IMG-LOGO
Trending Now:
Ilmu Tauhid

Allah Bukanlah ‘Jism’ (I)

Kamis 15 Agustus 2019 20:45 WIB
Allah Bukanlah ‘Jism’ (I)
Ilustrasi

Banyak ulama Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah-Maturidiyah) yang menyebut kata jism, tapi tak semua orang paham apa maksudnya dan mengapa Allah mustahil dianggap sebagai jism. Sebagian orang ada juga yang menyangka penggunaan kata jism ini tak dikenal di era ulama salaf sehingga tak layak jadi bahasan. Artikel ini mencoba mengurai perihal pembahasan jism ini dalam ilmu aqidah Ahlusussunah wal Jama’ah dengan meminimalisasi penggunaan istilah teknis ilmu kalam yang mungkin membingungkan, serta seperlunya mengutip pendapat para imam.

 

Imam Ahmad mendefinisikan jism sebagai sesuatu yang mempunyai panjang, lebar dan tinggi (bervolume) dan terdiri dari bagian-bagian yang lebih kecil. Ia berkata:

 

إِنَّ الأَسْمَاءَ مَأْخُوذَةٌ مِنَ الشَّرِيعَةِ وَاللُّغَةِ، وَأَهْلُ اللُّغَةِ وَضَعُوا هَذَا الاسْمَ – أَيِ الْجِسْمَ – عَلَى ذِي طِولٍ وَعَرْضٍ وَسَمْكٍ وَتَرْكِيبٍ وَصُورَةٍ وَتَأْلِيفٍ، وَاللهُ خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ – أي مُنزَّهٌ عَنْه – فَلَمْ يَجُزْ أَنْ يُسمَّى جِسْمًا لِخروجِهِ عَنْ مَعْنَى الْجِسْمِيّةِ، وَلَمْ يَجِىءْ في الشَّرِيعَةِ ذَلِكَ فَبَطلَ

 

"Sesungguhnya istilah-istilah itu diambil dari peristilahan syariah dan peristilahan bahasa sedangkan ahli bahasa menetapkan istilah ini (jism) untuk sesuatu yang punya panjang, lebar, tebal, susunan, bentuk, dan rangkaian, sedangkan Allah berbeda dari itu semua. Maka dari itu, tidak boleh mengatakan bahwa Allah adalah jism sebab Allah tak punya makna jismiyah. Dan, istilah itu juga tidak ada dalam istilah syariat, maka batal menyifati Allah demikian". (Abu al-Fadl at-Tamimy, I’tiqâd al-Imam al-Munabbal Ahmad bin Hanbal, hal. 45).

 

Dengan definisi di atas berarti seluruh semesta alam ini beserta isinya, yang terlihat maupun tidak, yang teramat kecil maupun yang teramat besar, seluruhnya adalah jism. Manusia adalah jism sebab mempunyai volume dan tersusun dari bagian-bagian yang lebih kecil berupa organ-organ hingga unsur yang lebih kecil lagi semisal sel. Benda-benda langit yang ukurannya sangat besar jelas juga jism. Demikian juga hal yang tak kasat mata semisal udara adalah jism sebab hakikatnya adalah susunan dari nitrogen, oksigen, argon, karbon dioksida dan lain-lain. Oksigen dalam udara pun juga jism sebab hakikatnya adalah susunan dari dua atom oksigen sehingga biasa disebut sebagai O2. Atom pun juga jism sebab hakikatnya adalah susunan dari inti atom dan awan elektron. Inti atom pun juga jism sebab ia adalah susunan dari proton dan neutron. Proton juga jism sebab ia ada susunan dari unsur yang lebih kecil berupa elektron dan quark.

 

Hingga saat ini, ilmu pengetahuan yang dicapai manusia menghasilkan kesimpulan bahwa seluruh hal yang ada di semesta ini adalah sebuah medan gelombang (field) yang di dalamnya ada susunan partikel elektron, neutrino, quark atas dan quark bawah. Bahkan ruang kosong pun sebenarnya adalah medan gelombang yang tersusun sedemikian rupa yang menjadi fundamental building block dari alam semesta. Dengan demikian, seluruh isi jagat raya yang diamati manusia adalah jism kecuali unsur dasar yang menyusun jism itu sendiri dan sifat-sifat yang melekat pada jism tersebut.

 

Seluruh jism di level subatomik mempunyai karakter yang sama persis. Semua merupakan susunan yang elemennya saling membutuhkan satu sama lain. Yang membedakan hanyalah komposisi elemen penyusun jism itu sehingga akhirnya ada jism yang berupa partikel, gas, sel, manusia, hewan, tumbuhan, benda, planet, bintang, galaksi dan seterusnya dengan aneka ragam bentuknya. Ketika Allah berfirman:

 

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

 

Tak ada satu pun yang serupa dengan Allah sedikit pun”. (QS. asy-Syura: 11)

 

Dan, di tempat lainnya Allah menegaskan dalam bentuk pertanyaan bahwa manusia takkan mengetahui ada yang sama dengan Allah, yaitu dalam ayat:

 

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

 

"Apakah kamu tahu ada yang sama dengan-Nya?". (QS. Maryam: 65)

 

Selain tak ada yang serupa dan yang sama dengan diri-Nya, Allah juga menegaskan tak ada yang setara dengan Dia. Allah berfirman:

 

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

 

"dan tidak ada satu pun yang setara dengan Dia". (QS. al-Ikhlas: 4)

 

Maka dari itu, semua ulama Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat mengatakan bahwa Allah bukanlah jism sebab seluruh jism itu sama, serupa, atau paling tidak setara meskipun berbeda-beda bentuknya. Fir’aun yang mengaku Tuhan ataupun api dan matahari yang dipertuhankan orang terdahulu, ketiganya berbeda karakter dan punya kehebatannya sendiri-sendiri. Tapi sebagai jism semuanya sama saja dan tak ada yang layak disembah. Wallahu a'lam.

 

Pada bagian selanjutnya akan dibahas pernyataan para imam beserta alasan mereka memustahilkan sifat jismiyah dari Allah. Bersambung...

 

 

Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.


 

Tags:
Share:

Baca Juga