Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Kisah Khalifah Umar bin Khattab Menolak Gratifikasi

Kisah Khalifah Umar bin Khattab Menolak Gratifikasi
Ilustrasi Umar bin Khattab. (Foto: NU Online/Fathoni)
Ilustrasi Umar bin Khattab. (Foto: NU Online/Fathoni)

Selain dikenal keberanian dan ketegasannya dalam memimpin, Sayyidina Umar bin Khattab juga pemimpin ramah dan jujur. Sehingga ia tegas menolak terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme bahkan gratifikasi.


Suatu malam utusan dari Azerbaijan datang ke kota Madinah untuk menjumpai Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Namun, karena hari yang sudah larut malam, ia memutuskan untuk tidur di Masjid Nabawi Madinah agar keesokan harinya bisa segera menghadap Khalifah Umar. Ketika hendak tidur, ia dikejutkan oleh suara tangisan di keheningan malam, memohon kepada Allah. (Baca Muhammad Husain Haekal, Umar bin Khattab)


“Ya Tuhanku, aku sedang berdiri di depan pintu-Mu. Apakah Engkau menerima tobatku supaya aku bisa mengucap selamat kepada diriku, atau Engkau menolaknya supaya aku menyampaikan ungkapan duka cita kepada diriku.”

 


Utusan dari Azerbaijan tersebut tertarik dengan kalimat yang ia dengar. Perlahan ia mendekat dan bertanya. “Wahai saudaraku, jika aku boleh tahu siapakah dirimu?” Di tengah heningnya malam orang tersebut menjawab, “Aku Umar bin Khattab.”


Utusan Azerbaijan tersebut terkejut bukan kepalang. Ia tidak menyangka bahwa orang yang dijumpainya adalah Amirul Mukminin. Segera utusan itu memperkenalkan diri kepada Umar.


“Semoga Allah merahmatimu, Aku takut kalau aku tidur semalam suntuk akan menghilangkan diriku di hadapan Allah dan jika aku tidur sepanjang siang hari berarti menghilangkan diriku di hadapan rakyat,” Jawab Umar.


Seusai shalat fajar, Umar mengajak tamunya singgah di rumahnya. Ia berkata kepada istrinya, “Wahai Ummu Kultsum, suguhkan makanan yang ada. Kita kedatangan tamu jauh dari Azerbaijan.” 

 


“Kita tidak mempunyai makanan, kecuali roti dan garam,” jawab istri Umar. “Tidak mengapa,” kata Umar.


Akhirnya mereka berdua makan roti dengan garam. “Walikota Azerbaijan menyuruhku menyampaikan hadiah ini untuk Amirul Mukminin,” kata utusan Azerbaijan seusai makan, sembari menunjukkan sebuah bungkusan. “Bukalah bungkusan ini dan lihat apa isinya!” perintah Umar.


Setelah dibuka, ternyata berisi gula-gula. “Ini adalah gula-gula khusus buatan Azerbaijan,” utusan itu menjelaskan. “Apakah semua kaum Muslimin mendapatkan kiriman gula-gula ini?” tanya Umar.


Utusan itu tertegun atas pertanyaan Umar, kemudian menjawab, “Oh tidak Baginda, gula-gula ini khusus untuk Amirul Mukminin.”

 

 

Mendengar jawaban itu, Umar tampak marah. Segera ia memerintahkan kepada utusan Azerbaijan untuk membawa gula-gula tersebut ke masjid dan membagi-bagikannya kepada fakir miskin.


“Barang ini haram masuk ke dalam perutku, kecuali jika kaum Muslimin memakannya juga,” tegas Umar.


“Dan engkau cepatlah kembali ke Azerbaijan, beritahukan kepada yang mengutusmu, bahwa jika ia mengulangi ini kembali, aku akan memecat dari jabatannya!”


Dari kisah di atas dapat dilihat bahwa betapa kesederhanaan dan kehati-hatian Amirul Mukminin Umar bin Khattab tatkala menjadi khalifah. Ia amat takut kepada Allah, sehingga matanya tidak bisa terpejam sepanjang malam, khawatir tidak mendapatkan ampunan Allah.

 

​​​​​​​Baca juga: Kisah Sayyidina Umar dan Tobatnya Pemabuk


Di keheningan malam saat rakyatnya tidur nyenyak, ia bangun dan mendekatkan diri di masjid. Tidak ada pengawal yang menyertainya. Di rumah, tak ada makanan istimewa layaknya para penguasa dan pejabat saat ini. Istri Umar hanya memiliki roti dan garam, makanan sehari-hari rakyat biasa.


Jauh dari kemewahan dan keserbaadaan. Sebagai Khalifah dan pemimpin negara, ia tidak malu menyuguhkan makanan roti gandum kepada tamunya, sebab itulah makanan kesehariannya.


Tatkala mendapatkan hadiah, atau dalam istilah sekarang gratifikasi, khusus dari utusan Azerbaijan, ia pun mempertanyakan, “Apakah semua kaum Muslimin mendapatkan kiriman gula-gula ini?”

 


Pertanyaan tersebut penting bagi Amirul Mukminin. Jika ternyata seluruh kaum Muslimin menerima hadiah tersebut, maka wajar jika ia menerima. Akan tetapi jika tidak, maka tidak layak bagi dirinya menerima hadiah secara sendirian. Ternyata memang tidak. Itu adalah hadiah yang khusus diberikan kepada Amirul Mukminin. Maka Umar pun menolaknya.


Azerbaijan adalah sebuah wilayah di Iran. Kaum Muslim pertama kali memasuki wilayah tersebut antara 19-23 H/639-643 M. Gubernur pertamanya Hudzaifah bin Al-Yaman, lalu Umar mengangkat Utbah bin Farqad sebagai gubernur wilayah Tabriz/Azerbaijan, menggantikan Hudzaifah.


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Muchlishon

Posisi Bawah | Youtube NU Online