Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Penimbunan dan Penggalian Sumur Zamzam

Penimbunan dan Penggalian Sumur Zamzam
Setelah berabad-abad tertimbun, sumur Zamzam ditemukan kembali melalui isyarat mimpi. (Foto ilustrasi: The Muslim Vibe)
Setelah berabad-abad tertimbun, sumur Zamzam ditemukan kembali melalui isyarat mimpi. (Foto ilustrasi: The Muslim Vibe)

Berabad-abad lamanya sumur Zamzam tertimbun. Penimbunan itu dilakukan oleh suku Jurhum ketika mereka terusir dari Makkah. Suku Jurhum berasal dari Yaman, kemudian berimigrasi ke Makkah dan tinggal di sana setelah melihat sumber mata air (Zamzam). Mereka menetap di sana atas izin Sayyidah Hajar.

 

Dalam kitab al-Sîrah al-Nabawiyyah, diceritakan cukup panjang tentang kedatangan orang Jurhum, hubungannya dengan Nabi Isma’il, kekuasaan mereka di Makkah, dan bagaimana mereka terusir dari Makkah. Berikut riwayat dan kisahnya:

 

Kisah ini dimulai dari kewafatan Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘alaihimâssalam. Imam Ibnu Ishaq mengatakan:

 

لما توفي إسماعيل بن إبراهيم ولي البيت بعده ابنه نابت بن إسماعيل ما شاء الله أن يليه، ثم ولي البيت بعده مضاض بن عمرو الجرهمي

 

“Ketika (Sayyidina) Isma’il bin Ibrahim wafat, Nabit bin Ismail, anaknya, (menggantikannya sebagai) pengurus Bait (al-Haram) setelahnya (sebagaimana) dikehendaki Allah, kemudian Bait (al-Haram) diurus oleh Mudladl bin ‘Amr al-Jurhumi setelah (era) Nabit bin Ismail.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sîrah al-Nabawiyyah, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1990, juz 1, h. 130)

 

Mudladl bin ‘Amr merupakan kakek Nabit bin Ismail dari jalur ibunya. Ia adalah ayah dari Sayyidah, isteri Nabi Ismail ‘alaihissalam. Imam Ibnu Katsir mengatakan:

 

لما كبر تزوج من جرهم امرأة ثم فارقها وتزوج غيرها، وتزوج بالسيدة بنت مضاض بن عمرو الجرهمي، وجاءته بالبنين الاثني عشر

 

“Ketika sudah dewasa, (Nabi) Isma’il menikah dengan wanita Jurhum, kemudian berpisah dan menikah dengan (wanita Jurhum) lainnya, dan menikah dengan Sayyidah binti Mudladl bin ‘Amr al-Jurhumi. Sayyidah memberi (Nabi) Ism’ail dua belas anak” (Imam Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, Riyadh: Dar al-‘Alim al-Kutub, 2003, juz 3, h. 180-181).

 

Nabit dan Qaidar termasuk dari dua belas anak yang dilahirkan Sayyidah. Dalam Târîkh al-Thabarî, keturunan mereka berdualah yang tersebar menjadi bangsa Arab. Imam al-Thabari berkata:

 

ومن نابت وقيدر نشر الله العرب

 

“Dari Nabit dan Qaidar, Allah menyebarkan (bangsa) Arab.” (Imam al-Thabari, Târîkh al-Thabarî, Dimasyq: Dar al-Fikr, 2017, juz 1, h. 193)

 

Anak-anak Isma’il, kakek mereka, Mudladl bin ‘Amr, serta paman-paman mereka dari suku Jurhum menetap di Makkah. Saat itu, Makkah juga dihuni oleh suku Qathura’. Qathura’ adalah saudara sepupu Jurhum yang datang bersama mereka dari Yaman. Orang-orang Jurhum dipimpin Mudladl bin ‘Amr, dan orang-orang Qathura’ dipimpin as-Samaida’. Ketika mereka sampai di Makkah, mereka melihat sebuah negeri yang memiliki air dan pepohonan. Mereka sangat terkagum-kagum akan hal itu, dan memutuskan untuk menetap di Makkah. Orang-orang Jurhum tinggal di Makkah Atas (bi a’lâ makkata), tepatnya di Qu’aiqi’an, dan orang-orang Qathura’ tinggal di Makkah Bawah (asfala makkata), tepatnya di Ajyad. (Imam Ibnu Hisyam, al-Sîrah al-Nabawiyyah, 1990, juz 1, h. 131)

 

Seiring berjalannya waktu, suku Jurhum dan Qathura’ berkonflik berebut posisi penguasa Makkah. Saat itu, Mudladl bin ‘Amr mendapat dukungan dari keturunan Isma’il, sehingga memiliki hak mengurus Baitullah yang tidak dimiliki oleh as-Samaida’. Singkat cerita, terjadilah peperangan dan suku Qathura’ berhasil dikalahkan. As-Samaida’ terbunuh dalam perang tersebut. Setelah itu, mereka sepakat untuk berdamai, dan menyerahkan seluruh urusan Makkah kepada Mudladl. Kemudian, Mudladl menyembelih hewan dan menyuruh mereka masak, dan makan-makan. Peristiwa itulah yang membuat tempat ini disebut al-Mathabikh. (Imam Ibnu Hisyam, al-Sîrah al-Nabawiyyah, 1990, juz 1, h. 131-132).

 

 

Kemudian, keturunan Isma’il menyebar di Makkah, dan paman-paman mereka dari suku Jurhum menjadi pengelola Baitullah dan penguasa Makkah. Mereka tidak berusaha berselisih dengan paman dan kerabat-kerabat mereka tentang pengelolaan Baitullah, demi mencegah terjadinya kembali peperangan dan pertumpahan darah di Makkah. Ketika Makkah menjadi semakin sempit untuk ditinggali, mereka menyebar ke berbagai negeri. (Imam Ibnu Hisyam, al-Sîrah al-Nabawiyyah, 1990, juz 1, h. 132)

 

Setelah lama berkuasa, orang-orang Jurhum mulai berlaku zalim di Makkah, dan seringkali tidak menjaga kehormatan tanah haram. Mereka menzalimi orang-orang yang memasuki Makkah dan memakan harta yang diberikan untuk mengelola Ka’bah (Baitullah). Hal itu membuat Bani Bakr (bin Abdu Manaf bin Kinanah) dan Bani Ghubsyan dari Khuza’ah mendeklarasikan perang terhadap orang-orang Jurhum, dan mereka berhasil mengusir mereka keluar dari Makkah. (Imam Ibnu Hisyam, al-Sîrah al-Nabawiyyah, 1990, juz 1, h. 132)

 

Salah satu dari suku Jurhum, menimbun sumur Zamzam sebelum mereka keluar dari Makkah. Dia adalah Amr bin al-Harits bin Mudladl al-Jurhumi. Imam Ibnu Ishaq mengatakan:

 

فخرج عمرو بن الحارث بن مضاض الجرهمي بغزالي الكعبة وبحجر الركن, فدفنهما في زمزم وانطلق هو ومن معه من جرهم إلي اليمن

 

“Kemudian ‘Amr bin al-Harits bin Mudladl al-Jurhumu keluar dengan (membawa) dua (patung) kijang Ka’bah dan batu tiang, lalu menimbunnya dalam (sumur) Zamzam. Dia pun pergi bersama orang-orang Jurhum yang bersamanya menuju Yaman.” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sîrah al-Nabawiyyah, 1990, juz 1, h. 133)

 

Setelah beratus-ratus tahun lamanya tertimbun, sumur Zamzam ditemukan kembali keberadaannya oleh Abdul Muttalib melalui isyarat mimpi. Dia pun menggali sumur tersebut sesuai dengan yang dilihatnya dalam mimpi. Dalam al-Sîrah al-Nabawiyyah dikatakan:

 

بينما عبد المطلب بن هاشم نائم في الحجر، إذ أتي فأمر بحفر زمزم، وهي دفن بين صنمي قريش: إساف ونائلة عند منحر قريش .وكانت جرهم دفنتها حين ظعنوا من مكة، وهي بئر إسماعيل بن إبراهيم عليهما السلام، التي سقاه الله حين ظمئ وهو صغير، فالتمست له أمه ماء فلم تجده، فقامت إلى الصفا تدعو الله وتستغيثه لإسماعيل، ثم أتت المروة ففعلت مثل ذلك. وبعث الله تعالى جبريل عليه السلام، فهمز له بعقبه في الأرض، فظهر الماء، وسمعت أمه أصوات السباع فخافتها عليه، فجاءت تشتد نحوه، فوجدته يفحص بيده عن الماء من تحت خده ويشرب، فجعلته حسيا

 

“Di waktu Abdul Muttalin bin Hasyim (sedang) tidur di Hijir (sisi Ka’bah), tiba-tiba dia didatangi (seseorang) yang menyuruhnya menggali (sumur) Zamzam, yang mana tertimbun di antara dua berhala Quraisy, Isaf dan Nailah di samping tempat penyembelihan (hewan qurban orang) Quraiys. Orang-orang Jurhum menimbunnya ketika pergi (keluar) dari Makkah. (Sumur) Zamzam adalah sumurnya (Nabi) Isma’il bin Ibrahim ‘alaihimassalam, yang diberikan Allah ketika (Nabi) Isma’il kehausan (di saat dia masih) kecil. Kemudian ibunya mencari-cari air untuknya, (tapi) tiddak menemukannya. Ia pun (ibu Isma’il) berdiri di Shafa berdoa kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya untuk Isma’il, lalu ia bergegas ke Marwah (untuk) melakukan hal yang sama (sebagaimana di Shafa). Allah mengirimkan (malaikat) Jibril ‘alaihissalam, lalu Jibril berbisik kepada Isma’il agar (memukul-mukulkan) tumit (kaki)nya ke bumi, maka keluarlah air. Ibunya mendengar suara binatang buas (yang membuatnya) takut akan (keselamatan) Isma’il. Ia pun bergegas mendatangi (anak)nya, dan mendapati (bahwa) Isma’il sedang (berupaya) menggali dengan tangannya untuk (mendapatkan) air dari bawah pipinya dan meminum(nya), kemudian ibunya membuat galian kecil (lubang kecil).” (Imam Ibnu Hisyam, al-Sîrah al-Nabawiyyah, 1990, juz 1, h. 129-130)

 

Wallahu a’lam bish-shawwab....

 

 

Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

BNI Mobile