IMG-LOGO
Syariah

Menjawab Azan ketika Sedang Buang Hajat

Rabu 27 Maret 2019 12:30 WIB
Share:
Menjawab Azan ketika Sedang Buang Hajat
Ilustrasi (via Pixabay)
Hampir di seluruh wilayah di Indonesia, kita mendengar suara azan berkumandang setidaknya lima kali dalam satu hari, sesuai dengan jumlah shalat yang diwajibkan bagi umat Islam pada setiap harinya. Suara azan ini tidak boleh kita sikapi dengan acuh, sebab menjawab kumandang azan merupakan sebuah kesunnahan bagi setiap orang yang mendengarnya. 

Namun apakah kesunnahan ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang mendengar azan? Mengingat terkadang seseorang mendapati suara azan saat berada di tempat yang tidak layak untuk mengucapkan kalima-kalimat dzikir yang terkandung dalam azan, seperti pada saat buang hajat misalnya. Lantas apakah tetap dianjurkan bagi orang yang sedang buang hajat untuk menjawab suara azan yang ia dengarkan?

Baca juga:
Ini Sunah-Sunah saat Azan
Anjuran Mengqadha ketika Tak Sempat Menjawab Azan
Kesunnahan menjawab azan rupanya tidak berlaku bagi orang yang sedang buang hajat, sebab buang hajat dianggap sebagai keadaan yang tidak layak untuk mengucapkan segala macam dzikir dan pembicaraan, sehingga dihukumi makruh. Kemakruhan bagi orang yang sedang buang hajat tidak hanya berlaku pada menjawab azan, tapi juga pada semua anjuran yang terkandung nilai dzikir di dalamnya. Seperti menjawab salam, mengucapkan hamdalah bagi orang yang bersin, dan kesunnahan lainnya. Hal ini ditegaskan dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah:

ـ (باب النهي عن الذكر والكلام على الخلاء) يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة، سواء كان في الصحراء أو في البنيان، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام، إلا كلام الضرورة حتى قال بعض أصحابنا : إذا عطس لا يحمد الله تعالى، ولا يشمت عاطسا، ولا يرد السلام، ولا يجيب المؤذن، ويكون المسلم مقصرا لا يستحق جوابا، والكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه، ولا يحرم، فإن عطس فحمد الله تعالى بقلبه ولم يحرك لسانه فلا بأس، وكذلك يفعل حال الجماع

“Bab tentang larangan berdzikir dan berbicara saat berada di jamban (toilet). Berdzikir dan berbicara dimakruhkan ketika sedang buang hajat, baik buang hajat dilakukan di tempat terbuka atau di ruangan. Kemakruhan tersebut berlaku pada semua jenis dzikir dan pembicaraan kecuali perkataan yang bersifat darurat. Bahkan sebagian ashab (ulama Syafi’iyah) berpandangan bahwa ketika (di jamban) bersin maka tidak dianjurkan mengucapkan hamdalah dan tidak pula dianjurkan mengucapkan tasymith (ucapan Yarhamukallâh), tidak dianjurkan menjawab azan ketika azan sedang berkumandang dan orang yang mengucapkan salam dengan lalai tidak berhak untuk dijawab, dan mengucapkan ucapan pada semua keadaan di atas adalah dihukumi makruh tanzih, tidak sampai dihukumi haram. Ketika seseorang bersin lalu ia mengucapkan hamdalah dalam hatinya tanpa menggerakkan lisannya maka hal ini tidak dipermasalahkan, hal tersebut juga dapat dilakukan ketika dalam keadaan bersetubuh.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawiyah, juz I, hal. 51)

Terkhusus pada permasalahan menjawab salam, Rasulullah pernah mengalami hal ini. Salah satu sahabatnya mengucapkan salam pada Rasulullah saat beliau sedang buang hajat, dan salam ini tidak beliau jawab. Peristiwa ini seperti yang dijelaskan dalam salah satu hadits:

