IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Gus Baha’: Kekuatan Militer atau Kekuatan Masyarakat?

Sabtu 6 April 2019 12:0 WIB
Share:
Gus Baha’: Kekuatan Militer atau Kekuatan Masyarakat?
KH Bahaudin Nur Salim atau Gus Baha' (galeri.mahally.ac.id)
Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diajarkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan diberikan kisah-kisah nabi terdahulu supaya Nabi Muhammad mendapatkan pelajaran tentang bagaimana bersikap dan mempelajari sejarah. Dengan begitu, jalur pemikiran dan sikap Nabi Muhammad serta nabi-nabi yang lain selalu sama. Kesamaan metodologi berpikir yang diajarkan Al-Qur’an dengan mengisahkan nabi terdahulu kepada Nabi Muhammad merupakan salah satu bentuk pertalian sanad yang menyambung. Nabi satu dengan nabi yang lain menyambung secara gagasan dan sikap. 

KH Bahaudin Nur Salim, asal Rembang, Jawa Tengah, atau yang akrab disapa Gus Baha’ memaparkan sebuah bukti melalui contoh sikap kiai alumni-alumni pesantren. Sejak ia jadi santri sudah mendapat contoh perilaku kiai di atasnya. Bagaimana kiai tersebut menyikapi satu masalah, akan ditiru santrinya bahkan sampai santrinya tersebut menjadi kiai.

Sebagai contoh, seorang kiai pada saat melihat ada orang mabuk di pinggir jalan. Sekeras apa pun pandangan kiai NU, jika melihat orang mabuk di pinggir jalan, kiainya hanya membaca istighfar atau mendoakan, bukan bereaksi dengan cara memukul orang yang sedang mabuk. Tradisi tersebut kemudian menjadi turun-menurun kepada santri, santrinya kepada santri di bawahnya. Santrinya kelak saat jadi kiai, akan meniru sikap kiainya. Inilah yang disebut dengan pertalian sanad. 

Dahulu saat zaman Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari, perbedaan identitas antara “orang hijau” (Islam taat) dan “orang abangan” sangat tampak, namun tidak ada catatan sejarah Mbah Hasyim memukul atau menyerang orang mabuk. Kita ditradisikan oleh guru-guru kita dalam memberantas kemungkaran itu dengan hikmah dan mauidhah hasanah. Kita lebih memilih tradisi doa:
 
اللهم اهد قومي فانهم لا يعلمون

Artinya: “Ya Allah, semoga Engkau beri petunjuk kepada kaumku. Sesungguhnya mereka tidak tahu.” 

Kiai-kiai bijak itu, sebagai orang alim, bukan tidak mengerti bahwa kemungkaran harus diberantas. Namun, menurut sanad perilaku memang metodologinya tidak dengan cara keras. Mungkin ini berbeda dari kebanyakan orang Arab. Saat melihat kemungkaran, mereka bereaksi dengan cara keras seketika. Jangankan kepada peminum, kepada sesama Muslim yang tidak sealiran saja bisa saling bunuh. Yang terjadi, orang Sunni menghalalkan darahnya orang Syi’ah, begitu pula sebaliknya. Kitab-kitab fiqih klasik pesantren justru banyak mengomentari tentang kehalalan darah orang yang berbeda aliran, tapi di Indonesia tidak dijalankan sebab tidak mempunyai tradisi atau sanad menjalankan keterangan tersebut.

Baca juga:
Kenapa Kiai Cenderung ‘Menghindari’ Bab Jihad? Ini Kata Gus Baha’
Perbedaan Kiai Kecil dan Kiai Besar Menurut Gus Baha’
Gus Baha’ bercerita, “Kami kalau sedang bertahajud, mengirim fatihah kepada para wali seperti Wali Songo dan lain sebagainya. Kami ingat bahwa Islam mempunyai sumber utama Al-Qur’an dan hadits. Namun kenyataan di lapangan tetap berimprovisasi atau berkembang sesuai karakter siapa yang mendakwahkan Islam di satu tempat di mana Islam itu berkembang.” 

Di India pernah terjadi bentrok besar-besaran pada masa Abu al-A’la al-Maududi di bawah kepemimpinan Muhammad Iqbal sehingga India pisah dengan Pakistan dan selanjutnya Pakistan menjadi negara Islam. Hal ini berawal karena konseptor negara Pakistan adalah orang-orang yang tidak setuju dengan negara sekuler yang memisahkan diri dari India. Di kemudian hari, akhirnya memang Pakistan menjadi negara Islam. Islam menjadi ideologi negara.

Di negara-negara Timur Tengah, formalisasi Islam ke dalam negara lebih banyak menimbulkan kekacauan. Banyak orang Iran yang berideologi Syiah menganggap darah orang Sunni halal. Begitu pula sebaliknya di Irak. Irak di bawah kepemimpinan Sadam Husain, banyak orang Syiah dan suku Kurdi dibantai. Era Saddam kalah, kelompoknya pun menjadi target sasaran balik. Arab Saudi saat ingin menjadikan Wahabi sebagai ideologi negara, secara besar-besaran mereka membuang orang Sunni. Begitu pula yang terjadi di Sudan, Khortum, Dalfur, hingga Sayyid Qutub sebagai tokoh muslim populer, dan meninggalnya bagaimana saja tidak jelas, padahal mereka ini Islam semua. Berbeda mazhab bisa menjadikan saling bunuh. Masyarakat Indonesia paling tinggi kelasnya, hanya berhenti sampai pada level polemik soal pendapat saja, tidak lebih.

Kita harus bersyukur karena mempunyai tradisi konflik terbaik di dunia. Badan Koordinasi Stabilitas Nasional (Bakorstanas) di Indonesia harusnya berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada para ulama kita yang tidak sampai mentradisikan perang. Kalau kita lihat peran Ikhwanul Muslimin di Mesir, mereka bisa memicu kekacauan yang luar biasa. Sebagai orang pesantren, kita tahu banyak sejarah perselisihan pendapat, misalnya antara Kiai Imam dengan Kiai Zubair, Kiai Maemun dengan kiai lain. Walaupun mereka berbeda pandangan, paling keras hanya sampai pada level adu statemen dengan tamu-tamu yang datang saja, tidak sampai ada pertumpahan darah. Itulah kenapa kita menjadi punya “tradisi konflik” terbaik di dunia. 

Kita lihat bagaimana orang NU marah pada saat Gus Dur dilengserkan dari presiden. Tensi marah tertingginya orang NU, tidak sampai menumpahkan darah. Dalam forum seminar mereka sudah duduk bersama lagi dengan orang-orang yang dulu menggulingkan Gus Dur. Kita mendapati satu sejarah bagaimana Ahmad Hasan berbeda dengan tokoh-tokoh NU, bagaimana pula bedanya Gus Dur dengan Kiai As’ad Syamsul Arifin tentang asas tunggal Pancasila. Kita saksikan mereka menyelesaikan masalah dengan beradab dibanding cara-cara penyelesaian konflik seperti di Irak. 

Dengan menjalin persaudaraan di bawah payung Islam, orang-orang akan menjadi damai hatinya. Dalam Al-Qur’an disebutkan: 

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا 

Artinya: “Dan ingatlah kalian atas nikmat Allah yang atas kalian saat kalian bermusuhan kemudian Allah mempersatukan hatimu sehingga kalian menjadi bersaudara.” (QS Ali Imran: 103) 

Ayat di atas menunjukkan, atas barakahnya Islam, suku Auz dan Khazraj yang semula bermusuhan bisa berubah menjadi bersaudara. Berbeda jika umat Islam masih saja perang atau konflik dalam tubuhnya sendiri, akan mudah dicampurtangani oleh pihak luar, contohnya adalah Perang Irak. Di sana orang Muslim Sunni dan Syiah bertempur, akhirnya Amerika, Rusia ikut campur tangan. 

Gus Baha’ kembali melanjutkan, “Di Indonesia juga muncul kelompok-kelompok kecil yang sangat banyak. Namun seumpama Allah bertanya kepada saya, saya jawab bahwa saya memilih NU. Bukan karena saya oportunis. Namun, saya memilih yang paling besar ini supaya jika ada konflik, pemetaannya mudah. Apabila setiap orang yang merasa benar sendiri kemudian membuat kelompok sendiri-sendiri, maka tidak akan ada selesainya.” Oleh karena itu, Rasulullah bersabda: 

تَلْزَمُ جَمَاعَةَ المُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ

Artinya: “Kamu harus selalu bersama kelompok besarnya orang-orang Muslim dan imamnya.” (Muttafaq 'alaih

Setiap orang perlu berkelompok dengan mainstream. Melawan arus utama bisa berakibat konflik atau tidak bersaudara (ikhwânâ). Mengapa Iran tidak mudah diintervensi atau diserang Amerika? Karena mereka cenderung seragam (homogen), kompak, dengan basis identitas dominan Syiah. Bagi musuh, melawan sebuah kekompakan itu merupakan perkara sulit. Arab Saudi, walaupun awalnya bentrok dengan Sunni, tidak mudah diadu pihak luar karena mereka seragam dengan Wahabi sebagai identitas Islamnya. Terlepas aqidah mereka apa. Kenapa Indonesia itu aman? Karena ada NU dan Muhammadiyah yang masih bersatu. Platform besar seperti ini lebih mudah kompak daripada lahir faksi-faksi kecil baru yang sulit bersatunya.

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa kekuatan negara tidak disebabkan alat perangnya yang canggih, tapi masyarakatnya yang tidak bentrok (kompak). Seumpama Jawa yang mayoritas Muslim ingin mendirikan negara Islam, orang NTT akan tersinggung, dan wajar jika mereka ingin memisahkan diri dari Indonesia. Begitu pula Papua, Maluku, Ambon, dan lain sebagainya. Apakah militer bisa mengatasi hal tersebut? Tidak bisa. 

Dengan penjelasan Gus Baha’ di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa persatuan merupakan hal yang sangat penting sehingga siapa saja yang ingin mengoyak Indonesia akan dapat dikalahkan dengan persatuan masyarakatnya. 

(Ahmad Mundzir) 

Share:
Sabtu 6 April 2019 15:0 WIB
Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli
Ketika Nabi Nuh Dicekik dan Dipukuli
Dalam kitab al-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal al-Syaibânî (164-241 H) ada dua riwayat yang menceritakan Nabi Nuh as disakiti kaumnya:

حدثنا عبد الله حدثنا عبد الرحمن عن سفيان عن الأعمش عن مجاهد عن عبيد بن عمير قال: كان قوم نوح يضربونه حتي يغشي عليه فإذا أفاق قال: اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون.

Diceritakan oleh Abdullah, diceritakan oleh Abdurrahman, dari Sufyan, dari al-A’masy, dari Mujahid, dari Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: “Kaum Nabi Nuh memukulinya hingga ia tidak sadarkan diri. Ketika Nabi Nuh siuman, ia berdoa: 

“Ya Allah, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, hlm 66)

عن مجاهد عن عبيد بن عمير قال: إن كان الرجل من قوم نوح ليلقاه فيخنقه حتي يخر مغيشا عليه, قال: فيفيق حين يفيق وهو يقول: رب اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون.

Dari Mujahid, dari ‘Ubaid bin ‘Umair, ia berkata: “Jika seseorang dari kaum Nuh bertemu dengannya, maka ia akan mencekiknya hingga Nuh jatuh pingsan.” Kemudian ia sadarkan diri, ketika itu ia berdoa: 

“Tuhan, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, hlm 66)

****

Cara paling mudah untuk menakar kedalaman manusia adalah ketika ia sedang tersakiti (dilukai). Akal sehat manusia cenderung menyusut di saat itu terjadi. Luka menimbulkan kemarahan. Kemarahan menghadirkan kehendak membalas. Kehendak membalas memunculkan dendam.

Bagi orang yang belum menguasai dirinya, ia akan membalas perilaku buruk orang lain dengan balasan yang terkadang jauh lebih kejam. Manusia yang tersinggung, kehendak buasnya meningkat. Balasan setara tidak lagi menjadi pilihan. Sebab, pembalasan selalu berkaitan erat dengan kepuasan. Melampiaskan sakit hati tanpa kepuasan, dalam struktur kejiwaan manusia, tidak bisa memenuhi fantasi kepuasan yang diharapkan.

Apa yang dilakukan Nabi Nuh dalam kisah di atas paling tidak menggambarkan dua hal, pertama, memaafkan segala perilaku buruk kaumnya dengan dasar “mereka tidak mengetahui.” Kedua, melepaskan beban yang memberatkan hatinya dengan cara mendoakan mereka.

Penjelasannya begini, untuk yang pertama, memaafkan dalam kerangka kisah di atas adalah mewajari. Perilaku buruk kaummnya, mencekik dan memukul, dipandang oleh Nabi Nuh berasal dari ketidaktahuan mereka. Tentu saja dalam strata hubungan normal antara non-nabi perlakuannya akan berbeda. Keseimbangan sangat diperlukan di sini. Itulah sebabnya Allah membincangkan hukum-hukum-Nya melalui para nabi. Hukum yang diturunkan untuk menjaga keseimbangan di antara manusia, selain dengan Tuhannya. Tapi, jika ada seseorang yang mampu bersikap seperti Nabi Nuh, ia adalah manusia luar biasa.

Yang kedua, maksud “melepaskan beban” adalah rasa bersalah. Maksudnya begini, jika Nabi Nuh tidak berdoa memohonkan ampunan untuk mereka, artinya ia menjadi penyebab dosa-dosa mereka. Penyebab di sini bukan penyebab dalam arti muasal, tapi pengantar. Gara-gara menyakiti Nabi Nuh mereka menanggung dosa. Artinya ada dosa yang tercatat di buku amal mereka karena menyakiti Nabi Nuh. Bagi seorang nabi yang membawa misi kenabian, ia akan berusaha menghindarinya. Tugasnya adalah membawa manusia mendekat kepada Allah agar selamat dunia-akhirat, bukan mengantar mereka ke pintu neraka.

Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, apakah mungkin dua poin penting kisah di atas bisa dilakukan manusia biasa? Tentu saja bisa, meski dalam batas-batas tertentu. Sebab, semua perilaku nabi dan hikmahnya dijadikan Allah sebagai standar keteladanan atau ukuran ideal untuk manusia. Memang, ukuran ideal cenderung tidak bisa diraih, tapi setidaknya menjadi garis finis yang dituju. 

Dalam konteks kebaikan dan akhlak, ada dua pendekatan menarik. Pertama, ukuran ideal yang harus mengawang-awang. Tujuannya agar pelaku kebaikan tidak pernah merasa puas dengan kebaikannya. Tanpa ukuran ideal yang mengawang-awang itu, pelakunya akan merasa sudah berhasil dan telah mencapai garis finis. Akibatnya kebaikan memiliki batas dan mengenal kata “sampai”. Seharusnya kebaikan terbebas dari semua itu, agar pelakunya selalu meningkatkan perbuatan baiknya dan tidak pernah merasa ‘sampai’. Namun, tetap harus ada standar dan ukuran idealnya, meski hampir mustahil untuk dicapai.

Kedua, andaipun kebaikan mengenal “perbatasan”, manusia harus menyadari bahwa mengulangi perjalanan adalah hal baik. Tantangannya pun tak kalah besarnya dari skema kebaikan yang pertama. Karena pengulangan sangat dekat dengan kebosanan. Pengulangan yang dilakukan terus-menerus membuka peluang kebosanan yang lebih besar. Maka, dibutuhkan perjuangan luar biasa untuk menjadi pengulang yang baik.

Di sini Nabi Nuh memberi contoh untuk kita semua, bahwa menjadi pemaaf tidak melulu berarti pengecut; tidak membalas tidak selalu berarti takut. Ia juga menunjukkan cara memaafkan yang paling baik, dengan cara mendoakan ampunan untuk mereka. Ya, memang sulit dilakukan, tapi setidaknya “sudahkan kita mencobanya?”

Wallahu a'lam

Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Jumat 5 April 2019 12:0 WIB
Gus Baha’ soal Isra’ Mi’raj dan Ketersambungan Ajaran Nabi-nabi
Gus Baha’ soal Isra’ Mi’raj dan Ketersambungan Ajaran Nabi-nabi
Berikut kutipan kajian KH Bahaudin Nur Salim atau yang akrab disapa dengan Gus Baha’ tentang asbâbun nuzûl Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat ke-1: 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ 

Artinya: “Maha-Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha-Mendengar lagi Maha-Mengetahui.” (QS Al-Isra’: 1)

Mayoritas ulama berpendapat, peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi sebagai pelipur lara dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam setelah beliau mengalami dua kesedihan. Nabi ditinggal seorang paman bernama Abu Thalib yang menjadi tameng atas serangan-serangan kaum kafir Quraisy. Abu Thalib adalah bangsawan Arab dari klan terhormat bernama Quraisy. Di tahun yang sama, Nabi Muhammad juga ditinggal istri tercinta, Khadijah. Seorang penopang finansial dakwah Nabi. 

Periode Makkah adalah masa tersulit bagi Nabi Muhammad. Ia mempunyai status sebagai minoritas dan kehidupan sehari-harinya dikucilkan. Satu-satunya orang yang bisa menggaransi hidup Nabi Muhammad adalah pamannya, Abu Thalib. Secara kasta sosial, kekuatan Nabi ditopang oleh istrinya, Khadijah. 

Dengan ditinggal matinya kedua orang yang menyokong Rasulullah baik secara moral (Abu Thalib) maupun material (Khadijah), tahun ini dikenal dengan ‘âmul huzn atau tahun duka. Secara psikologis manusia normal, atas dua musibah yang beruntun tersebut menjadikan kejiwaan Nabi terguncang. Kegoncangan psikologi Nabi bersumber dari masyarakat Arab kala itu yang sudah terlanjur terdikte oleh propaganda ulama Yahudi dan Nasrani. 

Orang kafir Makkah adalah orang-orang bodoh yang mudah dikelabuhi tokoh Yahudi dan Nasrani saat itu. Karena pemuka Yahudi ini yang dijadikan sumber konsultasi masyarakat Arab, mereka menjadi yakin atas doktrin mitos yang diembuskan. Apa mitos itu? Mitosnya adalah tidak mungkin jika ada Nabi yang lahir di luar garis keturunan Bani Israil. Nabi-nabi itu tidak jauh-jauh dari Palestina. Nabi Ibrahim, Isa, Yahya, Zakariya, Musa, semuanya dari komunitas Masjidil Aqsha. Sehingga karena virus hoaks tersebut, ketika Nabi Muhammad memproklamasikan diri mendapatkan wahyu dari Tuhan, orang Arab menanggapinya dengan kalimat yang dikutip Al-Qur’an sebagai berikut:
 
أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ 

Artinya: “(Kami turunkan Al-Qur'an itu) agar kalian (tidak) mengatakan, "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” (QS Al-An’am: 156)

Atas keraguan orang Arab, mereka mencoba menelisik lebih dalam kepada Nabi Muhammad , “Hai Muhammad, nabi-nabi itu semua dari Palestina. Kalau kamu memang benar-benar Nabi, apakah kamu tahu ke arah mana masjid itu menghadap, berapa jumlah tiangnya?”

Dengan pertanyaan itu, pada  hakikatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sedang diasah intelektualitasnya oleh Tuhan melalui proses isrâ’ yang menjadikan Nabi Muhammad bisa menjawab bahwa jumlah pintu Masjid al-Aqsha itu sekian, wajah dan perilaku Nabi Musa begini, wajah Nabi Ibrahim itu begini sekaligus memberikan pemahaman kepada kita bahwa para nabi selain diuji secara fisik seperti diludahi, shalat dilempari batu, kotoran dan lain sebagainya, mereka juga diuji secara intelektual. Ujian intelektual Nabi Muhammad dimulai dari periode Makkah sampai Madinah. 

Para Rahib Yahudi sering menanyakan hal-hal yang menurut mereka hanya akan mampu dijawab oleh orang yang benar-benar utusan Tuhan. Apabila tidak utusan Tuhan, pasti tidak akan mampu menjawab. Seperti suatu saat Nabi Muhammad ditanya, “Makanan apa yang dikonsumsi pertama kali oleh penduduk surga?”, “Mengapa pula jika ada orang mempunyai anak, anaknya bisa mirip kepada bapak atau ibunya?”, serta aneka macam pertanyaan lain. 

