IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kala Mbah Dullah-Mbah Liem Ziarah ke Makam Syekh Mutamakkin

Senin 15 Juli 2019 20:0 WIB
Share:
Kala Mbah Dullah-Mbah Liem Ziarah ke Makam Syekh Mutamakkin
Mbah Lim Klaten dan Mbah Dullah Kajen (@hamdan_ali26)
KH Abdullah Zain Salam (Mbah Dullah) Kajen, Pati, Jawa Tengah dikenal sebagai seorang kiai yang begitu tawadhu (rendah hati). Dia selalu ‘menempatkan dirinya lebih rendah’ dibandingkan orang lain dan merasa dirinya penuh kekurangan sehingga tidak layak untuk dimuliakan. Padahal orang-orang tahu, Mbah Dullah adalah kiai yang alim dan bahkan dianggap sebagai 'wali'.
 
Ketawadhuan Mbah Dullah tercermin sepanjang hidupnya. Bahkan sebelum wafat, Mbah Dullah berpesan agar berita wafatnya tidak diumumkan kepada khalayak ramai. Alasan yang dikemukakan Mbah Dullah penuh dengan ketawadhuan. Yakni dia malu apabila orang ramai-ramai menshalatinya sementara dirinya belum tentu termasuk dari golongan orang-orang baik.

“Kalau saya meninggal kelak, tak usah diumumkan ke mana-mana. Jangan sampai terjadi orang bergiliran, rombongan demi rombongan melakukan shalat jenazah. Saya malu terhadap perlakuan semacam itu karena belum tentu saya termasuk golongan orang-orang baik,” kata Mbah Dullah kepada putranya.

Ada ‘kisah menarik’ terkait dengan ketawadhuan Mbah Dullah. Merujuk buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam (Jamal Ma’mur Asmani, 2018), suatu hari Mbah Dullah dan KH Muslim Rifai Imampuro (Mbah Lim) Klaten berziarah ke makam Syekh Ahmad Mutamakkin di Kajen. Sesampai di makam, tahlil tidak langsung dilaksanakan. Terjadi ‘perdebatan kecil’ diantara keduanya terkait siapa yang menjadi imam tahlil. Mbah Dullah merasa Mbah Lim lah yang seharusnya memimpin tahlil. Sementara Mbah Lim berpikir sebaliknya.

Setelah menolak beberapa kali, Mbah Dullah akhirnya menjadi imam tahlil dan Mbah Lim makmumnya. Orang tahu bahwa suara Mbah Dullah lembut dan lambat, sementara suara Mbah Lim keras, lantang, dan cepat. Ketika sampai pada kalimat thayyibah, La Ilaha Illa Allah, maka secara tidak langsung kendali imam tahlil berpindah ke 'tangan Mbah Lim' –mengingat suaranya yang lantang. 

Mbah Dullah tidak menghentikan bacaan tahlil karena merasa Mbah Lim lah yang ketika itu menjadi imam tahlil. Begitu pun Mbah Lim. Dia mengira kalau pimpinan tahlil masih Mbah Dullah. Setelah berjalan selama satu jam, akhirnya Mbah Lim mengakhiri tahlil. Hal itu dilakukan karena tidak ada tanda-tanda Mbah Dullah akan mengakhirinya. Setelah kejadian itu, Mbah Dullah tetap memosisikan diri sebagai makmum tahlil, meskipun di awal Mbah Dullah lah yang memimpin tahlil.

Kejadian serupa terjadi ketika Mbah Lim berkunjung ke Ndalem Mbah Dullah di akhir tahun 1999-an. Ketika itu, Mbah Lim meminta doa kepada Mbah Dullah sebelum dirinya pulang ke Klaten. Lagi-lagi Mbah Dullah menolak permintaan Mbah Lim. Dia meminta Mbah Lim saja yang memimpin doa. Singkat cerita, keduanya mengangkat tangan untuk berdoa. Mbah Lim menganggap Mbah Dullah sedang memanjatkan doa sehingga dirinya mengangkat tangan untuk mengamini. Sementara Mbah Dullah merasa sebaliknya. Mbah Lim lah yang memimpin doa. 

Hingga 40 menit berlangsung, keduanya masih mengangkat tangan. Belum ada tanda-tanda doa akan diakhiri karena memang masing-masing menganggap kalau dirinya bukan lah pemimpin doa. Lima menit kemudian, Mbah Lim menutup doa dengan bacaan al-Fatihah karena pada saat itu adzan Ashar sudah berkumandang. Jadi Mbah Dullah dan Mbah Lim mengangkat tangan untuk berdoa selama 45 menit ‘tanpa tahu’ siapa sesungguhnya yang memimpin doa.

Tidak lain, itu karena sikap tawadhu keduanya. Masing-masing merasa dirinya ‘tidak layak’ memimpin karena menganggap ada orang lain yang lebih layak. Padahal semua tahu kalau kealiman dan keshalihan keduanya tidak perlu diragukan lagi. Begitu lah sikap tawadhu yang ditampilkan Mbah Dullah dan Mbah Lim. (Muchlishon)
Share:
Selasa 9 Juli 2019 13:0 WIB
Saat Umar bin Khattab 'Menjadi Penyebab' Seorang Perempuan Hamil Keguguran
Saat Umar bin Khattab 'Menjadi Penyebab' Seorang Perempuan Hamil Keguguran
Ilustrasi Sayyidina Umar in Khattab
Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Sayyidina Umar bin Khattab, ada seorang perempuan hamil yang ditinggal suaminya. Sang suami pergi entah kemana setelah menghamili perempuan itu. Naasnya, perempuan hamil itulah yang disalahkan kaumnya. Melihat kejadian itu, Sayyidina Umar bin Khattab kemudian mengutus seseorang untuk menemui dan mengundang perempuan itu agar menghadapnya.

Perempuan itu datang memenuhi undangan Sayyidina Umar bin Khattab dengan berat hati. Dia takut dan khawatir untuk bertemu dengan Sayyidina Umar. Ia berpikir apa yang salah dengan dirinya sehingga harus berurusan Sang Khalifah. Di tengah jalan, perempuan hamil tersebut merasakan mulas. Ia kemudian mampir di sebuah rumah dan tidak lama berselang melahirkan. Sayangnya, si jabang bayi meninggal dunia setelah menjerit dua kali.

Sayyidina Umar bin Khattab langsung mengumpulkan pejabat-pejabatnya setelah mendengar kabar perempuan tersebut keguguran dalam perjalanan untuk menghadapnya. Ia mengajak para sahabatnya berdiskusi guna menyelesaikan persoalan tersebut. Ada yang berpendapat kalau Sang Khalifah tidak bersalah atas kegugurannya perempuan itu. Alasannya, Sang Khalifah hanya berniat mendidik perempuan itu dan melaksanakan tugas kepemimpinannya.

Sayyidina Umar mendengarkan usulan dan pendapat para pejabatnya satu per satu. Hingga akhirnya ia tersadar bahwa pada saat itu Sayyidina Ali bin Abi Thalib hanya terdiam saja, tidak ikut berbicara mengemukakan pendapatnya. Maka kemudian Sayyidina Umar menghadap Sayyidina Ali dan meminta pendapatnya terkait dengan persoalan di atas.

“Kalau itu memang pendapat mereka pribadi, maka pendapat mereka itu keliru. Sedangkan kalau mereka berpendapat demikian untuk menyenangkanmu, berarti mereka tidak tulus kepadamu,” kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengawali pembicaraannya, seperti dikutip buku Hayatush Shahabah (Syaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, 2019).

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kemudian melanjutkan pendapatnya. Ia menilai kalau dalam hal itu Sayyidina Umar bersalah karena telah membuat perempuan tersebut ketakutan hingga terjadi keguguran padanya. Oleh karena itu, Sayyidina Ali menyatakan bahwa Sang Khalifah harus membayar diyat kepada perempuan itu. Diyat dimaksudkan sebagai ganti rugi atas pembunuhan tanpa sengaja.

Sang Khalifah akhirnya mengambil pendapat Sayyidina Ali. Karena pada saat itu tidak punya uang, maka ia memerintahkan Sayyidina Ali agar menagih utangnya dari Quraisy untuk membayar diyat kepada perempuan yang keguguran itu. (Muchlishon)
Ahad 7 Juli 2019 19:0 WIB
Ketika Mbah Dullah Salam ‘Mengingatkan’ KH Sahal Mahfudh
Ketika Mbah Dullah Salam ‘Mengingatkan’ KH Sahal Mahfudh
KH Abdullah Zain Salam (Twitter @ammar_abdillah)
Salah satu sikap yang melekat kuat pada sosok KH Abdullah Zain Salam atau Mbah Dullah Salam Kajen, Pati adalah selalu berharap kepada Allah. Mbah Dullah selalu menghindari sifat thama’ (mengharap bantuan orang lain), entah itu pemberian harta benda ataupun kedudukan dari orang lain. Ia begitu memperhatikan betul agar dirinya terbebas dari sifat thama’.  

Ada satu kisah masyhur tentang bagaimana Mbah Dullah menghindari sifat thama’. Dikisahkan, setiap kali menghadiri acara pernikahan, Mbah Dullah selalu mampir ke warung terlebih dahulu sebelum tiba di tempat acara. Maklum, orang biasanya berharap mendapatkan makan atau sesuatu yang lain tiap kali menghadiri acara-acara seperti itu. Namun demikian tidak dengan Mbah Dullah. Ia ‘membunuh’ perasaan thama’nya itu dengan cara makan di warung sebelum tiba ke rumah yang empunya acara. 

Dalam hal menghindari sifat thama’ Mbah Dullah tidak hanya tegas kepada dirinya tapi juga kepada keluarga dan murid-muridnya. Ia selalu menanamkan dan mengingatkan agar mereka menjauhi sifat thama’. Sebuah sifat tercela dan membinasakan. Karena bagaimanapun juga, manusia tidak boleh berharap kecuali hanya kepada Allah swt semata. 

Karena saking hati-hatinya menjaga hati dari perasaan thama’, Mbah Dullah pernah ‘mengingatkan’ KH Sahal Mahfudh. Pada saat itu, Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen, Pati sedang dalam proses pembangunan. Dalam sebuah acara, Kiai Sahal berpidato di hadapan Mbah Dullah dan insan PIM. Kiai Sahal menjelaskan perkembangan pembangunan gedung PIM. Kata Kiai Sahal, hingga dirinya berdiri dan berpidato tersebut pembangunan PIM belum mendapatkan bantuan dari pemerintah. Mendengar kalimat seperti itu, Mbah Dullah langsung ‘mengingatkan’ Kiai Sahal. Ia kemudia dawuh:

Kok durung, ora ngunu Hal (Kok belum mendapatkan bantuan, yang benar tidak mendapatkan bantuan pemerintah gitu Hal),” kata Mbah Dullah mengingatkan Kiai Sahal, seperti dikutip dari buku Keteladanan KH Abdullah Zain Salam (Jamal Ma’mur Asmani, 2018).

Bagi Mbah Dullah, kata ‘belum’ dalam pidato Kiai Sahal tersebut mengindikasikan bahwa keponakannya itu masih berharap akan mendapatkan bantuan pemerintah. Sementara kata ‘tidak’ berarti tidak mengharapkan bantuan dari pemerintah.  

Kegigihan menghindari sifat thama’ menjadikan Mbah Dullah menolak amplop atau bantuan yang dialamatkan untuknya. Ia menyarankan agar amplop-amplop atau bantuan untuk beliau diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Mbah Dullah bekerja sendiri untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, tidak mengharapkan bantuan dari orang lain. Sehingga tidak ada sifat thama’ di dalam hatinya. (Muchlishon)
Ahad 7 Juli 2019 16:30 WIB
Nabi Adam Bertanya, Kenapa Allah Tak Membuat Sama Keturunannya?
Nabi Adam Bertanya, Kenapa Allah Tak Membuat Sama Keturunannya?
Ilustrasi (listchallenges.com)

Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal memasukkan sebuah riwayat tentang Nabi Adam yang bertanya kepada Allah tentang perbedaan kedudukan yang terjadi di antara anak-cucunya. Berikut riwayatnya:

حدثّنا عبد الله، جدّثنا أبي، حدّثنا عبد الصمد، حَدَّثَنَا أَبُوْ هِلَالٍ، حَدَّثَنَا بَكْرٌ قَالَ: لَمَّا عُرِضَ عَلَى آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ذُرِّيَّتُهُ فَرَأَى فَضْلَ بَعْضِهِمْ عَلَى بَعْضٍ قَالَ: يَا رَبِّ، فَهَلَّا سَوَّيْتَ بَيْنَهُمْ؟ قَالَ: يَا آدَمُ، إِنِّيْ أَحْبَبْتُ أَنْ أُشْكَرَ

Abdullah bercerita, ayahku bercerita, Abdus Shamad bercerita, Abu Hilal bercerita, Bakr bercerita kepada kita, ia berkata:

Ketika diperlihatkan kepada Adam ‘alaihissalam (kehidupan) keturunannya (kelak), ia melihat keutamaan (yang dimiliki) sebagian mereka terhadap sebagian (lainnya).

Adam berkata: “Wahai Tuhan, kenapa Kau tidak menyamakan di antara mereka (saja)?”

Allah menjawab: “Wahai Adam, sesungguhnya Aku sangat senang jika Aku disyukuri.” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 61)

****

Kelebihan atau keutamaan yang dimaksud bukan melulu soal kaya-miskin dan tampan-jelek, melainkan kelapangan hidup yang mengarah pada kebahagiaan abadi. Sebab, di posisi apa pun manusia berada, manusia memiliki masalahnya sendiri-sendiri; manusia memiliki kebahagiannya sendiri-sendiri. Belum tentu orang miskin lebih banyak masalahnya dari orang kaya. Begitu pun sebaliknya, belum tentu orang kaya lebih sedikit masalahnya dari orang miskin. Karena itu, jika keutamaan (kelebihan) yang dimaksud hanya soal kaya-miskin dan tampan-jelek, orang-orang hanya akan bersyukur ketika mendapatkan dua hal itu. Padahal Allah berfirman (QS. Ibrahim: 7):

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menerangkan kalimat, “lain syakartum” (jika kalian mensyukuri) dengan lanjutan “ni’matî ‘alaikum la’azîdannakum minhâ” (nikmat-Ku kepada kalian, maka akan Kutambahkan nikmat-Ku kepada kalian). (Imam Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm, Riyad: Dar Tayyibah, 2002, juz 4, h. 480). Artinya, syukur dalam ayat di atas adalah mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang beragam bentuknya, tidak selalu soal harta benda. Hal ini diperkuat oleh penjelasan Tafsîr al-Thabarî:

لئن شكرتم ربَّكم، بطاعتكم إياه فيما أمركم ونهاكم، لأزيدنكم في أياديه عندكم ونعمهِ عليكم

“Jika kalian bersyukur pada Tuhan kalian dengan ketaatan kepada-Nya atas apa yang diperintahkan-Nya dan apa yang dilarang-Nya kepada kalian, maka Dia akan menambah anugerah-anugerah-Nya di sisi kalian dan (menambah) nikmat-nikmat-Nya kepada kalian.” (Imam Abu Ja’far bin Jarir al-Thabari, Tafsîr al-Thabari, Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1994, juz 4, h. 441)

Ini menunjukkan bahwa bersyukur kepada Allah harus ditampilkan dengan ketaatan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka Allah akan menambahkan anugerah dan nikmat-Nya. Dengan demikian, maka bisa dipahami alasan di balik perbedaan derajat kemuliaan atau keutamaan anak-cucu Adam. Karena sebagian dari mereka gemar mensyukuri nikmat Allah sehingga Allah terus menambah kemuliannya, dan sebagian lainnya malas mensyukuri nikmat Allah bahkan tidak sedikit yang mengkufurinya. Di sinilah awal mula terjadinya ketidak-samaan antar satu sama lainnya.

Karena itu Allah menjawab pertanyaan Adam dengan kalimat, “Wahai Adam, sesungguhnya Aku sangat senang jika Aku disyukuri.” Itu artinya, syukur kita kepada Allah bisa menjadi pembeda kedudukan kita di sisi-Nya, bahkan dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Imam Ibrahim al-Nakha’i (47-96 H) mengatakan:

شُكْرُهُ أَنْ يُسَمِّيَ إِذَا أَكَلَ، وَيَحْمَدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا فَرِغَ

“Syukur adalah menyebut nama-(Nya) ketika makan, dan memuji Allah ‘Azza wa Jalla ketika selesai (makan).” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 61)

Dengan mengamalkan “menyebut nama-Nya ketika makan dan memuji-Nya ketika selesai”, kita sedang melatih diri kita sendiri untuk memahami dan mengenali nikmat-nikmat Allah di sekitar kita. Kita harus akui bahwa makanan termasuk nikmat Allah yang sering kita lalaikan kedudukannya. Kita hanya memakannya tanpa merasakan atau mengenalinya sebagai nikmat.

Persoalannya adalah, jika hal yang setiap hari kita lakukan (makan), dan makanan yang merupakan kebutuhan sehari-hari tidak menyadarkan kita untuk bersyukur, lalu bagaimana dengan hal-hal yang jarang kita lakukan dan tidak termasuk kebutuhan sehari-hari. Tentu saja kita akan lebih melalaikannya. Karena itu, “menyebut nama Allah ketika makan dan memuji-Nya setelah makan” bisa menjadi awal dari pelatihan diri kita. Agar kita lebih terdidik dalam memahami setiap nikmat Allah. Kemudian perlahan-lahan kita akan mulai mengenali nikmat-nikmat-Nya yang lain dan merasakannya, sehingga kita akan bersungguh-sungguh dalam bersyukur dan menjadi orang yang dilebihkan Allah karena syukur kita kepada-Nya.

Pertanyaanya, sudahkah kita memulainya? Wallahu a’alm bish shawwab...


Muhammad Afiq Zahara, alumnus PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen