IMG-LOGO
Syariah

Hukum Mengonsumsi Daging dengan Darah yang Masih Tersisa

Kamis 28 Maret 2019 17:0 WIB
Share:
Hukum Mengonsumsi Daging dengan Darah yang Masih Tersisa
(Foto: @pinterest)
Sebagian orang yang setiap harinya memiliki aktivitas memasak secara rutin sering kali mengalami problem dalam hal memasak daging hewan, baik itu daging ayam, sapi, kambing serta berbagai daging halal lainnya, yaitu darah yang melakat tersisa di daging.

Darah tersisa pada daging ketika daging sudah dibasuh dengan air. Bahkan tak jarang sisa darah ini tetap wujud meskipun daging sudah di masak dan siap untuk dijadikan sebagai lauk-pauk.

Melihat realita di atas, apakah sisa darah yang melekat pada daging dihukumi sebagai najis yang tidak dima’fu sehingga tidak boleh untuk dikonsumsi?

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa salah satu  makanan yang haram untuk dimakan adalah makanan yang masih mengandung darah yang mengalir:

قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَآ أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً على طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ الله بِهِ 

Artinya, “Katakanlah, ‘Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi–karena semua itu kotor–atau  hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah,’” (Surat Al-An’am ayat 145).

Namun, ayat di atas tidak berlaku pada permasalahan darah yang melekat pada daging yang memang sulit untuk dibersihkan seperti dalam kasus yang sering terjadi di atas. Sebab makanan yang diharamkan dalam Al-Qur’an adalah makanan yang mengandung darah yang mengalir. Sedangkan darah yang biasa melekat dalam daging yang sudah dibersihkan, sama sekali tidak mengalir, maka darah tersebut dihukumi najis yang dima’fu.

Salah satu ulama’ syafi’iyah yang menegaskan tentang ke-ma’fuan darah yang melekat pada daging adalah Imam Abu Ishaq At-Tsa’labi dan Al-Hulaimi. Alasan mendasar yang dijadikan dalil tentang kema’fuan darah ini adalah dikarenakan wujudnya sisa darah yang melekat pada daging adalah hal yang sulit untuk dihindari sehingga najisnya darah dalam daging adalah hal yang dimaafkan (dima’fu).

Hal ini seperti yang dijelaskan dalam Kitab Al-Majmu’ ala Syarhil Muhadzdzab:

قوله (فرع) مما تعم به البلوى الدم الباقي على اللحم وعظامه وقل من تعرض له من اصحابنا فقد ذكره أبو إسحق الثعلبي المفسر من اصحابنا ونقل عن جماعة كثيرة من التابعين انه لا بأس به ودليله المشقة في الاحتراز منه وصرح احمد واصحابه بان ما يبقى من الدم في اللحم معفو عنه ولو غلبت حمرة الدم في القدر لعسر الاحتراز منه وحكوه عن عائشة وعكرمة والثوري وابن عيينة وأبى يوسف واحمد واسحق وغيرهم واحتجت عائشة والمذكورون بقوله تعالي (الا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا) قالوا فلم ينه عن كل دم بل عن المسفوح خاصة وهو السائل

