IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib Memindahkan Ibu Kota Negara

Selasa 27 Agustus 2019 18:32 WIB
Share:
Ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib Memindahkan Ibu Kota Negara
Ali bin Abi Thalib membuat keputusan besar. Khalifah keempat ini memindahkan ibu kota negara dari Madinah ke Kufah. Tindakan ini luar biasa berani karena tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh Rasulullah SAW dan ketiga Khalifah awal, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Ini cara Imam Ali melakukan pemisahan urusan politik dan agama. Apa yang melatarbelakangi keputusan itu? Mari kita simak penjelasannya.

Khalifah Utsman terbunuh pada 17 Juni tahun 656. Khalifah berusia 79 tahun ini berkuasa selama 12 tahun. Kabarnya enam tahun pertama dilalui pemerintahannya dengan gemilang. Namun, karena tidak ada pembatasan masa jabatan, Khalifah Utsman terus berkuasa, meski usianya sudah sepuh dan beliau tidak lagi sepenuhnya dapat mengontrol negara yang sudah meluas melewati jazirah Arab.

Singkat cerita, ketidakpuasan meletus dan pemberontak membunuh Khalifah di rumahnya saat beliau tengah membaca Al-Qur’an.

Pemberontak dari Mesir menguasai Madinah selama 5 hari, dan sampai hari ketiga, jenazah Khalifah Utsman tidak bisa dikuburkan. Akhirnya, jasad beliau berhasil dikuburkan di tempat yang tidak biasa, bukan di dekat kuburan Nabi dan dua khalifah sebelumnya. Imam Ali kemudian dibai’at menjadi Khalifah keempat pada 24 Juni 656–hari ketujuh setelah wafatnya Utsman, meski Imam Ali sebelumnya menolak dipilih.

Namun, kemudian muncul suara-suara yang menggugat pemilihan Imam Ali karena hanya sedikit sahabat besar yang tersisa di Madinah. Meluasnya kekuasaan Islam membuat para sahabat menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Mu’awiyah yang menjadi Gubernur di Damaskus. Mereka merasa suara mereka tidak didengar dan tidak terwakili dalam pemilihan Imam Ali sebagai khalifah.

Dua sahabat Nabi, Thalhah dan Zubair, bergerak ke Mekkah. Istri Nabi, Siti Aisyah, tengah melakukan umrah di Mekkah ketika Utsman terbunuh. Mendengar Imam Ali yang terpilih menjadi Khalifah, Siti Aisyah memutuskan bertahan tinggal di Mekkah dan bersama-sama penduduk Mekkah meminta Khalifah Ali bin Abi Thalib mengadili para pembunuh Khalifah Utsman.

Khalifah Ali meminta umat untuk cooling down terlebih dahulu. Keengganan Imam Ali memenuhi tuntutan itu membuat beliau dituduh terlibat di belakang pemberontakan yang mengakibatkan wafatnya Utsman. Kemudian Thalhah, Zubair, dan Siti Aisyah bergerak ke Basrah bersama pasukannya untuk memobilisasi massa melawan Khalifah Ali.

Imam Ali meminta penduduk Madinah bersiap perang. Mereka tidak segera merespons permintaan Imam Ali. Butuh waktu untuk Ali mengumpulkan relawan bergerak ke Basrah. Singkat cerita, terjadilah peperangan antara menantu Nabi, Khalifah Ali bin Abi Thalib, dan istri Nabi, Siti Aisyah. Pasukan Ali berjumlah 20 ribu dan pasukan Siti Aisyah berjumlah 30 ribu.

Dikabarkan tidak kurang dari 18 ribu umat Islam dari kedua belah pihak terbunuh dalam perang saudara ini, termasuk Thalhah dan Zubair, dan 3.000 orang lainnya terluka.

Selepas perang yang dimenangkan Khalifah Ali, Siti Aisyah diantar kembali ke Madinah dengan penghormatan dan pengawalan lengkap. Namun, pilihan untuk Imam Ali hendak ke mana sekarang?

