Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Maimunah, Sufi Perempuan Saudara Ibrahim al-Khawwas

Maimunah, Sufi Perempuan Saudara Ibrahim al-Khawwas
Maimunah mengikuti jalan saudara laki-lakinya, Ibrahim (al-Khawwas), dalam wara’, tawakkul, zuhud, dan taqallul (tidak berlebihan)
Maimunah mengikuti jalan saudara laki-lakinya, Ibrahim (al-Khawwas), dalam wara’, tawakkul, zuhud, dan taqallul (tidak berlebihan)

Maimunah adalah seorang ulama perempuan dan sufi yang sangat zuhud, wara’, dan berpengetahuan mendalam. Ia merupakan saudara perempuan Ibrahim al-Khawwas (w. 291 H), seorang wali besar, melalui ibunya. Selain dipertalikan dengan hubungan darah, Maimunah juga mengikuti jejak Ibrahim al-Khawwas dalam pendisiplinan jiwa. Imam al-Hafidz Abu Bakar Ahmad, lebih dikenal dengan al-Khatib al-Baghdadi (w. 463 H), menulis dalam kitabnya:


كانت تسلك مسلك أخيها إبراهيم في الورع والتوكل والزهد والتقلّل


“Maimunah mengikuti jalan saudara laki-lakinya, Ibrahim (al-Khawwas), dalam wara’, tawakkul, zuhud, dan taqallul (tidak berlebihan)” (Imam al-Khatib al-Baghdadi, Tarîkh Baghdâd Madînah al-Sallâm, Beirut: Dar al-Gharb al-Islamiy, 2001, juz 16, h. 626).


Ia menikah dengan Hamid al-Aswad, salah satu teman dan murid Ibrahim al-Khawwas. Imam Abu Abdurrahman al-Sulami mengatakan:


وكانت أخته لأمه، وكانت تحت حامد الأسود


“Maimunah adalah saudara perempuan Ibrahim al-Khawwas melalui ibunya, dan (dinikahkan dengan) Hamid al-Aswad” (Imam Abu Abdurrahman Muhammad bin al-Husain al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa Yalîhi Dzikr al-Niswah al-Muta’abbidât al-Shûfiyyât,  Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003, h. 417).


Dua saudara ini saling berbagi pengetahuan, dan saling membina kegundahan. Maimunah banyak belajar dari Ibrahim al-Khawwas, begitu pun sebaliknya. Tidak jarang Ibrahim al-Khawwas mendapat pelajaran berharga dari spontanitas spiritual Maimunah. Ada kisah menarik soal ini. Dalam sebuah riwayat diceritakan:


سمعت محمد بن عبد الله، يقول: سمعت أبا الخير الأقطع، يقول: دخل إبراهيم الخواص علي أخته ميمونة—وكانت أخته لأمه—وقال لها: إني اليوم ضيق الصدر.
فقالت: من ضاق قلبه ضاقت عليه الدنيا بما فيها، ألا تري أن الله تعالي يقول: (حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ) ]التوية: ١۸۸[. لقد كان لهم في الأرض متسع، ولكن لما ضاقت عليهم أنفسهم ضاقت عليهم الدنيا بما فيها.


“Aku mendengar Muhammad bin Abdullah berkata: Aku mendengar Abul Khair al-Aqtha’ berkata: “Ibrahim al-Khawwas masuk (ke rumah) saudara perempuannya, Maimunah—ia adalah saudaranya melalui ibu—dan berkata kepadanya: “Sungguh aku, hari (ini), tengah dilanda gelisah (atau sempit hati).”


(Mendengar itu) Maimunah berkata: “Barangsiapa yang sempit hatinya, dunia beserta isinya menyempit (juga) untuknya. Tidakkah kau lihat bahwa sesungguhnya Allah ta’ala berfirman: “hingga ketika bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka” (QS. At-Taubah: 118). Sesungguhnya (selalu) ada (tempat) yang luas untuk mereka di bumi. Namun, ketika jiwa mereka menjadi sempit, maka dunia beserta isinya pun menyempit untuk mereka.” (Imam Abu Abdurrahman Muhammad bin al-Husain al-Sulami, Thabaqât al-Shûfiyyah wa Yalîhi Dzikr al-Niswah al-Muta’abbidât al-Shûfiyyât, 2003, h. 417)


Pertukaran nasihat, pengetahuan dan pengalaman spiritual biasa terjadi di antara mereka berdua. Salah satu contohnya adalah riwayat di atas. Dalam riwayat tersebut, Maimunah mengingatkan kembali saudaranya, bahwa dunia ini luas terhampar, dan bumi ini lebar memanjang. Namun, bagi orang yang sesak hatinya, dunia akan tercitrakan dalam kesesakan juga. Sebuah citra yang lahir dari keadaan rasa, bukan realitas sesungguhnya. Artinya, keadaan rasa dan hati, dapat mereduksi sekaligus meminimalisasi persepsi manusia. Dunia yang sejatinya sangat luas, terasa sempit dan sesak.


Maimunah juga tidak pernah melarang suaminya, Hamid al-Aswad, berpergian mendampingi Ibrahim al-Khawwas. Hamid al-Aswad sering melakukan perjalanan dan rihlah spiritual bersama Ibrahim al-Khawwas hingga berhari-hari. Dalam satu riwayat diceritakan:


وقال حامد الأسود: كنت مع إبراهيم الخواص في البادية سبعة أيام علي حالة واحدة، فلما كان السابع ضعفت فجلست، فالتفت إليّ وقال: ما لك؟ فقلت: ضعفتُ، فقال: أيهما غلب عليك: الماء أم الطعام؟ فقلت: الماء، فقال: الماء وراءك. فالتفت، فإذا عين ماء كاللبن الحليب فشربت وتطهرت، وإبراهيم ينظر ولم يقربه، ولما أردت القيام، هممت بأن أحمل منه. فقال: أمسك، فإنه ليس مما يتزود منه.


“Hamid al-Aswad berkata: “Aku bersama Ibrahim al-Khawwas di padang pasir selama tujuh hari dalam satu posisi. Ketika (memasuki) hari ketujuh aku telah lemah (atau tidak kuat), kemudian aku duduk. Ibrahim al-Khawwas menoleh kepadaku dan berkata: “Apa (yang terjadi) padamu?” Aku menjawab: “Aku (merasa) lemah.” Ibrahim al-Khawwas bertanya: “Mana yang mengalahkanmu, air (karena haus) atau makanan (karena lapar)?” Aku menjawab: “Air.” Ibrahim al-Khawwas berkata: “(Ada) air di belakangmu.” Aku menoleh (ke arah belakang), ketika itu terdapat mata air (yang airnya) seperti susu, kemudian aku meminum(nya) dan membersihkan (diri). Ibrahim (hanya) melihat, tidak mendekati mata air tersebut. Ketika aku hendak beranjak (kembali ke tempat semula), aku merasa ingin membawanya (sebagai bekal). Kemudian Ibrahim berkata: “Tahan, sungguh (bekal) tidak seharusnya (diambil) darinya.” (Imam Ibnu Khamis al-Maushuli, Manâqib al-Abrâr wa Mahâsin al-Akhyâr fî Thabaqât al-Shûfiyyah, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006, juz 1, h. 473).
 


Tentu karena ia tahu, perjalanan yang dilakukan suaminya bukan perjalanan sia-sia, melainkan perjalanan spiritual dan sosial untuk melatih diri. Dengan perjalanan ini, suaminya mendapatkan banyak pelajaran dari Ibrahim al-Khawwas. Ia bisa melihat secara langsung bagaimana Ibrahim al-Khawwas bergaul dengan murid-muridnya, masyarakat umum dan para wali lain di zamannya.


Ketika Ibrahim al-Khawwas sedang melakukan perjalanan, Maimunah biasanya menetap di rumah saudaranya. Banyak tamu yang datang mencari Ibrahim al-Khawwas. Setiap kali ditanya, ‘kapan Ibrahim al-Khawwas pulang?.’ Jawaban Maimunah sangat menarik. Dalam Tarîkh Baghdâd diceritakan:


دقّ داق باب إبرهيم الخوّص, فقالت له أخته: من تطلب؟ فقال: إبراهيم الخواص. فقالت: قد خرج. فقال: متي يرجع؟ فقالت له أخته: مَن روحه بيد غيره من يعلم متي يرجع؟


“Seseorang mengetuk pintu (rumah) Ibrahim al-Khawwas. Saudara perempuannya (Maimunah) berkata kepadanya: “Siapa yang kau cari?” Orang itu menjawab: “Ibrahim al-Khawwas.” Maimunah berkata: “Dia (sedang) keluar.” Orang itu berkata: “Kapan dia pulang?” Mainumah berkata kepadanya: “Seseorang yang ruh (atau hidup)nya dikuasai oleh selainnya (yaitu oleh Allah), siapa yang (bisa) tahu kapan dia akan pulang?” (Imam al-Khatib al-Baghdadi, Tarîkh Baghdâd Madînah al-Sallâm, 2001, juz 16, h. 626-627)


Dengan kata lain, andaipun Ibrahim al-Khawwas sudah merencanakan kepulangannya, tapi saat di perjalanan bertemu dengan orang yang membutuhkan, ia akan membantunya sebagaimana perintah Tuhannya, sehingga waktu pasti kepulangannya akan dipengaruhi oleh banyak hal, dan Maimunah, mengerti betul akan hal itu. Ini adalah bukti dari ketajaman pengetahuan dan kedalaman spiritualnya.


Mengenai kapan Maimunah wafat, tidak diketahui secara pasti. Imam Abu Abdurrahman al-Sulami dan Imam al-Khatib al-Baghdadi tidak menyebutkannya. Yang pasti, ia hidup semasa dengan Ibrahim al-Khawwas yang wafat sekitar tahun 291 H.


Wallahu a’lam bish-shawwab....


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

 

Posisi Bawah | Youtube NU Online