IMG-LOGO
Syariah

Pengertian Nazar dan Ketentuannya dalam Islam

Ahad 22 September 2019 9:0 WIB
Share:
Pengertian Nazar dan Ketentuannya dalam Islam
Nazar mensyaratkan adanya ungkapan yang pasti. Ungkapan yang masih abu-abu atau ragu-ragu tak masuk kategori nazar. (Ilustrasi: NU Online)
Nazar secara bahasa adalah janji (melakukan hal) baik atau buruk. Sedangkan nazar menurut pengertian syara’ adalah menyanggupi melakukan ibadah (qurbah; mendekatkan diri kepada Allah) yang bukan merupakan hal wajib (fardhu ‘ain) bagi seseorang.
 
Berdasarkan pengertian di atas, maka tidak sah bernazar akan melakukan hal yang mubah, makruh (menurut pendapat yang rajih [kuat]), dan haram. Begitu juga tidak sah bernazar akan melakukan sesuatu yang wajib atau fardhu ‘ain baginya, seperti bernazar akan melakukan shalat lima waktu. Sebab shalat lima waktu, meskipun tidak dinazarkan, sudah menjadi kewajiban bagi seorang Muslim (Sayyid Ahmad bin ‘Umar As-Syatiri, al-Yaqut an-Nafis fi Madzhabi Ibni Idris, hal. 227).
 
Dengan demikian, perkara yang dapat dinazarkan adalah perkara yang dihukumi oleh syara’ sebagai perbuatan sunnah atau fardlu kifayah. Seperti bernazar akan bersedekah kepada fakir miskin, bernazar akan menshalati jenazah fulan, dan contoh hal-hal sunnah dan fardlu kifayah yang lain.
 
Efek dari pelaksanaan sebuah nazar adalah perkara yang asalnya dihukumi sebagai sunnah atau fardhu kifayah menjadi hal yang wajib baginya. Misalnya, bersedekah kepada fakir miskin yang semula sunnah, menjadi wajib bagi orang yang bernazar akan melakukan hal tersebut. Begitu juga melaksanakan shalat jenazah yang asal hukumnya adalah fardhu kifayah, berubah menjadi fardhu ‘ain bagi orang yang menazarkannya.
 
Salah satu syarat sahnya nazar adalah lafaz nazar harus mengandung sebuah kepastian untuk menyanggupi melakukan suatu hal. Misalnya, perkataan “Saya bernazar akan puasa pada hari Senin dan Kamis”, “Jika saya peringkat satu, saya akan memberi hadiah pada ibu”, dan perkataan-perkataan lain yang mengandung sebuah kepastian untuk melakukan suatu hal. Bila perkataan tidak mengandung kepastian untuk melakukan suatu hal maka perkataan tersebut tidak dikategorikan sebagai nazar. Misalnya, seseorang mengatakan “Jika saya lulus sekolah, kemungkinan besar saya akan memberikan motor saya”, “Bisa jadi besok saya akan puasa”, dan semacamnya.
 
Saat seseorang bernazar akan menunaikan ibadah tertentu dengan penyebutan secara umum, maka yang wajib ia lakukan adalah sebatas sesuatu yang dapat dinamai sebagai perbuatan ibadah tersebut (ma yaqa’u alaihi-l-ismu). Misalnya, seseorang mengatakan, “Jika saya sembuh, saya akan puasa” maka hal yang wajib ia lakukan adalah cukup berpuasa selama satu hari saja, sebab puasa satu hari sudah dapat disebut sebagai ibadah puasa. 
 
Perkataan “Saya pasti akan melakukan shalat di malam hari” maka nazar seseorang akan terpenuhi dengan melaksanakan dua rakaat di malam hari. Perkataan seseorang “Saya akan bersedekah kepada fakir miskin” maka kewajiban nazarnya cukup dengan menyedekahkan bilangan uang yang paling sedikit yang masih memiliki nilai tukar (aqallu mutamawwalin), seperti menyedekahkan uang 500 rupiah, sebab memberikan uang 500 rupiah pada fakir miskin sudah dianggap sebagai sedekah (Ibnu Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib, hal. 324)
 
Berbeda halnya ketika hal yang dinazarkan (al-manzur bih) tidak bersifat umum, tapi sudah ditentukan. Misalnya, perkataan “Jika saya juara kelas, maka saya akan puasa selama satu minggu” maka wajib baginya untuk melakukan puasa sesuai dengan hal yang sudah ia tentukan, yakni satu minggu. Ketentuan ini juga berlaku pada ibadah-ibadah lain yang sudah ditentukan, maka wajib untuk melakukan ibadah yang dinazarkan sesuai dengan ketentuan yang telah dikhususkan pada saat pengucapan nazar. 
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember
 
Share:

Baca Juga

Ahad 22 September 2019 21:30 WIB
Macam-macam Nazar dan Sanksi bagi Pelanggarnya
Macam-macam Nazar dan Sanksi bagi Pelanggarnya
Bernazar bukanlah sebuah kewajiban. Namun, saat nazar itu kadung terucap maka ada kewajiban yang mesti dilunasi.
Setelah membahas tentang pengertian dan ketentuan-ketentuan dalam nazar, selanjutnya kita akan membahas macam-macam nazar serta sanksi bagi orang yang melanggar atau tidak menepati perbuatan yang dinazarkan olehnya.
 
Nazar secara umum terbagi menjadi dua pembagian.
 
Pertamanazar lajjaj.
Nazar lajjaj adalah nazar yang bertujuan untuk memotivasi seseorang agar melakukan suatu hal, atau mencegah seseorang melakukan suatu hal, atau meyakinkan kebenaran sebuah kabar yang disampaikan oleh seseorang.
 
Contoh nazar lajjaj yang berupa motivasi adalah perkataaan seseorang “Jika aku tidak mengkhatamkan membaca buku ini selama tiga hari, maka aku akan bersedekah senilai satu juta rupiah”. Pengucapan nazar demikian dimaksudkan agar ia termotivasi segera mengkhatamkan bacaan bukunya dalam waktu yang cepat, sebab jika hal tersebut tidak ia lakukan maka ia berkewajiban menyedekahkan uangnya senilai satu juta rupiah. Sehingga nazar ini sejatinya dimaksudkan agar seseorang termotivasi atau semakin tertuntut untuk melakukan suatu hal yang bermanfaat baginya.
 
Contoh nazar lajjaj yang berupa pencegahan, seperti ketika seseorang mengatakan “Jika aku berbicara lagi dengan Fulan, maka aku akan bersedekah senilai satu juta rupiah”. Nazar ini dimaksudkan agar dirinya tidak lagi berhubungan dengan Fulan. Sebab jika ia melakukan hal tersebut maka ia terkena beban kewajiban menyedekahkan uang satu juta rupiah. Sehingga nazar ini dimaksudkan agar seseorang tercegah untuk melakukan suatu hal yang tidak ia senangi.
 
Sedangkan contoh nazar lajjaj yang bertujuan untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran suatu berita yang disampaikan oleh seseorang, misalnya seseorang setelah mengabarkan suatu berita pada orang lain mengatakan “Jika kabar yang aku sampaikan ini tidak benar, niscaya wajib bagiku untuk bersedekah senilai satu juta rupiah padamu”. Dengan ucapan ini, orang yang diajak bicara diharapkan akan merasa yakin atas kebenaran sebuah kabar yang disampaikan olehnya.
 
Keduanazar tabarrur.
Nazar tabarur adalah menyanggupi akan melakukan suatu ibadah (qurbah) tanpa menggantungkannya pada suatu hal, atau menggantungkannya dengan suatu hal yang diharapkan (marghub fih). Nazar tabarrur ini juga dikenal dengan nama nazar mujazah.
 
Contoh nazar tabarur yang tidak digantungkan pada suatu hal, seperti ucapan “Aku bernazar akan bersedekah senilai satu juta rupiah” maka wajib bagi seseorang yang mengatakan hal tersebut untuk menyedekahkan uangnya senilai satu juta tatkala ia sudah memilikinya. Kewajiban menyedekahkan ini bersifat kewajiban yang lapang (wujub muwassa’), dalam arti seseorang tidak wajib untuk segera menyedekahkan uang tersebut (faur) saat ia telah mampu, tapi bisa dilakukan kapan pun selama ia tidak memiliki keyakinan tidak akan memiliki uang senilai satu juta rupiah lagi. Jika ia yakin tidak akan memiliki uang senilai satu juta rupiah selain pada waktu tersebut maka ia wajib menyedekahkan uangnya sebelum habis digunakan untuk keperluan lain (Syekh Abdul Hamid al-Makki As-Syarwani, Hawasyi As-Syarwani, juz 10, hal. 75).
 
Namun meski begitu, sebaiknya ia segera melaksanakan nazar agar segera pula terbebas dari tanggungan kewajiban. Sebab seringkali ketika pelaksanaan kewajiban ini diakhirkan, seseorang akan teledor hingga lupa tidak melaksanakannya.
 
Sedangkan contoh nazar tabarrur yang digantungkan pada sesuatu yang diharapkan, misalnya seperti ucapan “Jika Allah menyembuhkan penyakitku, aku akan bersedekah senilai satu juta rupiah”. Kesembuhan penyakit merupakan sebuah hal yang diharapkan oleh seseorang, ketika penyakitnya telah sembuh, maka ia berkewajiban untuk menyedekahkan uang senilai satu juta sebagai wujud nazar tabarrur yang telah diucapkan olehnya.
 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nazar secara umum terbagi menjadi dua bagian, yakni nazar lajjaj dan nazar tabarrur. Sedangkan jika dibagi secara rinci, maka nazar terbagi menjadi lima. Sebab nazar lajjaj terdiri dari tiga macam. Sedangkan nazar tabarrur terdiri dari dua macam. Segala bentuk nazar yang diucapkan oleh seseorang pasti termasuk salah satu di antara lima bentuk nazar di atas.
 
Nazar yang Dapat dan Tak Dapat Dilanggar
Di antara berbagai macam nazar di atas, bentuk nazar yang dapat dilanggar oleh seseorang hanya berlaku dalam nazar lajjaj saja. Di balik nazar lajjaj terkandung motif atau maksud si pengucap nazar: entah menyemangati diri sendiri, menghindarkan diri, atau mempengaruhi orang lain.
 
Sementara dalam nazar tabarrur tidak tergambarkan bahwa nazar tersebut dapat dilanggar oleh seseorang, sehingga tidak ada jalan lain bagi orang yang mengucapkan nazar tersebut selain harus melakukan perkara yang telah ia sanggupi.
 
Dari ketiga macam nazar yang tercakup dalam nazar lajjaj, semuanya dapat dilanggar--dengan konsekuensi menggantinya dengan membayar denda. Misalnya pada kasus nazar motivasi, dapat dilanggar ketika seseorang tidak memenuhi target pelaksanaan yang ia nazarkan. Dalam nazar pencegahan, dapat dilanggar ketika seseorang melakukan hal yang semula ia nazarkan tak akan dilakukan. Dan dalam nazar meyakinkan sebuah kabar, dapat dilanggar ketika ternyata kabar yang disampaikan adalah sebuah kebohongan. 
 
Ketika melakukan nazar lajjaj, seseorang diberi pilihan antara melaksanakan hal yang ia nazarkan (al-manzur bih, misalnya bersedekah satu juta rupiah) atau membayar denda sumpah (kafarat yamin), yakni memilih di antara melakukan salah satu dari tiga hal: (1) memerdekakan budak, (2) memberi makan sepuluh orang miskin dengan ketentuan setiap orang miskin diberi satu mud makanan pokok (0,6 kilogram atau ¾ liter beras), atau (3) memberikan pakaian pada sepuluh orang miskin. Jika tidak mampu melakukan satu pun dari ketiga hal di atas, maka wajib untuk berpuasa selama tiga hari.
 
Meskipun seseorang ketika melanggar nazar lajjaj diperbolehkan memilih di antara kedua pilihan di atas (melakukan hal yang dinazarkan atau membayar denda sumpah), namun yang paling baik baginya adalah memilih pilihan yang bernilai paling banyak. Jika bernazar akan menyedekahkan uang senilai satu juta rupiah, sedangkan memberi makanan untuk sepuluh orang miskin hanya menghabiskan biaya dua ratus ribu rupiah, maka yang lebih utama baginya adalah melakukan hal yang ia nazarkan. Begitu juga sebaliknya, jika hal yang dinazarkan hanya menyedekahkan seratus ribu rupiah, sedangkan memberi makanan sepuluh orang miskin menghabiskan tiga ratus ribu rupiah, maka yang lebih utama adalah membayar denda sumpah (Muhammad bin Ahmad bin Umar as-Syatiri, Syarah al-Yaqut an-Nafis, hal. 874).
 
Bernazar bukanlah sebuah kewajiban. Namun, saat nazar itu kadung terucap maka ada kewajiban yang mesti dilunasi. Pada kasus nazar tabarrur, kewajiban tersebut adalah realisasi janji sesuai bunyi nazar itu. Tak ada pilihan lain, termasuk membayar kafarat. Melanggarnya punya konsekuensi dosa bagi pengucap nazar, sebagaimana nazar lajjaj ketika tak ditepati tapi sekaligus juga tak diganti dengan membayar kafarat. Wallahu a'lam.
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember
Kamis 19 September 2019 16:0 WIB
Lima Tujuan Belajar Ilmu Syariat Menurut Syekh Usama al-Azhari
Lima Tujuan Belajar Ilmu Syariat Menurut Syekh Usama al-Azhari
Syaikh Dr. Usamah al-Azhari. (Foto: NU Online/ Amien Nurhakim)
Syekh Dr. Usamah al-Azhari menjelaskan, ada lima tujuan dari belajar ilmu syariat. Lima poin ini penting sekali dijunjung dan diimplementasikan oleh para pelajar ilmu syariah. Meskipun lima tujuan ini terlihat sederhana, namun dampaknya besar bagi keseimbangan alam dan kehidupan manusia.
 
Ia menyampaikan hal ini saat mengisi kuliah umum di Auditorium Prof. DR. Harun Nasution, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (18/9) yang diselenggarakan Fakultas Dirasat Islamiyyah UIN Syarif Hidayatullah, bekerjasama dengan Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia.
 
Lima tujuan belajar ilmu syariat yaitu:

1. Ihtirām al-akwān (Menghormati ciptaan-ciptaan Allah SWT).
Poin atau tujuan yang pertama dari kita belajar ilmu syariah adalah di antaranya menghormati seluruh ciptaan atau semua makhluk yang diciptakan Allah SWT. Allah SWT telah menciptakan semesta alam ini beserta penghuninya. Tidak hanya manusia, namun ada hewan, jin, malaikat, pepohonan, tanah, air, api, udara. Intinya menghormati semua yang diciptakan Tuhan.
 
Kita harus menghormati mereka semua seperti menghormati hewan dengan tidak menyiksanya, tidak merebut alamnya, menghormati pepohonan dengan mencintai alam, tidak merusak hutan sebagai ekosistem penyeimbang alam ini, menghormati bumi dengan menjaga sumber alamnya, serta tidak tamak dalam memanfaatkannya, dan sebagainya.

2. Ikrām an-nās (Memuliakan manusia).
Tujuan selanjutnya mempelajari ilmu syariat adalah untuk memuliakan manusia. Seperti yang kita ketahui bersama, Allah telah menentukan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan olehNya dalam Al-Quran berupa aturan yang harus ditaati oleh manusia. Ketika ada seseorang yang melanggar peraturan itu, maka ia mendapatkan hukuman baik di dunia atau pun di akhirat.
 
Orang yang mengetahui akan adanya hukuman bagi yang melanggar peraturan akan mencoba untuk menaatinya sebaik mungkin, sehingga ketaatannya akan menjaga keseimbangan kehidupan manusia lainnya. Ia tidak akan membuat orang lain terganggu sebab pelanggarannya terhadap peraturan. Ini adalah bagian dari memuliakan manusia.

Teringat dengan Gus Dur. Beliau pernah mengatakan, “Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi pula toleransinya.” Yakni, toleransinya kepada orang lain. Atau mudahnya, semakin tinggi ilmunya, semakin sedikit ia menyalahkan orang lain. Entah karena ia dapat memaklumi kesalahan itu, atau ia tau bahwa pada hakikatnya itu bukanlah kesalahan, melainkan hal biasa, namun dilakukan dengan cara yang tak wajar sebagaimana dilakukan orang-orang pada umumnya.

3. Hifdzul wathon (Menjaga negara).
Seorang pelajar ilmu syariat hendaknya memiliki maksud dan tujuan untuk menjaga negara dan tanah airnya dengan wasilah mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Sebab, dengan mempelajari ilmu syariat dengan benar, kemudian mengimplementasikan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya di tengah-tengah masyarakat, maka akan menciptakan keadaan masyarakat yang damai dan teratur, sehingga keamanan terus tercipta dan berjalan sebagaimana adanya.

4. Ziyādatul ‘umrān (Memakmurkan atau menambah kemakmuran).
Tujuan belajar ilmu syariat juga adalah untuk memakmurkan negeri ini. Jika suatu negeri sudah makmur, maka masyarakat dan penduduknya juga merasa tenang untuk beribadah kepada Allah SWT.

5.  Izdiyād al-imān (Terus bertambahnya iman).
Tujuan kita mempelajari ilmu syariat yaitu bertambahnya iman kita setiap waktunya kepada Allah SWT, juga RasulNya. Kita sepakat bahwasannya keimanan dapat bertambah dan berkurang. Dan kita dianjurkan pula untuk selalu menambah tingkat keimananan kita dengan melakukan ketaatan kepada Allah. Tentunya ketaatan yang disertai dengan ilmu. Wallahu a’lam
 
Amien Nurhakim. Mahasantri Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah, Jakarta
Kamis 19 September 2019 13:0 WIB
Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?
Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?
(Foto: Sanja Knezevic Photography)
Jangan Emosi, Kita Ngaji Kitab Fiqh Yuk!. Sahabat dan guru saya, Ustadz Yusuf Mansur meminta saya menjelaskan bagaimana hukumnya seorang Muslim memasuki gereja. Belakangan ini ada tokoh yang mengatakan, “murtad bagi Muslim yang masuk gereja.” Ada lagi yang mengatakan, “haram menurut mazhab Syafi’i”.
 
Bagaimana status hukumnya yang sebenarnya? Ada baiknya penjelasan ini saya tuliskan dan bagikan untuk yang lain.
 
Sebenarnya tidak ada larangan dalam nash al-Qur’an dan Hadits yang secara tegas melarang Muslim masuk gereja atau rumah ibadah lain. Karena itu, perkara ini  masuk ke wilayah interpretasi, atau penafsiran para ulama. Itulah sebabnya para ulama berbeda pandangan mengenai status hukumnya.
 
Saya kutip keterangan dari kitab Mausu’ah Fiqh Kuwait. Kitab ini ensiklopedia persoalan fiqh dari berbagai mazhab. Begini penjelasannya:
 
‎يَرَى الْحَنَفِيَّةُ أَنَّهُ يُكْرَهُ لِلْمُسْلِمِ دُخُول الْبِيعَةِ وَالْكَنِيسَةِ، لأَِنَّهُ مَجْمَعُ الشَّيَاطِينِ، لاَ مِنْ حَيْثُ إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ حَقُّ الدُّخُول. وَذَهَبَ بَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ فِي رَأْيٍ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوزُ لِلْمُسْلِمِ دُخُولُهَا إِلاَّ بِإِذْنِهِمْ، وَذَهَبَ الْبَعْضُ الآْخَرُ فِي رَأْيٍ آخَرَ إِلَى أَنَّهُ لاَ يَحْرُمُ دُخُولُهَا بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ. وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى أَنَّ لِلْمُسْلِمِ دُخُول بِيعَةٍ وَكَنِيسَةٍ وَنَحْوِهِمَا وَالصَّلاَةَ فِي ذَلِكَ، وَعَنْ أَحْمَدَ يُكْرَهُ إِنْ كَانَ ثَمَّ صُورَةٌ، وَقِيل مُطْلَقًا، ذَكَرَ ذَلِكَ فِي الرِّعَايَةِ، وَقَال فِي الْمُسْتَوْعِبِ: وَتَصِحُّ صَلاَةُ الْفَرْضِ فِي الْكَنَائِسِ وَالْبِيَعِ مَعَ الْكَرَاهَةِ، وَقَال ابْنُ تَمِيمٍ. لاَ بَأْسَ بِدُخُول الْبِيَعِ وَالْكَنَائِسِ الَّتِي لاَ صُوَرَ فِيهَا، وَالصَّلاَةِ فِيهَا. وَقَال ابْنُ عَقِيلٍ: يُكْرَهُ كَالَّتِي فِيهَا صُوَرٌ، وَحَكَى فِي الْكَرَاهَةِ رِوَايَتَيْنِ. وَقَال فِي الشَّرْحِ. لاَ بَأْسَ بِالصَّلاَةِ فِي الْكَنِيسَةِ النَّظِيفَةِ رُوِيَ ذَلِكَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي مُوسَى وَحَكَاهُ عَنْ جَمَاعَةٍ، وَكَرِهَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمَالِكٌ الصَّلاَةَ فِي الْكَنَائِسِ لأَِجْل الصُّوَرِ،
 
Dari penjelasan di atas, paling tidak ada 4 perbedaan pendapat ulama.
 
Pertama, Ulama mazhab Hanafi berpendapat bahwa makruh bagi seorang Muslim memasuki sinagog dan gereja.
 
Kedua, Sebagian ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa tidak boleh bagi orang Muslim memasuki tempat ibadah non-Muslim kecuali ada izin dari mereka. Sebagian ulama mazhab Syafi’i yang lain berpendapat bahwa tidak haram memasuki tempat ibadah non-Muslim meski tanpa ada izin dari mereka.
 
Ketiga, Ulama mazhab Hanbali berpendapat boleh bahwa memasuki sinagog dan gereja, dan rumah ibadah lainnya, serta melalukan shalat di dalamnya, tapi hukumnya makruh menurut Imam Ahmad, jika di dalamnya ada gambar.
 
Keempat, Ibn Taimiyah berpendapat tidak mengapa masuk sinagog dan gereja jika tidak ada gambar di dalamnya, begitu juga shalat di dalamnya. Ibn Aqil berpendapat makruh karena ada gambar. Masalah ini ada dua pendapat: ada yang bilang tidak mengapa shalat di dalam gereja berdasarkan riwayat dari sahabat Nabi, Ibnu Umar dan Abu Musa, sebagaimana dikisahkan oleh banyak ulama, dan ada juga riwayat dari Ibn Abbas dan Malik bahwa shalat di gereja makruh karena ada gambarnya.
 
Penjelasan di atas terdapat dalam juz 20, halaman 245. Adapun dalam juz 38, halaman 155, masih di kitab yang sama, ada tambahan keterangan:
 
‎وَيَرَى الْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ وَبَعْضُ الشَّافِعِيَّةِ أَنَّ لِلْمُسْلِمِ دُخُول بِيعَةٍ وَكَنِيسَةٍ وَنَحْوِهِمَا
 
“Ulama mazhab Maliki, Hanbali, dan sebagian ulama mazhab Syafi’i berpendapat bahwa boleh bagi orang Muslim memasuki sinagog, gereja dan rumah ibadah lainnya.”
 
Bayangkan, kita masih berdebat soal boleh memasuki gereja atau tidak, para ulama bahkan sudah membahas bolehkah shalat di dalam gereja. Seperti tercantum di atas, mereka mengatakan shalatnya sah, dan ada yang membolehkan secara mutlak, namun ada yang mengatakan sah, namun makruh karena ada gambar di dalam gereja.
 
Kita tambahkan dengan mengutip satu kitab fiqh perbandingan mazhab lainnya, yaitu kitab al-Mughni karya Ibn Qudamah.
Dalam juz 2, halaman 57:
 
‎[فَصْلٌ الصَّلَاةِ فِي الْكَنِيسَةِ النَّظِيفَة]
‎(٩٦٩) فَصْلٌ: وَلَا بَأْسَ بِالصَّلَاةِ فِي الْكَنِيسَةِ النَّظِيفَةِ، رَخَّصَ فِيهَا الْحَسَنُ وَعُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَالشَّعْبِيُّ وَالْأَوْزَاعِيُّ وَسَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ وَرُوِيَ أَيْضًا عَنْ عُمَرَ وَأَبِي مُوسَى، وَكَرِهَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَمَالِكٌ الْكَنَائِسَ؛ مِنْ أَجْلِ الصُّوَرِ. وَلَنَا «، أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - صَلَّى فِي الْكَعْبَةِ وَفِيهَا صُوَرٌ» ، ثُمَّ هِيَ دَاخِلَةٌ فِي قَوْلِهِ - عَلَيْهِ السَّلَامُ -: «فَأَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ فَصَلِّ، فَإِنَّهُ مَسْجِدٌ»
 
Ibn Qudamah menjelaskan al-Hasan, Umar bin Abdul Azis, Sya’bi, Awza’i dan Sa’id bin Abdul Azis, serta riwayat dari Umar bin Khattab dan Abu Musa, mengatakan tidak mengapa shalat di dalam gereja yang bersih. Namun Ibn Abbas dan Malik memakruhkannya karena ada gambar di dalam gereja.
 
Namun bagi kami (Ibn Qudamah dan ulama yang sepaham dengannya) Nabi Saw pernah shalat di dalam Ka’bah dan di dalamnya ada gambar. Ini juga termasuk dalam sabda Nabi: “Jika waktu shalat telah tiba, kerjakan shalat di manapun, karena di manapun bumi Allah adalah masjid (tempat sujud).”
 
Ibn Qudamah juga mengutip kisah menarik dalam juz 7, halaman 283:
 
‎وَرَوَى ابْنُ عَائِذٍ فِي " فُتُوحِ الشَّامِ "، أَنَّ النَّصَارَى صَنَعُوا لَعُمَرَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -، حِينَ قَدِمَ الشَّامَ، طَعَامًا، فَدَعَوْهُ، فَقَالَ: أَيْنَ هُوَ؟ قَالُوا: فِي الْكَنِيسَةِ، فَأَبَى أَنْ يَذْهَبَ، وَقَالَ لَعَلِيٍّ: امْضِ بِالنَّاسِ، فَلِيَتَغَدَّوْا. فَذَهَبَ عَلِيٌّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - بِالنَّاسِ، فَدَخَلَ الْكَنِيسَةَ، وَتَغَدَّى هُوَ وَالْمُسْلِمُونَ، وَجَعَلَ عَلِيٌّ يَنْظُرُ إلَى الصُّوَرِ، وَقَالَ: مَا عَلَى أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ لَوْ دَخَلَ فَأَكَلَ، وَهَذَا اتِّفَاقٌ مِنْهُمْ عَلَى إبَاحَةِ دُخُولِهَا وَفِيهَا الصُّورُ، وَلِأَنَّ دُخُولَ الْكَنَائِسِ وَالْبِيَعِ غَيْرُ مُحَرَّمٍ
 
Ketika Umar bin Khattab memasuki negeri Syam dan itu diketahui oleh kaum Nasrani negeri tersebut, mereka berinisiatif untuk menyambut Umar dengan menyajikannya makanan. Namun jamuannya itu disajikan di dalam gereja mereka. Lalu Umar menolak hadir dan memrintahkan ‘Ali untuk menggantikannya. Datanglah ‘Ali ke undangan tersebut lalu masuk ke dalamnya dan menyantap hidangan yang disediakan. Kemudian Ali berkata: “aku tidak tahu kenapa Umar menolak datang?” Kata Ibn Qudamah, ini bukti kesepakatan mereka para sahabat bahwa memasuki gereja/sinagog tidaklah haram.
 
Nah, mungkin ada yang bertanya: mengapa Umar menolak datang? Kalau haram, mengapa Umar mengutus Ali?
 
Kelihatannya alasan Umar tidak mau masuk dan menghadiri jamuan di  gereja adalah karena khawatir umat Islam akan memahami bahwa boleh merebut gereja itu dan mengubahnya dijadikan masjid. Ini juga yang dilakukan Umar saat menolak masuk ke gereja di Palestina. Umar menghindari kerusakan dan kekerasan. Namun, jelas bahwa Imam Ali dan para sahabat memasuki gereja dan menghadiri jamuan di dalamnya.
 
Demikianlah penjelasan dari kitab klasik yang otoritatif agar kita tidak memahami persoalan ini dengan emosi dan mudah mengkafirkan atau memurtadkan suadara kita yang masuk ke dalam gereja. Ini bukan jawaban orang liberal, syi’ah, orientalis, sekuler atau sebagainya. Ini murni jawaban dari kitab fiqh berdasarkan pendapat para ulama, dan praktik Nabi Saw dan para sahabat. Mari kita hormati keragaman pendapat ulama. Tabik.
 
Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI NU Australia-New Zealand.