IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Silsilah Nasab dari Nabi Muhammad hingga Nabi Adam

Ahad 21 April 2019 15:0 WIB
Share:
Silsilah Nasab dari Nabi Muhammad hingga Nabi Adam
Nabi yang sering disebut khairul khalq (makhluk terbaik) dan sayyidul anbiyâ’ wal mursalîn (pemimpin para nabi dan rasul) memiliki nasab yang luar biasa sucinya. Nasabnya dipenuhi orang-orang termulia dari generasinya. Tidak ada satu pun darinya yang berperilaku tercela. Karena itu, umat Islam harus mengetahui nasab Rasulullah ﷺ secara terperinci. 

Dalam kitab al-Sîrah al-Nabawiyyah, Imam Ibnu Hisyam menulis nasab Rasulullah Muhammad ﷺ sebagai berikut:

هَذا كِتَابُ سِيْرَةِ رَسُوْلِ اللهِ صلي الله عليه وسلّم, هُوَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ—وَاسْمُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: شَيْبَةَ بن هَاشِمِ—وَاسْمُ هَاشِمِ: عُمَرُو بن عَبْدِ مَنَافِ—وَاسْمُ عَبْدِ مَنَافِ: المغِيْرَةُ بن قُصَيّ بن كِلَابِ بن مُرَّةَ بن كَعْبِ بن لُؤَيِّ بن غَالِبِ بْن فِهْرِ بن مالِكِ بن  النَّضْرِ بن كِنَانَةَ بنِ خُزَيْمَةَ بن مُدْرِكَةَ—واسمُ مُدْرِكَةَ: عَامِرِ بن إِلْيَاس بن مُضَر بن نِزَار بن مَعَدِّ بن عَدْنَانَ بن أُدَّ—ويقالُ أُدَدَ بن مُقَوِّمِ بن نَاحُوْر بن تَيْرَح بن يَعْرُبَ بن يَشْجُبَ بن نَابَت بن إِسْمَاعِيْلَ بن إِبْرَاهِيْمَ—خليلُ الرَّحمنِ—بن تَارِح—وهوَ آزَر—بن نَاحُوْر بن سَارُوْغ بن رَاعُو بن فَالِخ بن عَيْبَر بن شَالِخ بن أَرْفَخْشَذ بن سَام بن نُوْح بن لَمَك بن مَتُّو شَلَخ بن أَخْنُوْخ—وَهو إِدْرِيْسُ النَّبِي—وَكانَ أَوَّلَ بَنِي آدَمَ أُعْطِي النُّبُوَّةَ وَخَطَّ بِالْقَلَمِ—ابن يَرْد بن مَهْلَيِل بن قَيْنَن بن يَانِش بن شِيْث بن آدَمَ عليه السلام

Ini adalah kitab Sirah Rasulullah , dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib—nama asli Abdul Muttalib adalah Syaibah bin Hasyim—nama asli Hasyim adalah Umar bin Abdu Manaf—nama asli Abdu Manaf adalah Mughirah bin Qusayy bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadlr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah—nama asli Mudrikah adalah ‘Amr bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin ‘Adnan bin Udda—dilafalkan juga Udada bin Muqawwim bin Nahur bin Tayrah bin Ya’ruba bin Yasyjuba bin Nabat bin Ismail bin Ibrahim—khalil al-rahman—bin Tarih—dia adalah Azar—bin Nahur bin Sarug bin Ra’u bin Falikh bin Aybar bin Syalikh bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh bin Lamak bin Mattu Syalakh bin Akhnunkh—dia adalah Nabi Idris, bani Adam pertama yang dianugerahi kenabian dan baca tulis—bin Yard bin Malayil bin Qainan bin Yanisy bin Syits bin Adam 'alaihis salam.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, ed. Umar Abdul Salam Tadmuri, Dar al-Kutub al-‘Arab, 1990, juz 1, h. 11-16)

Imam Ibnu Hisyam memang menyebutkan nasab Rasulullah secara lengkap dari Abdullah sampai Nabi Adam, tapi para ulama dan ahli sejarah sendiri berbeda pendapat perihal nasab Rasulullah di atas Adnan. Nasab Rasulullah yang disepakati para ulama hanya nasab dari Abdullah sampai Adnan, sedangkan nasab dari Adnan ke atas, para ulama berbeda pendapat. Syekh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi mengomentari hal ini dengan mengatakan:

أَمَّا مَا فَوْقَ ذَالِكَ فَمُخْتَلَفٌ فِيْهِ, لَا يُعْتَمَدُ عَلَيْه في شَيْئٍ غَيْرُ أَنَّ مِمَّا لَا خِلَافَ فِيْهِ أَنَّ عَدْنَانَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ نَبِيِّ اللهِ ابْنِ إِبْرَاهِيْمَ خَليْلِ اللهِ عَلَيْهِمَا الصَّلَاةُ والسَّلامُ

Adapun nasab Rasulullah di atas Adnan, para ulama berbeda pendapat, tidak ada yang bisa dianggap paling shahih. Namun, semua ulama sepakat bahwa Adnan merupakan keturunan dari Ismail, Nabi Allah putra Ibrahim Khalilullah 'alaihis salam.” (Syeikh Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyyah Ma’a Mujaz li al-Tarîkh al-Khilâfah al-Rasyîdah, Damaskus: Dar al-Fikr, 1991, h. 73)

Memang terjadi banyak perbedaan pendapat mengenai nasab Rasulullah dari Adnan ke atas. Beberapa ahli bahkan mengatakan tidak ditemukan seorang pun yang mengetahui hal ini, salah satu yang berpendapat demikian adalah Sayyidina Urwah bin Zubeir bin Awam (644-713 M). Beliau berkata: “Mâ wajadnâ man ya’rifu mâ wara’a ‘adnâna—kami tidak menemukan seorang pun yang (secara pasti) mengetahui nasab Rasul dari Adnan seterusnya.” (Imam Muhammad al-Dzahabi, Tarîkh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-A’lâm: al-Sîrah al-Nabawiyyah, Damaskus: Dar al-Kitab al-‘Arabi, tt, juz 2, h. 18). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Sayyidina Abu al-Aswad bin Muhammad bin Abdul Rahman, salah seorang anak asuh Sayyidina Urwah bin Zubeir. Beliau berkata:

سَمِعْتُ أَبَا بَكْر بْنِ سُلَيْمَانَ ابْنِ أَبِي خَيْثَمَةَ, وَكَانَ مِنْ أَعْلَمِ قُرَيْشٍ بِأَنْسَبِهَا وَأَشْعَارِهَا يَقُوْلُ: مَا وَجَدْنَا أَحَدًا يَعْلَمُ مَا وَرَاءَ مَعَدَّ بْنِ عَدْنَانَ فِي شِعْرِ شَاعِرٍ وَلَا فِي عِلْمِ عَالِمٍ

Saya mendengar Abu Bakar bin Sulaiman bin Abu Khaitsamah, salah seorang yang paling berpengetahuan mengenai nasab bangsa Quraish dan syair-syairnya berkata: “Tidak ditemukan seorang pun yang mengetahui nasab Rasul setelah Ma’ad bin Adnan, baik dalam syairnya para penyair maupun dalan pengetahuannya orang berilmu.” (Imam Muhammad al-Dzahabi, Tarîkh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-A’lâm: al-Sîrah al-Nabawiyyah, juz 2, h. 18)

Dengan demikian wajar saja jika terjadi banyak perbedaan jumlah maupun nama nasab Rasul dari Adnan ke atas yang banyak ditemukan di kitab-kitab Sirah Nabawiyyah dan hadits. Salah satu yang paling mencolok adalah riwayat Sayyidina Ibnu Abbas ra:

أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بن عَبْدِ الْمُطَّلِبِ بن هَاشِمِ بن عَبْدِ مَنَافِ بن قُصَيّ بن كِلَابِ بن مُرَّةَ بن كَعْبِ بن لُؤَيِّ بن غَالِبِ بْن فِهْر بن مالِكِ بن النَّضْرِ بن كِنَانَةَ بنِ خُزَيْمَةَ بن مُدْرِكَةَ بن إِلْيَاس بن مُضَر بن نِزَار بن مَعَدّ بن عَدْنَان بن أُدّ بن أُدَدَ بن الهَيْسَع بن بَنَت بن حَمَل بن قَيْذَار بن إِسْمَاعِيْل بن إِبْرَاهِيْم الخ.....

“Saya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushayy bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Luayy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’add bin Adnana bin Udda bin Udada bin Alhaysa’ bin Nabat bin Hamal bin Qaidzar bin Isma’il bin Ibrahim ........” (Imam al-Hafidh al-Dailami, Firdaus al-Akhbâr bi Ma’tsûr al-Khitâb al-Mukharraj ‘ala Kitâb al-Syihâb, Damaskus: Dar al-Kitab al-‘Arabi, juz 1, hlm 73)

Dalam riwayat yang dikutip oleh Imam Ibnu Hisyam (w. 213/218 H), Adnan merupakan anak Udda yang terkadang disebut dengan Udada, sedangkan dalam riwayat Sayyidina Ibnu Abbas, Udda merupakan anak dari Udada. Perbedaan lebih mencolok terjadi pada runtutan nasab setelah Udada. Riwayat kutipan Imam Ibnu Hisyam menyebut (riwayat pertama), “Udada bin Muqawwim bin Nahur bin Tayrah bin Ya’ruba bin Yasyjuba bin Nabat bin Ismail bin Ibrahim.” Sementara riwayat Sayyidina Ibnu Abbas mengatakan (riwayat kedua), “Udada bin Alhaysa’ bin Nabat bin Hamal bin Qaidzar bin Isma’il bin Ibrahim.” 

Jika pun nama-nama itu merupakan nama lain, seperti dalam kasus Abdul Muttalib yang nama aslinya Syaibah, tetap saja tidak dapat menyingkirkan perbedaan, karena nama Nabat pada kedua nasab di atas menempati urutan yang berbeda. Imam al-Kinani dalam Mukhtashar-nya juga mengutip runtutan nasab yang berbeda, yaitu Adnan bin Udda bin Udada bin Alyasa’ bin Alhamaisa’ bin Salaman bin Nabat bin Hamal bin Qaidzar bin Ismail bin Ibrahim. (Imam al-Hafidh al-Dailami, Firdaus al-Akhbâr bi Ma’tsûr al-Khitâb al-Mukharraj ‘ala Kitâb al-Syihâb, juz 1, hlm 73). Artinya, di samping perbedaan urutan, terjadi juga perbedaan jumlah orang.

Selain itu, banyak juga terjadi perbedaan penulisan dari mulai Adnan ke atas, seperti Fâlikh, ‘Aibar, Râ’û, dan lainnya dalam riwayat yang dikutip oleh Imam Ibnu Hisyam, dan Fâligh, ‘Âbir, Râghû, dan lainnya dalam riwayat Sayyidina Ibnu Abbas. Hal ini terjadi karena kebanyakan dari nama-nama itu adalah isim ‘ajam (nama bukan Arab). Imam Ibnu Sa’ad berkata:

سَائِرُ هَذهِ الْأَسْمَاءِ أَعْجَمِيَّةٌ وَبَعْضُهَا لَا يُمْكِنُ ضَبْطُهُ بِالْخَطِّ إِلَّا تَقْرِيْبًا

Sisa nama-nama ini adalah nama-nama ajam (non-Arab), sebagiannya tidak mungkin ditulis dengan tepat kecuali dengan cara memperkirakannya.” (Imam Muhammad al-Dzahabi, Tarîkh al-Islâm wa Wafayât al-Masyâhîr wa al-A’lâm: al-Sîrah al-Nabawiyyah, juz 2, h. 22)

Dalam al-Sirah al-Nabawiyyah karya Imam Ibnu Hisyam sendiri terdapat riwayat lain yang memiliki cara penulisan berbeda dengan yang pertama, salah satunya riwayat Sayyidina Qatadah bin Dima’ah:

إِسْمَاعِيْلُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ—خليل الرحمن—ابْنِ تَارِخ—وهو آزر—بن نَاخُوْر ابن أَسْرُغ بن أَرْغُو بن فَالِخ بن عَابِر بن شَالِخ بن أَرْفَخْشَذ بن سام بن نُوح بن لَمَك بن مَتُوشَلَخ بن أَخْنُوْخ بن يَرْد بن مَهْلَائِيْل بن قَايِن بن أَنُوش بن شَيْت بن آدَمَ

Ismail bin Ibrahim Khalilurrahman bin Tarikh—beliau adalah Azar—bin Nakhur bin Asrugh bin Arghu bin Falikh bin ‘Abir bin Syalikh bin Arfaksyadz bin Sam bin Nuh bin Lamak bin Matusyalakh bin Akhnukh bin Yard bin Mahla’il bin Qayin bin Anusy bin Syit bin Adam 'alaihis salam.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1990, juz 1, h. 18)

Perbedaannya terletak pada penulisan nama Asrugh, Arghû, ‘Âbir, Matûsyalakh, Mahlâ’îl, Qâyin, Anûsy, dan Syît yang pada riwayat pertama ditulis Sârûgh, Ar’û, ‘Aibar, Mattûsyalakh, Mahlayil, Qaynan, Yânisy, dan Syîts. Seperti yang dikatakan Imam Ibnu Sa’ad, perbedaan itu terjadi karena nama-nama itu bukan nama Arab, melainkan nama ajam yang tidak dapat ditulis dengan tepat dalam tulisan Arab.

Dari sisi ibunya, Sayyidah Aminah, nasab Rasulullah ﷺ adalah:

هِيَ آمِنَةُ بِنْتُ وَهْبٍ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ زُهْرَةَ بْنِ كِلَابِ بْنِ مُرَّةَ. ]وَأُمُّهَا بَرَّةُ بِنْتُ عَبْدِ الْعُزَّي بن عُثْمَانَ بن عَبْدِ الدَّارِ بن قُصَيِّ بن كَلَاب. وَأُمُّهَا أُمُّ حَبِيْبِ بنت أَسَد بن عَبْدِ الْعُزَّي بن قُصَيِّ بنِ كِلَاب[

Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah. [Ibunya Sayyidah Aminah adalah Barrah binti Abdul ‘Uzza bin Utsman bin Abdul Dar bin Qushayy bin Kilab. Ibunya Barrah binti Abdul ‘Uzza adalah Ummu Habib binti Asad bin Abdul ‘Uzza bin Qushayy bin Kilab].” (Imam Abdul Aziz al-Kinânî, al-Mukhtashar al-Kabîr fi Sîrah al-Rasûl, Amman: Dar al-Basyir, 1993, h. 19)

Nasab Sayyidah Aminah bertemu dengan nasab Sayyid Abdullah, ayah Rasulullah di nama Kilab. Begitu pun dengan ibu Sayyidah Aminah, semuanya bermuara pada satu sumber, yaitu Nabi Ismail 'alaihis salam. Setelah keterangan-keterangan di atas, sebuah hadits di bawah ini kiranya tepat menjadi penutup:

إِنَّ اللهَ اصْطَفَي كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَاصْطَفَي قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ وَاصْطَفَي هَاشِمًا مِنْ قُرَيْشٍ وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ

Sesungguhnya Allah memilih Kinanah dari keturunan Ismail, memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, memilih Hasyim dari keturunan Quraisy dan memilihku dari keturunan Bani Hasyim.” (HR. Imam Muslim)

Wallahu a’lam bi al-shawab


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Share:
Ahad 21 April 2019 21:0 WIB
Sikap Sayyidina Ali ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian III-Habis)
Sikap Sayyidina Ali ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian III-Habis)
Masa Sayyidina Utsman bin Affan

Sepeninggal dirinya, Sayyidina Abu Bakar tidak ingin umat Islam berselisih terkait dengan siapa penggantinya kelak. Oleh karenanya, menjelang wafatnya Sayyidina Abu Bakar menunjuk Sayyidina Umar bin Khattab sebagai Khalifah berikutnya. Keputusan ini dikeluarkan setelah didiskusikan dengan beberapa pemuka umat Islam seperti Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, dan yang lainnya.

