IMG-LOGO
Trending Now:
Tafsir

Penjelasan Al-Qur’an Mengenai Hijrah Hati

Senin 2 September 2019 20:45 WIB
Share:
Penjelasan Al-Qur’an Mengenai Hijrah Hati
Ilustrasi
Dalam Mu’jam Lisanu al-Arab karya Ibnu Mandhur, juz 5 disampaikan bahwa hijrah secara bahasa bermakna:
 
الخروج من الأرض إلى الأرض
 
Artinya: “Migrasi dari satu belahan bumi ke belahan bumi yang lain” (Ibn Mandhur, Lisan al-’Arab, Beirut: Dar Shadr, 1414 H: 5/250).
 
Makna leksikal di atas senada dengan bunyi firman Allah ﷻ: 
 
فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
 
Artinya: “Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut, menunggu-nunggu sembari khawatir. Dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari kaum yang aniaya ini!” (QS Al-Qashash [28] : 21)
 
Ayat ini seolah juga menjelaskan bahwa migrasinya Nabi Musa 'alaihissalam dari kota Mesir ke kota Kanaan adalah juga merupakan peristiwa hijrah. Dalam ayat ini juga seolah digambarkan bahwa proses migrasinya Nabi Musa adalah didahului sebuah peristiwa yaitu ancaman dari Fir’aun dan bala tentaranya yang hendak membunuhnya. Sebagaimana hal ini disampaikan dalam firman Allah ﷻ dalam ayat sebelumnya:
 
وَجَاءَ رَجُلٌ مِّنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ يَسْعَىٰ قَالَ يَا مُوسَىٰ إِنَّ الْمَلَأَ يَأْتَمِرُونَ بِكَ لِيَقْتُلُوكَ فَاخْرُجْ إِنِّي لَكَ مِنَ النَّاصِحِينَ
 
Artinya: “Lalu datanglah seorang laki-laki dari tengah kota sambil berjalan. Dia berkata: Wahai Musa, sesungguhnya Fir’aun dan bala tentaranya sedang mencarimu hendak membunuhmu. Maka keluarlah (dari kota Mesir ini)! Sesungguhnya aku kepadamu termasuk orang yang memberi nasehat.” (QS Al-Qashash [28] : 20)
 
Di dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa laki-laki yang datang dan memperingatkan Nabi Musa alaihissalam tersebut adalah seorang malaikat. Ia datang sembari membawa kuda dan menjadi penunjuk jalan.
 
Jadi, makna hijrah sebagaimana tergambar dalam dua ayat di atas, seolah-olah menunjuk pada pengertian ada sesuatu kekuatan zalim yang ditakuti sehingga memaksanya untuk melakukan migrasi dari suatu daerah ke daerah lain. Makna lain dari hijrah adalah selain karena tujuan “menjauhi” sebuah perbuatan, juga disebabkan karena tujuan mencari keselamatan diri dan jiwa, alih-alih selamat akhirat..
 
Untuk hijrah yang bermakna menjauhi sebuah perbuatan, dapat diketahui dari firman Allah ﷻ sebagai berikut: 
 
مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِرًا تَهْجُرُونَ 
 
Artinya: “Dengan menyombongkan diri terhadap Al-Qur’an dan mengucapkan perkataan-perkataan keji terhadapnya (Al-Qur’an) pada waktu kamu bercakap-cakap di malam hari.” (QS Al-Mu’minun [23]: 67)
 
Dalam Terjemah Al-Qur’an versi Kementerian Agama RI, lafadh تهجرون diikatkan maknanya dengan kalimat سامرا . Arti leksikal dari سامرا adalah percakapan di malam hari. Sementara itu makna تهجرون bermakna “di saat kalian menjauhi”. Dengan demikian, bila dirangkai dalam satu rangkaian kalimat, maka seolah maksud dari ayat ini adalah “mereka membicarakan Al-Qur’an dengan perkataan-perkataan keji di malam hari saat kalian sedang tidak ada di sisi mereka.” Jika ditelusuri lebih jauh, makna ini tampaknya menemukan kesesuaian dengan yang disampaikan oleh Ibnu Katsir dalam Kitab Tafsir-nya. Ia sembari menukil sebuah riwayat tafsir dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh al-Nasai dan dimuat dalam Kitab Sunan-nya sebagai berikut:
 
