IMG-LOGO
Trending Now:
Ekonomi Syariah

Sanksi Ekonomi dalam Pandangan Islam

Rabu 3 Juli 2019 22:0 WIB
Share:
Sanksi Ekonomi dalam Pandangan Islam
Ilustrasi (via fsfoa.org)

Denda (غرامة) dalam terminologi keislaman adalah masuk rumpun ta’zir/sanksi ekonomi (hukuman/sanksi). Dalam wilayah syariah, ta’zir dibebankan kepada seorang individu atau organisasi adalah karena prinsip usaha untuk mendidik (lit ta'dib) disebabkan tindakan individu atau organisasi yang berlebihan dan keluar dari batas aturan yang ditetapkan sehingga berakibat merugikan hak anak adam yang lain.

Sampai di sini, kita harus bisa membedakan antara pengertian ta’zir dengan had atau diyat. Had dan diyat umumnya sudah ditentukan oleh syariah akan besarannya. Sementara ta’zir tidak ditetapkan oleh syara', tapi dianjurkan agar dilaksanakan. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

لِتُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا


Artinya: "Supaya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan agama-Nya, membesarkan-Nya dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang." (QS. Al-Fath: 9)

At-Thabari dalam kitab tafsirnya Jâmi'ul Bayân 'an Ta'wîl ayy al-Qurân, halaman 74 menjelaskan makna "wa tu'azzirûhu" dalam ayat di atas sebagai mengagungkan dan membesarkan Allah. Sementara itu as-Suyuthi dalam al-Dur al-Manshur fi Tafsîr al-Ma'tsûr, halaman 516, menjelaskan makna tersebut sebagai upaya menolong-Nya. Kedua penafsir dalam hal ini seolah sepakat bahwa ada kaitan antara ta’zir dengan upaya mengagungkan Allah subhanahu wata’ala. Dengan demikian, bagi pelaku yang terkena ta’zir, dapat dihukumi bahwa ia telah berbuat maksiat, dan sebagai konsekuensi perbuatannya, ia berhak untuk diminta tobat dengan jalan dikenai sanksi oleh pemberi ta'zîr yang terdiri dari pemimpin atau pejabat yang berwenang.

Menyimak dari sifat ta’zir yang tidak ditetapkan bentuknya oleh syara' namun merupakan anjuran agar hal tersebut dilaksanakan, maka dalam hal ini ada batasan bagi penerapan ta’zir, yaitu:

  1. Karena berupa anjuran, maka ta’zir sifatnya boleh diterapkan dan boleh tidak diterapkan, tergantung pada sisi kemaslahatan yang menjadi pertimbangan. Bila dipandang maslahat oleh Imam/pejabat yang berwenang akan ketiadaan penerapannya, maka ta’zir tidak perlu dilaksanakan. Namun, bila yang terjadi adalah hal sebaliknya, maka sebaliknya pula keharusan ta’zir itu dilaksanakan.
  2. Karena ta’zir adalah salah satu bentuk upaya membuat tobat agar pelaku tidak kembali mengulangi perbuatannya, maka bentuk pelaksanaan ta’zir tidak boleh melebihi had atau diyat. Hal ini senada dengan bunyi hadits Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam:


لاتعزروه فوق عشرة أوسط

Artinya: "Janganlah kalian memberlakukan sanksi melebihi 10 cambukan!" (HR. Ibnu Mâjah)

Mafhum yang bisa diambil dari hadits ini adalah bahwa had/pidana berupa cambuk yang melebihi 10 cambukan adalah hampir setara dengan had perbuatan lain yang dilarang oleh syariat dan diharamkan. Oleh karena itu, ta’zir tidak boleh menyamainya. Dengan tidak menyamai dengan had ini, maka fungsi ta’zir sebagai realisasi untuk membuat jera dan tobat menjadi tercapai. Ini pula yang menjadi penyebab, mengapa di dalam syariat ada istilah jarîmah ta’zir dan jarîmah hudud. Jarîmah ta’zir dikenakan pada orang yang melakukan pelukaan kepada orang lain secara tidak benar namun dalam syariat tidak ada ketetapan hukumnya. Sementara itu dalam jarîmah hudud, tindakan pelukaan itu sudah masuk batas yang ditetapkan oleh syariat sehingga pelakunya berhak mendapat pidana sesuai dengan yang ditetapkan oleh Syâri', yakni Allah SWT dan Rasul-Nya.

