Kalimat Subversif Burung Layang-layang dan Ancaman Kekuasaan Sulaiman AS

Kalimat Subversif Burung Layang-layang dan Ancaman Kekuasaan Sulaiman AS
Nabi Sulaiman AS tersenyum mendengar jawaban burung layang-layang jantan di luar dugaan
Nabi Sulaiman AS tersenyum mendengar jawaban burung layang-layang jantan di luar dugaan


Cerita ini disarikan dari Kitab Al-Anwarul Qudsiyyah fi Bayani Qawa'idis Shufiyyah karya Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani (Beirut, Daru Shadir: 2010 M), halaman 228. Cerita ini kemudian ditarik dalam konteks kalimat uzur para sufi yang sedang tenggelam dalam asyik-ma’syuk cinta kepada Allah

 

Syahdan, suatu ketika seekor burung layang-layang jantan di zaman Nabi Sulaiman AS tertarik dengan seekor burung layang-layang betina. Burung layang-layang jantan dan betina ini bertengger di menara istana Nabi Sulaiman AS.


Kedua makhluk Allah ini sedang dimabuk cinta. Kepada betinanya, burung layang-layang jantan menlontarkan kalimat-kalimat lazimnya orang yang tenggelam dalam lautan cinta. Burung layang-layang bersayap panjang dan berkaki pendek serta berwarna hitam ini tidak henti-henti memuji betina pujaannya. 


“Cintaku padamu telah sampai pada satu titik yang kalau kaukatakan, ‘Runtuhkanlah menara ini di atas Sulaiman!’ pasti kulakukan,” kata burung layang-layang jantan kepada betinanya.


Singkat cerita keduanya memadu kasih layaknya pasangan jantan dan betina. Keduanya tenggelam dalam asyik-ma’syuk sebagai pasangan yang bermadu kasih. Keduanya larut dalam mabuk cinta.


Beberapa hari kemudian istana Nabi Sulaiman AS guncang. Angin membawa kalimat konyol burung layang-layang jantan sampai ke telinga paduka yang mulia baginda Raja Sulaiman. Puja-puji pasangan yang sedang mabuk cinta itu dipahami oleh istana raja Sulaiman AS dengan bahasa kekuasaan yang membuat penguasa sering curiga dan salah paham; khas kekuasaan.


Kalimat tersebut dinilai oleh istana sebagai bentuk kekurangajaran yang dapat meruntuhkan wibawa kekuasaan. Raja Sulaiman naik pitam. Sebagai penguasa gagah dari timur ke barat, Sulaiman tersinggung berat. Tidak ada sebelum dan sesudah Sulaiman penguasa yang menandingi kekuasaannya. Ia memerintahkan dan mengerahkan pasukannya untuk menangkap burung layang-layang jantan tersebut.


“Apa yang membuatmu mengucapkan kalimat demikian. Padahal kau ini lemah?” kata Sulaiman membuka persidangan.


“Tunggu wahai nabi Allah. Saya ketika itu sedang asyik-ma’syuk. Sedangkan mereka yang tenggelam dalam asyik-ma’syuk berbicara dengan bahasa cinta dan bahasa mabuknya, bukan dengan bahasa nalar dan bahasa akalnya,” jawab burung layang-layang jantan meminta maaf sambil berharap putusan bebas.


Nabi Sulaiman AS tersenyum mendengar jawaban burung layang-layang jantan di luar dugaan. Ia kemudian membebaskan burung layang-layang jantan dari tuntutan berat. Wallahu a’lam.

 

Alhafiz Kurniawan, redaktur NU Online
 

BNI Mobile