عن ابن عباس أنه قال : إنما كره السمر حين نزلت هذه الآية : ( مستكبرين به سامرا تهجرون ) ، فقال : مستكبرين بالبيت ، يقولون : نحن أهله ، ( سامرا ) قال : يتكبرون [ ويسمرون فيه ، ولا ] يعمرونه ، ويهجرونه
 
Artinya: “Dari Ibnu Abbas radliyallahu anhuma, ia berkata: Sesungguhnya percakapan di malam hari amat dibenci saat turunnya ayat ini (مستكبرين به سامرا تهجرون). Lalu ia melanjutkan: “Mereka telah berlaku takkabur dengan baitullah. Mereka berkata: Kami adalah ahlinya.” Lalu terhadap makna (سامرا), Ibnu Abbas berkata: Mereka menyombongkan diri (dengan membicarakan di malam hari dalam baitullah, padahal mereka tiada pernah memakmurkannya), justru menjauhinya.” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir)
 
Makna hijrah dalam riwayat tafsir ini secara jelas menunjuk kepada pengertian menjauhi dan meninggalkan suatu perbuatan. Jika dirujuk ke konteks orang mukmin, maka perbuatan menjauhi dan meninggalkan ini sudah pasti ditujukan pada menjauhi dan meninggalkan perbuatan yang aniaya, sebagaimana digambarkan dalam ayat sebelum QS. Al-Mu’minun [23]: 67 ini, yaitu: 
 
بَلْ قُلُوبُهُمْ فِي غَمْرَةٍ مِّنْ هَٰذَا وَلَهُمْ أَعْمَالٌ مِّن دُونِ ذَٰلِكَ هُمْ لَهَا عَامِلُونَ (63) حَتَّىٰ إِذَا أَخَذْنَا مُتْرَفِيهِم بِالْعَذَابِ إِذَا هُمْ يَجْأَرُونَ (64) لَا تَجْأَرُوا الْيَوْمَ ۖ إِنَّكُم مِّنَّا لَا تُنصَرُونَ (65) قَدْ كَانَتْ آيَاتِي تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ فَكُنتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ تَنكِصُونَ (66)
 
Artinya: “Tetapi, hati mereka (orang-orang kafir) itu dalam kesesatan dari (memahami Al-Qur’an) ini, dan mereka mempunyai (kebiasaan banyak mengerjakan) perbuatan-perbuatan lain (buruk) yang terus mereka kerjakan (63) Sehingga apabila Kami timpakan siksaan kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewah di antara mereka, seketika itu mereka berteriak-teriak meminta tolong (64) Janganlah kamu berteriak-teriak meminta tolong pada hari ini! Sungguh, kamu tidak akan mendapat pertolongan dari Kami (65) Sesungguhnya ayat-ayat-Ku (Al-Qur’an) selalu dibacakan kepada kamu, tetapi kamu selalu berpaling ke belakang (66)” (QS Al-Mu’minun [23]: 63-66).
 
Berbekal QS Al-Mu’minun [23] ayat 67, maka perbuatan yang hendak dijauhi melalui mekanisme hijrah, khususnya bagi kalangan mukmin adalah sebagai berikut: 
 
1. Menjauhi perbuatan maksiat yang terus-menerus dan kesesatan (QS Al-Mu’minun [23]: 63)

2. Hidup bermewah-mewahan tanpa mau untuk bersikap prihatin sehingga ketika ditimpa cobaan, mengeluh seolah telah mendapat musibah dari Allah ﷻ (QS Al-Mu’minun [23]: 64)

3. Jika ingin Allah ﷻ menolong kita, maka seyogianya kita menolong agamanya Allah ﷻ di kala waktu senggang. (QS Al-Mu’minun [23]: 65)

4. Hendaknya hati seorang mukmin senantiasa mau membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya dalam kehidupan. 

