IMG-LOGO
Ilmu Al-Qur'an

Abu Ja’far al-Qa’qa’, Imam Qira’at Sang Cahaya Al-Qur’an

Selasa 29 Oktober 2019 09:00 WIB
Abu Ja’far al-Qa’qa’, Imam Qira’at Sang Cahaya Al-Qur’an
(Ilustrasi: Pinterest)

Salah satu prestasi seorang guru adalah mampu melahirkan generasi yang berkualitas. Prestasi itu tidak akan tercapai kecuali disertai ketulusan. Dengan ketulusan Allah menampakkan kemuliaan pada dirinya.

 

Imam Abu Ja’far merupakan salah satu imam qira’at yang memiliki prestasi itu; tulus dalam beribadah dan tulus dalam beramal sehingga Allah perlihatkan kemuliaan kepadanya. Kemuliaan itu adalah sebuah cahaya yang melingkari di belahan dadanya saat ia menghadap ke hadirat-Nya. Dia adalah sang cahaya Al-Qur’an.

 

Biografi Imam Abu Ja’far al-Qa’qa’.

 

Namanya Yazid bin al-Qa’qa’ al-Makhzumi al-Madani. Ia dikenal dengan panggilan Abu Ja’far. Ia adalah salah satu imam qira’at sepuluh (Qira’at Asyrah al-Mutawatirah) dari kalangan tabi’in dan seorang panutan masyarakat Madinah dalam bidang qira’at yang memiliki ketelitian dan kredibilitas yang sempurna.

 

Perjalanan Ilmiahnya

 

Perjalanan ilmiah Imam Abu Ja’far dimulai sejak kecil. Ia sudah belajar membaca Al-Qur’an dan menghafalkannya kepada para sahabat dan pembesar para tabi’in. Tidak sulit baginya untuk belajar dan memperdalam ajaran Islam sebab pada masa itu adalah masa dimana ia hidup berdampingan dengan orang-orang yang memiliki semangat keagamaan yang kuat. Bahkan dalam salah satu riwayat saat ia masih kanak-kanak datang menemui Ummu Salamah, Istri Nabi, kemudian beliau mengusap kepala sang imam dan mendoakan kebaikan untuknya. Maka dengan berkah doa dari Ummu Salamah ia dikemudian hari ia menjadi panutan masyarakatnya dan imam qira’at.

 

Dalam bidang al-Qur’an, Abu Ja’far belajar kepada beberapa sahabat dan pembesar tabi’in, salah satunya dia belajar dan menghafal Al-Qur’an kepada tuannya, Abdullah bin Ayyasy bin Abi Rabi’ah, seorang pembesar tabi’in dan Abdullah bin Abbas dan Abu Hurairah, seorang sahabat Nabi.

 

Secara transmisi sanad, ketiga-tiganya; Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah dan Abdullah bin Ayyasy, belajar kepada Ubay bin Ka’ab dari Nabi Saw.,

 

Jika ditelisik dari silsilah sanad, maka antara Abu Ja’far dan Nabi Muhammad Saw,. hanya malalui dua jalur perawi. Maka dapat dipastikan bahwa qira’at Abu Ja’far adalah qira’at mutawatirah yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.

 

Menurut sebagian riwayat diceritakan bahwa Imam Abu Ja’far pernah belajar langsung kepada sahabat Zaid bin Tsabit. Namun menurut al-Dzahabi, riwayat ini tidak bisa dibenarkan.

 

Selain itu, beliau juga ikut shalat (bermakmum) bersama Ibnu Umar bin Khattab. Hal ini menandakan bahwa beliau termasuk pembesar tabi’in yang dekat dengan para sahabat Nabi Muhammad Saw,. Begitu pula, beliau juga bermakmum di belakang para qurra’ Al-Qur’an pada bulan Ramadhan.

 

Setelah melakukan pengembaraan intelektualnya, maka beliau membuka pengajian (majelis Al-Qur’an) Al-Qur’an dalam jangka waktu yang sangat lama sekali.

 

Diceritakan oleh Imam Nafi’ bahwa Imam Abu Ja’far pada malam hari mendirikan shalat dan pada saat pagi hari beliau membuka majelis pengajian, mengajar murid-muridnya, maka wajar pada saat mengajar beliau mengantuk hingga tertidur. Untuk menghilangkan rasa kantuknya, Imam Abu Ja’far menyuruh murid-muridnya untuk mengambil krikil untuk diletakkan disela jari-jemarinya.kemudian mereka mengumpulkan dan melakukan itu. Jika beliau masih tetap tertidur, karena rasa kantuk yang menyelimutinya, maka beliau menyuruh mereka untuk menarik satu jenggotnya.

 

Dalam bidang hadits, ia termasuk ulama yang sedikit meriwayatkan hadits. Meskipun demikian tidak menjatuhkan kredibiltas beliau sebagai seorang imam qira’at Al-Qur’an. Bahkan dengan sediktinya periwayatan hadits itulah menunjukkan bahwa beliau konsisten dan memantabkan posisinya sebagai ahli dan pakar dalam bidang qira’at.

 

Jika ditelusuri dari kitab-kitab hadits, beliau meriwayatkan dan mendengar dari Umar bin Khattab dan Marwan bin al-Hakam. Pun demikian, hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas, al-Darawardi dan Abdul Aziz bin Abu Hazim.

 

Dari sisi penilaian perawi hadits (jarh wa ta’dil), para ulama hadits menilai Abu Ja’far dengan beragam, namun hampir semuanya menilai positif (ta’dil).

 

Imam Abdurrahman al-Nasa’I menyatakan bahwa Abu Ja’far tsiqah (dapat dipercaya).

 

Komentar Ulama tentang Abu Ja’far

 

Imam al-Ashmu’I berkata: Imam Ibnu Ziyad menyatakan bahwa tidak ada di Madinah seorang pun yang lebih mengerti tentang sunnah Nabi Saw,. daripada Imam Abu Ja’far. Pada masanya Abu Ja’far lebih didahulukan daripada Imam Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj (kedua-duanya adalah gurunya Imam Nafi’- lihat Profil Imam Nafi’--lihat Profil Imam Nafi’).

 

Imam Malik bin Anas menyatakan bahwa Abu Ja’far adalah seorang saleh yang memberikan fatwa kepada masyarakat Madinah.

 

Suatu hari Imam Ibnu Abi Hatim bertanya kepada bapaknya tentangnya: beliau menjawab: shadiq al-Hadits (jujur dalam meriwayatkan hadits).

 

Keistimewaan Abu Ja’far

 

Dalam diri manusia ada dua petensi yang saling berlawanan; giat beramal dan bermalas-malasan. Namun kecendrungan untuk bermalas-malasan lebih dominan. Untuk meminimalisir kecendrungan bermalas-malasan diperlukan latihan yang intens. Oleh sebab itu, untuk menghilangkan rasa malas dalam dirinya, Imam Abu Ja’far melatih diri sejak dini dengan melakukan ibadah puasa siang hari dan shalat malam pada malam hari.

 

Imam Ibnu Jammaz menceritakan bahwa Abu Ja’far melakukan puasa dawud, sehari puasa dan sehari berbuka, dan itu dilakukan dalam jangka waktu yang sangat lama. Alasan beliau melakukan itu dalam rangka melatih diri untuk beribadah kepada sang Maha Pencipta.

 

Imam Abu Ja’far berkata: “Saya melakukan hal itu untuk melatih diri ini beribadah kepada Allah Swt,”.

 

Selain itu, diriwayatkan pula bahwa beliau melaksanakan shalat malam empat rakaat, dan setiap rakaat membaca fatihah dan surat-surat panjang. Setelah melakukan shalat, beliau berdoa seraya memohon kepada Allah dengan beberapa permohonan: pertama, memohon untuk dirinya sendiri. Kedua, untuk umat muslim. Ketiga, untuk orang-orang yang membaca dan belajar Al-Qur’an kepadanya. Keempat, untuk orang-orang yang membaca qira’at kepadanya, baik sebelum maupun sesudahnya.

 

Salah satu bentuk kenikmatan Allah yang diberikan kepada Abu Ja’far ialah Allah memberikan kemuliaan yang tinggi kepadanya, kemudian diberikan keunggulan kepadanya di dunia dan memberikan Al-Qur’an dan sunnah Nabi Saw,. sementara di akhirat masih menjadi rahasia yang tidak diketahui, hanya saja kita memohon kepada Allah untuk sang imam sebuah surga yang luasnya seperti langit dan bumi.

 

Namun, salah satu bukti diterima amal perbuatananya di sisi Allah dan mendapatkan ampunan-Nya adalah saat beliau wafat dan hendak dimandikan, maka tampaklah diantara belahan dadanya sebuah kertas mushaf, maka orang-orang yang hadir mengunjungi hari kewafatannya melihat dan tidak meragukan bahwa itu adalah cahaya Al-Qur’an.

 

Diceritakan bahwa suatu ketika ajal menjeput, saat sakarat maut menghampiri Imam Abu Ja’far, datanglah Abu Hazim al-A’raj dan para murid-muridnya. Mereka berteriak histeris melihat sang guru, namun Imam Abu Ja’far tidak merespon.

 

Kemudian menantunya, Syaibah bin Nashshah, berkata: apakah kalian mau aku tunjukkan sesuatu yang mengagumkan? Mereka sepakat menjawab iya. Maka dibuka kain penutup dadanya. Di sana tampak sebuah bulatan putih seperti susu. Kemudian Abu Hazim dan para sahabatnya berkata: “Demi Allah, ini cahaya Al-Qur’an”.

 

Imam Nafi’ berkata: “Saat Abu Ja’far dimandikan, mereka melihat sesuatu antara belahan dadanya sampai ke ulu hatinya sebuah kertas mushaf. Mereka yang hadir saat itu tidak ragu menyatakan bahwa itu adalah cayaha Al-Qur’an.

 

Imam Sulaiman menceritakan pengalamannya saat bermimpi bertemu dengan Imam Abu Ja’far. Ia melihat Abu Ja’far berada di atas ka’bah. Kemudian dia menyampaikan salam dari para sahabat-sahabatnya untuk sang imam. Imam Abu Ja’far menyampaikan salah balik kepada mereka dan mengabarkan bahwa Allah telah menjadikannya bagian dari para pejuang “syuhada”- layaknya- orang yang hidup yang diberikan rizki.

 

Di lain kesempatan ada seorang sahabatnya bermimpi bertemu dengan sang imam. Dalam mimpinya ia melihat sang imam tampak berseri-seri. Kemudian sang imam menyampikan: “kabarkan kepada seluruh sahabat-sahabatku dan semua orang yang membaca qira’at (bacaan) ku bahwa Allah telah mengampuni mereka dan Dia telah menerima doaku, suruhlah mereka shalat empat rakaat pada malam hari semampunya.

 

Setelah mengabdi dengan tulus mengajar Al-Qur’an, beliau kembali kepangkuan pemiliknya pada tahun 130 H.

 

Murid-murid Imam Abu Ja’far

 

Ketenaran imam Abu Ja’far sebagai imam qira’at sekaligus panutan masyarakat Madinah pada masanya, hingga banyak para pencari ilmu belajar kepadanya, salah satunya adalah; imam Nafi’ Abu Ruwaim al-Madani, Sulaiman bin Muslim bin Jammaz, Isa bin Wardan, Abu Amr, Abdurrahman bin Zain bin Aslam, Ismail bin Yazid, Ya’kub bin Yazid, Maimunah bin Yazid, ketiga-tiganya adalah putra-putrinya Abu Ja’far.

 

Perawi Imam Abu Ja’far

 

Dari sekian banyak murid-murid Abu Ja’far hanya ada dua murid yang tercatat sebagai perawi, yaitu Ibnu Wardan dan Ibnu Jammaz.

 

1. Ibnu Wardan

 

Nama lengkapnya adalah Isa bin Wardan al-Madani. Beliau dikenal dengan panggilannya Abu al-Harits dan dijuluki al-Hadzdza’. Dalam dunia ilmu qira’at beliau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Wardan.

 

Dalam bidang qira’at Al-Qur’an, selain belajar dan membaca kepada imam Abu Ja’far, beliau juga belajar dan membaca kepada imam Nafi’ dan termasuk murid seniornya. Sebagaimana diketahui bahwa imam Nafi’ merupakan salah satu murid dari Abu Ja’far. Oleh sebab itu, dalam transmisi sanad, ia bersekutu dengan imam Nafi’ antara guru dan murid. Selain berguru kepada kedua imam di atas, beliau juga berguru kepada Syaibah bin Nashshah. Namun demikian, Ibnu Wardan kemudian dipilih dan berstatus sebagai perawi imam Abu Ja’far.

 

Imam al-Dani berkomentar: “Dia (Ibnu Wardan) termasuk murid senior imam Nafi’ dan masih bersekutu dalam sanad (qira’at), dia seorang muqri’ yang cerdas, perawi yang teliti dan dhabit.

 

Setelah melakukan pengembaraan intelektual kepada beberapa guru, kemudian beliau membuka majelis pengajian Al-Qur’an. Di antara pera penuntut ilmu yang belajar kepadanya adalah: Ismail bin Ja’far, Qalun bin Isa dan Muhammad bin Umar.

 

Setelah mengenbadi kepada Al-Qur’an dan qira’atnya, menurut penuturan imam al-Jazari beliau wafat pada tahun sekitar 160 H.

 

2. Ibnu Jammaz

 

Namanya adalah Sulaiman bin Muhammad bin Muslim bin Jammaz al-Zuhri al-Madani. Dia adalah seorang muqri’ yang agung, dhabit dan pinter. Dalam dunia ilmu qira’at beliau lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Jammaz.

 

Dalam bidang Al-Qur’an, beliau berguru kepada Abu Ja’far dan Syaibah bin Nashshah, dan Nafi’ Abu Ruwaim. Dalam perjalanan ilmiahnya ini, beliau satu perguruan dengan Ibnu Wardan hanya saja dari hasil berguru kepada tiga imam di atas, beliau hanya berikhtiar memadukan qira’at bacaan Abu Ja’far dengan Nafi’.

 

Setelah melakukan perjalanan ilmiah, beliau membuka majelis pengajian untuk khalayak umum. Banyak kalangan penuntut ilmu yang datang belajar kepadanya; salah satunya adalah Ismail bin Ja’far, Qutaibah bin Mahran.

 

Setelah melakukan perjalanan panjang mengabdi dengan tulus untuk mengajar dan mengamalkan Al-Qur’an, beliau dipanggil keharibaan Tuannya pada tahun 170 H.

 

 

Ustadz Moh. Fathurrozi, Pengurus Jam’iyatul Qurra’ wal Huffadz NU Surabaya

 

=======

Tulisan ini disadur dari beberapa kitab:

 

● Al-Dzahabi, Makrifat al-Qurra’ al-Kibar ‘Ala al-Thabaqat wa al-A’shar. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1997.

● Al-Dhababi, Siyar A’lam al-Nubala’, Kairo: Dar al-Hadits, 2006.

Al-Jazari, Ghayat al-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’, Kairo: Maktabah Ibnu Taimiyah, tt.

● Abdul Fattah al-Qadhi, Tarikh al-Qurra’ al-Asyrah wa Ruwwatuhum, Kairo: Maktabah al-Qahirah, 2010.

● Muhammad Salim Muhaisin, Mu’jam Huffadz Al-Qur’an Abra al-Tarikh, Kairo: Dar al-Jiil, 1992.

 

Share:

Baca Juga