Kembali ke Madinah ketika suasana masih tidak kondusif mengingat pendukung Utsman masih membara dan istri Nabi Siti Aisyah yang baru saja dikalahkan dalam pertempuran juga akan menetap di Madinah. Tentu tidak nyaman Khalifah Ali kembali ke Madinah.

Bagaimana kalau ke Damaskus? Tidak mungkin! Mu’awiyah berkuasa di sana dan sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyerang Khalifah Ali. Atau ke Mekkah saja? Tidak mungkin. Siti Aisyah berhasil memulai perlawannya justru dari Mekkah dengan dukungan 3000 relawan dan bantuan Gubernur Mekkah.

Bagaimana kalau ke Basrah? Meskipun Khalifah Ali menang perang, namun sebelum beliau tiba di Basrah, Thalhah, Zubair, dan Siti Aisyah telah lebih dulu meraih simpati dan dukungan penduduk Basrah. Basrah dan Mekkah bukan pilihan bijak.

Maka, Imam Ali memutuskan untuk menetap di Kufah dan sekaligus memindahkan ibu kota negara dari Madinah ke Kufah. Selain latar belakang kondisi sosial politik di atas, tindakan Imam Ali ini luar biasa dampaknya. Beliau belajar dari masuknya pemberontak ke Ibu Kota Madinah yang telah mengotori kesucian kota Madinah.

Politik kekuasaan di kota Nabi yang suci sungguh tak terbayangkan. Pemindahan ibu kota dari kota suci Nabi ke wilayah yang cukup jauh, yaitu Kufah (Irak sekarang), membuat simbol agama (Madinah) dipisahkan dengan persoalan politik. Secara tidak langsung, Imam Ali telah berusaha menarik batas antara agama dan politik.

Imam Ali juga tidak mengambil kesempatan memindahkan ibu kota ke Mekkah, karena kalau terjadi penyerangan maka Ka’bah menjadi taruhannya. Terbukti kelak pada masa Dinasti Umayyah ketika Abdullah bin Zubair memisahkan diri dari Dinasti Umayyah dan menjadikan Mekkah sebagai pusat pergerakannya, keponakan Siti Aisyah ini bukan saja terbunuh di sekitar Ka’bah tapi kota Mekkah diserang panah berapi dan diblokade selama 6 bulan oleh pasukan al-Hajjaj bin Yusuf.

Ironisnya, bukan saja banyak penduduk Mekkah dan jamaah haji yang terbunuh, tapi Ka’bah pun sempat terbakar akibat serangan panah api. Inilah akibatnya kalau politik kekuasaan dilakukan di kota suci Mekkah. Jadi, sudah sangat tepat Khalifah Ali memindahkan ibu kota ke Kufah.

Empat bulan kemudian perang saudara kedua pecah. Peperangan antara pasukan Gubernur Mu’awiyah dari Damaskus dan pasukan Khalifah Ali dari Kufah berlangsung di daerah Shiffin. Perang saudara terjadi, namun dua kota suci Mekkah dan Madinah aman. Sekali lagi, pemindahan ibu kota adalah upaya menjaga agar kesucian Ka’bah dan Masjid Nabawi agar tidak tercemar oleh pertarungan kekuasaan.

Tabik,
 
Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand
Share:

Baca Juga

Selasa 27 Agustus 2019 6:0 WIB
Perang Dagang di Era Nabi Muhammad (Bagian I)
Perang Dagang di Era Nabi Muhammad (Bagian I)
Foto: NU Online
Kaum musyrik Makkah melakukan berbagai macam cara untuk menghentikan dakwah Nabi Muhammad. Salah satunya adalah melakukan blokade dan pemboikotan ekonomi terhadap Nabi Muhammad dan keluarga besarnya. Kejadian ini terjadi pada tahun ketujuh kenabian, di mana Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib masih hidup. Namun demikian, keduanya ikut terboikot dan tidak dapat berbuat banyak.

Tujuan kaum musyrik Makkah melakukan pemboikotan tersebut adalah untuk memecah belah keluarga besar Bani Hasyim dan Bani Muthalib, klan Nabi Muhammad. Kaum musyrik mengira, strategi itu akan membuat orang-orang –dari dua bani tersebut- yang tidak percaya dengan Nabi bergabung dengan mereka. Namun perkiraan mereka meleset. Justru, Bani Hasyim dan Bani Muthalib –kecuali Abu Jahal- malah semakin solid dan bersatu menghadapi langkah kau musyrik Makkah tersebut. Dan begitulah karakteristik masyarakat Arab masa lalu. Solidaritas mereka begitu kuat antar satu keluarga.

Tokoh-tokoh musyrik Makkah menulis sebuah piagam pemboikotan yang isinya melarang siapa pun berinteraksi –baik secara ekonomi maupun sosial- dengan Nabi Muhammad. Piagam tersebut kemudian digantung di dalam Ka’bah sejak bulan Muharram tahun ketujuh kenabian. Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), berikut teks lengkap piagam pemboikotan dan blokade ekonomi terhadap Nabi Muhammad:

“Tidak ada bantu-membantu, tidak ada jual-beli, tidak juga kawin-mawin. Tidak ada damai sampai pendukung-pendukung Muhammad bersedia menyerahkan beliau secara suka-rela untuk dicegah berdakwah atau untuk dibunuh.” Menurut satu riwayat, naskah kesepakatan tersebut ditulis oleh Manshur bin Ikrimah. Riwayat lain menyebutkan Baghid bin Amir.

Berdasarkan piagam tersebut, siapa pun dilarang mendistribusikan bahan makanan kepada Nabi Muhammad dan keluarga besarnya. Sehingga terkadang mereka memakan dedaunan untuk sekadar menahan rasa lapar. Meski demikian, ada saja pihak-pihak yang tidak tega sehingga mereka dengan sembunyi-sembunyi mengirimkan makanan kepada Nabi Muhammad. Namun, makanan tersebut kemudian diprioritaskan kepada anak-anak yang menangis kelaparan.

Pemboikotan dan blokade ekonomi terhadap Nabi Muhammad dan keluarga besarnya tersebut berlangsung selama tiga tahun, riwayat lain menyebutkan dua tahun. Di satu sisi, pemboikotan itu telah menyebabkan Nabi dan keluarganya sengsara dan membuat perkembangan dakwah Islam tersendat. Namun di sisi lainnya, pemboikotan juga menghadirkan dampak baik. Di antaranya membuat orang-orang bersimpati kepada Nabi dan membuka mata masyarakat secara umum tentang kehadiran Islam yang menyerukan keluhuran budi pekerti.

Perang ekonomi juga terjadi ketika umat Muslim hijrah ke Madinah. Ketika itu, mereka harus meninggalkan seluruh harta bendanya di Makkah. Kaum musyrik Makkah kemudian mengambil-alih harta benda umat Muslim seenak mereka sendiri. Tidak hanya itu, mereka juga melarang kaum Muslim berhijrah dengan membawa harta mereka sendiri.  

Kasus Shuhaib al-Rumi adalah contoh nyata bagaimana kaum musyrik mengambil paksa harta benda umat Islam. Dalam buku Perang Muhammad saw, Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah (Nizar Abazhah, 2014) dikisahkan, Shuhaib al-Rumi dikejar, dipaksa, dan diancam ketika hendak berhijrah ke Madinah. Kaum musyrik baru membiarkan Shuhaib pergi ke Madinah setelah semua harta kekayaannya dirampas. 

Dalam dua perang ekonomi di atas, kaum Muslim mengalami kekalahan yang besar. Mereka tidak diberi akses ekonomi dan semua kekayaannya diambil paksa. Maka tidak mengherankan jika Nabi Muhammad kemudian melakukan ‘serangan balasan’ kepada kaum musyrik Makkah ketika kekuatan umat Islam di Madinah semakin kokoh. 

Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an Surat al-Quraisy, orang-orang Quraisy Makkah memiliki kebiasaan bepergian pada musim dingin dan musim panas. Saat musim panas, mereka melakukan perjalanan ke utara, Suriah dan Irak, untuk berdagang. Sementara ketika musim panas, mereka ke selatan.