Bisa dibilang, gejolak pengangkatan Sayyidina Umar bin Khattab tidak sekeras seperti yang dialami Sayyidina Abu Bakar dalam sebuah musyawarah di Saqifah Banu Sa’idah dulu. Tentu saja ada segelintir sahabat yang tidak setuju dengan kebijakan Sayyidina Abu Bakar itu, tapi itu tidak berkepanjangan. Sebagian besar sahabat menerima keputusan Sayyidina Abu Bakar tersebut, termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib. 

Sikap yang sama juga ditunjukkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ketika Sayyidina Utsman bin Affan terpilih menjadi Khalifah ketiga. Pada saat itu, menjelang akhir hayatnya Sayyidina Umar bin Khattab membentuk sebuah Majelis Syura untuk menentukan siapa yang bakal menjadi penggantinya. Ada enam orang yang ditunjuk menjadi anggota Majelis Syura, yaitu Sayyidina Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf, dan Sa’ad bin Abi Waqqas. Sebagaimana keterangan dalam buku Usman bin Affan (Muhammad Husain Haekal, 2002), mereka dipilih Sayyidina Umar bin Khattab karena kedudukan dan hubungannya dengan Nabi Muhammad saw. 

Terjadi perdebatan yang sengit ketika Majelis Syura menggelar sidang untuk menentukan pengganti Sayyidina Umar bin Khattab. Setelah melalui proses yang cukup panjang dan sengit, akhirnya muncul dua nama terkuat untuk menjadi Khalifah ketiga, yaitu Sayyidina Utsman bin Affan dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. 

Di belakang Sayyidina Utsman bin Affan ada Bani Umayyah, sementara di balik Sayyidina Ali bin Thalib ada Bani Hasyim. Sebagaimana diketahui, kedua bani tersebut terlibat 'persaingan' sejak dahulu kala. Maka tidak heran, dalam penentuan Khalifah ketiga, mereka menjagokan pihaknya masing-masing. Bani Hasyim mengampanyekan Sayyidina Ali, sedangkan Bani Umayyah mengampanyekan Sayyidina Utsman.

Di pihak Sayyidina Ali, ada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib, yang getol memperjuangkan agar keponakannya itu terpilih menjadi Khalifah Nabi. Sebetulnya, Abbas tidak hanya kali ini saja mendorong Sayyidina Ali untuk menduduki kepemimpinan umat Islam. Bahkan, ketika Nabi Muhammad saw. wafat dulu, dia juga mendorong Sayyidina Ali untuk cepat bertindak. Namun Sayyidina Ali menolaknya. Begitu pun pada pengangkatan khalifah setelahnya. Karena bagaimanapun, Abbas menilai bahwa yang berhak menjadi pengganti Nabi adalah dari Bani Hasyim. 

Singkat cerita, setelah mempertimbangkan beberapa pertimbangan yang ada, Majelis Syura akhirnya menetapkan Sayyidina Utsman bin Affan sebagai Khalifah ketiga. Semua pihak menerima keputusan itu, termasuk Sayyidina Ali.  Menurut riwayat Ibnu Sa’ad, Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang membaiat Sayyidina Utsman. Pendapat lain menyebutkan kalau yang membaiat pertama adalah Abdurrahman bin Auf, baru kemudian Sayyidina Ali.

Sumber lain menyebutkan kalau Sayyidina Ali dan Bani Hasyim tidak puas dengan atas pembaiatan Sayyidina Utsman. Bahkan, Sayyidina Ali merasa ditipu oleh Sayyidina Aabdurrahman bin Auf dalam proses pemilihan Khalifah ketiga itu. Sayyidina Ali kemudian menuduh Abdurrahman bin Auf, selaku ketua Majelis Syura, telah berlaku nepotisme sehingga lebih memilih Sayyidina Utsman dari pada dirinya.

Baca juga: Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian I)

Baca juga: Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian II)

Terlepas dari perdebatan itu, merujuk buku Ali bin Abi Thalib, sampai kepada Hasan Husain (Ali Audah, 2015), sikap Sayyidina Ali bin Abi Thalib terhadap pembaiatan Sayyidina Utsman biasa-biasa saja. Ia bersama dengan Abdurrahman bin Auf dan yang lainnya membaiat Sayyidina Utsman. Keduanya juga masih berhubungan baik dan saling mencintai sebagai seorang sahabat.

Sebelum akhirnya menjadi Khalifah keempat, peran dan posisi Sayyidina Ali bin Abi Thalib adalah sebagai penasihat resmi bagi ketiga khalifah sebelumnya. Dia bertugas untuk memberikan pendapat dan saran-saran kepada Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar bin Khattab, dan Sayyidina Utsman bin Affan selama mereka menjadi khalifah.

Memang seperti itulah Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dia dikenal sebagai pribadi yang berjiwa besar, rendah hati, berpendirian teguh, tegas, dan bersikap tenang. Dia selalu bisa menerima meski dirinya tidak terpilih menjadi pengganti Nabi Muhammad saw., meskipun ada pihak-pihak yang membisiki kalau dirinya lah yang paling berhak menjadi Khalifah Nabi. (A Muchlishon Rochmat) 
Ahad 21 April 2019 17:0 WIB
Sikap Sayyidina Ali ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian II)
Sikap Sayyidina Ali ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian II)
Yang menjadi pertanyaan, apa benar Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak bersedia atau terlambat memberikan baiat kepada Sayyidina Abu Bakar? Atau Sayyidina Ali langsung memberikan ikrar bersama dengan umat Islam lainnya ketika Sayyidina Abu Bakar menyampaikan pidatonya yang pertama sebagai Khalifah Nabi?

Terkait hal ini, setidaknya ada dua pendapat yang masyhur di kalangan umat Islam. Pertama, Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak langsung atau terlambat memberikan baiatnya kepada Sayyidina Abu Bakar. Pada saat Sayyidina Abu Bakar dibaiat umat Islam secara ramai-ramai, ada beberapa pemuka umat Islam, baik dari Muhajirin maupun Anshar, yang belum memberikan baiat kepadanya. Diantaranya adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Abbas bin Abdul Muthalib. 

Atas saran Sayyidina Umar bin Khattab dan yang lainnya, Sayyidina Abu Bakar kemudian menemui Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Abbas bin Abdul Muthalib. Keduanya diminta agar memberikan baiat kepadanya. Namun Abbas menolaknya dengan keras dan berdalih bahwa pengganti Nabi Muhammad saw. adalah hak Bani Hasyim. Abbas menilai bahwa Sayyidina Ali adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah karena posisinya yang begitu dekat Nabi Muhammad saw., yaitu sama-sama dari Bani Hasyim. 

Begitupun dengan Sayyidina Ali. Ia enggan membaiat Sayyidina Abu Bakar seketika itu juga. Bahkan, dalam al-Imamah wa al-Siyasah karya Ibnu Qutaibah, seperti dikutip dari buku Abu Bakar as-Siddiq; Sebuah Biografi (Muhammad Husain Haekal, 2004), Sayyidina Ali menolak untuk membaiat Sayyidina Abu Bakar dengan tegas karena sebagai keluarga Nabi (ahlul bait) dirinya lebih berhak menduduki jabatan itu. 

Baca juga: Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian I)

Bbaca juga: Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian III-Habis)

“Kamu lah yang lebih pantas membaiat aku,” kata Sayyidina Ali ketika Sayyidina Umar memintanya untuk memberikan ikrar kepada Sayyidina Abu Bakar. 

Diriwayatkan juga kalau sekelompok umat Islam dari kalangan Muhajirin dan Ansar kemudian menggelar pertemuan di rumah Sayyidah Fathimah untuk membaiat Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kabar tentang pertemuan itu diketahui pihak Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar. Tidak ingin perselisihan terus berlanjut di kalangan umat Islam, keduanya ‘menyerbu’ rumah Sayyidah Fathimah. Setelah berhasil ‘dikalahkan’, sekelompok umat Islam tersebut akhirnya memberikan ikrarnya kepada Sayyidina Abu Bakar. Meski demikian, pada waktu Sayyidina Ali belum kunjung memberikan baiatnya untuk Sayyidina Abu Bakar. 

Ada beberapa pendapat tentang kapan Sayyidina Ali bersedia memberikan ikrar kepada Sayyidina Abu Bakar. Satu sumber menyebutkan bahwa Sayyidina Ali berbaiat kepada Sayyidina  Abu Bakar 40 hari setelah pemabaiat umum. Sumber lain mengatakan enam bulan setelahnya, atau setelah wafatnya Sayyidah Fathimah. 

Kedua, Sayyidina Ali bin Abi Thalib langsung memberikan baiatnya ketika Sayyidina Abu Bakar dikukuhkah secara aklamasi atau satu hari setelah musyawarah di Saqifah Banu Sa'idah. Beberapa sejarawah dengan tegas membantah pendapat yang menyebutkan bahwa Sayyidina Ali tertinggal atau tidak hadir dalam acara baiat akbar untuk Sayyidina Abu Bakar. Seperti keterangan Tabari –dengan sumber yang lengkap dengan isnadnya, Sa’d bin Zaid menceritakan bahwa tidak ada umat Islam yang ketinggalan, termasuk dari kalangan Muhajirin, untuk memberikan baiat kepada Sayyidina Abu Bakar. Mereka memberikan baiat secara berturut-turut. Hanya orang-orang murtad lah yang menentang pembaiatan tersebut.

Usai dikukuhkan, Sayyidina Abu Bakar naik ke atas mimbar. Ia panggil satu persatu sahabat dan kerabat Nabi Muhammad saw. yang dikira belum memberikan baiat. Semula dia memanggil Zubair bin Awwam. Zubair kemudian maju ke depan dan memberikan baiatnya. Lalu, dia memanggil Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

“Sepupu Rasulullah dan menantunya, engkau mau menimbulkan perpecahan di kalangan Muslimin?” tanya Sayyidina Abu Bakar kepada Sayyidina Ali.   

“Tak ada cela apa-apa ya Kahlifah Rasulullah,” jawab Sayyidina Ali. Kemudian ia bangun dan membaiat Sayyidina Abu Bakar.

Sumber lain menyebutkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib sedang duduk-duduk di rumahnya ketika umat Islam berbondong-bondong membaiat Sayyidina Abu Bakar. Ia kemudian diberitahu tentang hal itu. Tanpa pikir panjang, Sayyidina Ali langsung menuju tempat pembaiatan massal. Sesampai di sana, ia langsung memberikan baiatnya kepada Sayyidina Abu Bakar. (A Muchlishon Rochmat)

Bersambung...
Ahad 21 April 2019 14:0 WIB
Sikap Sayyidina Ali ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian I)
Sikap Sayyidina Ali ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian I)
Masa Sayyidina Abu Bakar

Umat Islam sangat terkejut dan terguncang ketika Nabi Muhammad saw. wafat pada 12 Rabiul Awwal tahun ke-11 H atau 3 Juni 632 M. Bahkan diantara mereka ada yang tidak percaya kalau Nabi Muhammad saw. telah berpulang kehadirat Allah. Hingga akhirnya Sayyidina Abu Bakar berdiri di tengah-tengah umat Islam dan menyampaikan pidato tentang berita sedih itu. 

“Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya pun telah berlalu rasul-rasul. Apabila dia mati atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barang siapa balik ke belakang sama sekali tidak akan merugikan Allah, tetapi Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang bersyukur,” kata Sayyidina Abu Bakar mengutip QS. Ali-Imran ayat 144 untuk meyakinkan para sahabat yang tidak percaya dengan meninggalnya Nabi Muhammad saw.

Umat Islam bak ‘anak ayam kehilangan induknya’ sepeninggal Nabi Muhammad saw. Mereka kebingungan karena kehilangan panutan, orang yang selama ini menjadi sumber suri teladan. Tidak ada seseorang yang menjadi pemegang otoritas tertinggi bagi umat Islam, baik dalam hal keagamaan maupun sosial-politik kenegaraan. 

Tidak berselang lama setelah kabar Nabi Muhammad saw. wafat, timbul kasak-kusuk siapa yang bakal menggantikan ‘peran’ Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin tertinggi umat Islam. Hal itu membuat umat Islam terpolarisasi menjadi dua kubu; kelompok Muhajirin (umat Islam Makkah yang hijrah ke Madinah) dan kelompok Anshar (umat Islam asli Madinah). Masing-masing merasa paling berhak menjadi pengganti Nabi Muhammad saw. 

Elit umat Islam, dari kalangan Muhajirin dan Anshar, akhirnya bermusyawarah di sebuah forum di Saqifah Banu Sa’idah untuk menentukan siapa yang paling berhak pengganti Nabi Muhammad saw. Dari Muhajirin muncul beberapa nama kandidat pengganti Nabi Muhammad saw. seperti Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan Sayyidina Abu Ubaidah bin Jarrah. Sementara dari Anshar ada Sa’ad bin Ubadah. 

Baca juga: Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian II)

Baca juga: Sikap Sayyidina Ali Ketika Tidak Terpilih Menjadi Khalifah (Bagian III-Habis)

Kedua kubu keukeuh menginginkan kalau pengganti Nabi Muhammad saw. harus dari kalangan mereka. Singkat cerita, setelah terjadi musyawarah yang sangat tajam dan keras antara kedua kubu umat Islam tersebut di Saqifah Bany Sa’idah, akhirnya ditetapkan bahwa yang menjadi pengganti Nabi Muhammad saw. adalah Sayyidina Abu Bakar. 

Sayyidina Umar bin Khattab meminta Sayyidina Abu Bakar membentangkan tangannya untuk dibaiat. Sayyidina Umar bin Khattab kemudian menyampaiakan baiatnya dan menjadi orang pertama yang berikrar atas pengukuhan Sayyidina Abu Bakar. Hal itu dilakukan agar perselisihan dan pertentangan di tubuh umat Islam tidak menjadi berkepanjangan.

“Abu Bakar, bukankah Nabi menyuruhmu memimpin Muslimin bersembahyang? Engkaulah penggantinya (khalifahnya). Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai oleh Rasulullah di antara kita semua ini,” kata Sayyidina Umar, dikutip dari buku Abu Bakar as-Siddiq; Sebuah Biografi (Muhammad Husain Haekal, 2004).

Para sahabat Nabi yang hadir di Saqifah Banu Sa’idah kemudian mengikuti Sayyidina Umar bin Khattab. Satu persatu mereka memberikan ikrar kepada Sayyidina Abu Bakar dan mengakuinya sebagai pengganti (khalifah) Nabi. Sementara itu, Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Abbas bin Abdul Muthalib, dan beberapa keluarga lainnya tengah mengelilingi jenazah Nabi Muhammad saw. ketika Sayyidina Abu Bakar dilantik menjadi Khalifah Nabi di Saqifah Banu Sa’idah. Sehingga Sayyidina Ali belum memberikan baiatnya. 

Esok harinya, setelah jenazah Nabi Muhammad saw. dimakamkan, umat Islam ramai-ramai membaiat Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah Nabi. Setelah dibaiat secara umum, Sayyidina Abu Bakar menyampaikan pidato di hadapan umat Islam. Salah satu poin pidatonya adalah dia meminta kepada seluruh umat Islam agar menaatinya selama dirinya taat kepada Allah dan Rasulullah. Namun bila dirinya melanggar perintah Allah, maka umat Islam tidak perlu lagi setia kepadanya. 

Yang menjadi pertanyaan, apa benar Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak bersedia atau terlambat memberikan baiat kepada Sayyidina Abu Bakar? Atau Sayyidina Ali langsung memberikan ikrar bersama dengan umat Islam lainnya ketika Sayyidina Abu Bakar menyampaikan pidatonya yang pertama sebagai Khalifah Nabi? (A Muchlishon Rochmat)

Bersambung...