IMG-LOGO
Trending Now:
Doa

Doa Mudah Hafal dan Paham Pelajaran

Selasa 25 Juni 2019 5:0 WIB
Share:
Doa Mudah Hafal dan Paham Pelajaran
(Foto: @ibtimes.co.uk)
Kita sering kali dituntut untuk menghafal dan memahami sebuah pelajaran. Kita tentu harus berusaha maksimal dalam menjawab tuntutan tersebut. Di tengah menjalankan upaya maksimal itu, kita juga dapat membaca doa berikut ini sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan.

Berikut ini adalah doa yang dikutip dari Kitab Perukunan Melayu Besar. Isi kitab ini diambil setengahnya dari karya Syekh Muhammad Arsyad Banjar.

فَفَهَّمْنَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِيْنَ

يَا حَيُّ، يَا قَيُّوْمُ، يَا رَبَّ مُوْسَى وَهَارُوْنَ وَرَبَّ إِبْرَاهِيْمَ، وَيَا رَبَّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِيَ الفَهْمَ وَالعِلْمَ وَالحِكْمَةَ وَالعَقْلَ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Fafahhamnā Sulaimāna, wa kullan ātaynā hukman wa ‘ilman, wa sakhkharnā ma‘a Dāwūdal jibāla yusabbihna wat thayra, wa kunnā fā‘ilīn.

Yā hayyu, yā qayyūmu, yā rabba Mūsā wa Hārūn, wa rabba Ibrāhīm, way ā rabba Muhammadin shallallāhu ‘alayhi wa sallama ‘alayhim ajma‘īn.

Allāhummarzqniyal fahma, wal ‘ilma, wal hikmata, wal ‘aqla, bi rahmatika, yā arhamar rāhimīn.

Artinya, “Kami memberikan pemahaman kepada Sulaiman. Setiap dari mereka Kami berikan kebijaksanaan dan ilmu. Kami tundukkan gunung dan burung kepada Dawud. Mereka bertasbih. Kami lah yang melakukan itu semua.

Wahai zat yang hidup, wahai zat yang tegak, wahai Tuhan Musa, Harun, Tuhan Ibrahim, wahai Tuhan Muhammad SAW.

Ya Allah, karuniakan aku pemahaman, ilmu, kebijaksanaan, dan akal dengan rahmat-Mu wahai zat yang maha pengasih,” (Lihat Perukunan Melayu Besar, [Jakarta, Alaydrus: tanpa catatan tahun], halaman 99).

Lafal ini diberi judul dengan Doa Mohon Dimudahkan Faham Hafal dalam Pelajaran. Lafal ini diharapkan dapat membantu dan memudahkan para pelajar, santri, dan mahasiswa dalam menjalankan aktivitas harian. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Senin 24 Juni 2019 6:0 WIB
Doa setelah Hujan Reda
Doa setelah Hujan Reda
(Foto: @boston.com)
Kita telah mempelajari doa ketika hujan baru turun. Kita juga telah mempelajari lafal doa saat hujan sedang berlangsung. Sedangkan berikut ini adalah lafal doa yang dapat dibaca setelah hujan reda.

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ

Muthirnā bi fadhlillāhi wa rahmatih.

Artinya, “Kita dihujani dengan anugerah dan rahmat Allah.”

Doa ini tersebut dalam Kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi Banten:

ويندب أن يقول عقب المطر مطرنا بفضل الله ورحمته

Artinya, “(Seseorang) dianjurkan membaca doa ini setelah hujan reda, ‘Kita dihujani dengan anugerah dan rahmat Allah,’” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 114).

Doa ini mengandung pengakuan rasa syukur atas air hujan sebagai karunia dan rahmat dari Allah SWT. Dengan doa ini, kita memohon semoga Allah SWT memberikan keberkahan bagi manusia dan alam semesta setelah hujan reda. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 23 Juni 2019 10:30 WIB
Doa Kelancaran Perjalanan di Jembatan Sirath
Doa Kelancaran Perjalanan di Jembatan Sirath
Yang menentukan kelancaran dan keselamatan perjalanan seseorang di atas jembatan sirath adalah amal dan rahmat Allah SWT. Sebagian ulama mengajarkan doa harian yang dapat memuluskan perjalanan seseorang di jembatan sirath dengan selamat.

“Barang siapa membaca doa ini tiap-tiap sehabis sembahyang fardhu, niscaya akan dimudahkan perjalanannya di atas shirath mustaqim,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa catatan tahun], halaman76).

Berikut ini adalah doa harian untuk kelancaran perjalanan di atas sirath:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلَهًا وَاحِدًا وَرَبًّا شَاهِدًا لَا مَعْبُوْدَ سِوَاهُ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ

Asyhadu an lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lahū ilāhan wāhidan, wa rabban syāhidan, lā ma‘būda siwāhu, wa nahnu lahū muslimūn.

Artinya, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah yang esa. Tiada sekutu bagi-Nya sebagai Tuhan yang esa dan Tuhan yang menyaksikan. Tiada zat yang (patut) disembah selain-Nya. Kami tunduk kepada-Nya,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa catatan tahun], halaman76).