5. Semua upaya ini mutlak harus dilakukan oleh seorang mukmin meskipun harus berkorban dengan meninggalkan wilayah atau harta yang dimiliki, manakala tidak memungkinkan diri untuk melakukan dakwah, sebagaimana tergambar dari QS Al-Qashash [28] : 21.
 
Inilah gambaran dari hijrah yang bermakna menjauhi dan meninggalkan. Perbuatan yang ditinggalkan adalah perbuatan jelek, berbuat maksiat terus-menerus dan dalam kesesatan. Perbuatan dan kondisi yang dituju adalah antitesa dari perbuatan tersebut, yaitu perbuatan baik, senantiasa berlaku taat dan dalam bingkai petunjuk. Semua itu bisa didapat jikalau sosok Muslim ini mau senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk. Wallahu a’lam bish shawab.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah - LBMNU PWNU Jawa Timur
 
Share:

Baca Juga

Ahad 1 September 2019 20:15 WIB
Makna Hijrah dan Jihad dalam Al-Qur’an
Makna Hijrah dan Jihad dalam Al-Qur’an
Konsep hijrah memiliki keterkaitan dengan konsep jihad.
Allah ﷻ berfirman di dalam Al-Qur’an al-Karim: 
 
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
 
Artinya: “Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang menggerakan kebajikan bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar” (QS al-Isra [17]: 9).
 
Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan kitab yang berisi petunjuk yang paling lurus dan paling baik serta sebagai pemberi kabar gembira bagi orang yang beriman agar senantiasa “aktif” dalam melakukan amal kebajikan (ya’malûnash shâlihât). Keaktifan ini merupakan yang dijanjikan oleh Allah ﷻ sebagai sebab perolehan pahala yang besar kelak dari sisi-Nya. 
 
Aktif merupakan antitesa dari pasif. Pribadi yang aktif merupakan sosok yang bergerak dan inovatif melalui peran potensi akal dan budi daya yang dimilikinya. Syariat menghendaki agar umat manusia menjadi makhluk yang berperadaban dan berbudaya. Sebagaimana hal ini disinggung dalam firman Allah ﷻ: 
 
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
 
Artinya: "Baginya (manusia), ada malaikat-malaikat yang senantiasa menjaganya secara bergiliran, dari depan dan dari belakangnya. Mereka menjaga atas perintah Allah ﷻ. Sesungguhnya Allah tiada akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan atas suatu kaum, maka tiada yang bisa menolaknya. Tiada bagi mereka penolong selain-Nya" (QS al-Ra'du [13]: 11).
 
Ayat di atas seolah menegaskan bahwa hendaknya seorang pribadi yang beriman memiliki watak dan mental agresif dan inovatif dalam melakukan perubahan. Agresif dan inovatif ini yang selanjutnya mendapatkan penekanan dari hadits Umar radliyallahu 'anhu sebagai mental hijrah. Rasulullah ﷺ bersabda: 
 
إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى، فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله، ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
 
Artinya: "Sesungguhnya sempurnanya amal tergantung pada niat. Dan sesungguhnya bagi tiap-tiap individu apa yang dia niatkan. Maka, barangsiapa hijrah niat karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu akan menjadi kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya niat karena dunia yang akan didapatnya, atau perempuan yang akan dinikahinya, maka hijrahnya akan terhenti pada obsesi yang dimilikinya" (HR Bukhari - Muslim).
 
Berangkat dari pemahaman hadits ini, konsepsi hijrah seolah beriringan dengan konsep jihad. Jihad dalam hal ini bermakna sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk menjadi agen perubahan. Jika dikorelasikan dengan QS al-Isrâ [17]: 9 sebelumnya, maka perubahan yang dikehendaki oleh syariat adalah perubahan menuju pada kondisi shâlihât (kebaikan). 
 
Diksi dari al-shâlihât, merupakan bentuk isim musytaq (turunan kata) dari sha-la-ha yang memiliki arti leksikalnya sebagai berikut: 
 
● زال عنه الفساد = hilangnya sumber penyebab kerusakan
● صَلَحَ  الشيءُ: كان نافِعاً أو مُناسِباً = Bermanfaat dan sesuai (cocok)
● صلحَ  أَمْرُهُ أَوْ حَالُهُ : صَارَ حَسَناً وَزَالَ عَنْهُ الْفَسَادُ، عَفَّ، فَضُلَ = menjadi baik dan hilangnya penyebab kerusakan
● عملٌ لاَ  يَصْلُحُ  لِشَيْءٍ : لاَ يُفِيدُ = faedah
● هذا يَصْلُحُ  لَكَ : يَنْفَعُكَ، يَلِيقُ لَكَ = bermanfaat dan pas (cocok)
● يصلُحُ  لِهَذَا الْعَمَلِ : يُنَاسِبُهُ = sesuai
● صلَحَ  فِي عَمَلِهِ : لَزِمَ الصَّلاَحَ = berupaya melakukan kebaikan
Walhasil, makna al-shâlihât dari sisi etimologinya memuat berbagai maksud yang dikandung seperti: berbuat baik, bermanfaat, bagus, berfaedah, damai, menghindari kerusakan, kesesuaian. Ketiadaan damai, perilaku mubazir, sikap yang menimbulkan kerusakan, adalah makna yang tidak dikehendaki dari al-shâlihât. Bila term ini kemudian dilekatkan dengan term hijrah, maka seolah keduanya menunjuk pada makna bahwa hijrah itu hendaknya menjauhi perbuatan tak berfaedah, berbuat kerusakan, berusaha mewujudkan kondisi baik, damai, dan bermanfaat. Dan semua ini perlu dilakukan melalui sebuah pengorbanan tenaga, jerih payah, akal dan budi daya yang besar sebagaimana digambarkan dalam sejarah perjalanan sirah nabawiyah. 
 
Di dalam Al-Qur’an, ada kurang lebih 31 ayat yang berbicara mengenai hijrah, tersebar dalam 17 surat. Sebanyak 24 ayat di antaranya terdapat dalam surat madaniyah (turun setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, red), dan 7 lainnya terdapat dalam surat makkiyah (turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, red). Jika surat madaniyah merupakan representasi dari surat yang berbicara tentang hukum dan tatanan, maka secara umum konsep hijrah dalam syariat adalah berkaitan dengan persoalan hukum dan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada tatanan sosial. Hijrah yang berkonsekuensi keras hanya dibicarakan sebanyak 7 kali saja dalam surat makkiyah. Dengan melihat fakta sebaran ayat ini, maka seolah mengisyaratkan bahwa sudah selayaknya di era modern seperti sekarang, bentuk pengamalan dari hijrah adalah tetap mempertahankan konsepsi damai itu, dengan tanpa meninggalkan kreativitas dan inovasi berpikir serta budaya. 
 
Senada dengan term “hijrah” di dalam Al-Qur’an, terminologi jihad bisa diketemukan dalam 17 surat, dan tersebar dalam 41 ayat. 35 ayat masuk kelompok surat madaniyyah dan 6 ayat sisanya masuk kelompok surat makkiyah. Walhasil, ada kesesuaian antara hijrah dan jihad dari sudut pandang penekanan usaha. Hanya sebagian kecil sisanya berbicara mengenai perang dengan mengambil jalur konfrontatif. 
 
Semoga tulisan ini bermanfaat dalam memberikan kilas wawasan tentang hijrah dan jihad di tahun baru Islam, 1441 H ini. Selamat Tahun Baru Hijriyah, 1 Muharram 1441 H! Wallahu a'lam bish shawab.
 
 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah - LBM NU PWNU Jawa Timur
 
Senin 22 Juli 2019 0:45 WIB
FaceApp dan Tafsir Surat An-Nisa ayat 119
FaceApp dan Tafsir Surat An-Nisa ayat 119
Foto: okezone
Kecanggihan teknologi visual saat ini memungkinkan orang masa kini untuk melihat wajah di zaman tertentu melalui aplikasi rekayasa foto atau FaceApp. Melalui aplikasi ini, seseorang dapat melihat simulasi wajahnya di usia tertentu dengan rekayasa digital aplikasi tersebut.
 
Aplikasi rekayasa foto wajah ini kemudian digunakan banyak masyarakat di pelbagai belahan dunia untuk misalnya memenuhi rasa penasaran bentuk wajahnya seperti apa di usia senja kelak. Sebagian orang menggunakan aplikasi ini hanya untuk sekadar bermain.
 
Namun, ketika penggunaan aplikasi ini dianggap tampak biasa sebagaimana penggunaan aplikasi digital lainnya, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh berita yang menyebutkan larangan Islam atas penggunaan FaceApp karena dianggap mengubah ciptaan Allah dengan kutipan Surat An-Nisa ayat 119. Surat An-Nisa ayat 119 dijadikan dasar larangan penggunaan FaceApp karena pengubahan ciptaan Allah dalam surat tersebut merupakan perintah setan.
 
Adapun potongan Surat An-Nisa ayat 119 berbunyi “Falayughayyirunna khalqallāh,” (Lalu mereka mengubah ciptaan Allah). Petikan dari Surat An-Nisa ayat 119 ini dijadikan dasar pengharaman oleh alumnus tersebut atas penggunaan FaceApp.
 
Berikut ini adalah kutipan lengkap Surat An-Nisa ayat 119:
 
وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُبِينًا
 
Artinya, “’Dan aku [setan] benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.’ Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sungguh ia mengalami kerugian yang nyata.”
 
Secara harfiah, Surat An-Nisa ayat 119 diterjemahkan demikian. Tetapi pada kesempatan ini kita akan mengangkat dua tafsir atas Surat An-Nisa ayat 119, yaitu At-Tafsirul Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaily dan Mahasinut Ta’wil karya Syekh Jamaluddin Al-Qasimi.
 
Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaily, pengubahan ciptaan Allah yang dilarang agama berupa organ fisik manusia sesuai fitrahnya dan nilai-nilai kebaikan.
 
ولآمرنهم بتغيير الفطرة التي فطروا عليها تغييرا ماديا كخصاء الآدميين أو معنويا كالانغماس في الشر 
 
Artinya, “Kami [setan] akan memerintahkan mereka [manusia] untuk mengubah fitrah yang telah ditetapkan untuk mereka, baik secara material, yaitu mengebiri manusia maupun secara nilai, yaitu tenggelam dalam kejahatan,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhaily, At-Tafsirul Wajiz, [Damaskus, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan kedua, halaman 98).
 
Adapun Syekh Jamaluddin Al-Qasimi menafsirkan “ciptaan Allah” dengan mengutip sejumlah tafsir. Menurutnya, “ciptaan Allah” yang dimaksud adalah agama Allah sebagaimana penafsiran sahabat Ibnu Abbas dan banyak ahli tafsir.
 
Pandangan ini didukung oleh Surat Ar-Rum ayat 30 yang menyebut agama-Nya sebagai fitrah manusia dan ciptaan Allah dan hadits riwayat Bukhari serta Muslim bahwa setiap manusia terlahir dalam kondisi fitrah, yaitu Islam, tetapi kemudian diubah oleh orang tuanya [lingkungan] menjadi agama lain.
 
قوله (وَلآمُرَنّهُمْ فَلَيُغَيّرُنّ خَلْقَ اللّهِ) أي : دين الله عز وجل ، ورواه ابن أبي حاتم عن ابن عباس وكثيرين
 
Artinya, “(Aku [setan] akan memerintahkan mereka [manusia] untuk mengubah ciptaan Allah) maksudnya agama Allah sebagaimana riwayat Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Abbas dan banyak ahli tafsir,” (Lihat M Jamaluddin Al-Qasimi, Tafsirul Qasimi atau Mahasinut Ta‘wil, [tanpa catatan kota dan tahun], cetakan pertama, juz V, halaman 1568).
 
Syekh Jamaluddin Al-Qasimi juga mengutip pandangan ulama tafsir lain yang menyebutkan bahwa pengubahan ciptaan Allah atau fitrah Allah untuk manusia itu berupa pengubahan organ fisik manusia dan juga hewan yaitu praktik kebiri.
 
Meski demikian, pengubahan organ fisik manusia yang diperintahkan setan itu tidak berlaku mutlak karena pada kesempatan lain agama Islam memerintahkan kita untuk menjaga kebersihan dalam bentuk pengubahan ciptaan Allah atau fitrah tersebut, yaitu khitan, cukur, potong kuku, dan lain sebagainya.
 
Bagaimana dengan penggunaan FaceApp? Jika maksudnya untuk merendahkan orang lain, tentu ini perbuatan buruk yang dilarang agama. Tetapi jika maksudnya untuk merenung bahwa masa muda bersifat sementara dan masa tua segera menanti, tentu tafakur seperti ini dianjurkan.
 
Lantas, apakah hubungan penggunaan FaceApp dan Surat An-Nisa ayat 119? Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Kamis 27 Juni 2019 21:0 WIB
Benarkah Allah Menjanjikan Kembalinya Khilafah?
Benarkah Allah Menjanjikan Kembalinya Khilafah?
Ilustrasi eks-HTI (ist)
Tafsir Surat an-Nur ayat 55
Belakangan ini kembali para pendukung khilafah mengelabui publik dengan mengklaim bahwa “Kembalinya khilafah sebagai wujud kekuasaan umat Islam merupakan janji Allah SWT dalam QS an-Nur ayat 55:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS An-Nur: 55)

Bahkan ada dari kalangan mereka yang berani mengklaim siapa yang tidak percaya dengan janji Allah akan kedatangan kembali Khilafah telah murtad. Benarkah klaim Pro-Khilafah ini? Kajian komparasi sejumlah kitab tafsir klasik dan kontemporer nyata-nyata menunjukkan bahwa pemahaman mereka keliru besar.

Kita mulai dengan asbabun nuzul ayat ini. Tafsir al-Munir karya Syekh Wahbah az-Zuhayli menyebutkan:

Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabatnya sampai ke Madinah, dan disambut serta dijamin keperluan hidupnya oleh kaum Ansar, mereka tidak melepaskan senjatanya siang dan malam, karena selalu diincar oleh kaum kafir.

Mereka berkata kepada Nabi: “Kapan engkau dapat melihat kami hidup aman dan tenteram tiada takut kecuali kepada Allah.” Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai jaminan dari Allah SWT bahwa mereka akan dianugerahi kekuasaan di muka bumi.

Pertanyaannya kapankah janji Allah ini terpenuhi? Pelacakan saya terhadap sejumlah kitab tafsir menunjukkan ada 3 pendapat.

Pertama, janji Allah ini telah tertunaikan pada masa Nabi Muhammad dalam peristiwa Fathu Makkah, dimana Nabi dan pasukannya memasuki kota Mekkah dengan tanpa perlawanan. Tafsir generasi awal cenderung memahaminya seperti ini. Lihat Tafsir Ibn Abbas (1/298) dan Tafsir Muqatil (3/206).

Kedua, sebagian kitab Tafsir mengatakan janji ini telah tuntas dipenuhi Allah pada masa Nabi Muhammad dan al-Khulafa ar-Rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali). Lihat Ibn Katsir (6/77), Bahrul Ulum (2/52), al-Baghawi (3/426), al-Kasyaf (3/521), al-Baydhawi (4/112), an-Nasafi (2/515), Dar al-Mansur(6/215). Alasan mereka adalah adanya Hadits Sahih dimana Nabi mengatakan kekhilafahan itu hanya berlansung selama 30 tahun. Dan itu terpenuhi dalam periode al-Khulafa ar-Rasyidun.