Pertanyaan yang dilandasi keraguan oleh masyakarat Arab pada masa itu sebenarnya hanya bermotif politis. Mereka hanya mempunyai satu tujuan yaitu mendelegitimasi kenabian Baginda Rasul, namun faktanya menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tetap tidak jauh-jauh dari komunitas nabi yang berada di Palestina. 

Israil dalam bahasa Al-Qur’an menunjukkan anak keturunan Ya’qub. Bukan Israil (Israel) sebagai sebuah negara seperti yang kita ketahui sekarang ini. Israil sebagai neraga itu baru beberapa tahun terakhir setelah diberi kemerdekaan oleh Inggris. Di antara salah satu keturunan Nabi Ya’qub ada yang namanya Yahuda. Dari keturunan itu, menjadi cikal bakal Bani Israil. 

Begitu pula Nabi Muhammad. Ia tidak jauh dari Bani Israil. Nabi Muhammad kalau dirunut, merupakan keturunan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim memiliki dua anak. Yang satu, Ismail. Ia ditinggal Ibrahim saat masih bayi di samping Ka’bah. Kisah ini dijelaskan dalam ayat:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ 

Artinya: “Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Dari Nabi Ismail yang menjadi putra Ibrahim, lahirlah generasi-generasi berikutnya di antara seseorang bernama Adnan. Adnan mempunyai keturunan-keturunan hingga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan dalam kitab Al-Barzanji:

وَعَدْنَانُ بِلَا رَيْبٍ عِنْدَ ذَوِي الْعُلُوْمِ النَّسَبِيَّةِ إِلَى الذَّبِيْحِ إِسْمَاعِيْلَ نِسْبَتُهُ وَمُنْتَهَاهُ 

Artinya: “Tanpa diragukan, Adnan mempunyai nasab secara genetik kepada Nabi yang pernah disembelih bernama Ismail.” 

Sekali lagi, Nabi Muhammad menjadi keturunan Ismail sebenarnya diketahui oleh pemuka Yahudi dan Nasrani. Namun mereka ingin menggagalkan kepercayaan (trust) bahwa Muhammad itu Nabi. Hal ini juga mendorong mereka berbuat licik yaitu dengan cara memanggil Nabi Muhammad yang keturunan klan bangsawan, namun dipanggil dengan panggilan “Muhammad bin Abi Kabsyah” yang berarti anak penggembala kambing. 

Orang Arab tahu kalau Nabi Muhammad itu keturuan bangsawan besar Arab dari klan Quraisy. Panggilan sebagai putra Abdullah bin Abdul Muthallib otomatis menaikkan strata sosial beliau di mata masyarakat. Ini dihindari oleh orang-orang kafir Quraisy. Di satu sisi, secara fakta, saat Muhammad kecil memang pernah diasuh oleh penggembala kambing yang kemudian tercatat sejarah bahwa Nabi Muhammad kecil pernah menggembala kambing yang terbawa secara naluri alamiah basyariyahnya dari rutinitas perawatnya saat Nabi masih kecil. Penggembalanya bukan ayahnya sendiri Abdullah. Abdullah meninggal saat Nabi Muhammad masih di kandungan ibunya, Sayyidah Aminah. Permainan kata itu memang jelas diceritakan dalam Al-Qur’an.

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ 

Artinya: “Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah: 32)

Oleh karena propaganda pengolahan kata ini, disebutkan dalam kitab Târîkhus Suyûthî:

وَمِنْ ذَلِكَ اِرْتَدَّ جَمْعٌ مِنَ الصَّحَابَةِ 

Artinya: “Dengan permainan kata-kata orang Yahudi, beberapa orang sahabat menjadi murtad.” 

Saat Rasulullah mendapatkan wahyu Al-Qur’an, kemudian ada nâsikh-mansûkh ("amandemen" ayatmisalnya, propaganda yang dilancarkan adalah “Lihatlah, masak nabi plin-plan (berubah-ubah) begitu. Dulu katanya kiblat shalat ke arah Baitul Maqdis. Kiblat tersebut sudah tepat karena sesuai kiblatnya Nabi Musa. Mengapa sekarang menjadi bergeser ke arah Ka’bah? Hal ini pasti karena Muhammad sedang kangen sama keluarganya yang ada di Makkah sana, sehingga ia hadapkan kiblat ke sana. Kangen yang merupakan urusan personal Muhammad, tapi anehnya ia menghubungkan dengan masalah kiblat.” Begitulah kira-kira cercaan orang kafir Makkah.  

Kalau kita melihat sejarah, protes tersebut muncul setelah 16 bulan Baginda Nabi di Madinah. Saat itu, shalat masih menghadap ke arah Baitul Maqdis di Palestina, kemudian Allah menurunkan wahyu: 

 فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Artinya: “Maka sungguh aku palingkan mukamu ke arah kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (QS Al-Baqarah: 144) 

Sejak saat itu, Al-Qur’an turun sesuai dengan nalar sejarah. Ilmiah dan tidak mitos. Menjadikan Al-Qur’an tidak bisa dibantah sebagaimana pula yang disebutkan di ayat berikut:

 إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ، فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ

Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim;  (QS Ali Imran: 96-97) 

Dengan ayat ini, Nabi Muhammad berani menantang orang-orang Yahudi. Apa salahnya saya punya dua kiblat? Kiblat saya di Baitul Maqdis, karena memang Nabi Musa, Nabi Isa di sana. Sekarang saya menghadap kiblat yang lain, yaitu kiblatnya Ibrahim. Dia lebih senior. Secara sejarah, Makkah lebih tua peradabannya. Adapun Nabi Musa, Isa mempunyai periode setelah Ibrahim. Setelah penjelasan ilmiah ini, sahabat-sahabat menjadi bangga mempunyai kiblat shalat yang dua sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits. 

Kisah di atas menunjukkan, kiblat orang Islam ke arah Makkah bukan berdasar mitos atau kultus, tapi bisa dibuktikan secara ilmiah. Seumpama Nabi Muhammad berkata “Karena nabinya sekarang saya, maka kiblatnya terserah saya”, Itu sah-sah saja. Namun, ternyata tidak demikian. Nabi lebih bisa menyodorkan bukti secara ilmiah sehingga bisa diterima akal sehat.

Jika kita ingin melihat buktinya sendiri, di Masjidil Haram sekarang dapat kita saksikan ada maqam Ibrâhim, yaitu tempat di mana Nabi Ibrahim melakukan ibadah. Ada lagi hijir Ismail. Hijir itu berarti hujrah, artinya kamar. Hijir Ismail berarti kamarnya Ismail, letaknya ada di samping Ka’bah. 

Kembali ke masalah Isra’. Nabi Muhammad dalam menjalani Isra’, selain menjalani proses ritual, juga mengasah intelektualitas. Ia bertemu dan diskusi dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain, sehingga apa yang dilakukan Nabi Muhammad, relnya sama dengan nabi-nabi pendahulunya. Tradisi pertemuan secara langsung ini dikenal dengan tradisi sanad. Atau di pesantren dikenal dengan sanad muttashil. Apabila sanad tidak bersambung, nanti akan terjadi penyimpangan yang merusak. Masing-masing orang berhak memahami agama sesuai dengan kemampuan masing-masing. Oleh karena itu, setiap nabi harus punya platform atau karakter yang sama dengan nabi-nabi yang lain dengan cara bertemu secara langsung.

Dalam pendidikan intelektual Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saat Isra’, selain bertemu para nabi terdahulu, juga dikenalkan karakter-karakter nabi tersebut. Di dalam Al-Qur’an diceritakan kisah-kisah Nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad. Dengan menceritakan itu, akan menjadikan kebijakan dan pola pikir Nabi Muhammad selaras dengan yang dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu (mushaddiqan limâ baina yadaih). 

Contohnya Nabi Muhammad diberi cerita oleh Allah tentang kisah Nabi Ibrahim yang ayahnya penyembah patung. Bagi Nabi Ibrahim, ini merupakan problem. Ayahnya sendiri tidak patuh kepada Allah. Dengan kisah tersebut, Nabi Muhammad menjadi faham, yang menghadapi problem keluarga tidak hanya beliau sendiri, tapi Nabi Ibrahim juga menghadapi problem keluarga yang sama bahkan lebih berat Ibrahim. Nabi Muhammad lebih ringan karena yang tidak taat keluarga Nabi Muhammad hanya berhenti kepada level paman saja, Abu Jahal, Abu Lahab dan lain sebagainya, tidak seperti Ibrahi yang sampai ayahnya kafir, tidak mau beriman kepada Allah. 

Nabi Nuh anaknya tidak patuh, Nabi Luth istrinya menjadi penghianat, Nabi Musa yang temperamental. Semuanya diceritakan Al-Qur’an untuk mengajari Nabi Muhammad. Nabi Musa yang temperamental, apabila ada yang tidak sesuai dengan kehendaknya, Nabi Musa bisa sampai memukul orang lain dan hal ini memang manusiawi (basyariyah). Pembelaan Musa berawal dari dua orang lelaki yang bertengkar. Satunya berasal dari suku yang satu klan dengan Nabi Musa sendiri. Lawannya adalah orang yang dari klan lain. Karena habis melakukan pembunuhan tak sengaja, Nabi Musa melarikan diri, kemudian mendapatkan suaka politik dari Nabi Syu’aib. 

Pelajaran penting dari hal tersebut. Bahwa nabi-nabi banyak yang mengalami problem dengan masyarakat sekitarnya. Kemudian mereka keluar, diterima dengan komunitas yang baru. Nabi Musa dikasih suaka Nabi Syu’aib. Ia keluar dari komunitas Fir’aun. Nabi Muhammad mempunyai garisi yang sama. Beliau awalnya mempunyai masalah dengan komunitas Makkah. Sebelum Nabi Hijrah, saat masih di Makkah, Nabi bahkan sampai diembargo. Tidak boleh ada aliran dana dan distribusi ekonomi, makanan yang sampai ke tangan Nabi sampai-sampai Nabi memakan daun-daunan. 

Di kemudian hari, Nabi Muhammad mendapatkan komunitas baru. Beliau diselamatkan dan diterima oleh sahabat anshar di Madinah. Kisah ini sangat mirip dengan cerita Nabi Musa yang mendapatkan suaka politik dari Nabi Syu’aib setelah melarikan diri dari wilayah cengkeraman komunitas Fir’aun. 

Atas petunjuk-petunjuk cerita dari Allah, karakter-karakter para Nabi itu tidak berubah. Mereka selalu berdiri di atas rel yang sama. Kita juga sama. Sehingga apabila kita kenal dengan karakter-karakter Nabi, kita akan sangat mudah mengenali Nabi palsu.

Kenapa di Al-Qur’an itu sering dikisahkan cerita-cerita nabi terdahulu secara berulang kali? Karena untuk membentuk karakter Nabi Muhammad supaya sesuai dengan para nabi yang sudah lampau, tidak sampai melenceng. Hal tersebut kemudian ditiru oleh guru kita. Guru-guru itu meniru metode dan gaya guru di atasnya. Misalnya, saat mengajar harus istiqamah, walaupun santrinya hanya dua saja, tetap harus diajar, kalau sudah jadi kiai jangan jelalatan matanya saat lihat uang dan lain sebagainya. 

Satu riwayat menjelaskan bahwa Nabi saat di Palestina, pada saat menambatkan tali buraq, tempatnya sama persis dengan tempat yang dibuat para nabi-nabi terdahulu menambatkan keledai atau tunggangan yang lainnya. Tradisi ini berlangsung dan turun temurun antar nabi. Begitu pula saat Mi’raj (naik), tempat naiknya Rasulullah ke langit juga sama yang dibuat naik para nabi yang telah lampau. 

Sekarang pindah membahas tentang masalah aqidah. Isra’ yang merupakan perjalanan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, para ulama sepakat bahwa Isra’ benar-benar terjadi baik secara ruh dan jasad. Bagi orang yang mengingkari hal tersebut dikatakan sebagai orang kafir karena jelas-jelas bertentangan dengan dalin nash (tekstual) Al-Qur’an surat Al-Isra’: 1. 

Para ulama berbeda pendapat tentang Mi’raj, perjalanan Nabi dari Masjidil Aqsha menuju Sidratil Muntaha. Perbedaan mereka antara lain ada yang mengatakan ruhnya saja, ada yang menjelaskan badan dan ruhnya. Oleh karena itu, timbul perbedaan pendapat di antara para ulama. Bagi orang yang ingkar atau tidak percaya pada Mi’raj tidak sampai kafir karena tidak bertentangan dengan nash dalil agama atau konsensus (ijma’) ulama. Kita sebagai kaum Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagaimana disepakati saat muktamar Jombang, kita disuruh memakai pendapat yang tercantum dalam kitab Al-Kawakibu al-Lama’ah karya Kiai Fadlol, Sendang, Senori, Tuban.

Apabila kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Mi’raj Rasulullah hanya secara ruhani dengan hanya berdasar pemikiran “ilmiah” semacam orang yang terbang dengan kecepatan sekian, itu tidak tepat. Agama tidak bisa diukur dengan ilmiah secara menyeluruh. Contoh, ada orang yang sudah meninggal, di tanah di dalam tanah, secara ilmiah tidak mungkin keluar lagi. Sebagai data pendukung bahwa Mi’raj Nabi benar-benar terjadi adalah disebutkannya hadits-hadits shahih yang menyatakan nabi bertemu dengan Nabi A, Nabi B, dan sebagainya. (Ahmad Mundzir) 


Jumat 5 April 2019 10:15 WIB
Saat Sayyidina Ali Zainal Abidin Dicaci-maki
Saat Sayyidina Ali Zainal Abidin Dicaci-maki
Dalam kitab al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, Imam al-Ghazali memasukkan kisah Sayyidina Ali Zainal Abidin yang dicaci-maki oleh seseorang. Berikut kisahnya:

خرج زين العابدين علي بن الحسين رضي الله عنه إلي المسجد فسبّه رجل فقصده غلمانه ليضربوه ويؤذوه, فناهم زين العابدين وقال: كفوا أيديكم عنه! ثم التفت إلي ذلك الرجل وقال: يا هذا أنا اكثر مما تقول وما لا تعرفه مني أكثر مما قد عرفته, فإن كان لك حاجة في ذكره ذكرته لك. فخجل الرجل واستحي فخلع عليه زين العابدين قميصه وأمر له بألف درهم, فمضي الرجل وهو يقول: أشهد أن هذا الشاب ولد رسول الله صلي الله عليه وسلم.

Sayyidina Zainal Abidin Ali bin Husain radliyallahu ‘anhu keluar (rumah) menuju masjid. Tiba-tiba seseorang mencaci-makinya. Para pengawalnya hendak memukul dan menyakiti orang tersebut. Sayyidina Ali Zainal Abidin melarangnya dan berkata: “Tahanlah tangan kalian darinya!”

Kemudian ia berpaling kepada orang yang mencacinya itu dan berkata: “Wahai tuan, aku memiliki keburukan lebih banyak dari yang tuan katakan. Apa yang tuan tidak ketahui (tentang keburukanku) lebih banyak dari yang tuan ketahui. Jika tuan membutuhkannya, aku akan menceritakan (semua)nya pada tuan.” Orang itu pun menjadi malu.

Lalu Sayyidina Ali Zainal Abidin merogoh kantong bajunya dan memberinya uang seribu dirham. Orang itu pun berlalu sambil berkata: “Aku bersaksi bahwa pemuda ini (Sayyidina Ali Zainal Abidin) adalah keturunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.” (Imam Abû Hâmid al-Ghazali, al-Tibr al-Masbûk fî Nashîhah al-Mulûk, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 1988, hlm. 25)

****

Mencela adalah perbuatan yang dilarang agama, apalagi jika celaan itu tidak sesuai dengan kenyataan, maka tingkatannya bisa naik menjadi fitnah. Rasulullah bersabda (H.R. Imam al-Bukhari):

لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ كَذَلِكَ

“Tidaklah seseorang yang melemparkan tuduhan kefasikan pada orang lain, dan tidaklah pula seseorang yang melemparkan (tuduhan) kekufuran melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepadanya, jika saudaranya tidak seperti itu.”

Di zaman bertabur fitnah ini, pencegahan dan respon sama pentingnya. Pencegahan dalam arti mengamalkan sunnah Rasul yang melarang mencela dan mencaci, dan di waktu yang sama menampilkan respon yang penuh adab seperti yang ditunjukkan Sayyidina Ali Zainal Abidin.

Untuk bisa merespon fitnah dan celaan dengan bijak, seseorang harus menumbuhkan sikap tawadhu' dalam hatinya. Kenapa ini penting, silahkan perhatikan ucapan Imam Abû ‘Utsmân al-Hirri:

أصل التواضع ثلاثة: أن يذكر العبد جهله ويعترف في الحال بتقصيره ولا ينظر إلي تقصير غيره

“Akar tawadhu' ada tiga: (1) mengingatkan seorang hamba akan kebodohannya, (2) mengakui kekurangannya di (setiap) keadaan, dan (3) jangan memperhatikan (menilai) kekurangan orang lain.” (Imam Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i [836 H], Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 480)

Ucapan Imam al-Hirri perlu kita renungi dalam-dalam, bahwa manusia adalah makhluk terbatas, bukan makhluk yang “segala tahu” atau “maha tahu”. Sepintar-pintarnya manusia, jika menggunakan ukuran ruang, lebih banyak ruang kebodohannya. Sebaik-baiknya manusia, lebih banyak kebaikan yang belum diamalkannya, dan sejahat-jahatnya manusia, ia masih memiliki ruang waktu yang cukup luas untuk memperbaikinya.

Karena itu, kita harus menahan diri. Jangan menuduh sembarangan, apalagi jika tuduhan itu berkaitan dengan karakter-karakter negatif yang ada dalam agama, seperti munafik, fasik, zindik, kafir dan lain sebagainya. Selain tuduhan semacam itu diharamkan agama, juga dapat menimbulkan ketidak-nyamanan sosial. Lagipula, siapa yang bisa menjamin jika orang yang kita fasikkan, kita munafikkan dan kita kafirkan tidak akan berubah sampai akhir hayatnya. Siapa kita yang berani memastikkan kezindikan, kemunafikan atau kekafiran seseorang. Serahkan itu kepada Allah saja.

Kembali ke kisah di atas, Imam Ali Zainal Abidin seakan-akan menganggap cacian sebagai kasih sayang Tuhan yang mengingatkan dosa-dosanya. Bagi orang yang selalu ingat akan dosa-dosanya, ia tak akan mudah terhina oleh cacian dan makian. Cacian adalah cambuk pengingat bahwa, “aku lebih buruk dari itu,” dan “dosaku lebih banyak dari itu.” Maka, seberapa kasar dan bejatnya sebuah cacian, tak akan berarti apa-apa karena ia merasa jauh lebih buruk dari itu. Bahkan, Imam Ali Zainal Abidin menawari pencacinya semua informasi tentang keburukannya.

Sebagai gantinya, Imam Ali Zainal Abidin berterima kasih pada pencacinya karena telah diingatkan kembali. Seumpama ia hendak berujar, “Cacian yang mengingatkanku atas segala keburukan lebih kunikmati daripada pujian yang melalaikanku.” Karenanya ia tanpa ragu memberi pencacinya uang cukup banyak, karena caciannya membangkitkan penyesalannya kembali atas dosa-dosanya.

Sisi lain kisah di atas adalah teladan akhlak yang baik. Meski dicaci sedemikian rupa, Imam Ali Zainal Abidin membalasnya dengan kebaikan. Ia melarang pengikutnya menyakiti orang tersebut dan menghampirinya dengan penuh keramah-tamahan. Sikapnya ini membuat sang pencaci malu. Belum hilang rasa malunya, Imam Ali Zainal Abidin memberinya uang seribu dirham. Akhlak mulia inilah yang membuatnya bersaksi bahwa ia benar-benar keturunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam

Jadi, sudilah kiranya kita berhenti mencaci dan menampilkan adab yang baik ketika dicaci-maki. Pertanyaannya, sudahkah?

Semoga bermanfaat....


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.