IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Imam at-Thabari Sedih atas Rendahnya Minat Baca

Senin 29 April 2019 12:0 WIB
Share:
Ketika Imam at-Thabari Sedih atas Rendahnya Minat Baca
Dalam kitab Thabaqât al-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Imam Tajuddin Abdul Wahhab al-Subki mencantumkan sebuah riwayat gundahnya Imam at-Thabari tentang rendahnya minat baca. Berikut riwayatnya:

وروى أَن أَبَا جَعْفَر قَالَ لأَصْحَابه: أتنشطون لتفسير الْقُرْآن قَالُوا كم يكون قدره فَقَالَ ثَلَاثُونَ ألف ورقة فَقَالُوا هَذَا مِمَّا تفنى الْأَعْمَار قبل تَمَامه, فَاخْتَصَرَهُ فى نَحْو ثَلَاثَة آلَاف ورقة
ثمَّ قَالَ: هَل تنشطون لتاريخ الْعَالم من آدم إِلَى وقتنا هَذَا, قَالُوا كم قدره, فَذكر نَحوا مِمَّا ذكره فى التَّفْسِير, فأجوبوه بِمثل ذَلِك فَقَالَ إِنَّا لله مَاتَت الهمم فَاخْتَصَرَهُ فى نَحْو مَا اختصر التَّفْسِير

Diriwayatkan bahwa Abu Ja’far (at-Thabari) berkata pada teman-temannya: “Apakah kalian senang (mempelajari) tafsir Al-Qur’an?” Mereka menjawab: “Berapa (lembar) kira-kira (tebal)nya?” Abu Ja’far berkata: “Tiga puluh ribu lembar.” Mereka berkata: “Ini akan mengabiskan usia sebelum selesai (membaca)nya.” Maka Abu Ja’far meringkas kitab tafsirnya sekitar tiga ribu lembar saja.

Kemudian ia bertanya (lagi): “Apakah kalian senang (mempelajari) sejarah dunia dari mulai Adam sampai masa kita sekarang ini?”  Mereka menjawab: “Berapa (lembar) kira-kira (tebal)nya?” Abu Ja’far menyebut hampir sama dengan kitab tafsir tadi. Maka jawaban mereka sama persis dengan pertanyaan pertama. Kemudian Abu Ja’far berkata: “Innâ lillâhi, semangat (benar-benar) telah mati.” Maka at-Thabari meringkas kitab sejarahnya sesuai dengan (jumlah halaman) kitab tafsirnya. (Imam Tajuddin al-Subki, Thabaqât al-Syâfi’iyyah al-Kubrâ, Kairo: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, tt, juz 3, h. 123)

****

Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Thabari (224-310 H) adalah seorang mujathid (pendiri mazhab Jariri), mufassir, muhaddits, sejarahwan, ahli fiqih dan cukup menguasai ilmu kedokteran. Ia menulis banyak kitab, sebut saja Tahdzîb al-Atsâr, al-Tabshîrah fî Ma’âlim al-Dîn, Ikhtilâf al-‘Ulamâ’ al-Amshâr fî Ahkâm Syarâ’i’ al-Islâm, al-Fashl bain al-Qirâ’ât, Sharîh al-Sunnah, dan lain sebagainya. 

Di antara kitab-kitabnya, yang paling terkenal adalah Tarîkh al-Umam wa al-Mulûk (Tarîkh at-Thabari, kitab sejarah) dan Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wîl Ayyi al-Qur’ân (Tafsîr at-Thabari, kitab tafsir). Dua kitab inilah yang ditanyakan Imam at-Thabari kepada teman-temannya, tapi jawaban mereka membuatnya mengernyitkan dahi. Hal pertama yang mereka tanyakan adalah seberapa tebal dua kitab itu, bukan pertanyaan ‘seperti apa isinya’, ‘bagaimana metodologi penyusunannya’, atau ‘kenapa penting membacanya’. Tentu saja jawaban mereka membuat Imam at-Thabari kecewa, sampai ia mengatakan, “innâ lillâhi! mâtat al-himam—sungguh kita adalah milik Allah! Semangat benar-benar telah hilang.” Akhirnya, ia memutuskan untuk meringkas dua kitab itu, dan ringkasan itulah yang sampai pada kita sekarang ini.

Bayangkan saja, jika Imam at-Thabari tidak meringkas dua kitab itu, kita akan disuguhi data yang kaya dan melimpah. Wawasan kita tentang tafsir akan bertambah. Informasi kita tentang sejarah akan semakin luas. Kitab yang sampai kepada kita sekarang ini hanya sepuluh persennya saja, tiga ribu lembar dari tiga puluh ribu. Memang sih, tiga ribu halaman sudah cukup berat untuk dibaca, bahkan mungkin kita tidak pernah membacanya sama sekali.

Apalagi sekarang ini, kita berada di masa yang membingungkan. Maksudnya, minat komentar kita lebih besar dari minat baca kita; minat share kita lebih tinggi dari minat meneliti kita; minat menghakimi kita lebih unggul dari minat memahami kita. Jadi, ya ada hikmahnya juga sih Imam at-Thabari meringkas kitabnya, jika tidak, mungkin puluhan ribu halaman itu sekadar tulisan yang tak pernah bertemu mata. Bisa jadi hanya menjadi beban penerbit karena biaya yang dikeluarkan terlalu besar untuk mencetaknya.

Tentunya kita semua tahu, menuntut ilmu hukumnya wajib, dan membaca adalah pintu masuknya. Banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menekankan ini. Rasulullah bersabda (HR. Imam al-Bukhari dan Imam al-Muslim):

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ  أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

“Barangsiapa yang menginginkan (hal-hal yang berkaitan) dunia, maka ia harus (menguasai) ilmu(nya). Barangsiapa yang menginginkan (hal-hal yang berkaitan) akhirat, maka ia harus (menguasai) ilmu(nya). Barangsiapa yang menginginkan keduanya, maka ia harus (menguasai) ilmu(nya).”

Maka dari itu, kita harus mulai menggemarkan diri membaca. Dengan membaca, kita diakrabkan dengan banyak pikiran, sudut pandang dan wawasan. Rene Descrates berkata, “The reading of all good books is like a conversation with the finest minds of past centuries—membaca buku-buku bagus seperti berbincang dengan pikiran terbaik dari masa lalu.” Sebab, dalam buku terdapat banyak misteri, seperti berpetualang dalam hutan, setiap kali kita memasukinya, setiap kali itu pula kita menemukan fenomena baru, pengalaman baru, tempat baru dan suasana baru. Imam al-Muzani mengatakan:

قرأت كتاب الرسالة للشافعي خمسمائة مرة، ما من مرة منها إلا واستفدت فائدة جديدة لم أستفدها في الأخرى

“Aku sudah membaca kitab al-Risalah karya Imam Syafi’i lima ratus kali, setiap kali membacanya, aku menemukan faidah baru (ilmu baru) yang tidak kutemukan (di saat membacanya) di waktu lain.” (Syekh Abdul Halim al-Jundi, Imâm al-Syâfi’i: Nâshir al-Sunnah wa Wâdli’ al-Ushûl, Kairo: Darul Ma’arif, tt, h. 195)

Dengan banyak membaca buku, dan menelaah isinya dengan sungguh-sungguh, kita sedang melakukan proses pendewasaan pikiran, perspektif dan wawasan. Buku adalah pintu masuk pengetahuan sekaligus pintu keluar pengalaman. Artinya, memilih bacaan tak kalah pentingnya dari membaca. Jika sekadar membaca, orang-orang sudah melakukannya dengan membaca status di media sosial dan membuat status agar dibaca orang. 

Karena itu, kita perlu belajar pada Malcolm X, seorang pelaku kriminal yang tidak berpendidikan. Ia, tiba-tiba saja, berubah menjadi orator ulung, ahli diskusi luar biasa, dan intelektual mumpuni. Ia menjadi tokoh Islam yang berpengaruh karena kegemarannya membaca dan belajar. Ia mengatakan, “My alma mater was books, a good library. I could spend the rest of my life reading, just satisfying my curiosity—almamaterku adalah buku, (dan) perpustakaan yang bagus. Aku bisa menghabiskan sisi hidupku membaca, hanya untuk memuaskan keingin-tahuanku.” Jadi, tunggu apa lagi, ayo membaca!

Wallahu a’lam...


Muhammad Afiq Zahara, alumni Pondok Pesantren Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.


Share:
Senin 29 April 2019 18:0 WIB
Antara Bakti kepada Sang Ibu dan Punya Istri Muda
Antara Bakti kepada Sang Ibu dan Punya Istri Muda
Ilustrasi (BBC)
Pagi itu Pak Fulan dipanggil ibunya – sebut saja Bu Basuki.  Ada persoalan penting yang akan dibicarakan sang ibu bersama  Pak Fulan sehubungan aduan istri Pak Fulan dan anak-anaknya bahwa Pak Fulan telah memiliki istri muda.  Sang ibu sangat sedih mendengar aduan itu karena berpengaruh langsung terhadap kebahagiaan cucu-cucunya serta seorang ibu yang telah melahirkan dan membesarkan  mereka.

“Kemarin istri dan anak-anakmu datang kemari. Mereka menangis sesunggukan mengapa kamu diam-diam menikah lagi. Benar kamu menikah lagi?” tanya Bu Basuki kepada Pak Fulan yang seorang saudagar kaya raya itu. 

“Benar, Bu,” jawab Pak Fulan jujur. 

“Aku memanggilmu kemari  bukan untuk mengajakmu berdebat soal apa hukum poligami. Terus terang, di antara semua anakku, aku menilai kamu adalah anak paling berbakti. Tapi aku sangat sedih kamu punya istri lagi. Sebagai sesama perempuan aku bisa merasakan betapa hancur hati istrimu. Sebagai seorang nenek, aku tak tega melihat cucu-cucuku menangis meratapi nasib ibunya yang dimadu.”

Pak Fulan diam seribu bahasa. Ia memang tak terbiasa membantah kata-kata ibunya. Apa yang diperintahkan ibunya ia jalankan, dan apa yang dilarangnya ia tinggalkan. Bakti Pak Fulan kepada ibunya tak ada yang meragukan. Semua orang tahu itu. Mungkin berkat itulah, Pak Fulan selalu sukses dalam setiap bisnisnya. 

“Saya mohon maaf Bu atas pernikahan kami yang kedua secara diam-diam,” kata Pak Fulan pelan sambil menundukkan kepala. 

“Tidak cukup kamu minta maaf. Kamu juga harus menceraikan istri mudamu,” jawab Bu Basuki tegas. 

“Tetapi kamu tidak boleh menceraikannya begitu saja. Kamu harus memberikan kompensasi yang pantas agar ia tetap memiliki masa depan yang baik. Aku juga perempuan dan bisa membayangkan betapa sakitnya dicerai. Tapi menurutku, itu risiko perempuan mau dijadikan istri kedua.” 

Beberapa hari kemudian Pak Fulan benar-benar menceraikan istri mudanya yang dinikahinya setahun silam dan belum dikaruniai seorang anak. Mereka telah menyepakati perceraian itu dengan kompensasi yang pantas sebagaimana pesan Bu Basuki. Mantan istri muda Pak Fulan mendapatkan rumah indah yang ia tinggali selama ini beserta seluruh isinya, termasuk sebuah mobil baru. Tidak hanya itu ia juga menerima sejumlah uang yang cukup besar untuk membuka sebuah usaha.  Ia optimistis menatap masa depannya. Ia masih muda. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. 

Jumat 26 April 2019 16:0 WIB
Gus Baha’ soal Logika Jual Beli versus Riba
Gus Baha’ soal Logika Jual Beli versus Riba
KH Bahaudin Nur Salim, dari Rembang, Jawa Tengah, mengaku pernah membeli buku-buku ekonomi Islam sampai tidak terhitung, saking banyaknya. Yang dibeli rata-rata dari kitab berbahasa Arab, tapi beberapa di antaranya buku ekonomi Islam berbahasa Indonesia. Tujuan utama pembelian hanya ingin mencari bukti bahwa jual beli dari kaca mata ekonomi itu lebih prospektif daripada riba. Kalau Allah melarang itu tidak sembarangan. Allah pasti bertanggung jawab atas larangannya dengan memberi solusi yang sangat bagus. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah: 275) 

Kalau ayat tersebut menjelaskan jual beli sebagai transaksi halal dan riba diharamkan, pasti bisa dibuktikan kebenarannya dengan argumentasi ilmiah, sehingga konstruksi firman Allah itu kokoh secara argumentatif. Terakhir kalinya, Gus Baha’—demikian ia biasa disapa— mendapat jawaban atas teka-teki kehalalan jual beli dan keharaman riba justru tidak bersumber dari kitab ekonomi Islam, melainkan dari kitab Hilyatul Auliya’ pada bab “Fadhâili Abdurrahman ibn Auf” (keutamaan Abdurrahman ibn Auf). 

“Ternyata, di antara fadhilah beliau (Abdurrahman bin Auf) menjadi orang kaya raya, karena tiap jual-beli itu cash (kontan). Nangis saya, sujud syukur, saya senang bukan main. Akhirnya, ketika mengaji saya jelaskan, orang sekarang baru sadar,” tandas Gus Baha’ dalam sebuah pengajian.

Abdurrahman bin Auf termasuk orang paling kaya di Madinah. Apabila dia membawa kafilah dagangnya ke China, Madinah bisa “goncang”, saking banyaknya unta Abdurahman bin Auf. Satu ketika Abdurrahman ditanya, “Kenapa anda bisa sekaya ini?” Jawab Abdurrahman, “Aku tidak pernah dagang kecuali dengan cara cash (kontan)”.

Pernah suatu kali, kata Gus Baha’, Abdurrahman bin Auf berdagang unta. Labanya, jika diuangkan rupiah Indonesia mungkin hanya untung Rp50 ribu dari harga dasar untanya Rp30 juta. Sebuah keuntungan yang tidak sebanding. Namun karena ia memegang prinsip cash, walaupun labanya hanya Rp50 ribu, saat ada sahabat lain bertanya, “Lho kok Anda tetap kaya?” Abdurrahman bin Auf menjawab, “Kamu tahu yang saya jual? 500 unta. Berarti Rp50 ribu kali 500 ekor berarti aku untung Rp25 juta. Kuncinya adalah berdagang dengan cash. Abdurrahman tidak mau ada risiko uang dibawa orang lain sehingga uangnya selalu aman.

Logika argumentasi bahwa jual beli itu halal dan riba haram adalah sebagai berikut:

(Misalnya) ada orang mempunyai uang Rp100 juta. Uang ini diutangkan kepada Musthafa untuk dikembalikan selama setahun kemudian dengan kewajiban membayar bunga setiap bulan Rp1 juta. Kalau dihitung total, uang bunga Rp1 juta dikalikan 12 bulan menjadi Rp 12 juta. Maka, uang Rp100 juta dalam setahun naik menjadi Rp112 juta. Hasil ini berlaku jika Musthafa tidak melarikan diri, pailit, meninggal dunia atau kemungkinan lain.

Sebagai perbandingan, sama-sama uang Rp100 juta dikembangkan dengan sistem jual beli yang secara nyata dihalalkan oleh Allah. Misalnya, dibelikan kambing dengan harga kulakan Rp2 juta. Kalau modal Rp2 juta dengan margin untung 10 persen, penjual akan meraup keuntungan Rp200 ribu pada setiap Rp2 juta nya. Berarti kalau uang Rp100 juta, potensi yang bisa diperoleh adalah Rp10 juta. Dari Rp10 juta tersebut diambil margin of error karena tertipu dan lain sebagainya karena dalam tahap latihan dipotong 50%, maka uang Rp100 juta laba bersihnya Rp5 juta setiap pekan di pasar kambing yang bisa jadi dalam sebulan sebanyak empat pekan.

Dengan demikian, Rp5 juta dikalikan 4 pekan, keuntungan sebulan sudah dipotong risiko 50%, potensi keuntungannya bisa Rp20 juta. Estimasi ini baru untuk satu bulan, belum setahun. Apabila kalkulasi keuntungan uang Rp100 juta dengan riba selama setahun untungnya 12 juta, maka dengan jual beli dalam sebulan bisa mendapatkan potensi keuntungan bersih Rp20 juta. Belum Rp20 juta tersebut dikalikan setahun, pasti akan berbeda jauh. Ini bukti nyata bahwa jual beli yang dihalalkan oleh Allah sangat berpotensi lebih banyak mendapatkan keuntungan daripada riba yang diharamkan Allah. 

Sangat tepat jika Al-Quran mengharamkan riba dengan jual beli sebagai solusinya. Secara matematis, jual beli sangat tampak potensi keuntungannya. Adapun jika bicara risiko, jual beli ada kemungkinan bangkrut, orang hutang juga ada potensi melarikan diri, tidak membayar hutang dan lain sebagainya. Artinya, jika menyinggung risiko, semua ada risikonya. Tapi jika bicara potensi, jual beli lebih prospektif dengan catatan semua penjualan-pembelian harus cash, safety system. Dengan demikian, Allah berani "menantang" konsep riba pasti akan kalah jika dibandingkan jual beli dengan ayat di atas. Artinya Allah bertanggung jawab. 

Argumentasi di atas namanya hujjatullah. Umat Islam harus membela agama Allah, tapi jangan hanya dengan mengancam bahwa riba mendatangkan dosa besar, tapi harus solutif. Orang Islam tidak boleh bodoh. Riba itu memang dosanya besar, tapi kebodohan dosanya lebih besar. Kalau umat Islam bodoh-bodoh, negara bisa tutup, Islam juga bisa tutup. Dalam kitab an-Nashaih ad-Diniyyah karya Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad dijelaskan:

ومن شر انواع المعاصي الجهل

Artinya: “Di antara maksiyat yang paling buruk adalah bodoh.”

Habib Abdullah bin Alwi Al-Hadad pernah marah saat orang saleh ditanya tidak bisa menjawab. “Mengapa riba bisa diharamkan? Bukankah riba dan jual beli adalah mirip: sama-sama mencari keuntungan dengan mencari selisih? “Innama al-bai'u mitslur-riba” (QS al-Baqarah: 275).

Kebodohan umat Islam bisa menyebabkan keruntuhan peradaban Islam. Oleh karena itu, maksiat yang paling buruk adalah kebodohan. Orang bodoh sulit terbuka hatinya (futuh) karena masih selalu melaksanakan kemaksiatan berupa bodohnya itu sendiri. Padahal syarat futuh adalah taat. Orang bodoh maksiat terus, sulit mendapatkan futuh karena membawa maksiat terus. (Ahmad Mundzir) 

Jumat 26 April 2019 13:0 WIB
Kisah Sayyidina Abdullah bin ‘Amr dan Tetangga Yahudi
Kisah Sayyidina Abdullah bin ‘Amr dan Tetangga Yahudi
Dalam kitab Adab al-Mufrad, Imam al-Bukhari memasukkan sebuah riwayat tentang Sayyidina Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash. Berikut riwayatnya:

حدّثنا أبو نعيم قال: حدّثنا بشير بن سليمان, عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو وَغُلَامُهُ يَسْلُخُ شَاةً فَقَالَ: يَا غُلَامُ! إِذَا فَرَغْتَ فَابْدَأْ بِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: الْيَهُودِيُّ؟ أَصْلَحَكَ اللَّهُ! قَالَ: )إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوصِي بِالْجَارِ، حَتَّى خَشِينَا—أَوْ رؤينا—أنه سيورثه( ـ

Diceritakan oleh Abu Nu’aim, ia berkata: diceritakan oleh Basyir bin Sulaiman, dari Mujahid, ia berkata:

Aku bersama Abdullah bin ‘Amr (bin al-‘Ash) dan (ketika itu) pembantunya sedang menguliti kambing. Abdullah bin ‘Amr berkata: “Wahai anak, jika kau telah selesai, berikan kepada tetangga Yahudi kita.” Lalu ada seseorang dari kaumnya berkata: “Orang Yahudi? Semoga Allah memperbaiki keadaanmu!”

Abdullah bin ‘Amr berkata: “Sesungguhnya aku telah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam berwasiat (untuk berbuat baik) kepada tetangga, sampai kami khawatir—atau (sekadar) anggapan kami—bahwa beliau akan menjadikan (tetangga) sebagai ahli warisnya.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, Kairo: Darul Basyar al-Islamiyyah, 1989, h. 57)

****

Membincangkan kisah di atas, ada benang merah yang harus kita temui pangkalnya, yaitu tafsir Surah an-Nisâ’ ayat 36. Dalam surah tersebut Allah berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan sesatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan penuh kebanggaan (diri).

Ayat di atas merupakan salah satu konsep Al-Qur’an dalam mendorong keharmonisan dunia, sekaligus menjadi pegangan dasar yang harus dianut oleh semua umat Islam. Di ayat tersebut, ada sejumlah “perbuatan baik” yang diperintahkan Allah secara berjenjang, dimulai dari yang terdekat, “berbuat baiklah kepada kedua orang tua,” sampai lepas dari sekat-sekat kekeluargaan dalam arti hubungan darah. Lalu kaitannya apa dengan kisah di atas?

Begini, dalam ayat di atas, terdapat kalimat, “wal jâril junub—tetangga jauh.” Para mufassir berbeda pendapat. Dari beragamnya pendapat mufassir, kita bisa kelompokkan dalam dua pandangan besar. Pandangan pertama, Sayyidina Ibnu Abbas menafsirkan kalimat “tetangga jauh” sebagai, “alladzî laisa bainaka wa bainahu qurâbah—orang yang tidak memiliki hubungan kekerabatan denganmu,” dan Imam Mujahid menafsirkannya sebagai, “jâruka min qaumin âkharîn—tetanggamu dari suku/bangsa yang berbeda.” (Imam al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî: Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2013, juz 4, h. 82)

Pandangan kedua, ulama yang menafsirkan kalimat “tetangga jauh” sebagai, “al-jârul musyrik—tetangga yang musyrik.” Menurut Imam Nauf al-Syami “tetangga jauh” dalam ayat tersebut adalah, “al-yahudiy wa al-nashrâniy—orang Yahudi dan Nasrani.” (Imam al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî: Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, 2013, juz 4, h. 82). Mengenai dua perbedaan penafsiran tersebut, Imam al-Thabari memilih menggabungkan keduanya. Ia berkomentar:

وأولى القولين في ذلك بالصواب، قول من قال: معنى الجنب، في هذا الموضع: الغريبُ البعيد، مسلمًا كان أو مشركًا، يهوديًا كان أو نصرانيًا

Yang lebih mendekati kebenaran dari dua pendapat tersebut adalah pendapat yang mengatakan, ‘makna jauh’ dalam hal ini adalah: (tetangga) asing yang jauh (tidak memiliki hubungan kekerabatan), baik orang Islam ataupun musyrik, baik orang Yahudi ataupun Nasrani.” (Imam al-Thabari, Tafsîr al-Thabarî: Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, 2013, juz 4, h. 82)

Artinya, perintah berbuat baik yang Allah berikan tidak terbatas pada orang yang kita kenal saja, tapi juga pada orang yang paling asing sekalipun. Jika merujuk pada dua pandangan tafsir di atas, kita diperintahkan berbuat baik tanpa memandang agama, suku, dan warna kulit. Kita diperintahkan menjaga keharmonisan dalam hidup bertetangga, karena kehidupan bertetangga merupakan pondasi dari persatuan dan permulaan dari tenggang rasa.

Penjelasan sederhananya begini, jika kita tidak bisa berbuat baik pada orang yang kita kenal atau orang yang paling sering kita jumpai (tetangga kita), bagaimana mungkin kita bisa berbuat baik pada orang yang sama sekali asing dan tidak pernah kita jumpai. Oleh karena itu, berbuat baik kepada tetangga adalah latihan menjadi manusia. Sebagai makhluk yang terus berproses, manusia diharuskan berkembang ke arah yang lebih baik setiap harinya, dan kehidupan bertetangga merupakan permulaannya, hingga para sahabat menganggap Rasulullah akan menjadikan tetangganya sebagai ahli warisnya.

Jadi, apa yang dilakukan Sayyidina Abdullah bin ‘Amr (w. 63 H) merupakan amal keteladanan. Ia sedang mengamalkan salah satu dari sekian banyak aspek penting agamanya, yaitu menjaga keharmonisan antar umat manusia, mulai dari cara yang paling kecil (berbuat baik dengan tetangganya). Perbedaan agama, warna kulit dan suku bangsa tidak menghalangi kebaikannya. Bahkan ketika melakukannya, ia sempat dikritik oleh seseorang, tapi ia tetap melakukannya. Ia menjawab kritikan tersebut dengan ilmu pengetahuan. 

Artinya, sejak dulu sudah ada orang yang memandang salah perilaku orang lain tanpa pengetahuan, hanya berdasarkan asumsi sepihak. Padahal, bisa jadi yang dilakukan orang tersebut adalah amal baik yang diperintahkan agama, seperti yang dilakukan Sayyidina Abdullah bin ‘Amr, seorang sahabat nabi yang mulia. Bahkan di riwayat lain, ia mengulangi pertanyaannya sampai dua kali:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّهُ ذُبِحَتْ لَهُ شَاةٌ، فَجَعَلَ يقول لغلامه: أهديت لجارنا اليهوي؟ أَهْدَيْتَ لِجَارِنَا الْيَهُودِيِّ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: )مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بالجار حتى ظننت أنه سيورثه( ـ

Dari Abdullah bin ‘Amr (bin Ash), sesungguhnya ia pernah disembelihkan kambing, maka ia bertanya pada pembantunya: “Kau sudah hadiahkan untuk tetangga kita yang Yahudi? Kau sudah hadiahkan untuk tetangga kita yang Yahudi? (Karena) aku mendengar Rasulullah bersabda: “Jibril senantiasa mewasiatiku (agar aku berbuat baik) kepada tetangga hingga aku mengira dia (tetangga) akan mendapatkan warisan.” (Imam al-Bukhari, Adab al-Mufrad, Kairo: Darul Basyar al-Islamiyyah, 1989, h. 50)

Karena itu, kita harus sudahi semua penghakiman buruk. Alangkah baiknya sebelum menilai, kita cari tahu terlebih dahulu ‘apakah perbuatan orang itu memiliki dasar atau tidak?’ Jangan sampai kesalahan prasangka kita, membawa orang lain turut berprasangka buruk kepadanya. Bukankah begitu seharusnya? Wallahu a’lam.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.