Doa ini diharapkan menambal catatan amal ibadah kita kelak di akhirat. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 22 Juni 2019 19:15 WIB
Ketika Ja’far ash-Shadiq Ditanya Doa yang Mustajab
Ketika Ja’far ash-Shadiq Ditanya Doa yang Mustajab
Dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Imam Abu Bakar al-Thurthusyi memasukkan sebuah riwayat ketika Sayyidina Ja’far ash-Shadiq radliyallahu ‘anh ditanya doa yang mustajab. Berikut riwayatnya:

ما روي أن رجلا قال لجعفر الصادق: علمني دعاء أرجو إجابته، قال: أكثر من حمد الله سبحانه وادعه بما شئت، فقال الرجل: وما الحمد من الدعاء؟
فقال: إن جميع من في الأرض من المسلمين يدعون ليلهم ونهارهم أن يستجيب للحامدين، فما طنك بمن يشفع له عند الله جميع المسلمين؟ قال: وكيف ذلك
قال: أليس يقولون في كل ركعة يركعونها: سمع الله لمن حمده؟ فعليك بحمد الله—عز وجل—يستجب الله دعاءك

Dikisahkan bahwa seseorang berkata pada Ja’far ash-Shadiq: “Ajarkan kepadaku sebuah doa yang kuharap (bisa cepat) terkabul.”

Ja’far ash-Shadiq menjawab: “Perbanyaklah memuji Allah subhanahu wata’ala., dan berdoalah sesuai dengan apa yang kau kehendaki.”

Orang itu bertanya: “Apa (manfaat) pujian di dalam doa.”

Ja’far ash-Shadiq menjawab: “Sesungguhnya semua Muslim di muka bumi (ini) berdoa siang dan malam agar Allah mengabulkan (doa) orang-orang yang memuji-Nya. Menurutmu bagaimana kedudukan orang yang dibantu semua orang Islam (agar doanya dikabulkan) di sisi Allah?”

Orang tersebut bertanya lagi: “Bagaimana bisa begitu?”

Ja’far ash-Shadiq berkata: “Bukankah di setiap rakaat (shalat) mereka (mengucapkan): “sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya)? Karena itu, tetaplah memuji Allah, maka Allah akan mengabulkan doamu.” (Imam Abu Bakar al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 19-20)

****

Riwayat di atas menunjukkan sisi lain dari pentingnya memuji Tuhan di dalam doa, bahwa pujian kepada Tuhan memiliki sisi dukungan eksternal, yaitu permohonan seluruh umat Islam yang menjalankan shalat, “sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya). Untuk mengetahui pentingnya pujian dalam doa, bisa dibaca di tulisan sebelumnya, “Belajar dari Cara Nabi Ibrahim Berdoa.”

Artinya, setiap pujian kepada Allah yang diucapkan ketika berdoa mendapatkan dukungan permohonan dari seluruh umat Islam. Karena di setiap rakaat shalat, seluruh umat Islam mengucapkan, “sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya). Inilah kenapa Imam Ja’far ash-Shadiq (80/83-148 H) menganggap pujian kepada Allah sebagai salah satu sarana dikabulkannya doa. Ia mengatakan: “Sesungguhnya semua muslim di muka bumi (ini) berdoa siang dan malam agar Allah mengabulkan (doa) orang-orang yang memuji-Nya. Menurutmu bagaimana kedudukan orang yang dibantu semua orang Islam (agar doanya dikabulkan) di sisi Allah?”

Kemudian ia melanjutkan setelah ditanya, “kenapa bisa begitu?”, dengan mengatakan: “Bukankah di setiap rakaat (shalat) mereka (mengucapkan): “sami’allahu liman hamidah” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya)? Karena itu, tetaplah memuji Allah, maka Allah akan mengabulkan doamu.” 

Di sisi lain, dukungan eksternal juga harus diimbangi dengan dukungan kita terhadap orang lain (eksternal). Dengan cara mendoakan orang lain, dalam hal ini seluruh umat Islam, sebagai bentuk adab kita kepada mereka. Karena itu, Imam Abu Bakr al-Thurthusyi memasukkan mendoakan orang lain termasuk salah satu adab dalam berdoa. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengatakan:

ومن آدابه أن تسأل للمؤمنين مع نفسك، قال الله سبحانه: وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ

“Sebagian dari adab doa adalah kau memohon (berdoa) untuk orang-orang beriman bersamaan (dengan doa untuk) dirimu sendiri. Allah berfirman (QS. Muhammad: 19): “Mohonlah ampunan untuk dosamu dan (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki maupun perempuan.” (Imam Abu Bakar al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 20-21)

Jika pola berdoa semacam ini terjadi, akan tercipta lingkungan doa yang berkesinambungan, yang satu sama lainnya saling mengisi, mendoakan dan didoakan, meski tanpa kita sadari. Lingkungan semacam ini dikehendaki oleh Al-Qur’an (QS. Muhammad: 19). Kesinambungan ini dapat membuka kemungkinan maaf yang lebih luas di antara manusia. Sebab, memohonkan ampunan untuk orang lain, bisa dianggap sebagai pemberian maaf atas kesalahan-kesalahan mereka kepada kita, meski kebanyakan dari kita tidak merasakan hal tersebut. 

Memohonkan ampunan sama saja dengan meminta kepada Allah agar dosa-dosa mereka dibersihkan. Tentunya, salah satu dosa-dosa tersebut pernah dilakukan kepada kita atau kepada orang yang mendoakan lainnya. Jika pola ini dipahami dengan hati yang sadar, alangkah indahnya pergaulan sesama Muslim di sekitar kita.

Terlepas dari itu semua, kita harus meluangkan waktu untuk berdoa. Dan, ketika berdoa, jangan sampai kita melupakan pujian kepada Allah. Kita pun jangan lupa memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa kita dan dosa-dosa orang beriman lainnya. Karena Allah pasti mengampuni siapapun yang memohon ampunan kepada-Nya, sehingga di saat kita berdoa, paling tidak kita sudah agak bersih dari dosa, dan paling tidak kita mendapat tambahan pahala karena telah memohonkan ampunan untuk selain kita.

Wallahu a’lam bish shawwab


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.