Hal itu yang dijadikan Nabi Muhammad untuk menabuh gendering perang ekonomi melawan kaum musyrik Makkah. Beliau memerintahkan pasukannya untuk melakukan sabotase di jalur perdagangan kaum musyrik Makkah. Dengan demikian, mereka tidak bisa lagi bepergian ke Irak dan Suriah tanpa seizin kaum Muslim. 

Kesepakatan itu mengancam keamanan kaum musyrik Makkah dan berdampak buruk terhadap perdagangan mereka. Maka seiring berjalannya waktu, mereka melakukan perlawanan terhadap kaum Muslim. Nabi sigap mengatasinya sehingga perlawanan mereka bisa di atasi. Namun, mereka terus saja melancarkan penentangan hingga akhirnya pecahlah Perang Badar. 

Menurut Nizar Abazhah dalam bukunya di atas, Perang Badar lebih bercorak perang ekonomi, dari pada perang terbuka. Untungnya, umat Islam menang dalam perang ekonomi ini sehingga membuat ekonomi kaum musyrik Makkah semakin terpuruk. Akses rute mereka ke Irak dan Suriah sudah terputus. Sebetulnya, setelah Perang Badar, mereka mencari-cari rute baru ke Irak. Namun, pasukan umat Islam selalu saja berhasil menghadangnya. 

Tidak lain, tujuan Nabi Muhammad mengirim pasukan, baik sebelum maupun setelah Perang Badar, ke sejumlah jalur perdagangan kaum musyrik Makkah adalah untuk blokade ekonomi. Nabi ingin memberikan efek psikologis dan material bagi kaum musyrik Makkah agar mereka memikirkan ulang sikap mereka terhadap kaum Muslim selama ini. (Muchlishon Rochmat)
Senin 26 Agustus 2019 3:0 WIB
Nabi Muhammad, Permintaan Kaum Musyrik, dan Alasan Allah Tidak Memenuhinya
Nabi Muhammad, Permintaan Kaum Musyrik, dan Alasan Allah Tidak Memenuhinya
(Ilustrasi: NU Online)
Nabi Muhammad adalah utusan terakhir Allah yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah langit ajaran agama Islam. Terkadang –bahkan seringkali- beliau menemui jalan terjal ketika menyebarkan Islam kepada umatnya. Para penentangnya, kaum musyrik Makkah, tidak segan-segan menghina, mencerca, menyuap, mengintimidasi, dan melakukan kekerasan agar Nabi Muhammad menghentikan dakwahnya. Namun beliau tidak gentar dan pantang mundur mendakwahkan Islam.

Kaum musyrik Mekkah juga terkadang ‘menguji’ kebenaran Nabi Muhammad dengan mengajukan suatu permintaan tertentu kepadanya. Ada yang meminta Nabi Muhammad mengubah bukit Shafa menjadi emas. Ada yang meminta agar leluhur mereka dihidupkan kembali. Dan ada pula yang meminta informasi mengenai waktu hari kiamat. Mereka menuntut bukti-bukti inderawi atau aneka macam mukjizat –sebagaimana umat-umat terdahulu- untuk meyakinkan mereka. 

Namun demikian, mereka ‘kecele’. Allah tidak memenuhi permintaan mereka dan malah menjadikan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad. Di dalam Al-Qur’an Surat al-Isra ayat 59, Allah telah memberikan jawaban yang jelas mengapa Dia tidak mengabulkan permintaan-permintaan mereka. 

Kata Allah dalam ayat itu: “Seandainya Kami (Allah) membuka pintu langit, lalu mereka terus-menerus naik memasuki pintu itu, maka mereka pasti akan berkata: ‘Mata kami dikelabuhi dan kami adalah kaum (kelompok orang) yang tersihir.”

Jadi, permintaan-permintaan yang mereka ajukan untuk meyakinkan mereka –tentang kebenaran kenabian Muhammad- belum tentu benar adanya. Karena, kalau seandainya permintaan mereka dipenuhi juga belum tentu mereka mau menerima Islam. Mereka pasti memiliki alasan lain untuk menolak Islam sebagaimana firman Allah tersebut. 

Di samping itu, merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), alasan lain Allah tidak memenuhi permintaan mereka adalah karena sasaran dakwah (masyarakat manusia) yang berbeda. Maksudnya, sasaran dakwah Nabi Muhammad sedikit banyak berbeda dengan umat-umat nabi sebelumnya, dalam hal perkembangan kedewasaannya.

Mengapa nabi-nabi sebelumnya memiliki mukjizat yang bersifat inderawi dan materiel seperti Nabi Musa as. dengan tongatnya dan Nabi Isa dengan penyembuhannya? Dan mengapa mukjizat (terbesar) Nabi Muhammad bersifar imateriel dan logis (Al-Qur’an)?

Terkait hal ini, ada dua faktor utama yang menyebabkan ‘karakter mukjizat’ nabi-nabi terdahulu dengan Nabi Muhammad berbeda. Pertama, sasaran dakwah dan waktu. Nabi-nabi terdahulu ditugaskan untuk menyampaikan ajaran Allah kepada masyarakat tertentu dan waktu tertentu. Oleh karena itu, mukjizat yang mereka terima pun hanya berlaku untuk masyarakat dan masa tertentu.

Sementara Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia. Waktunya pun hingga akhir zaman, bukan satu masa tertentu. Maka dari itu, mukjizatnya tidak bersifat material, namun imateriel dan logis. Sehingga bisa berlaku kepada siapapun –yang ragu akan kebenaran Islam- dan sampai kapanpun. 

Kedua, perkembangan pemikiran manusia. Hal ini juga menjadi penyebab ‘karakter mukjizat’ Nabi Muhammad dengan nabi sebelumnya berbeda. Dalam sejarahnya, manusia mengalami beberapa fase perkembangan pemikiran. Semula manusia menafsirkan semua hal yang terjadi kepada kekuatan dewa/tuhan yang ia ciptakan (fase keagamaan). Kemudian mereka menafsirkan fenomena yang ada dengan mengembalikan prinsip-prinsip dasarnya (fase metafisika). Hingga kemudian mereka menafsirkan gejala yang ada berdasarkan pengamatan dan penelitian sehingga memperoleh informasi hukum alam yang mengatur jagat raya ini (fase ilmiah).

Sesuai dengan perkembangan pemahaman manusia tersebut, maka umat nabi terdahulu membutuhkan bukti yang jelas, konkrit, dan bisa ditangkap oleh inderanya. Sehingga mukjizat yang dimiliki nabi-nabi terdahulu bersifat materiel dan inderawi seperti tidak terbakar api, bisa menyembuhkan orang sakit, memiliki tongkat yang berubah menjadi ular, dan lain sebagainya.  

Sedangkan, umat Nabi Muhammad –yang sudah mengalami fase ilmiah- membutuhkan bukti logis dan masuk akal. Maka kemudian Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar yang diterima Nabi Muhammad. Karena Al-Qur’an tidak dapat ditandingi oleh siapapun, baik dari golongan manusia maupun jin. Hal ini sudah ditegaskan Allah dalam Al-Qur’an Surat al-Isra: 88 dan Yunus: 38. 

Penulis: Muchlishon Rohmat
Editor: Abdullah Alawi
 
Kamis 22 Agustus 2019 20:30 WIB
Kisah Para Sahabat Tabarukan kepada Nabi
Kisah Para Sahabat Tabarukan kepada Nabi
Ilustrasi
Praktik tabaruk atau mengharap bertambahnya kebaikan melalui orang atau barang-barang tertentu sudah belangsung pada zaman Nabi Muhammad Saw. Ketika itu, para sahabat yang ngalap berkah kepada Nabi Muhammad. Caranya pun bermacam-macam. Ada yang menghabiskan sisa makanan dan minuman Nabi. Ada juga yang tabarukan dengan memakai pakaian yang pernah dipakai Nabi.

Seperti diriwayatkan az-Zuhri, ketika Nabi Muhammad berwudhu dan membuah dahak maka para sahabat saling berebut. Mereka kemudian mengoleskan dahak Nabi ke wajah dan kulit mereka. Nabi Muhammad kemudian mempertanyakan mengapa mereka melakukan hal itu. Mereka menjawab bahwa apa yang dilakukannya adalah tabarukan atau mencari berkah kepada Nabi Muhammad. 
 
"Barang siapa ingin dicintai Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia berbicara benar, menyampaikan amanah, dan jangan mengusik tetangganya," kata Nabi, seperti terekam dalam buku Hayatush Shahabah (Suaikh Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, 2019). 
 
Hal yang sama juga dilakukan Abdullah bin Zubair. Bedanya Abdullah meminum bekas bekam Nabi sebagai bentuk dari ngalap berkah. Dikisahkan, ketika hendak menemui Nabi Muhammad, Salman memergoki Abdullah bin Zubair tengah membawa ember dan meminum isinya. 
 
Abdullah bin Zubair lalu menghadap Nabi dan mengatakan bahwa perintahnya untuk 'membuang' air dalam wadahnya sudah ditunaikan. Penasaran, Salman kemudian bertanya kepada Nabi Muhammad tentang apa yang dibawa Abdullah bin Zubair. Kata Nabi, itu adalah darah bekamnya. 
 
"Demi Dia yang mengutusmu membawa kebenaran, Abdullah bin Zubair telah meminumnya," kata Salman. Mendengar hal itu, Nabi Muhammad bertanya mengapa Abdullah melakukan hal itu. Abdullah kemudian menjawab, dirinya ingin darah Nabi Muhammad mengalir ke dalam perutnya. 
 
"Celakalah engkau karena manusia, dan celakalah manusia karena engkau. Api neraka tidak menyentuhmu, hanya saja Dia telah bersumpah," kata Nabi Muhammad. 
 
Pada saat awal tiba di Madinah, Nabi Muhammad tinggal di rumah Abu Ayyub. Dia menjamu Nabi dengan penuh penghormatan. Menyediakan segala keperluannya, terutama makan dan minum. Menariknya, Abu Ayyub selalu mencari sisa makanan yang ada bekas jari Nabi Muhammad. Ia kemudian menghabiskan sisa makanan Nabi tersebut, demi ngalap berkah.
 
Hingga suatu ketika, Nabi Muhammad tidak memakan makanan yang dihidangkan Abu Ayyub. Sang tuan rumah penasara, mengapa Nabi tidak menyentuh sama sekali hidangan yang disajikan. 
 
"Aku mencium bawang pada makanan itu. Karena statusku penerima wahyu, aku khawatir (bau itu) akan mengganggu penjaga wahyu. Kalau kalian, makanlah," kata Nabi Muhammad Saw kepada Abu Ayyub al-Anshari dalam Thabaqat Ibn Sa'd, seperti keterangan dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad, Kisah Sehari-hari Rumah Tangga Nabi (Nizar Abazhah, 2018).
 
Ada juga sahabat yang tabarukan dengan jaket Nabi Muhammad. Diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad menerima hadiah jubah dari sahabatnya. Beliau langsung memakainya. Namun, sahabatnya yang lain meminta jubah tersebut, setelah memuji jubah yang dikenakan Nabi begitu indah.
 
Seketika itu juga Nabi Muhammad langsung memberikan jubah –yang baru dimilikinya itu- kepada sahabat yang memintanya tersebut. Hal ini membuat sahabat lainnya memarahi orang tersebut. Nabi membutuhkan jubah tersebut, namun dia malah memintanya. Karena Nabi Muhammad adalah tipe orang yang tidak bisa menolak permintaan, maka dia tentu akan memberi jika ada orang yang meminta.
 
"Demi Allah, sesungguhnya aku tidaklah meminta jubah itu untuk aku pakai, tetapi aku minta itu untuk aku pakai sebagai kain kafanku," kata sahabat yang meminta jubah Nabi itu. Benar saja, jubah itu pun menjadi kain kafan sahabat tersebut ketika ia meninggal dunia. 
 
Pewarta: Muchlishon Rochmat
Editor: Kendi Setiawan