IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kisah Qais bin Sa’d dan Utang Teman-temannya

Jumat 17 Mei 2019 20:45 WIB
Share:
Kisah Qais bin Sa’d dan Utang Teman-temannya
Dalam kitab al-Risâlah al-Qusyairiyyah, Imam Abu al-Qasim Abdul Karim al-Qusyairi mencantumkan kisah menarik tentang Imam Qais bin Sa’d bin Ubadah. Berikut kisahnya:

وقيل: مرض قيس بن سعد بن عبادة فاستبطأ إخوانه فسأل عنهم فقيل: إنهم يستحيون مما لك عليهم من الدَّين فقال: أخزي الله تعالي مالا يمنع الإخوانه من الزيارة, ثم أمر من ينادي من كان لقيس عليه دَين فهو منه في حل فكسرت عتبته بالعشي لكثرة من عاده

Dikisahkan: Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah jatuh sakit. Teman-temannya lambat (atau tidak ada yang menjenguknya). Qais bin Sa’d menanyakan mereka, dan dijawab: “Sesungguhnya mereka malu (menjenguk)mu karena masih memiliki utang padamu.”

Qais bin Sa’d berkata: “Allah akan menghinakan harta yang menghalangi saudara-saudaranya untuk berkunjung.” Kemudian Qais memerintahkan seseorang untuk mengumumkan bahwa barangsiapa yang berutang pada Qais, maka ia telah membebaskannya.

Lalu di sore harinya, ambang pintu (rumah)nya rusak karena terlalu banyaknya orang yang (datang) menjenguknya. (Imam Abu al-Qasim Abdul Karim, al-Risâlah al-Qusyairiyyah, Kairo: Darul Hadits, 2014, h. 136)

****

Sebelum kita membahas kisah di atas, kita harus tahu terlebih dahulu siapa Sayyidina Qais bin Sa’d bin ‘Ubadah. Ia adalah seorang sahabat nabi dari kaum Anshar. Ia terkenal sangat cerdas dan licik sebelum masuk Islam. Setelah masuk Islam, ia merubah gaya hidupnya dan menawarkan diri menjadi pelayan nabi. Ia mengatakan, “shahibtun nabiyya shallallahu ‘alaihi wasallam ‘asyar sinîna—aku mendampingi nabi sepuluh tahun lamanya.” Sayyidina Anas bin Malik, pelayan nabi lainnya, berkata tentangnya: “kâna Qais bin Sa’d minan nabiyyi bi manzilati shâhibisy syurthah minal amîr—posisi Qais bin Sa’d untuk nabi seperti perwira tinggi untuk seorang pemimpin.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, Beirut: Muassasah al-Risalah, 2001, juz 3, h. 104). Ia menikah dengan saudara perempuan Sayyidina Abu Bakar, Qaribah binti Abu Quhafah.

Sayyidina Qais dan keluarganya sangat terkenal dengan kedermawanannya. Mereka tidak segan membantu orang yang membutuhkan tanpa pamrih. Ayahnya, Sayyidina Sa’d bin Ubadah, sangat masyhur kedermawanannya, begitu pula kakek buyutnya, hingga ada ungkapan yang terkenal di Yatsrib, “siapapun yang menyukai daging tebal, datanglah ke rumah Dulaim bin Haritsah.” Dulaim adalah kakek buyut dari Sayyidina Qais bin Sa’d bin Ubadah bin Dulaim bin Haritsah. (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, 2001, juz 3, h. 103).

Kedermawanan Sayyidina Qais bin Sa’d terbilang di atas rata-rata. Ia tidak ragu berutang demi memenuhi kebutuhan orang lain yang membutuhkannya. Dalam sebuah riwayat dikatakan:

كان قيس بن سعد يطعم الناس في أسفاره مع النبي—صلى الله عليه وسلم—وكان إذا نفد ما معه تدين، وكان ينادي في كل يوم، هلموا إلى اللحم والثريد

Qais bin Sa’d memberi makan orang-orang dalam perjalanannya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, jika ia kehabisan apa yang bersamanya (miliknya), ia akan berutang, dan berseru (kepada orang-orang) setiap hari, kemarilah (untuk memakan) daging dan tsarîd (roti yang berkuah).” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lâm al-Nubalâ’, 2001, juz 3, h. 107)

Kedermawanannya sampai membuat Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar khawatir bahwa ia akan menghabiskan harta ayahnya. Karena Qais bin Sa’d tak segan berutang untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Dalam sebuah riwayat dikisahkan:

كان قيس يستدين ويطعمهم، فقال أبو بكر وعمر: إن تركنا هذا الفتى، أهلك مال أبيه

Qais (sering) berutang dan memberi makan orang-orang. Abu Bakar dan Umar berkata: “Jika kita biarkan pemuda ini (tetap melakukannya), dia akan menghabiskan harta ayahnya.” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Darul Fikr, 1997, juz 49, h. 415)

Ketika ayahnya, Sayyidina Sa’d bin Ubadah mendengar perkataan Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar, ia tidak sependapat dengan mereka. Ia sangat bangga terhadap kedermawanan anaknya, Qais bin Sa’d. Ini menunjukkan bahwa ayahnya sangat mendukung perbuatan anaknya, meski ia tahu maksud Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar adalah baik. Respon yang sama juga ditunjukkan olehnya ketika ada sebagian orang yang melaporkan kedermawanan Sayyidina Qais yang dianggap berlebihan. Riwayat tersebut mengatakan:

خرج قيس بن سعد في جيش فيهم عمر بن الخطّاب, فجعل قيس ينفق علي الجيش حتي قفلوا, فقال بعضعم لسعد: إنّ ابنك فيس لم يزل ينفق علي الجيش حتي قفلوا, فقال سعد: أتبخلوني في ابني, والله إنّي لأحمده علي السخاء وأذمّه علي البخل

Qais keluar (berpergian) dengan pasukan yang di dalamnya ada Umar bin Khattab. Qais membiayai (kebutuhan) pasukan hingga mereka kembali. Sebagian dari pasukan tersebut melapor kepada Sa’d (ayah Qais): “Sesungguhnya anakmu, Qais, selalu membiayai (kebutuhan) pasukan (selama perjalanan) hingga mereka kembali.” Sa’d berkata: “Apa kalian hendak membuat bakhil anakku (dengan melaporkan ini). Demi Allah, sesungguhnya aku sangat memuji Allah atas kedermawanan, dan aku sangat mencela kebakhilan.” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, 1997, juz 49, h. 415)

Kisah di atas adalah sedikit gambaran tentang kedermawanan Sayyidina Qais dari sekian banyak kedermawanannya, yang tanpa ragu dan berat menghapus utang semua sahabatnya. Jika kita amati, kisah tersebut mengandung beberapa pelajaran penting. 

Pertama, Sayyidina Qais takut seluruh harta yang dimilikinya akan dihinakan Allah karena telah menghalangi tersambungnya tali silaturahim antar teman dan saudara, meski harta tersebut didapatkan dengan cara yang halal. Baginya, harta yang menjadi penghalang amal ibadah orang lain sangat hina dan buruk. Ia takut bagaimana mempertanggung-jawabkannya kelak di akhirat. 

Kedua, utang seringkali menjauhkan silaturahim, membentangkan kedekatan, dan merusak hubungan. Bahkan, untuk orang yang sangat terkenal kemurahan hati dan kedermawanannya seperti Sayyidina Qais, orang-orang masih takut dan malu untuk menjenguk, apalagi jika yang memberi utang adalah orang biasa yang tidak dikenal rekam jejak kedermawanannya.

Ketiga, ketiadaan teman dan saudara yang menjenguknya, lalu sangat ramai ketika semua utang-utang mereka dihapus hingga ambang pintu rumahnya rusak, menunjukkan bahwa hampir seluruh orang yang memiliki hubungan dengannya pernah dibantunya, baik berupa pemberian cuma-cuma maupun dalam bentuk utang. 

Jika perilaku semacam ini tidak kita sebut “kemurahan hati” dan “kedermawanan”, lalu dengan istilah apa lagi kita menyebutnya? Pertanyaannya, bisakah kita meneladani Sayyidina Qais bin Sa’d sedikit saja? Ya, barang 5-10 persen dari kedermawanannya. Tentu tidak mudah, tapi tetap harus dicoba, bukan? Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen 

Share:
Kamis 16 Mei 2019 15:30 WIB
Belajar Qanaah dalam Menu Makan di Bulan Puasa
Belajar Qanaah dalam Menu Makan di Bulan Puasa
Di hari ketiga bulan puasa, suasana sahur di rumahku berbeda dari dua hari sebelumnya. Ada sedikit kerewelan. Hari pertama kami makan sahur dengan martabak. Hari kedua dengan oseng brokoli. Hari ini dengan sayur asem. Tapi si bungsuku tak mau makan sahur dengan sayur asem. Ia minta dibuatkan telor ceplok dan mie goreng. 

Ya, kami makan sahur hari ini dengar sayur asem. 

“Sahur kok pakai sayur asem. Anyep lagi,” kataku penuh keheranan. 

“Sayur itu dari tetangga,” jawab istriku. 

“Kapan dia ke sini?

“Ya kemarin menjelang buka,” lanjut istriku.

Istriku memang tidak suka rewel soal menu makan. Aku mencoba mengikuti agar sama-sama biasa dengan apa yang ada. Qanaah! 

Sambil sedikit cekikikan istriku menikmati makan sahur dini hari itu. Ternyata ia merasa geli melihat piringku berisi nasi dan mie goreng yang basah dengan kuah sayur asem. Si bungsu memberiku sedikit mie goreng yang menjadi haknya. Mungkin ia tidak tega melihatku. 

“Ini luar biasa,” kataku sambil tertawa lebar. 

“Matur nuwun Jo... atas menu sahur hari ini,” lanjutku kepada bojo (sang istri). 

*** 

Itulah ringkasan cerita kegiatan sahur di keluargaku lima tahun lalu, atau tepatnya pada tanggal 3 Ramadhan 1435 H/1 Juli 2014. Cerita itu kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami” (2016).

Qanaah adalah salah satu akhlak terpuji. Sebaliknya sikap tamak dan tak puas dengan apa yang ada merupakan akhlak yang buruk sebab tidak mencerminkan rasa syukur kepada Allah subhanu wataála.

Apa yang dilakukan istri saya pada saat sahur di atas terkait sayur asem dari tetangga adalah mengajak untuk sama-sama belajar berqanaah, apalagi di bulan Puasa yang tentu hikmahnya sangat besar. Qanaah dalam hal makan memang ada rujukannya, yakni hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai berikut: 

وكل مما يليك

Artinya, “Makanlah dari apa-apa yang ada di dekamu.” (HR: Bukhari dan Muslim)

Banyak ulama menjelaskan bahwa hadits tersebut mengajarkan kepada kita untuk berqanaah. Hadits itu tidak saja bermakna bahwa kita tidak sebaiknya menginginkan makanan yang berada jauh dari jangkauan kita, lalu meminta orang lain mengambilkan, tetapi juga bermakna bahwa kita sebetulnya tidak perlu mencari apa yang tidak ada. Cukuplah menyantap apa yang sudah tersedia di meja.   

Hal seperti itulah yang ingin dicoba istri saya pada hari itu supaya kami sebagai orang tua memberikan contoh kepada anak-anak agar terbiasa berqanaah dalam menu makan. Istri saya tentu tidak salah sebab seperi itulah yang dicontohkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam hadits lain Rasulullah mengatakan:

وكن قنعًا تكن أشكر الناس

Artinya, “Dan jadilah seorang yang qanaah, niscaya engkau menjadi manusia yang paling bersyukur.” (HR. Ibnu Majah)

Jadi bagi kami menerima kiriman sayur asem dari tetangga sebagai sedekah di bulan Ramadhan merupakan sesuatu yang harus kami syukuri. Bahwa kemudian sayur itu oleh istri saya disajikan untuk makan sahur yang mungkin kurang pas dari segi waktu, justru itulah relevansinya dengan belajar berqanaah. Maka di akhir sahur saya mengucapkan terima kasih kepada istri saya atas ajakannya untuk menjadi orang bersyukur.  


