Lembutnya Al-Qur’an ketika Menyebut Pemeluk Agama Lain

Lembutnya Al-Qur’an ketika Menyebut Pemeluk Agama Lain
Islam turun bukan sebagai agama pencaci maki. Dari sinilah justru mengalir simpati yang membuat Islam tetap besar.
Islam turun bukan sebagai agama pencaci maki. Dari sinilah justru mengalir simpati yang membuat Islam tetap besar.

Al-Qur’an adalah kitab suci penuh cinta. Ia menyeru kepada setiap pemeluk agama untuk masuk agama Islam dengan sangat lembut.

 

Al-Qur’an menyebut pemeluk agama langit sebelumnya dengan sebutan Ahlul Kitab, para pembawa risalah kitab suci. Padahal, pemeluk agama langit sebelumnya telah mengubah isi dalam kitab suci mereka. Sebagaimana Taurat dan Injil yang telah mereka ubah.

 

Kepada umat Yahudi, Al-Qur’an telah menyebut mereka dengan sangat hormat dengan sebutan "Bani Israil". Nama Israil sendiri adalah julukan Nabi Ya'qub. Tentunya, Al-Qur’an menyebut kaum Yahudi dengan sebutan "Wahai segenap keturunan Nabi Ya'qub" sebagai penghormatan bagi mereka.

 

Padahal, kaum Yahudi telah banyak mengingkari risalah kenabian para utusan Allah untuk mereka. Tetapi, Al-Qur’an selalu meminta mereka untuk mensyukuri nikmat yang diberikan kepada mereka di masa lampau dengan beriman kepada Allah dan Rasulnya.

 

 

Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu. Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu, dan takutlah kepada-Ku saja” (QS Al-Baqarah: 40).

 

Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu)” (QS Al-Baqarah: 47).

 

Dalam ayat yang lain, Al-Qur’an menyanjung kaum Yahudi dengan nikmat kenabian, kemerdekaan, dan anugerah yang belum diberikan kepada umat sebelum mereka.

 

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan menjadikan kamu sebagai orang-orang merdeka, dan memberikan kepada kamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat yang lain” (QS Almaidah: 20).

 

Kepada umat Nasrani, Al-Qur’an telah menyebut mereka sebagai umat yang "paling dekat" dengan umat Islam.

 

Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.’ Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri” (QS Almaidah: 82).

 

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-A'dhim memberikan alasan mengapa umat Nasrani dipuji Al-Qur’an memiliki kedekatan dengan umat Islam, yakni karena pada dasarnya dalam agama Nasrani mencintai perdamaian. Ibnu Katsir menukil sebuah keterangan dalam kitab Injil "Barangsiapa yang menampar pipi kananmu maka serahkan kepadanya pipi kirimu." Tentu, dalam hal ini ajaran damai Nasrani memiliki kedekatan dengan ajaran damai Islam.

 

Kepada kaum-kaum yang mengingkari Rasul Allah lainnya pun, Al-Qur’an menyebut mereka dengan halus. Al-Qur’an menyebut Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Syu'aib sebagai saudara bagi kaumnya. Padahal kebanyakan dari kaumnya tidak memenuhi seruan para nabi Allah. Tentunya, ini menjadi isyarat akan semangat persaudaraan meskipun terhadap orang-orang yang dengan tegas menolak seruan agama Allah.

 

Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud” (QS Hud: 50).

 

Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Shalih” (QS Hud: 61).

 

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka, Syuaib” (QS Hud: 84).

 

Bahkan, Al-Qur’an menyeru untuk mencintai umat Yahudi dan Nasrani sebagai "Tetangga Jauh" dalam beragama.

 

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri” (QS An-Nisa': 36).

 

Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menafsirkan ayat ini sebagai berikut:

 

"Tetangga dekat" adalah seorang yang dekat bagi kita baik secara nasab maupun kedekatan tempat tinggal, sedangkan "tetangga jauh" adalah seorang yang jauh bagi kita baik secara nasab maupun kedekatan tempat tinggal.

 

Imam al-Qurthubi dalam Tafsir al-Jami' li Ahkam Al-Quran menafsirkan "tetangga dekat" sebagai seorang yang kita kenal sedangkan "tetangga jauh" sebagai seorang yang belum kita kenal.

 

Kedua penafsiran di atas, menunjukkan bahwa berbuat baik tidaklah mengenal batas agama. Apa pun agamanya tetaplah kita dianjurkan oleh Al-Qur’an untuk berbuat baik kepada mereka.

 

Sedangkan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-'Adhim dalam ayat tersebut menafsirkan "tetangga dekat" sebagai saudara sesama Islam sedangkan "tetangga jauh" sebagai saudara sesama agama samawi yaitu kaum Yahudi dan Nasrani.

 

Al-Qur’an juga menyebutkan kemenangan Romawi yang notabenenya pengikut agama Nasrani sebagai sebuah kebahagiaan bagi umat Islam sebagai sesama saudara agama samawi.

 

Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman” (QS Ar-Rum: 2-4).

 

Sebab turunnya ayat ini adalah karena ketika kaum Kafir Quraisy mendengar kekalahan bangsa Romawi atas bangsa Persia mereka mengatakan, "Kami akan mengalahkan kalian wahai segenap umat Islam yang menyembah Allah sebagaimana saudara kami sesama penyembah berhala yakni bangsa Persia telah mengalahkan saudara kalian penyembah Allah yakni umat Kristen Romawi". Tentu kala itu, umat Islam sedikit bersedih dengan kekalahan bangsa Romawi.

 

Dan Allah pun menurunkan ayat tersebut sebagai sebuah kabar isyarat bahwasannya umat Islam kelak akan mengalahkan kaum Kafir Quraisy sebagaimana umat Kristen Romawi nantinya akan mengalahkan bangsa Persia. Karena itulah, Al-Qur’an telah menyerukan sejak dahulu untuk saling berbuat baik dan saling mencintai diantara sesama agama-agama samawi sebagai solusi untuk menghilangkan jatuhnya korban jiwa di banyak belahan bumi.

 

Al-Qur’an juga menyerukan agar umat Islam memaafkan umat-umat yang tidak mengikuti ajaran agama Islam. Serta menyerahkan keputusan atas mereka kepada Allah di hari kiamat.

 

Katakanlah (Muhammad) kepada orang-orang yang beriman hendaklah mereka memaafkan orang-orang yang tidak takut akan hari-hari Allah karena Dia akan membalas suatu kaum sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (QS Aljatsiyyah: 14).

 

 

 

Muhammad Tholhah al Fayyadl, mahasiswa jurusan Ushuluddin Universitas al-Azhar Mesir; penerima beasiswa NU pada tahun 2018.

 

 

BNI Mobile