Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Komentar Rabiatul Adawiyah Terhadap Pecinta Palsu Ilahi

Komentar Rabiatul Adawiyah Terhadap Pecinta Palsu Ilahi
Rabiatul Adawiyah juga membedakan kebenaran cinta kepada Allah dari ungkapan pengakuan cinta palsu kebanyakan orang tanpa pembuktian.
Rabiatul Adawiyah juga membedakan kebenaran cinta kepada Allah dari ungkapan pengakuan cinta palsu kebanyakan orang tanpa pembuktian.

Rabiah Al-Adawiyah atau Rabiatul Adawiyah diperkirakan lahir pada 713-717 M atau 95-99 H di Kota Basrah. Ia dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Ia wafat sekitar tahun 801 M atau 185 H, pada usia sekitar 83 tahun.


Salah satu Kitab Syarah Al-Hikam mengutip syair yang mewakili pandangan sufistiknya. Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam tiga larik berikut ini:


"Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.//Atau mereka menempati surga, lalu  mendapatkan istana dan meminum air Salsabila//Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti."


Rabiatul Adawiyah juga membedakan kebenaran cinta kepada Allah dari ungkapan pengakuan cinta palsu kebanyakan orang tanpa pembuktian. Kritik Rabiatul Adawiyah atas cinta palsu tersebut dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub:


كما قالت رابعة:
تعصي الإله وأنت تظهر حبه * هذا لعمري في القياس بديع
لو كان حبك صادقا لأطعته * إن المحب لمن يحب مطيع


Artinya, "Rabiatul Adawiyah berkata, 'Kau bermaksiat kepada Tuhan, tetapi (mulut)mu mengungkapkan cinta//Hal ini dalam ukuran sungguh mengherankan/Andai cintamu benar, niscaya kau menjadi hamba yang taat//karena pecinta itu sungguh taat kepada kekasihnya,'" (Imam Al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2019 M/1440 H], halaman 30-31).


Imam Al-Ghazali sebelumnya menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan bahwa pengakuan cinta bukan sekadar ungkapan kosong, tetapi perlu disusul dengan pembuktian atas ungkapan tersebut. Pembuktian merupakan pembeda ungkapan kebenaran dan ungkapan palsu cinta.


من ادعى أربعا من غير أربع فهو كذاب. ومن ادعى حب الجنة ولم يعمل بالطاعة فهو كذاب، ومن ادعى حب النبي صلى الله عليه وسلم ولم يحب العلماء والفقراء فهو كذاب، و من ادعى الخوف من النار ولم يترك المعاصي فهو كذاب، و من ادعى حب الله تعالى وشكا من البلوى فهو كذاب


Artinya, "Siapa saja yang mengaku empat hal tanpa (pembuktian) empat hal lainnya, maka ia pendusta. Pertama, siapa saja yang mengaku cinta surga tetapi kenyataan ia tidak beramal ibadah sebagai bentuk ketaatan, niscaya ia pendusta. Kedua, siapa saja yang mengaku cinta Nabi Muhammad SAW, tetapi tidak mencintai ulama (pewaris para nabi) dan orang-orang fakir (mereka yang dulu diperhatikan oleh nabi), niscaya ia pendusta. Ketiga, siapa saja yang mengaku takut kepada api neraka, tetapi tidak meningalkan maksiat, niscaya ia adalah pendusta. Keempat, siapa saja yang mengungkapkan cinta kepada Allah SWT, tetapi masih mengadu atas ujian yang diberikan kepada-Nya, niscaya ia pun pendusta,'" (Imam Al-Ghazali, 2019 M/1440 H:30).


*


Imam Al-Ghazali menceritakan sababun nuzul Surat Ali Imran ayat 31, "Qul in kuntum tuhibbūnallāha fat tabi‘ūnī, yuhbibkumullāh, wa yaghfir lakum dzunūbakum, Wallāhu ghafūrun rahīmun."


Imam Al-Ghazali mengatakan, Surat Ali Imran ayat 31 ini turun ketika Rasulullah SAW mengajak pemuka Yahudi Madinah yang sangat memusuhi Nabi Muhammad SAW, Ka‘ab bin Al-Asyraf, dan pengikutnya untuk memeluk Islam.


"Kami dari segi kedudukan adalah anak-anak Allah dan kami sangat mencintai Allah," jawab Ka’ab bin Al-Asyraf dan pengikutnya menolak ajakan Nabi Muhammad SAW. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)

BNI Mobile