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

Rabu 15 Mei 2019 16:30 WIB
Ketika Nabi Musa Bingung Cara Bersyukur kepada Allah
Ketika Nabi Musa Bingung Cara Bersyukur kepada Allah
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat sebuah riwayat tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang kebingungan bersyukur. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، أَخْبَرَنَا أبِي، أَخْبَرَنَا هَاشِمٌ، أَخْبَرَنَا صَالِحٌ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيِّ، عَنْ أَبِي الْجَلْدِ قَالَ: قَالَ مُوسَى: إِلَهِي، كَيْفَ أَشْكُرُكَ وَأَصْغَرُ نِعْمَةٍ وَضَعْتَهَا عِنْدِي مِنْ نِعَمِكَ لَا يُجَازِي بِهَا عَمَلِي كُلُّهُ؟ قَالَ: فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ أَنْ يَا مُوسَى، الْآنَ شَكَرْتَنِي

Abdullah bercerita, Ayahku mengabarkan, Hasyim mengabarkan, Shalih mengabarkan, dari Abu ‘Imran, dari Abu al-Jald, ia berkata:

“Musa berkata: “Tuhanku, bagaimana cara(ku) bersyukur kepada-Mu, sedangkan nikmat terkecil yang Kau letakkan di sisiku, termasuk nikmat-nikmat-Mu yang tidak mungkin berbalas dengan semua amalku?”

Kemudian Allah mewahyukan kepada Musa, (Allah berfirman): “Wahai Musa, sekarang ini kau sudah bersyukur kepada-Ku.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 85)

****
Dalam beragama banyak hal yang perlu diperbincangkan, termasuk “syukur”. Allah berfirman (QS. Ibrahim: 7):

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ, وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami tambah nikmat kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangat pedih.”

Namun, banyak orang yang tidak tahu bagaimana seharusnya ekspresi syukur itu, karena kadar nikmat yang Allah berikan kepada kita tidak mungkin diimbangi dengan semua amal baik kita. Belum lagi dosa yang semakin menjauhkan kita. Sampai Nabi Musa ‘alaihissalam bingung bagaimana cara mensyukuri nikmat Allah yang sedemikian banyak, bahkan yang terkecilnya saja tidak sanggup diimbangi oleh semua amalnya.

Di sinilah Allah menunjukkan kasih sayangNya. Salah satu nama-Nya (al-Asmâ’ al Husnâ) adalah, “al-Syakûr—Yang Maha Mensyukuri”, yaitu Allah mengapresiasi semua amal yang dilakukan hambaNya. Bahasa zaman sekarangnya, Allah itu Maha Mengapresiasi, dan menerima amal hamba-Nya, sekecil apapun itu. Dalam sebuah hadits diceritakan (HR. Imam Muslim):

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ صلي الله عليه وسلم قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيْقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ فَاَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللهُ لَهُ، فَغَفَرَ اللهُ لَهُ

“Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: “Suatu ketika ada laki-laki yang berjalan di sebuah jalan, ia menemukan dahan berduri lalu menyingkirkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya (menerima amalnya), kemudian Allah mengampuninya.”

Dalam hadits di atas, ada kalimat, “syakarallahu lahu—Allah berterima kasih kepadanya,” yang mengindikasikan diterimanya amal laki-laki tersebut. Artinya, setiap kali ada hamba-Nya yang beramal, Allah akan berterima kasih dengan cara menerima amalnya. Dan, kisah di atas merupakan gambaran termudah dari sifat “al-Syakûr” Allah.

Kita pun harus tahu, bahwa kebingungan Sayyidina Musa adalah kebingungan yang bernilai tinggi. Kebingungan yang berasal dari ketaatan dan kesalehannya. Bukan kebingungan sembarangan. Karena tidak banyak orang yang memandang dirinya terlebih dahulu sebelum bersyukur. Mereka hanya bersyukur saja, tanpa repot mentafakkuri begitu melimpahnya nikmat Allah, yang jika dibahasakan tidak ada kalimat yang bisa melukiskan keberlimpahannya.

Dalam kebingungannya itu, Sayyidina Musa ‘alaihissalam menampilkan penghambaannya. Karena ia tahu begitu banyak nikmat Allah di sekelilingnya, hingga ia merasa tak pantas “berterima kasih”. Jika yang terkecil saja masih terlalu besar andai ditimbang dengan semua amalnya, apalagi nikmat-Nya yang terbesar. Inilah yang dimaksud kebingungan yang berasal dari kesalehan, karena orang saleh terbiasa mengukur dirinya sendiri terlebih dahulu; apakah ia laik atau tidak. Oleh sebab itu, tidak sedikit para wali yang kebingungan dalam bersyukur, hingga sebagian dari mereka berdoa:

اللهمّ إِنَّكَ تَعْمَلُ عَجْزِي عَنْ مَوَاضِعِ شُكْرِكَ، فَاشْكُرْ نَفْسَكَ عَنِّي

“Ya Allah, sungguh Kau mengetahui ketidak-mampuanku bersyukur sesuai dengan (semua karunia)-Mu, maka bersyukurlah pada DiriMu sendiri sebab (ketidak-mampuan)ku (itu).” (Imam Abu Bakr Muhammad al-Kalabadzi, Kitâb al-Ta’arruf li Madzhab Ahl al-Tashawwuf, Kairo: Maktabah al-Khanji, tt, h. 71)

Akan tetapi, bukan berarti kita berhenti bersyukur. Kita harus tetap bersyukur atas nikmat-nikmat Allah. Jika kita berhenti bersyukur karena alasan di atas, artinya kita telah menyamakan diri kita dengan Nabi Musa; kita telah menyamakan kualitas kesalehan kita dengannya. Padahal, Nabi Musa, dalam kisah di atas, sedang mempersembahkan syukur dalam level tertingginya. Hadirnya perasaan “tak pantas” yang dirasakannya bukanlah rekayasa, dibuat-buat atau dipelajari, melainkan ketulusan rasa yang dihasilkan dari tafakkur diri dan sekitarnya. 

Paling tidak, kita bisa mensyukuri nikmat Allah dengan berusaha istiqamah mengingat-Nya di hati, lisan dan perbuatan; mengenali pemberian-Nya dan memanfaatkannya di jalan kebaikan, seperti yang dikatakan Imam Ibnu Mandhur, “’irfânul ihsân wa nasyruhu—(syukur adalah) mengetahui kebaikan dan menyebarkannya.” (Imam Abu al-Fadl Jamaluddin Muhammad bin Mandhur al-Anshari, Lisân al-‘Arab, Kairo: Darul Ma’arif, tt, juz 4, h. 2305). Dalam bahasa hadits dikatakan, “khairunnâs anfa’uhum linnâs—sebaik-baiknya mansuia adalah yang paling bermanfaat untuk lainnya.” 

Sebagai penutup, kita perlu menghayati doa Nabi Musa di bawah ini, karena bedoa juga termasuk bentuk syukur kepada Allah. Bila perlu, kita seringkan membaca doa di bawah ini:

اللَّهُمَّ لَيِّنْ قَلْبِي بِالتَّوْبَةِ، وَلَا تَجْعَلْ قَلْبِي قَاسِيًا كَالْحَجَرِ

“Ya Allah, lunakkan hatiku dengan taubat, dan jangan jadikan hatiku mengeras seperti batu.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 85)

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.
 
Rabu 15 Mei 2019 15:0 WIB
Jangan Mubazir, apalagi di Bulan Puasa!
Jangan Mubazir, apalagi di Bulan Puasa!
Waktu itu pukul 03.45. Semua orang di keluargaku mau bangun, tetapi si sulung hanya bangun sebentar untuk minum air putih dan kemudian kembali tidur. Sedangkan si bungsu meskipun terlihat masih ngantuk, ia mau makan bersama kedua orang tuanya. 

Si bungsu mencoba mencicipi oseng kikil, tapi tidak menunjukkan seleranya. Katanya, rasanya beda dari biasanya. Ia memilih makan dengan mie goreng. Aku duduk di sebelah kanannya dan makan mie soto tanpa nasi. Aku tak meminati oseng kikil itu karena anak-anak bilang rasanya beda.

“Amis gimana to Jo, kikilnya?” tanyaku pada istriku.

“Bukannya amis Jo, tapi ini rasanya sangit. Mbakarnya pasti gak bener ini. Aku beli dari Yune kemarin,” istriku menjelaskan. 

“O, gitu. Ya sudah,” kataku.

Meski istriku merasakan dan mengakui rasa oseng kikil itu tidak wajar, ia tetap makan sahur dengan sayur itu. Ia berpikir jangan sampai mubazir. Ia makan nasi dengan kikil itu hingga beberapa menit menjelang imsak. 

Istriku benar. Selama oseng kikil itu masih sehat dan baik kondisinya, ya sebaiknya dimakan. Soal rasanya beda dari biasanya, ya harus disikapi dengan sabar. Lagian ini menyangkut sikap bagaimana harus menghargai usaha dan jerih payah kita sendiri. Kikil itu didapat dengan mengeluarkan uang. Untuk menjadikannya sayur oseng, dibutuhkan tenaga, waktu dan pikiran yang tak boleh disia-siakan. 

***
Itulah ringkasan cerita dari salah satu kegiatan sahur di keluarga kami lima tahun lalu, atau tepatnya pada tanggal 14 Ramadhan 1435 H/12 Juli 2014. Cerita itu kami rekam dalam sebuah buku catatan harian berjudul “Dari Sahur ke Sahur; Catatan Harian Seorang Suami” (2016). 

Apa yang dilakukan istri saya, yakni tetap mempertahankan sayur oseng kikil dan mau mengonsumsinya patut diapresiasi mengingat kondisinya yang masih baik atau sehat sehingga layak konsumsi.

Dilihat dari sisi ekonomi, hal itu menunjukkan usahanya untuk menghindari pemborosan uang dan tenaga yang tidak perlu. Dilihat dari etika agama, hal itu sesuai dengan apa yang diamanatkan di dalam Al-Qurán Surat Al-Isra, Ayat 27 sebagai berikut:

 إن المبذرين كانوا إخوان الشياطين

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah suadara setan dan setan sangat ingkar kepada Tuhannya.”

Ayat di atas memang dimaksudkan untuk mengingatkan orang-orang yang suka menyia-nyiakan atau berbuat sia-sia seperti pemborosan atau pemhamburan. Hal ini biasa disebut tabdzir, dan pelakunya disebut mubadzir(in). Oleh Al-Quran perbuatan seperti ini disetarakan dengan perbuatan setan sebab menimbulkan dampak negatif seperti pemborosan sumber-sumber dan tiadanya sikap penghargaan atas apa yang diberikan óleh Allah. 

Pemborosan bahan-bahan makanan misalnya seperti pada kasus di atas, bisa berdampak pada percepatan proses menjadi sampah sekaligus meningkatnya jumlah sampah dalam waktu relatif singkat. Apa bila hal ini dilakukan di bulan Puasa, maka nilai keburukannya lebih besar. Padahal menahan diri untuk tidak berbuat buruk di satu sisi di bulan Puasa, dan upaya memperbanyak perbuatan baik di sisi lain, adalah salah satu esensi ibadah puasa itu sendiri. 


Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.