IMG-LOGO
Trending Now:
Bahtsul Masail

Bagaimana Status Puasa Orang yang Hampir Muntah?

Jumat 3 Mei 2019 7:0 WIB
Share:
Bagaimana Status Puasa Orang yang Hampir Muntah?
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, ada kalangan kita merasa mual sehingga kadang kita merasa ada sesuatu yang bergerak naik keluar dari perut kita. Tetapi gerakan itu kemudian berhenti dan turun kembali. Pertanyaan saya, bagaimana dengan puasa orang yang hampir muntah seperti itu? Sedangkan kita tahu bahwa muntah dapat membatalkan puasa. Terima kasih. (Siti Qamariyah /Magetan).

Jawaban
Penanya yang budiman, semoga dirahmati Allah SWT. Muntah secara sengaja dapat membatalkan puasa. Sedangkan orang yang tiba-tiba mual lalu muntah, maka puasanya tidak batal. Hal ini secara lugas disebutkan di dalam hadits berikut ini:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - - مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَا قَضَاءَ عَلَيْهِ, وَمَنْ اسْتَقَاءَ فَعَلَيْهِ اَلْقَضَاءُ - رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ

Artinya, “Siapa saja yang muntah, maka ia tidak berkewajiban qadha (puasa). Tetapi siapa saja yang sengaja muntah, maka ia berkewajiban qadha (puasa),” HR lima imam hadits, yaitu Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i.

Dari sini para ulama menarik simpulan bahwa orang yang terlanjur muntah saat berpuasa dapat meneruskan puasanya karena muntahnya tidak membatalkan puasanya.

من غلبه القيء وهو صائم فلا يفطر، قال الأئمة لا يفطر الصائم بغلبة القيء مهما كان قدره

Artinya, “Siapa saja yang (tak sengaja) muntah saat berpuasa, maka puasanya tidak batal. Para imam mazhab berpendapat bahwa orang yang berpuasa tidak menjadi berbuka (batal puasa) karena muntah berapapun kadarnya,’” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 305-306).

Adapun insiden seseorang yang merasa mual, lalu sesuatu bergerak naik dari dalam perutnya, dan hampir muntah, perlu dilihat terlebih dahulu. Karena di sini juga para ulama berbeda pendapat perihal status puasanya.

قال الجمهور إذا رجع شيء إلى حلقه بعد إمكان طرحه فإنه يفطر وعليه القضاء، والصحيح عند الحنفية إن عاد إلى حلقه بنفسه لا يفطر وذهب أبو يوسف إلى فساد الصوم بعوده كإعادته إن كان ملء الفم

Artinya, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa, jika muntahan bergerak turun kembali ke tenggorokan seseorang padahal ia sebenarnya bisa memuntahkannya, maka puasanya batal dan ia wajib mengqadhanya. Tetapi yang benar menurut Mazhab Hanafi, jika muntahan bergerak kembali ke tenggorokan seseorang dengan sendirinya, maka puasanya tidak batal. Abu Yusuf berpendapat bahwa puasa menjadi batal sebab muntahan kembali bergerak masuk (ke dalam perut) sebagaimana kembalinya muntahan sepenuh mulut,” (Lihat Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 306).

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang bergerak naik dari dalam perut tetapi tidak sempat keluar karena berhenti sampai di pangkal tenggorokan tidak membuat batal puasa seseorang.

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Tags:
Share:
Rabu 1 Mei 2019 5:0 WIB
Hukum Mengikuti Imam Shalat Berjamaah dari Lantai Atas Masjid
Hukum Mengikuti Imam Shalat Berjamaah dari Lantai Atas Masjid
(Foto: @assafir.com)
Hukum Mengikuti Shalat Berjamaah dari Lantai Atas Masjid
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, saya mau bertanya. Masjid sekarang umumnya dibangun dua lantai karena kebutuhan atas ruang masjid untuk jamaah yang semakin banyak. Pertanyaan saya bagaimana jika posisi makmum di lantai atas yang mengikuti shalat imam di lantai dasar masjid? Mohon keterangannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nur Hasanah/Bekasi)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Idealnya imam dan makmum berdekatan dalam shalat berjamaah. Tetapi jarak antara keduanya di masjid tidak membatalkan shalat berjamaah keduanya, bahkan ketika keduanya berada di lantai yang berbeda.

Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengutip pandangan mazhab Syafi’I yang mengatakan bahwa lantai atas masjid merupakan satu kesatuan masjid sehingga shalat makmum yang mengikuti imam dari lantai tersebut tetap sah.

ويعد سطح المسجد ورحبته ونحوهما في حكم المسجد

Artinya, “Atap [lantai atas], halaman masjid, dan bagian masjid lainnya dianggap satu kesatuan bangunan masjid,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 231).

Syekh Abu Bakar Al-Hishni dalam Kitab Kifayatul Akhyar mengatakan bahwa sekat lantai antara keduanya tidak masalah bagi keabsahan shalat berjamaah mereka sejauh gerakan imam diketahui oleh makmum dan posisi makmum tidak mendahului posisi imam.

فإذا جمعهما مسجد أو جامع صح الاقتداء سواء انقطعت الصفوف بينهما أو اتصلت وسواء حال بينهما حائل أم لا وسواء جمعهما مكان واحد أم لا لأنه كله مكان واحد وهو مبني للصلاة

Artinya, “Jika keduanya [imam dan makmum] disatukan dalam ruangan masjid atau masjid jami, maka shalat berjamaahnya sah, sama saja apakah shaf antara keduanya terputus atau tersambung; sama saja apakah keduanya tersekat oleh sesuatu atau tidak tersekat; dan sama saja apakah mereka berada di satu ruangan yang sama atau beda… karena keduanya berada di tempat yang sama, yaitu bangunan untuk shalat,” (Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz II, halaman 111).

Dari pelbagai keterangan ini, kita mendukung upaya perluasan masjid beberapa lantai kalau memang dibutuhkan. Sedangkan posisi jamaah yang berada di lain lantai masjid dengan posisi imam tidak perlu khawatir karena shalat berjamaahnya tetap sah meski keduanya berada di lantai berbeda.

Demikian jawaban kami, semoga dipahami dengan baik. Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Selasa 30 April 2019 15:5 WIB
Hukum Shalat Jumat di Halaman Masjid yang Tertutup Pintunya karena AC
Hukum Shalat Jumat di Halaman Masjid yang Tertutup Pintunya karena AC
(Foto: @ibtimes.co.uk)
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Redaksi NU Online, saya mau bertanya. Di masjid dekat rumah sekarang ruangan dalamnya dipasang alat pendingin, AC. Jadi ketika shalat Jumat semua pintu dan jendela ditutup rapat. Yang saya mau tanyakan, bagaimana dengan jamaah yang ada di luar kanan dan kirinya. Apakah sah shalat jumatannya? Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Husaini/Jakarta Selatan)

Jawaban
Assalamu ‘alaikum wr. wb.
Penanya dan pembaca yang budiman. Semoga Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Bagian dalam masjid di zaman ini sudah lazim dipasangkan alat pendingin ruangan atau air conditioner (AC). Oleh karena pintu masjid “harus” selalu tertutup agar suhu rendah karena efek AC tetap terjaga.

Problemnya kemudian bagaimana jika pintu tetap ditutup rapat pada saat shalat Jumat yang mana jumlah jamaah membludak hingga ruangan masjid bagian luar. Sementara shalat Jumat adalah shalat yang harus dilakukan secara berjamaah yang mengharuskan ketersambungan shaf atau barisan imam dan makmum.

Pada kesempatan ini kami akan mengutip sejumlah perbedaan pendapat ulama terkait keabsahan shalat Jumat di mana imam dan makmum terpisah.

Menurut Mazhab Hanafi, perbedaan tempat shalat antara imam dan makmum menjadi masalah, yaitu imam di masjid dan makmum di luar masjid. Sedangkan perbedaan ruangan shalat antara imam dan makmum yang masih berada di dalam satu kompleks bangunan (seperti di dalam masjid atau rumah) masih dimungkinkan selagi gerakan shalat imam diketahui oleh makmum.

إن اختلاف المكان يمنع صحة الاقتداء، سواء اشتبه على المأموم حال إمامه أو لم يشتبه، واتحاد المكان في المسجد أو البيت مع وجود حائل فاصل يمنع الاقتداء إن اشتبه حال الإمام

Artinya, “Perbedaan tempat shalat [antara imam dan makmum] menghalangi keabsahan berjamaah, sama saja apakah makmum mengetahui gerakan imam atau tidak. Sementara kesamaan ruangan shalat [antara keduanya] baik di masjid maupun di rumah yang disertai sekat di antara keduanya tetap menghalangi keabsahan berjamaah jika imam tidak mengetahui gerakan imam,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 231).

Adapun mazhab Syafi’i menganggap perbedaan ruangan shalat antara imam dan makmum di dalam masjid tidak menjadi masalah sejauh gerakan imam diketahui oleh makmum dan posisi makmum tidak mendahului posisi imam.

Bagi mazhab Syafi’i, ketersambungan atau keterputusan shaf imam dan makmum di dalam masjid tidak menjadi masalah bagi keabsahan shalat berjamaah sebagaimana tercatat dalam Kitab Kifayatul Akhyar berikut ini. 

أن يكون الإمام والمأموم في المسجد وهي التي ذكرها الشيخ بقوله وأي موضع صلى في المسجد بصلاة الإمام فيه جاز وذكر الشرطين اللذين ذكرناهما بقوله وهو عالم بصلاة الإمام ما لم يتقدم عليه فإذا جمعهما مسجد أو جامع صح الاقتداء سواء انقطعت الصفوف بينهما أو اتصلت وسواء حال بينهما حائل أم لا وسواء جمعهما مكان واحد أم لا … لأنه كله مكان واحد وهو مبني للصلاة

Artinya, “Imam dan makmum berada di masjid. Ini yang disebutkan oleh syekh dengan perkataannya, ‘Tempat mana saja di dalam masjid di mana imam melakukan shalat, maka [seseorang] boleh berjamaah dengannya.’ Ia menyebutkan dua syarat yang telah kami sampaikan dengan perkataannya, yaitu makmum mengetahui gerakan shalat imam selama ia tidak mendahuluinya. Jika keduanya [imam dan makmum] disatukan dalam ruangan masjid atau masjid jami, maka shalat berjamaahnya sah, sama saja apakah shaf antara keduanya terputus atau tersambung; sama saja apakah keduanya tersekat oleh sesuatu atau tidak tersekat; dan sama saja apakah mereka berada di satu ruangan yang sama atau beda… karena keduanya berada di tempat yang sama, yaitu bangunan untuk shalat,” (Lihat Abu Bakar Al-Hishni, Kifayatul Akhyar, [Beirut, Darul Fikr: 1994 M/1414 H], juz II, halaman 111).

Sementara pandangan Mazhab Syafi’i dalam catatan Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan bahwa shalat berjamaah di masjid tetap sah meski posisi imam dan makmum berjauhan atau terhalang oleh sekat berupa bangunan dengan catatan keduanya tetap terhubung. 

فإن كان الإمام والمأموم مجتمعين في مسجد، صح الاقتداء، وإن بعدت المسافة بينهما فيه أكثر من ثلاث مئة ذراع، أو حالت بينهما أبنية كبئر وسطح ومنارة، أو أغلق الباب أثناء الصلاة، فلو صلى شخص في آخر المسجد والإمام في أوله، صح الاقتداء بشرط إمكان المرور بأن لا يوجد بينهما حائل يمنع وصول المأموم إلى الإمام كباب مسمَّر قبل الدخول في الصلاة. ولا فرق في إمكان الوصول إلى الإمام بين أن يكون الشخص مستقبلاً القبلة أو مستدبراً لها

Artinya, “Jika imam dan makmum berada di masjid yang sama, maka shalat berjamaah menjadi sah, meski jarak keduanya jauh lebih dari 300 hasta, tersekat oleh bangunan seperti sumur atau menara, atau pintu tertutup di tengah shalat. Kalau seseorang shalat di bagian belakang masjid dan imam di bagian depan masjid, maka shalat berjamaah keduanya sah dengan syarat memungkinkan orang lalu-lalang, yaitu ketiadaan sekat yang menghalangi keduanya seperti pintu yang dikunci sebelum mulai shalat. Tiada perbedaan perihal kemungkinan ketersambungan antara imam dan makmum, apakah seseorang makmum dapat menyatu dengan imam dengan menghadap atau membelakangi kiblat,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz II, halaman 231).