  1. Di dalam ta’zir ada istilah toleransi. Toleransi diberikan seiring memenuhi kaidah syar'i bahwa tujuan dari syariat adalah ketiadaan memberatkan (عدم الحرج) tapi juga tidak menganggapnya sepele (تساهل).

Sebagai contoh; misalnya dalam kaidah muamalah ekonomi, penundaan utang yang dilakukan oleh orang yang sebenarnya mampu membayarnya merupakan perbuatan zalim. Kezaliman itu terjadi disebabkan karena seharusnya pemilik harta bisa memanfaatkan dan mengelola hartanya, berakibat menjadi tidak bisa, disebabkan karena harta itu belum diterimanya. Dengan demikian, penundaan di sini adalah salah satu bentuk yang bisa dipertimbangkan untuk menerapkan ta’zir karena unsur dhulm-nya (aniaya/kezaliman).

Demikian juga, tindakan rentenir yang memungut imbal manfaat dari harta yang dipinjamkan kepada orang lain, adalah sebuah tindakan aniaya. Untuk itu pula seharusnya ia menerima ta’zir.

Dari kedua contoh masalah ini ta’zir merupakan hal yang boleh diterapkan. Tapi sejauh mana ta’zir itu bisa dilaksanakan, adalah merupakan wilayah ijtihad dari pemangku kekuasaan. Walhasil, pemberlakuan ta’zir adalah syar'iy. Akan tetapi, bagaimana bentuk ta’zir itu dilaksanakan adalah wilayah cakupan syariah yang masih harus dicari dasar pertimbangannya. Wallàhu a'lam bish shawab


Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur

Tags:
Share:
Selasa 2 Juli 2019 21:30 WIB
Melihat Upaya Nabi Muhammad Mendirikan Pasar
Melihat Upaya Nabi Muhammad Mendirikan Pasar
Ilustrasi (via imagenesmy.com)
Selintas ketika mencermati sistem trading online, tiba-tiba menggelayut di benak penulis tentang sejarah bagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam membangun pasar di Madinah pasca-hijrah. Perekonomian masyarakat kota Madinah kala itu sudah dikuasai oleh para pedagang Yahudi dan bahkan kalangan umat lain. Saking mendominasinya, sampai-sampai menggugah Nabi beserta para sahabat untuk berinisiatif menciptakan pasar sendiri. Bagaimana tidak? Sistem ekonomi Madinah kala itu berada di dalam genggaman mereka. Kecurangan dalam pasar bukan merupakan hal yang baru. Itulah pada akhirnya yang menggiring Nabi untuk mendirikan pasar itu.

Di dalam tarikh yang ditulis oleh Ibnu Mâjah dan Ibnu Shabâh, tercatat beberapa kisah perjalanan awal pembentukan pasar. Pertama kalinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beserta sahabat mensurvei Pasar an-Nabit. Ternyata, pasar itu tidak sesuai dengan kehendak Nabi. Beliau sampai bersabda: "Ini bukan pasar kalian". Sabda ini beliau tujukan ke kalangan sahabat saat itu. 

Tidak cocok di satu lokasi, pindah lagi ke lokasi yang lain. Dalam sebuah riwayat hadits disampaikan bahwa suatu ketika ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi, lalu berkata: "Ya Rasul, saya sudah menemukan lokasi yang cocok bila dibangun pasar. Sudikah Tuan melihatnya?" Kemudian Nabi pun pergi ke tempat itu, lalu beliau menandai dengan kaki beliau, sambil bersabda: "Ini pasar kalian. Jangan ada yang menindas orang lain, jangan pula dikenai pajak!" 

Tahukah kita akan kawasan yang dipilih oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pasar ini? Ternyata kawasan tersebut adalah kawasan pekuburan dari sebuah perkampungan Bani Sa'îdah. Para sahabat awalnya keberatan. Bagaimana mungkin mau membangun pasar di lokasi dekat pemakaman? Ternyata, apa penjelasan Nabi? Beliau menekankan ingat mati. Mati merupakan peristiwa yang menghancurkan segala kelezatan. Dengan mengingat mati, maka pelaku pasar diharapkan untuk tidak berani bermain curang. Walhasil, para sahabat kemudian sepakat akan hal itu. Barulah kemudian dibangun pasar. 

Dalam tarikh yang disampaikan oleh Ibnu Shabbâh, sebelum menemukan pasar itu, sebenarnya Nabi sudah menemukan lokasi lain yang dianggap sesuai dengan model pasar yang akan dibangunnya. Kawasan itu adalah kawasan Baqi' al-Zubair. Namun, ternyata maksud kedatangan Nabi beserta rombongan ke kawasan itu sudah terbaca oleh seorang pimpinan Yahudi kala itu, yang bernama Ka'ab ibn Ashraf. Batas penanda lokasi pasar yang didirikan Nabi dirusaknya, dan dipotongnya.

Marahkah Nabi? Ternyata tidak. Beliau bahkan berujar: "Tidak masalah dipotong. Saya akan pindahkan lokasinya sehingga dapat membuatnya semakin marah." Barulah kemudian beliau beralih ke lokasi pekuburan Bani Sa'îdah dan di situ pula beliau membangun pasar, yang kini kemudian kita kenal sebagai lokasi Pasar Madinah. 

Apa hikmah dari perjalanan beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membangun pasar ini? Dalam beberapa kesempatan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan pernah mengilustrasikan bahwa pasar merupakan medan tempur melawan setan. Di dalam butir ayat Al-Qur’an pun beberapa kali disampaikan tentang bagaimana berperang menghadapi penindasan lewat pasar. Dengan lokasi pekuburan yang dipilih, setidaknya timbul spirit baru dalam membangun tata kelola dan sistem ekonomi yang kuat bebas dari penindasan. 

Adapun Baqi pernah dipilih dan direkomendasikan kepada Nabi adalah karena adanya catatan tersendiri dari Nabi. Baqi' merupakan wilayah yang berada di perkampungan Bani Qainuqa. Ketika sahabat Abdurrahman bin 'Auf, salah seorang sahabat terkaya di Mekah sebelum dan setelah Islam, melakukan hijrah ke Madinah, yang beliau tanyakan pertama kali adalah keberadaan pasar. Dan rekomendasi pertama yang beliau terima ternyata juga sama, yaitu pasar yang berada di lokasi Bani Qainuqa itu. 

Daya tarik pasar yang memikat kaum muhajirin kala itu sehingga mereka berbondong-bondong ke sana, disadari sebagai kekuatan yang berpotensi akan menumbangkan penguasa lama perekonomian Madinah, yaitu Ka'ab bin Ashraf. Menyadari daya kekuatan itu, akhirnya Ka'ab bin Ashraf mendahului dengan melakukan penolakan terhadap usaha pembangunan ekonomi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tapi penolakan itu tidak ditanggapi secara emosional oleh Nabi. Beliau justru mengalah dan beralih mendirikan pasar baru di pekuburan Bani Sa'idah. Di situ beliau tunjukkan soliditas muamalah kaum Muslim. Akhirnya, kekuatan ekonomi pun bergeser ke umat Islam. Saat ini pasar tersebut semakin ramai. Namanya adalah Pasar Madinah. 

Belajar dari pendirian pasar oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini, seolah menjadi inspirasi buat kita semua, khususnya yang berkecimpung di dunia trading online, misalnya pada pasaran forex, option, swap, forward, dan future, semestinya mulai berinisiatif membangun sistem trading tersendiri yang disesuaikan dengan jasa syariah. 

Apakah mungkin? Ya jelas mungkin, asalkan ada niat yang disertai dengan tindakan. Illat keharaman dalam sistem trading itu adalah jenuh dengan unsur spekulatif yang merupakan unsur utama perjudian. Upaya mencari solusi lepas dari jerat tindakan spekulasi ini merupakan PR bagi kaum santri yang mumpuni dalam IT. Semoga mereka menjadi tergugah dan termotivasi sebab tulisan ini semata niat meneladani nabi dalam menciptakan dan membangun pasar. Wallahu a'lam bish shawab


Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur


Tulisan ini disarikan dari: Cengiz Kallek, Socio-Politico-Economic Sovereignty and The Market of Medina, Kuala Lumpur: "Journal of Islamic Economic" - International Islamic University of Malaysia, Vol. 4. Number 1 & 2, July 1995, halaman 2-3

Senin 1 Juli 2019 23:45 WIB
Barang Dibeli lewat Orang Lain, Bagaimana Kekuatan Klaimnya?
Barang Dibeli lewat Orang Lain, Bagaimana Kekuatan Klaimnya?
Dalam fiqih muamalah, saat membeli suatu produk, kita disyaratkan untuk melihat  (ru’yah) barang guna memenuhi syarat jual beli, yaitu tahu produk (ma'rifatul-sil'ah). Wasilah yang dipergunakan untuk tahu itu ada dua, yaitu ada kalanya melalui melihat langsung dan ada kalanya tidak secara langsung. Dan hukum asal bisa tercapainya mengetahui adalah melalui melihat langsung bi al-'ain dan bi al-nadhar (melihat dengan mata kepala sendiri). 

