IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Keutamaan Sikap Waras dan Eling Umat Islam di Tengah Zaman Edan

Ahad 21 April 2019 11:15 WIB
Share:
Keutamaan Sikap Waras dan Eling Umat Islam di Tengah Zaman Edan
(Foto: @pinterest)
Allah dan Rasul-Nya telah berpesan agar umat Islam tetap fokus beramal saleh saat akhlak terpuji dan nilai-nilai etik diabaikan yaitu bertebarnya bidah, rendahnya penghormatan terhadap manusia, fitnah, hoaks, provokasi, distorsi informasi, dan ujaran kebencian.

Keduanya mengingatkan bahwa ada kalanya akhlak terpuji dan nilai etik tidak lagi dijunjung sebagian masyarakat karena ada kepentingan tertentu.

Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 105 berpesan agar umat Islam tetap istiqamah dalam menjalankan amal saleh dan menjaga akhlak dan adab serta menjunjung nilai-nilai etik yang disepakati sebagaimana mestinya di tengah keedanan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya, “Wahai orang yang beriman, jagalah diri kalian. Takkan memudharatkan kalian oleh orang yang sesat bila kalian telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah tempat kembali kalian semua, dan Dia kelak mengabarkan kalian atas apa yang pernah kalian lakukan,” (Surat Al-Maidah ayat 105).

Keutamaan istiqamah dan amal saleh seorang Muslim di tengah keedanan sebagian masyarakat disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:

عَنْ أَبِي أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيِّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا ثَعْلَبَةَ كَيْفَ تَقُولُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِنَفْسِكَ وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ رواه ابن ماجه والترمذي وقال حديث حسن غريب وأبو داود وَزَادَ قِيْلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

Artinya, “Dari Abu Umayyah As-Sya’bani, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Abu Tsa’labah Al-Khusyani. Kubilang, ‘Wahai Abu Tsa’labah, apa pendapatmu perihal ‘Jagalah dirimu,’ [Surat Al-Maidah ayat 105]?’ Ia menjawab, ‘Aku pernah menanyakan ini kepada Rasul yang bersifat awas. Rasulullah SAW menjawab, ‘Hendaklah kalian mematuhi perbuatan baik, dan menahan diri dari perbuatan mungkar sampai kalian melihat keinginan bakhil yang diikuti, hawa nafsu yang dituruti, dunia yang diutamakan, dan orang yang sombong dengan pendapatnya sendiri. Kamu wajib menjaga diri. Abaikan orang awam karena setelah itu kelak terdapat hari-hari yang harus dijalani dengan kesabaran. Keutamaan sabar kelak setara dengan genggaman bara api [di kegelapan]. Orang yang beribadah di tengah mereka itu saat demikian seperti pahala 50 orang yang mengamalkan ibadah yang sama,’’’ HR Ibnu Majah dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi bilang, ‘Hadits ini hasan gharib.’ Dalam riwayat Abu Dawud terdapat tambahan, ‘Wahai Rasulullah, apakah pahala 50 kami atau mereka?’ Rasulullah menjawab, ‘Pahala 50 orang dari kalian,’” (Lihat Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz IV, halaman 24).

Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif memasukkan hadits ini dengan judul “At-Targhib fil Amalis Shalih inda Fasadiz Zaman”/Keutamaan Beramal Saleh di Tengah Zaman Edan.

Sabar dalam arti istiqamah dalam amal saleh dan menahan diri dari kemungkaran dan nafsu kemarahan yang tengah melanda banyak orang memiliki arti yang besar sehingga dijanjikan oleh Rasulullah SAW dengan keutamaan yang besar.

Sedangkan berikut ini adalah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan beberapa perawi dengan redaksi serupa yang juga dikutip dalam At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif. Berikut ini adalah hadits riwayat Imam Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah.

عن معقل بن يسار قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ رواه مسلم والترمذي وابن ماجه.

Artinya, “Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘[Keutamaan] Ibadah di masa pembunuhan setara dengan hijrah kepadaku,’” (HR Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Imam An-Nawawi dalam syarah Shahih Muslimnya menjelaskan pengertian kata “al-harj” atau masa konflik berdarah. Menurutnya, masa tersebut adalah masa kekacauan di mana nyawa manusia tidak berharga dan kebanyakan manusia ketika itu lebih mengutamakan pelampiasan hawa nafsu dibanding aktivitas ibadah dan amal saleh.