Artinya, “Cabang Permasalahan. Sebagian hal yang umum terjadi adalah darah yang tersisa pada daging dan tulang hewan. Sedikit sekali ulama yang menjelaskan tentang hal ini dari para Ashab. Permasalahan ini dijelaskan oleh Abu Ishaq Ats-Tsa’labi, pakar tafsir dari golongan Ashabus Syafi’i, dan dinukil dari segolongan ulama tabi’in bahwa darah tersebut tidak perlu dipermasalahkan. Adapun dalilnya adalah sulitnya menghindari darah ini. Imam Ahmad dan para Ashab Ahmad menjelaskan bahwa darah yang menetap pada daging dihukumi ma’fu (dimaafkan), meskipun warna merah dari darah mendominasi pada cawan (untuk mewadahi daging). Ketentuan tersebut juga diceritakan dari Sayyidah A’isyah, ‘Ikrimah, Ats-Tsauri, Ibnu ‘Uyainah, Abu Yusuf, Imam Ahmad, Ishaq dan ulama-ulama yang lain. Sayyidah A’isyah RA dan para ulama tersebut mendalilkan ke-ma’fuan darah yang ada pada daging ini dengan ayat ‘Kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir’ para ulama berkata, ‘Allah tidak mencegah (mengonsumsi) semua jenis darah, tapi pada darah yang mengalir saja,’” (Lihat An-Nawawi, Al-Majmu’ ala Syarhil Muhadzdzab, juz II, halaman 557).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sisa darah yang biasa melekat pada daging tergolong najis yang dima’fu atau dimaafkan sehingga ketika daging sudah dibersihkan dengan sungguh-sungguh namun darah ini tetap melekat dalam daging maka darah tersebut bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan dan daging tetap dapat dikonsumsi. Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur
Share:
Kamis 28 Maret 2019 7:30 WIB
Mengonsumsi Keong, Halal atau Haram?
Mengonsumsi Keong, Halal atau Haram?
Ilustrasi (via fin.co.id)
Keong merupakan salah satu hewan yang dapat hidup dalam dua alam, yakni di perairan dan daratan. Salah satu ciri khas hewan ini adalah memiliki tempurung atau cangkang yang berfungsi sebagai pelindung dirinya dari ancaman luar. Tempurung keong ini selalu menyertainya di mana pun hewan ini berjalan, seperti halnya tempurung yang dimiliki oleh siput dan kura-kura.

Bagi masyarakat yang berada di sekitar pesisir pantai, hewan keong ini sering mereka temukan. Kadang kita melihat beberapa orang berburu keong, sebagian untuk tujuan dikonsumsi secara pribadi dan ada pula yang menggunakan keong untuk diperjualbelikan.

Sedangkan bagi masyarakat pedesaan, terutama mereka yang bermata pencaharian sebagai petani, banyak juga keong yang berlalu-lalang di sekitar perairan sawah, hewan ini biasa dikenal dengan nama tutut atau keong sawah. Sebagian masyarakat berburu hewan keong sawah ini untuk dijadikan sebagai lauk-pauk, terkadang ada juga yang diperjualbelikan. 

Melihat berbagai realitas di atas, sebenarnya apakah memang hewan keong termasuk hewan yang halal untuk dikonsumsi, sehingga tindakan sebagian masyarakat dapat dibenarkan?

Baca juga: 
Mengonsumsi Laron, Halal atau Haram?
Hukum Makan Bekicot
Standar Menjijikkan atau Tidaknya Hewan adalah Orang Arab, Mengapa?
Para ulama berbeda pendapat tentang status hokum keong, apakah termasuk hewan yang halal atau haram dikonsumsi. Sebagian ulama seperti Imam Ar-Ramli, Ad-Damiri dan Khatib Asy-Syirbini berpandangan bahwa keong adalah hewan yang halal untuk dikonsumsi. Sedangkan ulama lain seperti Imam Ibnu Hajar, Ibnu Abdissalam, dan Az-Zarkasyi berpandangan bahwa keong adalah hewan yang haram untuk dikonsumsi. Perbedaan pendapat ini secara tegas dijelaskan dalam salah satu kitab karya ulama Nusantara, Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Jawi al-Bughuri yang berjudul Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah:

فعلى كلام المجموع وابن عدلان وأئمّة عصره والدميري والشهاب الرملي ومحمد الرملي والخطيب فى المغني فالرميسى والتوتوت والكييوع حلال لأنّها مثل الدنيلس الذي اتّفقوا على حله وداخل في أنواع الصدف الذي ظاهر كلام المجموع على حلّه . وعلى كلام ابن عبد السلام والزركشى  وابن حجر فى الفتاوى الكبرى والتحفة فالمذكورات حرام فيجوز للناس أكلها تقليدا للذين قالوا بحلّه والأولى تركه إحتياطا.

“Berdasarkan penjelasan dalam kitab Al-Majmu’, pendapat Ibnu ‘Adlan dan ulama semasanya, Imam Ad-Damiri, Syihab Ar-Ramli, Muhammad Ar-Ramli, dan Khatib Asy-Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj bahwa ramis, tutut (keong sawah) dan keong (laut) adalah hewan yang halal, karena masih sama dengan danilas (sejenis hewan laut) yang disepakati kehalalannya dan tergolong dalam jenis kerang yang secara eksplisit dijelaskan dalam kitab al-Majmu’ kehalalannya. Namun jika berdasarkan pendapat Imam Ibnu Abdissalam, Az-Zarkasyi, Ibnu Hajar dalam kitab al-Fatawa al-Kubra dan Tuhfah al-Muhtaj bahwa semua hewan yang disebutkan di atas adalah haram, maka boleh bagi seseorang untuk mengonsumsinya dengan bertaqlid pada ulama yang berpendapat tentang kehalalannya, namun yang lebih utama adalah tidak mengonsumsi hewan ini dalam rangka mengambil jalan hati-hati dalam mengamalkan syariat.” (Syekh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Jawi, Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah, hal. 14-15)

Perbedaan pendapat tentang hukum mengonsumsi keong di atas sebenarya bermula dari perbedaan pendapat di antara ulama tentang status hukum hewan kerang, apakah termasuk hewan yang haram atau halal dikonsumsi. Sebab keong adalah hewan yang mirip dengan kerang dari segi kehalalan dan keharamannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengonsumsi keong, baik itu keong laut ataupun keong sawah adalah persoalan yang diperdebatkan, sebagian ulama memperbolehkan, sebagian yang lain mengharamkan. Bagi sebagian orang yang terbiasa mengonsumsi keong atau menjadikan keong sebagai mata pencaharian diperbolehkan baginya mengikuti (taqlid) pada ulama yang menghalalkan keong. Sehingga perbuatan yang dilakukannya, baik itu mengonsumsi ataupun memperjual-belikan keong tidak tergolong sebagai hal yang dilarang oleh syara’. Meski begitu, hal yang lebih utama tetap menjauhi mengonsumsi keong ini dalam rangka mengambil jalan kehati-hatian dalam mengamalkan syariat (ihtiyath) seperti yang dijelaskan dalam kitab Shawaiq al-Muhriqah li al-Awham al-Kadzibah di atas. Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur 
Rabu 27 Maret 2019 12:30 WIB
Menjawab Azan ketika Sedang Buang Hajat
Menjawab Azan ketika Sedang Buang Hajat
Ilustrasi (via Pixabay)
Hampir di seluruh wilayah di Indonesia, kita mendengar suara azan berkumandang setidaknya lima kali dalam satu hari, sesuai dengan jumlah shalat yang diwajibkan bagi umat Islam pada setiap harinya. Suara azan ini tidak boleh kita sikapi dengan acuh, sebab menjawab kumandang azan merupakan sebuah kesunnahan bagi setiap orang yang mendengarnya. 

Namun apakah kesunnahan ini berlaku secara umum bagi setiap orang yang mendengar azan? Mengingat terkadang seseorang mendapati suara azan saat berada di tempat yang tidak layak untuk mengucapkan kalima-kalimat dzikir yang terkandung dalam azan, seperti pada saat buang hajat misalnya. Lantas apakah tetap dianjurkan bagi orang yang sedang buang hajat untuk menjawab suara azan yang ia dengarkan?

Baca juga:
Ini Sunah-Sunah saat Azan
Anjuran Mengqadha ketika Tak Sempat Menjawab Azan
Kesunnahan menjawab azan rupanya tidak berlaku bagi orang yang sedang buang hajat, sebab buang hajat dianggap sebagai keadaan yang tidak layak untuk mengucapkan segala macam dzikir dan pembicaraan, sehingga dihukumi makruh. Kemakruhan bagi orang yang sedang buang hajat tidak hanya berlaku pada menjawab azan, tapi juga pada semua anjuran yang terkandung nilai dzikir di dalamnya. Seperti menjawab salam, mengucapkan hamdalah bagi orang yang bersin, dan kesunnahan lainnya. Hal ini ditegaskan dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah:

ـ (باب النهي عن الذكر والكلام على الخلاء) يكره الذكر والكلام حال قضاء الحاجة، سواء كان في الصحراء أو في البنيان، وسواء في ذلك جميع الأذكار والكلام، إلا كلام الضرورة حتى قال بعض أصحابنا : إذا عطس لا يحمد الله تعالى، ولا يشمت عاطسا، ولا يرد السلام، ولا يجيب المؤذن، ويكون المسلم مقصرا لا يستحق جوابا، والكلام بهذا كله مكروه كراهة تنزيه، ولا يحرم، فإن عطس فحمد الله تعالى بقلبه ولم يحرك لسانه فلا بأس، وكذلك يفعل حال الجماع

“Bab tentang larangan berdzikir dan berbicara saat berada di jamban (toilet). Berdzikir dan berbicara dimakruhkan ketika sedang buang hajat, baik buang hajat dilakukan di tempat terbuka atau di ruangan. Kemakruhan tersebut berlaku pada semua jenis dzikir dan pembicaraan kecuali perkataan yang bersifat darurat. Bahkan sebagian ashab (ulama Syafi’iyah) berpandangan bahwa ketika (di jamban) bersin maka tidak dianjurkan mengucapkan hamdalah dan tidak pula dianjurkan mengucapkan tasymith (ucapan Yarhamukallâh), tidak dianjurkan menjawab azan ketika azan sedang berkumandang dan orang yang mengucapkan salam dengan lalai tidak berhak untuk dijawab, dan mengucapkan ucapan pada semua keadaan di atas adalah dihukumi makruh tanzih, tidak sampai dihukumi haram. Ketika seseorang bersin lalu ia mengucapkan hamdalah dalam hatinya tanpa menggerakkan lisannya maka hal ini tidak dipermasalahkan, hal tersebut juga dapat dilakukan ketika dalam keadaan bersetubuh.” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Adzkar an-Nawawiyah, juz I, hal. 51)

Terkhusus pada permasalahan menjawab salam, Rasulullah pernah mengalami hal ini. Salah satu sahabatnya mengucapkan salam pada Rasulullah saat beliau sedang buang hajat, dan salam ini tidak beliau jawab. Peristiwa ini seperti yang dijelaskan dalam salah satu hadits:

وعن المهاجر بن قنفذ رضي الله عنه قال : " أتيت النبي صلى الله عليه وسلم وهو يبول، فسلمت عليه، فلم يرد حتى توضأ، ثم اعتذر إلي وقال : إني كرهت أن أذكر الله تعالى إلا على طهر رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه

“Diriwayatkan dari Sahabat Muhajir bin Qanfadz RA, bahwa beliau berkata: Aku mendatangi Nabi Muhammad Saw saat beliau sedang buang hajat, lalu aku mengucapkan salam pada beliau namun salam itu tidak dijawabnya sampai beliau melaksanakan wudhu, lalu beliau menjelaskan padaku, ‘Aku tidak senang menyebutkan nama Allah kecuali aku dalam keadaan suci’.” (HR Abu Daud)

Memperhatikan referensi dalam kitab al-Adzkar an-Nawawiyah di atas, tersirat suatu penjelasan bahwa bagi orang yang bersin, tetap disunnahkan untuk mengucapkan hamdalah dalam hati. Namun apakah hal ini juga berlaku orang yang menjawab azan, sehingga bagi orang yang sedang buang hajat tetap disunnahkan menjawab azan dalam hati tanpa perlu dilafalkan dalam lisan?

Dalam kitab Faid al-Qadir dijelaskan bahwa anjuran berdzikir dalam hati berlaku pada setiap keadaan apa pun, sehingga juga berlaku bagi orang yang sedang  buang hajat. Berdasarkan ketentuan ini, maka bagi orang yang buang hajat tetap dianjurkan menjawab azan dalam hatinya tanpa perlu melafalkan dalam lisannya. Berikut penjelasan dalam kitab Faid al-Qadir:

فتتأكد مداومة ذكر الله تعالى في جميع الاحوال لكن يستثنى من الذكر القرآن حال الجنابة بقصده فإنه حرام ويستثنى من عمومه أيضا المجامع وقاضي الحاجة فيكره لهما الذكر اللساني أما القلبي فمستحب على كل حال

“Melanggengkan dzikir pada Allah sangat dianjurkan pada setiap keadaan, akan tetapi dikecualikan dalam berdzikir yakni membaca Al-Qur’an dalam keadaan junub dengan menyengaja membaca Al-Qur’an, sesungguhnya hal tersebut diharamkan. Dikecualikan pula dari keumuman anjuran berdzikir yakni bagi orang yang sedang bersetubuh dan sedang buang hajat, maka bagi dua orang tersebut dimakruhkan mengucapkan dzikir secara lisan, sedangkan dzikir dalam hati tetap disunnahkan dalam keadaan apapun.” (Al-Manawi, Faid al-Qadir, juz 5, hal. 424)

Sedangkan dalam kitab I’anah at-Thalibin dijelaskan bahwa bagi orang yang sedang buang hajat dianjurkan untuk menjawab seluruh kalimat azan setelah selesai melaksanakan aktifitas buang hajat. Berikut referensi yang menegaskan hal ini:

وتكره لمجامع وقاضي حاجة، بل يجيبان بعد الفراغ

“Makruh menjawab azan bagi orang yang sedang bersetubuh dan buang hajat, akan tetapi dua orang ini tetap dianjurkan menjawab azan ketika sudah selesai bersetubuh dan buang hajat.”(Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 279)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menjawab azan secara lisan bagi orang yang sedang buang hajat adalah hal yang dimakruhkan, namun ia tetap dianjurkan untuk menjawab azan dalam hati dan menjawab semua azan secara lisan ketika telah selesai melakukan buang hajat. Wallahu a’lam


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur 

Senin 25 Maret 2019 21:30 WIB
Belum Jelas Proses Sembelihannya, Daging Halal atau Haram?
Belum Jelas Proses Sembelihannya, Daging Halal atau Haram?
Bagi para pelancong yang berada di tempat berpenduduk mayoritas non-Muslim, seringkali merasa kesulitan mencari makanan yang benar-benar halal. Sehingga, ketika mereka tidak menemukan restoran yang berlabel halal di tempat tersebut, tidak ada cara lain untuk menghilangkan rasa lapar selain mengunjungi restoran atau tempat makan yang tidak jelas halal-haramnya.

Misalnya, restoran atau tempat makan itu menyediakan menu seperti ayam goreng, rendang, sate kambing, dan aneka makanan lain. Padahal, seperti kita pahami bersama bahwa hewan sembelihan hanya bisa benar-benar menjadi halal ketika disembelih oleh umat Islam atau ahli kitab, yakni orang Yahudi dan Nasrani (Kristen). Selain dari tiga golongan itu, daging hewan sembelihan tidak dapat dimakan atau haram untuk dikonsumsi.

Berdasarkan realitas tersebut, bolehkah bagi para pelancong mengonsumsi daging hewan yang belum jelas halal-haramnya?

Dalam menjawab persoalan tersebut, penting kiranya seseorang terlebih dahulu melihat petunjuk (qarinah) yang terdapat di sekitar atau bertanya tentang kehalalan daging yang disajikan pada pemilik atau pelayan restoran. Jika pemilik atau pelayan menjawab halal, maka daging tersebut adalah halal. Sebab ucapan pemilik restoran atau pelayannya dapat menjadi pijakan secara fiqih selama tidak diketahui kebohongan ucapan itu.

Sedangkan ketika tidak ada petunjuk yang menegaskan halal-haramnya daging, atau pelancong tidak mampu atau kesulitan bertanya pada pemilik restoran maka daging yang dimakan adalah halal dengan berpijak pada hukum asal daging tersebut yang berstatus halal dikonsumsi. Hal ini berdasarkan kaidah yang berlaku bahwa “ketika bertentangan antara penilaian secara zahir dan hukum asal suatu perkara, maka yang menjadi pijakan adalah hukum asalnya.” Seperti yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

ـ (قاعدة مهمة): وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله، فيه قولان معروفان بقولي الاصل والظاهر أو الغالب، أرجحهما أنه طاهر، عملا بالاصل المتيقن، لانه أضبط من الغالب المختلف بالاحوال والازمان

“Kaidah penting: Sesungguhnya sesuatu yang asalnya suci dan ia menduga kuat bahwa sesuatu tersebut najis karena umumnya terkena najis pada hal sesamanya, maka dalam hal ini berlaku dua pendapat yang terkenal dengan dua qoul, asal dan zahir atau ghalib. Pendapat yang paling kuat adalah sucinya sesuatu tersebut dengan berpijak pada hukum asal yang telah diyakini. Sebab hukum asal lebih adlbat (komprehensif) dari ghalib yang berbeda-beda berdasarkan keadaan dan waktu.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 124)

Kehalalan daging yang tidak jelas statusnya seperti dalam permasalahan di atas dibatasi selama asal daging atau restoran bukan berada di wilayah yang berpenghuni mayoritas non-Muslim yang bukan ahli kitab. Maka ketika restoran atau rumah makan berada di tempat yang dihuni oleh mayoritas non-Muslim yang bukan ahli kitab, dan restoran sama sekali tidak berlabel halal maka daging tersebut berstatus haram sehingga tidak boleh untuk dikonsumsi. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam kitab Asna al-Mathalib

ـ ( وإن وجد قطعة لحم في إناء ) أو خرقة ( ببلد لا مجوس فيه فطاهرة أو ) ، وجدها ( مرمية ) مكشوفة ( أو ) في إناء أو خرقة (والمجوس بين المسلمين فنجسة ) نعم إن كان المسلمون أغلب كبلاد الإسلام فطاهرة لأنه يغلب على الظن أنها ذبيحة مسلم ذكره الشيخ أبو حامد والقاضي أبو الطيب والمحاملي ، وغيرهم

“Ketika ditemukan potongan daging pada sebuah cawan atau sobekan kain di wilayah yang tidak dihuni oleh orang Majusi, maka daging tersebut dihukumi suci. Sedangkan ketika daging tersebut ditemukan dalam keadaan dilempar (dibagikan) atau pada cawan atau sobekan kain di wilayah yang mana orang majusi (menjadi mayoritas) di antara orang Muslim, maka daging tersebut dihukumi najis. Sedangkan ketika orang Islam merupakan mayoritas (di wilayah tersebut) maka daging dihukumi suci, sebab daging tersebut diduga kuat merupakan sembelihan orang Islam, penjelasan ini disampaikan oleh Abu Hamid, al-Qadi Abu Tayyib, Imam Mahamili dan Ulama lainnya.” (Syekh Zakaria al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 132)

Daging yang berada di wilayah yang mayoritas berpenghuni non-Muslim yang bukan ahli kitab berstatus haram karena kondisi demikian merupakan suatu petunjuk (qarinah) bahwa daging tersebut kemungkinan besar disembelih oleh selain ahli kitab, sehingga haram untuk dikonsumsi.

Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui status daging hewan sembelihan yang tidak jelas kehalalannya adalah dengan melihat petunjuk atau menanyakan langsung pada pemilik atau pelayan restoran. Jika hal tersebut tidak mungkin dilakukan maka daging tetap berstatus halal. Meski begitu, tindakan yang lebih baik untuk dilakukan adalah menghindari mengonsumsi daging ini dengan cara diganti dengan makanan lain yang jelas halalnya. Sebab daging tersebut berstatus barang syubhat yang dianjurkan untuk dihindari. Seperti yang dijelaskan dalam hadits:

الحلال بين والحرام بين وبينهما مشتبهات لا يعلمها كثير من الناس فمن اتقى الشبهات استبرأ لعرضه ودينه

“Perkara halal itu jelas dan perkara haram itu jelas, diantara keduanya terhadap perkara syubhat yang tidak diketahui banyak orang, maka barangsiapa yang menjaga dirinya dari syubhat, ia telah berlepas diri (demi keselamatan) agama dan kehormatannya.” (HR. Baihaqi). Wallahu a’lam.


Ustadz Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Kaliwining Jember Jawa Timur