Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Kiat dan Doa Shalat Khusyuk

Kiat dan Doa Shalat Khusyuk
Kekhusyukan dalam shalat harus selalu kita upayakan. Menganggap shalat sebagai kebutuhan bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Kekhusyukan dalam shalat harus selalu kita upayakan. Menganggap shalat sebagai kebutuhan bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Shalat  merupakan tiang agama. Di antara amalan-amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab adalah shalatnya. Shalat menjadi patokan atau ukuran amal-amal yang lain. Jika shalatnya baik, maka amal yang lainnya dianggap baik. Jika shalatnya belum baik, maka Allah akan melihat shalat sunnah seorang hamba yang bisa menyempurnakan kekurangan-kekurangan shalatnya.


Shalat adalah صِلَةٌ بَيْنَ العَبْدِ والرَّبِّ, yang berarti shalat merupakan penghubung dan wasilah, sambungan antara seorang hamba dan Tuhannya. Selama orang itu shalat, ia akan memiliki kabel sambungan dengan Allah, seburuk apapun sikapnya dan perilakunya.


Lain halnya jika ia sudah tidak melaksanakan shalat, maka ia akan terputus sambungan dan ikatan dengan Allah.


Kekhusyukan dalam shalat harus selalu kita upayakan. Menganggap shalat sebagai kebutuhan bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Dengan khusuk, lillahi ta'ala, dan dilaksanakan dengan berjamaah, ada harapan besar shalat diterima Allah Ta'ala. 


Dalam ini sebagai bagian ikhtiar menggapai kekhusyukan, Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz menjelaskan ketika sedang mengaji kitab Fathul Mu'in. Beliau berkata: 


Salah satu hal yang paling kuat adalah khusyuk di saat berwudhu. Artinya kita berwudhu dengan penuh kesadaran akan keagungan dan kesucian Zat Allah yang akan kita munajati saat shalat, tidak tergesa gesa, memenuhi sunah rukunnya wudhu, dan juga dengan tidak berbicara saat wudhu dan melakukan semua adab-adab wudhu yang ada.


Dalam hal cara meraih kekhusyukan di dalam shalat, Habib Jindan menjelaskan: 


Shalat adalah hal yang paling enak, paling nikmat, paling lezat, sehingga hamba tidak memikirkan kelezatan yang lain. Tidak akan terburu-terburu dalam shalat karena ia merasakan kenikmatan dan kelezatan shalat. 


Perlu kita ketahui, kita pahami, dan ini penting yaitu di dalam shalat ada fisik, ada batin. Kemasan atau lahiriah bukanlah tujuan utama. Shalat itu adalah li dzikri, yang artinya, shalat adalah untuk mengingat-Ku (Allah).


Adapun aspek lahiriah shalat yaitu mencakup bacaan, rukuk, sujud dan hal lainnya yang tampak. Sedangkan dari aspek batiniah shalat yaitu khusuk, kehadiran hati, kesempurnaan ikhlas, bacaan ayat-ayat dengan tadabbur (penuh penghayatan), pemahaman makna tasbih dan semacamnya. Telah memahami artinya fatihah, arti tasyahud, dan surat-surat pendek yang setiap hari kita baca. 


Batin jatahnya hati, jatahnya sirri, jatahnya ruhnya tersebut dan itu yang dilirik, dilihat Allah dari seorang hamba, yaitu hati dan sirrinya.


Sungguh orang yang khusuk termasuk orang yang beruntung. Allah ta'ala berfirman:


قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلٰوتِهِمْ خَاشِعُوْنَ 


Artinya, "Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya." 


Sungguh keberuntungan dan rida Allah bagi orang khusyuk dan menjaga shalatnya. Seseorang kalau sudah mendapat rida Allah akan menemukan ketenangan dan kemudahan dalam segala hal. Tidak akan berkeluh jika mendapat anugerah. Mengucap alhamdulillah, jika mendapat musibah, dengan prinsip “shabran jamila.”


Allah selalu menjaga dan dekat dengan mereka yang diridai-Nya.


وعلَى قدْرِ صلاتِك


تكونُ حَياتُك


أصْلِحْ مَا بيْنَك وبينَ اللّهِ


يُصلِح اللّهُ ما بيْنك وبينَ النّاسِ


Kualitas shalatmu berperan dalam kehidupanmu.


Baguskanlah hubunganmu dengan Allah, maka Allah akan membaguskan hubunganmu dengan sesama manusia.


Kemudian beliau Al-Mukarrom Habib Jindan mengatakan: “Shalat dari seorang hamba, kesannya menghina, yaitu  setiap shalat yang di dalamnya tidak menghadirkan hati maka akan lebih cepat pada hukuman daripada imbalan dan pahala.


Dengan demikian bershalatlah dengan cara yang benar. Jagalah kesucian dengan benar, mencakup baju, tempat dan batiniah ‘hati’. Jaga kemurnian, kesucian, keagungan dan keikhlasan dalam shalat. Ta’zhiman lish shalah, mengagungkan shalat. 


Ia juga menjelaskan bahwasnya apabila seseorang yang menginginkan hatinya khusuk, yaitu hati yang hadir di dalam shalat, maka terapinya adalah dengan mencoba khusuk, zikir menghadirkan hati dalam wudhu. Ketika wudhu ingat, bahwa zikir kepada Allah adalah menjadi kunci khusuk dalam shalat.


Wudhu jangan dengan was-was, tapi dengan memenuhi kesunahannya, adabnya, wudhu dengan sempurna. 


Kiai dan nyai di pesantren mengatakan, supaya bisa khusyuk dalam shalat adalah dengan mengerti arti yang dibaca, memahami arti-arti bacaan shalat. Perlu berusaha semaksimal mungkin menyuarakan makhraj bacaannya, tidak sekadar membaca. Tartil bacanya dan tadabbur makna (menghayati makna) benar- benar merasakan dalam hati.


Shalat adalah saat kita berkomunikasi dengan Allah. Shalat juga berisi doa-doa. Bagaimana kita paham dengan apa yang kita komunikasikan dengan-Nya, apa yang kita mohonkan, sedang kita tidak paham arti, kita tidak paham apa yang kita mohonkan.


Selain itu, dengan membaguskan gerakan-gerakan shalat. Rukuk harus benar benar sempurna, jangan cuma gerakan sekadarnya.


Bagaimana caranya agar kita kalau shalat bisa khusyuk, tidak berpikir ke mana-mana selain Allah?


Pertama, jaga mata dan jaga telinga. Mata dan telinga merupakan pintu utama yang yang menuju langsung ke dalam hati. Bersikap Ihsan dalam shalat yaitu:


أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ


Artinya, “(Ihsan adalah) Engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sungguh Dia melihatmu.” Kedua, membaca ta'awudz dan surat An-Nas sebelum shalat. Ketiga, tekad dan keinginan yang kuat.


Bagaimana ketika kita shalat, tapi masih memikirkan hal lain, padahal sudah berusaha khusyuk? 


Khusyuk tidak bisa kita dapatkan secara instan. Perlu latihan dan perlu proses. Terus asah kehusukan kita dalam shalat. Satukan hati, satukan pikiran. Sampai hadirnya hati kita menjadi kebiasaan. 


Khusyuk tidak bisa didapatkan secara instan, perlu latihan agar terbiasa untuk memfokuskan pikiran dalam shalat. 


Cobalah cari waktu dan tempat yang sepi lalu shalatlah dua rakaat untuk melatih kekhusyuan tiap harinya.


Berikut doa untuk kekhusyukan sebagai bagian usaha:


اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ


Artinya, “Ya Allah, semoga Engkau memberi pertolongan kepada kami untuk bisa selalu ingat (zikir) kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu."


اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الطُّمَأْنِيْنَةَ وَالْخُشُوْعَ اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا الخُشُوْعَ فِي صَلاَاتِنَا


Artinya, “Ya Rabb, anugerahkanlah rasa ketenangan (tumakninah) dan khusyuk dalam shalat kami.”


Berikut ini adalah doa memohon segala kebaikan dan memohon shalat dan setiap amal diterima Allah


اللَّهُمَّ إِنِّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَسْأَلَةِ وَخَيْرَ الدُّعَاءِ وَخَيْرَ النَّجَاحِ وَخَيْرَ الْعِلْمِ وَخَيْرَ الْعَمَلِ وَخَيْرَ الثَّوَابِ وَخَيْرَ الْحَيَاةِ وَخَيْرَ الْمَمَاتِ وَثَبِّتْنَا وَثَقِّلْ مَوَازِيْنَنَا وَحَقِّقْ إِيْمَانَنَا وَارْفَعْ دَرَجَتِنَا وَتَقَبَّلْ صَلاَتنَا وَاغْفِرْ خَطِيْئَاتِنَا وَنَسْأَلُكَ الْعُلاَ مِنَ الْجَنَّةِ


Artinya, “Ya Allah, hamba mohon segala sesuatu yang terbaik, doa yang terbaik, kesuksesan yang terbaik, ilmu yang terbaik, pekerjaan yang terbaik, pahala yang terbaik, kehidupan yang terbaik, kematian yang terbaik. Teguhkanlah langkahku, beratkan timbanganku, nyatakan keimananku, angkatlah derajatku, terimalah shalatku, ampunilah dosa-dosaku dan aku memohon kepada-Mu derajat yang tinggi di surga.”


أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Artinya, “Ya Allah, Ya Rabb terimalah dari kami: shalat, puasa, ibadah, kekhusyukan, rendah diri dan pengharapan (tadharu) kami dan ibadah kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih.” Wallahu a’lam.


Ustadzah Mamluatul Hikmah, pengajar pada Pesantren Darul 'Ulum, Peterongan, Jombang.

Posisi Bawah | Youtube NU Online