubhat atau sebab nikah yang rusak, namun teradi pemaksaan pemakaian alat lain dalam penghilangan dara keperawanan, sehinggaa hilangnya keperawanan tidak dilakukan dengan jalan wathi (menggauli dengan zakar). Perlu ditegaskan, bahwa dalam kasus ini rincian yang harus dipahami, adalah bahwa Si perempuan pada dasarnya adalah ridla jika selaput daranya robek akibat wathi. Oleh karenanya, bila dipergunakan alat lain, maka penggunaan alat tersebut merupakan bentuk pemaksaan sehingga berlaku diyat yang dibebankan oleh hakim kepada laki-laki pelakunya, ditambah dengan besaran mahar mitsil bagi perempuan janda. 

Untuk kasus sebagaimana tersebut terakhir, Syeikh Abu Yahya Zakariya Al-Anshary menegaskan:

لأنها رضيت بالوطء لا بالإفضاء (أو) وهي (مكرهة أو) زالت (بشبهة) من نكاح فاسد أو غيره (فحكومة ، ومهرها ثيبا) يجبان

Artinya: “Karena si perempuan ridha dengan bedahnya dara keperawanan akibat wathi dan bukan sebab selain wathi, atau ia diperkosa atau hilang sebab cara syubhat semisal nikah yang rusak atau lainnya, maka dalam hal ini berlaku diyat hukûmah. Maharnya setara dengan mahar janda yang wajib dibayar oleh kedua laki-laki (yang membedah keperawanannya baik dengan jallan syubhat atau pemaksaan/pencabulan) .” (Abu Yahya Zakariya al-Anshary, Asna al-Mathâlib Syarh Raudli al-Thalib, Kairo: Mauqi’u al-Islâmy, tt.: 19/92)

Demikian, sekilas ulasan mengenai hilangnya keperawanan akibat kasus pencabulan dengan menggunakan alat seks dan sejenisnya yang dilakukan oleh pihak lain selain suami, atau oleh suami namun dari hasil nikah yang rusak dan penghilangannya dilakukan tidak dengan jalan wathi (menggauli). Wallâhu a’lam bish shawâb.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Ketua Tim Perumus Bahtul Masail Qanuniyah Munas NU 2019 dan Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri, Pulau Bawean, Jatim