Di saat sudah melihat dengan mata kepala sendiri maka khiyar (opsi) yang berlaku atas konsumen untuk melanjutkan transaksi atau tidak adalah khiyar majelis atau khiyar syarat. Khiyar majelis berlaku selagi ia masih ada dalam majelis transaksi, dan khiyar syarath berlaku sampai syarat yang ditetapkan terlampaui. Misalnya perkataan seorang konsumen: "Beri saya waktu tiga hari untuk menimbang-nimbang, nanti saya beritahu." Opsi semacam adalah termasuk khiyar syarat, dan berlaku dengan ketentuan selama tiga hari itu ia bisa menetapkan apakah akan tetap melanjutkan akad atau membatalkannya. Jika lebih dari tiga hari, maka penjual bisa melego barang ke orang lain selain konsumen di atas. Dan ini sah secara syariat. Al-Zuhaily menyatakan:

الرؤية قد تكون لجميع المبيع وقد تكون لبعضه. والضابط فيه أنه يكفي رؤية ما يدل على المقصود ويفيد المعرفة به

Artinya: "Melihat (dalam pengertian dagang) itu kadang kala berlaku atas semua produk dan kadang kala sebagiannya saja. Batasan terpenting dalam hal ini adalah bahwa melihat yang bisa sifatnya bisa merepresentasikan pada tercapainya tujuan dan berfaedah sebagai memenuhi unsur ma'rifah terhadap barang." (al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islàmy wa Adillatuhu, Kairo: Dâr al-Ma'rifah, tt.: juz 4, halaman: 583)

Yang menarik untuk diwacanakan adalah membicarakan hushul al-ma'rifah (tercapainya syarat tahu) melalui wasilah tidak langsung, yaitu bagaimana caranya dan sejauh mana kekuatan hukumnya bersifat mengikat. Al-Zuhaili menegaskan:

أنه إذا كان غير المرئي تبعا للمرئي، فلا خيار له سواء أكان رؤية ما رآه تفيد له العلم بحال ما لم يره، أو لا تفيد، لأن حكم التبع حكم الأصل

Artinya: "Sesungguhnya ketika ada seseorang yang tidak melihat produk kemudian informasinya mengikut pada orang yang melihat, maka dalam hal ini tidak berlaku khiyar (opsi) baginya, baik itu informasi yang dihasilkan dari melihat memberi faedah pada tercapainya maksud 'ilmu' terhadap kondisi barang yang tidak bisa dilihatnya secara langsung, atau sebaliknya memberi faedah. (Mengapa tidak ada khiyar?) Karena hukum mengikut adalah sama dengan hukum asal (seolah melihat sendiri)."  (al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islàmy wa Adillatuhu, Kairo: Dâr al-Ma'rifah, tt.: juz 4, halaman: 583)

Wasilah tidak langsung terjadi ada kalanya berbekal informasi produk dari orang lain yang disuruhnya (wakil) dan ada kalanya berdasar informasi yang berkembang (iklan/platform). Tentu saja, dalam hal ini juga masih berlaku sistem khiyar (opsi) bilamana sudah terjalin transaksi. Hanya saja skalanya dibatasi. Selain kedua khiyar yang telah disebutkan, juga masih berlaku khiyar 'aib, yaitu opsi untuk memilih melanjutkan opsi transaksi atau membatalkannya yang diakibatkan ditemuinya cacat pada barang yang dibeli. Mari kita cermati pada aspek wasilah tidak langsung ini terhadap upaya untuk tahu barang (husul al-ma’rifah)! 

Dengan cara mengetahui barang lewat sarana tidak langsung ini sudah pasti tidak bisa tepat 100% bila dibandingkan dengan melihat langsung. Ada sisi yang tertutup karena faktor informasi. Bagaimanapun juga, kualitas informasi berpengaruh besar terhadap pengetahuan àtas suatu produk. 

Jika kita skalakan, derajat pengetahuan tidak langsung ini berada pada kisaran 0-99%. Sebesar 0% mewakili unsur jahlu (tidak mengetahui sama sekali), 1-49% mewakili wahm (mengetahui sebagian, namun lebih banyak sisi yang tidak diketahui), 50% mewakili derajat syak (ragu-ragu, karena sisi yang diketahui dan tidak diketahui bersifat imbang, 50%-50%), dan 51-99,99% mewakili derajat dhanny (sebagian besar diketahui, namun juga tidak menutup kemungkinan ada sedikit derajat informasi yang tidak diketahui).

Nah, berdasar derajat kekuatan informasi terhadap barang tersebut, selanjutnya ditentukan daya komplain terhadap produk. Penulis menyebut daya komplain sehingga berhak mengajukan klaim, dalam hal ini adalah karena konsumen merupakan raja (dalam istilah bisnis). Klaim ini ada yang berujung pembatalan dan ada yang berujung kesadaran. Klaim yang berujung pembatalan, umumnya karena dipengaruhi ketidaksesuaian antara informasi dengan produk. Klaim yang berujung kesadaran merupakan manifestasi akad shuluh (damai). Namanya saja membeli secara tidak langsung, kalau ada yang tidak sesuai dengan rasa (sedikit-sedikit) ya wajarlah. Pernyataan semacam ini adalah citra dari akad shuluh tersebut dan termasuk hal yang maslahat. Mengapa? Karena ada sisi yang dipandang baik dan nyata bisa dirasakan. Itu sebabnya ia disebut maslahat. 

Hari ini beredar sejumlah pandangan kembali terhadap hukum bunga bank. Pada hakikatnya bunga bank sendiri terbit pada beberapa produk perbankan, yaitu produk tabungan, produk investasi, dan produk perkreditan.

Untuk bunga yang lahir dari produk tabungan dan investasi, ada sejumlah kalangan yang mempermasalahkan disebabkan menambah jumlah pokok harta yang ditabung. Namun, dalam pandangan penulis, hakikat dari produk investasi sendiri adalah menanam modal. Sudah pasti bahwa modal tersebut diperuntukkan untuk kegiatan usaha yang mana bank selaku pihak mudlarib (pengelola). Akad yang dipergunakan dalam investasi adalah akad syirkah. Nah, yang dijadikan dasar oleh para pengkaji lain untuk menggugat keputusan bolehnya bunga dalam akad investasi adalah uang tersebut disalurkan ke mana oleh pihak perbankan? Berapa nisbah bagi hasil yang diterima oleh nasabah? Ketidaktahuan secara pasti akan besaran nisbah bagi hasil ini diputus sebagai illat  (alasan) dasar pengharaman. Apalagi nisbah itu bila ditentukan dari modal usaha, dan bukan dari profit atau kerugian yang diterima. 

Tentang masalah penyaluran modal nasabah dalam hal ini umumnya adalah mengikuti kebijakan perbankan. Bank memiliki sejumlah regulasi yang harus diikuti dan digariskan oleh pemerintah. Jadi, dalam hal ini bank tidak berjalan sendiri. Ia harus mematuhi peraturan tersebut. Singkat cerita, keamanan dana nasabah investasi adalah dijamin. Dengan demikian, maka hukum dari dana nasabah ini 'mengikut' pada hukum asal investasi, yaitu wajib menerima bagi hasil. Oleh karena itu berlaku kaidah:

حكم التبع كحكم الأصل

Artinya: "Hukum mengikut adalah sama dengan hukum asal." 

Masalah kemudian tidak sama persis jalannya dengan hukum asal, maka berlaku shuluh, selagi masih bisa ditoleransi dan nyata ada maslahahnya. Itu pula sebabnya, al-Zuhaili menyebut tidak ada khiyar baginya. Maksudnya adalah karena komplain yang akan dilakukan sudah berjamin regulasi. Wallâhu a'lam bi al-shawab.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur


Ahad 30 Juni 2019 15:0 WIB
Rekonsiliasi dalam Fiqih Muamalah
Rekonsiliasi dalam Fiqih Muamalah
Ilustrasi (iStock)
Shuluh (damai/toleransi/rekonsiliasi) merupakan salah satu wujud aplikasi "akad" dalam fiqih muamalah untuk lebih menimbang dan memilih maslahat dibanding macetnya tujuan bermuamalah disebabkan kekurangan kecil yang sulit dipenuhi. Akad ini merupakan akad yang sangat indah. Betapa tidak, tatkala transaksi menemui kebuntuan pemenuhannya 100% sesuai dengan seharusnya, maka untuk menghindari perselisihan/sengketa yang berkepanjangan lalu disyariatkanlah shuluh

Istilah “shuluh” dan turunannya beberapa kali disinggung dalam Al-Qur’an. Dalam setiap ayat yang menyebut kata ini, selalu memiliki nuansa telah terjadi konflik kecil. Misalnya, Firman Allah subhanahu wata’ala berikut ini:

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Artinya: "Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan istrimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha-Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS an-Nisa: 128)

Di dalam QS an-Nisa: 35, Allah subhanahu wata’ala juga berfirman: 

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

Artinya: "Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS an-Nisa: 35)

Ibnu 'Athiyah dalam kitabnya Al-Muharrar al-Wajîz jilid 2 halaman 141 memberikan penafsiran terhadap maksud dari penggalan ayat الصلح خير sebagai berikut:

وقوله تعالى: {والصلح خير} لفظٌ عام مطلق، يقتضي أن الصلح الحقيقي ـ الذي تسكن إليه النفوس ويزول به الخلاف ـ خيرٌ على الإطلاق، ويندرج تحت هذا العموم أن صلح الزوجين على ما ذكرنا خير من الفرقة

Artinya: "Firman Allah Ta'ala (والصلح خير) merupakan bentuk lafadh 'am mutlak yang memuat pengertian bahwa sesungguhnya 'hakikat rekonsiliasi', yang berfokus pada menenangkan gejolak hati dan menghilangkan akar perselisihan adalah lebih baik secara mutlak. Selanjutnya, dari lafadh umum ini terbit pengertian bahwa sesungguhnya mendamaikan dua suami istri yang sedang berselisih sebagaimana telah kami sebutkan adalah jauh lebih baik dibanding perceraian," (Ibn 'Athiyah, Al-Muharrar al-Wajiz, Beirut: Muwafiq li al-Mathbu', tt., 2/141).

Berangkat dari penafsiran ini, seolah terbit makna perintah bahwa hendaknya hal yang terpenting dalam hidup kita adalah berusaha berusaha mewujudkan rekonsiliasi dari setiap konflik. Tujuannya adalah lahirnya maslahah yang dikehendaki oleh syariat sebagaimana tercermin dari perjalanan sirah Nabi kita, yakni Muhammad SAW. Sebagaimana ditegaskan oleh Allah: 

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS an-Nisa’: 114)

Lantas, bagaimana akad ini dipraktikkan dalam fiqih muamalah?

Al Imam Taqiyuddin Ibn Abu Bakar al Husny dalam Kifâyatu al-Akhyâr mendefinisikan:

وفي الإصطلاح هو العقد ينقطع به خصومة المتخاصمين

Artinya: "Secara istilah, shuluh adalah akad yang menghentikan permusuhan dua orang yang bersengketa." (Taqiyuddin Ibn Abu Bakar al Husny, Kifâyatu al-Akhyâr fi Hilli Ghâyati al-Ikhtishâr, Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, tt.: 359)

Misalnya, ada seseorang yang meminjam sepeda. Secara tidak disangka, bannya meletus dan harus ganti ban karena tidak mungkin ditambal. Pada saat mengembalikan ke pemilik sepeda, orang yang meminjam ini menceritakan apa yang terjadi. Dan ia tidak meminta pihak yang punya sepeda untuk mengganti. Shuluh seperti ini merupakan shuluh hibah, atau biasa disebut juga sebagai shuluh mu'âwadlah. 

Model shuluh dalam perbankan muâmalah misalnya adalah kewajiban membayar denda yang diberlakukan kepada pihak yang mengambil pembiayaan secara murâbahah. Hukum asal denda dengan harta menurut fiqih adalah tidak boleh. Namun, karena ada maksud lit ta’dib (pendisiplinan) kepada nasabah supaya tidak menunda-nunda pembayaran utang, maka dimasukkanlah hal tersebut dalam bagian akad shuluh itu.

Namun, yang menjadi permasalahan berikutnya adalah siapa yang boleh menetapkan keputusan lit ta'dib itu? Sejauh ini, secara fiqih konteks penetapan keputusan (taqrîr jama'iy) wajibnya akad shuluh ini masih diperselisihkan syarat-syaratnya. Meskipun Jam'iyah Nahdlatul Ulama sudah menetapkan garis-garis besarnya di dalam keputusan Musyawarah Nasional Alim Ulama Tahun 2017 di Nusa Tenggara Barat. Bagaimana bentuk aplikasinya dalam muamalah, mungkin dalam hal ini kita perlu berdiskusi kembali lebih jauh. Wallahu a'lam bish shawab.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syari'ah - Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur