IMG-LOGO
Doa

Nasihat Nabi Isa untuk Orang yang Hendak Berdoa

Ahad 14 Juli 2019 15:0 WIB
Share:
Nasihat Nabi Isa untuk Orang yang Hendak Berdoa
Ilustrasi (via mawdoo3com)
Dalam kitab al-Durru al-Mantsûr fî al-Tafsîr al-Ma’tsûr, Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr al-Suyuthi mencatat sebuah riwayat dari Imam Wahb bin Munabbih tentang nasihat Nabi Isa ‘alaihissalam untuk orang yang hendak berdoa. Berikut riwayatnya:

وأخرج وهب بن منبه قال: قال المسيح عليه السلام: أكثروا ذكر الله، وحمده، وتقديسه، وأطيعوه فإنما يكفي أحدكم من الدعاء إذا كان الله تبارك وتعالي راضيا عليه أن يقول: اللهم إِغْفِرْ لِي خَطِيْئَتِي وَاصْلِحْ لِي مَعِيْشَتِي وَعَافِنِي مِنَ الْمَكَارِهِ, يَا إِلَهِي

Dikeluarkan oleh Wahb bin Munabbih, ia berkata: Al-Masih (Isa ‘alaihisslam) berkata: 

“Perbanyaklah berdzikir (mengingat) kepada Allah, (perbanyaklah) memuji-Nya dan menyucikan-Nya. Ta’atlah kepada-Nya, karena sesunguhhnya cukup bagi seorang dari kalian sebuah doa ketika Allah tabâraka wa ta’âla ridha atasnya, yaitu mengucapkan (doa): “allahummaghfir lî khathî’atî wa’ashlih lî ma’îsyatî wa ‘âfinî minal makârihi, yâ ilahî” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, baguskanlah kehidupanku, dan bebaskanlah aku dari tipu daya setan, wahai Tuhanku).” (Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakr al-Suyuthi, al-Durru al-Mantsûr fî al-Tafsîr al-Ma’tsûr, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2015, juz 2, h. 54)

****

Nasihat Nabi Isa di atas perlu kita renungkan dalam-dalam, terutama bagi orang-orang yang hendak berdoa kepada Allah. Untuk memahaminya lebih jauh, kita akan membahasnya satu persatu. Berikut uraian singkatnya.

Dalam nasihatnya, Nabi Isa memerintahkan orang yang hendak berdoa untuk memperbanyak dzikir (mengingat), pujian (tahmid), dan pensucian (taqdis/tasbih) kepada Allah Swt. Beliau juga menekankan pentingnya menaati Allah. Ketaatan menjadi penting karena ia merupakan pintu menuju keridhaan Allah, sehingga Nabi Isa memerintahkan seseorang yang hendak berdoa memenuhi kedua aspek itu. Jika kedua aspek itu tidak terpenuhi, maka jangan salahkan siapa-siapa jika doanya tidak kunjung dikabulkan.

Kemudian Nabi Isa mengajarkan sebuah doa yang sangat menarik untuk dikaji. Teks doanya adalah: “Allahummaghfir lî khathî’atî wa’ashlih lî ma’îsyatî wa ‘âfinî minal makârihi, yâ ilahî” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku, baguskanlah kehidupanku, dan bebaskanlah aku dari tipu daya setan, wahai Tuhanku). Menurut Nabi Isa, doa ini dapat membuka pintu keridhaan Allah. Tentu saja setelah berdzikir, bertahmid, bertasbih dan taat kepada-Nya. Lafadnya mengandung makna yang sangat luas dan mendalam. Dalam arti tidak hanya berhenti pada makna permohonan, tapi juga makna penerapan.

Yang pertama, lafad, “allahummaghfir lî khathî’atî” (Ya Allah, ampunilah kesalahanku). Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak pernah bersalah, kecuali para nabi. Semua manusia pernah berbuat salah dan dosa, meskipun orang tersebut adalah seorang ahli ibadah dan berilmu, dia tetap pernah melakukan kesalahan, sehingga memohon ampunan kepada Allah adalah kebutuhan setiap manusia sepanjang hidup.

Di sisi lain, memohon ampun juga termasuk bentuk mengingat (dzikir), memuji (tahmid) dan menyucikan (taqdis/tasbih) Allah. Dengan memohon ampunan-Nya, kita sedang mengingat Allah, karena tak mungkin memohon ampun tanpa mengingat Tuhan yang Maha-pengampun. Kita juga sedang memuji-Nya, karena dengan memohon ampun, kita sedang mengakui sifat-sifat-Nya yang Al-Ghafûr (Maha-mengampuni) dan Al-Tawwab (Maha-menerima tobat). Begitu pun dengan menyucikan-Nya. Ketika kita memohon ampun kepada-Nya, kita menghindarkan diri kita dari mengakui tuhan selain-Nya. Dengan memohon ampun hanya kepada-Nya, kita berada dalam tauhid (pengesaan), menyucikan Allah dari sesembahan lainnya.

Kedua, lafad, “wa’ashlih lî ma’îsyatî” (baguskanlah kehidupanku). “Bagus” di sini berarti “bagus” menurut Allah. Lafad, “ashlih” (bagus, baik, patut dan indah) berakar kata sama dengan “shâlih”, yang dalam Alquran sering didahului oleh lafad “’amal” (perbuatan). Artinya, “bagus” dalam doa ini adalah permohonan agar hidup selalu diliputi amal baik, dan terhindar dari perbuatan tercela.

Di samping itu, memohon dibaguskan hidupnya termasuk bentuk ketaatan kepada Allah, karena selalu mengharapkan kebaikan dalam hidupnya. Seperti penjelasan sebelumnya, “bagus” di sini berarti bagus menurut Allah. Dan, agar di“bagus”kan kehidupannya, seseorang harus mentaati perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sehingga ia laik menyandang gelar “shâlih” (orang yang saleh).

Ketiga, lafad, “‘âfinî minal makârihi” (bebaskanlah aku dari tipu daya setan). Tipu daya setan sangat menggoda karena memanfaatkan kerakusan, syahwat dan watak buruk lainnya dari manusia. Karena itu Nabi Isa ‘alaihissalam berkata:

إن الشيطان مع الدنيا ومكره مع المال، وتزيينه عند الهوي واستكماله عند الشهوات

“Sesungguhnya setan bersama dunia, dan tipu dayanya bersama harta benda. Dia menghias di sekitar hawa nafsu, dan menyempurnakan (hiasan)nya di sekitar syahwat.” (Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakr al-Suyuthi, al-Durru al-Mantsûr fî al-Tafsîr al-Ma’tsûr, 2015, juz 2, h. 53)

Artinya, setan memanfaatkan ragam sisi lemah manusia; dunia, harta benda, hawa nafsu dan syahwat. Empat sisi ini digarap oleh setan dengan tampilan yang apik dan menggoda. Maka, tidak sedikit yang terjerumus ke dalam bujuk rayu setan. Karena itu, memohon kepada Allah agar diselamatkan dari tipu daya setan memang harus terus dilakukan. Karena semua orang pasti pernah mengalami dahsyatnya rayuan setan. Dia (setan) mempersembahkan hal buruk terlihat lezat dan nikmat dengan cara yang sangat halus, sehingga manusia tidak menyadari keburukan yang sedang dan akan dilakukannya.

Jadi, secara sistematis setan menyerang manusia dengan iming-iming dunia, merayunya dengan harta benda. Kemudian mulai mengipas-ngipasi hawa nafsunya, dan membelai-belai syahwatnya agar bergerak. Jika syahwat sudah bergerak, manusia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya, dan setan sangat pintar mengemas keinginan buruk itu seakan-akan mengasyikkan dan menyenangkan. Perasaan bersalah pun perlahan-lahan mengecil, sampai kemudian tak terdengar lagi. Inilah empat strategi setan yang terus dilakukan hingga akhir jaman. 

Karena itu, Nabi Isa mengajari kita rangkaian doa yang lengkap, yang telah mencakup segala aspek kehidupan, dari mulai ampunan dosa, kebaikan hidup dan terbebas dari tipu daya setan. Jika kita bisa dengan istiqamah mengamalkan doa tersebut, baik secara ritual (berdoa mengangkat tangan) maupun mengamalkan maknanya dalam perilaku sehari-hari, maka ridha Allah sangat dekat dengan kita. Mungkinkah dilakukan? Semoga saja.

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Tags:
Share:
Jumat 12 Juli 2019 9:30 WIB
Pentingnya Amal Baik Sebelum Berdoa
Pentingnya Amal Baik Sebelum Berdoa
Allah memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya setiap kali membutuhkan sesuatu, meski kita tahu bahwa Allah telah mengetahui segala kebutuhan kita tanpa menyebutkanya. Namun, kita harus tetap berdoa. Karena doa membuktikan penghambaan kita, kerendahan hati kita, dan kelemahan kita, bahwa kita adalah manusia, sehingga kita pantas memohon sesuatu kepada-Nya yang Mahaagung dan Mahapengasih.

Karena itu, sebelum meminta kepada-Nya, kita harus menyiapkan diri kita terlebih dahulu. Berusaha membersihkannya dari segala keburukan, baik keburukan jasmani maupun ruhani. Sebagai permulaan, kita harus memulainya dengan memakan makanan yang halal. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mengatakan:

ومن أدابه أكل الحلال، ولعل هذا من شروطه, فإن الرسول صلي الله عليه وسلم يقول لسعد: يا سعد، أطب مطعمك تستجب دعوتك
وكان يقول: الدعاء مفتاح الحاجة، ولقم الحلال أسنانه

“Sebagian dari adab berdoa adalah memakan makanan halal. Barangkali hal ini (memakan makanan halal) termasuk dari syarat (dikabulkannya) doa. Karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam., berkata kepada Sa’d: “Wahai Sa’d, perbaikilah makananmu, maka doamu akan dikabulkan.”

Dikatakan: “Doa adalah kunci kebutuhan, dan makanan halal adalah giginya (penggilingnya).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 24-25)

Dengan makanan halal, kita membebaskan tubuh kita dari keharaman dan ketidak-berkahan, sehingga darah, daging, dan tulang kita terbebas dari keburukan jasmani, dan terhindari dari ketidak-berkahan ruhani. Ini membuat peluang doa kita lebih besar untuk dikabulkan. Karena kita telah berupaya sekuat tenaga mempersembahkan tubuh dan ruh yang terbebas dari keharaman. Upaya inilah yang bernilai besar di sisi Allah. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menasihati Sa’d dengan ucapan: “Wahai Sa’d, perbaikilah makananmu, maka doamu akan dikabulkan.” 

Persiapan selanjutnya adalah, berbuat baik sebelum berdoa. Terserah berupa apa, karena amal baik (amal saleh) sangat beragam bentuknya. Dalam pandangan Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, berbuat baik (beramal saleh) sebelum berdoa sangat penting dilakukan, baik sebagai bentuk penghambaan dan keseriusan dalam berdoa, maupun sebagai pendorong terkabulnya setiap doa. Ia mengatakan:

ومن أدابه أن تقدم بين يدي الدعاء عملا صالحا من صلاة او صدقة ونحوهما

“Sebagian dari adab berdoa adalah mendahuluinya dengan amal shalih, yaitu shalat, sedekah dan (amal shalih lain) yang seperti keduanya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 25)

Imam Abu Bakr al-Thurthusyi mendasarkan pandangannya pada anjuran beramal baik sebelum menjalankan shalat istisqa’. Ia mengatakan:

وهذا كما شرع لنا في الإستسقاء أن يؤمر الناس قبله بالصلاة والصيام والصدقة والأعمال الزاكية، ثم يخرجون للإستسقاء، وهذه سيرة السلف الصالح

“Ini seperti yang dianjurkan kepada kita dalam shalat istisqa, yaitu sebelum shalat istisqa orang-orang diperintahkan terlebih dahulu untuk mengerjakan shalat, puasa, sedekah, dan amal-amal (baik) yang mensucikan (lainnya), kemudian mereka keluar untuk mengerjakan shalat istisqa. Ini adalah perilaku (kebiasaan para) orang saleh terdahulu (salafus shalih).” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 25)

Artinya, manusia dianjurkan beramal baik sebelum meminta sesuatu kepada Allah. Dalam shalat istisqa’ (shalat meminta hujan di saat kekeringan) dianjurkan untuk mengerjakan amal baik sebelum melaksanakannya, dari mulai shalat, sedekah, puasa, meninggalkan maksiat sampai bertaubat. Artinya kita dituntut peduli sebelum meminta dipedulikan; kita dituntut bersyukur (shalat) sebelum meminta tambahan anugerah; kita dituntut bersabar (puasa) sebelum meminta dihilangkan ujian; kita dituntut membantu (sedekah) sebelum meminta dibantu, dan seterusnya.

Karena itu, alangkah baiknya kita mempersiapkan diri kita terlebih dahulu sebelum berdoa. Dengan amal baik apapun, paling tidak satu saja, misalnya sedekah atau shalat. Sayyidina Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu mengatakan: 

إذا أردت أن تدعو فقدم صدقة أو صلاة أو خيرا ثم ادع بما شئت

“Jika kau hendak berdoa, dahuluilah dengan sedekah, atau shalat, atau amal kebaikan (lainnya), kemudian berdoalah sesuai keinginanmu.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 25)

Jadi, usahakan beramal baik sebelum berdoa. Karena amal baik bisa mempercepat terkabulnya doa, memberi kita pahala, sekaligus menjadi madrasah (pendidikan) bagi jiwa kita. Imam Wahb bin Munabbih berkata:

مثل الذي يدعو بغير عمل كالذي يرمي بغير وتر

“Perumpamaan orang yang berdoa tanpa perbuatan (baik) seperti orang yang memanah tanpa tali busur.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 25)

Wallahu a’lam bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
Jumat 5 Juli 2019 13:15 WIB
Doa agar Hati Mudah Tergerak untuk Ibadah
Doa agar Hati Mudah Tergerak untuk Ibadah
Foto (@patheos.com)

Ada kalanya kita merasa berat hati untuk shalat, puasa, sedekah, atau ibadah lainnya. Keberatan itu didasarkan pada segudang alasan. Yang jelas, keberatan untuk ibadah itu terjadi karena situasi batin yang memang tidak memiliki kecenderungan untuk ibadah.


Berikut ini merupakan salah satu doa yang dapat dibaca untuk melunakkan hati agar diringankan dan dimudahkan untuk berbuat baik.


اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ والحمد لله رب العالمين


Allahumma waffiqna li tha‘atika, wa atmim taqshirana, wa taqabbal minna, innaka antas sami‘ul ‘alim. Wa shallallahu ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.


Artinya, “Ya Allah, bimbinglah jalan kami pada jalan ketaatan kepada-Mu, sempurnakanlah kekurangan kami, terimalah ibadah kami. Sungguh, Kau maha mendengar lagi mengetahui. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa tahun], halaman 49). 


Lafal doa ini dapat dibaca pada setiap selesai shalat lima waktu. “Ini doa merendahkan hati berbuat ibadah, dibaca tiap-tiap lepas sembahyang lima waktu,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa tahun], halaman 49).


Doa ini juga dapat dibaca oleh orang tua untuk anaknya dan juga sebaliknya. Wallahu ‘alam. (Alhafiz K)

Senin 1 Juli 2019 5:0 WIB
Doa Keselamatan Anak dan Cucu
Doa Keselamatan Anak dan Cucu
(Foto: @freepik)
Orang tua umumnya mengharapkan keselamatan keturunannya baik di dunia maupun di akhirat. Mereka menginginkan anak dan cucunya selamat dari pelbagai ujian, godaan, dan bahaya di dunia. Mereka juga mengharapkan anak dan cucunya selamat di akhirat.

Adapun berikut ini adalah lafal doa yang dapat dibaca oleh orang tua untuk keselamatan anak dan cucunya:

اللَّهُمَّ بِحُرْمَةِ النَّبِيِّ وَالحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَأُمِّهِ وَأَبِيْهِ وَنَجِّنِيْ مِنَ الغَمِّ الَّذِيْ فِيْهِ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، وَأَسْئَلُكَ أَنْ تُحْيِيَ قَلْبِيْ بِنُوْرِ مَعْرِفَتِكَ أَبَدًا أَبَدًا يَا رَسُوْلَ اللهِ يَا اللهُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَلَمِيْنَ

Allāhumma bi hurmatin nabiyyi, wal Hasan, wa akhīh, wa ummih, wa abīh, wa najjinī minal ghammil lazī fīh, yā Hayyu, yā Qayyūmu, yā dzal jalāli wal ikrām. Wa as’aluka an tuhyiya qalbī bi nūri ma‘rifatika abadan, abadan. Yā rasulallāh, ya Allah (3 kali), bi rahmatika yā arhamar rāhimīn, walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.

Artinya, “Ya Allah, demi kehormatan Nabi Muhammad SAW, Hasan, saudaranya, ibunya, dan bapaknya, selamakanlah aku dari kebingungan yang ada di dalamnya. Wahai Zat yang hidup, wahai Zat yang maha tegak, wahai Zat yang maha besar dan mulia, aku memohon kepada-Mu agar menghidupkan hatiku dengan cahaya makrifat-Mu selamanya, wahai Rasulullah, ya Allah (3 kali), dengan rahmat-Mu, wahai Zat yang maha pengasih. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa tahun], halaman 50).

Lafal doa ini dapat dibaca pada sebelum shalat Subuh. “Ini doa dibaca dahulu daripada sembahyang Subuh supaya selamat anak cucu,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa tahun], halaman 50).

Semoga Allah memberikan keselamatan kepada anak dan cucu kita semua dunia dan akhirat. Amīn. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)