Dari pelbagai keterangan ini, kita dapat menarik simpulan bahwa sebutan masjid bukan soal ruangan bagian dalam dan bagian luar masjid. Teras, serambi, lantai atas, ruangan dalam, ruangan luar, atau lantai bawah tanah (basement) masjid tetap merupakan satu kesatuan masjid.

Dengan demikian, shalat Jumat atau shalat berjamaah di mana posisi imam di dalam ruangan masjid dan posisi sebagian makmum berada di ruangan bagian luar masjid tetap sah.

Hanya saja, kami menyarankan agar satu pintu masjid tetap terbuka sehingga imam dan makmum yang berada di ruangan masjid bagian luar tetap terhubung. Hal ini perlu dilakukan sebagai bentuk antisipasi atau jaga-jaga (ihtiyath). Toh, durasi shalat Jumat tidak terlalu lama karena hanya dua rakaat sehingga tidak dikhawatirkan dapat merusak alat pendingin/AC.

Demikian jawaban kami, semoga dipahami dengan baik. Demikian jawaban singkat ini. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)
Sabtu 27 April 2019 9:0 WIB
Setelah Fatihah, Baca Surat Pendek pada Rakaat Ketiga dan Keempat?
Setelah Fatihah, Baca Surat Pendek pada Rakaat Ketiga dan Keempat?
Ilustrasi (prayerinislam.com)
Assalamualaikum. Kami ingin bertanya perihal tentang bacaan shalat. Pada saat shalat jamaah, setelah imam membaca al-Fatihah, makmum membaca al-Fatihah. Lalu apakah hukum membaca surat-surat pendek setelah membaca al-Fatihah bagi makmum? Dan bagaimana hukum membaca surat pendek pada rakaat ketiga dan keempat pada saat shalat jamaah bagi makmum atau bagi orang yang shalat sendirian (munfarid)? Terima kasih. (Happy Sukmawan)

Jawaban:

Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih atas pertanyaannya, semoga saudara penanya senantiasa diberikan keberkahan dalam menjalani hidup.

Membaca surat atau ayat Al-Qur’an bagi makmum ketika telah menyelesaikan bacaan al-Fatihah-nya adalah hal yang tidak dianjurkan pada saat imam sedang membaca bacaan surat atau ayat Al-Qur’an pada shalat yang dikeraskan bacaannya atau yang biasa dikenal dengan shalat jahriyyah (Subuh, Maghrib, Isya’).  Kenapa? Sebab bacaan yang dianjurkan pada saat demikian hanyalah membaca surat Al-Fatihah saja, bukan bacaan-bacaan lainnya. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasa’i:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ الصَّلَوَاتِ الَّتِي يُجْهَرُ فِيهَا بِالْقِرَاءَةِ فَقَالَ لَا يَقْرَأَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ إِذَا جَهَرْتُ بِالْقِرَاءَةِ إِلَّا بِأُمِّ الْقُرْآنِ

Diriwayatkan dari Ubadah bin as-Shamit, beliau berkata: Rasulullah shalat bersama kita dengan beberapa shalat yang dikeraskan bacaannya. Lalu beliau bersabda: “Sungguh janganlah salah satu dari kalian membaca (Al-Qur’an) ketika aku mengeraskan bacaanku kecuali dengan membaca Ummul Qur’an (Surat شl-Fatihah).” (HR. An-Nasa’i)

Tidak dianjurkannya makmum membaca surat atau ayat Al-Qur’an ketika selesai membaca al-Fatihah hanya terkhusus pada shalat yang dikeraskan bacaannya. Sedangkan pada shalat yang dilirihkan bacaannya (sirriyah) membaca surat atau ayat Al-Qur’an adalah hal yang dianjurkan.

Alasan dilarangnya membaca surat atau ayat Al-Qur’an pada shalat yang dikeraskan bacaannya adalah karena pada saat-saat tersebut hal yang dianjurkan bagi makmum adalah mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Imam. Hal ini sesuai dengan Firman Allah:

وَإِذَا قُرِئ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُواْ لَهُ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat” (QS Al-A’raf: 205)

Terkait pertanyaan kedua, yakni tentang membaca surat atau ayat Al-Qur’an pada rakaat ketiga dan keempat, kita bisa merujuk kitab Fath al-Mu’in. Dalam kitab ini ditegaskan bahwa membaca surat atau ayat Al-Qur’an pada rakaat ketiga dan keempat adalah hal yang tidak disunnahkan, sehingga tidak baik untuk dilakukan, baik bagi makmum yang sedang melaksanakan shalat jamaah atau bagi orang yang melaksanakan shalat sendirian (munfarid). Sehingga, rakaat ketiga dan keempat cukup hanya dengan membaca Surat al-Fatihah saja. Berikut referensi yang menjelaskan tentang hal ini:

ـ )و( تسن )في( الركعتين )الاوليين( من رباعية أو ثلاثية، ولا تسن في الاخيرتين إلا لمسبوق بأن لم يدرك الاوليين مع إمامه فيقرؤها في باقي صلاته إذا تداركه ولم يكن قرأها فيما أدركه

“Disunnahkan (membaca surat atau ayat Al-Qur’an) pada dua rakaat yang pertama dari shalat yang berjumlah empat rakaat atau tiga rakaat, dan tidak disunnahkan (membaca surat atau ayat Al-Qur’an) pada dua rakaat yang akhir kecuali bagi makmum masbuq, dengan gambaran ia tidak menemui dua rakaat awal besertaan imam, lalu ia (mestinya) membaca surat atau ayat Al-Qur’an pada rakaat shalatnya yang tersisa ketika bersama dengan imam, tapi ia tidak membacanya.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 175)

Rumusan di atas juga sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ وَيُسْمِعُنَا الآيَةَ أَحْيَانًا وَيَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ الأُخْرَيَيْنِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. مسلم

“Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW membaca surat Al-Fatihah dan Surat dalam Al-Qur'an pada awal dzuhur dan ashar. Terkadang bacaan ayat terdengar oleh kita. Dan beliau membaca surat al-Fatihah (saja) pada dua rakaat yang akhir.” (HR. Muslim)

Namun ketidaksunnahan membaca surat atau ayat Al-Qur’an setelah al-Fatihah pada rakaat ketiga dan keempat tidak berlaku bagi makmum masbuq yang menemui imam pada rakaat ketiga dan tidak sempat membaca surat atau ayat Al-Qur’an pada rakaat pertama dan kedua pada shalat yang dilakukannya. Maka dalam keadaan demikian ia disunnahkan membaca surat atau ayat Al-Qur’an pada rakaat ketiga dan keempat dalam shalatnya. Hal ini sebagai ganti atas rakaat pertama dan kedua yang tidak sempat untuk membaca surat atau ayat Al-Qur’an usai al-Fatihah. 

Berbeda ketika makmum masbuq di atas masih mungkin untuk membaca surat atau ayat Al-Qur’an pada rakaat pertama dan kedua, maka dalam keadaan demikian ia tidak disunnahkan untuk membaca surat atau ayat Al-Qur’an pada rakaat ketiga dan keempat. Sebab ia dianggap teledor karena telah meninggalkan bacaan surat atau ayat Al-Qur’an pada dua rakaat pertamanya. Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam kitab Hasyiyah I’anah at-Thalibin:

أن المدار على إمكان القراءة وعدمها، فمتى أمكنت القراءة ولم يقرأ، لا يقرأ في الباقي، لانه مقصر بترك القراءة.

“Sesungguhnya hal yang menjadi pijakan adalah mungkinnya membaca (surat atau ayat Al-Qur’an) atau tidak. Ketika makmum (masbuq) masih mungkin untuk membaca surat-suratan namun ia tidak membacanya, maka ia tidak boleh membaca surat-suratan pada rakaat yang tersisa (Rakaat ketiga atau keempat), sebab ia telah teledor dengan meninggalkan membaca surat-suratan (pada rakaat pertama dan kedua)” (Syekh Abu Bakr Muhammad Syatha, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, juz 1, hal. 176)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ketika makmum telah selesai membaca Surat Al-Fatihah pada rakaat pertama dan kedua, maka tidak disunnahkan baginya untuk membaca bacaan surat atau ayat Al-Qur’an, atau bacaan lainnya, sebab hal yang dianjurkan baginya adalah mendengarkan bacaan imam. Sedangkan hukum membaca surat atau ayat Al-Qur’an pada rakaat ketiga dan keempat adalah hal yang tidak disunnahkan sehingga tidak baik untuk dilakukan. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember