IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Allah Bukanlah ‘Jism’ (I)

Kamis 15 Agustus 2019 20:45 WIB
Share:
Allah Bukanlah ‘Jism’ (I)
Ilustrasi

Banyak ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) yang menyebut kata jism, tapi tak semua orang paham apa maksudnya dan mengapa Allah mustahil dianggap sebagai jism. Sebagian orang ada juga yang menyangka penggunaan kata jism ini tak dikenal di era ulama salaf sehingga tak layak jadi bahasan. Artikel ini mencoba mengurai perihal pembahasan jism ini dalam ilmu aqidah Ahlusussunah wal Jama’ah dengan meminimalisasi penggunaan istilah teknis ilmu kalam yang mungkin membingungkan, serta seperlunya mengutip pendapat para imam.

 

Imam Ahmad mendefinisikan jism sebagai sesuatu yang mempunyai panjang, lebar dan tinggi (bervolume) dan terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil. Ia berkata:

 

إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ

 

"Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syariah dan peristilahan bahasa sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jism) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk, dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua. Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jism sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syariat, maka batal menyifati Allah demikian". (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, hal. 45).

 

Dengan definisi di atas berarti seluruh semesta alam ini beserta isinya, yang terlihat maupun tidak, yang teramat kecil maupun yang teramat besar, seluruhnya adalah jism. Manusia adalah jism sebab mempunyai volume dan tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil berupa organ-organ hingga unsur yang lebih kecil lagi semisal sel. Benda-benda langit yang ukurannya sangat besar jelas juga jism. Demikian juga hal yang tak kasat mata semisal udara adalah jism sebab hakikatnya adalah susunan dari nitrogen, oksigen, argon, karbon dioksida dan lain-lain. Oksigen dalam udara pun juga jism sebab hakikatnya adalah susunan dari dua atom oksigen sehingga biasa disebut sebagai O2. Atom pun juga jism sebab hakikatnya adalah susunan dari inti atom dan awan elektron. Inti atom pun juga jism sebab ia adalah susunan dari proton dan neutron. Proton juga jism sebab ia ada susunan dari unsur yang lebih kecil berupa elektron dan quark.

 

Hingga saat ini, ilmu pengetahuan yang dicapai manusia menghasilkan kesimpulan bahwa seluruh hal yang ada di semesta ini adalah sebuah medan gelombang (field) yang di dalamnya ada susunan partikel elektron, neutrino, quark atas dan quark bawah. Bahkan ruang kosong pun sebenarnya adalah medan gelombang yang tersusun sedemikian rupa yang menjadi fundamental building block dari alam semesta. Dengan demikian, seluruh isi jagat raya yang diamati manusia adalah jism kecuali unsur dasar yang menyusun jism itu sendiri dan sifat-sifat yang melekat pada jism tersebut.

 

Seluruh jism di level subatomik mempunyai karakter yang sama persis. Semua merupakan susunan yang elemennya saling membutuhkan satu sama lain. Yang membedakan hanyalah komposisi elemen penyusun jism itu sehingga akhirnya ada jism yang berupa partikel, gas, sel, manusia, hewan, tumbuhan, benda, planet, bintang, galaksi dan seterusnya dengan aneka ragam bentuknya. Ketika Allah berfirman:

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

 

Tak ada satu pun yang serupa dengan Allah sedikit pun”. (QS. asy-Syura: 11)

 

Dan, di tempat lainnya Allah menegaskan dalam bentuk pertanyaan bahwa manusia takkan mengetahui ada yang sama dengan Allah, yaitu dalam ayat:

 

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

 

"Apakah kamu tahu ada yang sama dengan-Nya?". (QS. Maryam: 65)

 

Selain tak ada yang serupa dan yang sama dengan diri-Nya, Allah juga menegaskan tak ada yang setara dengan Dia. Allah berfirman:

 

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

 

"dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia". (QS. al-Ikhlas: 4)

 

Maka dari itu, semua ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat mengatakan bahwa Allah bukanlah jism sebab seluruh jism itu sama, serupa, atau paling tidak setara meskipun berbeda-beda bentuknya. Fir’aun yang mengaku Tuhan ataupun api dan matahari yang dipertuhankan orang terdahulu, ketiganya berbeda karakter dan punya kehebatannya sendiri-sendiri. Tapi sebagai jism semuanya sama saja dan tak ada yang layak disembah. Wallahu a'lam.

 

Pada bagian selanjutnya akan dibahas pernyataan para imam beserta alasan mereka memustahilkan sifat jismiyah dari Allah. Bersambung...

 

 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.


 

Tags:
Share:

Baca Juga

Ahad 11 Agustus 2019 7:0 WIB
Awas Bahaya Syirik Tanpa Sadar, Kenali Bentuk-bentuknya!
Awas Bahaya Syirik Tanpa Sadar, Kenali Bentuk-bentuknya!
Ilustrasi
Kebanyakan orang hanya tahu bahwa yang disebut syirik hanya ketika melakukan penyembahan atau memberikan sesajen pada arca, berhala, matahari, gunung, pohon keramat dan sebagainya. Padahal kesyirikan juga dapat terjadi dalam hal lain yang bahkan mungkin dianggap wajar oleh orang awam. Berbeda dengan berbagai jenis dosa lainnya, perbuatan syirik adalah salah satu perbuatan dosa besar yang bila dibawa mati maka tak akan mendapat ampunan. Allah berfirman:
 
إِنَّ ٱللهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
 
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. an-Nisa’: 48)
 
Karena itulah sangat penting bagi seorang mukmin untuk tahu apa hakikat kesyirikan itu sehingga bisa sepenuhnya menjauhi semua jenisnya. Imam as-Sanusi (895 H), seorang teolog pembaharu dalam mazhab Ahlussunnah wal Jama’ah dalam kitabnya menukil keterangan Syekh Ibnu Dihaq (611 H), seorang teolog ternama di abad ketujuh hijriah. Ibnu Dihaq mendefinisikan syirik sebagai: 
 
إضافة الفعل لغير الله سبحانه وتعالى 
 
“Menyandarkan perbuatan [secara mandiri] pada selain Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi”. (as-Sanusi, Syarh ‘Aqîdati Ahli at-Tauhîd al-Kubrâ, 91)
 
Maksudnya adalah menganggap ada perbuatan yang secara mandiri dilakukan oleh selain Allah dan berefek tanpa ada campur tangan Allah sedikit pun sehingga secara penuh perbuatan itu disandarkan kepadanya. Ibnu Dihaq kemudian memperinci bentuk-bentuk syirik tersebut mencakup tiga kategori sebagaimana berikut:
 
Pertama, menyandarkan perbuatan pada bintang-bintang dan bahwasanya bintang-bintang itu berpengaruh pada alam yang di bawahnya; tumbuhan, hewan atau segala materi. Pada masa ini, keyakinan semacam ini ada dalam ilmu zodiak dan astrologi.
 
Kedua, menyandarkan perbuatan pada benda-benda dan bahwasanya perbuatan itu berikut efeknya adalah sebuah kewajiban yang pasti terjadi dan tak ada kaitannya dengan kehendak Allah. Misalnya, meyakini bahwa api bisa membakar secara mandiri, makanan bisa mengeyangkan secara mandiri, pisau bisa melukai secara mandiri dan seterusnya yang berkaitan dengan sunnatullah (hukum alam). Mandiri di sini maksudnya tanpa terkait kehendak Allah.
 
Di bagian ini banyak orang awam yang melakukan kesalahan fatal. Bila misalnya diyakini bahwa api dapat membakar sesuatu dengan sendirinya tanpa sedikit pun kuasa dan kehendak Allah dalam proses itu, maka dia dianggap kafir. Namun bila diyakini bahwa api dapat membakar dengan kekuatan membakar yang diberikan oleh Allah pada api itu, maka ini keyakinan yang tidak kufur tetapi bid’ah. Yang tepat adalah meyakini bahwa perbuatan benda beserta efeknya seluruhnya terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah. Kapan pun Allah berkehendak, Ia bisa membuat prosesnya terjadi di luar kebiasaan seperti dalam kisah Nabi Ibrahim yang tak terbakar api dan kisah mukjizat para Nabi lain yang menyelisihi hukum alam. Karena itulah, hukum alam dalam tradisi Islam disebut sebagai sunnatullah yang berarti sekadar kebiasaan Allah menerapkan aturan itu. Bila Allah berkehendak lain, maka sunnatullah itu tak akan terjadi.
 
Ketiga, menyandarkan perbuatan pada kehendak bebas manusia yang diberikan kekuasaan oleh Allah. Dalam pandangan ini, manusia seperti robot yang beroperasi dengan tenaga baterai dan bergerak sendiri dengan kecerdasan buatan tanpa ada kontrol lagi dari pembuatnya. Ini adalah akidah Muktazilah di masa lalu dan tanpa sengaja banyak diikuti orang awam di masa kini. Pandangan ini meniscayakan Allah tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan bila seorang manusia dengan kehendak bebasnya belum menentukan pilihan. Juga meniscayakan bahwa manusia sepenuhnya dapat memberi manfaat dan kerusakan secara mandiri tanpa bergantung pada kehendak Allah. Padahal, dalam keyakinan Ahlusunnah wal Jama’ah tak ada perbuatan yang bisa terjadi kecuali dengan izin Allah, termasuk perbuatan manusia dengan kehendak bebasnya. Bila Allah berkehendak terjadi kejadian A, maka manusia tak mungkin mengubahnya menjadi B meskipun berupaya sangat keras.
 
Itulah tiga jenis kesyirikan yang bisa saja terjadi tanpa disadari oleh masyarakat. Untuk lepas dari syirik ini, maka harus diyakini bahwa tak ada satu pun manfaat, kerusakan dan efek apa pun yang terjadi di dunia ini tanpa disertai kehendak dan perbuatan Allah untuk mewujudkannya. Bila berobat ke dokter, maka harus diingat bahwa bukan dokter atau obat yang memberi kesembuhan tetapi Allah. Bila berusaha lalu hasilnya berhasil atau gagal, maka harus diingat bahwa di sana juga ada kehendak Allah untuk membuatnya berhasil atau gagal. Demikian seterusnya untuk seluruh hal lain sehingga semua hal selalu terikat dengan Allah. 
 
Demikian penjelasan yang disaarikan dari pernyataan Ibnu Dihaq dan penjelasan as-Sanusi dalam Syarh ‘Aqîdati Ahli at-Tauhîd al-Kubrâ dengan beberapa penyesuaian dan penjelasan tambahan. Wallahu a'lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur. 
 
Jumat 9 Agustus 2019 19:45 WIB
Apakah Allah Bisa Diam Tak Berfirman?
Apakah Allah Bisa Diam Tak Berfirman?
Ilustrasi: Ilmu tauhid
Semua ulama dari semua golongan sepakat bahwa Allah bersifat mutakallim (Maha-Berfirman). Dasarnya secara rasional adalah tidak mungkin Tuhan itu bisu. Adapun dasar berupa dalil naqli ada begitu banyak ayat dan hadits yang menunjukkan bahwa Allah berkalam/berfirman. Bahkan, umat Islam seluruhnya meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kalâmullah alias firman Allah.  Namun, ada pertanyaan yang menggelitik yang sering kali timbul dalam topik ini, yakni apakah Allah bisa diam dalam arti sesekali berkalam dan sesekali tidak?
 
Bila orang awam mendapat pertanyaan ini, mungkin jawabannya adalah: Ya Allah bisa berkalam dan bisa juga diam bila menghendaki. Jawaban ala orang awam ini muncul sebab ia menganggap Allah sama dengan makhluk yang kadang berbicara dan kadang tidak. Menurut para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah), jawaban tersebut mutlak salah sebab kalam adalah salah satu sifat bagi Dzat Allah yang selalu ada dan tak pernah tiada. 
 
Imam para ahli tafsir, Ibnu Jarir at-Thabari (310 H), ketika menjelaskan sifat-sifat Allah mengatakan:
 
العالم الذي أحاط بكل شيء علمه، والقادر الذي لا يعجزه شيءٌ أراده، والمتكلم الذي لا يجوز عليه السكوت.
 
“Allah adalah Yang Maha-Mengetahui yang ilmunya meliputi segala sesuatu, dan yang Maha-Berkuasa yang tidak mungkin lemah terhadap apa pun yang Ia kehendaki, dan yang Maha-Berfirman yang tidak boleh Ia diam.” (at-Thabari, at-Tabshîr  Ma’âlim ad-Dîn, 127).
 
Kenapa tak boleh diam? Karena sifat berfirman Allah adalah sifat Dzat yang selalu ada bersama Dzat Allah sehingga tak mungkin sifat ini ada kalanya ada dan ada kalanya berhenti. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Qasthalani (923 H) dalam Syarahnya terhadap Shahih Bukhari berikut:
 

ولم يختلف في ذلك أحد من أرباب المِلَل والمذاهب وإنما الخلاف في معنى كلامه وقدمه وحدوثه، فعند أهل الحديث أن كلامه ليس من جنس الأصوات والحروف بل صفة أزلية قائمة بذاته تعالى منافية للسكوت الذي هو ترك التكلم مع القدرة عليه
 
“Tidaklah berbeda dalam hal itu (adanya kalâmullah) satu pun dari berbagai sekte dan mazhab. Perbedaan pendapat hanyalah dalam hal makna kalâmullah, tidak-berawalnya kalâmullah, dan kebaruannya. Adapun menurut para Ahli Hadits bahwasanya kalâmullah tidaklah berupa jenis suara dan huruf tetapi merupakan sifat yang ada tanpa awal mula (azali) yang berada pada Dzat Allah Ta’ala yang meniadakan adanya diam yang nota bene meninggalkan kalam padahal mampu” (al-Qasthalani, Irsyâd as-Sâry, vol. X, hlm. 428)
 
Berbicara lalu diam lalu berbicara lagi adalah sebuah perubahan kondisi. Perubahan kondisi dari satu kondisi ke kondisi lain adalah secara pasti menjadi ciri khas bagi sesuatu yang punya awal mula (muhdats atau makhluk). Bila Allah dianggap mengalami perubahan kondisi seperti ini, maka berarti Allah juga muhdats alias punya awal mula yang berarti Allah diciptakan. Ini sesuatu yang mustahil sehingga tak mungkin terjadi. Imam at-Thabari menjelaskan kemustahilan status Allah berawal mula (muhdats) ini dalam penjelasannya sebagaimana berikut:
 
 فلا شك أن من زعم أن الله محدثٌ، وأنه قد كان لا عالماً، وأن كلامه مخلوقٌ، وأنه قد كان ولا كلام له، فإنه أولى بالكفر وبزوال اسم الإيمان عنه.
 
“Maka tidak diragukan bahwasanya orang yang menyangka bahwa Allah punya awal mula (muhdats) dan bahwasanya sebelumnya Ia tidak tahu, dan bahwa FirmanNya adalah makhluk, dan sebelumnya Allah telah ada tetapi tidak berfirman, maka sesungguhnya orang itu lebih pantas terhadap kekufuran dan hilang nama iman darinya” (at-Thabari, at-Tabshîr  Ma’âlim ad-Dîn, 149).
 
Maksud Imam at-Thabari di atas adalah sifat-sifat bagi Dzat Allah memang ada sejak azali (kondisi tanpa awal mula). Allah sudah tahu terhadap kondisi alam semesta sejak sebelum alam semesta diciptakan, Kalâmullah (firman Allah) juga bukan makhluk yang awalnya tak ada kemudian ada diciptakan setelah adanya makhluk. Bersama Allah, kalâmullah selalu ada setiap saat bahkan sebelum alam semesta tercipta dan sebelum Allah menurunkan wahyu pada para utusan. Hingga kini dan sampai kapan pun nanti kalâmullah tetap selalu ada tanpa ada akhirnya.
 
Imam besar Ahlusunnah wal Jama’ah, Ibnu Furak (406 H), dalam kitabnya melarang orang berkata bahwa Allah berfirman dengan firman yang beruntun di mana satu firman ada setelah firman lainnya. Hal ini adalah mekanisme kalamnya makhluk yang menunjukkan bahwa kalamnya adalah makhluk pula. Selanjutnya Ia menegaskan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai berikut:
 
أَنا نقُول إِن الله لم يزل متكلما وَلَا يزَال متكلما وَإنَّهُ قد أحَاط كَلَامه بِجَمِيعِ مَعَاني الْأَمر وَالنَّهْي وَالْخَبَر والإستخبار
 
“Sesungguhnya kami berpendapat bahwa Allah selalu berfirman (berkalam) dan tak pernah berhenti berfirman dan bahwasanya firmannya mencakup semua makna perintah, larangan, berita dan pertanyaan.” (Ibnu Furak, Musykil al-Hadîts wa Bayânuhu, 405)
 
Imam Ibnu Furak juga menjelaskan bahwa keyakinan yang menyatakan bahwa Allah berfirman secara bertahap dan beruntun dari satu kata ke kata lainnya adalah keyakinan golongan Jahmiyah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. 
 
أَن مَا كَانَ كَذَلِك فَالثَّانِي متجدد بعد الأول وَكَذَلِكَ الثَّالِث بعد الثَّانِي وَمَا كَانَ كَذَلِك كَانَ مُحدثا مخلوقا وَلم تزد الْجَهْمِية الْقَائِلُونَ بِخلق الْقُرْآن على ذَلِك لما قَالُوا إِنَّه كَلَام يحدثه حَالا بعد حَال ويجدده مرّة بعد أُخْرَى
 
“Bahwa ucapan beruntun seperti itu, maka kata kedua setelah kata pertama dan kata ketiga setelah kata kedua. Yang seperti itu adalah muhdats dan makhluk. Jahmiyah tak bisa menambah penjelasan lagi melebihi itu karena mereka berkata bahwa kalâmullah adalah sesuatu yang diadakan secara bertahap dan diperbarui dari satu kata ke kata lain.” (Ibnu Furak, Musykil al-Hadîts wa Bayânuhu, 402-403)
 
Dari keterangan tersebut diketahui bahwa sifat kalâmullah yang azali tidaklah sama dengan proses makhluk berbicara yang terjadi secara berurutan dari satu kata ke kata lainnya. Yang benar adalah kalâmullah adalah sebuah sifat Dzat yang tanpa suara atau pun huruf sebagaimana telah dijelaskan dalam artikel sebelumnya
 
Selain itu, sifat kalam adalah sifat wajib yang keberadaannya pasti selalu ada tanpa tergantung pada kehendak dan kekuasaan Allah. Seperti halnya Allah selalu Maha-Hidup dan tak bisa mati, Maha-Mengetahui dan tak bisa tidak tahu, Maha-Mendengar dan tak bisa tuli, Maha-Melihat dan tak bisa buta, maka Allah juga Maha-Berfirman dan tak bisa diam atau bisu. Ketidakbisaan dalam konteks ini tak bisa diartikan bahwa Allah lemah sebab justru ketidakmampuan untuk tak mampu adalah tanda kemampuan yang absolut. Wallahu a'lam.
 
 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.
 
Kamis 8 Agustus 2019 15:0 WIB
Benarkah Pelaku Takwil dan Tafwidl adalah Musyabbih?
Benarkah Pelaku Takwil dan Tafwidl adalah Musyabbih?
Ilustrasi
Salah satu propaganda untuk menolak takwil atau tafwîdl yang notabene pilihan ulama Aswaja adalah dengan mengatakan bahwa pelaku takwil dan tafwîdl sejatinya adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). (Takwil merupakan cara memaknai kata dengan makna di luar bunyi tersuratnya, sementara tafwidl merupakan cara memaknai kata dengan memasrahkan makna hakikatnya pada Allah, red).

Alasannya sebab awalnya dia membayangkan sifat Allah sama dengan manusia kemudian dia tolak bayangan itu dengan cara takwil atau tafwîdl. Andai sedari awal dia tak membayangkan adanya kesamaan sama sekali antara keduanya, maka dia tak perlu lari pada takwil atau tafwîdl.

Dari situ kemudian disimpulkan bahwa Asy'ariyah adalah musyabbih sebab Asy'ariyah memilih jalan tafwîdl atau takwil. Banyak tokoh pemikir yang berargumentasi seperti ini hingga mereka mengarang kaidah semacam ini:
 
كل مشبه معطل، وكل معطل مشبه

“Setiap musyabbih adalah mu’atthil (orang yang menolak keberadaan sifat) dan setiap mu’atthil adalah musyabbih”.

Seorang pendaku Salafi mengatakan alasan kaidah seperti itu adalah:
 
لأنَّ من يعطل صفة الله إنما عطلها فراراً من التشبيه الذي قام في نفسه

“Sebab sesungguhnya orang yang menolak sifat Allah sebenarnya tak lain melakukannya karena lari dari tasybih yang ada dalam dirinya” (Abdurrazaq bin Abdil Muhsin al-Badr, Tadzkirah al-Mu’tasi Syarh Aqîdah al-Hâfidz Abd al-Ghany al-Maqdisi, hal. 133).
Sepintas penalaran di atas berikut kaidah yang mereka buat terlihat benar tetapi sejatinya jauh dari kebenaran sebab tak sesuai dengan proses penalaran yang benar. Kesalahan pernyataan seperti di atas dapat diketahui bila proses terjadinya sebuah penalaran diurai secara mendetail sebagai di bawah ini. Bahasan ini sebetulnya adalah bahasan dasar dalam ilmu manthiq. Penulis berusaha menyajikan bahasan ini dengan bahasa semudah mungkin. Berikut ini uraiannya:
 
1. Setiap orang berakal tatkala mendengar suatu kata, maka akan terbayang di benaknya arti kata itu. Kalau mendengar kata "kursi", maka akan terbayang benda yang biasa dijadikan tempat duduk itu. Bayangan di benak ini disebut para ulama sebagai tashawwur.
 
Keberadaan tashawwur ini adalah proses otomatis yang pasti terjadi (dlarûry) pada diri semua orang berakal. Bila tak muncul tashawwur sama sekali ketika mendengar satu kata yang sudah dikenal, itu artinya akalnya rusak sehingga tak mungkin memahami apa pun. Ini berarti dia lepas dari taklif (tanggung jawab agama) sebab gila.
 
Adapun bila suatu kata yang didengar tak dikenal, maka memang tak bisa timbul tashawwur sama sekali semisal mendengar kata "Zaqwikut" yang memang tak ada artinya. Ketiadaan tashawwur dalam hal ini disebut ketidaktahuan.
 
2. Karena tashawwur adalah proses otomatis dalam kegiatan menalar, maka proses ini tak bisa dihindari dan bukan merupakan suatu tindakan yang disengaja sehingga ia berada di luar wilayah taklifi.
 
Yang berada dalam wilayah taklifi di mana seorang berakal terikat dengan hukum halal atau haram adalah tindakan selanjutnya yang dilakukan secara sengaja. Membayangkan bentuk, cara, dan sifat-sifat suatu objek yang didengar adalah kegiatan yang disengaja yang terjadi setelah proses tashawwur yang otomatis itu.

Misalnya tatkala mendengar kata "kursi", ia tashawur tentang makna kursi sebagai tempat duduk. Sampai poin ini hanya ada makna tapi kosong dari detail. Lalu ketika ia membayangkan kira-kira bentuk kursinya kotak, bahannya kayu jati, ukurannya tingginya 50 cm, warnanya coklat, dan seterusnya, maka bayangan inilah yang disengaja di mana ia memilih salah satu ciri dari berbagai kemungkinan yang ada.
 
Dengan demikian, kegiatan membayangkan secara sadar dan disengaja itu selalu muncul setelah tashawwur. Bila tak ada tashawwur, maka tak mungkin bisa membayangkan.
 
3. Ketika ada dua kata yang dikenal dan bisa ditashawwurkan bila sendiri-sendiri, tetapi tak bisa ditashawwurkan bila digabung atau dinisbatkan, maka tashawwur makna yang asal menjadi buyar dan gabungan itu menjadi susunan kata yang tak bisa dipahami.
 
Misalnya kita kenal kata "leher" dan bisa men-tashawwur-kannya sebagai anggota tubuh yang menghubungkan kepala dan badan. Kita juga kenal kata "bola" sebagai benda yang bulat itu. Namun ketika kita mendengar kata "lehernya bola", maka kita tak mampu men-tashawwur-kannya sebab bola yang dapat kita pahami itu tak punya leher. Ketika tak bisa men-tashawwur-kannya, maka otomatis mustahil kita membayangkannya.
 
4. Dalam konteks sifat khabariyah Allah yang tergolong mutasyabihat, maka proses yang sama juga terjadi. Ketika kita mendengar kata "tangan", maka kita bisa memahaminya dan timbul tashawwur sebagai organ tubuh dari bahu hingga ujung jari. Ini adalah proses otomatis yang mau tak mau akan terjadi pada siapa pun yang berakal.
 
Namun ketika kata "tangan" itu digabung dengan kata "Allah" sehingga menjadi "tangan Allah", maka sampai di sinilah orang-orang berbeda. Sebagian pihak merasa masih bisa men-tashawwur-kannya sebagai tangannya Allah dalam arti sebagai organ tubuh Allah.
Mereka inilah yang disebut mujassimah dan musyabbihah. Disebut mujassimah karena menganggap Allah adalah jism (sosok yang bervolume), dan disebut musyabbih sebab men-tashawwur-kan sifat Allah sesuai standar yang berlaku pada manusia. Semua mujassimah dan musyabbihah sepakat bahwa jism Allah tak sama dengan jism makhluk, namun demikian tetaplah mereka disebut sebagai mujassimah atau musyabbihah.
 
Mereka ini berbeda-beda levelnya; ada yang berhenti di tashawwur saja tanpa lanjut pada level membayangkannya, dan ada juga yang hingga taraf membayangkan sehingga mengatakan Dzat Allah memenuhi Arasy kecuali empat jengkal saja, memenuhi seluruh Arasy tanpa menyisakan sejengkal pun, menyentuh Adam dengan tangan-Nya, mempunyai berat badan, bergerak ke sana ke mari, mempunyai lidah, darah, daging, rambut, dan seterusnya yang tak didukung satu hadis sahih pun sebab hanya berdasar bayangan yang mereka buat sendiri di benaknya.

Sebagian pihak lain mengaku sama sekali tak bisa men-tashawwur-kan apa maksud "tangan Allah", sama seperti ketika mereka mendengar kata "leher bola" di atas. Bagi mereka tak masuk akal kata tangan dalam arti organ itu disandingkan dengan kata Allah yang mustahil berupa jism. Dari sinilah kemudian tak ada tashawwur sama sekali sehingga tak mungkin timbul kegiatan yang bernama "membayangkan" apalagi "menyerupakan". Di sinilah posisi Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah-Maturidiyah).

Karena tidak ada tashawwur di benak Aswaja, maka berarti mereka mengaku tak mengerti sama sekali tentang Dzat Allah. Inilah makna perkataan mereka bahwa puncak pengetahuan tentang Allah adalah ketidaktahuan.
 
5. Untuk menyikapi jalan buntu ketiadaan tashawwur di atas, Ahlussunnah wal Jama'ah kemudian terbagi menjadi dua; Sebagian memilih jalan tafwîdl dengan cara tetap membiarkan ketiadaan tashawwur makna itu dan membiarkan pengetahuan tentangnya cukup diketahui Allah saja. Sebagian lainnya memilih mencari makna yang lebih sesuai yang dapat dipahami dari teks sifat yang didengar itu. Langkah terakhir inilah yang disebut takwil.
 
6. Baik tafwîdl atau takwil, keduanya sama sekali tak muncul akibat proses membayangkan, apalagi menyerupakan. Keduanya muncul akibat ketidak tahuan murni akan Dzat Allah sebab ketidakmungkinan adanya tashawwur itu tadi.
 
Dengan demikian, tuduhan bahwa pelaku takwil dan tafwîdl sejatinya adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk) adalah tuduhan tak berdasar sama sekali. Bagaimana bisa menyerupakan sesuatu bila membayangkannya, bahkan memahaminya saja tidak? Adalah tak mungkin secara logika sesuatu yang tak dapat ditashawwurkan kemudian disamakan dengan sesuatu lainnya. Tuduhan semacam ini hanyalah logical fallacy yang parah. Wallahu a'lam.

 
Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.