IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Niat Badal Umrah

Selasa 16 Juli 2019 5:0 WIB
Share:
Niat Badal Umrah
foto: setkab.go
Sejumlah lembaga menyediakan layanan badal haji dan umrah untuk masyarakat yang memerlukan jasa tersebut. Lembaga ini menjalankan praktik peribadatan haji dan umrah seorang jamaah yang dibadalkan.

Badal haji atau umrah dapat dilakukan dengan syarat orang yang membadalkan sudah pernah menjalankan ibadah haji dan orang yang dibadalkan sudah uzur baik karena sakit, renta/lansia, atau wafat seperti keterangan riwayat hadits berikut ini:

 أن النبي صلى الله عليه وسلم سمع رجلا يقول لبيك عن شبرمة، فقال: من شبرمة؟ قال: أخ لي أو قريب لي، قال: حججت عن نفسك؟ قال: لا، قال: حج عن نفسك ثم حج عن شبرمة

Artinya, “Rasulullah SAW mendengar seorang sahabat melafalkan talbiyah, ‘Labbayka untuk Syabramah.’ Ia bertanya, ‘Syabramah siapa?’ ‘saudara atau kerabatku,’ kata orang tersebut. ‘Kau sudah berhaji?’ ‘Belum,’ jawabnya. ‘Kau sendiri harus berhaji terlebih dahulu, kemudian boleh membadalkan,’” (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dalam pembadalan haji atau umrah, semua ketentuan ibadah keduanya berlaku, termasuk anjuran pelafalan niat badal haji atau badal umrah. Pelafalan niat dianjurkan untuk kemantapan niat di dalam hati.

ويستحب التلفظ بالنية التي يريدها مما مر، لتأكد ما في القلب كسائر العبادات فيقول بقلبه وجوبا وبلسانه ندبا

Artinya, “(Jamaah) dianjurkan untuk melafalkan niat ibadah (haji atau umrah) yang dia kehendaki sebagaimana penjelasan telah lalu untuk memantapkan hatinya, sebagaimana ibadah yang lain. Ia wajib menyatakan niat dalam hatinya, dan sunah melafalkan dengan lisannya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, [Beirut, Darul Fikr: 1433-1434 H/2012 M], juz II, halaman 517).

Adapun berikut ini adalah lafal niat badal umrah yang dapat dibaca oleh lembaga atau relawan yang akan melaksanakan badal umrah orang lain:

نَوَيْتُ العُمْرَةَ عَنْ فُلَانٍ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى

Nawaytul ‘umrata ‘an fulān (sebut nama jamaah umrah yang dibadalkan) wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja ibadah umrah untuk si fulan (sebut nama jamaah yang dibadalkan) dan aku ihram umrah karena Allah ta‘ala.”

Sementara berikut ini adalah lafal alternatif niat badal umrah: 

نَوَيْتُ العُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى عَنْ فُلَانٍ

Nawaytul ‘umrata wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā ‘an fulān (sebut nama jamaah umrah yang dibadalkan).

Artinya, “Aku menyengaja ibadah umrah dan aku ihram umrah karena Allah ta‘ala untuk si fulan (sebut nama jamaah yang dibadalkan).”

Lafal niat badal umrah ini dapat ditarik dari keterangan Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin dalam karyanya Busyral Karim.

وإن حج أو اعتمر عن غيره قال نويت الحج أو العمرة عن فلان وأحرمت به لله تعالى ولو أخر لفظ عن فلان عن وأحرمت به لم يضر على المعتمد إن كان عازما عند نويت الحج مثلا أن يأتي به وإلا وقع للحاج نفسه 

Artinya, “Jika seseorang melaksanakan ibadah haji atau umrah untuk membadalkan orang lain, maka ia mengatakan, ‘Nawaytul hajja awil ‘umrata ‘an fulān wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā.’ Tetapi jika ia meletakkan kata ‘an fulān’ setelah kata ‘wa ahramtu bihī,’ maka tidak masalah menurut pandangan muktamad dengan catatan ia merencanakan pelafalannya di akhir. Tetapi jika tidak bermaksud melafalkannya, maka ibadah haji atau umrah yang dia lakukan jatuh untuk dirinya, (bukan untuk jamaah yang dibadalkannya),” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, [Beirut, Darul Fikr: 1433-1434 H/2012 M], juz II, halaman 517).

Semoga lafal niat badal umrah ini membantu atau setidaknya mengingatkan lembaga, keluarga, atau relawan yang membadalkan umrah orang lain. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Senin 15 Juli 2019 15:35 WIB
Niat Badal Haji
Niat Badal Haji
foto: pixabay
Badal haji merupakan praktik peribadatan haji seorang jamaah yang dilakukan oleh orang lain dengan ketentuan haji pada umumnya. Badal haji dapat dilakukan dengan syarat orang yang membadalkan sudah pernah menjalankan ibadah haji dan orang yang dibadalkan sudah uzur baik karena sakit, renta/lansia, atau wafat.

Badal haji bagi sebagian ulama seperti mazhab Syafi’i berlaku dan sah menurut syariat. Sebuah hadits shahih menceritakan seorang perempuan dari Khats’am yang meminta izin pembadalan haji kepada Rasulullah SAW:

يا رسول الله إن فريضة الله على عباده فى الحج ادركت أبى شيخا كبيرا لا يثبت على الراحلة افأحج عنه؟ قال نعم (متفق عليه

Artinya, “’Wahai Rasulullah, sungguh kewajiban haji berlaku atas hamba-hamba Allah. Saya menjumpai bapak saya telah tua dan tidak mampu duduk di atas kendaraan. Apakah saya mengerjakan haji atas namanya?’ Rasulullah menjawab, ‘ya,’” (Muttafaq alaih).

Dalam pembadalan haji, semua ketentuan ibadah haji berlaku, termasuk anjuran pelafalan niat badal haji. Pelafalan niat badal haji dianjurkan untuk kemantapan niat badal haji di dalam hati.

ويستحب التلفظ بالنية التي يريدها مما مر، لتأكد ما في القلب كسائر العبادات فيقول بقلبه وجوبا وبلسانه ندبا

Artinya, “(Jamaah haji) dianjurkan untuk melafalkan niat ibadah (haji atau umrah) yang dia kehendaki sebagaimana penjelasan telah lalu untuk memantapkan hatinya, sebagaimana ibadah yang lain. Ia wajib menyatakan niat dalam hatinya, dan sunah melafalkan dengan lisannya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, [Beirut, Darul Fikr: 1433-1434 H/2012 M], juz II, halaman 517).

Berikut ini adalah lafal niat badal haji yang dapat dibaca oleh relawan yang akan melaksanakan badal haji orang lain: 

نَوَيْتُ الحَجَّ عَنْ فُلَانٍ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى

Nawaytul hajja ‘an fulān (sebut nama jamaah haji yang dibadalkan) wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja ibadah haji untuk si fulan (sebut nama jamaah yang dibadalkan) dan aku ihram haji karena Allah ta‘ala.”

Sedangkan berikut ini adalah lafal alternatif niat badal haji: 

نَوَيْتُ الحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ للهِ تَعَالَى عَنْ فُلَانٍ

Nawaytul hajja wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā ‘an fulān (sebut nama jamaah haji yang dibadalkan).

Artinya, “Aku menyengaja ibadah haji dan aku ihram haji karena Allah ta‘ala untuk si fulan (sebut nama jamaah yang dibadalkan).”

Lafal niat badal haji ini dapat ditarik dari keterangan Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin dalam karyanya Busyral Karim.

وإن حج أو اعتمر عن غيره قال نويت الحج أو العمرة عن فلان وأحرمت به لله تعالى ولو أخر لفظ عن فلان عن وأحرمت به لم يضر على المعتمد إن كان عازما عند نويت الحج مثلا أن يأتي به وإلا وقع للحاج نفسه 

Artinya, “Jika seseorang melaksanakan ibadah haji atau umrah untuk membadalkan orang lain, maka ia mengatakan, ‘Nawaytul hajja awil ‘umrata ‘an fulān wa ahramtu bihī lillāi ta‘ālā.’ Tetapi jika ia meletakkan kata ‘‘an fulān’ setelah kata ‘wa ahramtu bihī,’ maka tidak masalah menurut pandangan muktamad dengan catatan ia merencanakan pelafalannya di akhir. Tetapi jika tidak bermaksud melafalkannya, maka ibadah haji atau umrah yang dia lakukan jatuh untuk dirinya, (bukan untuk jamaah yang dibadalkannya),” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, [Beirut, Darul Fikr: 1433-1434 H/2012 M], juz II, halaman 517).

Semoga lafal niat badal haji ini membantu mereka yang membadalkan haji orang lain. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 14 Juli 2019 21:15 WIB
Kurban Online dan Permasalahannya
Kurban Online dan Permasalahannya
Ilustrasi (via muslimvillage.com)
Banyak cara yang dilakukan oleh kaum Muslimin dalam rangka melaksanakan ibadah kurban. Setelah reda masalah urunan kurban dan arisan kurban, kini muncul kembali inovasi baru melaksanakan kurban dengan jalan penggalangan dana melalui sarana media online. Penggalangan dana ini memiliki beberapa bentuk, yaitu:

1. Dengan menyebut harga hewan kurban. Misalnya untuk kambing, dipatok seharga 1.650.000 rupiah per mudlahhy (orang yang berkurban). Jika ada 7 orang yang menyetorkan donasi yang sama, maka awalnya kurban kambing akan diubah menjadi kurban sapi. 

2. Ada situs daring social media yang tidak menyebut harga hewannya. Semua calon mudlahhy bisa menyetor sejumlah dana ke pihak provider dengan tidak dibatasi jumlahnya. Walhasil, pola yang kedua ini menyerupai urunan kurban. Apakah sah? Sudah pasti perlu mencermati praktik detailnya. 

Munculnya penggalangan dana online untuk kurban ini sejatinya menyisakan beberapa masalah fiqih, antara lain:

Proses Tawkil Hewan Kurban

Tawkil adalah proses pengangkatan wakil dari orang yang berkurban (mudlahhy). Proses tawkil ini biasanya menggunakan shighat pengangkatan wakil. Misalnya: "Saya wakilkan kepadamu penyembelihan hewan kurban ini." Kemudian pihak wakil menjawab: "Saya terima perwakilannya". 

Selaku wakîl dari mudlahhy, ketetapan syara' yang berlaku atasnya adalah wakil harus menyebut pihak yang diwakilinya saat menyembelih hewan kurban. Misalnya: "Aku berniat menyembelih hewan ini untuk kurbannya si fulan karena Allah Ta'ala." Ketiadaan wakil menyebut peruntukan hewan kurban, menjadikan kurban tersebut belum menjadi kurban dari pihak yang diwakilinya, melainkan menjadi hewan kurban secara umum. Konsekuensinya, pihak wakil harus mengganti hewan tersebut karena belum dianggap sah sesuai peruntukannya. 

ومتى خالف شيأ مما ذكر فسد تصرفه وضمن قيمته يوم التسليم ولو مثليا

Artinya: "Ketika seorang wakil bertindak kebalikan dari apa yang telah disebutkan muwakkil (orang yang mewakilkan—dalam hal ini pelaksana kurban) maka rusaklah pemanfaatannya dan ia wajib menanggung harga barang yang diwakilinya sebagaimana hari penyerahan, meskipun dengan harga mitsil." (Zainu al-Dîn al Malaibary, Fathu al-Mu'în bi Syarhi Qurrati al-'Ain, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.: 124)

Berdasar nukilan ini, maka langkah yang tepat dan seharusnya dilakukan oleh wakil adalah sebagai berikut:

1. Menyusun form aplikasi kurban yang berisi akad perwakilan dari mudlahhy ke orang tertentu yang ditunjuk sebagai wakil 

2. Ketika melakukan penyembelihan, maka wajib bagi pihak yang diwakili mengatasnamakan sembelihan hewan kurban tersebut ke pihak yang diwakilinya

Kecenderungan yang selama ini berkembang adalah karena terlalu banyak pihak yang menyetor dana kurban ke provider tertentu, lalu provider mengirim hewan kurban tersebut ke masjid-masjid atau daerah yang tidak diketahui siapa yang menyembelih dan tidak disebutkan siapa yang berkurban. Bila terjadi hal semacam, maka kurban dari mudlahhy menjadi tidak sah disebabkan di luar ketentuan ta'yin tawkil. Sebagaimana hal ini disinggung oleh Sayyid Abdullah al-Ba'alawy sebagai berikut: 

ويجب على الوكيل موافقة ما عين له الموكل من زمان ومكان وجنس ثمن وقدر كالأجل والحلول وغيرها اودلت قرينة قوية من كلام الموكل اوعرف اهل ناحيته فإن لم يكن شيئ من ذلك لزمه العمل بالأحوط

Artinya: "Wajib atas wakil mengerjakan sesuatu sesuai dengan yang ditentukan padanya oleh muwakkil, baik dari sisi waktu, tempat, jenis, harga, kadar, misalnya kredit atau kontan dan lain-lain, atau setidaknya menyesuaikan terhadap petunjuk yang mendekati atas perkataannya pihak yang mewakilkan atau tradisi ahli wilayahnya muwakkil. Kecuali jika sama sekali tidak diketahui adanya qarinah atau petunjuk yang mendekati ke arah muwakkil, maka wajib bagi wakil melakukan pekerjaan yang lebih hati-hati menurut pertimbangannya." (Sayyid Abdullah al-Ba'alawy, Bughyatu al-Mustarsyidin, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.: 250)

Jadi, berdasarkan keterangan ini, seharusnya bagi pihak provider yang menyalurkan hewan kurbannya dalam kondisi belum disembelih ke wilayah lain, hendaknya ia melakukan hal-hal sebagai berikut:

1. Pihak yang ditunjuk wakil oleh muwakkil, mengangkat wakil lagi atas nama muwakkil di tempat baru

2. Pada setiap hewan kurban yang diserahkan, turut disertakan nama hewan kurban tersebut diperuntukkan untuk pihak yang diwakilinya.

3. Baik ketentuan 1 dan 2, atau ketentuan sebelumnya sebagaimana telah diuraikan di atas, apabila tidak diindahkan oleh wakil mudlahhy, maka pihak wakil hakikatnya dia wajib menanggung atas ketidaksahan hewan kurban tersebut sebagai kurbannya orang yang diwakilinya.

Peserta kurban yang menyetor dana tidak cukup untuk membeli seekor kambing kurban

Pada hakikatnya, kasus ini menyerupai kasus urunan hewan kurban. Untuk itu berlaku baginya ketentuan yang berlaku pada hukum urunan kurban. 

Ketentuan yang berlaku atas urunan hewan kurban ini adalah sebagai berikut:

1. Pihak donatur belum bisa dianggap sebagai mudlahhy

2. Batas minimal hewan kurban adalah 1 ekor kambing untuk 1 mudlahhy , atau 1 ekor sapi untuk 7 orang mudlahhy. 

3. Bagi pihak yang menyetor dana yang kurang dari harga kambing, mereka mendapatkan pahala sedekah (menurut ketentuan syarat hewan kurban)

4. Pihak provider harus menentukan (menta'yin) bahwa hewan kurban tersebut diperuntukkan untuk si fulan (jika 1 ekor kambing), atau menunjuk 7 orang (jika 1 ekor sapi)

Ketentuan sebagaimana disebut di atas berangkat dari pendapat Imam An-Nawawi sebagai berikut:

الشاة الواحدة لا يضحى بها إلا عن واحد. لكن إذا ضحى بها واحد من أهل بيت، تأدى الشعار والسنة لجميعهم... وكما أن الفرض ينقسم إلى فرض عين وفرض كفاية. فقد ذكروا أن التضحية كذلك. وأن التضحية مسنونة لكل أهل بيت

Artinya, “Seekor kambing bisa disembelih hanya untuk ibadah kurban satu orang. Kalau salah seorang dari seisi rumah telah berkurban, maka sudah nyatalah syar Islam dan sunah bagi seisi rumah itu... Sebagaimana fardu itu terbagi pada fardu ‘ain dan fardu kifayah, para ulama juga menyebut hukum sunah kurban juga demikian. Ibadah kurban disunnahkan bagi setiap rumah,” (Lihat Muhyiddin Syaraf An-Nawawi, Raudhatut Thalibin wa Umdatul Muftiyin, Beirut: Darul Fikr, 2005 M/1425-1426 H, juz 2, hal. 466).

Walhasil, setiap ada inovasi baru dalam pemanfaatan teknologi, secara tidak langsung membawa pengaruh terhadap praktik umum yang berlaku dalam masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan ibadah kurban. Karena kurban merupakan ibadah, maka sah dan tidaknya kurban adalah bergantung pada dipenuhi atau tidaknya syarat dan ketentuan dalam ibadah. Kurban online merupakan inovasi baru yang syarat dengan proses tawkil atau pewakilan. Oleh karena itu, wajib bagi pihak yang menyelenggarakan penggalangan dana memperhatikan ketentuan tawkil tersebut demi keabsahan pengguna jasanya. Jika tidak mengindahkan, maka sudah pasti mereka berdosa karena secara syar'i, sembelihan kurban orang yang diwakilinya tidak sah, dan provider terkena hukum taklif wajib menggantinya. Wallahu a'lam bish shawab.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu'iyah LBM PWNU Jawa Timur dan Pengasuh Ponpes Hasan Jufri Putri, P. Bawean

Ahad 14 Juli 2019 20:15 WIB
Solusi saat Tidak Mampu Mencium Hajar Aswad
Solusi saat Tidak Mampu Mencium Hajar Aswad
Ilustrasi (via tripadvisor.ca)
Hajar aswad merupakan batu yang diberikan keistimewaan tersendiri oleh Allah subhanahu wata’ala. Ia adalah batu yang menjadi saksi keagungan dan kemuliaan sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum beliau diangkat menjadi Nabi.

Saat Rasulullah berusia 35 tahun, orang-orang Quraisy merenovasi total Ka’bah, kemudian mereka berselisih pendapat mengenai siapakah yang berhak membawa dan meletakan hajar aswad di sekitar Ka’bah, hingga akhirnya mereka sepakat bahwa yang berhak mengangkat dan meletakannya adalah orang yang pertama kali memasuki Ka’bah. Singkat cerita, orang yang memenuhi kriteria di atas adalah Nabi Muhammad SAW, sosok yang diberi gelar “al-Amin” (orang yang terpercaya) oleh mereka. Sebuah kebanggaan tersendiri bisa mengangkat batu hitam yang prestis itu. Nabi bisa saja mengangkatnya sendiri, tanpa harus melibatkan orang lain.

Namun berkat kebesaran jiwanya, Nabi tidak memonopoli kesempatan yang langka tersebut untuk dirinya sendiri, sebab beliau bukan tipikal orang yang gila hormat dan pangkat. Pada akhirnya Nabi meletakkan hajar aswad di atas sebuah selendang dan mengajak setiap pembesar suku Quraisy untuk ikut serta membawa batu itu sampai tempatnya, kemudian beliau mengambil batu itu dan meletakkannya.

Menurut riwayat Ibnu Khuzaimah dari Ibnu Abbas, hajar aswad adalah batu intan permata dari surga, dulu berwarna sangat putih tapi kemudian menjadi hitam karena dosa-dosa yang dilakukan oleh umat manusia.

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

روي ابن خزيمة عن ابن عباس رضي الله عنهما أن الحجر الأسود ياقوتة من يواقيت الجنة أشد بياضا من اللبن وإنما سودته خطاي ابن آدم ولولا ذلك ما مسه ذوعمة إلا برئ

“Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anh bahwa sesungguhnya hajar aswad merupakan salah satu batu intan permata dari beberapa intan permata di surga, berwarna sangat putih, lebih putih dari susu, hanya saja dosa-dosa manusia menjadikannya hitam. Andai saja tidak terjadi hal itu, maka tak seorangpun yang sakit ketika menyentuhnya kecuali ia akan sembuh,” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Baca juga:
Kisah Peletakan Hajar Aswad
Delapan Fakta dan Keistimewaan Hajar Aswad
Doa ketika Melihat, Menyentuh, atau Mencium Hajar Aswad
Mencium hajar aswad adalah hal yang disunnahkan bagi orang yang melaksanakan tawaf, berdasarkan teladan yang dilakukan Nabi. Dua guru besar ulama hadits, al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan:

عن ابن عمر أنه رأى رسول الله صلي الله عليه وسلم قبله

“Dari Ibnu Umar bahwa beliau melihat Rasulullah SAW mencium hajar aswad,” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hanya saja, saat musim haji yan padat jamaah dari berbagai penjuru dunia, mencium hajar aswad agaknya sulit dilakukan, tidak semua jamaah dengan mudah mendapat kesempatan emas itu. Populasi umat Islam yang tengah menjalankan manasik di tempat tawaf hampir tidak pernah sepi dari pengunjung. Berdesakan dan saling dorong tidak bisa dihindari untuk memburu batu surga itu.

Sebenarnya bisa saja memakai jasa orang yang berbadan gempal untuk mempermudah sampai di tempat hajar aswad, namun dalam prakteknya tidak lepas dari tindakan menyakiti jamaah lain, seperti mendesak, mendorong bahkan sampai memukul.

Jika demikian faktanya, maka dalam kondisi tersebut tidak perlu memaksakan diri untuk menghampiri dan mencium hajar aswad, sebab dapat menimbulkan mudarat untuk diri sendiri dan orang lain. Kesunnahan mencium hajar aswad bisa berubah menjadi hal yang diharamkan bila dapat menimbulkan efek menyakiti tersebut. Sebab membuat mudarat kepada diri sendiri atau orang lain adalah haram, sedangkan mencium hajar aswad hanya sunnah.

Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar Al-Syathiri berkata:

الخامس أن يبدأ بالحجر الأسود وقالوا يقف قبالته ويستلمه ويقبله ويضع جبهته عليه ويتأخر قليلا ويجعله علي يساره ويمشى وكل ذلك منوط بعدم الإيذاء أما إذا ترتب علي التقبيل او الإستلام ضرر او إيذاء علي نفسه او غيره لكثرة الزحام فلا يسن بل قد يحرم لأن الضرر والإيذاء حرام والتقبيل و الإستلام مسنونان

“Kelima adalah memulai dari hajar aswad. Para ulama berkata, orang yang tawaf hendaknya berhenti di depan hajar aswad, lalu mengusapnya kemudian menciumnya dan melatakkan jidadnya di atas batu itu, lalu ke belakang sedikit dan menjadikan batu itu di arah kirinya kemudian berjalan. Semua hal itu digantungkan atas ketiadaan menyakiti, sehingga andai saja dalam mencium atau mengusap hajar aswad dapat mengakibatkan bahaya ataupun menyakiti, baik kepada diri sendiri atau orang lain, karena banyaknya orang yang berdesakan, maka tidak disunnahkan bahkan diharamkan, karena bahaya dan menyakiti orang lain adalah haram, sedangkan mencium dan mengusap hajar aswad merupakan sunnah,” (Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar Al-Syatir, Syarh Al-Yaqut Al-Nafis, Dar al-Minhaj, hal. 328-329).

Ulama memberi solusi bagi jamaah haji yang tidak memungkinkan untuk mencium hajar aswad secara langsung dengan cara mengusap hajar aswad dengan tangan lalu mencium tangannya itu. Bila tidak mampu melakukan hal itu, maka bisa diganti dengan mengusap tongkat atau benda lain dan menciumnya, bila tidak mampu juga, maka cukup berisyarat dengan lambaian tangan atau benda yang ada di tangan lalu menciumnya.

Tahapan-tahapan tersebut dijelaskan oleh Syekh Zakariya Al-Anshari sebagai berikut:

ـ (و) أن (يقبله) ويضع جبهته عليه فإن عجز عن ذلك استلم باليد ثم قبلها فإن عجز عن الإستلام بها استلم بعصا او نحوها وقبلها فإن عجز أشار بيده او بشيء فيها ثم قبل ما أشار به إليه

“Sunnah mencium hajar aswad dan meletakkan jidat di atasnya. Bila tidak mampu maka mengusapnya dengan tangan kemudian mencium tangannya, bila tidak mampu lagi, maka mengusapnya dengan tongkat atau lainnya dan kemudian menciumnya. Bila tidak mampu lagi, maka berisyarat dengan tangannya atau sesuatu yang ada pada tangannya kemudian menciumnya,” (Syekh Zakariya Al-Anshari, Syarh Al-Tahrir, Al-Haramain, juz 1, hal 472-473).

Jamaah haji tidak perlu memaksakan diri untuk mengejar kesunnahan mencium hajar aswad bila ujung-ujungnya menimbulkan ketidaknyamanan kepada jamaah lain. Mereka tidak perlu cemas, sebab ulama fiqih sudah memberi solusi dengan tahapan-tahapan yang telah dijelaskan di atas. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.