المراد بالهرج هنا الفتنة واختلاط أمور الناس وسبب كثرة فضل العبادة فيه أن الناس يغفلون عنها ويشتغلون عنها ولايتفرغ لها إلا أفراد

Artinya, “Maksud dari kata ‘masa pembunuhan’ di sini adalah fitnah atau kekacauan, ketidakjelasan urusan masyarakat [antara yang hak dan batil]. Sebab banyaknya keutamaan ibadah di saat-saat demikian adalah kelalaian masyarakat dari ibadah dan sibuk pada aktivitas di luar ibadah. Hanya segelintir orang saja yang menyempatkan diri untuk beribadah,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajul Muslim bi Syarhi Shahih Muslim, [Kairo, Darul Hadits: 1998 M/1419 H], cetakan ketiga, juz IX, halaman 313).

Adapun berikut ini adalah redaksi yang tersebut dalam riwayat Imam Ahmad. Riwayat ini menyebutkan kata “amal”, bukan “ibadah”. 

عن معقل بن يسار المزني قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الْعَمَلُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ رواه أحمد

Artinya, “Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘[Keutamaan] amal di masa pembunuhan/konflik berdarah setara dengan hijrah kepadaku,’” (HR Ahmad).

Sedangkan berikut ini adalah redaksi yang tersebut dalam riwayat Imam At-Thabarani. Riwayat ini menyebutkan kata “al-fitnah” setelah kata “al-harj”. 

عن معقل بن يسار المزني قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم الْعَمَلُ فِي الْهَرْجِ وَالفِتْنَةِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ رواه الطبراني

Artinya, “Dari Ma’qil bin Yasar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘[Keutamaan] amal di masa pembunuhan/konflik berdarah dan fitnah setara dengan hijrah kepadaku,’” (HR At-Thabarani).

Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri menyebutkan bahwa istiqamah seseorang pada ibadah dan amal saleh di tengah zaman edan memiliki keutamaan luar biasa sebagaimana dikatakan dalam hadits Rasulullah SAW. 

قوله الهرج هو الاختلاف والفتن وقد فسر في بعض الأحاديث بالقتل لأن الفتن والاختلاف من أسبابه فأقيم المسبب مقام السبب 

Artinya, “Perkataan ‘Al-harj’ adalah pertikaian dan fitnah/kekacauan. Kata ini pada sebagian hadits diartikan sebagai konflik berdarah/pembunuhan karena pertikaian dan fitnah/kekacauan merupakan sebab konflik berdarah sehingga kata ‘al-harj’ sebagai akibat ditempatkan di posisi sebab,” (Lihat Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsis Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz IV, halaman 25).

Beberapa keterangan Al-Quran, hadits, dan pandangan ulama ini mengingatkan agar umat Islam tetap istiqamah menjaga tali Allah dan tali manusia. Semua itu mengamanatkan agar umat Islam tidak terhanyut dan terseret dalam arus keedanan yang mengancam kemanusiaan berupa konflik berdarah.

Dengan kata lain, umat Islam diimbau agar tidak terhanyut dalam pusaran kebencian, kepentingan berkuasa, dan nafsu kemarahan yang diekspresikan melalui provokasi, hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian yang menjadi sebab pertikaian.

Semua ekspresi kemarahan itu mengancam keutuhan berbangsa, persatuan, persaudaraan karena dapat menciptakan suasana saling curiga dan saling membenci hingga puncaknya konflik berdarah, perang saudara, baku hantam, dan saling membunuh.

Sebaliknya, justru umat Islam diminta untuk menjaga kewarasan di tengah pusaran nafsu dan keedanan.

Umat Islam dituntut berpartisipasi dan berkontribusi nyata menciptakan suasana dan semangat persaudaraan sesama Muslim, sesama warga negara Indonesia, dan sesama warga dunia.

Hanya dengan jalan demikian, umat Islam akan mendapatkan derajat yang tinggi di sisi Allah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Ahad 21 April 2019 18:35 WIB
Ini Beda Nasionalis Tulen dan Nasionalis Gadungan
Ini Beda Nasionalis Tulen dan Nasionalis Gadungan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menyebut kata “nasionalis” dengan dua pengertian, pertama, pecinta nusa dan bangsa sendiri dan kedua, orang yang memperjuangkan kepentingan bangsanya; patriot. Sedangkan patriot adalah pencinta (pembela) tanah air.

Adapun patriotisme adalah nama lain dari semangat cinta tanah air. Dalam KBBI, patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya; semangat cinta tanah air.

Tetapi tiada sesuatu yang membuat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, salah seorang pemerhati bahasa dan sastra Arab (1886 M-1944 M) yang tinggal di Beirut, Libanon, daripada orang yang mengaku sebagai seorang nasionalis yang menebus kejayaan tanah airnya dengan darah dan hartanya, tetapi justru dia yang paling kuat meruntuhkan sendi-sendi kebangsaan dengan pelbagai kezaliman dan potensi yang ada padanya.

Dalam Kitab Izhatun Nasyi’in (Nasihat untuk Para Pemuda), karya yang ditulis di Beirut pada 1913 M, Syekh Musthafa Al-Ghalayaini menyimpulkan bahwa seorang anak bangsa yang mengaku sebagai seorang nasionalis pada kenyataannya juga dapat berbohong melalui pernyataan palsu karena tidak cocok dengan perilakunya.

ليس كل من ينادي بالوطنية وطنيا حتى تراه عاملا للوطن بما يحييه باذلا ما عز وهان في سبيل ترقيه يسعى مع الساعين في إعلاء شأنه وينصب مع الناصبين في حفظ كيانه

Artinya, “Tidak setiap orang yang mendakwakan diri sebagai seorang nasionalis adalah nasionalis sejati kecuali kau menyaksikan dia berbuat sesuatu untuk menghidupkan tanah airnya, mendermakan barang berharga miliknya, rela terhina untuk meninggikan harkat bangsanya, terlibat bersama rekan seperjuangan demi mengangkat negerinya, dan rela bersusah payah dan letih bersama yang lain dalam menjaga eksistensi tanah airnya,” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 81).

Menurut Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, tidak sedikit anak bangsa yang berteriak kencang sebagai nasionalis sejati. Ternyata ia adalah seorang nasionalis gadungan karena perilakunya justru seperti kanker yang menggerogoti keutuhan negara dan bangsanya.

أما من يسعى فيما يفت في عضده ويكسر في ساعده فقد بعد ما بينه وبين الوطنية ولو رفع عقيرته وملأ الأقطار صراخا ونادى في الأمة أن أني من الوطنيين المخلصين

Artinya, “Adapun orang yang berupaya mencerai-beraikan kekuatan negaranya dan menghancurkan pilar-pilar bangsanya, maka ia jauh dari sikap nasionalisme meski teriakannya lantang memenuhi kolong langit setiap pelosok negerinya dan meski dia berkata di tengah rakyat, ‘Saya seorang nasionalis tulen,’” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 81).

Syekh Musthafa Al-Ghalayaini pada karyanya terutama tema Al-Wathaniyyah (Nasionalisme) menjelaskan sikap seorang nasionalis sejati. Menurutnya, seorang nasionalis tulen akan mengorbankan diri demi kemaslahatan negeri dan rakyatnya.

الوطنية الحق هي حب إصلاح الوطن والسعي في خدمته، والوطني كل الوطني من يموت ليحيا وطنه ويمرض لتصح أمته.

Artinya, “Sikap nasionalisme sejati adalah semangat memperbaiki tanah air dan berupaya mengabdikan diri untuknya. Sedangkan seorang nasionalis tulen adalah orang yang rela mengorbankan nyawanya demi kejayaan tanah airnya dan rela sakit menderita demi keselamatan rakyatnya,” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 82).

Syekh Musthafa Al-Ghalayaini yang juga penulis kitab nahwu Jami‘ud Durus Al-Arabiyyah, sebuah kitab nahwu rujukan di kampus-kampus Islam negeri di Indonesia, mengingatkan para pemuda akan kewajiban-kewajiban anak bangsa terhadap tanah airnya.

ألا إن للوطن على أبنائه حقوقا فكما لا يكون الابن ابنا حقيقيا حتى يقوم بواجب الأبوة فكذلك ابن الوطن لا يكون ابنا بارا حتى ينهض بأعباء خدمته ويدفع عن حماه المؤذين ويذود عن حياضه المدلسين 

Artinya, “Ketauhilah bahwa anak bangsa atau putra tanah air memiliki kewajiban. Seseorang tidak dapat dikatakan berbakti sebelum ia menjalankan kewajiban khidmat terhadap orang tuanya. Demikian juga seorang anak bangsa. Ia takkan disebut anak bangsa yang berbakti sebelum bangkit berkhidmat memikul beban negerinya, membela kedaulatan negaranya dari ancaman pihak-pihak yang jahat, dan melindungi sumber daya bangsanya dari para penipu,” (Lihat Syekh Musthafa Al-Ghalayaini, Izhatun Nasyi’in, [Beirut, Sayida: 1953 M/1373 H], cetakan kesembilan, halaman 82).

Meski Kitab Izhatun Nasyi’in berarti Nasihat untuk Para Pemuda, pesan-pesan Syekh Musthafa Al-Ghalayaini ini layak diperhatikan oleh semua elemen bangsa dari pelbagai usia dan latar belakang agama, suku, rasa, dan antargolongan.

Pesan-pesan Syekh Musthafa Al-Ghalayaini dalam Bahasa Arab ini memang ditulis di Beirut pada 1913 M silam. Meski demikian, semangat nasionalisme yang terkandung di dalamnya bersifat universal dan relevan untuk semua anak bangsa di dunia, termasuk anak bangsa Indonesia saat ini karena cinta tanah air berkaitan erat dengan keimanan seseorang. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Sabtu 20 April 2019 10:30 WIB
Adab Umat Islam terhadap Pemerintah Kata Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Adab Umat Islam terhadap Pemerintah Kata Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad
(Foto: boston.com)
Umat Islam dituntut untuk menjaga adab. Salah satunya adab dalam menyampaikan aspirasi, masukan, dan juga kritik terhadap pemerintah yang menjadi hak warga negara. Umat Islam sebagai warga negara juga berhak mendapat layanan publik, fasilitas sosial, dan fasilitas umum yang disediakan pemerintah.

Selain hak itu, umat Islam seperti warga negara Indonesia yang lain juga dituntut menjaga adab, yaitu kewajiban untuk mematuhi segala peraturan yang berlaku di Indonesia sebagaimana ditetapkan parlemen dan pemerintah. Mereka juga berkewajiban untuk membayar pajak sebagai salah satu sumber pendapatan negara.

Warga negara dan pemerintah wajib bekerja sama untuk menciptakan kemaslahatan umum. Keduanya perlu bahu membahu dalam rangka menjaga persatuan di tengah keberagaman dan mengatur pemerataan sumber daya sehingga tidak menjadi monopoli sekelompok orang.

Warga negara dan pemerintah wajib saling mendukung dalam membangun kekuatan untuk menjaga kedaulatan negara, dan menciptakan suasana kondusif agar aktivitas ekonomi, politik, sosial, budaya, dan agama berjalan lancar.

Selain itu semua, umat Islam sebagai warga negara berkewajiban untuk mendoakan pemerintah agar diberikan kemudahan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya jika pemerintah bersikap adil dan menjalankan tugasnya dengan profesional.

Adapun ketika pemerintah bersikap zalim, otoriter, korup, dan menjalankan tugasnya tidak dengan profesional, umat Islam juga berkewajiban untuk berdoa agar Allah meluruskan pemerintah dan mengembalikannya ke jalan keadilan dan profesionalitas.

Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berpesan agar umat Islam jangan mencaci maki, mengumpat, mendoakan yang buruk, memfitnah, dan melontarkan ujaran kebencian terhadap pemerintah yang zalim, korup, dan tidak profesional.

Pasalnya, semua itu hanya membuat pemerintah zalim, otoriter, korup, dan tidak profesional yang imbasnya juga berpulang kepada semua warga negara, termasuk umat Islam itu sendiri.

Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berpesan agar umat Islam berdoa agar Allah menjaga lahir dan batin pemerintah untuk bersikap adil, istiqamah, ramah, dan professional dalam menjalankan tugasnya sebagai pengabdi dan pengayom bagi warga negara.

مهما كان الوالي مصلحا حسن الرعاية جميل السيرة كان على الرعية أن يعينوه بالدعاء له والثناء عليه بالخير، ومهما كان مفسدا مخالطا كان عليهم أن يدعوا له بالصلاح والتوفيق للاستقامة وأن لا يشتغلوا ألسنتهم بذمه والدعاء عليه فإن ذلك يزيد في فساده واعوجاجه ويعود وبال ذلك عليهم

Artinya, “Jika pemimpin mendatangkan kemaslahatan untuk masyarakat, memerhatikan rakyat dengan baik, rekam jejak yang baik, maka rakyat membantunya dengan doa dan sebutan yang baik-baik/pujian. Tetapi pemimpin yang mendatangkan mafsadat dan mencampurkan yang hak dan batil, maka mereka wajib mendoakannya agar ia diberikan kebaikan dan bimbingan untuk konsisten pada jalan yang hak. Mereka tidak boleh mencaci-makinya dan mendoakan keburukan untuknya karena itu akan menambah kerusakan dan penyelewengan kekuasaannya dan semua akibatnya akan kembali kepada mereka sendiri,” (Lihat Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Ad-Dakwatut Tammah wat Tadzkiratul Ammah, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 32).

Peran pemerintah cukup menentukan bagi perkembangan nasib masyarakat. Peran pemerintah yang profesional dapat terasa dan terlihat oleh masyarakat. Oleh karena itu, selain upaya dukungan, masukan, krtitik terhadap pemerintah, doa warga negara untuk kebaikan lahir dan batin pemerintah cukup penting sebagaimana perkataan Imam Fudhail bin Iyadh, salah seorang ulama di era tabi’it tabiin.

قال الفضيل رحمه الله لو كانت لي دعوة مستجابة لم أجعلها إلا للإمام لأن الله إذا أصلح الإمام أمن العباد والبلاد

Artinya, “Imam Fudhail RA mengatakan, ‘Kalau aku punya satu kesempatan doa yang makbul, niscaya kujadikan kesempatan itu untuk mendoakan pemimpin karena jika Allah membimbing kebaikan seorang pemimpin, maka rakyat dan negeri akan selamat,” (Lihat Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Ad-Dakwatut Tammah wat Tadzkiratul Ammah, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun], halaman 32).

Inayah Allah terhadap pemerintah akan berdampak pada keselamatan dan kesejahteraan negara dan warga negaranya. Inayah Allah ini dapat diupayakan melalui doa segenap warga negara Indonesia, termasuk umat Islam itu sendiri.

Adapun caci maki, fitnah, doa keburukan, dan ujaran kebencian warga negara untuk pemerintah selain membuat pemerintah menjadi keras kepala, zalim, dan korup, juga merupakan tindakan provokasi dan kriminal yang dapat menjerumuskan pelakunya ke dalam tahanan.

Dengan demikian tidak dapat kita mengambinghitamkan pemerintah melalui istilah “kriminalisasi ulama” ketika sebagian dai tersandung kasus kriminal ujaran kebencian atau kasus provokasi. Walhasil, semua itu merugikan umat Islam itu sendiri akibat tindakan diri sendiri sebagaimana pesan Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Rabu 27 Maret 2019 9:45 WIB
Tata Cara Hindari Ghibah dalam Hati
Tata Cara Hindari Ghibah dalam Hati
(Foto: @pixabay)
Salah satu kemampuan makhluk Allah, khususnya manusia adalah mampu bisa berbicara dengan dirinya sendiri. Pembicaraan atas diri orang lain meski dalam hati disebut ghibah. Semua orang tidak bisa terlepas dari hal ini, baik saat sendiri maupun saat berkumpul dengan banyak orang.

Tiba-tiba saat kita bertemu dengan orang, entah kenapa hati kita tiba-tiba berbicara tentang orang yang kita temui, termasuk keburukannya (ghibah).

Lalu bagaimana hukumnya hal tersebut, apakah diperbolehkan? Mengingat Islam juga telah melarang kita ghibah. 

Menjawab hal ini, Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa ghibah di dalam hati hukumnya diampuni (ma’fu) asalkan tidak dilanjutkan dan hanya sekilas.

فأما الخواطر، وحديث النفس، إذا لم يستقر ويستمر عليه صاحبه فمعفو عنه باتفاق العلماء ، لانه لا اختيار له في وقوعه ، ولا طريق له إلى الانفكاك عنه.

Artinya, “Adapun sesuatu yang terbesit dalam pikiran kita atau pembicaraan kita dengan diri sendiri jika tidak tetap dan tidak dilanjutkan oleh orang tersebut maka hukumnya diampuni (tidak masalah) berdasarkan kesepakatan para ulama. Karena sesungguhnya hal tersebut tidak bisa dihindari dan juga tidak ada cara untuk mencegah hal itu,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkārun Nawāwī, [Beirut, Dārul Kutub: 2004 M), halaman 498).

Misalnya saat berjalan kita bertemu orang yang gemuk badannya, tiba-tiba terlintas di pikiran kita atau hati kita, “eh orang itu kok gendut banget, ya?!” Nah hal yang seperti ini diampuni atau dimaafkan. Namun jika hal itu dilanjutkan, seperti mulai berpikir-pikir tentang makannya apa, dan sebab apa yang menjadikan orang itu gendut. Maka hal yang semacam ini bisa termasuk dalam dosa.

Alasan mengenai dimaafkannya pikiran yang terlintas begitu saja tersebut, karena hal itu tidak bisa dihindari. Sedangkan melanjutkan pikiran yang terbesit itu dilarang karena hal itu bisa dihindari.

Namun yang perlu diperhatikan adalah pikiran-pikiran sekilas terhadap orang lain tersebut berpotensi untuk membuat kita terjatuh dalam dosa ghibah dan maksiat.

وسبب العفو ما ذكرناه من تعذر اجتنابه ، وإنما الممكن اجتناب الاستمرار عليه فلهذا كان الاستمرار وعقد القلب حراما ومهما عرض لك هذا الخاطر بالغيبة وغيرها من المعاصي ، وجب عليك دفعه بالاعراض عنه وذكر التأويلات الصارفة له عن ظاهره.

Artinya, “Sebab dimaafkannya hal tersebut karena sulit menghindarinya. Sedangkan yang mungkin dan bisa dihindari adalah melanjutkan pikiran-pikiran yang sekilas tersebut. Oleh karena itu, melanjutkan pikiran-pikiran atas orang lain tersebut dan memantapkan hati atas pikiran tersebut bisa mendorong kamu pada perbuatan ghibah dan perbuatan maksiat semacamnya. Maka wajib bagimu untuk mencegahnya dengan mengalihkan pikiran tersebut kepada hal lain dan memikirkan hal (potensi) lain yang berbeda dengan lahirnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkārun Nawāwī, [Beirut, Dārul Kutub: 2004 M], halaman 498).

Oleh karena itu, Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin memberikan tips untuk mengenali pikiran negatif agar terhindar dari perbuatan tersebut.

إذا وقع في قلبك ظن السوء ، فهو من وسوسة الشيطان يلقيه إليك ، فينبغي أن تكذبه فإنه أفسق الفساق ، وقد قال الله تعالى : (إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة فتصبحوا على ما فعلتم نادمين) [ الحجرات : 7 ] فلا يجوز تصديق إبليس ، فإن كان هناك قرينة تدل على فساد ، واحتمل خلافه ، لم تجز إساءة الظن ، ومن علامة إساءة الظن أن يتغير قلبك معه عما كان عليه

Artinya, “Jika hatimu tiba-tiba (terbesit) pikiran negatif, maka hal itu dari bisikan setan yang dibisikkan kepadamu. Maka seyogianya kamu mendustakan (bisikan setan) itu. Karena sesungguhnya setan adalah makhluk yang paling fasik dan para fasik yang lain. Allah SWT berfirman, ‘Jika datang kepadamu seorang fasik, maka lakukanlah tabayyun terlebih dahulu agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.’ Dan tidak diperbolehkan untuk membenarkan Iblis, karena hal itu adalah salah satu media yang mengarah pada kerusakan, dan seolah mentolerir perbuatan menyimpangnya. Maka dilarang berpikiran negatif. Salah satu tanda bahwa kamu berpikiran negatif kepada seseorang adalah ketika hatimu berubah menilai seseorang karena sesuatu yang telah ia lakukan,” (Lihat Abū Ḥāmid Al-Ghazali, Iḥyā’ ʽUlūmiddin, [Beirut, Dārul Maʽrifah: tanpa catatan tahun), juz III, halaman 150). Wallahu a’lam.


(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah).