IMG-LOGO
Hikmah

Kisah Imam Abu Thayyib dan Tukang Sepatu

Sabtu 13 April 2019 15:0 WIB
Share:
Kisah Imam Abu Thayyib dan Tukang Sepatu
Ilustrasi (via Pinterest)
Dalam kitab Siyâr A’lâm al-Nubalâ’, Imam al-Dzahabi memasukkan hikayat menarik Imam Abu Thayyib dan tukang sepatu. Berikut riwayatnya:

قيل: إنّ أَبَا الطَّيِّبِ دفَع خُفّاً له إلى من يُصْلحه، فَمطَله، وَبَقِي كلما جاء نقعه في الْماءِ، وقال: الآنَ أُصلحه, فلمَّا طَال ذلك عليه، قال: إنّما دفعتُه إليْك لتُصلِحَه، لا لتُعلِّمه السِّباحَة

Dikisahkan, (suatau hari) Imam Abu Thayyib menyerahkan sepatunya pada tukang sepatu untuk diperbaiki. Tukang sepatu itu tidak langsung (memperbaiki)nya. (Akhirnya) ia tinggal (sepatunya di situ). Setiap kali ia datang, sepatunya masih terendam di dalam air, dan tukang sepatu itu berkata: “Sekarang akan kuperbaiki.”

Ketika ia telah lama menunggu (dan sepatunya masih berada di tempat air), Imam Abu Thayyib berkata: “Aku menyerahkan sepatuku padamu untuk diperbaiki, bukan untuk diajari berenang.” (Imam al-Dzahabi, Siyâr A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 1985, juz 17, hlm 669)

****

Ternyata tidak hanya sekarang, dari dulu sudah ada pelayanan tidak profesional seperti ini. Padahal pelanggannya bukan orang sembarangan, seorang hakim (qadli), ahli fiqih besar mazhab Syafi’i, tapi tetap saja. Untungnya, Imam Abu Thayyib al-Thabari (348-450 H), meresponsnya dengan asyik, “Aku menyerahkan sepatuku padamu untuk diperbaiki, bukan untuk diajari berenang.” Lalu, di mana letak hikmahnya?

Begini, bicara hikmah itu enak sebenarnya. Di mana saja, di benda apa saja, dan dalam kejadian apa saja, hikmah bisa diambil. Masalahnya seberapa ingin kita bertafakkur dan mengenali hikmah itu tadi. Tapi tunggu dulu, keinginan saja belum cukup lho, ada seni untuk mengenalinya juga. Di sini kita akan mengupasnya satu persatu.

Kisah di atas itu termasuk kisah yang multi-tafsir. Perkataan Imam Abu Thayyib bisa dipersepsikan dalam banyak hal. Bisa berarti kemarahan; bisa berarti kelembutan; bisa berarti kritik santun; bisa berarti humor, dan lain sebagainya. Kenapa begitu? Karena intonasi bicaranya tidak bisa kita dengar, di samping tidak ada tanda baca yang jelas di dalamnya. Ini persoalannya.

Contoh umumnya begini. Ketika seorang suami sedang bertamu di rumah temannya, ponselnya berbunyi, ada Whatsapp masuk dari istrinya: “Mas, pulang”. Tanpa tanda baca dan intonasi, persepsi makna dari “Mas, pulang” menjadi beragam. Jika sang suami membacanya dengan intonasi tinggi, ia akan mengira istrinya marah. Jika membacanya dengan santai, maknanya akan berubah menjadi sekadar permintaan. Jika membacanya dengan nada kemesraan, ia akan mengartikannya sebagai kerinduan. Dan, tiga makna itu mempunyai konsekuensi yang berbeda-beda satu sama lainnya. “Marah” membuatnya bergegas pulang karena takut. “Permintaan” membuatnya tidak tergesa-gesa. “Kerinduan” membuatnya buru-buru pulang karena cinta.

Hal yang sama juga terjadi dalam kisah di atas, kita tidak benar-benar tahu intonasi bicara Imam Abu Thayyib al-Thabari. Kita tidak tahu jika ia sedang marah, bercanda, kritik mendidik, atau bagaimana. Semua ekspresi yang disebutkan tadi bisa masuk dalam kisah di atas. Untuk memahaminya, kita butuh cara pembacaan teks yang indah. 

Cara pembacaan teks yang dimaksud di sini bukan cara pembacaan yang metodologis dan sistematik. Itu ada ilmunya sendiri. Kita hanya akan membicarakan aspek spiritualnya saja, atau lebih tepatnya ‘bagaimana seharusnya seseorang mengolah jiwanya ketika membaca sebuah teks’. Ingat ya, ini bukan metodologi, sekadar refleksi saja. Maka, penyebutannya saja “cara pembacaan teks yang indah”, bukan cara pembacaan teks yang ilmiah. Mari kita simak uraiannya.

Syekh Syamsuddin al-Tabrizi (592-645 H), guru Maulana Rumi, mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah “book of love—kitab cinta” atau “a love letter—surat cinta” dari Tuhan. Ketika seseorang memandang Al-Qur’an sebagai surat cinta dari Tuhan, hatinya terhidupi asmara; pipinya berulangkali merona; jantungnya berpacu kencang; bibirnya tersenyum-senyum sendiri, dan darahnya menggelora bahagia di saat ia membacanya. Kekasih mana yang tak bahagia ketika menerima surat cinta dari kekasihnya. Ia perlakukan ayat-ayat-Nya dengan penuh cinta. Ketika membaca ayat-ayat ancaman, ia memeluknya sebagai kecemburuan. Ketika bertemu ayat-ayat perintah, ia bergegas dengan senyum kerelaan. Berbeda dengan orang yang hatinya diliputi kebencian.

Dan, menjalin cinta dengan Tuhan itu enak lho, aman dari “bertepuk sebelah tangan”. Di samping Tuhan teramat sangat memahami diri kita, mengabulkan doa yang belum pernah kita minta, menunda pengabulan doa untuk waktu yang tepat, dan mendewasakan kita dengan cobaan. Itu karena Tuhan sangat memahami kita, meski seringkali kita berprasangka kepada-Nya. Bagaimana tidak, tanpa minta pun kita diberikan udara untuk bernafas; tanpa minta pun kita diberikan bumi untuk berpijak, dan matahari untuk menghangatkan. Lalu kenapa kita lalai berdoa tentang mereka, apakah doa hanya diperlukan untuk yang tiada, dan yang tidak kita miliki saja? Entahlah, meski semuanya tergantung pada cara pembacaan kita tentang semuanya.

Yang hendak disampaikan di sini adalah, dengan pembacaan yang indah, hikmah dalam peristiwa terburuk pun, seperti kisah Fir’aun, dapat dipahami, apalagi kisah tukang sepatu dan Imam Abu Thayyib, sebuah kisah yang sisi buruknya masih tidak jelas (samar-samar). Menggunakan cara tersebut, perkataan Imam Abu Thayyib dapat diartikan sebagai kritik santun yang mendidik dan lucu. Seakan-akan di benak kita tergambar, ia mengucapkannya dengan penuh tawa dan wajah ceria, bergaya asyik dan cool, tanpa beban kemarahan sama sekali. Tapi, jika membacanya dengan hati yang marah, kesan yang akan ditangkap adalah, Imam Abu Thayyib sedang meluapkan kemarahannya, wajahnya merah, suaranya tinggi, matanya melotot, ia berdiri mendekati tukang sepatu itu dengan menunjuk-nunjuk wajahnya. 

Dengan kata lain, keadaan hati bisa berpengaruh pada cara pandang kita terhadap sesuatu. Karena itu, kita harus belajar mengolahnya, bila perlu semayamkan cinta dan kasih sayang di hati kita, pandang segala sesuatu dengan indah. Jika kita sungguh-sungguh mencari keindahan, ia akan kita temui, bahkan dari kotoran kerbau sekalipun. Paling tidak, kesadaran kita tentang keindahan membuat kita membersihkannya, agar tidak ada orang lain yang menginjak atau terganggu oleh baunya. Lalu kita bayangkan berapa banyak orang yang selamat darinya, itu akan menebarkan kebahagiaan di hati kita. 

Jadi, kita perlu belajar menanamkan perasaan itu di hati kita, seperti di kasus kotoran kerbau. Bila perlu, ketika menginjaknya, kita bersyukur bahwa kita yang menginjaknya, bukan orang lain. Artinya Tuhan memberi kita kesempatan beramal sekaligus kesempatan melatih diri. Pola pandang dan pola pikir seperti ini rasanya perlu dikembangkan, agar dunia terlihat lebih seksi dan penuh harapan. Mungkinkah dilakukan? Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen, dan Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan.



Share:
Jumat 12 April 2019 10:0 WIB
Kisah Syekh al-A’masy dan Imam Shalat yang Panjang Bacaannya
Kisah Syekh al-A’masy dan Imam Shalat yang Panjang Bacaannya
Ilustrasi (Reuters)
Dalam kitab Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy (w. 597 H) mencatat riwayat seorang imam shalat yang membaca surat panjang ketika menjadi imam:

وعن مندل بن علي قال: خرج الأعمش ذات يوم من منزله بسحر، فمر بمسجد بني أسد وقد أقام المؤذن الصلاة، فدخل يصلي، فافتتح الإمام الركعة الأولى بالبقرة ثم في الركعة الثانية آل عمران، فلما انصرف قال له الأعمش: أما تتقي الله، أما سمعت حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من أمّ الناس فليخفف فإن خلفه الكبير والضعيف وذا الحاجة) فقال الإمام قال الله عز وجل: (وَإِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ إِلَّا على الْخَاشِعِين) فقال الأعمش: أنا رسول الخاشعين إليك بأنك ثقيل.

Dari Mundil bin Ali berkata: “Suatu hari al-A’masy keluar dari rumahnya di saat subuh. Ia melintasi Masjid Bani Asad dan (ketika itu) muazin sedang mengumandangkan azan shalat. Ia masuk (ke masjid) untuk ikut shalat. Di rakaat pertama, imam shalat membukanya dengan (membaca) Al-Baqarah, dan di rakaat kedua (membaca) Ali ‘Imran.”

Selesai shalat, al-A’masy berkata pada imam itu: “Tidakkah kau takut kepada Allah? Tidakkah kau mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: ‘Barangsiapa yang menjadi imam (shalat), hendaknya ia memperingan, sebab di belakangnya ada orang yang sudah tua, orang yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan'.”

Imam shalat itu menjawab: “Allah ‘azza wa jalla berfirman (QS Al-Baqarah: 45): ‘Sungguh yang demikian ini sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” al-A’masy berkata: “(Justru itu) aku adalah utusan orang-orang khusyu’ (untuk memberitahu)mu bahwa (cara shalat)mu sungguh memberatkan.” (Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy, Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Beirut: Dar al-Fikr al-Lubnani, 1990, hlm 119)

****

Sebelum membahas ke sana-kemari, kita perlu tahu bahwa “mudah” tidak sama dengan “menyepelekan”. Mudah berarti mencari penyesuaian terbaik dengan keadaan diri, sedangkan menyepelekan cenderung menganggap remeh. Cerita di atas adalah kisah tentang pentingnya memahami keadaan orang lain dalam menerapkan agama, khususnya bagi para pemukanya. Karena itu, Imam Sulaiman bin Mihran al-A’masy (61-147 H), menegur imam shalat subuh yang membaca Surat Al-Baqarah dan Ali Imran di masing-masing rakaatnya. Ia mengutip sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengatakan, “Barangsiapa yang menjadi imam (shalat), hendaknya ia memperingan, sebab di belakangnya ada orang yang sudah tua, orang yang lemah dan orang yang mempunyai keperluan.”

Bahkan ada hadits yang lebih keras dari itu, sampai Sayyidina Abu Mas’ud al-Anshari mendeskripsikan kemarahan Rasulullah dengan ungkapan (HR, Imam Muslim): “fa mâ ra’aytun nabiyya ghadliba fî maw’idhatin qaththu asyadda mimmâ ghadliba yauma’idzin—tidak pernah kulihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam marah dalam memberi nasihat yang lebih hebat dari marahnya beliau hari itu.” Tidak hanya itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut imam semacam itu sebagai orang yang membuat manusia lari dari agama (munaffirîn). 

Mendengar hadits itu, sang imam menjawab dengan ayat Al-Qur’an yang intinya hal itu mudah bagi orang-orang yang khusyu’. Tapi direspon dengan cerdas oleh Imam al-A’masy bahwa ia adalah utusan orang-orang khusyu’. Dengan kata lain, argumen orang khusyu yang digunakan imam shalat itu, dipatahkan dengan argumen bahwa orang-orang khusyu’ juga keberatan, dan ia adalah utusan mereka. Argumen Imam al-A’masy ini menarik karena menggunakan pendekatan komparatif. Ketika “khusyu” dijadikan dalil pembenaran, ia meruntuhkannya dengan logika “khusyu” dari arah lainnya. Pertanyaannya kenapa Imam al-A’masy menggunakan argumen tersebut?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus memahami bahwa khusyu’ bukan sebatas memanjangkan shalat, apalagi di saat ramai (berjamaah). Jika khusyu’ dinilai dari panjang-pendeknya shalat, maka orang-orang riya bisa masuk kategori ini. Tidak ada orang yang bisa mengalahkan orang-orang riya dalam hal menyiarkan langsung ibadahnya saat ramai. Meski demikian, di sini kita tidak akan membicarakan khusyu’ secara detail. Untuk mengetahuinya silahkan lihat kitab al-Khusyu’ fi al-Shalat karya Imam Ibnu Rajab al-Hanbali. Pembahasan kita akan difokuskan pada bagaimana pendekatan orang khusyu’ dalam memahami kisah di atas.

Pernyataan terakhir Imam al-A’masy seakan-akan menempatkan khusyu’ personal dan khusyu’ sosial dalam satu wadah yang saling melengkapi satu sama lainnya, karena orang-orang khusyu’ sudah mengerti betul keadaan dirinya. Untuk lebih mempermudah, kita akan menggunakan istilah “orang-orang yang terus berusaha khusyu”, karena kekhusyu’an bukan keadaan yang tetap dan statis. Kekhusyu’an harus didapatkan setiap saat, tidak kemudian didiamkan setelah pernah merasa berhasil memperolehnya.

Bagi orang-orang yang memahami ini, mereka akan mengerti keadaan jiwa orang lain, bahwa khusyu’ bukan sesuatu yang “bim salabim” ada, tapi sesuatu yang diperoleh dengan perjuangan keras. Sebab, adakalanya orang yang memanjangkan shalatnya tidak berniat pamer, hanya ingin memperbanyak amalnya. Jika demikian, ia adalah pencari pahala yang egois, karena tidak memikirkan makmum di belakangnya. Pencari pahala semacam ini bisa dikatakan belum mengerti apa itu “khusyu”, bahkan mungkin belum terpikir sama sekali untuk masuk ke dalam kekhusyu’an. 

Dengan kata lain, ekspresi khusyu’ secara personal dan sosial berbeda. Karena ukuran manusia tidak sama. Ada yang menganggap zikir lima puluh ribu sehabis shalat itu ringan; ada juga yang menganggapnya sangat berat. Di sinilah kenapa imam shalat atau pemuka agama harus mengerti perbedaan para jamaahnya. Jangan anggap semua orang sama seperti mereka. Jika mereka kuat berzikir seratus ribu kali selama setengah jam, bukan berarti semua orang bisa melakukannya juga. Maka, contoh terbaik adalah ulama-ulama di masa lalu yang berfatwa menggunakan pendapat yang paling ringan untuk umatnya, tapi yang paling berat untuk dirinya sendiri. 

Kandungan lain dari kisah di atas adalah pentingnya memahami manusia. Tidak semua manusia memiliki keadaan yang sama. Setiap orang membawa sejarahnya sendiri-sendiri, dan bisa dipastikan alur ceritanya berbeda-beda. Karena itu, Rasulullah menegur keras imam shalat yang tidak mengerti jama’ahnya. Di antara jama’ahnya ada orang yang sudah tua, anak kecil, orang yang berkeperluan, dan lain sebagainya. Mereka memiliki problemnya masing-masing. Maka saran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jangan berlebih-lebihan dalam beragama. Beliau bersabda (HR. Imam al-Bukhari):

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ

Sesungguhnya agama itu mudah. Tidaklah orang yang mempersulit (berlebih-lebihan dalam) beragama, melainkan ia akan dikalahkan. Maka, laksanakan (dengan semestinya), dekatilah (semestinya), dan berbahagialah (dengan pahalaNya). Dan mohon pertolongan di waktu pagi, petang dan sebagian malam.

Maksudnya adalah “agama itu mudah” bukan berarti menganggap mudah pengamalan agama, tapi mencari titik kenyamanan dalam mengamalkannya sesuai dengan ukuran diri kita. Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa ukuran diri manusia berbeda-beda. Jika kita berusaha mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agama, bisa dipastikan kita kalah dengan sendirinya. Sebab, berlebih-lebihan yang disengaja akan memberi tekanan kuat terhadap kesehatan jiwa, di samping “berlebih-lebihan” itu identik dengan pemaksaan dalam taraf yang keterlaluan. 

Karena itu, kita harus terus berusaha dan berjuang untuk memperbesar kapasitas ukuran diri kita. Salah satu caranya dengan istiqamah belajar dan beramal. Manusia dianugerahi Allah daya tampung diri unlimited (tidak terbatas), yang ada hanya pasang surut, terkadang sangat khusyu’, di waktu lain tidak sama sekali. Yang sedang kita bicarakan di sini adalah daya tampung spiritual, yang sifatnya naik-turun, dan akan terus naik-turun sampai kapanpun juga, karena sudah menjadi watak dasarnya. Pertanyaannya, seberapa jeli kita mengenali gelombang naik-turun itu, dan seberapa lihai kita berselancar di permukaannya? 

Sebab, bagi orang-orang yang jiwanya sudah dilatih untuk terus berjuang, mereka cukup berhasil mengendalikan “berlebih-lebihan”, karena mereka tahu kapan saatnya meringkas, kapan saatnya memperbanyak, dan kapan saatnya menyederhanakannya.

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Kamis 11 April 2019 11:30 WIB
Kisah Orang yang Sok Yakin dengan Keadaan
Kisah Orang yang Sok Yakin dengan Keadaan
Ilustrasi (via nunn.asia)
Dalam kitab Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy (w. 597 H) memasukkan cerita menarik tentang orang yang sok yakin dengan keadaan. Berikut ceritanya:

وخرج رجل إلي السوق يشتري حمارا فلقيه صديق له فسأله، فقال: إلي السوق لأشتري حمارا، فقال: قل إن شاء الله، فقال: ليس ها هنا موضع إن شاء الله، الدراهم في كمي والحمار في السوق. فبينما هو يطلب الحمار سرقت منه الدراهم فرجع خائبا، فلقيه صديقه، فقال له: ما صنعت؟ فقال: سرقت الدراهم إن شاء الله، فقال له صديقه: ليس ها هنا موضع إن شاء الله

Seorang laki-laki keluar menuju pasar untuk membeli keledai. (Dalam perjalanan) ia bertemu dengan temannya, dan ditanya (hendak kemana?). Ia menjawab: “Hendak ke pasar untuk membeli keledai.” Temannya berkata: “Katakan insyaallah.”

Laki-laki itu menjawab: “Tidak perlu lagi (mengatakan) insyaallah dalam keadaan seperti ini. Uang sudah di saku dan keledai ada di pasar.” (Sesampainya di pasar) ketika sedang mencari keledai, uangnya dicuri. Ia pun pulang dengan wajah murung.

(Dalam perjalanan pulang), ia bertemu lagi dengan temannya, ia bertanya kepadanya: “Apa yang membuatmu (murung)?” Laki-laki itu menjawab: “Insyaallah uangku dicuri.” Temannya berkata: “Tidak perlu lagi (mengatakan) insyaallah dalam keadaan seperti ini.” (Imam Abû al-Farj Ibnu Jauziy, Akbâr al-Hamqâ wa al-Mughaffalîn, Beirut: Dar al-Fikr al-Lubnani, 1990, h. 161)

****

Kisah di atas ini unik, seorang laki-laki enggan mengucapkan “insyaallah” karena menurut pertimbangannya, apa yang diharapkannya pasti terjadi. Syarat-syaratnya sudah mencukupi; uang dan keledai, tapi kenyataan berbicara lain. Kelengkapan persyaratan yang dimilikinya tidak menjamin ia bisa mendapatkan apa yang ia mau. Ada sisi lain yang luput dari pertimbangannya; pencurian yang membuatnya gagal mendapatkan keledai. Uniknya lagi, laki-laki itu malah mengucapkan “insyaallah” setelah uangnya tercuri, dengan wajah murung. Ia menyandingkan ucapan “insyaallah” dengan musibah yang dialaminya. Menarik bukan? Mari kita telusuri pembahasannya.

Ucapan “insyaallah”, makna standarnya berarti “apabila Allah menghendaki.” Mengucapkannya termasuk ibadah. Allah SWT berfirman (QS. Al-Kahfi: 23-24):

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا. إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَنْ يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا

“Jangan sekali-kali kau berkata tentang sesuatu: ‘sungguh aku akan melakukannya besok.’ Kecuali (mengucapkan: insyaallah) apabila Allah menghendaki, dan ingatlah Tuhanmu di saat kau lupa serta ucapkan: ‘Semoga Tuhanku menunjukiku pada jalan terdekat menuju hidayah.”

Dalam Tafsîr al-Thabarî, lafal “illâ an yasyâ’alllah...” dipandang sebagai ta’dîb minallah (pendidikan dan hukum dari Allah) yang disampaikan pada nabi-Nya agar memegang teguh bahwa segala kejadian hanya mungkin terjadi karena “masyi’atilllah—kehendak Allah.” (Imam al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî, juz 17, hlm 644). 

Kesalahannya adalah banyak orang yang memahami makna “kehendak Allah” atau “izin Allah” tidak dengan sikap positif. Ketika segala sesuatu tidak berjalan baik, kita cenderung menyalahkan Tuhan, meski dengan suara kecil yang malu-malu. Padahal, jika dipahami secara mendalam, “kehendak Allah” tidak mungkin buruk, yang dikehendaki-Nya selalu kebaikan bagi hamba-Nya. Ini murni soal persangkaan kita kepadaNya. Jika persangkaan kita baik, kita akan dipenuhi energi positif untuk terus maju; jika persangkaan kita buruk, kita akan diam menggerutu tanpa gerak maju.

Kembali ke soal “insyaallah.” Dari wilayah pelakunya, pengucapan “insyaallah” dapat dipahami dalam beberapa tingkatan. Pertama, orang yang tidak menganggap penting pengucapannya seperti contoh di atas. Kedua, orang yang mengucapkan “insyaallah” karena kebiasaan, bukan karena benar-benar terselami oleh maknanya. Ketiga, orang yang mengucapkan “insyaallah” dan menghayati betul makna terdalamnya.

Untuk yang pertama, kita tidak perlu membahasnya karena sudah ada contohnya di atas. Yang kedua, kita tidak bisa pungkiri bahwa pengucapan “insyaallah” sudah menjadi kebiasaan umum. Di satu sisi bagus, di sisi lain membuat maknanya tereduksi. Sebab, ada dua wajah yang saling berlawanan ketika pengucapan “insyaallah” dilakukan tanpa kesadaran makna. Wajah positifnya adalah, menunjukkan bahwa kita orang yang beriman, meski secara tanpa sadar ketika mengucapkannya. Wajah negatifnya adalah, ketika “insyaallah” digunakan untuk berjanji, tapi tidak ditepati. Misalnya, “besok aku tunggu di lapangan ya, ada hal penting yang ingin kubicarakan.” Kemudian dijawab, “insyaallah, jam tiga ya.” Nyatanya tidak datang. Artinya ucapan “insyaallah” hanya menjadi istilah bahasa yang lumrah sekaligus meninggalkan kesan bahwa Tuhanlah yang menghendakinya tidak tepat janji. Dengan kata lain, kesakralannya turun hingga pengucapnya melupakan nilai agama yang terkandung di dalamnya.

Ketiga, bagi orang-orang dalam kategori ini mengucapkan “insyaallah” dapat memberi mereka tiga kekuatan sekaligus; pertama, kekuatan bergerak maju, kedua, kekuatan berendah hati, dan ketiga, kekuatan bertanggung jawab. 

Penjelasannya begini. Maksud dari kekuatan bergerak maju adalah “persangkaan baik kepada Allah”. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kehendak Allah untuk hambaNya pasti baik, tidak mungkin Allah menghendaki keburukan untuk hamba-hambaNya. Dengan mengucapkan “insyaallah”, kita telah menanamkan prasangka baik kepada Allah, sehingga menghasilkan kekuatan bergerak maju yang penuh optimisme dan positif.

Berikutnya kekuatan berendah hati. Maksudnya, dengan mengucapkan “insyaallah” kita sedang berupaya meminimalisasi keangkuhan kita, bahwa semua yang kita raih murni hasil usaha kita sendiri. Bagi orang yang berusaha mengamalkannya, insyaallah akan terhindar dari perasaan sombong. Bahkan dalam hal beribadah sekalipun, contohnya kerelaan Nabi Ismail di saat hendak disembelih ayahnya. Dalam Al-Qur’an disebutkan (QS. Ash-Shaffat: 102):

يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, niscaya kau akan dapati aku, insyaallah, termasuk dalam orang-orang yang sabar.”

Nabi Ismail mengucapkan “insyaallah” karena ia tahu bahwa kesabarannya adalah anugerah dari Allah, bukan murni dari dirinya sendir. Sebab, jika ada orang yang menyatakan dirinya seorang penyabar tapi menafikan peran Tuhan di dalamnya, baik disadari atau tidak, ia telah mendekati kesombongan.

Yang terakhir adalah kekuatan bertanggung jawab. Maksudnya adalah kuat memegang amanah karena ketakwaan kepada Allah. Sebab begini, ucapan “insyaallah” bagi orang-orang yang berusaha mendalami maknanya adalah amanah. Bagaimana tidak, kita berjanji menggunakan nama Tuhan (berucap insyaallah), tapi tidak kita tepati, bukankah itu keterlaluan. Nama Tuhan yang Maha Tinggi kita gunakan untuk berbohong, terlepas dari sadar atau tidak, seperti yang diuraikan sebelumnya.

Oleh karena itu, kita harus mulai mendekati “insyaallah” dengan sudut pandang baru. Kebiasaan mengucapkannya harus dilestarikan, tapi didampingi dengan peningkatan kesadaran akan nilainya, terutama tiga kekuatan tadi. Sulit sih, tapi tidak mustahil. Ya, namanya juga refleksi. Tujuannya untuk memeriksa diri dengan pertanyaan, “kita seperti itu apa tidak sih?”

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen dan Pondok Pesantren Al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan. 


Rabu 10 April 2019 14:0 WIB
Kisah Budak Kikir Dibebaskan karena Kekikirannya
Kisah Budak Kikir Dibebaskan karena Kekikirannya
Ilustrasi (via ffgnesqs.com)
Dalam kitab al-Bukhalâ (orang-orang kikir/bakhil), Imam al-Khathib al-Baghdadi mencantumkan riwayat tentang seorang budak dan tuannya yang kikir. Berikut riwayatnya:

أخبرني الأزهري وعبيد بن علي الرقي قالا: حدّثنا عبيد الله بن محمد المقريء، حدثنا محمد بن يحي الصولي، حدثنا يموت، هو ابن المزرّع، قال: قال الجاحظ: قال رجلٌ من البخلاء لغلامه: هات الطعام وأغلق الباب. فقال: هذا خطأ، بل أغلق الباب وأتِ بالطّعام. قال: أنت حرّ لعلمك بالحزم.

Dikabarkan oleh al-Azhari dan Ubaid bin Ali al-Raqqi, mereka berdua berkata: “Diceritakan oleh Ubaidillah bin Muhammad al-Muqri, dari Muhammad bin Yahya al-Shuli, dari Yamut, yaitu Ibnu al-Muzarra’, ia berkata: al-Jahiz berkata: 

“Seorang laki-laki kikir (bakhil) berkata pada budaknya: ‘Hidangkan makanan dan tutup pintu.’ Budak itu menjawab: ‘Ini salah, (tuan), yang benar adalah tutup pintu dulu baru hidangkan makanan.” Tuannya berkata: “Kau (ku)bebaskan karena pengetahuanmu yang mantap.” (Imam Abu Bakr Ahmad al-Khatib al-Baghdadi, Kitâb al-Bukhalâ’, Beirut: Dar Ibnu Hazm, 2000, hlm 102)

****

Kali ini agak berbeda. Hikmah yang disajikan tidak seperti sebelumnya. Biasanya hikmah diambil dari kisah kesalehan atau ketakwaan seseorang, tapi kali ini berbeda. Sebelum masuk terlalu dalam, kita perlu memahami terlebih dahulu bahwa hikmah tidak melulu dapat diambil dari kisah yang membuat kita “wow” dan berujar “ooh, iya, iya, iya.” 

Karena hikmah bisa diambil dari mana saja, termasuk dari cerita si kikir yang lumayan lucu. Itulah kenapa ada kisah tentang Fir’aun, Abu Lahab, Qarun, dan lain sebagainya dalam Al-Qur’an dan hadits. Usaha Imam al-Khatib al-Baghdadi (463 H) mengumpulkan berbagai riwayat orang-orang bakhil (pelit) tentu memiliki tujuan tertentu, bahwa membaca kisah-kisah mereka tidak kurang hikmahnya dari membaca kisah-kisah lainnya.

Dalam kisah di atas, kekikiran (kebakhilan) tidak ditampilkan sekadarnya saja. Kekikiran ditampilkan begitu baik dengan seperangkat metodologinya. Ketika tuan yang kikir menyuruh budaknya untuk menghidangkan makanan lalu menutup pintu, itu sudah menggambarkan kekikiran yang metodologis. Dengan menutup pintu, ia menyingkirkan peluang dimintai orang yang melintasi rumahnya. Ia berusaha mempertahankan kekikirannya tanpa merusak citranya.

Akan tetapi, metodologi yang sudah sedemikian bagus disalahkan oleh budaknya. “Ini salah, (tuan), yang benar adalah tutup pintu dulu baru hidangkan makanan,” katanya. Pendekatan kikir (bakhil) yang diajukan budaknya jauh lebih logis. Sebab, jika menghidangkan makanan lebih dulu lalu menutup pintu, itu masih memberi peluang bagi orang yang melintasi rumahnya, meski kemungkinannya sangat kecil. Tapi, jika menutup pintu terlebih dahulu lalu menghidangkan makanan, peluang itu sama sekali tertutup. Inilah yang membuatnya dibebaskan tuannya.

Pembebasan tersebut dapat dipahami menggunakan dua arah; pertama, sangat kikirnya tuan dari budak tersebut, sehingga pengetahuan tentang cara kikir yang baik membuatnya bahagia. Kedua, ketakutan tuannya, sebab budak yang cerdas dalam berbagai pendekatan kikir membuatnya takut akan sering dibohongi, sebelum itu terjadi ia memutuskan untuk membebaskan budaknya. Lalu, apa hikmah yang bisa diambil dari kisah di atas? Sebelum masuk lebih jauh, mari kita simak firman Allah SWT berikut ini (QS Ali Imran: 180):

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Jangan sekali-kali orang-orang yang bakhil (kikir) dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka, harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.”

Dalam ayat di atas, Allah memperingatkan orang-orang bakhil (kikir) dengan keras bahwa harta mereka akan dikalungkan di leher mereka kelak di hari kiamat. Artinya sifat kikir itu sangat berbahaya bagi kesejahteraan individu maupun sosial. Secara individu, kikir membatasi jiwa manusia dari pancaran kasih sayang, sedangkan akar kebaikan di dunia ini adalah kasih sayang. Secara sosial, kikir menjadi penyebab utama minimnya pendapatan zakat dan pemasukan pajak negara, sehingga berperan besar dalam terhentinya distribusi kesejahteraan yang merata. Ini baru dari satu pandangan yang telah disederhanakan, belum pandangan menyeluruh, karena fokus kita di sini hanya pada wilayah, “bagaimana seharusnya manusia menyikapi kekikirannya?”

Banyak orang kikir tidak tahu dirinya kikir, jika pun tahu ia menganggapnya biasa-biasa saja, dan mengiranya tidak berbahaya. Inilah kenapa pandangan kita terhadap kikir harus dirubah. Selama ini banyak yang berpandangan kikir (pelit) sebatas pada “diminta tapi tidak memberi” atau “tidak pernah memberi sama sekali”. Pandangan seperti itu memang benar, tapi kita harus mulai menempatkan kikir sebagai proses internalisasi diri. Artinya kita harus mencari muasal dari sifat kikir, dan melepaskannya dari sekadar predikat semata. Kita lebih sering menggunakan kata “kikir/pelit” untuk orang lain daripada diri kita sendiri. Kita terlalu memperhatikan perlakuan orang lain kepada kita, tapi menolak untuk mengenali kekikiran kita sendiri. Inilah yang harus kita rubah.

Terlebih dahulu kita harus akui bahwa setiap manusia disemayami oleh sifat kikir dengan potensi yang sama. Potensi menjadi sangat kikir, kikir saja, dan agak kikir. Menghilangkan sepenuhnya bisa dikatakan mustahil. Sedermawan apapun manusia pasti ada kekikiran di hatinya. Pertanyaannya, kikirnya itu kikir yang lunak atau kikir yang keras? 

Perlu diketahui, lunak atau kerasnya kikir itu tidak permanen, tapi berkembang bersamaan dengan pertumbuhan manusianya. Jika kita baca kisah-kisah para wali, kita sering temui kedermawanan mereka di luar penalaran kita. Sayyidina Abdullah bin Abbas yang memberikan rumah beserta isinya secara cuma-cuma kepada Sayyidina Abu Ayyub al-Anshari. Sayyid Abul Hasan al-Syadzili yang secara sukarela memberikan apapun yang diminta orang kepadanya, dan masih banyak contoh lainnya. 

Sifat-sifat dasar mereka sebagai manusia tidak berbeda dengan sifat-sifat dasar kita. Maksudnya, mereka dan kita memiliki potensi dasar yang sama dalam meraih ketakwaan. Sama-sama bermula dari tangisan kelahiran, kemudian tumbuh kembang, dan pada akhirnya meninggal. Karena itu Rasulullah bersabda (HR Imam al-Bukari): “ni’matâni maghbûnun fîhimâ katsîrun minan nâs al-shihhah wa al-farâg—ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tak merasainya; nikmat sehat dan waktu luang.” 

Jika dikembangkan begini, waktu per-hari semua orang adalah 24 jam, baik Imam al-Syafi’i, Sayyid Abul Hasan al-Syadzili maupun orang bakhil dalam kisah di atas tadi. Dengan modal yang sama; sehat dan waktu sehari 24 jam, apa yang membuat kita, orang bakhil dan para dermawan itu berbeda? Padahal awalnya sama, dengan modal yang sama pula. Tidak ada salah satu darinya yang waktu per-harinya 34 jam. Kita pun sehat, sama seperti mereka.

Yang membedakan adalah usaha diri kita sendiri. Orang-orang mulia itu tidak hanya mengisi waktunya dengan menuntut ilmu sejak kecil, tapi juga terus berusaha menyehatkan spiritualitasnya. Sementara kita sibuk dengan “entah apa”. Memang, ada pengaruh lingkungan, tapi hal ini tidak bisa dijadikan sebagai dalih. Sebab, jutaan orang yang lahir di lingkungan yang sama dengan mereka tidak seperti mereka. Begitu pun sebaliknya, beberapa orang yang lahir di lingkungan seperti kita, banyak yang terlihat seperti mereka dalam konteks kedemawanannya. Karena itu, kita perlu lebih sering melihat ke dalam diri, mengamati dan menilainya, meski susah menjelaskan bagaimana caranya secara terperinci.

Memang, kita tidak bisa pungkiri, membangun konsep pelunakan “kekikiran” sangat sukar dilakukan di ruang tulis yang sempit ini. Tapi setidaknya kita bisa memperoleh gambaran kecil sebagai pengantarnya. Semoga saja gambaran kecil itu membawa kita untuk terus mencari gambaran-gambaran lain yang lebih besar, dan alangkah baiknya, selama dalam pencarian, kita selalu membaca doa Rasulullah (HR Imam Abu Dawud):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Wahai Allah, sungguh aku berlindung padaMu dari bingung dan sedih, aku berlindung padaMu dari lemah dan malas, aku berlindung padaMu dari pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari belitan hutang dan keganasan manusia.”

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.