وعن المهاجر بن قنفذ رضي الله عنه قال : " أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو يبول، فسلمت عليه، فلم يرد حتى توضأ، ثم اعتذر إلي وقال : إني كرهت أن أذكر الله تعالى إلا على طهر رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه

“Diriwayatkan dari Sahabat Muhajir bin Qanfadz RA, bahwa beliau berkata: Aku mendatangi Nabi Muhammad Saw saat beliau sedang buang hajat, lalu aku mengucapkan salam pada beliau namun salam itu tidak dijawabnya sampai beliau melaksanakan wudhu, lalu beliau menjelaskan padaku, ‘Aku tidak senang menyebutkan nama Allah kecuali aku dalam keadaan suci’.” (HR Abu Daud)

Memperhatikan referensi dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah di atas, tersirat suatu penjelasan bahwa bagi orang yang bersin, tetap disunnahkan untuk mengucapkan hamdalah dalam hati. Namun apakah hal ini juga berlaku orang yang menjawab azan, sehingga bagi orang yang sedang buang hajat tetap disunnahkan menjawab azan dalam hati tanpa perlu dilafalkan dalam lisan?

Dalam kitab Faid al-Qadir dijelaskan bahwa anjuran berdzikir dalam hati berlaku pada setiap keadaan apa pun, sehingga juga berlaku bagi orang yang sedang  buang hajat. Berdasarkan ketentuan ini, maka bagi orang yang buang hajat tetap dianjurkan menjawab azan dalam hatinya tanpa perlu melafalkan dalam lisannya. Berikut penjelasan dalam kitab Faid al-Qadir:

فتتأكد مداومة ذكر الله تعالى في جميع الاحوال لكن يستثنى من الذكر القرآن حال الجنابة بقصده فإنه حرام ويستثنى من عمومه أيضا المجامع وقاضي الحاجة فيكره لهما الذكر اللساني أما القلبي فمستحب على كل حال

“Melanggengkan dzikir pada Allah sangat dianjurkan pada setiap keadaan, akan tetapi dikecualikan dalam berdzikir yakni membaca Al-Qur’an dalam keadaan junub dengan menyengaja membaca Al-Qur’an, sesungguhnya hal tersebut diharamkan. Dikecualikan pula dari keumuman anjuran berdzikir yakni bagi orang yang sedang bersetubuh dan sedang buang hajat, maka bagi dua orang tersebut dimakruhkan mengucapkan dzikir secara lisan, sedangkan dzikir dalam hati tetap disunnahkan dalam keadaan apapun.” (Al-Manawi, Faid al-Qadir, juz 5, hal. 424)

Sedangkan dalam kitab I’anah at-Thalibin dijelaskan bahwa bagi orang yang sedang buang hajat dianjurkan untuk menjawab seluruh kalimat azan setelah selesai melaksanakan aktifitas buang hajat. Berikut referensi yang menegaskan hal ini:

وتكره لمجامع وقاضي حاجة، بل يجيبان بعد الفراغ

“Makruh menjawab azan bagi orang yang sedang bersetubuh dan buang hajat, akan tetapi dua orang ini tetap dianjurkan menjawab azan ketika sudah selesai bersetubuh dan buang hajat.”(Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 279)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menjawab azan secara lisan bagi orang yang sedang buang hajat adalah hal yang dimakruhkan, namun ia tetap dianjurkan untuk menjawab azan dalam hati dan menjawab semua azan secara lisan ketika telah selesai melakukan buang hajat. Wallahu a’lam


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur 

Tags:
Share:
Senin 25 Maret 2019 21:30 WIB
Belum Jelas Proses Sembelihannya, Daging Halal atau Haram?
Belum Jelas Proses Sembelihannya, Daging Halal atau Haram?
Bagi para pelancong yang berada di tempat berpenduduk mayoritas non-Muslim, seringkali merasa kesulitan mencari makanan yang benar-benar halal. Sehingga, ketika mereka tidak menemukan restoran yang berlabel halal di tempat tersebut, tidak ada cara lain untuk menghilangkan rasa lapar selain mengunjungi restoran atau tempat makan yang tidak jelas halal-haramnya.

Misalnya, restoran atau tempat makan itu menyediakan menu seperti ayam goreng, rendang, sate kambing, dan aneka makanan lain. Padahal, seperti kita pahami bersama bahwa hewan sembelihan hanya bisa benar-benar menjadi halal ketika disembelih oleh umat Islam atau ahli kitab, yakni orang Yahudi dan Nasrani (Kristen). Selain dari tiga golongan itu, daging hewan sembelihan tidak dapat dimakan atau haram untuk dikonsumsi.

Berdasarkan realitas tersebut, bolehkah bagi para pelancong mengonsumsi daging hewan yang belum jelas halal-haramnya?

Dalam menjawab persoalan tersebut, penting kiranya seseorang terlebih dahulu melihat petunjuk (qarinah) yang terdapat di sekitar atau bertanya tentang kehalalan daging yang disajikan pada pemilik atau pelayan restoran. Jika pemilik atau pelayan menjawab halal, maka daging tersebut adalah halal. Sebab ucapan pemilik restoran atau pelayannya dapat menjadi pijakan secara fiqih selama tidak diketahui kebohongan ucapan itu.

Sedangkan ketika tidak ada petunjuk yang menegaskan halal-haramnya daging, atau pelancong tidak mampu atau kesulitan bertanya pada pemilik restoran maka daging yang dimakan adalah halal dengan berpijak pada hukum asal daging tersebut yang berstatus halal dikonsumsi. Hal ini berdasarkan kaidah yang berlaku bahwa “ketika bertentangan antara penilaian secara zahir dan hukum asal suatu perkara, maka yang menjadi pijakan adalah hukum asalnya.” Seperti yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

ـ (قاعدة مهمة): وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله، فيه قولان معروفان بقولي الاصل والظاهر أو الغالب، أرجحهما أنه طاهر، عملا بالاصل المتيقن، لانه أضبط من الغالب المختلف بالاحوال والازمان

“Kaidah penting: Sesungguhnya sesuatu yang asalnya suci dan ia menduga kuat bahwa sesuatu tersebut najis karena umumnya terkena najis pada hal sesamanya, maka dalam hal ini berlaku dua pendapat yang terkenal dengan dua qoul, asal dan zahir atau ghalib. Pendapat yang paling kuat adalah sucinya sesuatu tersebut dengan berpijak pada hukum asal yang telah diyakini. Sebab hukum asal lebih adlbat (komprehensif) dari ghalib yang berbeda-beda berdasarkan keadaan dan waktu.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 124)

Kehalalan daging yang tidak jelas statusnya seperti dalam permasalahan di atas dibatasi selama asal daging atau restoran bukan berada di wilayah yang berpenghuni mayoritas non-Muslim yang bukan ahli kitab. Maka ketika restoran atau rumah makan berada di tempat yang dihuni oleh mayoritas non-Muslim yang bukan ahli kitab, dan restoran sama sekali tidak berlabel halal maka daging tersebut berstatus haram sehingga tidak boleh untuk dikonsumsi. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab Asna al-Mathalib

ـ ( وإن وجد قطعة لحم في إناء ) أو خرقة ( ببلد لا مجوس فيه فطاهرة أو ) ، وجدها ( مرمية ) مكشوفة ( أو ) في إناء أو خرقة (والمجوس بين المسلمين فنجسة ) نعم إن كان المسلمون أغلب كبلاد الإسلام فطاهرة لأنه يغلب على الظن أنها ذبيحة مسلم ذكره الشيخ أبو حامد والقاضي أبو الطيب والمحاملي ، وغيرهم

“Ketika ditemukan potongan daging pada sebuah cawan atau sobekan kain di wilayah yang tidak dihuni oleh orang Majusi, maka daging tersebut dihukumi suci. Sedangkan ketika daging tersebut ditemukan dalam keadaan dilempar (dibagikan) atau pada cawan atau sobekan kain di wilayah yang mana orang majusi (menjadi mayoritas) di antara orang Muslim, maka daging tersebut dihukumi najis. Sedangkan ketika orang Islam merupakan mayoritas (di wilayah tersebut) maka daging dihukumi suci, sebab daging tersebut diduga kuat merupakan sembelihan orang Islam, penjelasan ini disampaikan oleh Abu Hamid, al-Qadi Abu Tayyib, Imam Mahamili dan Ulama lainnya.” (Syekh Zakaria al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 132)

Daging yang berada di wilayah yang mayoritas berpenghuni non-Muslim yang bukan ahli kitab berstatus haram karena kondisi demikian merupakan suatu petunjuk (qarinah) bahwa daging tersebut kemungkinan besar disembelih oleh selain ahli kitab, sehingga haram untuk dikonsumsi.

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui status daging hewan sembelihan yang tidak jelas kehalalannya adalah dengan melihat petunjuk atau menanyakan langsung pada pemilik atau pelayan restoran. Jika hal tersebut tidak mungkin dilakukan maka daging tetap berstatus halal. Meski begitu, tindakan yang lebih baik untuk dilakukan adalah menghindari mengonsumsi daging ini dengan cara diganti dengan makanan lain yang jelas halalnya. Sebab daging tersebut berstatus barang syubhat yang dianjurkan untuk dihindari. Seperti yang dijelaskan dalam hadits:

الحلال بين والحرام بين وبينهما مشتبهات لا يعلمها كثير من الناس فمن اتقى الشبهات استبرأ لعرضه ودينه

“Perkara halal itu jelas dan perkara haram itu jelas, diantara keduanya terhadap perkara syubhat yang tidak diketahui banyak orang, maka barangsiapa yang menjaga dirinya dari syubhat, ia telah berlepas diri (demi keselamatan) agama dan kehormatannya.” (HR. Baihaqi). Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur 

Ahad 24 Maret 2019 22:15 WIB
Makanan-Minuman Kejatuhan Serangga, Apakah Najis?
Makanan-Minuman Kejatuhan Serangga, Apakah Najis?
Ilustrasi (flipflopflyin.com)
Serangga seringkali berlalu-lalang di sekitar kita. Selain kadang mengganggu aktivitas, juga menimbulkan sejumlah permasalahan hukum Islam, misalnya ketika serangga hinggap di makanan atau minuman yang akan kita konsumsi: apakah makanan atau minuman itu berstatus najis, sehingga tidak boleh untuk kita konsumsi; atau sebaliknya, tetap suci sehingga masih halal dikonsumsi?

Dalam menyikapi problem tersebut, perlu dikaji dari berbagai dalil yang ada. Rasulullah dalam salah satu haditsnya pernah menjelaskan hal ini:

إِذَا سَقَطَ الذُّبَابُ فِى شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ ، فَإِنَّ فِى أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِى الآخَرِ شِفَاءً

“Ketika lalat jatuh pada minuman kalian, maka benamkan lalat itu lalu ambillah. Sesungguhnya pada salah satu sayapnya terkandung suatu penyakit dan pada sayap yang lain terkandung kesembuhan.” (HR Bukhari)

Hadits di atas seolah menegaskan bahwa lalat ketika jatuh pada makanan bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, sehingga tetap dihukumi suci dan dapat dikonsumsi, bahkan terdapat hikmah lain yang terkandung di dalamnya. Namun apakah para ulama fiqih dalam mengaji permasalahan ini berkesimpulan tetap suci?

Dalam menjawab permasalahan diatas, perlu dibedakan antara serangga yang telah mati atau menjadi bangkai dan serangga yang masih hidup. Sebab perbedaan tersebut sangat berpengaruh terhadap status makanan yang kejatuhan serangga.

Pendapat para ulama fiqih tentang serangga mati pada makanan dan minuman terbagi setidaknya dalam dua kelompok, yakni mereka yang berpandangan tetap suci dan mereka yang berpandangan menjadi najis. Hal ini berdasarkan analogi dalam permasalahan jatuhnya serangga pada air yang mana terdapat dua pendapat tentang status suci tidaknya air tersebut. Analogi ini seperti yang dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:

القولان بنجاسة الماء بموته يجريان في جميع المائعات والأطعمة صرح به أصحابنا واتفقوا عليه والصحيح في الجميع الطهارة للحديث وعموم البلوى وعسر الاحتراز

“Dua pendapat dalam status najisnya air sebab matinya hewan yang tidak keluar darah ketika tubuhnya dibedah, juga berlaku pada semua benda cair dan makanan. Hal tersebut ditegaskan oleh para al-Ashab dan mereka menyepakati hal ini. Pendapat yang sahih pada semua permasalahan di atas adalah tetap berstatus suci karena terdapat hadits yang menjelaskannya dan karena seringnya hal ini terjadi sekaligus sulit untuk menghindarinya.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 1, hal. 130)

Namun kesucian makanan yang kejatuhan serangga menurut ulama yang tetap menganggapnya suci pada makanan tersebut dibatasi selama jatuhnya serangga tidak sampai mengubah makanan atau minuman baik dari segi rasa, warna, ataupun bau. Jika manakan sampai berubah dengan jatuhnya serangga, maka makanan tersebut dihukumi najis dan tidak boleh untuk dikonsumsi. Batasan ini seperti yang dikutip dalam kitab Fath al-Mu’in:

لا بوصول ميتة لا دم لجنسها سائل عند شق عضو منها كعقرب ووزع إلا إن تغير ما أصابته ولو يسيرا فحينئذ ينجس

“Air tidak najis  sebab jatuhnya bangkai yang tidak ada darah yang keluar ketika dibedah tubuhnya, seperti kalajengking dan tokek, kecuali sampai mengubah terhadap air yang dijatuhi hewan tersebut, meskipun perubahannya hanya sedikit, maka ketika air berubah, statusnya menjadi najis.” (Syekh Zainuddin al-Maliabar, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 33)

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa status makanan dan minuman yang kejatuhan serangga diperselisihkan oleh para ulama antara yang menghukumi suci dan najis. Namun menurut pendapat yang sahih makanan dan minuman tersebut tetap berstatus suci dan dapat dikonsumsi selama tidak terdapat perubahan dalam makanan dan minuman.

Dua pendapat di atas berlaku ketika serangga yang jatuh pada makanan masih wujud dan dapat dilihat. Sedangkan ketika serangga jatuh pada makanan dan hancur lebur pada makanan, maka menurut al-Ghazali makanan tersebut tetap dapat dikonsumsi. Hal ini misalnya ketika serangga jatuh pada makanan yang sedang dimasak dan larut pada makanan itu. Penjelasan ini secara tegas disampaikan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal yang mengutip redaksi dalam kitab Ihya’ Ulum ad-Din:

 ففي الإحياء في كتاب الحلال والحرام أنه إذا وقعت نحلة أو ذبابة في قدر طبيخ وتهرت أجزاؤها لا يحرم أكل ذلك الطبيخ ؛ لأن تحريم أكل الذباب ونحوه إنما كان للاستقذار ولا يعد هذا مستقذرا

“Dalam kitab Ihya’ tepatnya dalam membahas bab halal-haram dijelaskan bahwa ketika tawon atau lalat jatuh pada wadah masakan, dan bagian tubuh hewan hancur (pada makanan) maka tidak haram mengonsumsi masakan tersebut. Sebab keharaman mengonsumsi lalat dan sejenisnya dikarenakan menjijikkan, sedangkan dalam permasalahan ini lalat sudah tidak dianggap menjijikkan.” (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 22, hal. 232).

Berbeda halnya ketika serangga yang jatuh pada makanan atau minuman dalam keadaan masih hidup, maka status makanan dan minuman tersebut tetap dihukumi suci selama tidak terlihat oleh mata bahwa serangga yang jatuh itu membawa najis. Selagi kita tak menyaksikan najis itu dan tak melihat secara pasti serangga tersebut pernah menempel pada benda najis, maka status makanan adalah suci alias tetap dapat dikonsumsi. 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa status makanan yang kejatuhan serangga diperinci: ketika serangga yang terdapat pada makanan sudah menjadi bangkai, maka terjadi dua perbedaan pendapat ulama. Menurut pendapat yang sahih, makanan tetap dihukumi suci dan dapat dikonsumsi. Sedangkan ketika serangga yang terdapat pada makanan masih dalam keadaan hidup, maka secara umum makanan tetap dihukumi suci selama tidak terlihat mata bahwa dalam serangga menempel benda najis. Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur 

Kamis 21 Maret 2019 11:30 WIB
Hukum Mengonsumsi Kepompong
Hukum Mengonsumsi Kepompong
Ilustrasi (via ficklr.com)
Kepompong merupakan hewan yang berasal dari ulat dan dapat bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Kepompong biasa kita temukan di dedaunan atau di batang pohon selama masa tunggunya untuk berubah menjadi kupu-kupu. 

Saking banyak ditemukannya hewan ini, sebagian masyarakat tidak menyia-nyiakan keberadaan kepompong, bahkan sampai menjadikannya sebagai lauk makanan, maka tersajilah ragam menu semisal oseng kepompong, kepompong goreng, dan berbagai jenis masakan lainnya yang dianggap bermanfaat. 

Menanggapi fenomena di atas, sebenarnya mengonsumsi kepompong apakah merupakan hal yang diperbolehkan atau justru diharamkan?

Kepompong dalam istilah Arab dikenal dengan nama Asari’. Hewan ini tergolong sebagai hewan kecil yang melata di bumi atau biasa disebut dengan hasyarat. Para ulama mengategorikan segala jenis hasyarat sebagai hewan yang haram untuk dikonsumsi sebab dianggap sebagai hewan yang menjijikkan (mustakhbats) menurut cara pandang orang Arab, termasuk kepompong ini. Status kepompong yang haram untuk dikonsumsi secara tegas dijelaskan dalam kitab Hayat al-Hayawan al-Kubra:

الأساريع : بفتح الهمزة ، لدود أحمر يكون في البقل ينسلخ فيصير فراشا - وقال قوم : الأساريع دود حمر الرؤوس ، بيض الأجساد ، تكون في الرمل يشبه بها أصابع النساء 
الحكم : يحرم أكلها لأنهامن الحشرات

“Al-Asari’(kepompong) merupakan nama bagi jenis ulat merah yang berada di tumbuh-tumbuhan yang berubah bentuk (bermetamorfosis) menjadi kupu-kupu. Sebagian kaum berpandangan bahwa al-asari’ merupakan ulat yang yang berkepala merah dan bertubuh putih ketika berada di pasir, hewan ini mirip dengan jari-jari wanita. Haram mengonsumsi hewan ini karena termasuk golongan hewan hasyarat” (Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz I, hal. 42)

Berdasarkan referensi tersebut maka dapat dipahami bahwa fenomena yang terjadi di masyarakat berupa memanfaatkan kepompong sebagai salah satu jenis makanan adalah hal yang tidak dapat dibenarkan secara syara’. 

Sedangkan memperjual-belikan makanan kepompong ini juga merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan oleh syara’ sebab termasuk i’anah alal maksiyat yang berarti ikut andil dalam perbuatan maksiat (dalam hal ini adalah mengonsumsi kepompong). Sebab dengan adanya penjualan kepompong maka akan menyebabkan orang lain ikut mengonsumsi kepompong, dan hal tersebut jelas tidak diperbolehkan.

Berbeda halnya ketika penjualan kepompong bukan untuk dikonsumsi orang, tapi dalam bentuk lain yang diperbolehkan oleh syara’, misalnya menjual kepompong sebagai pakan burung. Penjualan kepompong dengan tujuan tersebut dapat dibenarkan. Dalam disiplin fiqih, penjualan kepompong dalam contoh yang diperbolehkan tersebut bukan tergolong akad bai’ (jual-beli) tapi tergolong sebagai bentuk naqlul yad (perpindahan kepemilikan), sebab kepompong secara fiqih tidak layak untuk dijadikan sebagai komoditas jual beli (mal) tapi dikategorikan sebagai ikhtishas (kepemilikan) karena kepompong termasuk bagian dari hasyarat.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur