Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download
NGAJI TAYSIR AL-KHALLAQ  (2)

Komitmen Afektif Takwa sebagai Fondasi Pendidikan Islam 

Komitmen Afektif Takwa sebagai Fondasi Pendidikan Islam 
Pendidikan Islam harus mampu membekali peserta didik untuk saleh individual dan saleh sosial secara sinergis. (Ilustrasi: Dok. Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo)
Pendidikan Islam harus mampu membekali peserta didik untuk saleh individual dan saleh sosial secara sinergis. (Ilustrasi: Dok. Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo)

Kitab Taysir Al-Khallaq (Memudahkan Berakhlak) yang ditulis oleh Syekh Hafizh Hasan Al-Mas’udi, seorang ulama di Darul Ulum, Al-Azhar, Mesir, telah menjadi sumber dan literatur wajib pada sejumlah lembaga pendidikan Islam di Tanah Air. Di antara penyebabnya adalah kandungan kitab ini sangat kuat dengan pesan-pesan moral yang mudah dicerna dan difahami, di samping sistematisasinya yang amat apik. 


Pada bab pertama dari kitab ini dijelaskan tentang konsep takwa. Menurut Al-Mas’udi, takwa adalah imtitsalu awamirilllahi ‘azza wajalla wajtinabu nawahihi sirran wa ‘alaniyyatan, menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, baik dalam kondisi sepi/ruang privat maupun ramai/ruang publik. Untuk meraih kesempurnaan takwa, lanjut Al-Mas’udi, setiap muslim harus membersihkan jiwanya dari sifat-sifat tercela (al-takhally ‘an kulli radzilatin) dan menghiasi jiwanya itu dengan sifat-sifat terpuji (al-tahally bi kulli fadhilatin). Hal ini merupakan instrumen dalam meraih jalan hidup yang tercerahkan (al-thariqu alladzi man salakahu ihtada) dan meraih kesuksesan (man istamsaka biha naja). 


Menempatkan bahasan takwa sebagai bab pertama dalam kitab ini memberikan pemahaman bahwa tujuan dan gerak langkah pendidikan dipastikan harus memiliki orientasi dan tujuan. Orientasi dan tujuan ini akan menggerakan semua kekuatan pendidikan ke arah yang telah ditetapkan. Seorang penulis kenamaan di bidang pendidikan, Neil Postman, dalam karyanya The End of Education (1996), menjelaskan bahwa terminologi “End” dalam karyanya itu menunjukkan bahwa pendidikan harus memiliki tujuan (end), yang itu akan menjadi akhir (end) dari pendidikan itu sendiri. Kemampuan dalam merumuskan tujuan ini akan memberikan dampak terhadap berhenti (end) atau tidaknya sebuah pendidikan. Oleh karenanya, tujuan pendidikan harus dirumuskan dengan jelas. 


Dalam konteks ini, Al-Mas’udi menjadikan takwa sebagai tujuan akhir dari pendidikan Islam. Dengan memahami definisi takwa seperti yang dijelaskan di atas, pendidikan Islam akan mengarahkan kepada manusia-manusia pembelajar yang senantiasa memiliki komitmen kesalehan, dengan senantiasa menjalankan kewajiban dan norma yang berlaku serta menjauhkan dari larangan dan pandangan negatif. Komitmen kesalehan ini harus mampu diimplementasikan dalam konteks ruang privat (hubungan dengan Tuhan) dan sekaligus dalam ruang publik (hubungan dengan sesama). Artinya, takwa diwujudkan dalam menerapkan kesalehan individual dengan Tuhan dan kesalehan sosial dengan sesama. 


Pendidikan Islam harus mampu membekali peserta didik untuk memiliki komitmen keseimbangan, antara kesalehan individual dan kesalehan sosial secara sinergis. Tidak bisa dilakukan salah satunya saja, sehingga memunculkan peserta didik yang pincang komitmen. Jika kepincangan komitmen terjadi, maka akan berimplikasi pada hancurnya dunia pendidikan. Pendidikan dinilai hanya mampu melahirkan peserta didik yang ahli ibadah (saleh individual dengan Tuhannya), tetapi dalam waktu yang bersamaan, bisa jadi, menjadi sumber malapetaka dalam relasi kemanusiaan (saleh sosial). Demikian juga kebalikannya, pendidikan hanya melahirkan peserta didik yang tidak sempurna, kesalehan sosialnya tinggi tetapi tidak memiliki kesadaran ketuhanan.Untuk itulah, kedua komitmen itu harus ada dalam dunia pendidikan. 


Tentu saja, untuk mengarahkan ke tujuan ini, proses pendidikan Islam diselenggarakan seumur hidup (the long of education). Sebab, proses untuk menjalankan takwa itu terus lakukan selama hidup. Proses pendidikan tidak hanya berlangsung pada saat dan usia tertentu, tetapi selama nyawa tetap di kandungan badan, proses pendidikan tetap dilangsungkan. Dalam melaksanakan pendidikan seumur hidup ini, peserta didik harus menjauhi sikap yang tidak produktif dan harus membiasakan dengan etika yang baik, sebagaimana dinyatakan oleh Al-Mas’udi di atas. 


Dalam konteks meraih kesempurnaan takwa, sebagaimana pernyataan Al-Mas’udi, perlu dilakukan pembersihan jiwa dari akhlak tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, agar hidupnya tercerahkan dan menjadi sukses. Pada bagian ini penting untuk ditekankan bahwa akhlak terpuji (akhlak karimah) di samping menjadi bagian penting untuk istiqamah meraih ketakwaan, juga menjadi penentu akan tingkat kesuksesan seseorang.  


Jika merujuk pada taksonomi Bloom, setidaknya terdapat 3 (tiga) hal yang ditekankan dalam dunia pendidikan, yakni afektif, kognitif, dan psikomotorik. Afektif merupakan tata nilai dan kepekaan atas norma dan etika; kognitif merupakan kecerdasaran intelektual yang melekat dengan numerik dan angka; sementara psikomotorik adalah keterampilan fisik. Dari ketiga hal itu, kesuksesan seseorang sesungguhnya lebih ditentukan oleh afektif. Akhlak terhadap diri sendiri dan kesadaran teologis kepada Tuhan menjadi faktor dominan menuju kesuksesan itu. Artinya, faktor material dan aspek kognitif pada sisi tertentu menjadi bagian artifisial, bukan menjadi hal substantif.  


Akhlak terhadap diri sendiri di antaranya adalah kesadaran untuk tetap bersemangat, berjuang keras, dan berusaha sekuat tenaga, dengan pantang menyerah, dan menergantungkan kepada orang lain. Meraih keinginan dan menuju cita-cita yang luhur merupakan urat nadi yang menggerakan energi hidupnya. Di luar itu, seperti kondisi dan kekayaan materi orang tua serta keterbatasan fasilitas dan akses, bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita itu. Setelah berjuang dan berusaha keras, hasil yang diraih akan sepenuhnya tergantung dari ketentuan Allah SWT.  


Di tingkat yang lebih teknis, kita seringkali mendengar keluhan sebagian peserta didik yang beranggapan ketidakmungkinannya dalam melanjutkan pendidikan karena keterbatasan ekonomi orang tuanya. Keluhan ini, menurut hemat penulis, kurang tepat. Keterbatasan ekonomi orang tua menjadi alasan untuk tidak melanjutkan cita-cita merupakan sikap dan akhlak yang tidak terpuji. Sebab, di samping menyalahkan dan seakan-akan tidak terima atas kondisi orang tua, ia juga telah menempatkan faktor material-finansial sebagai faktor utama. Menyalahkan orang tua tentu merupakan perbuatan yang patut dihindari. Keterbatasan ekonomi semacam ini semestinya disikapi dengan dijadikannya sebagai tantangan dan sekaligus peluang. Bagaimana kekurangan ekonomi bisa direspons untuk melakukan kerja keras, dan ini menjadi peluang bahwa kesuksesan itu bukan karena orang tua, tetapi karena memang diri kita sendiri. Bukankah di lapangan seringkali kita temui berapa banyak anak muda yang gagal dalam hidupnya, padahal ekonomi orang tuanya berkecukupan? Demikian juga sebaliknya, ada berapa banyak anak-anak muda yang sukses dan mampu melanjutkan pendidikannya, sementara kondisi finansial orang tuanya tidak cukup? Tentu, kesadaran semacam ini perlu untuk kita gugah dan diingatkan, bahwa yang menentukan seseorang itu adalah akhlak karimah termasuk akhlak terhadap diri sendiri yang diwujudkan dengan mentalitas yang baik. 


Melihat uraian di atas, terminilogi takwa memang sudah saatnya ditempatkan yang lebih luas. Ia tidak hanya identik dengan aspek kesalehan individual dan kesuksesan relasi dirinya dengan Tuhannya semata (yang dalam terminologi kitab Taysir Al-Khallaq dengan simbol “sirran”), tetapi takwa juga mengharuskan diimplementasikan dalam konteks kesalehan sosial (yang dalam terminologi kitab Taysir Al-Khallaq dengan simbol “’alaniyyatan”). Kesalehan individual dan kesalehan sosial merupakan satu kesatuan, yang tidak boleh terpisah antara satu sama lain. Demikian juga, sebagaimana dinyatakan dalam kitab Taysir Al-Khallaq ini, untuk meraih kesempurnaan ketakwaan itu, perlu diimbangi dengan akhlak terpuji, di antaranya akhlak terhadap diri sendiri dengan memiliki komitmen semangat dan berusaha keras, tanpa putus asa, dengan menyerahkan semua hasilnya kepada ketentuan Allah SWT. Inilah yang perlu dijadikan fondasi awal dalam membangun pendidikan Islam kita.  

 

Suwendi, Pendiri Pesantren Nahdlah Bahriyah Cantigi, Indramayu; Dewan Pakar Persada NU (Persatuan Dosen Agama Islam Nahdlatul Ulama); dan Ketua DPP FKDT (Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah) 

BNI Mobile