IMG-LOGO
Tasawuf/Akhlak

Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Tasawuf dan Sufi

Senin 16 September 2019 14:0 WIB
Share:
Penjelasan Imam Al-Ghazali tentang Tasawuf dan Sufi
Ilustrasi sufi. (Pinterest)
Mungkin sekali waktu kita sedikit mengalami kesulitan untuk menjelaskan tasawuf dan sufi kepada orang lain dengan kalimat singkat dan sederhana. Mungkin juga kita menjelaskan tasawuf dan sufi dengan penjelasan panjang yang tidak definitif.

Mungkin juga kita menjelaskan tasawuf dan sufi dengan pengertian rumit yang justru menjauhkan tasawuf dari pengertian aslinya. Pasalnya, tasawuf memiliki pokok utama yang tidak bisa dilepaskan. Sementara banyak penjelasan lainnya hanya merupakan cabang, ekspresi, dan bentuk penerjemahan dari pokok-pokok tasawuf.

Imam Al-Ghazali memberikan penjelasan pendek yang menjadi pokok-pokok dalam tasawuf. Penjelasan pendek ini cukup memadai. Ia menyebutkan hablum minallah dan hablum minan nas sebagai ajaran pokok dalam tasawuf.

Dua pilar utama tasawuf ini disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad untuk mengenalkan dunia tasawuf dan sufi kepada anak-anak. Dua ajaran pokok dalam tasawuf ini disampaikan dengan bahasa singkat dan sederhana agar mudah dimengerti kalangan anak-anak.

Meski demikian, bobot penjelasan singkat ini cukup bermanfaat juga bagi orang dewasa. Pasalnya penjelasan singkat dan sederhana ini tidak mengurangi substansi tasawuf. Penjelasan sederhana itu berbunyi sebagai berikut:

ثم اعلم أن التصوف له خصلتان الاستقامة مع الله تعالى والسكون عن الخلق٬ فمن استقام مع الله عز وجل وأحسن خلقه بالناس وعاملهم بالحلم فهو صوفي

Artinya, “Ketahuilah tasawuf memiliki dua pilar, yaitu istiqamah bersama Allah dan harmonis dengan makhluk-Nya. Dengan demikian siapa saja yang istiqamah bersama Allah SWT, berakhlak baik terhadap orang lain, dan bergaul dengan mereka dengan santun, maka ia adalah seorang sufi,” (Imam Al-Ghazali, Ayyuhal Walad, [Singapura-Jeddah-Indonesia, Al-Haramain: 2005], halaman 15).

Bagi Imam Al-Ghazali, upaya menemukan inti dari tasawuf tidak sulit baginya. Pasalnya, ia memahami benar apa yang dia bicarakan berpanjang-panjang selama ini dalam karyanya terutama Ihya Ulumiddin.

Istiqamah bersama Allah baik secara lahir dan batin menuntut kebulatan hati dan kesatuan perbuatan yang sesuai garis agama Islam. Sedangkan interaksi secara baik dengan empati terhadap makhluk-Nya merupakan sisi lain tasawuf yang sulit dipisahkan dari yang pertama, yaitu istiqamah.

Tasawuf bukan semata persoalan lahiriah yaitu soal jubah, serban, biji tasbih, rida hijau yang diselempangkan di bahu, berjenggot, bertongkat, menunjukkan lafal tauhid, memotong celana hingga di atas mata kaki, mengubah ejaan menjadi lebih islami dalam media sosial, atau soal kekuatan ghaib akrobatik dengan pelbagai kecenderungan khariqul adat.

Tasawuf, bagi Imam Al-Ghazali, juga bukan fenomena hijrah lalu dipahami secara sempit sebagai tindakan meninggalkan aktivitas yang dianggap tidak islami atau uzlah menjauhi manusia dan pelbagai aktivitas yang dipersangkakan haram.

Adapun sufi dalam bahasa sederhana Imam Al-Ghazali adalah orang yang menjaga perilakunya untuk senantiasa taat kepada Allah lahir dan batin, serta bermasyarakat dengan kepedulian terhadap sesama dan alam sekitar.

Dengan pengertian sederhana ini, setiap orang dapat menjadi atau menyandang status sufi tanpa harus mengubah penampilan dan meninggalkan aktivitas keseharian yang telah dijalani selama ini selagi tidak melanggar syariat.

Pelajar, mahasiswa, santri, guru, dosen, pekerja pabrik, karyawan bank, buruh, pekerja swasta, ASN, desainer, fotografer, pemusik, dapat menjadi sufi tanpa harus mengubah tampilan lahiriah dan meninggalkan aktivitas kesehariannya. Dalam bahasa singkat, setiap dari kita dapat menjadi sufi dengan dua pilar tasawuf tersebut tanpa harus ikut-ikutan dalam ‘fenomena hijrah.’ Wallahu a‘lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon
Share:

Baca Juga

Senin 16 September 2019 20:0 WIB
‘Rukun Iman Terlupakan’ Menurut Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad
‘Rukun Iman Terlupakan’ Menurut Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad
Ilustrasi rukun iman.
Kita sejak kecil diperdengarkan dengan peribahasa dalam bahasa Arab bahwa an-nazhafah minal iman atau kebersihan sebagian dari keimanan. Kita sedini itu telah mendapatkan pelajaran penting yang sangat bermanfaat sepanjang hayat.

Pelajaran kebersihan bersifat umum, mulai dari bersih jasmani, rohani, bersih dari segala cacat secara administrasi, rumah, lingkungan, hutan, laut, gunung, sungai, dan banyak lokasi lain yang telah dianugerahkan Allah swt. Pelajaran kebersihan ini cukup penting bagi anak-anak untuk bekal hidupnya ke depan.

Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad menganjurkan orang Islam untuk senantiasa menjaga kebersihan jasmani dan rohani sekaligus. Pasalnya, seseorang akan mencapai kesempurnaan ketika menjaga kebersihan jasmani dan rohani.

Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad mengatakan bahwa makhluk yang rohaninya bersih adalah malaikat. Ia mengilustrasikan manusia yang bersih rohaninya sebagai malaikat yang berwujud manusia.

Menurut Sayyid Abdullah Al-Haddad, agama Islam dibangun di atas fondasi kebersihan. Dengan kata lain, kebersihan merupakan rukun Islam yang terlupakan. Ia mengutip sabda Rasulullah saw, “Agama ini dibangun di atas kebersihan.”

Dengan demikian peribahasa bahwa “kebersihan adalah sebagian dari keimanan” harus ditingkatkan menjadi “kebersihan adalah sebagian besar dari keimanan” atau “kebersihan adalah rukun iman dan rukun Islam.”

وعليك بلزوم النظافة ظاهرا وباطنا فإن من كملت نظافته صار بروحه وسريرته ملكا روحانيا وإن كان بجسمه وصورته بشرا جسمانيا وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بني الدين على النظافة وقال عليه السلام إن الله نظيف يحب النظافة
 
Artinya, “Kau harus senantiasa bersih baik lahir maupun batin. Orang yang bersihnya sempurna akan menjadi malaikat rohaninya meski raganya adalah manusia. Rasulullah saw bersabda, ‘Agama ini dibangun di atas kebersihan.’ Rasulullah saw juga bersada, ‘Allah itu bersih. Dia menyukai kebersihan,’” (Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Risalatul Mu‘awanah, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 16).

Adapun kebersihan rohani yang dapat meningkatkan derajat manusia menjadi malaikat adalah upaya bersih-bersih diri dari akhlak tercela dan menghiasinya dengan akhlak terpuji. Akhlak tercela yang harus disapu bersih adalah kesombongan, panjang angan, kedengkian, riya, ujub, hubbud dunia, kufur nikmat, su’uz zhan kepada Allah, putus asa, intoleran, dan lainnya.

Sementara bentuk hiasan diri adalah ragam akhlak terpuji, yaitu tawadhu, sabar, syukur, malu, ikhlas, murah hati, ridha, tawakal, husnuz zhan kepada Allah, optimis, toleran, dan lainnya.

وتحصل النظافة الباطنة بتزكية النفس عن رذائل الأخلاق كالكبر والرياء والحسد وحب الدنيا وأخواتها وتحليتها بمكارم الأخلاق كالتواضع والحياء والإخلاص والسخاء وأخواتها
 
Artinya, “Kebersihan batin dianggap hasil dengan membersihkan diri dari akhlak tercela yaitu sombong, riya, dengki, cinta dunia, dan seterusnya; dan dengan menghiasi diri dengan akhlak terpuji yaitu tawadhu, malu, ikhlas, murah hati, dan seterusnya,” (Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Risalatul Mu‘awanah, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 16).

Dengan demikian, bersih-bersih–menurut Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad–tidak hanya bermakna menghilangkan sampah dan kotoran, tetapi juga menata dan mendekorasinya sehingga tampak elok baik secara lahir maupun batin.

Kita–kata Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad menganjurkan–dapat menemukan uraian ini secara lebih rinci dalam Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali. Wallahu a‘lam.

Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Muchlishon
Senin 16 September 2019 17:45 WIB
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (3-Habis)
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (3-Habis)
"Seseorang disebut alim selama ia tetap belajar. Begitu merasa sudah alim, saat itulah ia bodoh." (Ilustrasi: ibtimes.co.uk)
KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab Adabul ‘Alim wa al-Muta’allim melanjutkan paparannya tentang bahaya kebodohan dan urgensi ilmu untuk kehidupan manusia.
 
Dalam pandangan Hadratussyekh, musibah terbesar yang menimpa manusia bukan kelaparan, kesulitan rezeki, sakit, dan lain sebagainya. Menurut beliau musibah paling buruk adalah kebodohan. Sebaliknya, pemberian Tuhan yang terbaik bukanlah harta yang melimpah, pangkat yang tinggi dan lainnya, namun karunia terbesar sesungguhnya adalah akal. Dengan akal manusia dapat menyerap ilmu, ia dapat membedakan antara yang haq dan batil.
 
KH Hasyim Asy’ari mengutip ucapan sebagian ulama salaf:
 
خير المواهب العقل وشر المصائب الجهل
 
“Pemberian Allah yang terbaik adalah akal, seburuk-buruknya musibah adalah kebodohan.”
 
KH Hasyim Asy’ari melanjutkan penjelasannya bahwa ilmu dapat menjamin keselamatan manusia dari tipu daya setan, dapat menjaga dari serangan orang yang dengki dan menjadi petunjuk bagi akal. Keterangan ini beliau kutip dari sebagian ulama.
 
Dalam tema yang senada, Hadratussyekh mengutip sebuah syair:
 
“Sungguh alangkah bagusnya akal, orang terpuji adalah yang berakal. Sungguh sangat buruk kebodohan, orang tercela adalah orang bodoh.”
 
“Sungguh tidak layak pembicaraan seseorang dalam perdebatan, sementara kebodohan menghancurkannya ketika ia dihujani berbagai pertanyaan.”
 
“Ilmu adalah hal yang paling mulia yang digapai seorang lelaki, maka siapa saja yang tak punya ilmu maka bukanlah lelaki sejati.”
 
“Tuntutlah ilmu lalu amalkanlah wahai saudaraku. karena ilmu merupakan perhiasan bagi orang yang mengamalkannya.”
 
 
Seluruh aktivitas yang berkaitan dengan ilmu adalah hal yang positif dan memiliki keutamaan yang besar. Sahabat Mu’adz Bin Jabal berkata “tuntutlah ilmu karena mempelajari ilmu adalah kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mencurahkan jerih payah untuknya adalah qurbah (mendekatkan diri kepada Allah), serta mengajarkannya kepada orang yang tidak mengerti adalah sedekah.”
 
Sufi kesohor, Fudlail bin ‘Iyadl juga berkata “Orang alim yang mengajarkan ilmunya disebut sebagai orang besar di kerajaan-kerajaan langit.” 
 
Pakar hadits ternama, Sufyan bin ‘Uyaynah berkata, “Orang yang derajatnya paling tinggi di sisi Allah ﷻ adalah orang yang berada di antara Allah ﷻ dan makhluk-Nya (menjadi perantara). Yaitu para nabi dan ulama.”
 
Dalam keterangan yang lain, Sufyan bin ‘Uyaynah menegaskan, “Tak ada sesuatu apa pun di dunia yang lebih utama dari derajat kenabian. Dan tak ada sesuatu apa pun setelah derajat kenabian yang lebih utama dari ilmu dan fiqih.” Beliau ditanya tentang sosok yang dibicarakan dalam statemennya tersebut. Sufyan menjawab, “(Saya sedang membicarakan) para fuqaha seluruhnya.”
 
Pakar fiqih yang mengamalkan ilmunya disebut oleh Imam al-Syafi’i sebagai kekasih Allah. Imam al-Syafi’i berkata “Andai saja para pakar fiqih yang mengamalkan ilmunya bukanlah para wali (kekasih) Allah, maka Allah tidak memiliki wali.” 
 
KH Hasyim Asy’ari selanjutnya menegaskan siapakah orang berilmu. Menurut beliau, orang berilmu adalah mereka yang senantiasa belajar, ia tetap memburu ilmu di mana pun dan kepada siapa pun, bahkan kepada teman sebaya atau yang lebih muda usianya. Abdullah bin al-Mubarak berkata:
 
لا يزال الرجل عالما ما طلب العلم فإذا ظن أنه قد علم فقد جهل
 
“Seseorang senantiasa disebut alim (berilmu) selama ia mencari ilmu. Bila ia menduga telah alim, maka sungguh ia telah bodoh.”
 
Syekh Waki’, guru Imam al-Syafi’i berkata:
 
لا يكون الرجل عالما حتى يسمع ممن هو أسن منه وممن هو مثله وممن هو دونه
 
“Seorang lelaki tidak bisa disebut alim sehingga ia bersedia mendengarkan (ilmu) dari orang yang lebih tua, seumuran dan yang lebih muda darinya.”
 
Di bagian akhir bab, KH Hasyim Asy’ari memaparkan kematian orang alim adalah kehilangan besar bagi umat. Saat tidak ada lagi pakar agama di muka bumi, mimbar pengajian dan podium khotbah akan diisi oleh orang-orang bodoh, mereka ditanya tentang masalah agama lalu berfatwa tanpa landasan ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.
 
Sufyan al-Tsauri berkata, “Hal-hal yang mengherankan telah mewabah. Di akhir zaman lebih mewabah lagi. Berbagai malapetaka telah menumpuk, dan malapetaka dalam perkara agama lebih menumpuk lagi. Musibah-musibah adalah hal yang besar, dan kematian para ulama lebih besar lagi. Sesungguhnya kehidupan orang alim menjadi rahmat bagi umat, kematiannya merupakan lubang kecacatan bagi mereka.”
 
Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash beliau berkata, saya telah mendengar Nabi Muhammad ﷺ bersabda “Sesungguhnya Allah ﷻ tidak mencabut ilmu begitu saja, akan tetapi Allah mencabutnya dengan kewafatan para ulama, sampai-sampai ketika tidak tersisa satu ulama pun, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lantas mereka ditanya dan berfatwa tanpa dasar ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”
 
Dari sekian uraian yang telah dipaparkan, dapat dipahami bahwa belajar dan mengajarkan ilmu adalah ibadah yang paling utama dibandingkan amal ibadah lainnya. Ulama sebagai pewaris para Nabi adalah manusia terbaik yang dapat menuntun kehidupan masyarakat.
 
Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith menegaskan:
 
فتأمل رحمك الله هذه النصوص والأدلة والآثار تعرف من ذلك أن العلم أي تعلمه وتعليمه أرفع وأفضل من سائر الأعمال التي يتقرب بها إلى الله تعالى رب اليريات فهو من أعظم العبادات والفضائل المستجادات وأن الاشتغال به من أفضل الطاعات وأولى ما أنفقت فيه نفائس الأوقات وأن العلماء أفضل الناس وأرفعهم قدرا وأحسنهم ذكرا وأشرفهم فخرا. 
 
“Berpikirlah tentang beberapa nash, dalil dan ucapan sahabat ini –semoga Allah merahmatimu-, maka engkau mengetahui bahwa belajar dan mengajarkan ilmu lebih tinggi dan utama dari pada sekian amal-amal yang dibuat mendekatkan diri di sisi Allah, sang Tuhan semesta. Maka belajar dan mengajarkan ilmu termasuk lebih agung-agungnya ibadah dan keutamaan-keutamaan yang baik. Sesungguhnya menyibukkan diri dengannya termasuk lebih utama-utamanya ketaatan dan lebih utamanya aktivitas yang di dalamnya dialokasikan waktu-waktu yang berharga. Sesungguhnya para ulama lebih utamanya manusia, paling tinggi derajatnya, paling bagus reputasinya serta paling mulia kebanggaannya.” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal.101).
 
Semoga kita ditakdirkan oleh Allah sebagai orang yang senantiasa belajar dan mengajarkan ilmu hingga ajal menjemput. Amin.
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
 
Kamis 12 September 2019 19:15 WIB
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (2)
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (2)
(Ilustrasi: NU Online/Romzi Ahmad)
Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Adab al-Alim wa al-Muta’allim juga membahas membahas tentang keutamaan majelis ilmu, ulama, serta tercelanya kebodohan. Seperti pada pembahasan sebelumnya, beliau banyak memperkuat argumentasi-argumentasinya dengan penyebutan hadits Nabi serta statemen para sahabat dan ulama. Salah satunya adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ, “Tuntutlah ilmu kemudian ajarkanlah kepada manusia” (HR al-Darimi, al-Nasai, al-Baihaqi dan lainnya).
 
Dalam hadits yang lain, Nabi bersabda, “Jika kalian melihat taman indah surga maka membaurlah di sana.” Nabi Muhammad ﷺ pun ditanya, “Apa itu taman surga?” Beliau menjawab, “Halaqah/majelis dzikir (mengingat kepada Allah),” (HR Ahmad dan al-Tirmidzi).
 
Imam Atha’, salah satu pembesar Tabi’in memberikan keterangan lebih lanjut mengenai halaqah itu. Beliau menegaskan halaqah yang dimaksud oleh Nabi adalah perkumpulan yang membahas tentang halal/haram, membahas bagaimana tata cara jual beli, tata cara shalat, zakat, haji, nikah, menceraikan istri, dan lain sebagainya. 
 
 
Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan agar ilmu diamalkan, beliau bersabda “tuntutlah ilmu lalu amalkanlah apa yang telah kau pelajari.” (HR Ahmad dan al-Darimi). Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda “tuntutlah ilmu dan jadilah salah satu dari para ahlinya” (HR Ahmad dan al-Darimi). 
 
Hadlratussyekh selanjutnya menyinggung keutamaan ahli ilmu dibandingkan ahli ibadah yang tidak berilmu. Rais Akbar Nahdlatul Ulama tersebut mengutip sabda Nabi “tidaklah Allah disembah dengan suatu hal yang lebih utama dari pada mengerti permasalahan agama. Sungguh satu pakar fiqih lebih memberatkan bagi setan dari pada seribu orang yang ahli ibadah.” (HR al-Daruquthni dan al-Thabrani).
 
KH Hasyim Asy’ari selanjutnya mengutip dalil kemuliaan ulama yang disandingkan dengan derajatnya para syahid yang gugur di medan perang di jalan Allah. Beliau mengutip sabda Nabi “Goresan tinta para ulama beserta aliran darah para syuhada akan ditimbang pada hari kiamat.” (HR al-Qurthubi).
 
Dalam hadits yang lain, Nabi bersabda:
 
يشفع يوم القيامة ثلاثة الأنبياء ثم العلماء ثم الشهداء
 
“Ada tiga orang yang dapat memberikan syafa’at pertolongan kelak di hari kiamat yaitu para Nabi, para alim ulama keumdian para syuhada” (HR Ibnu Majah dan al-Qurthubi). 
 
Bahkan menurut al-Imam al-Ghazali, hadits tersebut menunjukan bahwa derajatnya para ulama di atas para syuhada. Penyebutan dalam hadits tersebut memakai redaksi “tsumaa” yang mengindikasikan berurutannya level kemuliaan, di mana para ulama disebutkan setelah para Nabi dan sebelum para syuhada.
 
Hujjatul al-Islam al-Imam al-Ghazali menegaskan:
 
فأعظم بمرتبة هي تلو النبوة وفوق الشهادة مع ما ورد في فضل الشهادة
 
“Sungguh betapa agungnya level ulama yang mengiringi derajat kanabian dan melampaui derajat syahadah (mati syahid) padahal terdapat hadits yang menjelaskan begitu agungnya keutamaan syahadah (mati syahid). (Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, juz.1, hal.6).
 
Dalam referensi yang lain, al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith mengatakan:
 
قلت وفي ذلك دليل على أن العلماء العاملين أفضل عند الله من الشهداء الذين قتلوا في سبيل نصر الدين. قال الحسن البصري يوزن مداد العلماء بدم الشهداء فيرجح مداد العلماء على دم الشهداء. 
 
“Aku berkata, dalam keterangan tersebut menunjukan bahwa para ulama yang mengamalkan ilmunya lebih utama di sisi Allah dibanding para syuhada yang terbunuh di jalan perjuangan agama. Al-Hasan al-Bashri berkata; kelak dibandingkan antara tinta para ulama dan darah para para syuhada, maka lebih unggul tinta para ulama atas darah para syuhada.” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal.87-88).
 
Selanjutnya KH Hasyim Asy’ari mengutip sebuah riwayat bahwa para ulama kelak akan berada di atas mimbar singgasana yang terbuat dari cahaya. Salah seorang ulama terkemuka dari kalangan Syafi’iyyah, al-Qadli Husain menyatakan dalam permulaan kitab Ta’liqnya, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang mencintai ilmu dan para ulama maka tak akan ada kesalahan yang akan ditulis selama masa hidupnya.” 
 
Beliau al-Qadli Husain juga meriwayatkan sabda Nabi Muhammad ﷺ yang lain, “Barangsiapa yang shalat di belakang seorang ulama maka ia bagaikan sholat di belakang seorang nabi dan barangsiapa yang sholat di belakang seorang nabi, maka dosa yang telah ia perbuat akan diampuni.” 
 
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abi Dzar dinyatakan bahwa mendatangi majelis dzikir (mengingat Allah termasuk dengan belajar ilmu) lebih baik dari pada melakukan shalat sebanyak seribu rakaat dan bertakziah menyaksikan seribu jenazah, serta lebih baik dari pada menjenguk seribu orang sakit.
 
Khalifah Umar bin al-Khattab berkata “sungguh apabila ada seorang lelaki yang keluar dari tempat tinggalnya dipenuhi dengan dosa layaknya gunung Tihamah, kemudian ia mendengarkan untaian kalam para ulama dan ia merasa takut hingga akhirnya ia bertaubat dari dosa-dosa yang telah ia lakukan, maka sungguh ia telah kembali ke rumahnya sedang ia sudah tak mempunyai dosa apapun, maka janganlah kalian berpisah dari majelisnya para ulama. Sesungguhnya Allah ﷻ tidaklah menjadikan tanah di muka bumi yang lebih mulia dari Majelis para ulama.”
 
Seorang ulama besar dari mazhab Maliki, Syekh al-Syarmasahi menyatakan dalam permulaan kitab Nadhmu al-Durar bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda “barangsiapa yang mengagungkan para ulama maka sungguh ia telah mengagungkan Allah ﷻ dan barangsiapa meremehkan para ulama, maka sungguh ia telah meremehkan Allah ﷻ dan Rasul-Nya.”
 
KH Hasyim Asy’ari selanjutnya menjelaskan perihal tercelanya kebodohan, di antaranya dengan mengutip sabda Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu sebagai berikut:
 
كفى بالعلم شرفا أن يدعيه من لا يحسنه وكفى بالجهل ذما أن يتبرأ منه من هو فيه
 
“Cukuplah menjadi bukti kemuliaan ilmu betapa orang yang tidak berilmu mengaku-ngaku berilmu, dan cukuplah menjadi bukti tercelanya kebodohan betapa orang yang berada dalam kebodohan merasa lepas darinya.”
 
Dalam tema yang senada tentang rendahnya kebodohan, menantu Nabi tersebut menyenandungkan sebuah syair:
 
كفى شرفا بالعلم دعواه جاهل * ويفرح أن أمسى إلى العلم ينسب
 
“Cukuplah menjadi bukti kemuliaan ilmu betapa orang bodoh mengaku-ngaku berilmu, ia senang dinisbatkan kepada ilmu.”
 
ويكفي خمولا بالجهالة أنني * أراع متى أنسب إليه وأغضب
 
“Cukuplah menjadi bukti hinanya kebodohan betapa aku takut dan marah ketika ia dinisbatkan kepadaku.”
 
Dalam keterangan lain yang dikutip al-Imam al-Ghazali, Sahabat Ali menyenandungkan syair yang sangat indah:
 
ما الفخر إلا لأهل العلم إنهم ... على الهدى لمن استهدى أدلاء
 
“Tiada kebanggan kecuali bagi orang yang berilmu, sesungguhnya mereka berada pada petunjuk (Allah), mereka menjadi petunjuk bagi orang-orang yang meminta petunjuk.”
 
وقدر كل امرىء ما كان يحسنه ... والجاهلون لأهل العلم أعداء
 
“Derajat setiap orang berada pada kepakarannya dalam sebuah hal. Orang-orang bodoh adalah musuh bagi para ahli ilmu.”
 
ففز بعلم تعش حيا به أبدا ... الناس موتى وأهل العلم أحياء
 
“Gapailah ilmu, maka engkau selamanya akan hidup. Para manusia mati sementara ahli ilmu hidup” (Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengutip Sahabat Ali, Ihya’ Ulum al-Din, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 2 hal. 18-19 ).
 
KH. Hasyim Asy’ari juga menambahkan riwayat dari sahabat Ibnu Zubair beliau berkata bahwa sahabat Abu bakr pernah mengirimkan surat kepadaku saat aku berada di Irak “wahai anakku kau harus selalu dalam naungan ilmu karena jika engkau dalam keadaan fakir maka ilmu akan menjadi harta bagimu dan jika engkau dalam keadaan kaya maka ilmu akan menjadi penghias bagimu.” 
 
Syekh Wahab bin Munabbih berkata “ada sebuah kemuliaan yang muncul dari ilmu, walaupun orang yang berilmu adalah bawahan, terdapat nilai keluhuran walaupun orang yang berilmu adalah orang yang direndahkan, terdapat sisi kedekatan (di sisi Allah) walaupun orang yang berilmu dalam tempat yang jauh, terdapat nilai kekayaan walaupun orang yang berilmu merupakan orang fakir. Terdapat kewibawaan walaupun orang yang berilmu dihinakan. 
 
Tentang keutamaan ilmu, Syekh Wahab bin Munabbih menyenandungkan sebuah syair:
 
“Ilmu adalah hal yang dapat mengantarkan suatu kaum berada dalam puncak kemuliaan dan orang yang berilmu akan terhindar dari kerusakan.”
 
“Wahai orang-orang yang berilmu, berhati-hatilah kalian, jangan kalian kotori ilmu dengan sesuatu yang merusak. Sungguh tak ada yang dapat menggantikan posisi ilmu.”
 
“Ilmu dapat membuat sebuah rumah berdiri tegak walau tak bertiang, sedang kebodohan dapat menghancurkan rumah yang begitu megah dan mulia.”
 
Abu Muslim al-Khawlani Ra. Berkata “para ulama di bumi laksana bintang di langit, ketika bintang itu muncul maka manusia mendapatkan petunjuk, dan ketika bintang itu meredup, maka manusia dalam kebingungan.” 
 
Dalam gubahan syairnya, Abu Muslim berkata:
 
“Berjalanlah sesuai jalurnya ilmu, dan perlihatkanlah ilmu kepada orang-orang yang mempunyai kepahaman.”
 
“Di dalam ilmu terdapat cahaya yang menerangi hati dari kebutaan, dan terdapat nilai bela agama yang kokoh.”
 
“Berbaurlah dengan para perawi ilmu, bersahabatlah dengan yang terbaik dari mereka. Maka bersahabat dengan mereka adalah perhiasan, membaur dengan mereka adalah keuntungan besar.”
 
“Maka janganlah engkau palingkan penglihatanmu dari mereka, karena merekalah bintang-bintang yang menjadi petunjuk, andai hilang satu bintang maka muncullah bintang yang lain.”
 
“Sungguh demi Allah andai tiada ilmu, niscaya tidak tampak sebuah petunjuk, dan tiada tampak pencerahan bagi kita dari perkara-perkara yang samar.”
 
Sahabat Ka’ab bin al-Akhbar berkata “andai saja tampak pahala majelisnya para ulama, maka orang-orang akan saling membunuh untuk memperebutkannya, hingga setiap penguasa rela meninggalkan kekuasaannya, dan pemilik pasar rela meninggalkan pasarnya.”
 
Sebagai keterangan tambahan, al-Habib Zain menegaskan bahwa hendaknya setiap muslim mengambil bagian dari warisan para Nabi. Sesungguhnya mereka tidak mewariskan harta atau tahta, namun mewariskan ilmu. Ulama besar dari Madinah tersebut menegaskan bahwa agama Islam dibangun atas dasar ilmu. Beliau mengatakan:
 
اعلم أن الدين الإسلامي قائم على أساس العلم والمعرفة فلا ينبغي للمسلم أن يكون بعيدا عن نور العلم بل لابد أن يقتبس من الميراث النبوي فإن العلماء ورثة الأنبياء 
 
“Ketahuilah bahwa agama Islam berdiri atas dasar ilmu dan pengetahuan, maka tidak sepantasnya bagi seorang muslim jauh dari cahaya ilmu. Bahkan wajib baginya mengambil warisan para Nabi, sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi.” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal.83).
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.