Tafsir at-Thabari menyebutkan ada yang membatasi periode janji Allah terpenuhi sampai tiba masa pembunuhan Khalifah Utsman. Karena kekacauan (fitnatul kubra) mulai terjadi sejak periode akhir Sayidina Utsman itu.

Tafsir ar-Razi malah menyebutkan pendapat yang membatasinya hanya pada 3 Khalifah pertama karena pada masa inilah ekspansi Islam meluas, namun pada masa Sayidina Ali disibukkan oleh perpecahan dan perang saudara.

Tafsir ar-Razi juga menyebutkan adanya pendapat yang menentang memasukkan period el-Khulafa ar-Rasyidun dalam kandungan ayat ini karena penggalan ayat selanjutnya “sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa,” padahal kekuasaan sebelum Islam itu tidak datang lewat kekhilafahan.

Jadi ayat ini cukup hanya pada periode Nabi Muhammad saja. Penggalan ayat ini dimaknai sebagaimana kekuasaan Bani Israil dan para Nabi sebelumnya seperti Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.

Ketiga, ada beberapa kitab tafsir yang meluaskan lagi kandungan ayat ini, yang tidak hanya terbatas pada masa Nabi Muhammad dan/atau al-Khulafa ar-Rasyidun, tapi juga pada masa-masa selanjutnya termasuk masa sekarang dan akan datang.

Tafsir Fathul Qadir (4/55) memaknai kekuasaan sebelum Nabi itu tidak hanya terbatas pada Bani Israil, dan karenanya juga tidak membatasi makna ayat ini pada masa Nabi di Mekkah dan khalifah yang empat, tapi menggunakan keumuman ayat. Tafsir al-Qurthubi (12/299) juga menyetujui keumuman ayat ini. Namun, apa implikasi dari keumuman ayat ini?

Sa’id Hawa dalam Asas at-Tafsir (7/3802) menganggap janji Allah dalam ayat ini akan terus berlangsung sampai semua akan masuk Islam. Tafsir al-Wasith (6/1457) karya Majma’ al-Bunuts Islamiyah di al-Azhar Mesir juga mengisyaratkan bahwa janji Allah ini terwujud ketika Islam tersebar di penjuru dunia timur dan barat. Jadi tidak dibatasi pada masa lalu saja. Berarti ini masalah dakwah, bukan soal kekhilafahan.

Nah, yang menarik, semua kitab tafsir di atas, termasuk mereka yang menganggap ayat ini berlaku umum, tidak satupun menyinggung akan kembalinya Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah seperti yang sering digelorakan oleh kelompok Pro-Khilafah. Para ulama tafsir itu bahkan tidak mengutip riwayat Musnad Ahmad soal ini, yang amat populer di kalangan HTI, namun sudah pernah saya jelaskan dengan tuntas dan detil bahwa sanadnya pun lemah dan bermasalah.

Kesimpulannya: QS an-Nur ayat 55 tidak bicara soal institusi atau sistem pemerintah khilafah. Al-Qur’an memang tidak pernah menyinggung sistem kenegaraan dengan detil. Ayat ini juga tidak bicara tentang akan kembalinya khilafah setelah bubar. Tidak ada janji Allah akan kembalinya sistem khilafah. Ini hanya halusinasi kaum HTI saja yang tidak bisa menerima kenyataan kita hidup damai dan aman di NKRI.

Umat Islam bisa berkuasa menurut ayat ini dan ayat selanjutnya dengan jalan beriman dan beramal soleh, tidak menyekutukan-Nya, menegakkan Shalat, membayar zakat dan taat pada Rasulullah SAW. Dengan jalan inilah Allah akan meridhai, memberi rasa aman dan memberi kita rahmat. Namun siapa yang kufur terhadap nikmat yang Allah berikan mereka itulah orang yang fasiq, sebagaimana dinyatakan dengan jelas oleh ayat ini.

Janganlah kita kufur terhadap nikmat Allah berupa hidup yang damai dan tentram di NKRI. Kita tinggal mensyukurinya dengan terus bekerja mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945. Wa Allahu a’lam bish shawab


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School