IMG-LOGO
Hikmah

Ketika Ibnu Mukaddam Dituduh Kafir

Senin 7 Oktober 2019 19:45 WIB
Share:
Ketika Ibnu Mukaddam Dituduh Kafir
Tuduhan kafir yang salah sasaran akan kembali pada si penuduh. (Ilustrasi: NU Online)
Dalam Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi mencatat sebuah kisah ketika Ibnu Mukaddam dipanggil ‘kafir’ oleh seseorang. Berikut kisahnya:
 
وقال رجل لابن مكدّم: يا كافر. قال: وجب عليَّ الشُّكرُ، حيث لم يجر ذلك علي لساني، ولم تجب عليَّ إقامةُ الحُجّة فيه، وقد طويتُ قلبي علي جملة أشياء. قال: ما هنّ؟ قال: إن قُلْتَ ألفَ مرّة، ولا أحقِدُ عليك، ولا أشكوك إلي أحد، وإن نجوْتُ من الله عزّ وجلّ بعد هذه الكلمة شفعتُ لك. فتاب الرجل.
 
Seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Mukaddam: “Wahai kafir!”
 
Ibnu Mukaddam menjawab: “Aku mewajibkan diriku untuk bersyukur, di mana ucapan itu tidak mengalir di atas lidahku, dan aku tidak wajib menyuguhkan hujjah atas ucapan ‘kafir’ itu. Sungguh, aku malah mengalihkan hatiku terhadap beberapa hal (lain).”
 
Laki-laki itu bertanya: “Apa itu?”
 
Ibnu Mukaddam menjawab: “Jika pun kau mengatakan (tuduhan itu) seribu kali, aku tidak akan menjawabnya sekalipun. Aku tidak akan menaruh dendam kepadamu, dan tidak akan mengeluhkan (perbuatan)mu pada seorang pun. Jika aku berhasil melakukannya karena Allah ‘Ajja wa Jalla setelah ucapan(mu) ini, aku akan memberimu pertolongan.”
 
Kemudian laki-laki itu bertobat (setelah mendengar perkataan Ibnu Mukaddam). (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011, h. 247)
 
****
 
Untuk sebagian orang, dituduh buruk adalah berkah, seperti yang dilakukan Ibnu Mukaddam. Ia mewajibkan dirinya sendiri untuk bersyukur setelah mendengar panggilan “hai kafir” dari seseorang. Ia tidak marah, menghardik, apalagi menyerangnya secara fisik. Ia pun merasa tak perlu untuk membantahnya. Ia sadar betul, tidak ada manusia yang benar-benar sempurna; tidak ada manusia yang bisa lepas dari perbuatan dosa. Selama mereka hidup, potensi berdosa, dan bersalah tidak kalah besarnya dari potensi berpahala, dan beramal baik.
 
Ia malah senang dituduh “kafir”, karena ia menerima kemungkinan “kafir” pada dirinya sendiri. Ia menjadikan tuduhan itu sebagai pengingat, ‘apakah ia akan berhasil menghindari kekafiran sampai ia mati?’ Karena itu, ia mengatakan (terjemah bebas): “Jika aku berhasil melakukannya karena Allah ‘ajja wa jalla setelah (tuduhan kafir)mu ini, aku akan memberikan pertolongan kepadamu kelak.”
 
Ini menunjukkan, ia sendiri takut akan terjerumus ke dalam kekafiran. Sebab, selama nafas masih dikandung badan, kemungkinan akan selalu ada, yang mukmin bisa menjadi kafir, begitu pun sebaliknya, yang kafir bisa menjadi mukmin. Siapa yang tahu. Dan itu semua adalah hak Allah, bukan manusia yang menentukannya.
 
 Dalam kisah di atas, Ibnu Mukaddam malah bersyukur disebut ‘kafir’. Alasan syukurnya ini menarik. Ia mengatakan (terjemah bebas): “Karena tuduhan kafir tidak keluar dari lisanku, dan aku tidak wajib mengemukakan hujjah (argumen) atas tuduhan itu, (maka aku bersyukur).” 
 
Ia bersyukur bahwa kata-kata itu tidak keluar dari lisannya, dan ia pun bersyukur karena tidak diharuskan menyuguhkan argumentasi kuat untuk membenarkan tuduhan ‘kafir’ tersebut. Apalagi menuduh atau memanggil seorang muslim dengan ‘kafir’ mendapat peringatan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah bersabda (HR. Imam al-Bukhari):
 
وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ
 
“Barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan ‘kafir’, atau mengatainya ‘musuh Allah’, sedangkan ia tidak seperti itu, maka tuduhan itu akan kembali pada si penuduh.”
 
Karena itu, Ibnu Mukaddam berjanji akan menolong laki-laki yang menuduhnya itu. Satu sisi, ia ingin membuktikan bahwa dirinya termasuk kelompok “laisa kadzalik” (sedangkan ia tidak seperti itu) dalam hadits di atas. Di sisi lain, ia tak mau orang yang menuduhnya terjerumus.
 
Di samping itu, ia berterima kasih kepada penuduhnya. Karena tuduhannya itu melecut jiwanya untuk berjuang sepenuh daya, disertai memohon pertolongan dari Allah, agar terhindar dari kekafiran. Sebab, bagi orang-orang semacam Ibnu Mukaddam, tuduhan buruk selalu dirayakan dengan muhasabah (instropeksi diri) sekaligus pengingat diri. Bahkan di titik tertentu, mereka lebih menyukai tuduhan daripada pujian. Karena tuduhan membuat mereka meraba-raba ke dalam diri, melihat kesalahan yang tidak disadari sebelumnya, dan bertobat. Sedangkan pujian, seringkali menjebak manusia dalam kesombongan, riya, ujub dan takabbur.
 
Dan pada akhirnya, laki-laki itu bertobat setelah mendengar penjelasan Ibnu Mukaddam. Pertanyaannya, seberapa mampu kita mensyukuri tuduhan buruk orang lain kepada kita?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab....
 
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Tags:
Share:

Baca Juga

Kamis 3 Oktober 2019 7:30 WIB
Nasihat Nabi Isa untuk Orang yang Selalu Mengeluhkan Rezeki
Nasihat Nabi Isa untuk Orang yang Selalu Mengeluhkan Rezeki
Jika cara pandang kita baik, kita akan menemukan bermacam-macam pelajaran dari setiap peristiwa hidup. (Ilustrasi: NU Online)
Dalam Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi (w. 414 H) mencatat perkataan Nabi Isa ‘alaihissalam tentang pentingnya melihat palajaran dalam mencari rezeki. Berikut riwayatnya:
 
وقال عيسي عليه السلام: يا ابن آدم اعتبرْ رِزقك بطير السماء, لا يزرَعْن ولا يحْصُدن وإله السماء يرزُقهنّ. فإن قلتَ: لها أجنحةٌ فاعتبرْ بحمر الوحْش وبقر الوحْش ما أسمنها وما أبشمها وأبدنها
 
Isa ‘alaihissalam bekata: “Wahai anak cucu Adam, ambillah pelajaran rezekimu dengan burung di langit. Mereka tidak pernah menanam dan menuai (memanen). Tuhan langitlah yang memberikan mereka rezeki. Jika kau (anak cucu Adam) beralasan: ‘Mereka (burung) memiliki sayap.’ Maka ambillah pelajaran dari keledai dan sapi liar, (lihatlah) betapa gemuknya mereka, betapa banyaknya makan mereka dan betapa gempalnya tubuh mereka” (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011, h. 246).
 
****
 
Tidak sedikit orang yang mengeluh kekurangan rezeki dan nikmat. Sebagian bersedih, sebagian lagi marah. Perasaan kurang memang hampir selalu diekspresikan dengan kesedihan, keluhan, prasangka buruk dan amarah. Mungkin karena manusia lebih sering merasa disalahi daripada disayangi; dikorbankan daripada diperjuangkan, sehingga ia mudah marah, menyalahkan, mengeluh dan bersedih ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.
 
Perasaan seperti itu memang wajar terjadi di setiap manusia, karena perasaan manusia memang lebih kuat ketika berposisi sebagai objek (penderita). Contohnya, ketika kita dihina, amarah kita bangkit, dan ingatan kita tentang si penghina sangat kuat. Tapi, ketika kita yang menghina, kita menganggapnya biasa, bahkan tidak sering melupakannya begitu saja.
 
Oleh karena itu, Nabi Isa ‘alaihissalam menyuruh anak cucu Adam untuk mengambil pelajaran, terutama soal rezeki. Ia berkata (terjemah bebas): “Lihatlah burung yang terbang di kolong langit, ia bisa makan tanpa harus menanam dan memanen, karena Allah lah yang memberi mereka makan.”
 
Burung yang tidak difasilitasi kemampuan bercocok tanam, dapat memenuhi kebutuhannya. Lalu kenapa manusia yang diberikan banyak perangkat kemampuan, terus mengeluhkan rezekinya. Meskipun mengeluh itu wajar dan tidak haram. Setiap manusia berhak mengadukan keluhannya kepada Tuhan. Karena itu Tuhan memberikan hak berdoa kepada manusia. Jadi, nasihat Nabi Isa di atas bukan soal boleh-tidaknya mengeluh, tapi lebih kepada bagaimana agar manusia bisa berkembang secara spiritual dan mental.
 
Artinya, nasihat di atas bertujuan mendidik jiwa manusia agar tidak rapuh dan mudah berputus asa, apalagi jika keputus-asaan itu dicarikan alasan logisnya, seperti perkataan (terjemah bebas): “Burung memiliki sayap, sedangkan kami tidak.” Kemudian Nabi Isa merubah objek “i’tibâr”nya ke keledai dan sapi liar yang tetap gemuk, gempal dan banyak makannya tanpa bercocok tanam.
 
Dengan mengatakan itu, Nabi Isa sedang mengajari kita bahwa ada pelajaran dalam segala sesuatu. Jika cara pandang kita baik, pikiran kita jernih, dan iman kita kuat, kita akan menemukan bermacam-macam pelajaran dari setiap peristiwa hidup. Sayyidina Luqman al-Hakim pernah berkata:
 
إنّ الذّهب يُجرَّب بالنّار وإنّ المؤمن يُجرَّب بالبَلَاء
 
"Sesungguhnya emas ditempa dengan api, dan orang beriman ditempa (diuji) dengan kesusahan (musibah)” (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Kitâb al-Imtâ wa al-Mu’ânasah, 2011, h. 242).
 
Ini menunjukkan bahwa jiwa kita sebagai manusia harus berkembang. Tanpa ditempa dan diuji, perkembangan kita sebagai manusia akan terhenti. Jika perkembangan kita terhenti, kita hanya akan menjalani hidup yang berulang. Hari ini tidak ubahnya hari kemarin; hari esok tidak ubahnya hari ini.
 
Penjelasan sederhananya begini. Dengan adanya musibah, Allah sedang mendidik kesabaran kita agar bertambah, sehingga kita menjadi orang yang lebih sabar dari kita yang kemarin; dengan adanya limpahan anugerah, Allah sedang mendidik rasa syukur kita, sehingga kita menjadi orang yang lebih bisa mensyukuri nikmat daripada kita yang kemarin, dan begitu seterusnya.
 
Karena itu, Nabi Isa menyuruh kita untuk mengambil pelajaran dari burung, sapi dan keledai liar, agar kita bisa terus mendidik diri kita sendiri, terutama dalam cara pandang kita tentang rezeki. Perasaan kekurangan rezeki inilah yang paling sering memantik kekufuran, kemarahan dan keputus-asaan manusia. 
 
Padahal, jika kita melihatnya lebih jauh, Allah selalu memberikan rezeki-Nya kepada kita, hanya saja kita tidak menyadarinya. Segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah rezeki-Nya, dari mulai udara yang kita hirup, tanah yang kita pijak, langit yang kita pandang, tangan yang kita gerakan, mata yang kita gunakan, sampai matahari yang kita rasakan. Itu semua adalah rezeki-Nya, tapi kita sering lupa menganggap semua itu sebagai rezeki-Nya.
 
Pertanyaannya, seberapa sering kita meluangkan waktu untuk mengambil pelajaran?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab..
 
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Senin 30 September 2019 23:20 WIB
Hasan al-Bashri, Rembesan Air Kencing, dan Tetangga Nasrani
Hasan al-Bashri, Rembesan Air Kencing, dan Tetangga Nasrani
Keluasan hati Hasan al-Bashri tak hanya membuat orang lain terpukau tapi juga mengikuti jejaknya.
Dalam Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Imam Abu Hayyan al-Tauhidi mencatat sebuah kisah tentang akhlak mulia yang ditunjukkan Imam Hasan al-Bahsri terhadap tetangganya yang beragama Nasrani. Berikut kisahnya:
 
كان للحسن جارٌ نصرانيّ، وكان له كنيف علي السّطْح، وقد نقب ذلك في بيته، وكان يتحلّب منه البول في بيت الحسن، وكان الحسنُ أمَرَ بإناء فوُضِع تحته، فكان يخرج ما يجتمع منه ليلًا، ومضي علي ذلك عشرون سنةً، فمرض الحسنُ ذاتَ يَوْم فعاده النَّصرانيّ، فرأي ذلك، فقال: يا أبا سعيد، مُذْ كَمْ تَحْمِلُون مِنِّي هذا الأَذَي؟ فقال: منذ عشرين سنةً. فقطع النَّصرَانيّ زُنّاره وأسلم
 
Hasan (al-Bashri) bertetangga dengan seorang Nasrani yang memiliki kamar kecil (jamban/toiet) di atap (rumahnya), dan (lama-lama) berlubang ke dalam rumah Hasan (al-Bashri). Dari lubang itu, air kencing merembes (bocor) ke dalam rumah Hasan (al-Bashri). Hasan meminta sebuah wadah, lalu ia meletakkannya di bawah lubang yang bocor. Ia keluar setiap malam untuk membuang air kencing yang sudah penuh, dan itu sudah dilakukan selama dua puluh tahun lamanya.
 
Suatu ketika Hasan (al-Bashri) sakit dan (tetangganya yang beragama) Nasrani itu menjenguknya, ia melihat kebocoran yang terjadi di rumah Hasan (al-Bashri).
 
Ia bertanya: “Wahai Abu Sa’id, sudah berapa lama kau menanggung kesusahan dariku ini?”
 
Hasan (al-Bashri) menjawab: “Sudah dua puluh tahun.”
 
Seketika itu juga ia memotong ikat pinggangnya dan memeluk Islam. (Imam Abu Hayyan al-Tauhidi, Kitâb al-Imtâ’ wa al-Mu’ânasah, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 2011, h. 247)
 
****
 
Bisahkah kita membayangkan, dua puluh tahun bersabar menanggung kesusahan yang setiap hari menimpa; setiap malam keluar rumah sembunyi-sembunyi membuangnya, dan harus melalui hal yang sama setiap harinya. Bisahkah kita membayangkan berada di posisi itu?
 
Tentu sulit, bahkan mungkin hampir mustahil kita kuat melakukannya. Namun Imam Hasan al-Bashri melakukan itu untuk dua puluh tahun lamanya. Bersabar membersihkan rembesan air kencing yang masuk ke rumahnya. Ia tidak marah-marah mendatangi tetangganya dan memperingatkannya. Ia memilih diam dan membersihkannya setiap hari. Ia sedang mengamalkan ajaran nabinya, “falyukrim jârahu” (memuliakan tetangga).  
 
Jika diamati lebih dalam, kisah di atas mengandung banyak sisi menarik. Pertama, soal kerukunan dalam hidup bertetangga, meski terhadap orang yang berbeda agama sekalipun. Karena itu, tetangganya yang Nasrani pun menjenguknya ketika ia sakit. Ini menunjukkan kesehatan hubungan di antara mereka.
 
Kedua, kesabaran dan keluasan hati Imam Hasan al-Bashri. Ia dijenguk oleh tetangganya saat sedang sakit. Artinya, sepanjang dua puluh tahun lamanya ia memperlakukan tetangganya dengan baik. Tidak pernah menampakkan amarah, ketidak-sukaan, atau kelelahan di hadapannya, meski ia harus setiap hari membersihkan rumahnya dari najis air kencing. Ia sama sekali tidak menampakkan ketidak-sukaan terhadap tetangga yang menyusahkannya itu. Andai ia menampakkannya, mungkin tetangganya akan enggan untuk menjenguknya.
 
Ketiga, besarnya pengaruh akhlak yang mulia. Ketika tetangga Nasrani itu menjenguk Imam Hasan al-Bashri, ia melihat kesusahan yang dialami Hasan al-Bashri. Ia terkejut, selama ini kanîf (jamban) miliknya bocor ke rumah Imam Hasan al-Bashri. Sebagai tetangga yang hidup berdampingan dengannya cukup lama, ia pasti tahu kedudukan Hasan al-Bashri di kalangan umat Islam ketika itu. Ia adalah ulama yang sangat dihormati. Tapi ia harus menanggung kesusahan najis setiap hari karenanya. Tentunya ia tahu, umat Islam sangat menjaga kesuciannya dari najis, apalagi seorang ulama seperti Hasan al-Bashri.
 
Karena itu, ia tertegun melihat persembahan akhlak sehalus ini; ia terkejut menyaksikan pertunjukkan kesabaran sekokoh ini. Maka, seketika itu ia memotong ikat pinggangnya dan memutuskan menjadi Muslim. 
 
Akhlak baik Hasan al-Bashri membuatnya tertarik memeluk Islam, tanpa bujuk rayu dan paksaan. Dengan akhlak yang baik, orang akan tertarik dengan prinsip hidup kita, dan apa yang melatari tindakan kita. Dalam hal ini, sang tetangga yakin bahwa perilaku Hasan al-Bashri berasal dari nilai-nilai agama yang dianutnya, sehingga tanpa ragu ia memutuskan menjadi Muslim.
 
Ini menunjukkan bahwa akhlak yang baik berperan besar dalam penyebaran Islam, sebagaimana sabda Rasulullah (HR. Imam Ahmad):
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَق
 
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
 
Pertanyaannya, seberapa besar upaya kita mengamalkannya?
 
Wallahu a’lam bish-shawwab...
 
 
Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen
 
Senin 30 September 2019 6:0 WIB
Ketika Seekor Semut Lakukan Istisqa di Zaman Nabi Sulaiman As
Ketika Seekor Semut Lakukan Istisqa di Zaman Nabi Sulaiman As
Ilustrasi (kompas)
Semut bukan hewan biasa. Semut memiliki keistimewaan dalam Islam. Semut merupakan salah satu hewan yang disebut dalam Al-Qur’an bahkan diabadikan menjadi salah satu nama surat di dalamnya, An-Naml (Surat Semut).
 
Hubungan semut dan manusia bukan terjadi belakangan ketika anak-anak diserang kawanan semut ketika naik pohon jambu, bacang, mangga, kecapi, atau pohon rambutan. Semut juga kerap dijumpai di sebuah gelas berisi kopi, susu, atau sekadar air putih, bahkan di kaleng susu.
 
Hubungan manusia dan semut sudah terjalin sejak lama. Nabi Muhammad Saw pernah menceritakan seorang nabi di zaman dahulu yang membakar sarang semut karena salah seekor dari mereka mengigitnya. Tetapi atas tindakan melewati batas tersebut, Allah menegur nabi-Nya sebagaimana hadits riwayat Sunan Abu Dawud berikut ini:
 
عن أبي هريرة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال نزل نبي من الأنبياء تحت شجرة فلدغته نملة فأمر بجهازه فأخرج من تحتها ثم أمر بها فأحرقت فأوحى الله إليه فهلا نملة واحدة
 
Artinya, "Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bercerita bahwa salah seorang nabi di zaman dahulu pernah singgah di bawah sebuah pohon. Di sana ia digigit oleh semut. Lalu ia memerintahkan untuk mencari semut tersebut. Semut itu dikeluarkan dari sarangnya, lalu ia memerintahkan untuk membakar sarangnya. Allah setelah itu menegur, ‘Mengapa kau tidak membunuh seekor semut saja?'" (HR Abu Dawud).
 
Pembalasan secara berlebihan terhadap semut itu juga dapat ditemukan pada riwayat Imam Bukhari. Pada riwayat tersebut, menyayangkan pembakaran atas sekelompok semut atas kesalahan seekor semut belaka. Allah pada riwayat ini juga menyebut semut sebagai hewan yang bertasbih:
 
وأبي سلمة أن أبا هريرة رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول قرصت نملة نبيا من الأنبياء فأمر بقرية النمل فأحرقت فأوحى الله إليه أن قرصتك نملة أحرقت أمة من الأمم تسبح
 
Artinya, "Dari Abu Salamah, Abu Hurairah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bercerita bahwa suatu ketika seekor semut mengigit seorang nabi. Ia kemudian memerintahkan untuk mendatangi pemukiman semut, lalu pemukiman itu dibakar. Allah menegurnya, ‘Seekor semut menggigitmu, tapi kamu membakar satu umat (sekelompok semut) yang kerjanya bertasbih?'" (HR Bukhari).
 
Hubungan manusia dan semut tidak selalu antagonis. Hubungan manusia dan semut mengalami pasang dan surut. Pada giliran tertentu, semut sering kali berkontribusi pada umat manusia.
 
Hadits riwayat Imam Bukhari di atas menyebut semut sebagai hewan yang bertasbih/ibadah. Pada riwayat Abu Dawud berikut ini, semut mendahului umat Nabi Sulaiman As melakukan ibadah permohonan air hujan (istisqa) atas kemarau panjang yang mendera makhluk hidup saat itu. Pada riwayat ini Nabi Muhammad Saw bercerita bagaimana seekor semut di zaman dahulu melakukan istisqa terlebih dahulu sehingga Nabi Sulaiman As dan rakyatnya mengurungkan pelaksanaan istisqa karena telah diwakili oleh hamba Allah dari jenis lainnya.
 
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (خرج سليمان عليه السلام يستقي، فرأى نملةً مستلقيَةً على ظهرها، رافعةً قوائمَها إلى السماء، تقول: اللهم، إنا خَلْقٌ مِن خلقِك، ليس بنا غنًى عن سُقيَاك، فقال لهم سليمان: ارجعوا؛ فقد سُقيتُم بدعوة غيركم)؛ رواه أحمد، وصحَّحه الحاكم
 
Artinya, "Dari Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bercerita, ‘Nabi Sulaiman As pernah melakukan ibadah istisqa, tetapi ia melihat seekor semut berposisi telentang dan mengangkat tangan dan kakinya sambil berdoa, ‘Ya Allah, kami adalah salah satu makhluk-Mu. Kami tidak dapat berlepas ketergantungan dari anugerah air-Mu.’ Menyaksikan ini, Nabi Sulaiman AS mengatakan kepada rakyatnya, ‘Mari kita pulang, kalian telah di(mintakan)anugerahkan air oleh doa makhluk hidup selain kalian,'" (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Imam Al-Hakim).
 
Dari sini, para ulama kemudian menyimpulkan bahwa istisqa sebagai bentuk permohonan kepada Allah atas kebutuhan makhluk hidup akan air disunnahkan untuk melibatkan makhluk hidup selain bangsa manusia sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih.
 
Hal ini juga disinggung oleh Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki dalam Ibanatul Ahkam berikut ini:
 
مشروعية الخروج للاستسقاء في الصحراء٬ الاستسقاء مشروع للأمم السابقة٬ يحسن إخراج البهائم في الاستسقاء لأن لها إدراكا يتعلق بمعرفة الله و بذكره وبطلب الحاجات منه تعالى بلغة يفهمها الله ويجهلها الناس
 
Artinya, "(Hadits ini menunjukkan) pensyariatan keluar rumah untuk melakukan istisqa di tanah lapang. Istisqa merupakan syariat bagi umat terdahulu. Alangkah baiknya membawa serta binatang ternak dalam melakukan istisqa karena binatang itu memiliki potensi yang berkaitan dengan makrifat, zikir, dan permohonan hajat mereka terhadap-Nya dengan bahasa yang dipahami oleh Allah dan tidak dipahami oleh bangsa manusia," (Syekh Hasan Sulaiman An-Nuri dan Syekh Alawi Abbas Al-Maliki, Ibanatul Ahkam, [Beirut, Darul Fikr: 1996 M/1416 H], cetakan pertama, juz II, halaman 132).
 
Demikian hubungan semut dan bangsa manusia yang mengalami berbagai warna. Berbagai riwayat di atas menunjukkan bahwa semut (dan makhluk hidup lainnya) memiliki hak yang sama dengan manusia di sisi Allah. Wallahu a‘lam.
 
 
Penulis: Alhafiz Kurniawan
Editor: Kendi Setiawan